Praduga Bersalah…

Ketidaknyamanan menjadi perempuan single menjelang 40-an, seperti kejadian “Single…..?” yang nyebelin, bukan lah satu2nya kejadian yang gak enak yang pernah Tati alamin.. Sering kali Tati mengalami “praduga bersalah”.. baik dari orang yang kenal lama, tapi gak kenal pribadi Tati, maupun dari orang2 yang baru kenal Tati… Tapi buat Tati, itu lah kembang2 “tai kotok”-nya kehidupan… Kalo gak gitu hidup Tati jadi gak seru kaleeeee.. Gak ada ceritanya… Hehehe..

Tapi kejadian yang satu ini benar2 gawat… Karena kalau tidak punya kekuatan mental untuk menghadapi dan mengatasi… Bisa depresi berkepanjangan, bisa sekolah gak selesai.. Apa ceritanya sih…?

Cerita ini bersetting di suatu sore di bulan Maret tahun 2001… Lokasi? Di salah satu ruang di kampus tempat Tati mengambil program strata 2. Waktu itu Tati lagi ujian komperhensif… Yang diuji proposal penelitian yang sudah kita bikin, serta penguasaan terhadap teori2 pendukungnya…

Tati waktu itu bikin proposal “Integrasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Evaluasi Keseuaian Lahan untuk Pemukiman di Wilayah A”. Karena yang akan dilakukan adalah evaluasi kesesuaian lahan (land suitability), harus dibuat kriteria kesesuaian donk.. Gak sulit2 banget sebenarnya, karena Departemen Kimpraswil pernah merilis kriteria ini, juga ada beberapa peneliti2 lain yang juga sudah membuat.. Memang kriteria yang mereka buat cenderung kriteria dari segi fisik lahan, untuk kriteria sosial ekonomi lebih memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Intinya, Tati hanya perlu menyusun kriteria2 mana yang akan Tati gunakan.

Yang agak meragukan adalah Tati tidak menemukan buku2 yang menggunakan akses terhadap jaringan listrik dan jaringan air bersih sebagai kriteria kesesuaian lahan untuk permukiman, tetapi ada beberapa skripsi dan thesis yang mengunakan. Untuk memperoleh jalan keluar, Tati sengaja mencantumkan kedua kriteria tersebut pada proposal, dengan harapan dosen penguji bisa memberi masukan (kalo dosen pembimbing udah dari awal kan bulak balik konsultasi, dan mereka juga setuju kalo apa yang Tati ragukan dibawa ke forum untuk mendapat masukan dari dosen penguji).

Setelah Tati mempresentasikan secara ringkas isi proposal tersebut, dilakukan pembahasan oleh dosen2 penguji…

Salah seorang dosen penguji, mempertanyakan kedua kriteria yang Tati ragukan diatas..
Si Bapak Dosen bilang : “Mbak, kenapa mbak memasukkan kedua kriteria tersebut?”
Lalu tanpa memberi kesempatan pada Tati untuk menjawab, si Bapak Dosen melanjutkan lagi : “Kalo seperti ini, MAHASISWA GAK LAKU SAMA KAMU, YA? SEBENARNYA KALO MAU MENIKAH, SEMUA AKAN DIBANGUN BERSAMA? ATAU MAU YANG SUDAH JADI? KALO MODEL KAYAK KAMU BEGINI, KAYAKNYA MAU YANG SUDAH JADI, YA? BUKAN YANG MAU SUSAH BERSAMA-SAMA. Dst dst dst…”

Guuuubbbbrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk.
Tati kaget, benar2 kaget dengan ucapan Bapak Dosen tersebut. Rasanya seperti ditampar habis2an… Mana di belakang 5 orang dosen (2 Dosen Pembimbing dan 3 Dosen Penguji) yang duduk berjajar, duduk teman2 sekelas, teman2 seangkatan tapi lain jurusan, kakak kelas yang belum selesai, adik kelas dan lain2 yang jumlahnya lebih dari 30 orang.. Masya Allah, apa kejadiannya kok begini…? Dosa apa yang sudah Tati perbuat sehingga dipermalukan di depan umum seperti ini? Tapi Tati berusaha tetap bisa mengendalikan diri, tidak meneteskan air mata setitik pun, tetap tersenyum meski Tati tau warna muka Tati pasti berubah jadi pucat pasi… Yang Tati ingat, Tati sempat melemparkan pandangan “APA SALAH SAYA SEHINGGA BAPAK MENGHINA SAYA SEPERTI INI” ke si Bapak Dosen tersebut.

Dosen Pembimbing Tati yang sangat senior, dengan kepribadian yang lembut, berdehem.. Sementara dosen2 lain, bergerak membetulkan posisi duduk yang mendadak menjadi tidak nyaman. Si Bapak Dosen yang barusan ngomong, mendadak sadar… Lalu melanjutkan ucapannya.

Bapak Dosen : “Maksud saya, jaringan listri dan PDAM itu kan bisa dibangun setelah lahan yang sesuai ditemukan. Bukan sebaliknya kita membangun di daerah yang dekat dengan ketersediaan jaringan listrik dan PDAM.”
Setelah manrik nafas dalam2 untuk mengumpulkan kekuatan yang tersisa, Tati bilang : “Bapak, saya mengerti apa yang Bapak maksudkan. Sebenarnya saya sependapat dengan Bapak, bahwa jaringan listrik dan PDAM bisa dibangun belakangan. Tapi karena saya menemukan di beberapa thesis dan skripsi kedua kriteria tersebut digunakan, makanya saya masukkan ke dalam kriteria yang akan saya gunakan. Justru, melalui ujian komperhensif ini, saya mengharapkan masukan dari Bapak2 sekalian, apakah kedua kriteria tersebut akan digunakan atau tidak.”

Ujian lalu berlanjut selama sekian jam… Tati gak ingat pastinya… Yang jelas dalam ingatan Tati, begitu selesai ujian tanpa kata ba bi bu, Tati langsung ngambil motor dan pulang…

Sampai di rumah.., setelah ganti baju dan bersih2, Tati naik ke tempat tidur dan mulai melepas air mata dan rasa sesak yang tertahan selama ujian…. Dalam hati Tati bertanya2 “Apa salah saya sama Bapak itu, sehingga Beliau bisa bicara seperti itu pada saya?”

Tati mencoba mengingat2 kelakuan Tati selama di kampus…

Rasanya, gak ada yang salah.. Tati bukan orang yang berpenampilan high-class sehingga bisa membuat orang berpikiran Tati tinggi hati. Setiap ke kampus Tati cuma pakai celana panjang dengan baju kaus/tank top yang dilapis jacket or cardigan plus sepatu keds. Rasanya dandanan paling gaya adalah pake jeans boot cut dengan kemeja kotak2, plus sepatu boots. Tas branded…? Gak tuh… Tas kuliah Tati cuma slingbag atau ransel.. Gak adalah gaya wanita mapan di usia 30 something, apalagi gaya emak2 tajir… Jauh..!! Selain emang gak doyan dandan aneh2.., Tati juga gak punya duit untuk hal2 seperti itu… Hehehe. Kalo punya duit mendingan buat jalan2, beli buku, beli kaset dll deh kayaknyanya…!!!

Apa karena Tati selama kuliah selalu berjalan ke sana ke mari dengan seseorang yang di mata si Bapak terlihat mapan? Padahal sungguh mati, Tati tidak melihat teman berjalan Tati itu sebagai laki2 mapan. Tati hanya tau bahwa dia selalu ada untuk menolong Tati, dia selalu membawa Tati ke dunia yang baru, dia selalu bisa bikin Tati tertawa (dan diatas segalanya, kita ngomongnya nyambung!!). Gak ada yang lain… Tati malah menikmati saat naik motor kemana2.. bahkan naik BMW (Bebek Merah Warnanya = Honda Cup 70) sekalipun…

Jadi sisi sebelah mana yang bisa bikin Tati dicap sebagai “Orang yang mau terima jadi?” Tati mikir dan tetap berpikir, “Apa yang bisa bikin si Bapak Dosen negative thinking ke Tati…?”

Dugaan lain…, apa karena Tati belum nikah setelah usia hampir 33 tahun (waktu itu), sehingga si Bapak berpikir, “Tati gak nikah karena terlalu pilah pilih dan banyak maunya?” Tapi kok rasanya cupat banget.. Si Bapak itu kan Dosen Senior, gak mungkin lah rasanya berpikiran sempit… Rasanya gak mungkinlah Si Bapak itu menduga orang bersalah tanpa pernah tahu siapa orang itu dan apa yang telah dilakukannya… Tapi kenyataannya, Si Bapak yang gak tau apa2 tentang hidup Tati dan juga gak tahu apa yang Tati cari, bisa bicara begitu di depan umum.

Tapi Tati gak nemu jawaban atas pertanyaan Tati .. Bener2 gak nemu…

Gak lama, terdengar suara Anna, teman main Tati yang juga anak Pekanbaru tapi lain jurusan, ngajak pergi makan malam. Kita pergi makan, tapi pikiran Tati gak bisa lepas dari accident yang terjadi di sore hari..

Selesai makan, dan Anna juga sudah pulang, Tati mencoba untuk tidur.. tapi rasanya sulit… Antara sadar dengan gak sadar… Tati seakan2 melihat kembali semua yang terjadi di ruangan ujian sore itu… Seperti nonton film dengan Tati sebagai pemeran utama.. Film itu berputar dan berputar lagi.. Lagi dan lagi… Lagi dan lagi… Sampai Tati merasa sangat lelah dan terbangun dengan tubuh basah berkeringat… Setelah ganti baju, lalu minum segelas air, Tati mencoba kembali tidur… tapi film itu kembali berputar… Gak bisa dihentikan…., sampai pagi…..
Sampai saat terdengar suara azan subuh…
Masya Allah… Dalam hati Tati bertanya, beginikah yang namanya depresi? Beginikah yang namanya sakit hati karena dipermalukan…?

Pagi… setelah melakukan aktivitas rutin. Tati mencoba duduk dan berpikir tenang… Karena Tati gak nemu jawaban “Apa salah Tati sama si Bapak Dosen?”, Tati pikir yang bisa Tati lakukan adalah “tetap berlaku baik, rendah hati, tanpa rasa marah”. Satu hal yang pasti, Tati merasa harus bisa mengatasi rasa sakit ini. Karena kalau tidak, prosposal tidak akan jadi dan disetujui oleh kelima dosen, lalu tidak akan maju ke tahap penelitian, pengolahan dan analisis data, tidak akan maju ke tahap penyusunan thesis, tidak akan sampai ke tahap ujian.., lalu TIDAK AKAN SELESAI SEKOLAH..

Tapi hati Tati sakit, terlalu sakit atas penghakiman yang telah terjadi…Tati lalu memutuskan untuk memberi waktu bagi diri Tati selama 3 hari, TIGA HARI, untuk menyembuhkan rasa sakit… Selama 3 hari Tati tidak menginjakkan kaki di kampus. selama 3 hari Tati tidak keluar rumah kecuali untuk pergi makan.. Selama tiga hari Tati mencoba menginventarisir semua masukan2 yang diberikan 2 dosen pembimbing dan 3 dosen penguji.., lalu merangkumnya menjadi 5 daftar (masing2 1 daftar untuk 1 dosen), membuat catatan2 kalau ada pendapat yang sama maupun berbeda dari 2 dosen atau lebih..

Hari keempat…, Tati melangkah ke kampus.. Menguatkan hati menemui si Bapak Dosen… Begitu Tati, mengucapkan salam untuk memberitahukan kehadiran Tati di depan ruangannya, Tati melihat si Bapak Dosen termangu sejenak… Entah apa yang ada dipikirannya.. Entah menyesal, entah heran karena setelah hantaman itu Tati bisa muncul di hari keempat… Yang jelas, waktu Tati memulai konsultasi dengan mengeluarkan daftar hasil inventarisir masukan2 dari beliau waktu ujian serta beberapa catatan yang Tati buat, Tati bisa melihat bahwa Beliau berusaha merespon secara baik, bahkan sangat baik… Alhamdulillah.. Mungkin semua yang terjadi hanya ujian, untuk melihat seberapa tegar hati Tati untuk menyelesaikan sekolah kali ini…

Peristiwa ini mungkin tidak akan pernah terlupakan seumur hidup Tati… Tapi alhamdulillah tidak ada rasa dendam dan sakit hati… Tati malah menganggap si Bapak Dosen saat itu sedang punya masalah, sehingga terlepas emosi membahas proposal Tati.. Tati dan si Bapak bisa tetap berbicara dengan baik… Bahkan Tati sempat ngobrol dengan beliau saat Tati tahun lalu singgah di kampus, waktu ada pelatihan di Yogya..

Dan… buat diketahui, si Bapak Dosen ini memberikan nilai A pada saat Tati ujian Thesis di bulan November 2001, seperti 3 Dosen lainnya… (Tati dikasi liat detail nilainya sama dosen2 tersebut pada saat akhir ujian) Terima kasih, ya Bapak.. Hanya Pembimbing Utama Tati yang memberikan nilai sedikit di bawah A, sehingga setelah dirata2, nilai akhirnya adalah A.

Soal Pembimbing Utama memberikan nilai sedikit di bawah A, menurut Tati adalah tindakan yang wajar… Kok ? Thesis Tati kan tidak sepenuhnya karya Tati…, ada kontribusi si Pembimbing Utama dan juga Pembimbing Kedua, baik dalam hal pola pikir, editorial dan sebagainya. Sebagai seseorang yang sangat senior dan sangat bijaksana, wajar beliau tidak memberikan nilai A bagi karya yang ada kontribusi dirinya. Tapi beliau justru memberikan kesempatan untuk dosen2 lain menilai, apakah karya ini layak dapat A atau tidak..

Pelajaran besar dari peristiwa ini buat Tati adalah tidak boleh menyerah dalam menjalani hidup, apapun yang terjadi.. Mau nangis dulu sampai termehek-mehek, silahkan aja…. Tapi jangan lama2. Kalo kelamaan, ‘ntar hanyut, sementara rantai yang melilit diri makin tebal dan panjang… Makin susah memutuskannya.

Satu hal…, biar kan saja orang2 melakukan praduga bersalah atas diri kita.. Toh kita gak akan bisa menghabiskan waktu untuk menjelasakan “kebenaran” versi kita pada mereka… Gak ada gunanya. Buang waktu dan energi..! Tapi waktu…? Waktu akan menunjukkan siapa kita dan bagaimana kita sebenarnya.. So, keep smilin’ and cheer up, girl…!! ***

Deborah….

Posting tadi pagi ngingatin masa2 di Yogya..
Bulan2 segini tahun 1999, adalah saat awal2 kuliah…
Saat hati bimbang dan terkejut akan kenyataan hidup…
Saat diri menemukan bahwa hidup seringkali tidak sesederhana yang kita pikirkan.. Tidak sesederhana yang kita inginkan…
Tidak sesederhana lirik lagu ini…

DEBORAH

I read your letter
I got it just the other day
You seem so happy
So funny how time melts away
It’s such a pleasure
To see you growing
And how you’re sending your love
Thru’ the air today

I think of Heaven
Each time I see you walking there
And as you’re walking I think of children
Everywhere
It’s in your star sign
You growing stronger
I can’t believe you
It’s so good to care

Thru’ enchantment – into Sunlight
Angels touched your eyes
Your Highness – Electric – So Surprise..

Is this your first life
It seems as tho’ you have lived before
You help me hold on
You have a heart like an open door
You sing so sweetly
My Love adores you
She does, she’s thinking of you
Right now, I know

The summer’s coming
I’ll keep in touch so you’re not alone
Then like a swallow, you’ll fly away
Like birds have flown
So let me tell you
How much I love you
I’d make the songbirds sing
For you again

Well now it’s goodnight
Sweet angel, read this letter well

Kok, mata Tati rasanya mulai kabur ya…?
Kok, air mata merebak ya…?
Masa lalu memang manis untuk dikenang..,
Apalagi, kalau tentang seseorang yang pernah selalu ada buat kita, selalu membawa kita ke dunia baru, selalu bisa bikin kita tertawa, selalu bikin kita merasa “hidup gak seberat yang kita pikirkan”…
Meski sepahit apapun akhirnya hubungan itu. Hiks…***

Happy Birthday Samuel…

Samuel

Hari ini, makhluk yang pertama kali memanggil Tati dengan panggilan Wowo, Samuel Gading Sisoantunas Sinambela genap berusia 8 tahun…

Samuel bersama Papi Liberty, Mami Uli, Esther dan Monnic saat ini menetap di Samarinda.

Selamat ulang tahun ya Samuel… Semoga panjang umur, sehat, jadi anak yang pintar, selalu dalam lindungan Tuhan, serta jadi anak yang berbakti pada Papi dan Mami…
Dan semoga hidup Samuel selalu berwarna… Amin…

Ulang tahun Samuel mengingatkan Tati, masa2 Tati dan Mami Uli sama2 tinggal di Yogya. Tati lagi sekolah, sedangkan Mami Uli kerja pada sebuah NGO yang berpusat di Inggris.

Kalo weekend, Mami Uli libur, sementara Tati juga gak ada jadwal kuliah…
Tiap sabtu dan minggu pagi… pagi2 sekali… sekitar jam 6an.. Tati udah bergerak, naik motor dari tempat kost di daerah Pogung ke rumah Mami Uli di kawasan Banteng.. Lalu kita jalan2 pagi sambil ngedorong stroller-nya Samuel… Dari rumah, kita bergerak ke perkampungan di timur Perumahan Banteng.., menyusuri persawahan… perumahan penduduk, kebun2.. Kalo nemu kali, kita suka berhenti dulu mengamati gemercik air mengalir…. Suaranya menimbulkan rasa damai di hati…

Kalo ngeliat kupu2, kita suka berhenti dulu. Mengamati tarian si kupu2… Samuel juga senang banget ngamatin kupu2 menari di antara bunga2… Lalu Mami Uli dan Tati menyenandungkan lagu Kupu2-nya Meli…. Kadang kita menyusuri lingkungan kampus UGM yang bersih sejuk dan asri. Lalu nyari sarapan di kawasan Graha Saba…, atau berhenti dulu di Gudeg Bu Ahmad di tepi selokan Mataram, yang rasanya yahud banget…

Suatu hari, bosan dengan rute yang itu2 aja.. Tati dan Mami melakukan melakukan kegilaan… Kita pakaikan Samuel, yang baru berusia sekitar 7 bulan, baju yang tebal, lalu digendong pakai kain gendong terus dibungkus lagi pakai jaket… Emang mau kemana…? Ke kawasan wisata Kaliurang, naik motor…. Hualaaaaaaahhhhhh.. Gokil gak sih…? Kakak sama Adik sama aja gilanya…

Samuel-nya gimana ? Iiiihhhh, dia mah enjoy2 aja… Apalagi di tengah sejuknya udara Kaliurang, dia dikasi sebotol susu anget sama Mami Uli… Anteng deh dia… Apalagi gak lama kemudian, dia dikasi makan yang udah dibekel sama Mami… Samuel makin anteng aja… Tati sama Mami juga jadi makin asyik aja nikmatin bacem tempe dan jadah plus teh anget… Siangan dikit…, baru deh Samuel dikeluarin dari bungkusan… dibawa muter2 jalan kaki di kawasan Kaliurang… Dia kayaknya tertakjub2 ngeliat monyet2 yang berkeliaran.., liat embah2 jualan pisang dan buah2an…. Akhir pekan yang menyenangkan dan tak terlupakan.…***

Mami Uli & Baby samuel

Mami Uli, Baby samuel & Wowo

Mami Uli & Baby Samuel dan tukang pisang di Kaliurang

Wowo & Baby Samuel

Samuel sekarang….

Samuel @ jump & ropes di Bali

Samuel dan Mami…

Single….?

Membaca blogs Fluffy’s Mom tentang status baru beliau, meningatkan Tati tentang pengalaman hidup Tati saat mulai tinggal sendiri di lingkungan rumah yang sekarang…

Mungkin memang gak lazim buat orang2 di kota kecil (masa sih Pekanbaru tergolong kota kecil?? Kayaknya kalo lomba2, Kota Pekanbaru tergolong kota besar kok!), seorang perempuan single tinggal sendiri.. Mana yang ngedatangin juga jarang banget… Sehingga menimbulkan berbagai dugaan… Waktu awal, Tati selain melapor ke Pak RT dengan menyerahkan fotocopy KTP dan KK, Tati juga memperkenalkan diri sama tetangga di kanan dan depan rumah (rumah yang di kiri pemiliknya tinggal di luar kota).

Tetangga yang di depan, kebetulan orang Tapanuli marga Purba. Untuk mendekatkan diri dan menetapkan batas dari awal, Tati memangil Ito ke si Bapak dan Eda ke si Ibu, meski kalo ditelusurin gak nyambung banget deh… Tapi maksud Tati, kalo ke si Bapak menggunakan panggilan Ito (artinya saudara laki2), hubungannya kan jadi saudara. Ini diharapkan akan menutup kesempatan berkembangnya dugaan yang tak terduga dari berbagai pihak. Alhamdulillah, ini berjalan… Hubungan kita yang memang baik dari awal, semakin baik dari waktu ke waktu.. Anak2 keluarga Purba memanggil Bou ke Tati, bahkan Bapak dan Ibu Purba ikut2 memanggil Bou… So, Tati nambah ponakan 2 orang lagi…, nambah 1 saudara laki2 dan nambah 1 ipar perempuan… Bahkan Tati dan Ibu Purba menjadi sahabat bagi satu sama lain, saling menguatkan bila ada masalah…

Demikian juga, hubungan dengan keluarga Pak Ali, orang Sumatera Barat di sebelah kanan rumah. Hubungan Tati juga baik.. Kalo si Bapak mau pergi, sementara si Ibu belum pulang kerja, anak2 mereka, Muti dan Nala biasa nunggu di rumah Tati sambil nonton TV… Semua berjalan baik dengan tetangga.. Alhamdulillah, gak adalah yang berburuk sangka dengan status Tati yang single dan sudah tua pula… Hahaha…

Nah yang jadi masalah, justru sama orang yang bukan tetangga sama sekali… Gak tau, gimana ceritanya… Tahu2 suatu hari minggu pagi, ada bapak2 yang bertamu ke rumah..
Tamu tak dikenal : “Pagi Bu. Apa betul ibu yang kerja di Pemda A?”
Tati : “Betul, Pak. Ada apa ya?”
Tamu tak dikenal sembari menunjuk kursi di teras rumah: “Boleh saya duduk, Bu?”
Tati : “Silahkan Pak. Ada apa, ya?”
Tamu tak dikenal : “Nama saya Polan, bu. Saya pensiunan BUMN X. Saya punya tanah sekian hektar di jalan A (jl protokol di Pekanbaru). Rencana mau kerjasama untuk dibangun ruko. Yang akan bangun kebetulan orang kita Chinese. Beliau minta saya membantu menguruskan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)-nya. Ibu bisa bantu saya?”
Tati : “Oh, begitu. Kebetulan Pak, saya kerja dibagian perencanaan, bukan di bagian perizinan mendirikan bangunan. Untuk urusan seperti itu, Bapak langsung saja ke Kantor Pelayanan Terpadu. Pemda tempat saya bekerja sudah menyediakan fasilitas seperti itu. Saya tidak ingin mencampuri apa yang bukan pekerjaan saya. Mungkin kalau Bapak mau, saya bisa kasi beberapa nama teman yang memang bertugas di sana. Maaf, ya Pak.”
Tamu tak dikenal : “Oh, begitu ya Bu. Ya sudah kalau begitu. Ngomong2, Bapak tugas dimana ya, Bu? Saya gak lihat beliau dari tadi.”
Tati yang terbiasa berpikir lugas dan merasa tidak perlu berbohong (why should I lie? Pikir Tati “Ngapain gue mesti bikin dosa untuk hal2 remeh temeh begini?”) : “Oh, saya belum berkeluarga Pak.”
Tamu tak dikenal : “Maaf, Bu. Boleh saya bantu ibu untuk mencari jodoh? Dan kebetulan, istri saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”

Gubbbbbbbbrrrrrrrraaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk. Masya Allah, apa ini…? Manusia macam apa yang datang ke rumahku….????? Apa tampang Tati udah seperti barang di toko yang gak laku bertahun2, sehingga membuat orang berpkir “pasti akan disale”, sehingga bisa bicara seenak perutnya pada Tati…. Tapi, hati boleh sakit karena rasa dilecehkan namun Tati justru harus menunjukkan kelas Tati sebagai perempuan yang telah dididik dengan baik oleh keluarga..

Tati : “Pak, terima kasih sudah perduli dengan saya. Tapi maaf, untuk saat ini saya belum berminat untuk berumah tangga.”
Tamu tak dikenal : “Oh begitu ya Bu. Kenapa begitu, Bu? Cobalah ibu pikir2 lagi. Ngomong2 tanaman2 Ibu bagus2 sekali, subur2, hijau2. Tapi kok Ibu belum punya anggrek ya? Kalau Ibu mau, saya bisa suruh orang bikinkan taman anggrek di bagian depan rumah Ibu.”
Subhanallah, kok ini orang gak ngerti2 ya…??
Tati dengan masih berusaha tetap sopan : “Maaf Pak. Saya gak berkeinginan punya taman anggrek. Selain saya memang gak mau, saya juga gak bisa mengurus, saya sibuk dengan pekerjaan saya dan kegiatan2 saya yang lain. Terima kasih sudah menawarkan.”
Si Tamu tak dikenal masih aja duduk2 sambil manggut2.. Mungkin berpikir mau ngomong apa lagi… Dia tetap begitu untuk beberapa menit… (Tapi buat Tati rasanya seabad).
Tati : “Pak, maaf ya Pak. Kalo udah gak ada yang mau Bapak bicarakan, saya pamit untuk masuk. Banyak yang harus saya kerjakan di dalam.”
Tati langsung bangkit dari kursi teras dan masuk ke dalam rumah, membiarkan tamu gak dikenal termangu2 di teras.. Lama pula baru itu orang pergi.

Beberapa minggu berikutnya, tamu gak dikenal itu masih bulak balik ke rumah. Tati terpaksa minta tolong si kakak yang kerja mingguan di rumah untuk berbohong mengatakan Tati tidak ada di rumah. Eh tamu tidak diundang, masih ngotot mau ngunggu Tati pulang. Sampai si kakak yang kerja di rumah juga naik spaning dan akhirnya marah ke tamu gak diundang itu.

Usut2 ternyata, si Bapak itu tinggak beberapa blok dari rumah Tati.. Cuma yang jadi pertanyaan, “angin” mana yang menyampaikan kabar kepada si tamu gak diundang “bahwa di blok sana ada perawan tua gak laku2 baru pindah” ? Gak mungkin orang jauh, pasti orang yang di sekitar rumah Tati juga lah.. Mana mungkin orang jauh tau kondisi Tati yang single dan tinggal sendiri. Tapi, kenapa orang yang baru kenal, dan pasti belum mengenal pribadi Tati “bisa dengan cepatnya menghakimi status Tati”. Kenapa dia merasa perlu “berbuat baik” dengan menyampaikan kabar berita yang sebenarnya dia gak tau? Tapi sudahlah… Di sini, orang sering kali terlalu perduli dengan urusan yang tidak perlu dia urus…

Tapi setelah tiga tahun tinggal di rumah yang sekarang… Tati adalah tante buat anak2 tetangga… Senang rasanya, hidup di lingkungan yang ramah, yang membuat kita merasa diterima dengan segala pilihan hidup kita…***

Upah-upah…

Apa itu Upah2…?

Dalam adat batak, kalau seseorang akan atau telah melalui satu tahap kehidupan biasanya diberi “upah2” oleh keluarganya.. Misalnya lulus sekolah, menikah atau lain-lainnya. Upah2 kayaknya berasal dari kata “upah” ya..?
Mungkin ini sebabnya kalo becanda orang batak tuh suka dibilang.. “Dasar Batak Upah!!!”. Hehehe.. Abis apa2 diupah sih..

Upah-nya apaan ?
Nasi lengkap dengan ayam bakar utuh (gak dipotong2 plus hati & kalang-nya), lalu ikan mas yang diarsik (yang ini khas-nya orang angkola, secara kita gak makan si piggy ekor melintir), telur rebus, udang yang gede2.., semua dihidangkan di piring besar.. Hmmmmm bikin air liur menitik… Biasanya pada saat Upah2 itu diberikan…, para orang tua menyampaikan nasehat2 kehidupan buat bekal kita di masa yang akan datang..

Waktu Tati, lulus S1..
Keluarga besar, 3 anak laki2nya Opung Lintje (Opungnya Tati) kumpul semua di rumah abangnya Papa, (alm) Anwar Siregar, di Bangka Jakarta Selatan. Lucunya semua abang2 (3 orang) yang waktu itu pada belum lulus sekolah (karena pada kerja dan ada juga yang keasikan main..), diwajibkan untuk hadir di acara wisuda di Widya Graha Bogor… juga adik2. Mungkin maksudnya supaya pada termotivasi, ya..? Tati lah yang beberapa hari sebelumnya mabok nyari undangan tambahan. Karena jatah dari kampus kan cuma 1. Para ponakan yang masih imut2 pada ikut juga ke Bogor, cuma mereka nunggu sambil berenang di hotel Pangrango, di depan tempat kost Tati. Heboh gak siihhh keluargaku….?

Nah…, malamnya… Yang wisuda dikasi jatah “Upah2”..
Selain anggota 3 keluarga Siregar.. Hadir juga para Opung2 dan Uwak2, Tulang2, Tante2, Bujing2 dari keluarga Harahap Hanopan, lengkap dengan pasangannya masing2 plus anak2nya.. Kok, banyak keluarga Hanopan? Karena Opung (ibunya Papa) boru Harahap dari Hanopan. Lalu, Mama juga boru Harahap dari Hanopan. Papa dan Mama tuh sepupuan alias pariban. Ramai, seru dan heboh… Rasanya setelah itu kita gak pernah kumpul selengkap itu lagi.. Karena satu per satu telah berpulang…, yang tersisa pada sibuk dengan rutinitas masing2 serta tinggal di kota2 yang terpisah… Hiks..

Sebelum acara makan bersama, Tati yang disuruh duduk di pusat pandangan semua anggota keluarga, lalu di depannya diletakkan Upah2 yang udah disiapin Mama dan Mak Tuo Jakara (Ny. Anwar Siregar). Pemberian Upah2 disertai nasehat dari para orang tua, mulai dari yang paling senior… dan ditutup oleh Papa. Papa juga memberi penjelasan arti dari semua jenis makanan yang dihidangkan dalam Upah2. Tati lalu disuruh mencicipi semua jenis makanan yang ada dalam Upah2, sesuai arahan Papa. Setelahnya, Upah2 tersebut dimakan bersama abang2 dan adik2 serta saudara2 lain, terutama yang juga masih sekolah.. Dengan harapan mereka juga akan memperoleh berkat dari Upah2 tersebut. What a beautiful family tradition…***

Here some old and memorable pics…

Tati lagi dikasi Upah2 sama Papa

Tati nyicipin Upah2 ditontonin sama Opung2, Uwak2, Abang2 dan Adik2


Keluarga yang hadir…



L to R : Bujing Dewi (Adik bungsu Mama), Tante Grace (sepupu Mama), Mama, Wak Ida (Kakak Mama paling tua)

Di Kantor Gak Ada Kerja Ya….?

Tante Po, nyuruh Tati baca “Guebukanmonyet” yang tgl 26 Agustus bikin posting “Universitas Negeri Penghasil Koruptor Terbesar?”.

Sebenarnya soal korupsi sulit untuk dikaitkan dengan universitas mana orang itu berasal.. Karena saat ini di daerah, banyak juga orang2 yang bermain bukan lulusan Universitas Negeri (Papan Atas). Menurut Tati, masalah korupsi adalah hasil didikan 32 tahun orde baru yang diperkuat dengan prinsip “kebebasan yang kebablasan” setelah orde baru tumbang.. Udah jadi budaya…

Jadi ingat puisi Rendra yang lagi sering diputar di beberapa stasiun TV beberapa hari terakhir ini dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.. Kalo gak salah ada kalimat yang bermakna, “agar kita mulai bekerja dengan sepenuh hati, gak asal2an…”

Tati mengalami kejadian yang luar biasa sekitar setahun yang lalu…, yang terkait dengan kerja di lingkungan Pemda..

Waktu itu lagi weekend.. Tati dan Kak Iye (kakak sepupu, ponakan ibu) pergi ke Pasar Bawah, sebuah pasar wisata yang banyak menjual barang2 dari Malaysia. Tati mau nyari kerudung buatan Malaysia yang bahannya nyaman buat dipakai seharian di kantor…, tapi yang sederhana aja.. Waktu itu di Pekanbaru lagi musim kerudung Malaysia, dengan bordir dan dihiasi batu permata di sekelilingnya.. Harga krudung seperti itu per lembarnya Rp.175 ribuan kalo yang batunya cuma selapis, dan Rp.250 ribuan yang batunya 2 lapis.

Waktu sampai di sebuah kios yang menjual kerudung dan accesories wanita..
Tati nanya sama penjaga kios : “Kak, ada kerudung Malaysia tapi yang gak pake batu dan berwarna baju Pemda?”
Penjaga toko sambil mengulurkan setumpuk kerudung : “Ada, kak. Banyak nih motif bordirnya. Kakak liat aja.”
Tati lalu mulai buka2, pilah pilih pilah pilih..
Tiba2 si Penjaga toko bicara : “Kak, kalo di Pemda itu, pegawainya gak ada kerja ya di kantor?”
Tati kaget, dengarnya… Lalu bertanya : “Kok, kakak bisa ngomong begitu? Ya adalah kerjaan di kantor. Banyak lagi…”
Penjaga toko : “Tapi tiap pagi, jam sembilan karyawatinya sudah berkeliaran di sini.., kak. Apalagi yang dari kantor ‘anu'” Yang dia maksud itu Unit Kerja Tati pula.. Aduh… serasa ditampar deh Tati….
Penjaga toko : “Kalo mereka ada kerja, kok bisa keliaran di sini? Apa boss-nya gak marah, anak buahnya keliaran. Mana mereka kalo belanja tuh, uangnya kayak air, kak. Banyak banget. Kalau beli kerudung yang mahal aja sekali beli bisa 5 sampai 10 buah.”
Tati : “Kakak, jangan ngomong begitu lah. Kan kakak juga senang kalo mereka belanja. Kakak kan dapat untung, modal berputar.”
Penjaga toko : “Betul, kak. Saya dapat untung kalo mereka belanja. Tapi, kalo dipikir, apa mereka itu gak ria jadinya kalo pake kerudung mahal2? Mana belanjanya pagi2, saat mereka seharusnya bekerja. Kan mereka digajinya dari hasil pajak masyarakat, kak.
Gubbbbbbbbrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk. Tati cepat2 pegangan ke tiang yang ada di pinggir toko tersebut. Gak kuat denger omongan si penjaga toko, serasa ditonjok 1000 orang dari seribu penjuru.

Tapi ada satu pemikiran Tati yang sudah lama tersimpan di hati… Apa sebenarnya kita tidak bertanggung jawab terhadap moral orang2 di sekitar kita?”
Maksudnya..?
Kalau kita dalam berpenampilan selalu “berkelas” memakai barang2 mewah yang bermerk, apa kita gak akan jadi panutan buat orang2 di sekitar kita? Kalau yang dicontoh hanya sekedar kerapian dan keserasiannya… Itu bagus. Bagaimana kalau orang yang melihat itu hanya melihat brand dari barang2 yang kita pakai, lalu terdorong untuk juga memiliki? Kalau orang itu punya kemampuan secara finansial, itu gak masalah… Tapi bagaimana kalau yang ingin memiliki itu adalah anak2 remaja, atau orang2 yang kondisi finansialnya belum bisa untuk membeli barang2 branded tersebut? Apa yang akan mereka lakukan? Apa yang akan mereka “jual” untuk medapatkan barang2 branded tersebut? Iman akan menjadi penentu keputusan mereka. Tapi kita si pemakai barang branded adalah pemicu iman mereka untuk tergoda.. Apa kita tidak harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita bikin itu suatu saat nanti? Masya Allah. ***

The Sondha Code….

THE SONDHA CODE…..?

Ini ucapan Alam, junior di lingkungan kerja, tahun lalu pada saat kita sedang diskusi tentang rencana kerja lima tahunan kantornya. Waktu itu, film The Da Vinci Code yang dibitangi Tom Hanks dan Audrey Tautou lagi beredar di bioskop2, dan Alam menggunakan gambar2 dari film itu sebagai background di laptopnya.., yang terbesar adalah gambar MONALISA

Kok, Alam bisa tercetus THE SONDHA CODE? Ya, karena Alam tau kalo middle name Tati adalah MONALISA….., Yup, my complete name is “SONDHA MONALISA SIREGAR”

Bahkan waktu Mia, Tati’s closest friend zaman di Bogor, berkesempatan traveling ke Paris tahun 1990an (??), Mia ngoleh2in Tati postcard Monalisa yang diframe hitam.. Terus di bagian belakangnya di tulis :
LÉONARD DE VINCI 1452 – 1519
MONNA LISA
DITE LA JƠCONDE 1503 – 1506
from paris with love
Postcard ini masih digantung di cermin di meja rias Tati. Thanks ya Mia…

Back 2 topic..,.
Secara, sejak kembali ke Pekanbaru Tati jarang banget ke bioskop.., Tati jadi nyari vcd-nya aja di Disc Tara.. Setelah nonton filmnya, Tati jadi penasaran pengen baca bukunya… So Tati, nyari di toko buku Trimedia.. Ternyata untuk edisi Bahasa Indonesia ada 3 jenis buku Da Vinci Code yang dijual.. Yang pertama, jenis softcover, the cheapest one. Yang kedua, yang hardcover, ada sedikit gambar tapi hitam putih. Kalo gak salah harganya sekitar 140an ribu rupiah. Yang jenis ketiga, adalah hardcover plus gambar2 yang berwarna…, the most expensive.. kalo gak salah harganya lebih dari 200an ribu rupiah… Tati pilih yang nomor 2 karena hard cover dan ada sedikit gambar, kalo yang ketiga kayaknya kemahalan buat kantong Tati… Hehehe.

Kayaknya, isi film dan buku gak usah dibahas lah ya… Udah banyak banget yang ngebahas… dan terkadang di luar batas pengetahuan Tati yang cetek ini… Justru yang pengen Tati ceritain adalah…: di buku The Da Vinci Code, Robert Langdon yang Professor “Simbologi Agama” membahas makna MONALISA yang juga telah berabad2 dibahas orang…, di film hal ini gak dibahas…

Tati juga sebenarnya gak terlalu curious tentang Monalisa.. Gak terlalu nyari2 arti “Monalisa”. Pernah sih Tati nanya ke Mama kenapa ngasi Tati nama Monalisa..? Kata Mama karena Monalisa adalah sosok perempuan hasil karya seni yang senyumnya luar biasa… yang dikenang orang banyak dan menjadi legenda… Mungkin Mama berharap Tati juga punya senyum yang istimewa… paling enggak buat orang2 di sekitar Tati, kaleeeeeeeeee…?

Tapi kata Pirate beberapa hari yang lalu, “Kalo Tati senyum, dia juga gak tau maknanya..” Waktu dicoba konfirmasi, apa senyum Tati membuat dia merasa di’enyek? Dia bilang Tati mis-interpretation. Alhamdulillah. Selagi senyum Tati berarti sesuatu yang positif, gak apa2lah.. Asal jangan menjadi sesuatu yang menyakitkan .buat orang.. Btw, misteriusan mana senyum Monalisa yang ini sama senyum Monalisa-nya Da Vinci, Pirate? Hehehe… Di Monalisa Homepage, ada 10 dugaan alasan paling popular mengapa Monalisa tersenyum, dari alasan yang sopan, konyol sampai yang gak senonoh, semua ada.. Mudah2an tidak ada satu pun dari alasan itu diduga sebagai alasan Tati tersenyum… Hehehe…

Back 2 buku The Da Vinci Code…
Menurut Langdon.., MONALISA terdiri dari 2 bagian… MONNA dan LISA.. MONNA adalah penukaran posisi huruf dari kata A’MONN, dewa kesuburan orang Mesir. Sedangkan Lisa adalah penukaran posisi dan penggantian huruf dari kata L’YSA, dewi kesuburan orang Mesir…. So, analisis Langdon, sosok Monalisa di lukisan Da Vinci merupakan gabungan sosok laki2 dan perempuan. Kalau Monalisa merupakan sosok gabungan, laki2 dan perempuan…? Apakah sosok ini merupakan sosok yang hermaphrodite..? Cacing kali… Cacing kan juga menyebabkan kesuburan… Hehehe…

Mungkin karena Da Vinci belum aware soal gen, makanya sosok gabungan ini disembunyikan dalam sosok wanita.. Coba kalau dia lahir setelah Mendel, penemu teori heriditas (?), mungkin Monalisa disembunyikan dalam sosok laki2.. Kok….. ? Ya, iya lah.. makhluk yang punya 2 jenis gen penentu jenis kelamin manusia kan justru laki2… Laki2 punya unsur X sekaligus Y, sementara perempuan hanya punya unsur XX.. (So sebenarnya yang nentuin jenis kelamin anak itu dari garis ayah… Jadi para bapak2 jangan berbuat ketololan deh dengan menggunakan alasan pengen punya anak dengan jenis kelamin tertentu buat menikah lagi… Alasan yang sebenarnya udah basi sejak seabad yang lalu… Hehehe. Jadi kalo mau nikah lagi, cari alasan yang lain aja yaaaaa…). Jangan2 kalo kejadiannya begitu, Monalisa adalah nama untuk anak laki2.. Hehehe..

Tapi Tati, mencoba memaknai secara positif aja… Maksudnya…? Tati asumsikan aja MONALISA itu lambang penggabungan unsur laki-laki dan perempuan sehingga membentuk suatu keseimbangan, keselarasan yang akan menghasilkan produktivitas yang tinggi (kesuburan).. seperti unsur Yin dan Yang dalam budaya China… Mungkin itu lah seharusnya arti dari THE SONDHA CODE… Berupaya membentuk keseimbangan dan keselarasan diri dengan lingkungan sehingga jadi bisa lebih produktif… Ideal banget….!!! Kayaknya gak kuku deh gue buat ngejalaninnya…., because I’m very egoist person… Gubrrrrrrrraaaaaaaaakkkkkk.***

A Good Year

Setelah wara wiri dari pagi sampai siang…, leyeh2 di tempat tidur sambil nonton adalah kegiatan yang menyenangkan… Ditambah pula udara yang dingin dan lembab karena hujan yang turun terus menerus dari siang…, nikmat banget rasanya bisa bergelung dengan selimut sampai di leher… Plus pake training dan pullover.., jadi ingat baju2 kebangsaan jaman masih tinggal di Bogor..

Asyiknya nonton film apa ya…? Pilah pilih pilah pilih… Tati akhirnya mutusin buat nonton “A Good Year” yang baru aja dibeli siang ini di Disc Tara, Mall SKA.

Film ini dibintangi Russel Crow, yang berperan sebagai Maximmillian, orang Inggris yang kerja di London Stock Exchange, berjiwa spekulan dan luar biasa cerdas di bidangnya. Maximmilian dinyatakan sebagai ahli waris dari Henry, pamannya yang meninggal dan tidak mencantumkan satu nama pun sebagai ahli warisnya. Warisan itu berupa sebuah château dan kebun anggur di Perancis, tempat dimana Henry menetap bertahun2. Secara Max punya otak dan jiwa business, dia berencana untuk menjual seluruh peninggalan Henry… Tapi kemudian, rasa cinta Max pada Henry yang pernah memberikan satu musim panas yang istimewa buat Max, yang orangtuanya entah kemana, merubah Max, membangkitkan sisi jiwa yang bertahun2 terabaikan..

Detilnya dan akhirnya…? Mungkin lebih baik teman2 nonton sendiri aja ya… Karena pasti akan lebih asyik… Tati paling sebel kalo belum nonton suatu film tapi terus diceritain lengkap2.. karena akan kehilangan kesempatan untuk menemukan kejutan2 yang ada dalam sebuah film… Gak excited lagi…!!! Rugi donk udah keluar duit… Hehehehe…

Tapi, buat Tati “A Good Year” tidak memanjakan penontonnya dengan pemandangan perkebunan anggur Perancis yang indah… Kalah deh dengan yang diberikan film “Under the Tuscan Sun” yang dibintangi Diane Lane… Film yang satu ini, benar2 menyajikan gambar2 daerah Tuscan yang luar biasa indah dan colorfull…

“A Good Year” kalah juga dengan keindahan gambar di film A Walk in the Cloud yang dibintangi Keannu “Speed” Reaves, yang juga bersetting perkebunan anggur, tapi di Amerika… A Walk in the Cloud malah memberikan suatu adegan yang sexy dan indah banget.. Yaitu adegan para pemilik kebun anggur harus mengepak-ngepakkan “sayap” di antara pohon2 anggur untuk menyebarkan uap panas yang akan menghangatkan buah2 anggur yang siap dipetik, supaya gak frosted.. Bener2 adegan yang indah..***

Brunch di Akhir Pekan….

Sabtu kali ini…, kayaknya banyak deh yang mau dilakukan… Mulai dari ngatar polis ke nasabah, ke bengkel, prospek dan…. pengen bela beli vcd/dvd (hobby nonton itu sulit dihilangkan dan emang gak niat buat diilangin…!!! Hehehe.). Tapi sebelumnya mesti sarapan dulu niiiiyyy… Secara di rumah stock makanan terbatas (abis kalo nyetok juga suka gak kemakan…, jadi mending gak nyetok dari pada mubazir..), dan pagi2 cuma menikmati teh manis anget se-mug… Jadi yang pertama mesti diurus, ya urusan perut lah ya…

Mulai deh mikir, mau makan apa…???
Sebenarnya pengen banget makan makanan favorite Tati buat sarapan.. Apa itu…? Bubur ayam yang dijual di kedai kopi “Kings” di samping Bank BCA Jl. Ir. H. Juanda Pekanbaru.. Sangkin suka makan bubur ini dari usia muda (kalo dulu pulang dari Bogor buat liburan, bisa hampir tiap pagi tuh ke situ), si Bapak yang jualan sampai ngenalin…. Hehehe. Tapi karena kali ini perginya sendiri, Tati malas juga ke Kings.. Rasanya gak nyaman aja duduk sendiri buat sarapan di tengah keramaian.. Mana seringkali ketemu kenalan pula di situ… Sometimes, nyali kecuekan Tati menurun… Hehehe..

Kayak apa sih Bubur Ayam Kings…?
Bubur ayam Kings, adalah bubur ayam dengan Chinesse style.. Dihidangkan dengan telur yang dicemplungin ke adonan bubur (tapi kita boleh minta bubur tanpa telur) plus dimakan pake cakue, yang diiris gede2.. plus, sebagai optional, adalah tambahan bumbu2, antara lain cabe merah cair (khas chinesse food), merica dan…….. khusus buat Tati (“Si Nona Kecap”), ya kecap manissss secukupnya…. Hhhhmmmmm yummy…!!

Apa bedanya bubur ayam Kings dengan bubur ayam di Kedai Kopi Kim Teng yang terkenal banget di Pekanbaru ? Atau dengan yang di Restoran Cola2, yang berlokasi di jalan yang sama?
Enggak, tau ya… Menurut Tati, bubur ayam yang di Kings tuh lebih padat adonannya.., gak didominasi air… terus rasanya juga paaaass aja di lidah… Kalo sarapan bubur ayam Kings sekitar jam 8an pagi… Tati baru kepikiran buat makan siang tuh setelah jam 13an… Jadi selain gizinya juga gak berlebihan, bubur ini bikin nyaman buat kerja sampai siang…, gak ngerusak kosentrasi karena lapar… Hehehe.

So karena enggan ke Kings pagi ini, alternatifnya seperti biasa…: Solaria yang di depan Hypermart di basement Mall SKA. Resto yang satu ini merupakan tempat yang lumayan nyaman buat brunch di akhir pekan. Karena kalo sekitar jam 10an pagi belum rame banget… Menimbang makan kali ini adalah brunch…, Tati milih makanan yang agak bervolume. Pilihannya, kuetiaw sapi goreng dan lemon tea.. Alhamdulillah nikmat..

Btw, masakan mie2an di Solaria, rasanya lumayan kok… dan porsinya agak banyak… Biasanya kalo Tati pergi bertiga dengan teman/keluarga, kita biasanya pesan dua porsi makanan, lalu minta piring kosong 1.. Kalo gitu rasanya paaaasssss. Gak blenyek, kekenyangan…. Mudah2an management Solaria gak baca blogs ini ya… bisa2 ntar porsi makanannya dikecilin… Hehehe… Kalo pun mereka suatu saat nyasar ke blogs ini.., mudah2an gak membuat mereka merubah kebijakan.. Karena buat Tati dan keluarga, juga teman2… makan bersama2 sambil berbagi adalah hal yang sangat menyenangkan… Menimbulkan rasa kebersamaan…. Jadi kangen pergi makan sama saudara2 Tati…. ***

Suddenly….

Gak ada angin apalagi topan badai..
Suddenly, Tati ingat lagu ini…
Lagu yang pernah Tati suka banget…
Lagu yang nemenin malam2 sunyi, dingin… tapi Tati harus bangun dan kerja di depan compi di sebuah paviliun di daerah Pogung Dalangan, Yogyakarta,
Berjuang menyelesaikan thesis..
Mengejar sebuah kebebasan…

SUDDENLY

I used to think that love was such a fairy tale
until that first hello, until that first smile
but if i had to do it all again
I wouldnt change a thing, ‘cos this love is everlasting

suddenly, life has new meaning to me
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly you’re in love

ooh yeah

Girl your everything a man could want and more
one thousand words are not enough to say what i feel inside
holding hands as we walk along the shore
never felt like this before, now you’re all that im livin’ for

suddenly, Life has new meaning to me
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly you’re in love

each day I pray, this love affair will last forever
oh hoh
suddenly, Life has new meaning to me
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly your in love

ooh
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly you’re in love
***

Selamat Ulang Tahun Opung BS…

Opung BS...

Kemaren sore setelah pulang kantor, Tati ingat pembicaraan dengan Papa beberapa hari yang lalu. Papa bilang Opung BS ulang tahun ke 83 tahun tanggal 23 Agustus, pesta ulang tahun akan diadakan tanggal 26 Agustus. Papa diundang, tapi kita minta Papa untuk tidak pergi dulu lah.. Kan dokter bilang harus total rest selama 3 bulan.

Karena ingat kemaren sore tanggal 23 Agustus, Tati lalu meraih telpon yang teletak di samping tempat tidur, lalu mendial nomor telepon rumah Opung, 0217500 sekian sekian..
Gak lama telepon diangkat oleh Opung Tiur, yang sudah datang dari Medan buat menghadiri ultah Opung. Opung Tiur lalu ngasi tau ke Opung BS kalo ada telpon dari Tati. Gak lama telpon diangkat…

Opung BS : “Halo…!!!”
Tati dengan suara becanda : “Selamat sore Opung, ini Sondha. Katanya hari ini ada yang ulang tahun, ya Opung?”
Opung BS dengan suara riang: “Iya…, saya ulang tahun. Ke 83 tahun, Pung.”
Tati : “Selamat ya, Opung. Semoga panjang umur dan sehat2. Waduh, Sondha setengahnya aja belum, Pung.”
Opung BS : “Iya….?.”
Tati : “Opung, maaf ya Papa gak bisa menghadiri ulang tahun Opung. Papa masih harus istirahat dulu.”
Opung BS : “Iya, kalian rawat Papamu itu baik2 supaya sehat lagi. Jangan kasi lasak2, ya Pung?”
Tati : “Iya, Pung. Mudah2an tahun depan Opung panjang umur, Papa panjang umur, kita semua panjang umur dan ada rezeki, kami akan datang saat Opung ulang tahun. Janji, Opung.”
Opung BS : “Iya lah Opung. Baik2 kau, ya. Terima kasih sudah telepon Opung, ya,. Horas..!!!”
Tati : “Iya Opung. Horas…”
Klik telepon ditutup.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun ke 83, ya Opung. Semoga Panjang Umur, Sehat2 selalu. Mudah2an ada rezeki, kita bisa jumpa lagi… Amin. ***

Batak Berekor atau Berbelalai…?

Beberapa waktu yang lalu Tati dapat komen dari Ito Faiz Siregar. Komen-nya diletakkan di posting Puisi Tinneke, tapi komen tersebut mengenai kamus Angkola yang disusun Papa dan teman2nya (termasuk Opung Parningotan Siregar gelar Baginda Hasudungan dari Bunga Bondar, pernah dengar nama ini, Ito Faiz?), serta kabar bahwa keberadaan kamus tersebut telah diberitahukan ke para anggota milis Parsipirok. Makasih, ya Ito. Kiranya Tuhan yang membalas segala budi baik Ito. Mudah2an juga kamus ini bermanfaat bagi generasi penerus Batak Angkola, dan semoga Kebudayaan Batak Angkola tidak punah ditelan zaman… Papa dan teman2nya pasti akan bahagia bila karya mereka bisa bermanfaat. Sekali lagi, terima kasih.

Adik ku Uli sedang mengamati akui pake bulang

Komunikasi dengan Ito Faiz dan keberadaan milis Parsipirok, seakan kembali mengugah perasaan Tati, bahwa Tati itu adalah Boru Batak… Iya, nama Tati kan Sondha Siregar… Sebagian besar orang Indonesia pasti tahu, kalo nama itu menunjukkan bahwa Tati berasal dari suku Batak…

Btw, teman2 tau gak kalo suku Batak itu, sebagaimana Dayak juga punya banyak varian? Antara lain Toba, Karo, Mandailing dan Angkola. Bedanya apa sih? Kayaknya sih awalnya beda sebaran secara geografis (maaf kalo salah, ya). Batak Toba, bermukim di sekitar Danau Toba, Batak Karo, bermukim di daerah Tanah Karo (Brastagi, Kabanjahe, Tiga Binanga dll), Batak Mandailing bermukim di daerah perbatasan Sumatera Utara dengan Sumatera Barat. Tapi akhirnya juga jadi berbeda dari cara berlaku, orientasi hidup dan juga bahasa.. Jangan heran kalo orang Mandailing menyebut uang dengan piti dan memanggil saudara laki2 ibunya dengan Mamak, seperti orang Sumatera Barat. Sementara orang Angkola dan juga Toba menyebut uang sebagai hepeng, serta memanggil saudara laki2 ibunya dengan Tulang. Pernah dengar istilah “hepeng na mangatur nagaraon”.. ??? Ini bahas sindiran yang artinya ngeri bangeeeeetttttttt…, bertentangan dengan What Money Can Buy..

Tati gak tahu banyak tentang suku Batak… Tati hanya memperoleh pengetahuan dari keluarga dan sedikit2 dari buku2 sejarah keluarga yang ditulis Opung Bagon Harahap gelar Baginda Hanopan dan Pak Tuo Anwar Janthi Siregar. Tapi Tati tahu bahwa keluarga Tati adalah orang Batak Angkola. Tepatnya, kampung Papa di Sibadoar (sekitar 1.5 km dari Kota kecil Sipirok) dan kampung Mama di Hanopan (terus lagi dari Sibadoar sekitar 20 km).

Apa itu Batak Angkola..?? Batak Angkola adalah orang Batak yang secara geogafis bermukim di antara wilayah Batak Toba dan wilayah Mandailing. Efeknya kita mempunyai karakter budaya sendiri, yang unik… Gak segalak, dan seblak-blakan orang Toba, tapi gak juga dipengaruhi budaya Sumatera Barat sebagaimana orang Mandailing.. Orang Angkola lebih mementingkan keselarasan, sementara orang Toba lebih mementingkan hamoraon (kemuliaan), hagabeon (nama besar) dan hasangapon… Orang Toba juga menganggap berdebat dengan keras adalah sebagai sesuatu yang biasa2 aja…. Sementara di Angkola budaya maila(malu)-nya lebih kuat… Jadi jangan heran ya kalo banyak orang Toba yang jadi pengacara beken.. Mereka memang dari sononya udah jago berdebat dan menarik urat leher…

Beberapa teman Tati yang baru kenal gak percaya kalo dibilang Tati tuh orang Batak.
Katanya, cara ngomongnya, baik logat maupun tutur katanya sama sekali gak seperti orang Batak… Macak cih…..??? Jadi malu deh kami……!!!

Kalo soal logat, mungkin karena Tati dibesarkan di Pekanbaru, di lingkungan Melayu (kan Tati orang Pekanbaru !), plus pengaruh pernah tinggal di beberapa kota yang berbeda, jadi logat Bataknya gak tersisa… Kecuali kalo lagi ngomong batak, atau kalau lagi marah…, hmmmmmm keluar deh ekornya… (kan ledek2annya orang Batak tuh dibilang berekor, gak tau kenapa…) Hehehe.

Kalo soal tutur kata…, kita emang gak terbiasa ngomong bledak beleduk… karena emang di keluarga tidak begitu.. Dan memang orang Angkola itu tidak beledak beleduk., kecuali kalo lagi marah karena merasa harga dirinya diinjak2…

Ngomong2 soal orang Batak.., Tati tuh gak tau banyak adat istiadat Batak Angkola… Paling ngertinya bagaimana bertutur sapa. Ini juga gak gampang lho. Secara, panggilan terhadap anggota keluarga dari garis ibu dan ayah berbeda.. Bahasa juga gak fasih2 banget.. kalo diajak ngomong bisa dikit2.. Kalo pulang ke kampung mudah2an gak malu2in.., karena masih ngerti kalo dengar orang bicara… Kecuali kalo ketemu dengan istilah2 ajaib, seperti beberapa yang diajarkan Mama : bucenetan, dursat, tukap tikap tippalang tipayak. Hehehe. I love your sense of humor, Mam…!!!

Sebenarnya Papa yang punya banyak pengetahuan tentang adat istiadat, karena Papa tuh boleh dibilang Raja Adat (artinya orang yang dituakan dan menguasai tata cara adat). Tapi karena kita hidup di kota yang berbeda dengan Papa, kita jadi gak bisa belajar langsung dari Papa..

Waktu Tati kecil, sekitar kelas 4 SD, Tati pernah mengikuti acara adat Batak. Tapi karena Tati masih bocah, jadi banyak gak ngertinya… Seingat Tati, keluarga kita tuh bikin acara berhari-hari dan bermalam-malam di Sibadoar, pake acara potong kerbau. Bahasa Batak Angkolanya Horja. Selama acara2 tersebut, kalo kita anak2 yang masih kecil gak perlu hadir di pada tahap2 tertentu, kita diantar pulang ke rumah Opung di Sipirok. Makanya Tati jadi gak tau semua yang dilakukan.., hanya ingat acara2 yang Tati dilibatkan.. Dan mungkin ada yang udah terlupakan pula… (mudah2an Papi David bisa segera menuliskan tentang ini berdasarkan buku tulisan Pak Tuo Jakarta (Anwar Janthi Siregar) di blogs-nya ya..?)

Samuel Siregar gelar Baginda Parhimpunan alias Opung Kotuk (Tulang = Buyut ku)

Yang Tati ingat, waktu itu keluarga Tati meresmikan Bale ni Ja Barumun dohot Poparanna, yaitu sebuah bangunan beratap tapi tidak berdinding yang menaungi kuburan leluhur Tati. Siapa aja ? Waktu tahun 1978 tersebut, di bale itu terdapat kuburan Ja Barumun dan 3 istrinya (istri2 yang muda dinikahi sebagai pengganti istri yang meninggal, maaf ya, keluarga Tati penganut monogamy. Hehehe), Samuel Siregar gelar Baginda Parhimpunan alias Opung Kotuk (putra Ja Barumun alias Buyut Tati) dan 2 istrinya, serta Piter Siregar gelar Sutan Barumun Muda (Putra Baginda Parhimpunan alias kakeknya Tati), yang saring2 (tulang-tulangnya) nya dipindahkan dari kompleks Pemakaman Blok P, Kebayoran Jakarta sekitar 6 bulan sebelumnya. Saat ini, di bale tersebut telah bertambah penghuninya, yaitu istri Sutan Barumun Muda (Menmen Harahap, putri Tuongku Mangaraja Elias alias Opung Lintje alias nenek Tati), Opung Pintor (Adik Sutan Barumun Muda) beserta istrinya.

Pieter Siregar gelar Sutan Barumun Muda, Opung Godang ku

Yang Tati ingat, anggota2 keluarga kita dikasi gelar. Termasuk Tati.. Waktu pemberian gelar itu Tati dipakein baju kebaya (Nggak tau punya siapa tuh yang dipinjam..Untung ada yang muat ya.. hehehe), lalu dipakein bulang (hiasan kepala pengantin wanita Batak). Waktu itu Tati dikasi gelar NAI BONA RAJA, katanya sih artinya Ibu Para Raja. Tapi kata bang Rio, gelar Tati itu mestinya NAI BONA GAJAH KECIL BERBELALAI PANJANG…. Rong-rong nya siapa ya…? Hahaha…

Jadi kesimpulannya, Tati itu BATAK BEREKOR atau BERBELALAI, ya?***

Aku dan Uli (yang kecil di sebelah kanan ku) saat diarak2 keliling kampung di Sibadoar...

Customer Antik…

Jam di bagian kanan bawah compi di kantor menunjukkan waktu 15.05 waktu Pekanbaru..
Tiba2, tidit tidit… sebuah SMS masuk.. dari nomor 0812 sekian sekian.. nomor HP salah seorang customer Tati, Mr. K.
Isinya “Ibu bisa ke kantor saya sekarang?”
Tati membalas, “Baik Pak, jam 15.30 saya akan sudah di kantor Bapak.”
Mr. K : “Kalo jam segitu saya sudah tidak ada di kantor. Gak bisa sekarang?????

Waduh.., kayaknya si Bapak ini lupa atau gak pernah belajar mekanika dasar…
Dia gak tau ya, kalau ada rumus S = v x t
Dimana, S = Jarak, v = kecepatan dan t = waktu.

Artinya kalo Tati harus ke kantornya yang kira2 5 km dari kantor Tati, plus kondisi jalan yang crowded, itu butuh waktu.. Mau nyetir dengan kecepatan berapa Tati untuk sampai di kantornya sekarang juga…? Haiiiiyyyyyyyaaaaaa…

Tati pikir, mendingan besok pagi2 aja lah si Bapak ini diurus..
Beliau mau minta laporan terakhir investasinya, yang kebetulan waktu itu dihandel UM-nya Tati, karena Tati ke Medan nengok Mama.
Sebenarnya si Bapak ini adalah pemegang Orphant Policy..
Apa itu? Orphant Policy, adalah polis2 yang agen awalnya sudah tidak bekerja di perusahaan lagi. So, untuk melayani pemegang polis, Perusahaan biasanya menunjuk agen2 yang aktif.

Customer Tati yang satu ini, sebenarnya masih muda, kalo gak salah 25 tahun, lulusan universitas papan atas negeri ini, dan sudah jadi manager area perusaan besar penyedia alat berat.. Mantap lah pokoknya…
Dan agak sulit bertemu dengan beliau karena basenya di luar Pekanbaru..

Sore, jam 17an, saat Tati sudah pulang ke rumah…, beliau nelpon.
Mr. K : “Ibu, bisa gak ke rumah saya aja sekarang? Saya tunggu ibu sebelum saya pergi lagi.”
Tati : “Boleh, pak. Tapi setelah magrib ya. Ngomong2 rumahnya dimana, Pak?”
Secara orang2 seperti beliau yang berasal dari luar Pekanbaru (Riau), biasanya tinggal di Mess yang disediakan perusahaan. Dan di dokumen polis, beliau hanya mencantumkan alamat kantor.
Mr. K : “Ibu, tahu Villa Duyung Mas?”
Tati : “Di jl. Duyung, dekat Jl. Paus, ya Pak?
Mr. K : “Enggak bu. Ibu kalau di Jl. Nangka dari arah Mall SKA, kan ketemu pom bensin di kiri jalan, begitu nemu jalan pertama di kiri, Ibu masuk aja. Terus ke ujung samapi mentok. Di situ Ibu belok kiri. Di situ ada perumahan, ibu cari Blok E Nomor 2. E ya, Bu. Entok..!!”
Tati : “Ya sudah, Pa. Nanti saya cari.”

Jam 19an.. Tati bergerak dari rumah. Secara rumah Tati berjarak 15 km dari pusat kota dan I’m a slow speed driver… Selama di jalan, Tati udah coba2 telpon teman2 yang tinggal di daerah sana, tapi gak tau. Tati juga nanya teman2 yang ngurus anggaran Kimpraswil, yang biasanya hapal nama2 jalan, juga gak pada tau. Weleh weleh.. !!!

Sampai di Jl. Nangka, Tati susurin tuh pom bensin, nemu jalan kiri pertama, Tati belok.. Ups… Jalannya gelap…, di kiri kanan ruko2 kosong, jalannya jelek..
Hati Tati mulai merasa gak nyaman…
Tati mencoba menghubungi nasabah tersebut, tapi hpnya gak aktif… Gimana nih..?
Tapi, dengan niat baik dan membaca Bismillah, Tati lalu melanjutkan perjalanan sesuai petunjuk si Bapak…

Begitu nemu rumah pertama, kira 200 meter dari jalan besar, Tati nanya sama Bapak2 yang lagi duduk di teras… : “Malam, Pak. Maaf menggangu. Perumahan Villa Duyung Mas Blok E di sebelah mana, ya Pak? Masih jauh dari sini?”
Si Bapak yang duduk di teras : “Wah, gak pernah dengar tuh, Buk. Kalo jalan Duyung itu di seberang sana jl. Nangka. Gak di sini.”
Tati : “Gitu, ya Pak? Makasih, ya Pak.”
Tati lalu melanjutkan perjalanan dengan asumsi si Bapak yang di teras gak tau daerah sini..

Tati nerusin jalan.. sampai mentok.. Setelah ingat2 omongan si Mr. K di telepon, Tati belok ke kiri…
Setelah menyusur pelan2 Tati ketemu anak muda yang lagi duduk di motor, dan bertanya : “Dek, di daerah sini rumah Blok E No. 2 di sebelah mana ya?”
Aanak Muda yang duduk di motor : “Bu, di sini gak sampai Blok E. Adanya sampai Blok B aja.”
Tati jadi tambah bingung deh…

Tati lalu ingat customer Orphant Policy yang lain, yang kerja di perusahaan yang sama dengan Mr. K. Tati langsung mendial nomor beliau, 0813 sekian sekian.. Begitu diangkat, Tati langsung bicara :
“Malam, Pak A. Ini saya, Sondha. Mau nanya alamat Mr. K, pak. Beliau minta saya datangi, tapi alamatnya gak jelas pak.”
Mr. A : “Oh, beliau tinggal di Mess yang di Jl. Anu nomor sekian, Bu. Masuknya dari sebelah anu…”
Tati lalu kembali menyusuri jalan sesuai pentunjuk Mr. A. Setelah kali2 bertanya dan bertanya dengan orang2 di pinggir jalan, Akhirnya Tati menemukan Mess itu. Dan alamatnya benar2 di Jl. Anu nomor Anu. Gak ada itu blok E Nomor 2. Jadi maksudnya apa ya, ngasi alamat gak jelas, salah pula…. Sementara jam di dashboard mobil sudah menunjukkan jam 21 lewat. Jadi Tati udah 2 jam muter2…???

Sampai di Mess, tersebut Tati ditemui oleh staf2 perusahaan yang tinggal di situ, mereka bilang, ternyata si Mr. K gak tinggal di situ… Halllllaaaahhh.. Maksudnya apa toh? Ketika Tati bilang no HP si Bapak tersebut gak bisa dihubungi, staff2nya memberikan nomor yang lain… Ada 2 nomor lagi ternyata..
Tati segera mendial2 nomor tersebut, tapi gak diangkat2..
Tiba2, tidit… tidit… HP Tati berbunyi.. dari nomor HP si Mr. K yang mula2 ada di Tati..
Mr. K : “Ibu, ibu balik aja ke Jl. Nangka. Saya tunggu di situ.”
Tati : “Jl. Nangka, di sebelah mana, Pak?”
Mr. K : “Di jalan ibu masuk tadi aja.”

Tati terpaksa balik menyusuri jalan2 yang gelap dan rusak… Dalam hati berdoa, semoga semua baik2 aja.. semoga ban mobil gak kena paku… dan sejuta semoga lainnya..
Begitu sampai di Jl. Nangka, Tati mendial HP si Mr. K : “Bapak dimana? Saya sudah di Jl. Nangka.”
Mr. K : “Ibu tunggu saja. Saya 5 menit lagi sampai ke sana.”
Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa? LIMA MENIT LAGI….? Tati harus nunggu di pinggir jalan, malam2 begini? Dipikirnya siapa dia? Benar2, gak tau etiket dan tidak punya tata krama serta niat baik nih orang…”
Tati lalu sms “Saya tunggu bapak di JCo saja.”
Tati langsung meluncurkan mobil ke Mall SKA yang posisinya sekitar 400 meter di belakang mobil Tati berhenti..

Begitu Tati melewati U-turn, Hp Tati langsung berbunyi, tidit tidit.. dari Mr. K :
“Bu, balik lagi… Saya sudah di belakang Ibu. Ibu gak dengar saya tuter2 Ibu?”
Tati : “Saya gak denger ada yang tuter mobil saya, Pak.”
Gak mau ribut, Tati muteri balik mobil Tati dan parkir di depan kantor bank Bukopin, yang berada di pojokan jalan masuk yang gelap gulita dan buruk tadi.
Si Bapak itu nelpon, lagi.. :”Ibu, ibu yang nongkrong di warung di pinggir jalan, ya? Saya di belakang mobil ibu nih..”
Tati lihat ke belakang, gak ada mobil apa pun dan Tati tidak keluar dari mobil apalagi nongkrong di pinggir jalan…
Tati menjawab : “Pak, saya sedang duduk di dalam mobil. Mobil saya sedang parkir di depan Bank Bukopin”
Mr. K : “Oh ya, saya liat bu.”

Beliau lalu mengampiri mobil Tati. Tati lalu keluar dari mobil, menyampaikan berkas yang harus disampaikan, menjelaskan seperlunya. Lalu pergi. Tati gak mau menunjukkan amarah atau kejengkelan yang sudah menumpuk lebih dari 2 jam..
Gak perlu lah untuk orang seperti Mr. K. Tati gak mau memuaskan ego beliau.. So, stay cooooooollllllll…..!!!!

Antik banget si bapak ini ya?
Dia pikir karena dia nasabah dia bisa memperlakukan agen seenak perutnya… “Pak…, bapak membeli jasa perusahaan tempat saya bekerja, bukan membeli diri saya… Saya, sebagai orang yang bekerja di perusahaan, akan berupaya sebisa mungkin menjaga nama perusahaan. Tapi kalo urusanya sama orang2 seperti Bapak… Waduuuuuuhhhhhh….”

Tapi Tati pikir, mungkin orang ini bermasalah dengan dirinya sendiri.. sehingga senang menyusahkan orang lain.. (dengar2, agen dia yang mula2, kalau mau ketemu bisa disuruh nunggu berjam2…!!!).
Si Bapak ini lupa, bahwa dalam hubungan customer dan agen, yang ada bukan hanya kepentingan agen. Justru yang lebih besar itu adalah kepentingan nasabah.. Karena dia butuh orang yang mengurus investasinya.. Kalo diperlakukan dengan tidak baik, agen mana juga yang mau ngurus..? Agen juga manusia….***

Kupu-kupu…

Aku ingin punya sayap seperti kupu-kupu…
Agar bisa terbang menghampiri bunga-bunga yang mekar di taman kehidupan..
Menikmati keindahan kelopaknya..
Menghirup harumnya..
Meninggalkan rasa galau di dada..
Meninggalkan kesedihan yang tak terjabarkan..

Jadi ingat lagunya Melly, yang sering Tati dan Mami Uli nyanyiin saat jalan2 pagi di Yogya suatu masa dulu… (I miss the time we shared, Sis!!)

KUPU2

Kecil mungil bewarna
Warna-warni terangi alam
Sentuhan karya indah
Jika tergambar baik
Matahati melihat kau sangat istimewa
Terbang melayang-layang menari hinggapi bunga-bunga

Kupu-kupu jangan pergi
Terbang dan tetaplah di sini
Bunga-bunga menantimu
Rindu warna indah dunia
Anak kecil tersenyum manis, pandang tarianmu indah
Bahagia dalam nyanyian
Kupu-kupu jangan pergi

by : Melly G.***

Harus Bawa Koper……………!!!!

Tadi malam, Tati ngeliat2 lagi album yang berisi foto2 jadul…
Eh…, ada foto Tati dan teman2 waktu ikutan studi tur SMP 4 ke Sumatera Barat pada bulan Dsember 1982.. Studi tur ini seru juga.. Kok?

L-R : Syahida (Ida), Farida (Inda), Yalfrida Rozenta (Enda Saragih), Sondha

Sebenarnya Ibu gak ngizinin Tati buat ikut studi tur…
Meski biasa berangkat naik pesawat sendiri sejak kecil, tapi menurut Ibu perginya kan ke Medan, ke tempat Nenek. Jadi insya Allah aman. Ini perginya rame2 sama rombongan sekolah naik bus, mana jalan ke Sumbar itu berliku2… Resikonya menurut Ibu tinggi, jadi lebih baik Tati gak pergi.
Tapi Tati ngotot dengan segala dalih dan alasan…
Padahal kalo lihat berita2 di TV akhir2 ini, kekhawatiran Ibu itu rasanya wajar… banyak banget terjadi kecelakaan pada anak2 sekolah yang pergi berombongan..

Akhirnya, setelah berjuang dengan sejuta berargumen.. Tati diizinkan pergi, dengan catatan dititipkan ke Bu Asni dan Bu Asnetti, guru SMP 4 yang dikenal baik oleh Ibu sejak Tati masih kecil banget…

Nah, pas beres2 mau berangkat… Tati berdebat lagi nih dengan Ibu.. Apalagi sih? Karena perginya cuma 4 hari 3 malam, Tati maunya pergi dengan bawa ransel atau paling tidak traveling bag kecil, seperti teman2 (kita kan udah gossip gossipy dulu). Praktis dan simple gitu lho…!!! Sementara Ibu ngotot, Tati mesti bawa koper… Koper? Heeh…!!! Koper, yang isinya udah disiapin Ibu… , selain baju2, sandal dan sepatu keds, di koper itu ada biscuit satu kaleng sedang, ada softdrink sekitar 1 lusin dan………… ada selimut!!!! Belum lagi, Ibu mengharuskan Tati bawa bantal. Halaaaaaah!!!! Tati setengah mati berusaha mengeluarkan selimut itu dari koper, juga membujuk Ibu supaya diperkenankan tidak membawa bantal… Tati takut diketawain teman2 dan dikatain anak Mami… Tapi Tapi Ibu ngasi ultimatum…., kalo gak mau bawa apa yang sudah disiapin Ibu, gak usah jadi pergi… Watttaaaaawwwwwww…..!!! Iya deh, Tati pasrah bawa koper dari pada gak jadi pergi…

Waktu mau berangkat, kumpulnya kan di sekolah…, di halaman depan SMP 4. Teman2 jadi pada ngeliat begitu Tati turun dari mobil yang ngantar ke sekolah dengan membawa koper…. Jeng jeng jererereng ….! Sementara mereka cuma pada bawa ransel atau traveling bag kecil… Muka Tati mulai deh rasanya panas… Takut diketawain teman2. Beneran deh…, gak lama teman2 pada nanya…? “Mau kemana, Sond? Kagak ada koper yang lebih gede lagi, kenapa gak rumahnya aja dibawa sekalian?” plus sejuta komentar lainnya. Tati pasrah2 rah rah rah… Tapi penderitaan belum berakhir sampai di situ….

Waktu udah sampai di Padang, Inda, teman sekolah Tati yang centil banget, ngeledek habis2an begitu tahu di dalam koper Tati ada selimut…. Padahal Tati udah berusaha ngumpet2 kalo mau buka koper… Herannya, Inda tetap aja ngeledek… Habis deh Tati dikata2in Anak Mami.., gak bisa hidup susah.. deelel… Mau nangis rasanya… Dia gak tau, kalo Tati juga gak mau bawa2 segitu banyak… Dia gak tau kalo Tati juga malu dengan semua bawaan ini….!!!

Tapi sebenarnya tindakan Ibu nyediain selimut itu sebenarnya tepat lho… Kok? Iya, Tati dan teman2, gak tau kenapa dan gimana, ternyata diinapin di sekolah, di SMP 3 Padang (kalo gak salah ingat). Tidurnya di atas meja kelas yang disusun banyak2 trus dilapisi tikar… Ya ampun… keras dan gak rata. Pokoknya gak nyaman buanget… !! Selimut dari Ibu sebenarnya solusi yang bagus kan? Bisa jadi alas tidur, sehingga akan lebih nyaman… Tapi Tati tetap aja gak mau ngeluarin si selimut dari koper, meski bu Asni dan bu Asnetti bulak balik nyuruh Tati memanfaatkan “apa yang sudah dibawain Ibu”… Gak deh, mendingan pegel dari pada diketawain teman2.. (Stupid banget ya pikiran Tati waktu itu? Hehehe..)

Biskuit dan softdrink yang dibekalin Ibu, sejak hari pertama sudah benar2 bermanfaat… Karena bisa dibagi2 dengan teman2 buat ganjel perut sebelum jam makan datang… Tapi selimut…, tetap aja diumpetin…!!! Malu….!!! Takut diketawain teman2…

Hari kedua di Padang… setelah capek seharian jalan kaki dari Indarung ke Pantai Air Manis, mendaki bukit dan menyusuri pantai dalam keadaan panas terik…., teman2 banyak yang tumbang… termasuk si centil Inda… Dia meriang… kayaknya gak tentu rasa… Tiba2 bu Asnetti bilang ke Tati, “Ndha, boleh gak selimutnya dipinjam buat Inda. Kasian lho dia, kedinginan karena demam..” Tati sih gak masalah, langsung dengan senang hati mengeluarkan selimut dari koper dan mengulurkannya ke Bu Asnetti, yang langsung menyelimutkannya ke tubuh Inda..

Besoknya…, pagi2 sekali saat kita lagi ngantri buat mandi, Inda menghampiri Tati dengan malu2… Dia bilang , “Sondha, maaf ya aku ngeledekin selimut kau dari kemaren2… Padahal akhirnya malah aku yang pake. Malu aku jadinya!!!” Tati cuma bisa jawab, “Gak apa2. ‘Nda. Mungkin Ibu aku sudah punya pikiran bahwa kita akan memerlukan selimut itu.”. Tapi dalam hati, Tati berjanji, gak akan menentang pikiran Ibu, meskipun kesannya malu2in. Karena Ibu pasti lebih tau, Ibu pasti lebih berpengalaman.. Ibu pasti tau yang terbaik buat kenyamanan Tati. Terserah orang mau ngomong apa…

Sejak itu, Tati sama Inda jadi berteman baik. Kita sekelas selam 2.5 tahun waktu di SMA, bahkan sampai Tati sudah kuliah di Bogor.. Tapi Inda awalnya takut2 juga waktu mula2 main ke rumah, di takut kalo Tati cerita ke Ibu, gimana dia ngeledek habis2an selimut Ibu. Hehehehe…***

Tetangga……

Tadi malam ,jam 19.30 Waktu Pekanbaru Bagian Pandau, Tati keluar dari rumah untuk latihan Paduan Suara, sesuai janji dengan ibu2 lain malam sebelumnya.. Tati lalu menghampiri Mama Chyntya yang tinggal di rumah depan.. Tapi begitu Tati sampai di depan rumah…,
Dasdo, abang Chyntya bilang, “Bou kata Mama orang gak latihan Paduan Suara. Karena ada yang meninggal, Pak Edi, suaminya Tante Lela.”
Tati : “Bapak itu bukannya kerja di Papua, Do? Terus Mama sekarang mana?”
Dasdo : “Iya Bou. Bapak itu meninggal di sana. Mama lagi ganti baju, mau ke rumah Tante Lela.”
Lalu terdengar suara Mama Chyntya : “Pergi ke rumah Lela, kita Bou? Meninggal suaminya sore ini di Papua. Jenazahnya belum datang, besok katanya. Tapi kita tengok lah si Lela dulu, entah bagaimana keadaannya. Mama Naya katanya mau pergi sama2 kita.”
Tati : “Iya, sebentar saya ganti baju dulu ya.”

Siapa sih Pak Edi, siapa itu Bu Lela?
Pak Edi itu, warga blok yang sama dengan Tati, Mama Chyntya dan Mama Naya. Cuma rumahnya, agak jauh dari kita, kira2 150 meter, dekat dengan mesjid.. Bu Lela itu istrinya Pak Edi, masih muda, cantik, lincah rame dan heboh.. Kalau ibu2 pada kumpul, pasti suaranya dia yang paling kedengeran…
Pak Edi sebelum pergi ke Papua 6 bulan yang lalu, menjabat sebagi ketua Serikat Tolong Menolong (STM) di blok kami… STM adalah perkumpulan warga yang bertugas membantu anggotanya yang mengalami musibah, antara lain penyelenggaraan jenazah.

Ngapain si Bapak itu ke Papua..?
Ceritanya beberapa bulan yang lalu Pak Edi di-PHK oleh perusahaan tempat beliau bekerja. Setelah beberapa bulan non-job, Pak Edi mengambil tawaran kerja di Papua yang ditawarkan temannya.. Ternyata, kondisi di Papua gak sesuai dengan yang dijanjikan.. Tapi rencananya Pak Edi bertahan sampai menjelang lebaran, supaya beliau bisa mendapatkan Tunjangan Hari Raya… Tapi apa daya, Allah berkehendak lain…

Sekarang, tinggal lah Bu Lela, dengan 3 anak2nya, Bayu, Dilla dan Saskia. Yang masing2 kelas 1 SMP, kelas 4 SD dan 9 bulan. Yang jadi masalah, almarhum si Bapak baru bekerja kembali 5 bulan, seberapa besar jaminan sosial yang akan diberikan perusahaan tempatnya bekerja? Ditambah lagi perusahaan telah mengeluarkan biaya perawatan beliau beberapa hari di rumah sakit plus biaya pemulangan jenazah dari Papua ke Pekanbaru… Seberapa lama dana itu cukup untuk membiayai kehidupan mereka? Sementara Bu Lela yang fulltime mother gak pernah bekerja sebelumnya… Bagaimana masa depan anak2…? Insya Allah, semua akan ada hikmahnya…, tapi jalan yang akan ditempuh sepertinya akan terjal dan berliku…

Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuk almarhum, serta senantiasa melindungi keluarga yang ditinggalkan…***

Kalimantan Timur….

Setelah Long Weekend yang gak kemana2, Tati jadi ingat perjalanan ke Kalimantan Timur tahun lalu pada long weekend 17 Agustusan. Perjalanan yang sangat singkat ….

Kalimantan Timur…? Rasanya dulu daerah itu gak ada dalam semesta pemikiran Tati, bukan daerah yang termasuk “Where 2 Go List” nya Tati. Meski Guruh Soekarno Putra pernah melukiskan keindahannya dalam sebuah lagu yang berjudul “Kalimantan” yang dinyanyikan, juga dengan indah, oleh Chrisye…

KALIMANTAN

Sungai mahakan terbentang
Bagai membelah dunia
Berkayuh ku ke seberang
Mencari dambaan jiwa

Gunung biru menghijau
Berhutan bagai beludru
Juwita dimana engkau
Hatiku semakin sendu

Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana
Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana

Kudengar kicau burung
Dipohon bercanda riang
Menghilang rasa murung
Hatikupun merasa senang

Wahai kau burung enggang
Bolehkah daku bertanya
Dimana kucari sayang
Dambaanku tak kunjung datang

Dipadang belantara
Terdapat rumah panjang
Mungkinkah kasih disana
Jika ada kan kujelang

Ternyata kudapati
Hanyalah bekas bara
Kemana lagi kau kucari
Mungkin kita tak pernah jumpa

Kemana, oh kemana (3x)

Tapi pada zaman kuda masih gigit besi, ada seorang teman yang dengan santai ngomong di depan teman2 di kampus bahwa Tati pasti akan ngikut dengan dia ke Kalimantan… Ternyata ketika akhirnya Tati menginjak Negeri yang dibelah oleh Sungai Mahakam itu, bukan karena dia, tetapi karena dua dari lima saudara Tati menetap di sana. Hehehe. Lucu juga ya…

Back to last year…
Waktu itu Tati dari Pekanbaru hari kamis, tgl 17 Agustus 2006 pagi, transit di Jakarta, terus langsung ke Balikpapan. Di bandara Samsudin Noor, Papi David udah nunggu.. Setelah mandi dan bersih2 di rumah ortu Mami Nana yang dijadiin Mami Nana toko furniture Benne di kawasan Balikpapan Baru, Tati dan Papi ngelanjuti perjalanan ke Samarinda. Asyik juga jalan berdua si Papi, secara kita udah lama banget gak jalan ke luar kota berdua aja… Ngobrol sana sini sambil menyusuri jalan yang melintasi Bukit Suharto… (Btw, namanya kok ganti2 ya? Kan reformasi udah 10 tahun…) Jadi ingat tahun 1995, waktu Tati dan Papi David, jalan berdua ke Sipirok buat jemput Papa, karena kita mau berangkat ke Bandung buat ngadirin wisuda Papi David di kampus Ganecca… I miss going around with you, brother….!!!

Sampai di Samarinda Tati langsung diantar ke rumah Mami Uli di daerah Samarinda Seberang, karena tujuan Tati ke Samarinda ada janji sama Mami Uli. Mikirnya, besok deh baru ke rumah Papi David. Ternyata, Tati dibawa Mami Uli ke Tenggarong berkunjung ke rumah iparnya, jadi gak sempat deh ke rumah Papi David hari Jum’at. Akhirnya plan diganti, kita janjian ketemu di Balikpapan, karena Samuel & Esther pengen liburan dan berenang di Dusit, sementara Aldy & Abner pengen jalan2 ke Balikpapan… So Sabtu malam, Tati dan rombongan keluarga Mami Uli berangkat ke Balikpapan…

Oh ya, sebelumnya hari Sabtu siang Tati, Mami Uli dan Esther sempat ke Pampang, desa suku Dayak yang jadi obyek wisata (sorry, foto2nya masih di Mami Uli, jadi belum bisa ditampilin di blogs ini). Ngeliat si Kuping Panjang… plus tari2an tradisional dayak.. Mami Uli sempat beli hiasan kepala gadis dayak buat Esther…. Hiasan kepala itu indah dan penuh warna… Benar2 bisa membuat gadis Dayak yang terkenal cantik dan berkulit putih semakin cantik…

Sampai di Balikpapan, sebelum check in di Dusit, kita singgah dulu di Benne. Bou penasaran dengan Aldy dan Abner, karena waktu ketemu mereka 1.5 tahun sebelumnya, mereka malu2. Abner malah masih kecil banget dan gak mau turun dari gendongan Mami Nana. Surprise banget, begitu ketemu Bou-nya Abner langsung naik ke gendongan Bou dan merangkul erat leher Bou-nya… Bou jadi terharu, hiks…!!

Besoknya, hari Minggu 20 Agustus, selama berenang di Dusit dek Abner ngintil terus dengan Bou. Kemana2 harus dengan Bou… Mami dan Papinya jadi senyam senyum ngeliat kelakuan si adek yang satu ini. Kata Mami, dia gak biasa seperti itu…

Mami Nana lalu cerita kejadian malam sebelumnya. Begitu Bou pergi lagi dengan Mami Uli, Mami Nana nanya ke dek Abner, Kok begitu ketemu dia langsung naik aja ke gendongan Bou? Mana pake meluk leher Bou lagi…!! Secara dia gak biasa begitu sama orang, mana dia juga baru sekali ketemu Bou waktu dia masih kecil banget…!! Jawab dek Abner, “Abis…, Bou itu mirip banget sih sama Papi.” Hehehe. Lalu, Mami juga cerita kalo dek Abner itu selalu bilang kalo dia itu mirip Papinya.

Sorenya, waktu kita duduk2 di pinggir kolam di Benne, Bou nanya dek Abner, “Dek, Bou mirip banget ya sama Papi?”. Abner langsung ngangguk dengan yakin… Bou nanya lagi, “Kamu juga mirip Papi, ya Dek?” Dek Abner ngangguk lagi dengan yakin… Bou langsung nembak…. “Jadi kita mirip donk, ya Dek…..?” Dek Abner langsung memutar wajahnya untuk menatap Bou sambil tersenyum2…, lalu mengangguk pelan… Hehehe… Dek Abner, dek Abner… Darah gak bisa ditutupin ya dek…

Senin, 21 Agustus Tati udah pulang ke Pekanbaru. Transit di Jakarta lalu langsung ke Pekanbaru… Perjalanan yang singkat… Gak cukup lama main dengan anak2… Bahkan gak sempat berkunjung ke rumah keluarga Surya Dharma, teman sekelas waktu kuliah di Yogya. Padahal bu Surya udah nelpon beberapa kali. Maaf, ya Bu. Saya janji akan menyempatkan diri berkunjung ke rumah Bapak & Ibu, seperti waktu saya ke Samarinda di awal tahun 2006. Janji….!!!

Ini beberapa foto Tati dan anak2 di Balikpapan …
Aldy

Abner, Aldy & Samuel

Abner, Tati dan Esther

Penjaga rumah, Papi, Abner dan Tati

Sebenarnya ini kali kedua Tati ke Balikpapan dan Samarinda.. Pertama kalinya, waktu Mami Uli minta Tati buat ngantar Samuel & Esther pulang liburan dari tempat Odang & Enek di Medan awal tahun 2006…

Nah, pada waktu kunjungan pertama ini, Tati sempat jalan2 ke Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara, yang nilai APBD-nya paling gede se-Indonesia… Ngeliat2 Museum Kayu dan Museum Mulawarman yang tadinya merupakan istana Raja Kutai. Btw, di dalam Museum, Tati melihat gambar raja2 Kutai… Ada satu foto, yang tatapan matanya membuat Tati bergidik… Gak tau ya, rasanya mata itu hidup banget… Tapi Tati gak ingat tuh siapa nama rajanya… Siapa yang berkesempatan berkunjung ke sana, coba amatin sendiri… Mungkin Tati aja yang terlalu perasa ya…

Ini foto2 di Tenggarong di awal 2006…
Tati di depan patung Lembuswana di depan meseum Mulawarman.

Lembuswana merupakan lambang Kerajaan Kutai..
Beberapa bulan kemudian, Tati dikasi tau si Pirate, kalo lokasi foto Tati hanya sekitar 50 meter dari ruang kerjanya… Bisa aja ya… Hehehe..

Di Museum Kayu

Tapi Tati belum ke Pulau Kumala, karena waktunya gak sempat… Udah kesorean. Padahal Samuel dan Esther ngotot pengen ngajak Wowonya naik skylift… Wowo juga pengen sih… Pasti beda rasanya dengan naik skylift melewati puncak2 pohon di hutan tropis dalam perjalanan ke Genting Highland, atau naik skylift dari World Trade Center ke Pulau Sentosa, ya…?***

I (rather) don't like monday…..

Kerjaan banyak, setelah long weekend…
Agak terhibur karena kerja diseling dengan ngobrol ama teman lama by YM.. Tapi kayaknya ada rasa pengen denger lagu yang satu ini… Kayaknya asik juga kalo bisa ikutan teriak2 nyanyiinnya… Tapi, manalah mungkin… ini jam kantor…!!!

I DON’T LIKE MONDAY….

The silicon chip inside her head
Gets switched to overload,
And nobody’s gonna go to school today,
She’s going to make them stay at home,
And daddy doesn’t understand it,
He always said she was as good as gold,
And he can see no reason
Cos there are no reasons
What reason do you need to be shown

‘Tell me why
I don like Mondays'(x3)
I want to shoot
The whole day down

The Telex machine is kept so clean
As it types to a waiting world,
And Mother feels so shocked,
Father’s world is rocked,
And their thoughts turn to
Their own little girl
Sweet 16 ain’t that peachy keen,
No, it ain’t so neat to admit defeat,
They can see no reasons
Cos there are no reasons
What reason do you need

‘Tell me why
I don like Mondays’ (x3)
I want to shoot
The whole day down

And now the playing’s stopped in the playground now
She wants to play with her toys a while
And school’s out early and soon we’ll be learning
And the lesson today is how to die,
And then the bullhorn crackles,
And the captain crackles,
With the problems and the how’s and why’s
And he can see no reasons
Cos there are no reasons
What reason do you need to die..die
ohh~

‘Tell me why
I don like Mondays’ (x7)
I want to shoot
The whole day down

by : Bob Geldof

Akal dan Perasaan…..

Di blog Ninuk76, ada posting tentang Cinta yang merupakan bagian dari Sang Nabi, tulisan karya Kahlil Gibran, filosofer berdarah Libanon. Posting ini mengingatkan Tati, bahwa di suatu masa Tati juga pernah tergila2 terhadap karya yang sama… Tapi Tati senangnya dengan Sang Nabi yang diterjemahkan oleh Sri Kusdyantinah dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Bahasa-nya lebih indah, menurut Tati, dibanding dengan yang diterjemahkan oleh penterjemah lain. Pemilihan kata2nya lebih pas…, lebih puitis…, lebih indah…, lebih menyentuh hati..

Apa yang Tati senengin dari Sang Nabi…? Banyak… Tati menyukai buku ini secara keseluruhan… Tati suka bagian2 tentang cinta, perkawinan, anak keturunan, kebebasan, pemberian dll. Tapi Tati’s most favorite one adalah tentang Akal serta Perasaan…

Akal pertimbangan dan perasaan hati
diibaratkan kemudi dan layar jiwa yang mengarungi laut kehidupan.
Jikalau patah salah satu, layar atau kemudi itu,
Engkau masih mengambang, namun terombang-ambing gelombang.
Atau terhenti lumpuh tanpa daya di tengah samudera.
Sebab akal fikiran yang sendiri mengemudi,
Laksana tenaga yang menjebak diri;
Sedangkan perasaan tak terkendali,
Bagai api membara yang menghanguskan diri.
Karena itu, ajaklah perasaan menjunjung tinggi Akalbudi,
Meraih puncak2 getaran kebenaran sejati,
Keduanya mewujudkan sebuah simfoni.
Dan turutilah jiwamu membimbing perasaan,
Dengan menggunakan akal pertimbangan,
Sehingga perasaan itu tetap hidup dengan setiap kebangkitannya,
Dan laksana burung phoenix membumbung tinggi, dari tengah abu kebinasaannya..

Deretan kata2 itu mengingatkan Tati untuk selalu menyeimbangkan perasaan dan logika dalam setiap langkah kehidupan… Padahal sebagai pribadi yang melankolik, perasaan seringkali mendominasi …. Hiks…

Karena tahu Tati sangat suka dengan Sang Nabi, Linda Ramalah Omar, sahabat dan juga mantan teman sekamar Tati memberikan versi Inggrisnya “The Prophet” sebagai kenang2an saat kita sama2 lulus di bulan Juni 1992. Thanks ya, Lin. Gue masih simpan kok hadiah dari elhoe. Meski gue udah pindah berkali2 dan ke beberapa tempat, buku elhoe selalu gue simpan, supaya gak rusak dan tetap bisa gue baca…***

Weekend Merah Putih……

Karena sebagian besar aktifitas minggu ini berurusan dengan acara 17an…, boleh donk kalo weekend kali ini dikasi nama weekend Merah Putih…? Boleh kan ? Terus Tati ngapain aja selama weekend Merah Putih ini?

Tanggal 17 Agustus diisi dengan ngadirin Upacara Bendera di kantor. Tanggal 18 siang, setelah ke bengkel dan nyuci mobil, Tati ngurusin nasabah yang mau ambil asuransi, alhamdulilah.

Setelahnya Tati pergi ke Jalan Bintan di Kompleks Gubernur, ngobrol sama kakak2 yang tinggal di sana. Kakak2 ini adalah tetangga waktu Tati kecil dan tinggal di kompleks yang sama. Ada kak Tatik, kak Ilen, kak Iyet, Bang Awit dan Kak Emil. Kak Tatik, kak Ilen, Kak Iyet dan Bang Awit adalah adik2nya Bang Nursal yang tinggal di tempat nenek di Medan waktu Tati kecil. Mereka tuh rasanya udah jadi bagian hidup Tati sejak kecil.. Tati kecil tuh dulu jadi mainan mereka… Hehehe. Mereka yang ikut bantuin ibu ngurusin Tati kecil. Mereka juga yang “diomelin” Ibu kalo Tati kecil nangis karena pipinya dijawil2… Siapa suruh punya pipi tembem..!!! Hehehe. Kalo Bang Awit, spesialis bantuin bikin prakarya Tati. Mana berani dia menolak perintah Ibu, kalo Tati udah merengek… Airmata adalah sejata Tati yang ampuh pada masa itu…. Hehehe.

Btw, Tati juga belajar makan “ular” dari mereka. “Ular”? Maksudnya sih belut, tapi di mata Tati kecil, ular dan belut gak ada bedanya deh…!!! Karena kakak2 ini orang Payakumbuh Sumatera Barat, mereka tuh biasa masak belut yang udah dikeringkan, terus digoreng belado.. Waktu kecil, Tati doyan banget.. Sekarang, biar orang2 bilang gizinya tinggi, kayaknya takut deh buat mengkonsumsi lagi… Geli ngeliat bentuknya… Ogah ah….

Tapi sampai sekarang, kita tuh tetap akrab.. Kadang2 di akhir pekan kita duduk2 di rumah kakak2 yang kita namain “Keramik Merah”, karena teras rumah tersebut memang berwarna merah.. Seru deh… ngobrol dengan camilan buatan kakak2 bertebaran di depan mata.. Paling seru kalo ada opak yang lebar terus makannya dicocol dengan kuah sate padang…. Hmmmmmm yummy…!!! Jadi ingat jajanan zaman SD.. Jadi ingat baju seragam yang selalu ketetesan kuah sate atau es doger. Jorok banget deh kayaknya.. Hehehe.

Sorean, kakak2 ngajak Tati ngeliat mereka tanding volley antar RT di Lapangan Kayu Putih, di samping Hotel Aryaduta Pekanbaru. Di sana, Tati menemukan satu wajah yang kayaknya Tati kenal baik.. Tapi Tati ragu2 buat negur, karena orang itu gak merespon positif saat Tati menatap dia lama2.. Tapi, beberapa detik kemudian, orang itu melambaikan tangannya ke arah Tati dan berteriak “Sondha….?”

Iya…, orang itu adalah Safitri, teman sekelas Tati selama 6 tahun di SD Teladan. Waktu SMP, sebenarnya kita juga satu sekolah, tapi gak sekelas dan gak main bareng. SMA, kita gak satu sekolah karena Safitri sekolah di Bandung, doski lalu kuliah di Universitas Pasundan. Jadi kita gak pernah ketemu selama 24 tahun… sejak tamat SMP. Seneng banget ketemu teman lama… Sebenarnya, selain teman sekelas di SD, Tati dan Ipit (begitu Safitri biasa dipanggil) sama2 belajar tennis pada Almarhum Oom Syamsi di lapangan tennis di belakang kediaman Gubernur Riau. Tapi karena sama2 bangor dan gak serius, kita akhirnya cuma les beberapa bulan.., belum sempat bisa main tennis dengan baik. Padahal Almarhum Oom Syamsi adalah atlet tennis Riau, sayang ya kita gak dapat banyak ilmu dari beliau. Yang lucunya, Mama-nya Ipit, Tante Murniati, yang seneng banget kita les tennis. Waktu Papa dan Mamanya Ipit pergi tanding tennis kemana gitu, kita berdua dioleh2in topi, t’shirt dan rok tennis seragam yang lucu. Ipit dapat warna putih dengan variasi pink, Tati dapat warna putih dengan variasi warna biru.. Tau udah kemana itu baju… Btw, terima kasih lho, Tante.

Waktu Tati nanya, kok Ipit lama banget baru ngenalin Tati, dia bilang “Kamu berubah banyak.. Aku sampai gak ngenalin. Apalagi aku gak tau kalo kamu tuh menetap di sini. Yang aku tau kamu tuh menetap di Jakarta.” Tati berubah banyak? Baru denger deh, because so many people said “Wajah Tati gak banyak berubah”.

Tati dan Ipit ngobrol sampai lupa waktu. Ternyata Ipit sekarang berkiprah di salah satu partai besar di tingkat kota, dengan target bisa masuk ke legislative pada Pemilu tahun 2009. Mudah2an aja ya.. Kita bertukar pikiran dan janji akan ketemuan lagi buat diskusi tentang banyak hal. Seneng deh ketemu teman lama yang bisa jadi teman diskusi. Mudah2an kita bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk perkembangan masing2 ke depannya.

Selesai ngobrol sama Ipit dan kakak2, Tati pulang… Sampai di rumah, ternyata ibu2 tetangga minta dianterin belanja ke hypermart buat beli bahan nasi goring buat peserta lomba jalan santai tingkat RW minggu pagi… So, setelah magriban… Tati pergi deh sama Mama Chyntya dan Mama Naya.. Seru juga, jalan2 malam sama ibu2.. Jarang2, lho. Biasanya kalo pergi bareng2 gini, sabtu atau minggu siang…

Hari minggu pagi…, cuaca gelap… gerimis gak berhenti… Tati pikir acara jalan santai gak jadi nih… Ternyata gak lama, Mama Chyntya manggil, ngajak pergi… So, pergilah kita dalam gerimis.. Di lapangan di kompleks perumahan, ternyata peserta udah pada kumpul.. yang banyak tuh anak2… Kayaknya mereka pada semangat karena bakalan ada doorprize… Seru..!!! Bahkan ada seorang anak tetangga yang pakai kursi roda karena mengalami kerapuhan tulang, tetap ikut jalan santai dengan didorong ayahnya. Takjub melihat semangat hidup anak itu… Semoga hidupnya selalu indah, ya.. Semoga Tati juga selalu punya semangat yang besar seperti anak itu.

Kesimpulan…? Gak ada sesuatu yang besar dan special terjadi di akhir pekan ini… Tapi banyak hal2 kecil yang indah dan menyenangkan.. Life is still beautiful for me..!!!***

Nicholas Sparks

Dua minggu yang lalu, Veni, teman seruangan di tempat kerja bawa DVD “Message in a Bottle”. Ternyata itu DVD baru dipulangin Evy. Tati langsung bilang “Pinjam donk…!” Karena Tati udah pernah nonton film itu waktu masih kuliah di Yogya, dan pengen nonton lagi…

Message in a bottle bercerita tentang Theressa Osborne (Robin Wright Penn) yang dtinggal mantan suaminya untuk pergi dengan perempuan lain. Saat berlibur, dia mengisi waktunya dengan menyusuri pantai dan dia tersandung sebuah botol yang terdampar di pantai. Botol tsb berikan surat cinta dari seorang pria, G buat kekasihnya yang telah pergi, Chaterine. Surat itu begitu indah, menggambarkan perasaan kehilangan si pria….. Theressa yang begitu terkesan dengan surat itu, menceritakannya pada teman2nya. Lalu atasan Theressan yang bekerja di bidang jurnalistik, mempublikasikan surat tersebut. Dampaknya..? Ternyata ada orang lain juga yang pernah menemukan “message in a bottle” dari orang yang sama dengan isi yang berbeda. Kondisi ini menimbulkan perburuan Theressa terhadap si pembuat “message in a bottle”. Perburuan yang melibatkan perhitungan data iklim dan arus laut untuk memperkirakan posisi si pembuat pesan, bahkan peneltian untuk mengetahui jenis mein tik yang digunakan untuk membuat message tersebut, apakah mesin tik zaman bahuela (yang artinya surat itu dibuat zaman dahulu kala) atau mesin tik tipe baru (yang artinya surat tersebut, dibuat baru2 ini). .

Cerita selanjutnya, mendingan ditonton sendiri aja ya… Yang jelas ini bukan film baru kok… Film ini menyuguhkan gambar2 yang indah, juga soundtrack yang menyayat hati, “One More Time”. Tapi di awal film, Tati baru ‘ngeh ternyata film ini dibuat berdasarkan buku karya Nicholas Sparks.

Siapa itu Nicholas Sparks?
Tati juga gak banyak tau.. Yang jelas sekitar tahun 2002an Tati sempat nonton film yang judulnya A Walk To Remember, yang juga dibuat berdasarkan buku karangan Nicholas Sparks..

A Walk To Remember adalah love story yang indah dari sepasang remaja dengan 2 latar belakang yang berbeda. Si berandal (Shane West) dengan si putri pendeta (Mandy Moore). Tapi cerita ini benar2 indah, dan dijadikan film dengan gambar2 indah plus dihiasi soundtrack yang juga indah, antara lain : Someday We’ll Know, Only Hope, It’s Gonna Be Love dan Dancing in The Moonlight yang dinyanyiin Toploader (my favorite one).

Untuk tahu film ini, kayaknya juga lebih bagus nonton sendiri deh.. Silahkan dnikmati sendiri cerita yang romantis, gambar yang indah dan lagu2 yang juga indah…

Setelah menyadari, kalo Message in a Bottle adalah karangan Nicholas Sparks.. Tati lalu menelusuri rak buku Tati.. Rasa2nya, Tati juga pernah baca buku karangan dari nama tersebut… Setelah bulak balik menyusuri dari kiri ke kanan, dari rak atas ke rak bawah.., akhirnya Tati menemukan buku “A Bend in The Road”.

Buku ini bercerita tentang Miles, seorang duda dengan satu anak yang jatuh cinta pada guru anaknya, Sarah yang juga single karena ditinggal oleh mantan suaminya. Ketika mereka menyadari bahwa rasa cinta mereka adalah sesuatu yang berharga, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa adik Sarah adalah orang yang menabrak lari istri Miles sehingga meninggal dunia. Gimana akhir ceritanya.., cari tau sendiri aja ya… Hehehe.

Secara keseluruhan, karya2 Nicolas Sparks bercerita tentang ketulusan cinta. Cerita hidup yang sederhana namun juga tidak sederhana. Maksudnya? Tema ceritanya cinta dan kerumitan percintaan, padahal hidup kan lebih kompleks, pleks, pleks dari pada itu . Tapi, buat Tati yang emang rada romantic (efek zodiac Libra deh kayaknya…..!!!!), nonton film2 dan baca buku2 Nicholas Spark semacam mengisi sebuah ruang dalam hati, membangun keyakinan bahwa ketulusan cinta itu masih ada di dunia ini… Gubraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakk. Padahal, tau iya tau enggak. Jangan2 itu bisa2nya Nicholas Sparks aja lagi!!! ***