Posted in My Life, Office Life

Fungsional Perencana

Semenjak hari Rabu tanggal 8 Maret 2017, diriku sudah mendapat kabar gembira itu.  Tapi baru hari Jum’at 11 Maret 2017, diriku benar-benar melihat apa yang telah diupayakan dalam 1 tahun 9 bulan terakhir.  Apa ? Terbitnya Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pengangkatan diriku menjadi tenaga  fungsional perencana.  Alhamdulillah.

Kenapa mau jadi tenaga fungsional perencana ? Setelah perjalanan hampir 20 tahun menjadi PNS (ASN), diriku jadi mengerti bahwa menjadi pejabat struktural bukanlah satu-satunya jalur untuk berkarir di lingkungan pemerintah.  Ada alternatif lain, menjadi tenaga fungsional.  Dan untuk diriku yang sepanjang perjalanan menjadi aparatur negara selalu bertugas di unit perencanaan, menjadi tenaga  fungsional perencana adalah pilihan jalur yang bisa diriku ambil.

Tapi  kok lama ya upayanya?

Sebenarnya keinginan menjadi tenaga fungsional perencana sudah hadir sejak beberapa tahun yang lalu, ketika rasa  gelisah  (baca : Curhat Sebuah Hilir) selalu melanda diri ini. Bahkan pada tahun 2013, saat menghadiri Rapat Trilateral di Bappenas, diriku singgah di Koperasi Pegawai Bappenas, untuk membeli buku Kumpulan Peraturan tentang Jabatan Fungsional Perencana.

Tapi upaya untuk menjadi tenaga fungsional perencana baru ku mulai setelah aku merasa sangat jenuh  (baca : Diam)  dengan pekerjaanku.  Ditambah lagi pada awal tahun 2015 aku ditugaskan di institusi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjaku.  Institusi yang saat aku masuki sungguh terasa bagai dunia yang gelap gulita.  Alhamdulillah aku bisa belajar untuk memahami pekerjaan di situ, tapi butuh waktu, tenaga dan pikiran yang besar untuk bisa memahami dan menjalankannya sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam peraturan.

Ditugaskan di tempat yang kita tak kenal sama sekali, bisa menjadi sebuah anugrah, karena menjadi kesempatan untuk belajar hal-hal baru.  Tapi  ketika ketidaktahuan membuat kita bisa terkait dengan hal-hal yang high risk, sungguh rasanya bukan hal yang nyaman untuk tetap dijalani.  Aku lalu meminta atasanku saat itu untuk menyetujui pengusulanku untuk menjadi tenaga fungsional.  Usulan tersebut ternyata ditindaklanjuti oleh instansi pengelola kepegawaian dengan mengirimkan surat usulan diriku untuk bisa mengikuti diklat fungsional perencana yang diadakan Bappenas .  Sebagai catatan, untuk bisa menjadi tenaga fungsional, calon tenaga fungsional harus mengikuti diklat fungsional, yang diakhiri dengan ujian kompetensi.  Untuk pegawai dengan pangkat seperti diriku, diklatnya dilakukan oleh Bappenas.

Namun untuk bisa ikut diklat, calon peserta diklat harus mengikuti placement test yang diadakan Bappenas terlebih dahulu.  Pada akhir Desember 2015, ada placement yang dilaksanakan di Pekanbaru, dan diriku diberi kesempatan untuk mengikutinya.  Alhamdulillah.

Selanjutnya aku berada dalam antrian untuk mengikuti diklat.  Ketika aku mendapatkan informasi bahwa aku dalam beberapa bulan lagi akan mengikuti diklat perencanaan, aku mengajukan diri kepada pimpinan daerah melalui institusi pengelola kepegawaian, untuk dipindahkan ke institusi yang mengurus perencanaan daerah, agar bisa fokus menyiapkan diri untuk menjadi tenaga fungsional perencana.  Alhamdulillah, pada pertengahan tahun 2016, setelah sekitar 15 tahun memegang jabatan,  diriku dilepaskan dari jabatan struktural, dan menjadi fungsional umum alias staff.  Apa rasanya ? Lega. Seperti ada beban berat di pundak, yang telah dibawa kemana-mana bertahun-tahun, terlepas.  Alhamdulillah.

JFP

Pada bulan Sepetember 2016, panggilan diklat yang sudah kuupayakan akhirnya datang.  Aku dipanggil untuk ikut  diklat fungsional perencana madya spasial  (baca : Diklat JFP Madya Spasial),    pada minggu kedua bulan oktober.  Diklat yang berlangsung selama 3 minggu.  Selesai diklat, semua seperti meluncur dalam track-nya.  Meski kadang tersendat-sendat, tapi alhamdulillah akhirnya  surat keputusan pengangkatanku menjadi fungsional perencana keluar juga.

Aku tahu, menjadi fungsional perencana bukanlah jalan yang mudah, karena aku harus belajar banyak, dan juga harus bekerja keras untuk mengumpulkan kredit point agar aku bisa naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi.  Mungkin butuh 2 sampai 3 tahun untuk mencapainya.  Tapi insya Allah dengan menjadi tenaga fungsional, dunia kerja yang aku jalani akan lebih sejuk, lebih tenang.  Semoga Allah meridhoi langkah yang diriku ambil. Aamiin.***

Tanggal 10 sampai dengan 28 Oktober 2016 yang lalu diriku mendapat kesempatan kembali ke Yogya untuk waktu yang lumayan lama..  TIGA MINGGU..  Waktu yang sebenarnya gak cukup panjang bagi diriku untuk menikmati Yogya yang Selalu DiHati

Iya buat aku, tiga minggu di Yogya gak lama… Secara diriku pernah di Yogya selama 6 bulan  buat ikut kursus PUSPICS.. Lalu sekitar 2 tahun 6 bulan untuk menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana Penderaan Jauh di lingkungan Fakultas Geografi UGM…

Ngapain 3 minggu di Yogya…? Ikut diklat alias pendidikan dan pelatihan..  Diklat Fungsional Perencana Madya Bidang Spasial..

Diklat apa siyy itu, kok istilahnya bikin kepala nyut nyut nyut..??  😀 😀

Diklat Jabatan Fungsional adalah diklat yang harus diikuti oleh seorang Aparatur Sipil Negara (klo dulu istilahnya PNS, Pegawai Negeri Sipil) untuk menduduki Jabatan Fungsional.

Apa itu jabatan fungsional ?

Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian/dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. *sorry guys, ini asli copy paste dari salah satu peraturan*. Jabatan Fungsional Perencanaan itu jabatan fungsional yang bertugas di bidang perencanaan pembangunan, yang secara berjenjang terdiri dari Perencana Pertama, Muda,  Madya  dan Perencana Utama.

Khusus diklat untuk Jabatan Fungsional Madya, diklat dibagi dalam 3 bidang, yaitu ekonomi, sosial dan spasial.  Ketiga diklat itu sama-sama mengajarkan perencanaan, bedanya pada persentase materi tentang pendekatan perencanaannya yang berbeda. Bidang sosial, sekitar 60% dari materi yang diajarkan adalah perencanaan dengan menggunakan pendekatan sosial.  Bidang ekonomi, lebih kurang 60% dari materinya adalah perencanaan dengan menggunakan pendekatan ekonomi, sedangkan bidang spasial, lebih kurang 60% materinya adalah perencanaan dengan menggunakan pendekatan keruangan atau spasial.

Diklat jabatan fungsional perencanaan madya spasial, sebagaimana madya sosial dan ekonomi, diadakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.  Dan sesuai dengan bidangnya, diklat JFP Madya Spasial dilakukan bekerjasama dengan Magister Perencanaan Kota dan Daerah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, UGM.  Itulah yang menjadi penyebab diriku kembali ke Yogya selama tiga minggu… 😀

img1476928711078
@ MPKD, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fak Teknik UGM

Sebelum ikut diklat ini, diriku sudah rada-rada senewen…Karena menurut seorang teman yang sudah duluan ikut diklat, namun untuk bidang yang berbeda, selama diklat tiap hari ada tugas yang harus dikumpulkan sehari kemudian sebelum jam 05 pagi. Sumpe gw keder dengernye..!! Gimana enggak…? Masa-masa begadang buat bikin tugas sudah berlalu seiring pertambahan usia… Ditambah dengan diriku beberapa tahun terakhir sudah memberlakukan prinsip “Tugas kantor kerjakan di kantor, gak boleh dibawa pulang.  Kalo ada kerjaan yang belum selesai saat jam kantor usai, lembur aja.. Tapi gak boleh dibawa pulang”.

Dan.. akhirnya tanggal 09 Oktober tiba.. Saatnya aku terbang ke Yogya untuk mengikuti diklat…  Aku berangkat bareng dengan salah satu peserta Diklat yang juga berasal dari Pekanbaru, tapi dari instansi yang berbeda.  Karena pesawat yang terbang direct dari Pekanbaru ke Yogya adanya jam 08 pagi, jadilah jam 10 lewat diriku dan teman seperjalanan sudah menginjakkan kaki di Yogya dan melihat salam “Sugeng Rawuh” di pintu ruang kedatangan bandara Adi Soetjipto.   Ada rasa senang…, rasa yang selalu menghampiri diri bila kembali ke Yogya…  Mungkin karena  #Yogya #SelaluDiHati..

Diklat kali ini pesertanya 23 orang, dari berbagai provinsi di 5 pulau besar di Indonesia.  Dari Pulau Sumatera ada yang dari Sumut, Sumbar,  Riau, Jambi dan Bengkulu.  Dari Pulau Jawa ada yang dari Jabar, Jateng dan Jatim.  Dari Kalimantan ada yang dari Kalsel dan Kaltim.  Dari Kalimantan ada yang dari Sulsel dan Sulteng. Daannn ada Elvira dari Papua. Kami benar-benar  presentasi keragaman Indonesia..  Ini yang paling diriku suka kalau ikut diklat yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, jadi punya kesempatan bertemu, berkenalan, menjalin silaturahmi dengan teman-teman dari daerah lain, yang suku, latar belakang dan budayanya berbeda…

Selama diklat kami di”kos”kan pihak MPKD sebagai pelaksana diklat di Hotel Cakra Kusuma, di Jl. Kaliurang Km. 5.2.  Gak jauh dari kampus UGM… Gak jauh juga dari tempat kosku saat kuliah dulu..  Senang donk, bisa kembali ke daerah yang dikenal…? Senang banget.. 😀

Di “kos-kosan” ini diriku dijodohkan oleh mba Esti, pihak MPKD yang mengurus diklat, untuk sekamar dengan dengan mba Widia dari Pemko Sungai Penuh, Provinsi Jambi selama diklat berlangsung.

Awalnya ada rasa khawatir sekamar dengan orang yang asing (lagi), secara pernah ikut diklat sebulan dan dapat teman sekamar yang cuek banget.. Yang bisa ninggalin handuk lembab di tempat tidur (tempat tidurnya single tapi dempetan), yang jemur pakaian dalam masih basah di lemari baju bercampur dengan baju bersih.. yang bulak balik menyalakan hairdryer di kamar mandi buat ngeringin pakaian dalam… Rasanya seperti tidur dan mimpi buruk gak kelar-kelar..  Hahaha 😀  Tapi… alhamdulillah, kali ini diriku beruntung…, dapat teman sekamar yang jiwanya seirama… Sama-sama santai, gak rapi-rapi banget, tapi kita juga gak jorok.  😀  Sama-sama bisa berbagi dan menikmati banyak hal bersama..  Dan di akhir diklat, menurut teman-teman peserta diklat yang perempuan, kami adalah teman sekamar yang paling kompak.. Alhamdulillah.. *Terima kasih sudah menjadi teman sekamar yang menyenangkan, mba Wid.. Saya jadi tambah teman, tambah saudara..*

Hari senin, 10 Oktober 2016, diklat dimulai… Pesertanya 23 orang, 12 orang ibu-ibu dan 11 orang bapak-bapak… Kok ibu-ibu dan bapak-bapak?  Karena memang pesertanya semua berusia  di atas 35 tahun…  Tapi alhamdulillah, meski udah pada bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi semua bawaannya santai…, gak sok tua… Hehehe…  Alhamdulillah juga meski di antara peserta ada yang sudah pakar, ada yang sudah senior banget di pekerjaan…, tapi tetap pada humble…, sehingga menghadirkan suasan pertemanan yang menyenangkan…

Materi yang dipelajari…, ya tentang perencanaan dan pengendalian tata ruang, lebih ke kebijakan.  Gak sampai ke level teknis, yang sempat dicemaskan beberapa peserta. Tapi salah satu pengajar, Pak Bobby, yang juga ketua Program MPKD, merubah metode saat jam mengajar beliau.  Dari materi yang seharusnya diberikan di kelas, beliau rubah menjadi belajar di lapangan.  Beliau membawa kami ke kawasan pemukiman Code, pemukiman padat di pinggiran kali Code di pusat Kota Yogyakarta.  Ini menurutku salah satu kegiatan yang menyenangkan selama diklat.

img14804162434401
Belajar di Kawasan Permukiman Code

Alhamdulillah diklat JFPM Spasial ini gak seserem diklat JFPM yang diikuti temanku..  Boro-boro begadang ngerjain tugas, hampir setiap malam diriku dan mba Wid, teman sekamar mulai tidur jam 21.00-an, dan bangun jam 04.00 pagi…Kita-kita bisa jalan kaki setiap jam 5 pagi… Ada juga yang berenang pagi-pagi atau sore setelah kelas usai..  Hidup sehat, kita… !! Bahkan aku dan mba Widia sempat ngabur ke 21,  nonton petualangan Prof. Langdon di Inferno.  😀 Suasana seperti ini bisa kami jalani karena  dari awal tugas-tugas yang diberikan adalah tugas kelompok yang diselesaikan di jam-jam belajar, ditambah lagi semua peserta ikut diklat dengan semangat berlibur dan “kabur” sejenak dari rutinitas kantor… 😀 😀 😀

Hanya minggu pertama yang waktu terasa berjalan lambat…  Di minggu kedua dan ketiga waktu terasa seperti berlari… Mungkin karena di minggu kedua kita para peserta sudah akrab dan merasa seperti keluarga..   Gimana enggak, teman-teman yang mudik di akhir pekan kembali ke “kos-kosan” dengan membawa oleh-oleh makanan khas daerah masing-masing.. Sehingga minggu malam dan senin pagi selain menikmati makanan yang disediakan hotel, kami juga menikmati berbagai oleh-oleh.. Ada bandeng presto, lumpia, cake gandjalreel dari Semarang, ada bika ambon dan bolu meranti dari Medan, ada serabi notosuman dari Solo..  Ada juga amplang dari Banjarmasin yang jadi cemilan tambahan saat rehat diklat…  Meriah pokoknya…!!

Ada juga acara piknik bareng di wiken kedua yang dilakukan 12 orang peserta diklat yang gak mudik, termasuk diriku.. Kemana..? Ke obyek-obyek wisata yang dijadiin lokasi syuting AADC 2 :  Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, Ratu Boko,  juga ke Borobudur, Prambanan dan Kaliurang.  Piknik yang seru karena dimulai jam 03.00 pagi..  Dan karena takut telat, ada yang sampai udah bangun jam 12 malam, dan main mandi aja tanpa lihat jam… Hahahaha… 

Over all… Diklat JFP Madya Spasial yang diriku ikuti sungguh menyenangkan…  Salah satu diklat yang asyik dari diklat-diklat yang pernah aku ikuti..  I’m gonna miss you mba Widia, Ika, teh Ani, kak Lita, mba Dewi, kak Linda, mba Nissah si Little Missy, Lupi, Vira, Erni, kak Poppy, Pak Pur si Kepala suku, Pa Moer, Pak Sorjum, Hapriadi, Pak Mustakin, Pak Tatag, Pak Fir, dan teman-teman yang tak tertulis namanya… Makasih juga mba Esti dan Pengelola Diklat…

Alhamdulillah 2 minggu setelah diklat usai, kami menerima kabar dari Mba Esti, bahwa seluruh peserta diklat lulus ujian kompetensi yang dilaksanakan di 2 hari terakhir diklat.  Tinggal  nunggu sertifikat dan Berita Acara Penetapan Angka Kredit (BAPAK) yang akan menjadi dokumen untuk usulan bisa memegang jabatan fungsional perencana.

Semoga diriku dan teman-teman peserta diklat bisa segera memegang jabatan fungsional perencana… Aamiin  ***

Diklat JFP Madya Spasial

Posted in Office Life

Makan Bareng…

Postingan ini ditulis dari hasil dengar curhatan sohib-sohib… Curcol tentang perasaan yang “sakitnya tuuhh di sini” sambil nunjuk dada….   😀  Perasaan yang pernah juga aku rasakan, dulu…  Mungkin teman-teman juga pernah merasakan…  Perasaan apa siyyy…? Perasaan gak nyaman… Hahahaha…

Makan barengOrang-orang yang bekerja, seperti diriku, dan mungkin juga teman-teman, makan siang kan biasanya dilakukan  di luar rumah.. Bisa di kantin kantor…, di resto atau food court…  Ada juga siyy yang bawa lunch box…  Makannya biisa sendiri atau bareng-bareng dengan teman temin…

Buat sebagian orang, makan sendiri, terkadang bisa menimbulkan rasa gak nyaman, apa lagi kalo di resto atau food court..  Apa lagi di negeri kita, duduk makan sendiri di tempat umum, acap kali terasa seperti makhluk yang tak mampu bersosialisasi, sehingga tak punya teman, bahkan untuk makan… hiks...   Dan makan bareng-bareng, sambil ngobrol juga memang rasanya lebih menyenangkan…, karena sudah takdirnya manusia itu makhluk sosial, butuh bergaul, butuh orang lain di sekitarnya…

Karena kedua alasan itu, kita selalu berusaha mencari teman saat makan di luar rumah…  Tapi ternyata makan bareng orang lain, yang bukan keluarga itu juga tidak mudah… 😀  Kenapa…? Karena manusia lain, meski itu teman, adalah makhluk lain yang punya hati dan pikiran yang berbeda… Belum tentu sama pikiran dan perasaannya soal hak dan kewajiban… 😀

Maksudnya….?

Maksudnya ketika kita makan bersama di resto atau food court, pasti lah akan ada biaya yang harus keluar untuk membayar makanan yang dimakan..  **nenek-nenek juga tau… hehehehe*  Naaahhh, kalo makan bareng, sering pula, siapa yang harus membayar?

Kita, yang katanya orang timur, penuh tenggang rasa, sering kali belum bisa bersikap seperti orang Belanda yang hanya membayar apa yang mereka makan..  Kita merasa gak enak kalau bersikap begitu.. Sekan tak ada basa basi…  😀  Tapi kan kita juga gak bisa sering-sering mengeluarkan uang hasil kerja keras kita untuk membayari makan orang lain, yang juga punya uang…

Kalau makannya di food court yang self service, ambil makanan, lalu langsung ke kasir…, itu akan lebih mudah… Setiap orang tinggal bayar, apa yang dia ambil…  Tapi kalau makanannya diorder, dihidangkan, lalu tagihannya mucul dalam satu tagihan…., ini yang jadi masalah…

Sebenarnya, hal ini gak perlu jadi masalah.., kalau yang makan bareng itu sama-sama memakai perasaan dan pikiran… Bisa dengan membayar apa yang dimakan dan minum, bisa dengan membagi sama besar seluruh tagihan, bisa juga dengan gantian membayar..  Tapi kita kerap berurusan dengan orang-orang yang memakai perasaan dan pikiran hanya untuk hal-hal yang terkait dengan dirinya, hal-hal yang menguntungkan dirinya, saja… 😀

Aku dulu pernah merasakan, ada teman yang selalu makan bareng, tapi hampir gak mau mengeluarkan uang untuk apa yang dia makan..  Bahkan pernah satu kali saat makan bareng, dia mengeluarkan uang yang bahkan tak cukup untuk membayar apa yang dia makan dan minum.. Jadi secara halus dia suruh aku nombokin apa yang dia makan..  Kalo bang Haji Rhoma Irama bilang, terlalu……  😀  Kalau temanku itu gak punya duit, aku dengan sangat senang hati, nombokin.. Tapi saat itu, teman ku itu jauh, jauh, jauh lebih berpunya dari diriku, yang saat itu adalah PNS yang baru pulang tugas belajar… Nyaris bangkrut, booo…. Hehehe… Capek berurusan dengan teman yang begitu, aku memutuskan untuk kabur dari pergaulan yang satu itu…  Memang gak bagus jadinya… Tapi dari pada bikin hati gak nyaman terus menerus.. Kabur adalah pilihan terbaik… 😀

Naahhh, curhatan teman-teman baik ku kali ini juga begitu.. Kami biasa main dan makan bareng, biasa berbagi rezeki.., meski hanya sepotong kue, atau sebungkus keripik..  **Aiihhh jadi ingat ada yang dengan wajah sumringah mengantarkan 2 buah lepat pisang ke ruang kerjaku minggu lalu… Terima kasih kak In.. Aku sayang sama kakak.. Sungguh…* Kami malah biasa rebutan bayar, kalo pergi makan bareng.  Bukannya apa-apa, karena kami bisa saling merasakan bahwa uang yang kami miliki itu diperoleh dengan bekerja, dengan keras bahkan..  Kalau kita sebagai pribadi, masing-masing mendapatkan uang dengan bekerja keras, bukankah teman yang lain juga mendapatkannya dengan bekerja keras.. Bagaimana bisa kita menikmati hasil kerja keras teman kita tanpa memberi secara seimbang…?

Teman-teman ku itu, yang akhir-akhir ini sering makan bareng dengan orang lain cerita… “Sondha gak tau aja… Sekarang ada tricknya menghindari bayar makan…  Ada 2 cara, terbaru ‘Ndha.. Yang pertama, pura-pura ngobrak ngabrik tas…, tapi gak selesai-selesai… Entah apa yang diobarak-abrik… Yang kedua, nelpon berlama-lama.. Padahal entah iya nelpon entah tidak…  Sampai kita niyy gerah, akhirnya ambil inisiatif untuk membayar.. padahal hari-hari sebelumnya kita juga yang bayar.. Keterlaluan nggak tuuhhhh…?”  Hmmmmm….  Teman ku itu melanjutkan, “Ada lagi yang bisa dengan tambeng dan tebal muka, tetap cuek dan pura-pura tak dengar, meski sudah dibilang bahwa kali ini giliran dia yang bayar…”  **gubbbbrrrrraaaaakkkkkssssss*

Hmmmmm….. Mungkin memang sudah waktunya untuk lebih selektif dalam memilih teman makan bareng…  Sudah saatnya gak perduli meski orang mencap kita dengan stempel yang aneh-aneh.. Yang penting hati kita nyaman..   Kalau orang yang suka gak fair dalam urusan bayar membayar itu ngajak makan, bilang aja lagi diet.. Hahahahaha...

Atau kalau memang harus makan bareng juga dengan mereka, karena kan gak mungkin juga selamanya bisa menghindar, begitu tagihan makanan datang, kita keluarkan saja uang sedikit diatas jumlah harga makanan dan minuman yang kita nikmati saja…  Sisanya, suruh yang lain bayar, sesuai dengan yang dia makan….  Peduli amat mereka bilang apa..  Karena hati kecil masing-masing sebenarnya tahu kok, yang benar itu seperti apa..  ***