Posted in My Heart, My Life, My Mind

Imperfect

Di hari-hari ini, saat Ramadhan akan berakhir, ketika orang-orang sibuk mudik, ketika panci-panci berbunyi, aroma rendang, opor dan ketupat mulai menyeruak di udara, ketika rumah-rumah sudah ditata dengan cantik, maka ada sebahagian makhluk di muka bumi ini yang juga sibuk menata hatinya.  Menata hati untuk bersiap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang kerap diterima dari kerabat, teman yang akan bertemu saat lebaran, saat bersilaturahmi.
Pertanyaan apa?

PERTANYAAN-PERTANYAAN SEMPURNA.  PERFECT QUESTIONS yang kerap diterima dari orang-orang terkasih, para sahabat di saat bertemu.

Pertanyaan-pertanyaan yang memgingatkan orang yang ditanya kapan dia akan mencapai tahapan yang membuat hidupnya sempurna sebagai seorang anak manusia, A PERFECT LIFE.  Pertanyaan-pertanyaan yang mengingatkan anak manusia yang mendapat pertanyaan itu bahwa hidupnya belum sempurna, IMPERFECT.  Padahal kita semua tahu HIDUP YANG SEMPURNA sudah menjadi keinginan anak manusia sejak tarikan nafas pertamanya.  Tak satu pun anak manusia tak menginginkannya.

  1. Kapan wisuda?

  2.  Kapan nikah?  Udah punya pacar ?  Jangan banyak pilih lah.

  3. Kok belum punya anak sih?  Jangan  ditunda-tunda? Udah periksa ke dokter?  Udah coba ikut program ?

  4. Kenapa bercerai ? Apa masalahnya ?

  5.  Gak pengen nikah lagi? Lebih enak sendiri ya?

Itu antara lain pertanyaan-pertanyaan yang kerap disampaikan kepada para Imperfect.  Pertanyaan-pertanyaan yang bisa bikin hati tertoreh, mood jadi berantakan.

Dulu, sebagai perempuan yang tergolong telat menikah (telat banget 😀 ),   pertanyaan yang nomor 2 selama bertahun-tahun selalu aku terima (baca : Menikah ?).  Kalau sekarang, meski tak terlalu sering, pertanyaan nomor 4 dan nomor 5 yang aku terima.

Diriku, dan mungkin juga orang-orang yang kerap menerima pertanyaan-pertanyaan itu mengerti bahwa menanyakan itu adalah bentuk perhatian, bentuk kepedulian, bentuk rasa sayang.  Tapi, untuk bisa segera wisuda, menikah, punya anak, tidak bercerai, menikah lagi, itu bukan urusan yang sederhana yang bisa dilakukan dengan daya upaya seorang anak manusia semata.  Banyak pihak lain yang berperan kuat dalam menentukan.  Peran yang untuk menggerakkannya kerap di luar jangkauan anak manusia tersebut.  Si anak manusia hanya bisa berusaha dan memohon pada Sang Pemilik Hati seluruh umat  manusia di muka bumi.

Orang-orang sering tak paham bahwa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, bisa seakan mempertanyakan ketentuan Sang Penggengam Hati atas diri yang ditanya.  Bagi jiwa-jiwa yang sabar, pertanyaan itu akan bisa dibalas dengan senyuman, dan tak memikirkannya lebih jauh.  Kalau pun ada rasa pedih, mereka akan menumpahkannya pada Sang Pemilik Kehidupan.

Bagi jiwa-jiwa yang masih rapuh, pertanyaan-pertanyaan itu akan melukai.  Bahkan bisa sangat dalam.  Bisa sampai membuat jiwa mempertanyakan keadilan Sang Maha Adil atas dirinya.   Bisa membuat mereka menghindar dari pihak-pihak yang menyampaikan Pertanyaan Sempurna tersebut.  Bisa juga membuat seseorang menghindar dari pergaulan.  Naudzubillah bin zalik.  

Pahamilah, untuk menerima ketidak sempurnaan kondisi hidupnya, para imperfect butuh kekuatan hati.   Butuh iman yang kuat di dada untuk menghadirkan  keyakinan bahwa kondisi hidupnya saat ini adalah yang terbaik.  Bahwa apa yang sedang dia alami bukan hukuman dari Allah.  Bahwa ini bukan bentuk ketidakadilan Sang Maha Adil.  Bahwa ini adalah rencana terbaik dari Sang Maha Sutradara.

Lalu apa sebaiknya yang harus dilakukan oleh orang-orang yang menyayangi para hamba Allah yang imperfect ini?

Coba diingat-ingat apa yang sudah dicapai para imperfect dalam hidupnya. Apa yang sudah mereka lakukan untuk keluarga, teman-teman dan mungkin juga masyarakat di sekitar dirinya?  Hargai itu.  Semoga dengan mengingat, memandang capaian-capaian mereka, keluarga, teman, dan orang-orang yang menyayangi si imperfect bisa menemukan keindahan si imperfect yang mungkin justru tak dimiliki orang-orang yang perfect tahapan hidupnya.

Dari pada bertanya.  Apa lagi bertanya di depan anggora keluarga atau teman-teman yang lain, di saat-saat kita harusnya bahagia bersilaturahmi, sebaiknya bertemulah secara personal, bicara dari ke hati, untuk memahami situasi yang sebenarnya, kendala-kemdala yang ada. Dan, BERjUANGLAH BERSAMA si imperfect untuk mendekati perfection.  Bukan hanya sekedar bertanya tapi tidak ada tindak lanjut.  Justru tindak lanjut itu lah yang sesungguhnya wujud sayang, dukungan,  yang sebenarnya dibutuhkan para imperfect.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, selamat bersilaturahmi bersama keluarga, kerabat dan sahabat.  Semoga pertemuan, percakapan, ekspresi perhatian dan rasa sayang pada keluarga dan sahabat yang kita sampaikan bisa memberi kebahagian, bukan justru melukai.

Tabaqallah minna wa minkum.  Mohon maaf lahir dan bathin.***

Advertisements
Posted in My Life, Office Life

Fungsional Perencana

Semenjak hari Rabu tanggal 8 Maret 2017, diriku sudah mendapat kabar gembira itu.  Tapi baru hari Jum’at 11 Maret 2017, diriku benar-benar melihat apa yang telah diupayakan dalam 1 tahun 9 bulan terakhir.  Apa ? Terbitnya Surat Keputusan Kepala Daerah tentang pengangkatan diriku menjadi tenaga  fungsional perencana.  Alhamdulillah.

Kenapa mau jadi tenaga fungsional perencana ? Setelah perjalanan hampir 20 tahun menjadi PNS (ASN), diriku jadi mengerti bahwa menjadi pejabat struktural bukanlah satu-satunya jalur untuk berkarir di lingkungan pemerintah.  Ada alternatif lain, menjadi tenaga fungsional.  Dan untuk diriku yang sepanjang perjalanan menjadi aparatur negara selalu bertugas di unit perencanaan, menjadi tenaga  fungsional perencana adalah pilihan jalur yang bisa diriku ambil.

Tapi  kok lama ya upayanya?

Sebenarnya keinginan menjadi tenaga fungsional perencana sudah hadir sejak beberapa tahun yang lalu, ketika rasa  gelisah  (baca : Curhat Sebuah Hilir) selalu melanda diri ini. Bahkan pada tahun 2013, saat menghadiri Rapat Trilateral di Bappenas, diriku singgah di Koperasi Pegawai Bappenas, untuk membeli buku Kumpulan Peraturan tentang Jabatan Fungsional Perencana.

Tapi upaya untuk menjadi tenaga fungsional perencana baru ku mulai setelah aku merasa sangat jenuh  (baca : Diam)  dengan pekerjaanku.  Ditambah lagi pada awal tahun 2015 aku ditugaskan di institusi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjaku.  Institusi yang saat aku masuki sungguh terasa bagai dunia yang gelap gulita.  Alhamdulillah aku bisa belajar untuk memahami pekerjaan di situ, tapi butuh waktu, tenaga dan pikiran yang besar untuk bisa memahami dan menjalankannya sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam peraturan.

Ditugaskan di tempat yang kita tak kenal sama sekali, bisa menjadi sebuah anugrah, karena menjadi kesempatan untuk belajar hal-hal baru.  Tapi  ketika ketidaktahuan membuat kita bisa terkait dengan hal-hal yang high risk, sungguh rasanya bukan hal yang nyaman untuk tetap dijalani.  Aku lalu meminta atasanku saat itu untuk menyetujui pengusulanku untuk menjadi tenaga fungsional.  Usulan tersebut ternyata ditindaklanjuti oleh instansi pengelola kepegawaian dengan mengirimkan surat usulan diriku untuk bisa mengikuti diklat fungsional perencana yang diadakan Bappenas .  Sebagai catatan, untuk bisa menjadi tenaga fungsional, calon tenaga fungsional harus mengikuti diklat fungsional, yang diakhiri dengan ujian kompetensi.  Untuk pegawai dengan pangkat seperti diriku, diklatnya dilakukan oleh Bappenas.

Namun untuk bisa ikut diklat, calon peserta diklat harus mengikuti placement test yang diadakan Bappenas terlebih dahulu.  Pada akhir Desember 2015, ada placement yang dilaksanakan di Pekanbaru, dan diriku diberi kesempatan untuk mengikutinya.  Alhamdulillah.

Selanjutnya aku berada dalam antrian untuk mengikuti diklat.  Ketika aku mendapatkan informasi bahwa aku dalam beberapa bulan lagi akan mengikuti diklat perencanaan, aku mengajukan diri kepada pimpinan daerah melalui institusi pengelola kepegawaian, untuk dipindahkan ke institusi yang mengurus perencanaan daerah, agar bisa fokus menyiapkan diri untuk menjadi tenaga fungsional perencana.  Alhamdulillah, pada pertengahan tahun 2016, setelah sekitar 15 tahun memegang jabatan,  diriku dilepaskan dari jabatan struktural, dan menjadi fungsional umum alias staff.  Apa rasanya ? Lega. Seperti ada beban berat di pundak, yang telah dibawa kemana-mana bertahun-tahun, terlepas.  Alhamdulillah.

JFP

Pada bulan Sepetember 2016, panggilan diklat yang sudah kuupayakan akhirnya datang.  Aku dipanggil untuk ikut  diklat fungsional perencana madya spasial  (baca : Diklat JFP Madya Spasial),    pada minggu kedua bulan oktober.  Diklat yang berlangsung selama 3 minggu.  Selesai diklat, semua seperti meluncur dalam track-nya.  Meski kadang tersendat-sendat, tapi alhamdulillah akhirnya  surat keputusan pengangkatanku menjadi fungsional perencana keluar juga.

Aku tahu, menjadi fungsional perencana bukanlah jalan yang mudah, karena aku harus belajar banyak, dan juga harus bekerja keras untuk mengumpulkan kredit point agar aku bisa naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi.  Mungkin butuh 2 sampai 3 tahun untuk mencapainya.  Tapi insya Allah dengan menjadi tenaga fungsional, dunia kerja yang aku jalani akan lebih sejuk, lebih tenang.  Semoga Allah meridhoi langkah yang diriku ambil. Aamiin.***