Posted in Boru Batak, Culture and Heritage, Tukang Jalan, Tukang Makan

Kuliner Sipirok

Akhir pekan tanggal 13 – 15 Januari 2017, diriku ke Sipirok, lagi. Padahal  tanggal 29 Desember 2016 sampai dengan 02 Januari 2017 yang lalu diriku juga ke Sipirok buat libur akhir tahun dengan keluarga.  Ngapain bulak balik ke Sipirok?  ūüėÄ  Kalau dipikir capek, memang sihh pergi yang pertama belum hilang capeknya.  Tapi kali ini aku pergi menemani kakakku  Lintje buat ziarah ke Sibadoar.  Lagian, kalau urusan pulang ke Sipirok kayaknya rasa capek gak ada.  Hihihihi. Padahal pinggang berdenyut-denyut nihhh !!

Oh ya, buat teman-teman ketahui, Sipirok itu adalah nama kecamatan, yang terdiri dari  6 kelurahan dan 34 desa.  Kalau diriku dan keluarga pulang ke Sipirok, itu artinya kami pulang ke rumah peninggalan ompung kami dari pihak Papa, yang berlokasi di Pasar Sipirok, kelurahan yang menjadi pusat Kecamatan Sipirok.  Di Pasar Sipirok tersebut berada kantor Kecamatan Sipirok, kantor Polsek Sipirok, kantor Koramil Sipirok, kantor Kejaksaan Sipirok, sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA dan SMK, juga pasar serta pusat aktivitas ekonomi masyarakat di Kecamatan Sipirok.  Kampung leluhurku dari pihak  Papa yang bermarga Siregar adalah Desa Sibadoar, 3 km ke arah Timur Laut dari Pasar Sipirok.  Sedangkan kampung asal leluhur Mama yang bermarga Harahap adalah Desa Hanopan, 16 km ke arah Timur Laut dari Pasar Sipirok.   Jadi jangan bingung dengan istilah Sipirok, dan Pasar Sipirok ya teman-teman.

Oleh-oleh dari perjalanan kali ini, diriku ingin cerita tentang kuliner Sipirok. Topik tentang Kuliner Sipirok dengan scope yang lebih kecil, Panganan Khas Sipirok, pernah diriku bahas sebelumnya, namun tulisan kali ini scopenya lebih luas, tidak cuma tentang kue-kuean, tapi juga tentang makanan, lauk pauk dan sayuran.

Kita mulai dari kue-kuean dulu yaaa.

penjual-kue-sipirok
Panggelong Apri hasibuan dan Pedagang kue di Pasar

Dulu saat saya masih bocah cilik, kue-kue di daerah Pasar Sipirok hanya dijual pada hari Kamis, hari pasar di  Pasar Sipirok.  Poken Kamis, demikian masyarakat menyebutnya.

Poken Kamis adalah pasar terbesar, teramai di Kecamatan Sipirok.  Para pedagang dan pembeli dari berbagai kelurahan dan desa di Sipirok tumplek blek di sini, bikin macet sampai sekitar jam 2 siang.  Hari lain tetap ada pasar di Pasar Sipirok, tapi hanya sekedar  menyediakan kebutuhan harian penduduk di sekitar Pasar Sipirok.  Pasar yang agak ramai berlangsung secara bergilir tiap hari di  kelurahan atau desa di Kecamatan Sipirok.  Misalnya pada hari rabu, pasar yang disebut Poken Arba (Pasar Rabu dalam bahasa Batak Angkola) berlangsung di Desa Arse, sebuah desa yang berjarak 14 km di Timur Laut Pasar Sipirok.  Desa yang gak jauh dari Hanopan, kampung leluhurku dari pihak Mama.

Tapi sekarang tiap hari ada yang menjual kue-kue tradisional khas Sipirok.  Ada yang menjual di pasar, dan juga ada di dua warung atau toko kecil  di jalan lintas Padang Sidempuan – Tarutung.  Pedagang petama, Panggelong Apri Hasibuan, di jalan Tarutung No. 52 Banjar Toba, Sipirok.  Pedagang yang kedua (maaf gak sempat motret warung dan mencatat namanya), lokasinya sekitar 1 km dari Panggelong Hasibuan, dekat masjid Sipirok Godang.

Kue apa saja yang bisa ditemuin di Sipirok?  Sesuai dengan hasil bumi Sipirok, beras, ketan,  dan gula aren atau gula bargot kata orang Sipirok, maka kue-kue khas Sipirok berbahan baku betas atau ketan dengan gula aren ditambah variasi pisang dan kelapa parut atau santan. Apa aja kuenya?

panggelong
Panggelong

Panggelong,  terbuat dari adonan tepung ketan/pulut yang dicampur dengan gula aren, lalu digoremg, lalu dicelup ke cairan gula aren.

golang-golang
Golang-golang

Golang-golang, terbuat dari adonan tepung ketan dengan gula aren, dibuat seperti gelang-gelang kecil, digoreng.

paniaram
Paniaram

Paniaram, campuran tepung beras dan gula aren dipanggang seperti serabi.  Tapi lebih padat, lebih alot.. ūüėÄ

Lapet (lepat) beras, adonan tepung beras dengan gula aren dan santan, dibungkus dengan daun pisang, dikukus.  Adonan yang sama ada juga dimasukkan ke dalam bambu yang telas dilapis dengan daun pisang, lalu dibakar, namanya lemang daun.

lapet-pisang
Lapet Pisang

Lapet (lepat) pisang, adonan tepung beras dengan gula pasir dan santan, dikasi irisan pisang, dibungkus dengan daun pisang, lalu dikukus.

itak
Itak pohul pohul

Itak Pohol-pohul.  Ini adalah kue khas orang Batak sekali.  Biasa dihidangkan di acara-acara adat, seperti menyambut bayi yang baru lahir, acara masuk rumah baru, juga  acara penghiburan setelah meninggalnya anggota keluarga.  Itak terbuat dari tepung beras yang dikukus sebentar, lalu dicampur dengan irisan gula aren dan kelapa parut, dibentuk dengan cara digenggam kuat-kuat sehingga berbentuk kepalan tangan, lalu dikukus.

Kembang loyang manis/asin.  Kembang loyang adalah adonan tepung beras.  Untuk yang manis dicampur dengan gula pasir dan wijen.  Selanjutnya cetakan berbentu kembang yang diberi tangkai dicelupkan ke adonan tersebut, sehingga adonan menempel, kemudian cetakan tersebut dimasukkan ke penggorengan yang sudah berisi minyak panas.  Adonan yang masak akan lepas dari cetakan dan membentuk kue yang berbentuk kembang.  Untuk yang rasanya asin, adonan tepung beras ditambahkan dengan bumbu-bumbu daun jeruk, daun seledri, ketumbar atau merica, daun jeruk, juga udang halus, seperti membuat adonan bakwan.

Kue angka 8 sangat khas Sipirok, kayaknya gak ada di tempat lain.  Kue ini terbuat dari campuran tepung beras dan tepung ketan juga gula pasir.  Adonan lalu dibuat panjang-panjang dibentuk seperti angka 8, kemudia digoreng.  Setelah dingin, kue dibalur dengan bubuk gula putih, seperti donat.

Selain kue-kue yang sudah disebut di atas, yang selalu ada dalam panganan di Sipirok adalah lomang (lemang) dan wajik, yang keduanya terbuat dari  ketan. Lemang dibuat dari ketan dikasi santan yang dimasukkan ke bambu dilapisi daun pisang,  kemudian dipanggang di atas bara.  Sedangkan wajik dibuat dari ketan yang ditanak dengan gula aren dan santan.   Setelah masak dicetak di nampan yang diaLas dengan daun pisang atau plastik agar tidak lengket.

Sekarang kita bicara tentang makanan utama..

ikan-mas
Ikan mas goreng dan gulai ikan mas

Sesuai dengan lokasi yang jauh dari laut,  alam Sipirok yang pegunungan, membuat sungai-sungainya curam berbatu-batu dan  berair deras sehingga tak banyak ikan.  Ikan hanya ada di tempat-tempat tertentu, di lubuk-lubuk.  Sumber protein masyarakat di Sipirok adalah daging kerbau (Bubalus bubalis)  dan ikan mas (Cyprinus Carpio sp.)  hasil peliharaan di kolam.   Kolam ikan di Sipirok biasanya bukan kolam air deras, tetapi sawah yang yang secara periodikal dialihfungsikan sebagai kolam.  Untuk menghasilkan ikan dengan ukuran yang layak untuk dimakan, dibutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan lebih dari setahun.  Lama yaakkkk...  Btw, orang Batak kayaknya gak doyan ikan gurame ya?  Entah lahh.  Tapi memang untuk acara-acara adat di masyarakat Batak, ikan yang digunakan ya ikan mas.  Biasanya diarsik.  Hmmm… enak banget… Kata orang-orang sangkin enaknya, mertua lewat gak keliatan.   Ya, enggak keliatan laahh, wong saat nikah sama anaknya mertua udah gak ada.  ūüėÄ ūüėÄ

olahan-kerbau
Sup tulang kerbau dan daging panggang

Untuk daging, enggak tahu kenapa di Sipirok adanya daging kerbau. Termasuk untuk dipotong pada acara-acara adat.   Yang dipelihara orang-orang juga kerbau.  Untuk penyediaan daging kerbau di Pasar Sipirok, biasanya dilakukan oleh keluarga Pardede, yang sudah jadi Partiga-tiga Juhut di Sipirok dari generasi ke generasi.  Tiga itu artinya pasar, partiga-tiga artinya pedagang, juhut artinya daging.  Partiga-tiga Juhut artinya pedagang daging.

Kerbau diolah menjadi masakan apa di Sipirok? Karena udara yang dingin, di Sipirok tulang dan daging kerbau biasanya dijadikan sup.  Aihhh jadi ingat saat-saat pulang kampung ketika masih kecil.  Sup adalah menu yang wajib hadir di meja makan di rumah Opung.  Sup daging dengan kentang dan wortel mengepul-ngepul.  Nikmat banget  !!  Nah di salah satu rumah makan yang terkenal dan sangat representatif di Sipirok, Rumah makan Siang malam, daging kerbau dipanggang, lalu dimasak asam pedas pekat dengan irisan bawang dan tomat yang banyak. Enaknya, gila !!!  Bikin nagih. Sedangkan tulang kerbau dibikin sup, bahkan sumsum yang di bagian engsel, bisa dinikmati dengan menggunakan sedotan.  Tapi menu yang satu ini saya gak makan.  Takut kolesterol !

gulai-daun-ubi-tumbuk
Gulai Daun Ubi Tumbuk

Bagaimana dengan menu sayurnya? Yang selalu hadir di meja makan di rumah-rumah di Sipirok adalah sayur bolgang alias sayur rebus, yang terdiri dari berbagai macam sayur.  Daun singkong, rimbang, terong ijo dan lain-lain dicampur jadi satu.  Rasanya enak, karena sayur-sayur tersebut biasanya baru dipetik.  Bahkan dulu di rumah Ompung, ketika akan masak,  baru sayur dipetik di kebun  milik Ompung di daerah Pasar Malam, yang gak jauh dari rumah.

Selain sayur bolgang, menu sayur yang menjadi trade mark orang Batak adalah Gulai Daun Ubi Tumbuk.  Gulai ini dibuat dari daun ubi muda alias bagian pucuk, ditambah dengan rimbang, honje atau kecombrang (Etlingera elatior) ditumbuk sampai setengah halus di alu yang terbuat dari kayu.  Kalau almarhum Mama bahkan menambahkan daun pepaya muda pada campuran tersebut.  Untuk meningkatkan  daya tahan tubuh, menurut beliau.  Setelah setengah hancur, campuran sayur tersebut dimasak dengan santan dan ditambahkan dengan ikan salai atau ikan asap.  Jangan tanya rasanya.  Juaaarrrraaaaa  !!!!

Kok jadi bikin pengen pulang kampung lagi yaaa ?? Padahal badan masih belum hilang pegalnya.  ūüėÄ  ***

Posted in My Opinion, Tukang Jalan

Sipirok, A Prospective Destination

Sipirok..  Buat peminat wisata mungkin kata yang asing.  Mungkin tidak bagi penggemar kopi di Indonesia.  Dan pasti tidak,  bagi mereka yang di tubuhnya mengalir darah Batak.

sipirok1

Mengapa mungkin tidak asing bagi penggemar kopi di Indonesia? Karena tahun 2014 yang lalu masyarakat Sipirok  mengadakan Festival Kopi Sipirok, dalam upaya mengangkat nama kopi hasil budidaya masyarakat di Sipirok.  Bahkan di kawasan Tanjung Duren, di Jl. TB Simatupang,  Jakarta, salah satu pengusaha asal Sipirok  memasarkan kopi Sipirok di cafe miliknya yang diberi nama Sipirock Coffee

Mengapa Sipirok pasti tidak asing bagi yang berdarah Batak?  Karena Sipirok adalah salah satu daerah di Tapanuli yang sudah berkembang lama, diperkirakan  sebelum abad ke-13.  Daerah yang menjadi persinggahan utama di jalur Lintas Sumatera sejak zaman dulu, selain Kota Sibolga, salah satu kota pelabuhan di pantai barat Pulau Sumatera.  Mengingat suku Batak adalah masyarakat yang mobile,  perantau yang gigih, baik untuk menuntut ilmu, maupun untuk berkarya dan mencari nafkah ke sepenjuru negeri, bahkan ke manca negara, melintasi Siporok dalam perjalanan merantau ataupun pulang adalah bahagian dari perjalanan suku Batak bila menempuh jalan darat.

Selain itu,  Sipirok juga daerah asal dari banyak orang yang telah meninggalkan jejak luar biasa di berbagai bidang. Ada nama Sutan Pangurabaan, seorang tokoh jurnalistik dan media cetak  di Tapanuli pada awal abad 20.  Beliau juga pendidik, pengusaha, pendiri Muhammadiyah di Sipirok.  Beliau juga ayah Armijn Pane dan Sanusi Pane, 2 Sastrawan Indonesia Angkatan Pujangga Baru.

Ada beberapa tokoh nasional di era Orde Baru yang berasal dari Sipirok, antar lain Arifin Siregar yang pernah menjadi Direktur Bank Indonesia, Hasjrul Harahap, mantan menteri Kehutanan RI.  Raja Inal Siregar, Gubernur Sumatera Utara  era 1988 Р1998 juga berasal dari Sipoirok, Desa Bunga Bondar tepatnya.

Dimana Sipirok itu sebenarnya?

batu-nol

Sipirok adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.  Lokasinya 38 km dari Kota Padang Sidempuan, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan sebelumnya. Berjarak sekitar 360 km ke arah selatan  Kota Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara,  dan sekitar 350 km ke arah Barat Laut Kota Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau.  Dari Kota Parapat yang berada di tepi Danau Toba, destinasi pariwisata utama di Provinsi Sumatera Utara, jaraknya hanya 180 km, dengan waktu tempuh hanya 4,5 jam.  Bahkan dari Bukit Tinggi, salah satu destinasi yang juga sudah terkenal di manca negara, jaraknya hanya 320 km, atau dengan waktu tempuh lebih kurang 7.5 jam.  Sipirok mempunyai lokasi yang strategis, dengan aksesibiltas yang sangat baik.

Saat ini Sipirok juga bisa diakses dengan pesawat udara melalui 2 bandara.  Yang pertama Bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing, di Pinang Sori, Sibolga, yang berjarak 90 km dan mebutuhkan waktu tempuh lebih kurang 2 jam 34 menit.  Yang kedua Bandara Silangit, yang berjarak 106 km dengan waktu tempuh lebih kurang 2 jam 40 menit.  Di kedua bandara tersebut setiap hari ada beberapa pesawat yang terbang  dari dan menuju Medan maupun Jakarta.  Sebenarnya ada bandara yang lebih dekat lagi ke Sipirok, hanya berjarak 37 km atau butuh waktu tempuh sekitar 51 menit, yaitu Bandara Aek Godang, tapi penerbangan ke bandara ini sepertinya belum sebanyak penerbangan ke Bandara Silangit dan Bandara Pinang Sori.

Sipirok terdiri dari 6 kelurahan dan 34 desa.  Dalam bahasa Batak Angkola, bahasa masyarakat setempat, Sipirok dikatakan sebagai  SIPIROK NAULI, BANUA NA SONANG,  NAPA-NAPANI SIBUAL-BUALI. Sipirok yang sejuk, negeri yang nyaman, di lembah Gunung Sibualbuali.

landscape-sipirok

Berada di kaki gunung,¬† di ketinggian¬† antara 700 ‚Äď 1.700 meter di atas permukaan laut (dpl),¬† membuat Sipirok mempunyai udara yang sejuk dan segar, air yang jernih dan dingin, serta pemandangan yang indah.¬† Di Sipirok terdapat sebuah danau, Danau Marsabut, dan juga Cagar Alam Dolok Sibualbuali, yang merupakan hutan konservasi yang kaya akan keragaman flora dan fauna.¬† Di Sipirok juga terdapat 2¬† mata air panas (hot spring water) yang dikelola oleh masyarakat menjadi permandian, yaitu Aek Milas Sosopan dan Aek Milas Padang Bujur.¬† Sat ini infrastruktur jalan ke berbagai kelurahan dan desa di Sipirok relatif baik, juga jaringan listrik dan jaringan telepon seluler.

aek-milas-padang-bujur
Hot Water Spring : Aek Milas Padang Bujur

Karena Sipirok berada di antara wilayah Batak Toba, yang didominasi pemeluk Kristen, dengan wilayah Mandailing, yang didominasi pemeluk Islam, membuat Sipirok punya cerita yang panjang tentang kehidupan bertoleransi antara Islam dan Kristen.  Mungkin hanya di Sipirok, prinsip darah lebih kental dari pilihan agama menjadi pegangan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.  Ya, di Sipirok dalam sebuah keluarga, bisa ada anggota keluarga yang menganut agama Islam, dan anggota keluarga yang lain menganut agama Kristen, dan tetap hidup dalam rasa saling menghormati dan menyayangi.  Prinsip ini yang membuat masyarakat di Sipirok tak mengenal daging babi sebagai bahan makanan sebagaimana masyarakat di daerah Tapanuli Utara.  Prinsip ini juga yang membuat anggota keluarga yang muslim, bisa makan dengan tenang di rumah keluarga dan kerabatnya yang non muslim.  Prinsip ini juga bila ada pesta adat, meski tuan rumahnya non muslim, pemotongan kerbau, pengolahan makanan dilakukan oleh anggota masyarakat yang muslim.

Kelurahan Pasar Sipirok merupakan pusat kegiatan masyarakat  di wilayah kecamatan Sipirok, baik aktivitas pemerintahan tingkat kecamatan, pusat perdagangan lokal, juga pusat pendidikan lokal. Di Pasar Sipirok terdapat kantor camat, kantor polsek, pertokoan, juga sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP dan juga SMA.  Bahkan di desa Paran Julu, sebuah perbukitan yang berjarak sekitar 2,5 km dari Pasar Sipirok terdapat SMA Negeri 2 Plus, yang dibangun oleh Yayasan Pendidikan Marsipature Hutana Be, sebuah yayasan yang dibangun oleh anak-anak Sipirok yang berhasil dan berjaya di rantau.

Berpuluh bahkan lebih dari seratus tahun menjadi pusat aktivitas masyarakat lokal, membuat Pasar Sipirok menjadi kota kecil yang sangat nyaman.  Bahkan jejak-jejak kemakmuran yang dicapai oleh anak-anak Sipirok yang merantau, maupun yang beraktivitas di daerah, terlihat dari rumah-rumah tua yang masih terlihat cantik, meski beberapa diantaranya tak terawat lagi.

rumah2-tua

Alam yang luar biasa segar dan indah, kehidupan masyarakat yang menghargai keragaman, rumah-rumah tua yang cantik, kerajinan tangan yang berbasis budaya, seperti ulos serta tuku dan bulang, kuliner lokal, merupakan potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata.  Bukan destinasi wisata dimana para wisatawan datang bergerombol, membuat dan menikmati keriuhan, tapi wisata bagi mereka yang ingin menikmati ketenangan, tempat istirahat bagi mereka yang telah lelah bekerja di kota-kota besar, tempat beristirahat bagi mereka yang purna tugas, atau pensiun (retirement).  Sebuah prospek untuk menghidupkan ekonomi masyarakat, membangun daerah.

Sungguh aku membayangkan bila diberi umur panjang, aku akan mengisi sebagian hari-hari tuaku dengan tinggal di rumah peninggalan ompungku di Sipirok, sebuah rumah kayu tua berwarna coklat  yang hangat.  Aku akan bisa menikmati pagi dengan berjalan kaki pagi di sekitar persawahan, mandi di permandian air panas, mengisi siang dan malamku dengan membaca, menulis dan berkontemplasi,  sambil sesekali menyusuri kampung-kampung tua yang penuh sejarah di kaki perbukitan di Gunung Sibuabuali.***

Posted in Boru Batak, Culture and Heritage

Kata Pengantar Kamus Angkola Indonesia Cetakan Ke2

Teman-teman, ini saya salinkan Kata Sambutan yang ditulis ibu Susan Rodgers untuk Kamus Angkola Indonesia Cetakan Ke-2.¬† Beliau adalah¬† seorang antropolog berkewarganegaraan Amerika, yang pernah melakukan penelitian tentang Budaya Batak.¬† Beliau pencinta Budaya Batak, dan bersama beberapa temannya menetap di Sipirok pada tahun 1970-an saat melakukan riset untuk program masternya.¬† Dan beliau sangat fasih berbahasa Angkola.¬† Sepertinya Bahasa Angkola adalah bahasa kedua beliau setelah bahasa ibunya, Bahasa Inggris.¬† Saya bisa melihat itu saat beliau berkomunikasi dengan Papa saya, pada waktu kami bertemu di bulan Juni 2013 di Medan.¬† Hal itu sempat membuat saya merasa malu… ūüėÄ

Susan Rodgers 1aKebetulan saya menjadi jembatan proses komunikasi antara Papa saya dengan ibu Susan, yang telah diberi marga Siregar oleh tetua Adat Sipirok pada tahun 1970-an (makanya saya memanggil beliau dengan BOU dalam komunikasi-komunikasi kami).  Saya biasanya ditugaskan menyampaikan pikiran dan pendapat Papa saya ke ibu Susan dalam bentuk email.  Juga menyampaikan permohonan agar beliau bersedia memberi kata pengantar untuk kamus ini.  Begitu juga sebaliknya.  Jadi Kata Sambutan beliau yang aslinya dalam Bahasa Inggris, dikirimkan ke saya untuk diteruskan ke Papa untuk kemudian dilampirkan di bahagian awal kamus.  Dan versi Bahasa Indonesia yang juga ditampilkan di awal kamus, adalah terjemahan yang sudah beliau periksa dan mendapat pesetujuan..  Untuk teman-teman ketahui, beliau meminta softcopy draft kamus dikirimkan kepada beliau sebelum beliau menulis kata pengantar.  Jadi ada proses yang beliau lakukan sebelum menulis kata pengantar ini..

Mengapa saya menyalinkan Kata Sambutan ini di blog saya…?¬† Agar kita, terutama generasi muda Angkola bisa melihat, memahami bahwa Bahasa Angkola itu pernah begitu maju.. Kemajuan itu pasti disebabkan adanya orang-orang cerdas, orang-orang intelek..

Selamat menikmat…¬† Semoga terinspirasi…

 KATA SAMBUTAN EDISI KEDUA

 Sekali lagi ini merupakan suatu kehormatan bagi saya diminta untuk  membuat Kata Sambutan pada Kamus Angkola/Indonesia yang  sekarang hadir dalam edisi kedua dengan revisi penambahan 500  kata baru. Seperti yang pernah saya sampaikan pada tulisan pembuka saya di edisi pertama kamus ini, yang terbit tahun 2004 lalu, kamus  seperti ini akan sangat dibutuhkan oleh orang Tapanuli dan Angkola  di berbagai kota, para generasi muda yang ada di daerah tersebut, dan dalam jagad keilmuan seperti linguistik, antropologi, sastra dan lmu  pengetahuan sejarah di Indonesia dan seluruh dunia. Kamus ini disusun dengan cermat setelah dilakukan kerja lapangan dan  pengujian dari buku-buku penting yang berkaitan dengan pembuatan  kamus ini, seperti novel berbahasa Angkola yang terbit tahun 1920an  yaitu novel Sitti Djaoerah,  yang tentunya tidaklah dibuat hanya untuk  menjadi buku yang menyimpan banyak kata namun dibiarkan berdebu  di rak buku.  Kiranya, kamus seperti Kamus Angkola/Indonesia ini dapat  menjadi katalisator yang memperkaya khasanah Bahasa Indonesia  dalam  kehidupan masyarakat saat ini dan juga masyarakat  dari berbagai  latar belakang.

Kamus seperti ini juga dapat membantu para siswa disekolah.   Mereka dapat menemukan betapa banyaknya buku-buku bahasa  Angkola di Tapanuli dan Medan yang dibuat selama masa  penjajahan  Belanda, sejak tahun 1910an sampai awal tahun  1940an.  Saya sangat berharap  buku-buku luar biasa sejenis  ini juga dapat dicetak ulang.

Selain itu, kamus yang luar biasa dan memuat ilmu pengetahuan luas  seperti kamus ini, memiliki sisi estetik berbahasa orang Sumatera yang  baik, juga dapat membantu para sarjana kita di Indonesia. Dan lebih  dari pada itu,  kamus ini juga bisa melestarikan kembali atau  menjaga  naskah-naskah penting pada masa lampau.  Pada masa dahulu itulah bahasa seperti  bahasa Angkola Batak  digunakan secara intensif pada novel, koran, buku  pelajaran dan  cerita rakyat. Karya sastra dengan bahasa daerah seperti inilah  yang kurang dikenal sekarang, bahkan di Indonesia.  Novel modern berbahasa  Indonesia seperti novel M. Rusli  Siti Nurbaya  dan novel milik Sipirok sendiri,  Azab dan Sengsara (oleh Merari Siregar) merupakan bacaan populer  untuk  para pembaca umum dan siswa sekolah menengah,  namun novel berbahasa Angkola dan novel berbahasa jawa  (misalnya) tidak dikenal luas.  Kamus seperti inilah yang dapat membantu para pembaca  mencerna bahasa  atau kata yang ada dalam buku atau novel  terbitan  lama tersebut, yang tidak hanya dapat mengetahui  sekedar  katanya saja tapi juga sisi estetik dari  makna kata  atau bahasanya bagi seluruh pembaca di Indonesa maupun  di dunia.

Ada¬†hal¬†baru¬†pada¬†Kamus¬†Angkola/Indonesia¬†edisi¬†kedua¬†ini,¬† yaitu¬†interaksinya¬† yang¬†baik¬†terhadap¬†beragam¬†daftar¬†dan¬† level¬†pidato¬†(bahasa)¬†Angkola.¬† Para¬†peneliti¬†kamus¬†tidak¬†hanya¬†mencari¬†dan¬†merangkum¬† bahasa¬†dan¬† percakapan¬†Angkola¬†sehari-hari¬†tetapi¬†juga¬† beragam¬†hal¬†mengenai¬†seni¬† berpidato¬†yang¬†tinggi,¬† sahut¬†menyahut¬†osong-osong¬†dan¬†senandung¬†ratapan¬† andung.¬† Dalam¬†hal¬†ini¬†penulis¬†menggambarkan¬†secara¬†mendalam¬†tentang¬† novel-novel¬†berbahasa¬†Angkola¬†yang¬†terbit¬†sejak¬†tahun¬†1910an¬† sampai¬†1930an¬† (yaitu¬†pada¬†karya¬†M.J.¬†Sutan¬†Hasundutan¬† Sitti¬†Djaoerah,¬†yang¬†sudah¬†disebutkan¬† diatas,¬† dan¬†juga¬†karya¬†Sutan¬†Pangurabaan¬†Pane¬†Tolbok¬†Haleon). Mereka¬†juga¬†menggambarkan¬†karya¬†lama¬†seperti¬†milik¬†Willem¬† Iskandar¬†Si¬†Bulus-Bulus,¬†Si¬†Rumbuk-rumbuk;¬† buku-buku¬†sekolah¬†dialek¬† Mandailing¬†dasar¬†yang¬†pertama¬†kali¬† diterbitkan¬†pada¬†tahun¬†1872. Buku¬†tersebut¬†sudah¬†tersebar¬†luas¬†diseluruh¬†Padangsidimpuan¬† dan¬†Sipirok,¬† karena¬†dialek¬†Mandailing¬†cukup¬†dekat¬† dengan¬†dialek¬†Angkola.¬† Buku¬†sekolah¬†tersebut¬†diajarkan¬†pada¬†generasi¬†muda¬†hingga¬† akhirnya¬†dilarang¬† oleh¬†Pemerintah¬†Kolonial¬†Belanda¬†yang¬† menganggap¬†bahwa¬†buku¬†itu¬†merupakan¬† buku¬†pemberontaK‚ÄĒBelanda¬†menganggap¬†bahwa ayat-ayat¬†yang¬†ada¬†pada Si¬†Bulus-Bulus dikutip¬†kembali¬†secara¬†rahasia¬†di¬†seluruh¬†Tapanuli Selatan¬†sebagai perkumpulan¬†yang¬†melawan¬†dominasi¬† politik¬†kolonial.¬† Setelah¬†Revolusi¬†Nasional,¬†Willem¬†Iskandar¬† tidak¬†hanya¬†membahas¬†mengenai¬† lagu¬†pujian¬†untuk¬†Tapanuli¬† Selatan¬† tapi¬†juga¬†tentang¬†perjanjian¬†ekonomi¬†dan¬† politiknya¬†yang¬†kembali¬†disusun.

Seperi kebanyakan kamus pada umumnya, Kamus Angkola/ Indonesia sebelumnya juga sudah pernah diterbitkan.  Angkola en Mandailing Bataksch-Nederlandsch Woordenboek karya  H.J. Eggink terbit tahun 1936 merupakan kamus Angkola klasik.  Tetapi sebagai seorang sarjana Belanda yang bekerja di zaman  kolonial, Eggink ternyata tidak menyentuh akses ke upacara horja   yang banyak menampilkan seni berpidato ritual yang tinggi.   Namun hal tersebut dialami oleh ke empat peneliti kamus  berikut ini;  Arden Siregar, gelar Baginda Habiaran;  Panangian Pane gelar Mangaraja Habonaran;  Dr. Aristides Marpaung; dan Parningotan Siregar gelar Baginda  Hasudungan Ompu Raja Oloan. Mereka menikmati upacara horja  itu secara langsung, karna mereka sendirilah si orator ulungnya.  Sayangnya sejak terbitan edisi pertama tahun 2004,  Mangaraja Habonaran, Dr. Aristides Marpaung dan Baginda  Hasudungan Ompu Raja Oloan telah meninggal dunia.  Beberapa warisan mereka akan selalu hidup pada proyek kamus  yang membanggakan ini, khususnya bagi generasi muda seluruh dunia.

Bapak¬†Arden¬†Siregar¬†bergelar¬†Baginda¬†Habaran,¬†yang¬†berusia¬† 74¬†tahun¬†pada¬†bulan¬†Mei¬†2012,¬†diberi¬†kehormatan¬†untuk¬†membawa¬† hasil¬†penelitian¬†tim¬†ke¬†edisi¬†kedua¬†kamus¬†ini.¬†Sebagai¬†pembaca,¬†kami¬† berhutang¬†rasa¬†terimakasih¬†kepada¬†tim¬†yang¬†telah¬†membantu¬† kami¬†untuk¬†menyambung¬†kelezatan¬†sebuah¬†bahasa¬†yang¬†mana¬† novelis¬†tahun¬†1920an¬†Sutan¬†Hasundutan¬†pernah¬†sekali¬†berkata¬† ‚Äútabo‚ÄĚ‚ÄĒbenar-benar¬†lezat!

Susan Rodgers, Ph.D. Professor, Anthropology, and W. Arthur Garrity, Sr., Professor Department of Sociology and Anthropology College of the Holy Cross Worcester, Massachusetts 01610 USA