The Dracula Return…

DraculaThe dracula return to d world…
The witch can not rest him anymore…
Just be careful…
Don’t forget to bring garlics where ever you go…

*sandi Lima Sekawan*

Hmmm…..

Tulisan ini sama sekali gak ada hubungannya dengan sinetron Ganteng-ganteng Srigala yang lagi tayang di SCTV..  Tak ada juga kaitannya dengan Twilight yang sukses tayang di bioskop2 di sepenjuru dunia.. Tapi ini adalah cerita real.., dengan tokoh yang perilakunya seperti drakula.. Menghisap darah orang-orang yang didekatinya.. Terutama dengan approaching yang luar biasa…

Mulai  minggu ini makhluk pengisap darah itu kembali gentayangan, setelah menjadi tawanan nenek sihir selama hampir 1,5 tahun…  Tak ada yang bisa aku lakukan untuk melindungi orang-orang yang menjadi sasarannya.. Karena aku tak tahu siapa mereka, dan itu bisa siapa saja.., dimana saja..  Sebaran geografis tak jadi masalah, kalau dilihat dari kasus2 sebelumnya..  Kita tak akan bisa mengenali si korban, sampai suatu waktu nanti, mungkin seperti yang sudah-sudah, ceritanya terbuka…  Lalu sebagian besar korban pun juga menjadi drakula yang mencakar orang-orang yang dia pikir menjadi saingannya…

Kalau ada makhluk yang gayanya begitu flamboyan seperti Don Juan De Marco, aku hanya bisa bilang.. Jangan percaya begitu saja… Periksa, periksa, periksa.. Periksa berpuluh-puluh kali periksa..  Kalau perlu hubungi siapa pun yg diduga pernah ada kaitan.. Jangan percaya pada keluarga drakula yang hanya diam seribu bahasa saat dikenalkan…

Bila dia menunjukkan sebuah akta untuk sebuah penawaran… Minta dia menunjukkan risalah yang menjadi catatan dalam proses penerbitan akta..  Kalau ada nama-nama tertulis di situ, cari tahu tentang mereka.. Hubungi.. Meski dilarang.. Meski dibilang kalau orang2 itu adalah para serigala yang menjadi musuh drakula…

Semoga tak ada lagi yang mejadi korban si drakula…***

Message In The Bottle

message-in-the-bottle1Beberapa minggu yang lalu sebuah pesan masuk ke inbox email Tati..  Isinya…

Hi , Sondha

Nama saya Nilton, saya seorang Dokter asal Timor Leste yg sekarang sedang mengambil program spesialis bedah di Kuala Lumpur Malaysia. Saya  penggemar berat khalil gibran, Nicholas spark, dan masih banyak lagi namun terutama kedua tokoh ini.

Ketika sedang mencari info tentang film message in a bottle ( saya pernah punya koleksi lengkap mulai dari DVD, CD dan bukunya baik dlm bhs inggris maupun indonesia, tapi sayangya semua tetinggal di  Timor Leste), saya menemukan profile dan email addrs. anda di internet dan saya senang karena kita punya kesamaan dalam kekaguman terhadap karya seni dari Nicholas Spark.

Saya mo minta tolong nich, boleh nggak kirimin saya isi dari surat2 Garret Blake yang ada dlm botol itu dan juga surat terakhir dari Cathrine yg kemudian ditemukan oleh Blake di rumah Theressa…

I would realy appreciate if u can help me sending those letters or at least Cathrine’s last letter, coz i’ve tried to look for it here in Kuala lumpur but its so hard to find it.

Thanks

Kayaknya teman kita ini membaca tulisan Tati yang ini kali yaa…
Tati mencoba mencari buku Message in The Bottle di Gramedia, but there’s no stock anymore.  Lalu Tati mencoba meminjam kembali DVD Message in The Bottle ke Venny, teman Tati di kantor yang lama..  Dapat siyy, tapi kesibukan dan kemudian kondisi kesehatan membuat Tati gak sempat-sempat buat nonton kembali film ini dan mengamati secara detail isi surat2 yang ditemukan di dalam botol2 yang dihanyutkan ke laut…  Baru tadi malam sempat dilakukan..
So, Nilton, here the messages…  I hope they can make you happy…

The 1st Message  in the Bottle  that found by Theressa on the shore

Dear Catherine

I’m sorry I haven’talked to you in so long
I feel I’ve been lost, no bearings, no compass.
I kept crashing into things, a little crazy I guess
I’ve never been lost before
You are my true north
I could always steer for home when you are my home

Forgive me for being so angry when you left
I still think some mistake’s been made
An I’m waiting for God to take it back

But I’m doing better now
The work helps me
Most of all you help me

You came into my dream last night with that smile..
That always held me like a lover
Rocked me like a child
All I remember from the dream is a feeling of peace
I woke up with that feeling, and tried to keep it alive as long as I could

I’m writing to tell you that I’m on a journey toward that peace.
And to tell you I’m sorry about so many things.
I’m sorry I didn’t take better care of you
So that you never spent one minute being cold or scared or sick.
I’m sorry I didn’t try harder to find the words to tell you what I was feeling.
I’m sorry I never fixed the screen door. I fixed it now.
I’m sorry I ever fought with you.
I’m sorry I didn’t apologize more.
I was too proud.
I’m sorry I didn’t bring you more compliments on everything you wore and every way you fixed your hair.
I’m sorry I didn’t hold on to you with so much strength that even God couldn’t pull you away.
All my love, G.

 

The 2nd  Message in the Bottle.  Sent by someone to Theressa after  publication of the 1st message

Dear Catherine

There isn’t an hour of my life without you in it.
I mend the boats, test them, and all the while the memories come in like the tide.
I was thinking the day of when we were young, and you left our world for a bigger world.
I was a lot more scared then I would admit.

I fought my fear by telling myself you’d come back someday..
And trying to think of the first thing I’d say to you when I saw you again.
I must have tried out 100 possibilities.
What did I finally say?
Not much.
My mouth wouldn’t work, except to kiss you.
And when you say, “I’m here to stay”, that said it all.
Well I’m doing it again.
I keep imagining what I’d say to you if somehow you came back.


The 2 messages were made by Garrets.  But Theressa has another message that sent to her after the publication.  She thought it also made by Garrets.  But after Garrets said that he only sent 2 messages, they realized that the 3rd message was made by Catherine. Garrets saw her thrown a bottle to the sea 3 days before she passed away.  Here the mesaage…

light-house


To all the ships at sea and all the ports of call
To my family
And to all friends and strangers
This is a message and a prayer
The message is that my travels taught me a great truth.
I already had what everyone is searching for..
And few ever find;
The one person in the world who I was born to love forever.

A person like me, of the Outer Banks..
And the blue Atlantic mystery.
A person rich in simple treasures..
Self-made, self-taught.
A harbor where I am forever home.
And n0 wind or trouble..

Or even a little death can knock this house.
The prayer is that everyone in the world can know this kind of love.
And be healed by it.
If my prayer is heard, then there will be an erasing of all guilt..

And all regret.
And an end to all anger..

Please God
Amen.

Nonton Bareng "Apa Kata Dunia?" …..

Di awal minggu ini Tati nelpon Venny, secara udah 2 minggu kita gak ketemu setelah pergi nonton Tarix Jabrix di suatu minggu sore.. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kita janjian buat Nonton Nagabonar di akhir pekan kali ini.. Tati pengen nonton, setelah ngeliat berita tentang adanya upaya memproses film Nagabonar lama menjadi layak tayang di masa kini…

Eh, dua hari yang lalu Venny nelpon, ngasi tau kalo dia dapat dari Mamanya 2 (dua) tiket Nontong Bareng Nagabonar dengan Gubernur Riau hari Sabtu, 24 Mei 2008 di Riau 21. So, kita bisa nonton film yang kita inginkan dengan gratizzz…. Asyyiikkk….!!!

So, kemaren sore Tati pergi deh dengan Venny ke Mal Seraya tempat dimana Riau 21 berada… Nyampe sana.., ternyata ada boss Tati dan keluarganya juga.. Ternyata, untuk sore ini pemutaran film Nagabonar di studio 1 Riau 21 memang di-block oleh Pemerintah Provinsi Riau dalam rangka memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, dan tiketnya dibagi2kan ke masyarakat..

Beberapa menit menjelang jam 17.00, Gubernur Riau bersama beberapa pemeran tokoh2 di film tersebut, antara lain Dedi Mizwar (Nagabonar), Nurul Arifin (Kirana) dan Afrizal Anoda (si Bujang yang mati dimakan cacing), muncul di lobby bioskop. Tampak hadir juga Mi’ing Bagito dan seorang pelawak yang kerap muncul di TV tapi Tati gak ingat namanya..

Setelah didahului dengan kata sambutan Gubernur, yang telah direkam sebelumnya, acara nonton dimulai..

Film ini benar2 jadi makin asyik buat ditonton.. Apalagi sound-nya jadi luar biasa setelah memanfaatkan teknologi saat ini. Ada di suatu scene, saat Emak si Nagabonar memanggil2 anaknya yang “jendral”, suara si Emak yang cempreng muncul dari speaker yang berada di belakang penonton, sehingga kesannya suara itu datang dari luar layar yang sedang menayangkan gambar Nagabonar.. Kerja yang luar biasa dari pihak yang memproses ulang film ini…

Buat Tati, ada rasa tersendiri menonton kembali film ini. Saat film ini dibuat tahun 1987, adalah masa2 Tati masih mahasiswa dan tergila2 dengan yang namanya bioskop. Masa dimana hampir tiada minggu yang tidak diisi dengan acara nonton. Tati udah gak ingat di bioskop mana Tati menonton film ini.. Entah di bioskop Sukasari atau di Galaxy-Century Tajur. Juga entah dengan siapa…

Kalo dulu rasanya film ini dimata Tati adalah film humor dengan setting perang kemerdekaan, dengan tokoh pencopet yang dodol dan menjadi pahlawan karena situasi perang. Kali ini Tati melihat bahwa Nagabonar adalah tokoh yang cerdas, punya hati dan sensitif dibalik segala ke-dodol-annya.. Naga adalah sosok cerdas yang gak makan sekolahan tapi jauh lebih cerdas dari anak buahnya yang makan sekolahan (Tati lupa siapa nama tokoh yang diperankan oleh Wawan Wanizar ini). Nagabonar juga mewakili sosok yang gak makan sekolahan tapi jauh lebih punya hati dari anak buahnya yang makan sekolahan tapi otaknya lebih mikirin keuntungan pribadi di zaman susah, dengan bisnis beras dan muasin syahwat sehingga menyebabkan anak gadis orang hamil di luar nikah. Semoga tokoh Nagabonar bisa menjadi cerminan bagi kita2 generasi Indonesia saat ini yang jauh lebih makan sekolahan dari pada Nagabonar, agar kita bisa menjadi lebih cerdas dan punya hati dalam berpikir dan bertindak…

Aktingnya Dedi Mizwar di film ini memang luar biasa… Salut banget… Bahasa tubuhnya bener2 menghidupkan sosok Nagabonar sehingga benar2 terlihat dodol banget.. Sekali lagi salut buat abang kita yang satu ini.. Semoga beliau diberi umur yang panjang, keteguhan hati dan energi yang besar untuk berperan dalam menjayakan film Indonesia kembali. Sehingga industri film kita tidak hanya memproduksi film2 hantu dan komedi sex (mengutip kata2 Dedi Mizwar dalam sambutannya).

Tapi di sisi lain, Tati mikir apa masih ada ya sosok dengan pikiran seperti Kirana di masa sekarang, di masa tuntutan akan “penampilan” dan materi yang semakin kuat..? Mudah2an masih ya.. Mudah2an manusia2 Indonesia bisa menjadi manusia 2 yang bisa membaca dengan hati, tidak sekedar melihat segala sesuatu dari cover-nya…

Puas dengan film yang luar biasa ini, para penonton memberikan standing ovation bagi para pendukung film yang hadir dalam acara nonton bareng ini. Mereka didampingi Gubernur Riau maju ke bagian depan studio, untuk menerima penghormatan dari penonton. Dedi Mizwar dalam kesempatan ini menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Riau yang sudah mendukung upaya menghidupkan kembali industri film Indonesia. Dan menurut Dedi bukan tidak mungkin suatu saat Riau akan bisa menjadi salah satu daerah di Indonesia yang berperan besar di dalam industri film Indonesia.

Waduh gimana reaksi Nanda (besar) kalo denger omongan Dedi Mizwar ini ya…? Sorry ya Nan, Tati nonton bareng sama tokoh idola Nanda, di Pekanbaru pulaaa…. Hehehe..


Tidur Di Atas Cabe Merah…

Gimana rasanya tidur di atas tumpukan cabe merah? Mungkin yang tau persis rasanya, selain para juragan cabe merah adalah Aishwarya Rai dan Dylan Mc Dermot… Kok?

Ceritanya setelah direkom Venny Yogya buat nonton The Mistress of Spices… Tati berusaha nyari VCD/DVD film tersebut.. Secara, film tersebut pastila udah lewat dari waktu beredarnya di Pekanbaru.. Iya niyy, Tati tuh entah kenapa gak apdet banget dengan film2 yang sedang beredar sejak tinggal di Pekanbaru.. Mungkin karena gak punya teman buat nonton ya…? Nah Tati baru nemu DVD-nya minggu lalu saat pergi makan siang ama Boge, teman kantor Tati.

Film ini sebenarnya film yang rada2 mistis.. Maksudnya..? Iya fim ini tentang kekuatan magis dari seorang perempuan India, namanya Tilo (Aishwarya Ray), yang punya kekuatan supranatural yang belajar tentang kekuatan magis dari rempah2 yang digunakan untuk menolong orang2..

Untuk mempertahankan kemampuannya, ada pun tiga syarat yang harus dipatuhi. Yaitu : tidak boleh bersentuhan dengan manusia lain, tidak boleh keluar dari tokonya, The Spicy Bazaar, dan gak boleh dimanfaatkan buat kepentingan dirinya sendiri.. Syarat ini sama sekali gak boleh dilanggar. kalo dilanggar justru dia akan mendapat bencana dan kehilangan kekuatannya..

Tapi… sebagai seorang perempuan, Tilo juga gak sanggup menolak saat cinta datang..

Nah di sini sebenarnya yang menarik menurut Tati. Pilihan Tilo adalah menikmati cinta, meski hanya sesaat Untuk kemudian meninggalkan cinta dan kembali pada komitmennya pada rempah2… Tapi karena ini film, yang merupakan hasil imajinasi sang penulis cerita yang menginginkan happy ending, pengorbanan Tilo yang berani meninggalkan cinta setelah menikmatinya sesaat dianggap pengorbanan yang luar biasa, sehingga kesalahan2nya bisa dimaafkan. Dan dia bisa tetap menjadi The Mistress of Spices sekaligus hidup bahagia dengan lelaki yang dicintainya. Di bagian akhir film ini Tilo dan kekasihnya digambarkan berbaring di atas tumpukan cabe merah.. Apa gak panas, ya…?

Pilihan Tilo untuk mengikuti panggilan cinta, meski hanya menjanjikan kebahagiaan sesaat dan penderitaan setelahnya, seringkali juga menjadi pilihan kita para wanita (terutama yang masih belia). Tapi temans, hidup kita bukan film romance yang selalu berakhir dengan “they live happily ever after”.. Ada banyak akibat yang harus kita tanggung, ada keluarga yang harus kita tenggang perasaannya, kita jaga kehormatan dan nama baiknya.. Ada aturan agama yang harus kita pegang teguh..

Tati yakin, laki2 yang baik akan mencari perempuan yang baik sebagai pasangan hidupnya. Bukan justru mengajak orang yang dia cintai tenggelam dalam perayaan cinta sesaat, lalu kemudian tenggelam dalam penderitaan yang panjang…

Mudah2an cerita tentang pasangan yang tidur di atas tumpukan cabe bisa menghibur kita tapi tidak menginspirasi kita untuk menikmati perayaan cinta sesaat.. Amin.

Prime…

Film ini bercerita tentang Raffi (Uma Thurman), yang baru divorce dan selalu berkonsultasi dengan seorang therapist (Meryl Streep) untuk mengatasi masalah psikologisnya. Di depan sebuah bioskop, Raffi, yang akan nonton dengan teman2 dekatnya berkenalan dengan Dave (Bryan Greenberg). Mereka saling tertarik at d 1st sight, dan Dave kemudian menelpon Raffi untuk mengajak makan malam.. Selanjutnya, Raffi dan Dave terlibat hubungan special yang unik karena Raffi berusia 37 tahun dan Dave baru berusia 23 tahun. Di tengah rasa cinta yang membara, mereka menemukan berbagai masalah karena perbedaan umur. Dave yang belia masih dalam proses pencarian jati diri, terutama mengenai pekerjaan : Dave yang senang melukis pengen bekerja sebagai pelukis, tidak mendapat dukungan keluarganya karena buat mereka menjadi pelukis bukanlah caree yang ok. Masalah mereka bertambah rumit karena keluarga Raffi yang Jewish sangan berpegang pada nilai2 Jewish, dan ingin anaknya membina hubungan dengan perempuan Jewish juga. Dan… puncak masalah mereka adalah… si terapist yang selama ini selalu mendukung Raffi untuk memulai hidup baru dan menikmati hubungan barunya dengan seseorang yang lebih muda, ternyata adalah ibu Dave, yang tidak menginginkan anak lelakinya menikah dengan perempuan yang jauh lebih tua dan bukan Jewish pula..

Hubungan yang sangat baik antara Raffi dan terapistnya menjadi berantakan, saat si terapist berterus terang bahwa Dave adalah putranya, dan dia tidak bisa melanjutkan proses konseling pada Raffi, karena sebenarnya selama ini dia memberikan konseling yang gak sesuai dengan hati nuraninya sebagai seorang ibu.

Namun cinta Dave pada Raffi membuat Dave berupaya agar keluarganya bisa menerima Raffi.. Di satu sisi, persahabatan yang pernah terbina antara Raffi dan ibu Dave menimbulkan rasa rindu yang membuat mereka tidak bisa membenci satu sama lain di tengah situasi yang kacau.. Akhirnya.. keluarga Dave bisa menerima Raffi dengan segala keadaannya : bukan Jewish dan jauh lebih tua dari anak mereka. Tapi justru Raffi yang mengambil keputusan yang luar biasa… Meminta Dave memutuskan hubungan mereka karena Dave perlu menikmati kehidupannya yang masih belia, dan tidak mengambil tanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga sebelum dia benar2 dewasa dan mature..

Film yang dikemas dalam comedy tapi memberikan beberapa pikiran tentang “what the love is”, Love yang tidak buta, penuh pertimbangan dan bijak demi yang terbaik bagi orang yang dicinta…!!

Keluarga Batu …..

Sabtu kali ini Tati benar2 seharian di rumah.. Gak kemana2.. Bahkan gak keluar dari rumah sama sekali.. Pengennya istirahat karena lengan dan punggung masih terasa sakit akibat menahan tubuh saat tergelincir di tangga kantor yang curam hari kamis yang lalu.. Iya, gak tau bagaimana di tangga kantor ada ceceran minuman. Pas Tati turun ke lantai 1 (ruang kerja Tati di lantai 3), Tati tergelincir… Rasa takut kepala dan bokong terbanting sehingga berakibat fatal mebuat Tati berusaha bertahan dengan menggenggam erat pinggiran tangga erat2.. Tati sempat tergelincir melewati beberapa anak tangga. Tapi Alhamdulillah, tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk.., hanya tangan dan punggung yang terasa nyeri karena tertarik pada saat berusaha bertahan agar tidak meluncur…

Karena badan rasanya masih nyeri, Tati memutuskan enggak keluar rumah… Sarapan? Masih ada beberapa potong roti.. Makan siang? Mengandalkan delivery service lah… apalagi! Terus ngapain di rumah…? Nonton VCD.. Kebetulan ada yang udah dibeli lama, bahkan sebelum bulan ramadhan, tapi belum sempat ditonton.. Judulnya THE FAMILY STONE… alias KELUARGA BATU..

Film ini bercerita tentang perkenalan dan adaptasi sebuah keluarga, the Stone, dengan calon menantu mereka… , Merredith (Sarah Jessica Parker). The Stone Family adalah keluarga yang luar biasa dengan anggota keluarga yang luar biasa : Ayah dan Ibu (Diane Keaton) yang begitu mencintai anak2nya, whoever they are.., Everett (Dermot Mulroney) si sukses yang selalu ingin sempurna, Sussanah si baik hati, Patrick yang gay & tuna grahita serta hidup bersama Phill pasangannya yang Afro-America, Ben yang santai dan baik hati, serta Ammy si bungsu. They’re close to each other, saling melindungi dan menginginkan yang terbaik buat anggota keluarganya… Sementara Merredith orang yang jaim abis2an dan kaku banget… (luar biasa deh kakunya…, dan Parker melakoninya dengan baik banget sampai Tati jadi pengen nge’gaplok si Merredith!!! Hehehe).

Ammy yang sebelumnya pernah bertemu dengan Merredith saat makan malam bersama dengan Everett menceritakan apa pendapatnya tentang Merredith pada anggota keluarga yang lain. So kedatangan Everett dengan Meredith untuk merayakan christmast bersama keluarga Stone ditunggu dengan bisik2 penuh rasa ingin tahu di keluarga Stone. Sementara, Merredith yang sebenarnya baik hati cuma gak pede meski she’s a very successful executive, karena pengen diterima oleh keluarga Stone malah semakin kaku dan serba gak menentu aja jadinya…

Film ini juga menggambarkan tentang pengenalan diri dan pemahaman tentang cinta.. (Because sometimes we think we love somebody, padahal…?). Ini benar2 film yang seru dan sangat layak buat ditonton. Selain karena emang ceritanya asyik dan penuh makna, juga bisa jadi pelajaran buat kita.. Karena kita orang Indonesia, yang ikatan keluarga dan rasa memiliki antar anggota keluarga juga kuat, sering kali sulit menerima seseorang yang kelihatannya berbeda untuk menjadi bahagian keluarga kita…

Mudah2an film ini bisa memberikan kita rasa untuk lebih mengerti orang lain, meski kelihatannya mereka berbeda dengan kita. Bukankah perbedaan justru bisa memperkaya kita..? Bukankan lukisan yang monotone, memberikan kesan nyaman pada awalnya namun sering kali menimbulkan rasa bosan pada saat berikutnya..?***

Breaking and Entering…

Minggu pagi kali ini diisi dengan nonton vcd yang dibeli hari Jum’at yang lalu waktu ke Mall Seraya dengan Eko saat istirahat siang. Judulnya BREAKING AND ENTERING.. Film ini disutradarai oleh Anthony Minghella, yang juga menyutradarai English Patient dan Cold Mountain (ini film yang bagus banget, tentang cinta, penantian, kesetian dan takdir seseorang).

Film ini bercerita tentang Will, Jude Law, seorang arsitek lingkungan yang bersama partner-nya memutuskan untuk menggunakan sebuah gudang tua di King’s Cross, kawasan kumuh di London, sebagai kantor. Lokasi yang “ajaib” ini membuat kantor Will menjadi sasaran pencurian berkali-kali, meski mereka telah memasang security system yang canggih. Ternyata pencuri masuk dari bagian atap gedung yang terbuat dari kaca, dan mengetahui password untuk meng-non-aktif-kan alarm. Hal ini menimbulkan rasa curious Will dan partner-nya. Sehingga mereka melakukan pengintaian bermalam2…

Pada suatu penintaian, Will akhirnya melihat si pencuri sedang berupaya memasuki kantornya. Will lalu mengejar si pencuri yang ternyata seorang anak lelaki yang masih di bawah umur. Will lalu menguntit anak tersebut dan mengetahui tempat tinggal anak tersebut bersama ibunya yang seorang penjahit.

Untuk memperoleh bukti2 lebih lanjut, Will berpura2 membutuhkan tenaga penjahit untuk memperbaiki pakaian kesayangannya yang robek. Dan saat melakukan fitting pakaian yang telah diperbaiki, di kamar anak lelaki si tukang jahit, Will menemukan berbagai property2 perusahaan2nya.. Tapi masalah baru muncul, Will yang sudah beristri (Robin Wright Penn) jatuh cinta pada Amira (Juliete Binoche), ibu si pencuri, yang sebenarnya seorang perempuan Bosnia yang melarikan diri dari pendudukan Serbia di negerinya. Sementara si anak yang bernama Mirsade, sebenarnya berayahkan seorang Serbia, dan saudara ayahnya yang juga menetap di London yang menyuruh Mirsade mencuri.

Untuk menyelamatkan masa depan Mirsade yang akhirnya tertangkap oleh Polisi Kota London, berbagai pihak yang terlibat, Will, Amira dan istri Will harus melakukan poengorbanan. Apa yang mereka lakukan…? Ditonton aja kali ya…. Yang jelas, dusta yang harus dilakukan suatu pihak, yang justru paling tersakiti dalam konflik yang terjadi, sungguh pengorbanan yang luar biasa. Yang mungkin dilakukan atas nama cinta dan kemanusiaan.

Yang jelas ada satu konsep yang dibawa film ini, UNTUK MEMBANGUN SESUATU YANG BARU, SESUATU YANG LAMA KADANG KALA PERLU DIHANCURKAN TERLEBIH DAHULU. Apa anda sependapat ?***

Breaking And Entering…

Minggu pagi kali ini diisi dengan nonton vcd yang dibeli hari Jum’at yang lalu waktu ke Mall Seraya dengan Eko saat istirahat siang. Judulnya BREAKING AND ENTERING.. Film ini disutradarai oleh Anthony Minghella, yang juga menyutradarai English Patient dan Cold Mountain (ini film yang bagus banget, tentang cinta, penantian, kesetian dan takdir seseorang).

Film ini bercerita tentang Will, Jude Law, seorang arsitek lingkungan yang bersama partner-nya memutuskan untuk menggunakan sebuah gudang tua di King’s Cross, kawasan kumuh di London, sebagai kantor. Lokasi yang “ajaib” ini membuat kantor Will menjadi sasaran pencurian berkali-kali, meski mereka telah memasang security system yang canggih. Ternyata pencuri masuk dari bagian atap gedung yang terbuat dari kaca, dan mengetahui password untuk meng-non-aktif-kan alarm. Hal ini menimbulkan rasa curious Will dan partner-nya. Sehingga mereka melakukan pengintaian bermalam2…

Selanjutnya…

The Namesake…

Akhir pekan sebelum puasa, salah satu vcd yang Tati beli judulnya The Namesake. Film ini film tentang orang Amerika keturunan India (Benggali), yang mencari identitas diri. Tati jarang banget nonton film India, tapi film yang ini Tati pengen nonton karena menyangkut pencarian “akar” di tengah dunia yang berbeda…

Ngomong2 film India… Waktu kecil, karena (alm) Ibu dan (alm) Tante Mong, adik ibu, suka banget nonton film India, Tati, kalo gak salah ingat, sering dibawa ke bioskop Astanaria yang berlokasi di daerah Pajak (pasar) Pringgan Medan buat nonton film India. Bioskop ini kalo gak salah, udah ditelan zaman deh.. Tapi setelah bisa pergi nonton sendiri, Tati tuh rasanya ogah ngeluarin duit buat nonton film India. Geli aja rasanya ngeliat, orang ketemu tembok terus nyanyi…, ketemu sapi nyanyi… Pake adegan kejar2an di taman bunga… Haaallllaaaah…. Oging gue …!!!
selanjutnya….

The Namesake…

Akhir pekan sebelum puasa, salah satu vcd yang Tati beli judulnya The Namesake. Film ini adalah film tentang orang Amerika keturunan India (Benggali), yang mencari identitas diri. Tati jarang banget nonton film India, tapi film yang ini Tati pengen nonton karena menyangkut pencarian “akar” di tengah dunia yang berbeda…

Ngomong2 film India… Waktu kecil, karena (alm) Ibu dan (alm) Tante Mong, adik ibu, suka banget nonton film India, Tati, kalo gak salah ingat, sering dibawa ke bioskop Astanaria yang berlokasi di daerah Pajak (pasar) Pringgan Medan buat nonton film India. Bioskop ini kalo gak salah, udah ditelan zaman deh.. Tapi setelah bisa pergi nonton sendiri, Tati tuh rasanya ogah ngeluarin duit buat nonton film India. Geli aja rasanya ngeliat, orang ketemu tembok terus nyanyi…, ketemu sapi nyanyi… Pake adegan kejar2an di taman bunga… Haaallllaaaah…. Oging gue …!!!

Tati nonton film India setelah dewasa itu, pertama kalinya di Yogya… Film apa? Kuch kuch Ho Ta Hai.. Kok bisa mau nonton film itu? Tati sebenarnya gak mau nonton…, sumpah…!!! Terus… waktu itu Ical, teman kuliah di Yogya yang suka banget main ke rumah (kost2nya deketan), datang ke rumah ngebawain VCD Kuch Kuch Ho Ta Hai …

Ical bilang : “Mbak Sondha, ini ada film bagus. Nonton deh.”
Tati : :Film, apa ‘Cal?”
Ical : “Film India, mbak. Judulnya Kuch kuch Ho Ta Hai.”
Tati : “Ogah, ah.. Geli gue nonton film India. Gak mau.”
Ical : “Nonton deh, mbak. Bagus beneran.”
Tati : “Engggggggggaaaaaaaaaaaaak mau!!”
Ical : “Saya tinggal di sini aja VCDnya, ya mbak. Biar kalo ntar mbak berubah pikiran (emang gua gila apa “berubah pikiran”,hehehe), bisa nonton. ”
Tati : “Bawa aja ah.. Gak mau gue.”
Ical : “Coba dulu lah, mbak.”
Tati : “Kok, kamu ngotot sih?”
Ical : “Mbak, aku tuh kalo nonton apa2 gak pernah deh pake rasa2.. Eh, nonton film ini aku tuh nangis, mbak. Aku pengen tau, mbak kalo nonton ini nangis juga gak?” Hayyyyyyyaaaaahhhh, maksudnya gitu lho…?

Tati akhirnya nonton juga… Dan nangis juga waktu liat adegan si anak bacain puisi “Mother”. Hehehehe. Ical emang bokis….

Tati jadi kangen teriakan Ical tiap pagi di depan rumah buat nyari teh anget di tempat kost Tati… “Mbak Sondha..!! Assalammualaikum..”
Terus kalo udah masuk, mulai deh Ical ngoceh “Punya teh anget, mbak? Tuan rumah yang baik itu biasanya… bla bla bla bla.” Hehehe…
Tati pernah nanya ke Ical, kenapa suka ke rumah Tati pagi2 nyari teh anget? Ical bilang, kalo di tempat kostnya mau bikin teh anget kan dia mesti masak air panas dulu, dia malas ngerjainnya, jadi mendingan namu aja pagi2 ke rumah Tati. Dasar…!!! Ical lebih senang lagi kalo Tati ngeluarain roti pandan yang di tengahnya ada roti putih diisi raisin. Merknya Roti DIKA… Biasanya, mobil toko yang jual roti ini suka nongkrong di depan kantor BRI di seberang Hotel Santika Jl. Jend. Sudirman Yogya… Jadi ngileeeerrrrr… Masih jualan gak, ya…?

Back to main topic.. :
Setelah Kuch Kuch Ho Ta Hai, Tati nonton film India tapi produksi Hollywood tuh ada dua, Bend It Like Beckham dan Bride & Prejudice. Dan dikedua film itu, gak ada acara ketemu tembok nyanyi, ketemu sapi nyanyi… Hehehe. Jadi asyik lah buat ditonton, gak nyebelin…

The Namesake, bercerita tentang A Young India American Man, yang orang tuanya lahir di India dan merantau ke Amerika. Sementara si orang muda dan adiknya lahir dan besar di Amerika. Problem terbesar si orang muda itu adalah “Nama-nya”. Dia diberi nama ayahnya “Gogol” diambil dari nama pengarang buku Overcoat, Nikolai Gogol yang berasal dari Rusia. Buat si Gogol, nama-nya yang gak keren itu, jadi beban.. Ditambah lagi, pengaruh lingkungan yang sangat Amerika, sementara ayah dan ibunya sangat menganut nilai2 India, meski hidup dengan tata cara Amerika.

Film ini kayaknya bagus deh buat ditonton oleh orang muda dan yang merasa masih muda, untuk bisa memahami bagaimana kita harus menerima dan memegang “akar budaya” sekaligus bisa hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan akar budaya kita. Buat para orang tua dan calon orang tua, kayaknya film ini juga bagus, untuk melihat contoh orang tua yang berusaha untuk bijak menghadapi pilihan2 hidup anak2nya..***

A Good Year

Setelah wara wiri dari pagi sampai siang…, leyeh2 di tempat tidur sambil nonton adalah kegiatan yang menyenangkan… Ditambah pula udara yang dingin dan lembab karena hujan yang turun terus menerus dari siang…, nikmat banget rasanya bisa bergelung dengan selimut sampai di leher… Plus pake training dan pullover.., jadi ingat baju2 kebangsaan jaman masih tinggal di Bogor..

Asyiknya nonton film apa ya…? Pilah pilih pilah pilih… Tati akhirnya mutusin buat nonton “A Good Year” yang baru aja dibeli siang ini di Disc Tara, Mall SKA.

Film ini dibintangi Russel Crow, yang berperan sebagai Maximmillian, orang Inggris yang kerja di London Stock Exchange, berjiwa spekulan dan luar biasa cerdas di bidangnya. Maximmilian dinyatakan sebagai ahli waris dari Henry, pamannya yang meninggal dan tidak mencantumkan satu nama pun sebagai ahli warisnya. Warisan itu berupa sebuah château dan kebun anggur di Perancis, tempat dimana Henry menetap bertahun2. Secara Max punya otak dan jiwa business, dia berencana untuk menjual seluruh peninggalan Henry… Tapi kemudian, rasa cinta Max pada Henry yang pernah memberikan satu musim panas yang istimewa buat Max, yang orangtuanya entah kemana, merubah Max, membangkitkan sisi jiwa yang bertahun2 terabaikan..

Detilnya dan akhirnya…? Mungkin lebih baik teman2 nonton sendiri aja ya… Karena pasti akan lebih asyik… Tati paling sebel kalo belum nonton suatu film tapi terus diceritain lengkap2.. karena akan kehilangan kesempatan untuk menemukan kejutan2 yang ada dalam sebuah film… Gak excited lagi…!!! Rugi donk udah keluar duit… Hehehehe…

Tapi, buat Tati “A Good Year” tidak memanjakan penontonnya dengan pemandangan perkebunan anggur Perancis yang indah… Kalah deh dengan yang diberikan film “Under the Tuscan Sun” yang dibintangi Diane Lane… Film yang satu ini, benar2 menyajikan gambar2 daerah Tuscan yang luar biasa indah dan colorfull…

“A Good Year” kalah juga dengan keindahan gambar di film A Walk in the Cloud yang dibintangi Keannu “Speed” Reaves, yang juga bersetting perkebunan anggur, tapi di Amerika… A Walk in the Cloud malah memberikan suatu adegan yang sexy dan indah banget.. Yaitu adegan para pemilik kebun anggur harus mengepak-ngepakkan “sayap” di antara pohon2 anggur untuk menyebarkan uap panas yang akan menghangatkan buah2 anggur yang siap dipetik, supaya gak frosted.. Bener2 adegan yang indah..***

Akeelah N d Bee

Tadi malam, setelah selesai beres buat pulang ke Medan ntar sore Tati sempat2nya tergoda dengan DVD yang dibeli weekend yang lalu tapi belum sempat ditonton. Judulnya Akeelah and the Bee..

Film ini bercerita tentang anak perempuan berusia 11 tahun,namanya AKEELAH ANDERSON yang suka sekali dengan spelling (mengeja), dan itu merupakan cara dia buat mengalihkan kesedihan atas kematian ayahnya pada saat dia berusia 6 tahun. Karena nilai ulangan mengeja (kalo dikita imlak kali ya?) bagus terus, dia ditawari untuk ikut spelling bee, mulai dari tingkat sekolah..

Apa itu Spelling Bee? Spelling Bee adalah kontes mengeja buat anak usia 12 -14an tahun di US. Bahkan kontes ini sampai bertaraf nasional.. Belajar mengeja bukan hanya menghafal kata2, tapi juga mempelajari dari mana asal kata2 tersebut, apa kata dasarnya dsb dsb..

Film ini kayaknya asyik buat ditonton bersama2 dengan keluarga, karena mengajarkan rasa cinta kasih, persahabatan dll, selain semangat untuk maju dan bertanding dengan sportif.. Tapi ada satu quotation yang Akeelah disuruh Coach-nya baca keras2 pada hari pertama dia belajar…

Our deepest fear is not what we were inadequate
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure
We ask ourselves,
Who am I, to be brilliant, gorgeous, talented and fabulous?
Actually, who are you not to be?
We were born to make manifest,
The glory of God that is within us
And as we let our own light shine,
We unconsciously give other people permission to do the same..

Terkadang, kita terbenam dalam masalah2 kehidupan sehingga kita kadang lupa dengan our goal…***