Posted in My Heart, Tukang Jalan

Thank you, foot ! 

img1490070163776.jpg

Kemaren saat duduk menghadiri sebuah acara di ballroom hotel,  aku tak sengaja memandang kalian yang menyentuh lantai.  Satu per satu. Kanan. Kiri. Bergantian. Kalian yang dibungkus si biru yang casual.

Tiba-tiba diriku terpikir betapa luar  berjasanya kalian berdua bagiku.  Kalian mendukung diriku sejak awal kehidupanku di dunia.  Sejak aku mulai bisa merangkak, kalian membawa tubuhku berpindah dari satu titik ke titik, dari satu ruang ke ruang lain, dari satu tempat ke tempat lain.  Kalian yang selalu membawaku ke  ke sini dan ke sana, kemana-mana.

Kalian tentu kadang merasa tak nyaman dengan hobbyku berjalan kaki menyusuri ruang-ruang terbuka.  Sesekali juga ruang-ruang tertutup.  Bobotku yang menurut orang-orang kurang seimbang dengan ukuran kalian yang relatif mungil, 39.  Apa lagi kebiasaanku melangkah dengan cepat, bahkan kadang seperti setengah berlari, tentu membuat beban kalian terasa berat.   Tapi kalian tetap mendukung dan mengikuti kehendak hati dan pikiranku. Terima kasih ya !

Meski di sepanjang kebersamaan kita aku lebih sering memberikan sneakers  atau keds loafers, mary-jane dan wedges sebagai alas dan pelindung kalian, aku mohon maaf bila dulu diriku juga acap kali bersikap kurang bijak dengan memakaikan kalian alas kaki bertumit tinggi dan kurang nyaman di berbagai aktivitas.  Semua itu hanya agar terlihat  gaya, keren dan lebih feminim (oh no !).   Maafkan diri ini sangat jarang memanjakan kalian dengan pijitan dan pedicure, atau sekedar rendaman di air hangat bergaram.   Mohon maaf juga bila ucapan terima kasih pun langka terucap.

Tapi setelah begitu banyak perlakuan kurang ramah dari diri,  aku berharap kalian tetap mendukungku untuk menjalani kehidupan, meraih impian.  Aku berharap, berdoa, agar Pemilik kalian, berkenan meminjamkan kalian untuk menemaniku, mendukungku sampai akhir hayatku.

Aku sayang kalian.  Aku cinta kalian, kaki-kakiku. ♡♡♡***

Posted in My Family, My Mind

Arti Sebuah Nama..

Nama menurutku adalah pemberian orang tua yang tak hanya melekat pada jazad seorang anak manusia sejak dilahirkan ke muka bumi, tapi nama melekat juga di ruh, bahkan mungkin sampai di hari akhir nanti.

Nama adalah identitas, doa dan harapan orang tua pada anaknya.

Sebagai identitas, untuk mengetahui asal usul keturunan, beberapa suku atau etnis menggunakan family name atau nama keluarga alias marga.  Suku Batak, misalnya.

Sebagai keluarga  yang berdarah Batak, kami menggunakan family name, Siregar.  Family name itu tetap kami pakai,  meski terkadang membuat kami diberi cap sebagai pendatang di kota tempat kami menetap lebih dari 45 tahun.  Mengapa tetap dipakai, kan akan lebih mudah diterima di semua kalangan kalau gak pakai marga?  Ya, karena nama adalah identitas. Tetap memakai marga adalah cara kami menghargai leluhur yang telah membawa kami sampai pada tahap kehidupan yang sekarang ini.

Di dalam keluarga kami juga ada kebiasaan untuk memberikan nama leluhur kepada generasi yang lebih muda.  Abang sepupuku, cucu laki-laki paling tua dari Opung kami, diberi nama Pieter.  Itu adalah nama Opung Godang kami, alias ayah dari Papaku.  Adik perempuanku bernama Uli, mengambil nama dari ibunya Mamaku, Mastora Ulina boru Siregar.

Putra pertama kakakku diberi nama Parlindungan, yang merupakan gelar adat alm ibu. Putra kedua kakakku diberi nama Barumun, itu gelar adat opung kami.  Putra ketiganya diberi nama Sornong, itu nama buyut Papaku. Sedangkan putri kakakku diberi nama Ira Menmenita. Menmen itu adalah nama kecil ibunya Papaku.

Kebiasaan itu dilanjutkan adik-adik dan ponakanku.  Putra pertama adik laki-lakiku, David, diberi nama Arden Thomann Denaldy Siregar.  Arden Toman adalah nama Papa kami.  Putra ketiganya diberi nama Abner Harryndra.  Harry adalah nama abang Papa kami. Nama Harry juga diberikan ponakanku, Parlindungan, pada putra pertamanya, Harry Muhammad Kartawidjaja.. Sedangkan puteri satu-satunya David, diberi nama Ajere, diambil dari nama saudara perempuan buyut kami, Anjere.  Adik perempuanku Uli, memberikan nama buyut kami, Samuel, pada anak lelakinya. Uli juga memberikan nama mama kami pada putrinya.

Nama-nama yang sama berulang-ulang digunakan dalam keluargaku.  Untuk mengenang kehadiran orang-orang yang disayangi.

Bagaimana dengan nama diriku?  Sondha Monalisa Siregar.

Sondha bukan nama yang umum dipakai dalam keluarga Batak.  Yang biasa itu, Sondang.  Menurut alm Mama, Sondha itu adalah nama teman sekolahnya, sosok yang cantik, lembut dan baik hati dalam kenangan alm Mama.

Monalisa ? Ya, nama itu diambil alm Mama dari masterpiece karya Leonardo Da Vinci yang saat ini dipamerkan di   Denon Wing, di Musèe du Louvre.  Sepertinya saat Mama memberikan nama itu padaku beliau belum tahu ada begitu banyak dugaan-dugaan tentang sosok yang menjadi inspirasi sang maestro.  Bahkan ada dugaan bahwa Monalisa adalah versi perempuan dari sang maestro.

Sepertinya Mama berharap anak perempuannya yang paling besar ini menjadi perempuan yang cantik, lembut dan baik hati.  Semoga diriku bisa.   I miss you, Mom.  Rest in peace
Sebenarnya, diriku punya nama yang lain.  Nama yang diberikan oleh seorang pemilik pesantren di pinggiran Kota Bogor sekitar 30 tahun yang lalu.  Tapi nama yang indah itu, Sofia, tak pernah diriku pakai, karena aku menghormati orang tuaku dan tetap memakai nama pemberian orang tuaku.  Nama yang digunakan dalam semua dokumen yang ada di sepanjang hidupku.  Nama Sofia itu tetap ku simpan di dalam hati.

Lalu, apa sih arti sebuah nama?

Shakespeare bilang, “Apalah arti sebuah nama. Bila setangkai mawar diberi nama yang lain, dia akan tetap mawar  karena baunya tetap wangi.”

Jadi menurut Shakespeare, yang penting itu sikap, perilaku manusia, bukan namanya.

Bagiku, nama yang indah, berisi identitas, harapan dan doa itu juga penting.  Sama penting dengan sikap dan perilaku.   Dan buat ku yang juga penting adalah nama itu sesuatu yang harus dijaga.   Perjalanan hidup acap kali tak memungkinkan kita untuk benar-benar bersih, tanpa noda.   Semoga Allah memberi kita hidayah dan kekuatan iman di sepanjang perjalanan hidup, sehingga kita mampu memegang nilai-nilai dan mengambil pilihan-pilihan yang bisa membawa kita mendekati keadaan saat kita dilahirkan.  Kalau pun ada khilaf, semoga bisa segera kembali dan husnul khotimah. Aamiin ya Rabbalalaamiin ***

screenshot_2017-03-10-18-40-34-1.png