Posted in ESQ, Tukang Jalan

Madain Saleh

img1521460588763-1820887088.jpg
The Signage

Beberapa tahun yang lalu, diriku melihat di FB mba @fitradiaz, foto beliau dan suaminya dengan latar bukit batu yang bentuknya seperti rumah-rumah. Caption foto tersebut klo tak salah ingat “Madain Saleh“. Diriku bertanya pada mba Diaz, dimana foto itu dibuat. Jawaban beliau itu di Madain Saleh, situs peninggalan wilayah syi’ar Nabi Saleh AS. Lokasinya masih di wilayah Provinsi Madina, namun belum menjadi destinasi wisata di Madinah yang ditawarkan paket-paket umroh.

Aku lalu mencari-cari informasi tentang Madain Saleh lewat mbah Google.

Dari mbah Google aku menemukan bahwa Madain Saleh atau disebut juga Al Hijr atau Hegra (dalam bahasa Yunani) adalah sebuah wilayah dimana terdapat situs arkeologi peninggalan kerajaan Nabatean. Madain saleh adalah kota terbesar kedua dari kerajaan yag berkuasa di abad pertama Masehi ini, sedangkan ibu kota kerajaan adalah Petra, yang saat ini termasuk wilayah kerajan Jordania.

Kawasan Madain Saleh dulunya dihuni oleh Kaum Tsamud, kaum yang sangat maju di zamannya, namun ingkar pada Allah SWT. Cerita tentang kaum Tsamud, kerap aku dengar di training-training ESQ yang sering aku ikuti beberapa tahun yang lalu. Nama kaum ini salah satunya disebutkan dalam ayat ke 11 Surat As Shams, surat ke 91 dalam Al Qur’an. Surat ini diawali dengan 6 sumpah yang menyebutkan nama benda-benda dan fenomena yang ada di semesta, dan satu sumpah yang menyebutkan “demi jiwa dan penyempurnaannya”. Lalu diikuti dengan ayat-ayat yang mengatakan, “Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang mensucikannya, dan sungguh merugi bagi yang mengotorinya”

Sejak itu diriku berharap suatu saat bisa menginjakkan kakiku ke Madain Saleh.

Aku selalu mengamati tawaran travel-travel umroh, tapi tidak ada travel yang menawarkan kunjungan ke Madain Saleh. Pada pertemuan dengan pak Rizky, pimpinan travel Penjuru Wisata Negeri saat kami mencari-cari travel untuk umroh, beliau bilang, “Kak, saya kasi bonus buat kakak dan teman-teman ya. Bonusnya kunjungan ke Madain Saleh.” Sungguh itu bonus yang sangat istimewa. Pak Rizky konsisten dengan janjinya, meski jumlah rombongan kami yg berangkat tak sesuai rencana awal.

screenshot_2018-03-16-20-13-30-1-886749079.png
Rute Madinah – Madain Saleh

Hari Selasa, 13 Februari 2018, diriku dan teman-teman, ditemani Ustadzah Alena – tour leader dari Travel Umroh Penjuru Wisata Negeri, juga 2 orang perwakilan travel yang menetap di Madinah, berkunjung ke Madain Saleh. Kami pergi dengan mini bus berkapasitas 14 penumpang. Supirnya orang lokal yang sudah relatif berumur, namun kemampuan menyetirnya luar biasa. Dia sangat mahir berkendara saat harus menghadapi rombongan unta yang bisa mendadak ditemukan memenuhi ruas jalan, atau ketika mobil tidak bisa jalan lurus dengan mulus alias agak zig zag karena adanya badai pasir.

Kalau teman-teman lihat di Google Map, Madain Saleh itu lokasinya berada 366 km di Barat Laut Masjid Nabawi yang berada Kota Medina. Waktu tempuh bila menggunakan mobil lebih kurang 3 jam 51 menit. Kami berangkat dari Hotel Gloria Alfayroz Diamod di Madinah sekitar jam 08.30 pagi, dan sampai di kawasan Madain Saleh sekitar jam 01 siang.

Madain Saleh atau Al Hijr saat ini adalah wilayah dengan luas ratusan hektar tanpa penghuni. Sebuah wilayah yang subur di antara gunung-gunung batu dan gurun pasir, sesuai dengan arti Al Hijr, gunung batu, yang juga merupakan nama surat ke 15 dalam kitab suci Al Qur’an.

Madain Saleh 2
Madain Saleh

Di wilayah ini tersebar banyak sekali batu-batuan besar dengan berbagai bentuk, antara lain seperti gundukan yang dapat difungsikan sebagai rumah, orang dan juga gajah. Ada juga kompleks bebatuan yang berbentuk bangunan-bangunan sangat besar. Kompleks ini yang sudah terdaftar sebagai World Heritage alias Warisan Dunia di UNESCO. Namun kompleks situs World Heritage pertama di Arab Saudi ini sudah diamankan dengan pagar kawat yang tinggi, dan tak bisa dikunjungi tanpa izin. Saat kami ke sana pintu gerbang kompleks tertutup, dan tidak ada petugas yang nampak. Jadilah kami hanya bisa melihat dari balik pagar, dan mengunjungi bahagian yang belum dikelilingi pagar kawat, seperti batu yang berbentuk gajah. Namun dari foto yang terdapat di galeri website Unesco, pada batu-batu yang sudah diamankan tersebut terdapat pahatan-pahatan yang berbentuk gedung, ruang-ruangan dengan pahatan-pahatan sebagai dekorasi.

Madain Saleh 1
Madain Saleh

Daerah ini sebagian besar sudah mulai tertata rapi, bahkan ada pedesterian untuk pejalan kaki. Jalannya lebar-lebar, dengan pengaturan arah dan signage yang baik. Nampaknya Pemerintah Arab saudi sedang mempersiapkan daerah ini untuk menjadi destinasi wisata yang baru, meski mungkin masih ada perbedaan pendapat tentang kelayakan tempat ini menjadi destinasi wisata. Mengapa begitu? Karena sehari setelah berkunjung ke Madain Saleh, saat antri untuk masuk ke Raudoh, saya berbicang-bincang dengan seorang ibu-ibu petugas pembimbing pengunjung wanita yang mau masuk ke Raudoh. Saat saya bercerita saya sehari sebelumnya berkunjung ke Madain Saleh, ekspresi wajah beliau menunjukkan keterkejutan. Beliau bilang, “Ibu mengapa ke sana?”. Saya bilang melihat-lihat wilayah yang pernah menjadi daerah syi’ar Nabi Saleh AS. Beliau bilang, “Ibu tidak seharusnya ke sana. Karena itu daerah yang pernah dimurkai Allah. Seharusnya bila ibu melewati daerah itu, ibu memalingkan muka dan berdoa memohon perlindungan dari Allah. Kita tak boleh bersantai-santai, ketawa-ketawa di tempat-tempat seperti itu.” Dan ternyata di dalam buku tafsir yang disusun oleh Ibnu Kasir pada penjelasan Surat Al Hijr Ayat 82 dikatakan “Janganlah kalian memasuki tempat tinggal kaum yang telah diazab , melainkan kalian dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak dapat menangis sungguhan, maka berpura-pura menangislah kalian, karena dikhawatirkan kalian akan tertimpa apa yang telah menimpa mereka. “

Alhamdulillah selama di Madain Saleh kami tak ada duduk bersantai-santai. Kami hanya menyusuri beberapa lokasi yang bisa dikunjungi, membuat foto-foto untuk kenang-kenangan. Kami melihat kebenaran yang dinyatakan dalam surat Al Hijr. Dan yang paling penting semoga kami bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada Kaum Tsamudu, dan apa yang kami lihat di wilayah Madain Saleh, untuk menguatkan iman Islam di diri.

Dan bagi diriku, berkunjung ke Madain Saleh adalah sebuah keinginan yang terwujud. Alhamdulillah.

Terima kasih atas hadiahnya, pak Rizky dan Travel Penjuru Wisata Negeri. Semoga Allah membalas dengan berlipat kebaikan. ***

Posted in ESQ, My Mind, Tukang Jalan

Undangan di Doi Suthep

Sekitar 2 minggu yang lalu, seorang teman seangkatan di SMA Negeri 1 Pekanbaru menghubungi diriku, ngajak untuk ikut arisan, yang uangnya untuk biaya umrah bareng teman-teman. Ajakan untuk pergi umrah, mengingatkan diriku pada sebuah PERJALANAN yang menjadi penyebab diriku pergi umrah pada tahun 2014 yang lalu. Perjalanan yang mengantarkan aku untuk menerima undangan Allah untuk mengunjungi Baitullah. Perjalanan ke Doi Suthep.

Ceritanya di bulan Juni 2013, diriku pergi ke Bangkok untuk menghadiri sebuah event. Daku pergi bersama sahabatku, yang kukenal saat bertugas di Pemerintah Kota Pekanbaru, kak Viviyanti. Saat kami merencanakan perjalanan, kak Vivi mengajakku untuk meneruskan perjalanan ke Chiang Mai, Thailand Utara, karena di sana ada Worulak, sahabat kak Vivi saat kuliah di New Zealand.

So, setelah travelling beberapa hari di Bangkok, tanggal 18 Juni 2013 kami menempuh 685 km dengan terbang selama 2 jam dari Bandara Don Muang untuk sampai di Bandara Internasional Chiang Mai. Worulak dan suaminya menjemput kami di bandara.

Worulak meski bekerja di Chiang Mai, tapi tinggal dan menetap di Kota Lamphun, sebuah kota kecil 12 km di selatan Chiang Mai. Waktu tempuh Chiang Mai – Lamphun lebih kurang 35 menit dengan mobil pribadi. Jadi selama perjalanan di Chiang Mai, kami menginap di rumah Worulak di Lamphun.

Kami pergi ke Doi Suthep tanggal 20 Juni 2013.  Setelah dua hari sebelumnya kami isi dengan jalan-jalan ke Moslem District dan Night Safari serta keliling kota tua Lamphun.

Doi Suthep adalah daerah pegunungan, dengan jarak sekitar 37 km atau waktu tempuh sekitar 45 menit ke arah tenggara kota Chiang Mai.  Sama seperti kawasan puncak di Bogor, Doi Suthep berudara sejuk, dan didominasi alam hijau.  Di sana juga banyak yang jual buah dan sayur hasil budidaya masyarakat lokal, banyak juga yang jual jagung bakar, jagung rebus dan asinan.

ceritasondha-doi-suthep-1
Doi Suthep, Cable Car dan Tangga

Apa istimewanya Doi Suthep? Di Doi Suthep terdapat salah satu kuil yang diagungkan umat Budha di Thailand Utara, namanya Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan.  Kuil tersebut berada di bukit tertinggi di pengunungan Doi Suthep.  Untuk mencapai kuil tersebut dari jalan raya, ada dua akses, yaitu dengan cable car dan melalui ratusan anak tangga.  Untuk menghemat tenaga dan waktu, untuk naik kami memilih naik cable car.  Harga tiketnya sekitar TB 50 atau sekitar Rp.19.000,-.  Pulangnya menyusuri tangga.

ceritasondha-doi-suthep-2
Pagaoda Emas di What Phra That Doi Suthep

Apa yang bisa kita lihat di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan? Di sana ada pagoda berlapis emas, yang di sisi depannya dipasang sebuah payung,  berwarna emas juga.  Dalam ritualnya para umat Budha yang berkunjung di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.  Dan setelah selesai berkeliling, mawar merahnya diletakkan di lantai di tepi pagar pagoda.

ceritasondha-doi-suthep-3
What Phra That Doi Suthep

Di kompleks kuil ini ada bangunan sarana prasarana kuil berarsitektur khas Thailand dengar ornamen-ornamen keemasan yang luar biasa cantik.  Di sana juga ada sebuah bangunan kecil berbentuk dome, tapi bersegi-segi.  Ada patung replika binatang di atasnya, dan di semua sisinya ada semacam laci-laci..  Setelah mengamati beberapa tulisan-tulisan dan foto-foto  yang ada di sisi -sisi luar “laci”, aku mengerti kalau laci-laci itu adalah tempat menyimpan abu jenazah.

Aku lalu berkeliling mengamati benda-benda, bangunan dan taman yang ada di kuil tersebut.  Puas berkeliling, sebelum pulang aku berdiri di pintu kawasan sembahyang di kuil, sekali lago mengamati gerak gerik umat Budha yang melakukan ibadah di sana.  Tiba-tiba aku menyadari bahwa mereka juga sedang melakukan “tawaf”.  Hanya saja lokasinya berbeda, benda yang dikelilingi berbeda, arahnya berbeda, caranya berbeda.

Umat Muslim bertawaf di Masjidil Haram di Mekah Al Mukaromah, umat Budha di Kuil.  Umat Muslim mengelilingi Ka’bah, umat Budha mengelilingi pagoda.   Umat Muslim bergerak melawan arah jarum jam, umat Budha bergerak serah jarum jam.   Umat Muslim mengelilingi Ka’bah 7 kali tanpa membawa apapun, umat Budha mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.

Kesadaran yang datang membuat diriku berpikir, Aku ini ngapain yaa? Aku pergi ke tempat umat Budha beribadah, melihat mereka melakukan “tawaf”, sementara diriku belum pergi ke Tanah Suci dan bertawaf di tempat seharusnya aku melakukan tawaf.”  Saat itu aku bertekad tak akan melakukan perjalanan lagi sebelum aku pergi Tanah Suci dan bertawaf mengelilingi Baitullah, kecuali perjalanan yang terkait dengan tugas dan urusan keluarga.

Kesadaran agar bersegera pergi ke Tanah Suci adalah undangan Allah SWT padaku untuk datang ke rumah-Nya.  Dan undangan itu sungguh disampaikan dengan cara yang luar biasa.  Alhamdulillah.  Dan Alhamdulillah juga Allah memberi diri ini rezeki untuk bertamu ke rumah-Nya 11 bulan kemudian.***

satu-minggu-satu-cerita

Posted in ESQ

Kupu-kupu…

Aku menemukan postingan yang menurut aku indah sekali di sini…  Tulisan yang mencerahkan..  Aku reposting dengan harapan aku bisa membaca dan membacanya lagi, serta mungkin berbagi dengan teman2…

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul dari kepompong. Orang itu duduk dan mengamati selama beberapa jam bagaimana si kupu-kupu berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.

Ternyata, Kupu-kupu itu mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, dan sayapnya mengkerut.

Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yg mungkin akan berkembang dalam waktu.

Ternyata Semuanya tak pernah terjadi. kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.

Kebaikan dan ketergesaan orang tersebut merupakan akibat dari ketidak mengertiannya bahwa kepompong yg menghambat, dan perjuangan yg dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu berpindah ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga sayapnya menjadi kuat, dan siap terbang begitu memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang pejuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yg semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon Kekuatan ….. Dan Tuhan memberi saya Kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Saya memohon Kebijakan … Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

Saya memohon Kemakmuran …. Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.

Saya memohon Keteguhan hati … Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.

Saya memohon Cinta dan Kasih sayang…. Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon Kemurahan/kebaikan hati…. Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan dan tantangan untuk diatasi.

Saya tidak memperoleh yg saya inginkan……. Tetapi … Saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.  ***