Posted in Tukang Jalan, Tukang Makan

Berkunjung ke Selatpanjang

Awal minggu lalu, aku kembali ngebolang.. Menjadi bocah petualang.  Ceritanya diriku diajak teman-teman kantor pergi ke Kota Selatpanjang, ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti.  Kota ini berada di Pulau Tebing Tinggi, salah satu pulau yang berada di pesisir timur Pulau Sumatera.

Untuk sampai ke Kota Selatpanjang, dibutuhkan sedikit perjuangan, karena kita harus berganti kendaraan sebanyak 3 kali.  😀 😀 Pertama-tama kita naik kapal selama 1 jam, dari Pelabuhan Sungai Duku di daerah Teluk Lembu di Pekanbaru, sampai ke pelabuhan rakyat di daerah Buantan di Kabupaten Siak.  Di Buantan kita bertukar kendaraan, naik bus.  Perjalanan selama 1.5 jam sampai ke Pelabuhan Butun yang berada di pantai timur Pulau Sumatera, namun masih termasuk Kabupaten Siak.   Di Butun kita ganti kendaraan lagi dengan kapal.  Kita harus berlayar 1.5 jam, baru sampai ke Kota Selatpanjang.  Saat berpindah-pindah kendaraan, kita harus berjalan kaki antara 50 – 200 meter, jadi disarankan untuk tidak membawa barang yang besar atau banyak.  Kalau memang akan membawa barang, ada jasa pengangkut  berupa gerobak, atau serahkan kepada awak kapal untuk mengurus.  Dengan tambahan bayaran tentunya.  Atau kalau memang mau bawa barang banyak, supaya gak pindah-pindah kendaraan, pilihannya adalah naik kapal kayu Gelatik.  Hanya waktu tempuhnya 3 kali lipat, 12 jam lebih kurang.

Berapa ongkos Pekanbaru – Selatpanjang?  Kalau naik Nagaline, nama salah satu operator yang melayani  jalur tersebut, ada 3 kelas dengan 3 tingkatan harga.  Rp. 150K untuk kelas ekonomi.  Di kapal duduknya di baris keempat sampai ke belakang.  Kursi di bus, 3 tempat duduk di sisi kiri dan 3 tempat duduk di sisi kanan.  Untuk kelas VIP, harganya Rp.170K.  Di kapal duduk di baris pertama sampai baris ketiga.  Busnya beda dengan yang kelas ekonomi.  Tempat duduk di dalam bus berada di jalur kiri, 2 kursi bersebelahan.  Kelas VVIP harganya Rp.190K.  Di kapal duduk  di baris pertama.  Di bus, duduk di jalur kanan, kursi tunggal, kaki bisa selonjoran.

Vihara Hoo Ann Kiong, Agustus 2012 at my insta @sondhasiregar

Kunjungan ke Selatpanjang kali ini bukan yang pertama kali bagiku.  Diriku pernah ke sana sekitar bulan Agustus 2012, untuk mengunjungi teman lamaku,  kak Vivi.  Waktu itu kak Vivi yang dokter gigi dan besar di Selatpanjang bertugas di sana.  Saat berkunjung ke sana,  aku sempat dibawa kak Vivi berkeliling dengan sepeda motor, melihat-lihat beberapa bahagian sisi kota, termasuk melihat Vihara Hoo Ann Kiong, yang berlokasi di Jl.  Ahmad Yani.  Diperkirakan, vihara ini adalah vihara tertua di Kota Selatpanjang, bahkan  tertua di Provinsi Riau.   Kota Selatpanjang, sebagaimana kota-kota besar mau pun kecil di pesisir timur Pulau Sumatera, pesisir barat Pulau Kalimantan dan pesisir utara Pulau Jawa adalah daerah-daerah yang banyak penduduk dengan etnis Tionghoa.  Jadi tidak heran kalau ada beberapa vihara di Selatpanjang.

Becak Selatpanjang

Di Kota Selatpanjang transportasi umumnya adalah sepeda motor, sepeda dan becak. Tak banyak mobil yang wara wiri di kota ini.  Yang ada itu pun sebagian besar berplat merah alias mpbil dinas.  Karenanya kota ini udaranya segar dan nyaman untuk dihuni.  Kenderaan umum?  Becak.   Jangan heran bila begitu keluar dari gedung pelabuhan akan banyak pengemudi becak yang menawarkan tumpangan, bahkan tukang becak yang nafsu banget mendapatkan penumpang bisa menarik bawaan penumpang untuk dimasukkan ke becaknya.  Rada-rada menyebalkan, memang. 😀  Tapi mungkin harus dimaklumi saja di tengah ekonomi yang sedang sulit.  Bersikap tegas, adalah cara terbaik menghadapi mereka.  Oh ya, becak di kota ini unik.  Seperti becak di Jakarta, becak di Selatpanjang ditarik dengan motor bebek, tapi kursi penumpangnya dua baris.  Untuk duduk di baris belakang, penumpang harus melompati kursi di baris depan, karena tak ada akses untuk naik ke bangku belakang dari samping.  Ya, bangku belakang itu memang lebih sering digunakan untuk tempat barang yang dibawa penumpang.  Sedangkan bila penumpang becak ada 3 atau empat orang, penumpang ketiga dan keempat duduk di bangku tambahan yang diletakkan di sisi belakang pagar depan becak.  😀

Untuk menginap, di Selatpanjang ada banyak hotel dengan harga kamar yang wajar.  Tapi kita  harus cari-cari info yang cukup sebelum memilih hotel, karena katanya tak semua hotel airnya bersih dan jernih.  Makumlah, sebagai daerah pesisir yang sebagian besar lahannya adalah gambut, air di Selatpanjang selain payau juga berwarna coklat.  Katanya meski telah beberapa kali mengusapkan sabun ke badan, mandi bisa terasa bagai tak bersabun, busanya tak keluar, kulit terasa licin saja.  😀  Untuk dapat air yang jernih, masyarakat biasanya menampung air hujan, atau dengan sumur bawah tanah yang mebutuhkan investasi sangat tidak sedikit.  Saat kunjungan kemaren diriku dan teman-teman menginap di hotel Dyva, atas rekomendasi teman yang sudah beberapa kali ke sana.  Alhamdulillah air di hotel itu bagus, dengan volume supply yang memadai.

Kemana saja saat berkunjung ke Selatpanjang kali ini?  Secara waktu terbatas,  selain menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan, kami menyempatkan diri menikmati seafood dan mie sagu, juga ke pasar untuk melihat-lihat berbagai produk khas Kepulauan Meranti lainnya.  Kabupaten Pulau Meranti  yang merupakan daerah pesisir, banyak ditumbuhi oleh tanaman Rumbia atau Sagu (Metroxylon sagu Rottb).  Makanya di daerah ini terdapat banyak produk olahan dari bahan dasar sagu.

wp-image-235261116.Apa itu mie sagu?  Mie sagu merupakan kuliner khas Selatpanjang.  Mie ini olahan dari teras batang sagu, teksturnya lembut dan kenyal.  Lebih lembut dan warnya lebih bening bila dibandingkan dengan kwetiaw.  Mie sagu biasanya dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih dan cabe merah yang digiling kasar. Sebagai penyemarak biasanya ditambahkan kucai (Allium tuberosum), toge dan ikan teri yang sudah digoreng atau udang kering.  Mie sagu saat ini sudah mulai banyak dijual di kedai-kedai kopi di Pekanbaru, tapi berburu mie sagu di daerah asalnya tentu memberi keseruan tersendiri.  😀

Selama di Selatpanjang, kami dua kali menikmati mie sagu.  Yang pertama di foodcourt di samping hotel.  Mie sagunya enak, cuma bumbunya yang rasanya belum maksimal.  Mie sagu kedua, kami nikmati di Kedai Kopi Pelangi di Jl. Ahmad Yani.  Kedai kopi yang berada di ruko ini terkesan tak terawat karena dinding-dindingnya kusam, tapi mie sagu yang dijual maknyuss.

Mie sagu di Kedai Kopi Pelangi ini merupakan rekomendasi dari seorang cicik (tante) pemilik toko tempat kami membeli beberapa produk olahan sagu di pasar.  Cicik itu bilang, kedai kopi yang tak jauh dari Hotel Pulama.  Maka kami pun bertanya-tanya pada beberapa orang yang kami temui di sepanjang pencaharian, dimana itu Hotel Pulama, tapi tak ada yang tahu.  Dan ternyata maksud si Cicik itu adalah Hotel Furama.  😀 😀 😀  Dan ternyata juga, salah seorang teman perjalananku pernah menginap di Hotel Pulama itu. Tapi enggak ngeh dengan maksud si cicik.. 😀 😀

Sebenarnya ada satu lagi tempat dan kuliiner yang direkomendasikan untuk menikmati mie sagu dan sempolet :  kantin di samping gedung kantor Badan Kepegawaian Daerah di kompleks perkantoran Pemerintah Kabaupaten Kepulauan Meranti.  Sayang saat kami ke sana, kami baru saja sarapan, perut kami masih penuh.  Adapun sempolet adalah bubur sagu yang dinikmati bersama sup ikan, seperti papeda kalau di Indonesia Bagian Timur.

Cerita Sondha - Oleh-oleh Selatpanjang
Oleh-oleh Selatpanjang

Apa yang didapat di pasar di Selatpanjang?  Klo diriku siyy cuma beli mie sagu, ebi alias udang kering dan kerupuk udang.  Sebenarnya di pasar, diriku menemukan banyak banget produk olahan sagu dan hasil laut yang sebenarnya layak untuk coba dibeli dan diolah jadi makanan istimewa.  Misalnya sagu dalam bentuk butiran yang bisa dibuat jadi bubur.  Ada juga terasi dan ikan teri.  Tapi mengingat transportasi yang nyambung-nyambung, jadi malas belinya.  Malas gotong-gotong.  😀
Bagi penggemar kopi, di Selatpanjang  ada toko Diamond, yang menjual bubuk kopi dengan merk Cengkeh.  Kata teman-teman yang minum, rasanya enak pakai banget.  Jadi gak boleh dilewatkan.

So, bagi teman-teman yang senang menjelajah, silahkan berkunjung ke Selatpanjang…***

 

 

Advertisements
Posted in Culture and Heritage, Tukang Jalan

Pasar Merah di Siak

Ini lanjutan dari tulisanku beberapa bulan yang lalu tentang perjalanan ke Kota Siak Sri Indrapura, kota kecil di tepian Sungai Jantan atau Sungai Siak, sungai terdalam di Indonesia.  Kota ini merupakan ibukota Kabupaten Siak, salah satu kabupaten penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia beberapa dekade ini (Baca : Berkapal ke Siak).

Kunjungan pada pertengahan Februari 2017  bukan kunjungan pertama bagi diriku.  Entah kunjungan yang keberapa diriku tak ingat.  😀 (Baca : Ke Siak Sri Indrapura (Lagi…..!!!)Having Lunch di Siak,  dan Muter2 di Siak).  Lalu apa istimewanya kunjungan kali ini? Kunjungan kali ini, yang diriku lakukan bersama Wati, teman kuliahku di Kampus Rakyat, bertujuan untuk menikmati perayaan Cap Go Mei di   Siak, di pasar yang merupakan Chinatown alias Pecinan Siak.  Kenapa di Siak?  Karena Wati yang senang motret ingin hunting foto di daerah Pecinan yang justru belum banyak diliput, gak kayak di Singkawang, yang sudah jadi mainstream bagi para pecinta fotografi.

Pasar Merah - Klenteng Hock Siu Kong
Upper Left :  Tandu Sang Dewa, Upper Rght : Tatung, Bottom : The Gate of Hock Siu Kong with Sungai Jantan as view

Pecinan di Kota Siak Sri Indrapura berada di Jalan Sultan Ismail, di tepi sungai.  Berdampingan dengan komplek istana peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura.  Lokasi Pecinan ini berhadapa-hadapan dengan bangunan benteng peninggalan Belanda, yang berada di seberang sungai.   Di Pecinan ini terdapat Klenteng Hock Siu Kong, yang berdiri sejak tahun 1898.  Klenteng yang menjadi pusat aktivitas ibadah dan budaya masyarakat Cina di Siak.

Bagaimana bisa Pecinan mempunyai lokasi yang begitu strategis? Menurut salah seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Siak, yang secara tak sengaja bertemu di salah satu kedai kopi di Siak, Kawasan Pasar Siak merupakan wilayah yang diberikan Sultan  Siak kepada pedagang yang datang dari Negeri Cina.  Pedagang yang sengaja diundang Sultan untuk menetap di Siak untuk mengajarkan rakyatnya bagaimana cara berdagang.  Selain untuk memudahkan masyarakat mendapatkan berbagai kebutuhan yang perlu didatangkan dari luar daerah, bahkan dari luar negeri.  Sebagai bentuk apresiasi, sekaligus untuk memudahkan memantau pendatang dari Negeri Cina, Sultan memberikan lahan di tepi sungai bagi mereka.  Sultan yang berwawasan luas, dan menghargai keragaman.

Pasar Merah - Pecinan
Deretan Rumah Toko Berwarna Merah, dan keranjang khas Chinesse

Beberapa tahun terakhir ini, dalam rangka meningkatkan pariwisata daerah, Pemerintah Kabupaten Siak semakin berupaya  mengangkat warisan budaya (heritage) kerajaan Siak Sri Indrapura  menjadi daya tarik wisata, termasuk juga kawasan Pecinan.   Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Siak adalah menata kawasan Pecinan, sekaligus membangun turap di tepi sungai untuk tempat masyarakat menikmati indahnya tepian sungai.    Pemerintah juga  memfasilitasi para pemilik rumah toko di kawasan pecinan  untuk mencat bangunan mereka dengan warna merah, dan  kombinasi hijau dan kuning sebagi penambah cantik.

Pasar Merah - Turap Siak
Kawasan Turap Tepian Sungai Jantan

Kawasan yang berwarna merah memang sungguh memikat mata, dan luar biasa menarik untuk difoto.  Kecantikan kawasan ini semakin menawan saat senja dan malam tiba, ketika lampion-lampion menyala.  Lampion-lampion yang bergantungan di langit-langit  emperan toko dan pada tali-tali yang dibentang di atas jalan raya.

Pasar Merah - Lampion
The Lampions

Selain menikmati kecantikan kawasan Pecinan yang merah, apa lagi yang bisa dinikmati  di sini? Kuliner, pastinya.  Kuliner khas Chinesse, berupa mie, kwetiau dan bihun, yang bercampur cita rasa Melayu dan Sumatera Barat  banyak dihidangkan di kedai-kedai kopi, yang merupakan budaya di hampir seluruh wilayah Pesisir Timur Sumatera.  Untuk makan berat, kita bisa menikmati aneka masakan dengan bahan ikan sungai dan udang galah.  Menurut pejabat yang sempat ngobrol dengan diriku itu, tak ada kedai kopi di Siak yang menjual makanan tak halal.  Tapi mengingat semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan wajibnya mengkonsumsi makanan halal,  selain membina peningkatan kualitas dan keragaman kuliner khas daerah,  kiranya Pemerintah juga perlu memfasilitasi kedai-kedai kopi di kawasan Pecinan untuk mendapatkan sertifikat halal dari instansi yang berkompeten untuk menerbitkannya.

Oh ya, apa lagi yang aku temukan saat mutar-mutar dari pagi sampai malam di kawasan Pecinan di Siak saat perayaan Cap Go Mei?  Ya, keragaman agama dan budaya yang saling menghargai.  Arak-arakan barongsai yang sejak pagi mengelilingi Pecinan, berkunjung ke rumah-rumah toko untuk mengusir roh jahat, mengundang roh baik, mengirim doa-doa, meyalakan petasan,  diistirahatkan saat azan berkumandang di Masjid Raya Syahbuddin Siak yang berada di kawasan Pecinan.   Arak-arakan dilanjutkan setelah adzan dan waktu sholat dzuhur usai.  Kehidupan bertoleransi yang indah.

Pasar Merah - Masjid Raya Syahbuddin 1
Masjid Raya Syahbuddin, dengan lampion-lampion di latar depan

Mari berkunjung ke Siak, teman-teman.  Mari menikmati keagungan warisan budaya Kerajaan Siak serta keragaman yang telah hadir di negeri ini sejak berabad yang lalu..***