3rd Day : Toyama

Hari ketiga, setelah dari berkunjung ke Matsumoto, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Toyama, yang berada lebih kurang 131 kilometer Barat Laut Matsumoto.

Toyama

Kota Toyama adalah ibukota Toyama Perfecture, dan merupakan pesisir Teluk Toyama. Jadi gak heran kalau di awal Februari cuaca di Toyama masih dingin, dan angin sangat kencang. Biasanya wisatawan ke Toyama Perfecture untuk mengunjungi Tateyama Kurobe Alpine, yaitu jalur pegunungan Alpen Jepang. Tapi jalur ini ditutup selama musim dingin.

Lalu, diriku dan teman-teman ngapain ke Toyama?

Karena salah satu teman dalam rombongan kami adalah penggemar Starbuck, dan hasil surfing di internet, dia mendapatkan informasi kalau salah satu gerai Starbuck di Toyama adalah gerai dengan pemandangan terindah di dunia. Gerai tersebut berada di kawasan Kansui Park, salah satu taman dengan danau di Kota Toyama. Danau tersebut aliran airnya terhubungkan ke laut. Jadi gerai tersebut must visit buat penggemar Starbuck. So, berkunjung ke Starbuck tersebut di Toyama kita masukkan ke itenerary.

Dari Matsumoto, kami naik kereta sekitar 3 jam, transit di Nagano Stasiun. Sebenarnya kesorean berangkat karena keasyikan strolling around di Kota Matsumoto, sehingga sampai di Toyama sudah malam. Saat kami sampai hari hujan dan berangin, sehingga udara terasa sangat sangat dingin.

Aku yang gak bawa payung, singgah dulu di minimarket yang ada di stasiun untuk beli payung. Dapatnya payung bening, sederhana, tapi cantik.

Dari stasiun kami jalan kaki ke Comfort Hotel yang sudah di-booking sebelumnya. Alhamdulillah hotel tersebut sangat dekat, hanya 300 meter. Tapi tetap gak mudah untuk ditempuh dalam hujan dengan angin yang kuat.. Mana pegang payung sambil dorong koper… Bbbrrrrrrrrrrrr…..

Di ingatanku tiba-tiba mengalun lagu New Snow yang dinyanyikan Micahel Ruff.. Lagu yang diberikan seorang sahabat lebih dari 20 tahun yang lalu.. Sahabat yang sudah lebih dulu berpulang..

New Snow…

Look, look out on the trees
Well from here it looks like crystal
Shining in the breeze
Look, look out on the land
Well it finally looks like winter
so just reach out your hand

Feel the new snow falling softly round me
a second chance to make things alright
Like a new love calling
new snow is falling
just outside my window tonight

She never said goodbye
she just walked out through the garden
and never told me why
she never shed a tear
now Im watchin out my window
as her footprints disappear

until the new snow falling softly round me
a second chance to make things alright
Like a new love calling
new snow is falling
just outside my window tonight

New snow falling softly round me
a second chance to make things alright
[make things alright]
Like a new love calling
new snow is falling
Just outside my window tonight
Just outside my window tonight

Back to the journey...

Sampai di hotel, urusan alhamdulillah gak ribet. Hanya sekitar 15 menit mengurus administrasi, menunjukkan bukti pemesanan, menyerahkan passport-passport untuk di-copy oleh petugas hotel, kami sudah mendapatkan 3 kunci kamar. Kami memesan 3 kamar, masing-masing kamar diinapin 2 orang.

Selesai urusan masukkan koper ke kamar, kami kembali turun ke lobby hotel untuk pergi ke Starbuck. Karena menurut petugas hotel yang sedang bertugas, lokasi Starbuck tersebut tidak jauh (menurut ukuran orang Jepang.. ūüėÄ ūüėÄ :D). Hanya butuh waktu 20 menit berjalan kaki, menurut mbah Google, jadilah kami berjalan kaki ke Kansui Park.

Tapi baru sekitar 5 menit kami berjalan, hujan yang tak terlalu lebat turun lagi bersama angin yang sangat kencang. Subhanallah, dinginnya…….. Mana sepatu jadi basah… Tapi mau balik arah rasanya tanggung.. Jadilah kami tetap berjalan, menyusuri trotoar, di jalanan yang sepi.. Setelah berjalan sekitar 20 menit, kami menemukan danau, dan melihat bangunan dengan tulisan Starbuck di kejauhan, di seberang danau.

Jadi ceritanya, kami sampainya di sisi lain danau. Untuk sampai ke bangunan gerai Starbuck tersebut, kami harus melewati jembatan Tenmon-kyo, yang melintasi danau di Kansui Park. Kalau masih sore dan gak hujan, pasti menyebrangi jembatan ini menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena banyak hal bisa dilihat. Lha ini dalam gelap, hujan berangin sangat kencang.. Ammmppuuunnnn… Tapi lagi-lagi kami tak punya pilihan selain tetap berjalan.. Jadilah menyusuri jembatan dalam gelap, hujan dan angin kencang…. Hiiikkksss.s..

Starbuck di Kansui Park

Begitu sampai di depan gerai Starbuck tersebut, kami langsung bergegas masuk, mencari kehangatan.. ūüėÄ Kami mencari tempat duduk yang strategis untuk dapat melihat pemandangan di luar. Tapi apa daya semua tempat duduk di dekat dinding kaca gerai tersebut sudah ditempati pengunjung lain yang sudah lebih dahulu datang. Kami terpaksa duduk di kursi yang terletak di tengah-tengan ruangan.

Starbuck Kansui Park

Setelah kursi dapat, kami bergantian memesan minuman dan makanan. Antrian gak panjang. Aku memesan chocolate panas dan sebuah cinnamon roll. Gak berani mesan hazelnut latte seperti biasanya, takut bikin susah tidur. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ

Menu di gerai Starbuck ini sama dengan di gerai-gerai lainnya, sesuai standard Starbuck. Aku juga sempat melihat-lihat tumbler di lemari pajangan. Tidak ada yang spesifik gerai tersebut. Tidak ada juga yang spesifik Toyama. Jadi gak beli.

Setelah menikmati chocolate hangat dan sebagian cinnamon roll, aku berjalan ke halaman gerai Starbuck untuk melihat pemandangan di luar. Terlihat lampu-lampu jembatan yang melintasi danau di Kansui Park. Juga danau yang gelap dan tenang. Semuanya cantik. Sayang, kami sampai di tempat itu saat sudah gelap, sehingga tidak bisa melihat keindahannya secara utuh, tak bisa juga diulang esok paginya, karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Takayama untuk mengunjungi Shirakawa-go.

Tenmon-kyo Bridge

Dengan pertimbangan tubuh yang sudah lelah, sepatu yang sudah basah, sebagian pakaian yang sudah lembab, serta kesehatan yang harus dijaga, kami memutuskan kembali ke hotel dengan menggunakan taxi, yang minta tolong dipesankan oleh petugas Starbuck. Kami pesan 2 unit taxi, untuk 6 orang. Lupa berapa onglos taxi untuk jarak yang sekitar 1 km dari gerai Starbuck ke Comfot Hotel, kalau gak salah sekitar Rp.200ribu-an.

For some people, apa yang kami lakukan mungkin terlihat bodoh. Tapi buat diriku, perjalanan adalah perjalanan, sesuatu yang perlu dinikmati dengan segala sisinya…

Sampai di hotel, sebelum tidur, kami melakukan upaya mengeringkan sepatu dengan menggunakan hairdryer milik hotel.. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ Lalu meletakkannya di kursi-kursi di sekitar heater di kamar hotel.. Usaha pakai banget..

Toyama

Pagi-pagi, setelah selesai berberes kami sedikit menikmati daerah di sekitar hotel, sebelum menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Takayama.. Terlihat tumpukan salju di trotoar dan tepi-tepi jalan. Pemandangan yang unik buat diriku yang sejak kecil tinggal di wilayah tropis. Di ingatanku kembali mengalun lagu New Snow…. ***

3rd Day : Matsumoto

Saat menyusun ittenerary, diriku berharap bisa melihat kota-kota yang punya tinggalan budaya, salah satunya adalah istana. Dari hasil baca-baca dan surfing di internet, aku mendapatkan informasi salah satu istana tertua di Jepang yang masih ada adalah istana yang berada di Kota Matsumoto, Nagano Perfecture. Kota ini berada sekitar 219 km barat laut Tokyo.

Karena pada hari keempat kami akan ke Kota Takayama yang merupakan base untuk mengunjungi Shirakawa-Go, yang tiketnya sudah kami beli sebelum keberangkatan, maka kami membuat rute perjalanan hari ketiga ke Matsumoto dan dilanjutkan dengan ke Takayama di hari keempat. Namun karena salah seorang teman melihat informasi ada suatu tempat yang must visit di Kota Toyama, maka diputuskan perjalanan hari ketiga adalah Tokyo – Matsumoto – Toyama (ningap di sini). Lalu dilanjutkan hari keempat perjalanan Toyama – Takayama – Shirakawa-Go – Takayama.

So, here the strory our journey to Matsumoto..

  1. Perjalanan ke Matsumoto
Limited Express Train

Hari Sabtu pagi tanggal 8 Februari 2020, pagi-pagi kami sudah keluar dari tempat menginap di kawasan Yotsuya, di Tokyo. Perjalanan dimulai dengan mengantarkan koper-koper besar ke agen Takkyubin di Seven Eleven yang tak jauh dari Yotsuya Station. Kami melanjutkan perjalanan dengan membawa koper ukuran kabin, ransel dan sling bag saja.

Dari Yotsuya Station kami menuju Shinjuku Station untuk menaiki Limited Express Train menuju Matsumoto, dengan menggunakan JR Pass. Ini pengalaman pertama naik kereta untuk jarak yang relatif jauh, sekitar 3 jam, dan karena belum pengalaman, kami langsung naik saja ke kereta. Padahal JR Pass yang kami beli, bila ingin naik ke kereta harus reserve tempat duduk dulu di loket JR Station tempat keberangkatan. So, jadilah kami diperkenankan duduk di tempat duduk yang kosong, dan harus pindah ke tempat duduk lain, bila penumpang pemesan tempat duduk naik di station berikutnya. Tanda kursi yang kosong, lampu di sebelah nomor tempat duduk yang terdapat di dinding samping, akan berwarna merah. Bila pada station berikutnya, ada penumpang yang akan naik dan sudah reserve tempat duduk tersebut, maka lampu berubah warna menjadi hijau. Penumpang tanpa kursi yang numpang duduk di nomor tersebut, silahkan pindah ke kursi lain. Bila tak ada kursi yang kosong, silahkan berdiri di ujung gerbong penumpang. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ Lelah…? Pasti. Tapi terobati dengan pemandangan indah di sepanjang perjalanan, termasuk pemandangan Gunung Fuji di sisi kiri kereta di awal perjalanan.

Locker at Matsumoto Station

2. Suitcase Handling

Kami sampai di Matsumoto Station sekitar jam 12.00 waktu setempat. Kami langsung mencari locker dan menitipkan koper-koper kami di sana. Loker di Matsumoto Station berada di lantai dasar, di seberang Starbucks, satu ruangan dengan waiting room. Harga sewa locker tergantung besar ruang locker yang akan digunakan. Untuk menggunakan locker tersebut, kita harus menggunakan coin Yen 100. Bila tak punya, kita bisa menukar di toko-toko di seberang locker, mereka bersedia membantu tanpa kita harus belanja di toko tersebut. Cara menggunakan locker, terdapat di pintu-pintu locker dalam dua bahasa, Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Jadi tak perlu khawatir.

3. Matsumoto City

Dari Stasiun Matsumoto kami berjalan kaki mengikuti arahan Maps Go, ke arah Istana Matsumoto. Jarak tempuh sekitar 1,4 kilometer. Jauh….? Lumayan, tapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh cantik.. Di kiri kanan berdiri toko-toko dengan kaca-kaca besar yang memajang aneka barang cantik dan tertata apik.. Sungai yang melintasi kota ini bersih, dan dilintasi jembatan-jembatan yang juga cantik. Kota ini benar-benar ramah untuk pejalan kaki, bahkan di beberapa bagian ruas ajalan tersedia bangku-bangku yang nyaman untuk pejalan kaki beristirahat sejenak.

Matsumoto City

Ada yang unik di Kota Matsumoto. Di beberapa sudut jalan terdapat pancuran kecil, Daimyocho Otemon Ido Well, yang airnya bersumber dari mata air pegunungan (spring). Airnya bersih dan layak minum. Para pejalan kaki bisa singgah, mengambil air dari pancuran dengan centong yang disediakan, dan langsung meminumnya. Apa rasa airnya? Gak ada rasa apa-apa, tawar tapi sejuk dan segar…

Daimyocho Otemon Ido Well

4. Matsumoto Castle

Matsumoto Castle Ticket Box, Gate and Park

Setelah jalan kaki sekitar 20 menit, kami melihat Istana Matsumoto yang megah. Kawasan istana ini dikelilingi oleh parit besar yang memisahkannya dari kawasan lain di Kota Matsumoto. Parit tersebut berisikan ikan-ikan koi dengan ukuran yang relatif besar. Untuk masuk ke istana dan kawasannya, setiap pengunjung harus membeli tiket seharga Yen 700 untuk pengunjung dewasa. Harga tiket termasuk biaya guide dan peminjaman sandal.

Guide yang bertugas di kawasan istana tersebut adalah para senior citizen Kota Matsumoto yang mempunyai kemampuan berbahasa asing dan menyediakan waktu beberapa hari dalam seminggu untuk menjadi guide sebagai wujud kecintaannya kepada kota ini. Koordinator guide yang berdiri di sekitar tiket box menanyakan asal kami, dan ketika kami menyebutkan Indnesia, salah seorang di antara mereka langsung mengajukan diri dengan penih semangat. ternyata guide tersebut mempunyai kedekatan rasa dengan Indonesia. Almarhum ayahnya pernah bertugas ke Indonesia pada masa penjajahan Jepang, dan beliau kerap bercerita tentang beberapa kota di Indonesia yang pernah dikunjungi kepada anak-anaknya.

Setelah membeli ticket, untuk masuk ke kawasan istana pengnjung harus melewati gerbang besar, yang di sisi dalam sebelah kirinya terdapat patung penjaga berbaju zirah penuh warna. Di halaman juga ada beberapa orang-orang yang menggunakan baju tradisional, lengkap dengan kipas dan senjata, yang bisa diajak foto bersama dengan aneka gaya. Jasa yang mereka berikan merupakan bagian dari service yang sudah termasuk harga tiket.

Untuk masuk ke dalam istana, setiap pengunjung harus menggunakan sandal khusus, sandal yang biasa digunakan penduduk jepang saat di rumah. Bahagian atasnya berbahan rajut. Sepertinya untuk menjaga kelestarian lantai-lantai istana yang terbuat dari kayu, sandal tersebut juga untuk melindungi kaki pengunjung dari rasa dingin, dan licinnya anak tangga yang di beberapa bahagian sangat curam.

Apa istimewanya Istana Matsumoto sehingga diriku merasa perlu dibela-belain mengunjunginya…?

@ Matsumoto Castle

Istana Matsumoto yang termasuk Japan National Heritage dibangun pada tahun 1594. Salah satu dari sedikit istana peninggalan sebelum Zaman Edo yang masih tersisa. Istana dengan tampak luar berwarna hitam, kerap disebut sebagai Istana Gagak, mempunyai menara utama yang terdiri dari 6 lantai.

Bagian dalam Matsumoto Castel dan pemandangan dari lantai 4

Meski dari luar terlihat besar, ternyata menara utama istana ini relatif kecil, dengan tangga-tangga yang sangat curam menghubungkan lantai demi lantai. Seluruh bangunan menara utama ini terbuat dari kayu, dengan tiang-tiang penyangga berbentuk balok. Lantai dasar benteng terdiri dari panggung berketinggian sekitar 30 cm, dengan lorong-lorong di sekitarnya. Lorong-lorong ini berfungsi sebagai “Musha Bashiri” alias warrior running passage, lorong tempat para prajurit berlari-lari sambila membawa pedang. Bekas goresan pedang terlihat pada kayu-kayu yang ada di lantai tersebut.

Setiap lantai di menara utama, kecuali lantai 3, mempunyai dinding-dinding berjendela, yang digunakan sebagai tempat senjata untuk melawan musuh. Ada 2 bentuk jendela di menara utama, yaitu Yazama dan Teppozama. Yazama adalah jendela berbentuk persegi pajang, yang digunakan untuk menembakkan anak-anak panah kepada musuh yang menyerbu. Adapun Teppozama adalah jendela berbentuk bujur sangkar, yang digunakan untuk menembakkan peluru dari senapan. Seiring dengan diperkenalkannya senjata api dari Eropa, pada awalnya hanya jendela Yazama yang digunakan. Namun dengan diperkenalkannya senjata api, maka kedua jenis jendela tersebut digunakan secara berkombinasi. .

Apa fungsi lantai 3 yang sama sekali tidak mempunyai jendela? Lantai 3 yang merupakan “attic” atau ruang bawah atap lantai 2, digunakan sebagai tempat menyimpan perbekalan makanan, bubuk mesiu dan perbekalan senjata. Ketidakadaan jendela di lantai 3 menyebabkan menara utama di istana Matsumoto dari luat terlihat sebagai bangunan 5 lantai. Oleh karenanya, lantai 3 disebut sebagai hidden floor, lantai tersembunyi.

Moon Viewing Wing

Pada lantai teratas atau lantai 6, terdapat Moon-Viewing Wing, alias sayap atau balkon untuk memnadang bulan. Romantisnya bangsawan kerajaan Jepang tempo dulu ya… Balkon ini menghadap ke arah utara, timur dan selatan. Ruangan ini dibangun berdasarkan arahan Naomasa Matsudaira, cucu dari Tokugawa Ieyasu, Shogun pertama dari periode Tokugawa. Saat ini tinggal 2 istana saja yang masih memiliki Moon-Viewing Wing, yaitu istanam Matsumoto dan istana di Kota Okayama , Okayama Perfeture.

Apa yang dipamerkan di dalam menara utama istana Matsumoto? Beberapa koleksi senjata api dan baju zirah. Meski tak banyak koleksi yang dipamerkan, tapi pemandangan dari jendela-jendela yang ada di menara utama istana ini luar biasa indah. Namun ada pembatasan waktu untuk setiap pengunjung atau rombongan pengunjung. Bahkan pengunjung tidak diperkenankan berlama-lama di satu bahagian. Hal ini diterapkan untuk menjaga agar setiap lantai tidak mengalami beban berlebih pada saat yang sama.

Nawate Dori

5. Nawate Dori

Selesai melihat bahagian dalam menara utama Istana Matsumoto, kami menlanjutkan berjalan kaki. Tujuannya ke Nakamachi Dori, sebuah shopping strret untuk wisatawan, yang berjarak sekitar 600 meter Istana Matsumoto. .Tapi di tengah perjalanan kami menemukan Nawate Dori, sebuah jalan yang panjangnya sekitar 100 meter saja, namun di kiri kanannya banyak toko-toko kecil yang menjual berbagai produk yang lucu-lucu, berbentuk kodok. Nawate Dori ditandai dengan patung kodok bergaya ala ninja di salah satu dudut di pangkal jalan.

Klo aku bilang siyy.. Nawate Dori itu Keroppi District.. Hehehehe.. Buat teman-teman remaja putri di tahun 1980-an dan senang dengan berbagai produk dengan merk Sanrio, teman-teman pasti kenal dengan character Hello Kitty, Littlre Twin Star, My Melody, Tuxedo Sam, dan si kodok ijo Keroppi.

Selain menjual aneka produk berbentuk kodok, di Nawate Dori juga menjual kaus kaki, totte bag, payung yang cantik-cantik, juga aneka jajanan khas Jepang. Tapi soal jajanan di Jepang, harus hati-hati memang, karena tak banyak outlet yang menjual makanan bersertifikasi halal.

Di samping Nawate Dori juga terdapat Yohashira Shrine tempat beribadah umat Shinto, dengan gerbang yang tinggi menghadap ke sungai yang berada di balik salah satu deretan toko-toko kecil di Nawate Dori. Di shrine ini juga banyak merpati, yang segera beterbangan ketika genta yang ada di salah satu pojok shrine diayun.

Dari Nawate Dori, kami membatalkan rencana untuk melanjutkan perjalanan ke Nakamavhi Dori, karena tubuh rasanya sudah lelah, belum makan siang dan, harus mengejar kereta untuk melanjutkan perjalanan ke Toyama. Jadi kami langsung kembali ke Matsumoto Station, dengan berjalan kaki sepanjang 900 meter.

6. Kulineran di Matsumoto

Soba dan kedai modern

Tak mudah menemukan makanan halal di Matsumoto. Apa lagi di siang menjelang sore, saat resto2 pada tutup untuk rehat siang. Beberapa teman memilih untuk membeli roti, sementara buat aku dan kak Vivi rasanya roti tidak cukup. Kami butuh makan berat dan hangat. Udah capek jalan seharian… Mana udara dingin pula.. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ

Di samping Matsumoto Station kami menemukan Soba Ogiso Mill Matsumoto Ekimae, kedai yang menjual soba, makanan khas Jepang. Soba adalah mie yang terbuat dari biji soba, atau gandum kuda (Latin : Fagopyrum esculentum). Soba dihidangkan dengan kuah miso, dengan pilihan miso dingin, atau miso panas. Miso di Jepang tidak sama dengan miso di tempat kita. Miso di Jepang adalah sup yang dibuat dengan menggunakan dashi, kaldu khas Jepang. Di kedai Soba Ogio, pilihan protein untuk menyantap soba adalah ayam, udang atau kerang, no beef. Ini yang membuat diriku merasa aman untuk masuk ke kedai ini. Selain itu di kedai ini juga tersedia kakiage (gorengan sayur iris pakai tepung) dan ubi jalar goreng untuk teman menyantap soba.

So, sore itu semangkok soba panas dengan sepotong kakiage (sayur), pkus segelas ocha panas adalah pilihan ternikmat di udara yang 2 derjaat celcius.. Alhamdulillah..

Meski tak besar, kedai Soba Ogiso Mill Matsumoto Ekimae adalah kedai yang modern. Di kedai ini pembeli melakukan pemesanan di mesin seperti ATM, lengkap dengan pembayaran yang akan direspon mesin dengan mengeluarkan selembar receipt dan uang kembalian, jika ada. Pelayan hanya berada di balik counter, mengolah dan memberikan makanan sesuai yang dipesan pembeli di mesin. Mereka tidak menerima pesanan, tidak juga menerima uang. Jadi kesalahan pesan sepenuhnya tanggung jawab pemesan. Tak juga ada kesalahan pembayaran, karena tidak ada kasir di sini. Tempat menikmati makanan di sini, hanya meja kayu yang menempel di dinding toko, dan kursinya berupa bangku-bangku kayu. Jumlah tempat duduk di kedai ini juga terbatas. Setelah selesai makan, pembeli yang makan di tempat menyerahkan kembali baki yang berisi piring dan gelasbekas makan kepada pelayang yang berdiri di balik counter. Minimalis, tapi keren, menurut diriku.

Selesai makan siang yang sangat telat, kami mengambil koper di locker, lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, ke Kota Toyama. ***

2nd Day : Hakone

Hari kedua di Jepang, kami melakukan one day trip ke Hakone.

Dimana itu Hakone? Apa daya tarik wisata di sana?

Hakone berada sekitar 100 km di barat daya Tokyo, di Kanagawa Perfecture. Daerah ini bahagian dari Fuji-Hakone-Izu National Park, dan merupakan lokasi terdekat untuk melihat keindahan Gunung Fuji. Sebagai sebuah kawasan yang luas, ada banyak yang bisa dilihat dan dikunjungi di Hakone.

Untuk menyusuri Hakone, tersedia beberapa alternatif rute perjalanan yang bisa dipilih oleh pengunjung, lengkap dengan fasilitas 8 moda transportasi yang menghubungkan berbagai tempat di sana. 8 Moda? Apa aja? Hakone Tozan Cable car, Kereta Hakone Tozan, Hakone Ropeway, Tokai Bus Orange Shuttle, Bus Express Odakyu Hakone, Bus Tour Keliling, Bus Hakone Tozan dan Kapal Pesiar Hakone. Tersedia free pass yang memungkinkan wisatawan membeli 1 tiket untuk mengunjungi berbagai tempat di Hakone dengan menggunakan 8 moda transportasi tersebut.

Pilihan free pass tergantung dari lama kunjungan yang diinginkan, juga titik awal perjalanan ke Hakone. Dari lama kunjungan ada 2 pilihan, yaitu tiket untuk 2 hari atau tiket untuk 3 hari. Dari titik awal kunjungan, juga ada pilihan tiket, yaitu beli di Shinjuku Stationn atau beli di Odawara Station.

Beli tiket di Shinjuku Station. Pilihan ini berarti dari Station tersebut, pengunjung akan naik Romancecar, kereta api khusus, dengan jumlah penumpang terbatas, dan waktu tempuh kurang dari 1 jam, sampai ke Hakone-Yumoto,

Jika beli tiketnya di Odawara Station, berarti pegunjung naik kereta api dari Tokyo (tidak harus Shinjuku) ke Odawara. Ada beberapa alternatif kereta api dari berbagai stasiun di Tokyo. Kalau mau cepat, dengan waktu tempuh kurang dari 1 jam, alternatifnya kereta shinkansen. Kalau mau harga tiket lebih murah, namun waktu tempuh hampir 2 jam, alternatifnya adalah kereta Odakyuline.

Odawara, Hakone Free Pass, Hakone Tozan, Hakone Yumoto

Kami pilih free pass yang mana? Karena tempat kami menginap tidak di sekitar Shinjuku Station, kami memilih naik shinkansen ke Odawara, dan membeli tiket Hakone Free Pass di sana. Saat kami berkunjung harga tiket day free pass Yen 4.600,-

Setelah membeli tiket Hakone 1 Day Free Pass di lantai 2 Stasiun Odawara, lihat-lihat toko souvenier dan beli roti yang enak pakai banget di lantai 1 stasiun, kami kami melanjutkan perjalanan ke Hakone-Yumoto dengan menaiki kereta jalur Hakone Tozan. Hakone-Yumoto merupakan awal dari wilayah Hakone. Kalau pengunjung naik Romancecar dari Shinjuku, turunnya juga di Hakone Yumoto.

Perjalanan dari Odawara ke Hakone Yumoto berlangsung 16 menit. Selama di perjalanan, mata dimanjakan dengan pemandangan semak (bush) khas pegunungan, dan sungai-sungai yang cantik dan jernih. Ada juga sedikit pemukiman. Semuanya indah…

Dari Hakone-Yumoto, perjalanan dilanjutkan dengan bus ke Gora, tempat stasiun Tozan Cable Car untuk ke Sounzan. Gora itu seperti kawasan Puncak di Jawa Barat, tapi lalu lintasnya lebih sepi, kerapatan bangunan yang juga lebih rendah, sehingga lebih nyaman, udaranya lebih bersih. Berapa waktu tempuh dari Hakone-Yumoto ke Gora? 36 menit saja. Gak jauh, dan pemandangan di sepanjang jalan membuat mata tak bisa mengantuk. Indah, sayang untuk dilewatkan…

Gora, Garden Craft House

Dari halte bus Gora ke stasiun Tozan Cable Car ditempuh dengan jalan kaki, menanjak sekitar 300 meter. Jalan tersebut berada di kawasan pemukiman, sepi kendaraan lalu lalang. jadi nyaman. Setelah sampai di sekitar stasiun, jangan langsung masuk, karena tak jauh dari stasiun ada taman dengan bunga-bunga dan air mancur yang cantik. D sekitar situ juga ada crafthouse, tempat menjual produk kriya yang cantik-cantik. Di situ juga ada kelas membuat keramik, dan juga membuas kriya dari pasir yang dibakar sehingga menghasilkan wadah kaca beranek bentuk. Bagi pencinta kriya, ini pasti kesempatan belajar yang sangat menarik. Sayang untuk dilewatkan.

Sounzan, Ropeway, Owakudani

Karena saat kami berkunjung Tozan Cable Car ada perbaikan jalur, maka setelah kmenikmati taman dan berkunjung ke crafthouse, kami harus kembali ke halte, dan melanjutkan perjalanan sekitar 3,5 kilometer dengan bus ke Sounzan.

Ada apa di Sounzan ?

Sounzan merupakan starting point untuk menaiki ropeway alias kereta gantung, melintasi kawah gunung api menuju Owakudani. Ropeway dengan kaca di empat sisi, membuat penumpang bebas melihat ke seluruh penjuru. Pemandangan dari dalam ropeway di sepanjang perjalanan, benar-benar luar biasa unik. Kawah gunung api. Tak ada kehidupan yang tampak, kecuali semak. Itu pun sangat jarang.

Owakudani merupakan lembah gunung api (volcano) yang terbetuk sekitar 3.000 tahun yang lalu akibat ledakan gungung api Hakone. Di lembah ini terdapat bukaan sulfur dan mata air panas dari gunung api. Karena berada di pergunungan dan wilayahnya sangat terbuka, tanpa ada vegetasi, angin di Owakudani sangat kencang, udara menjadi sangat dingin, membuat kulit membiru.. Bbbbrrrrrrr…..

Apa yang istimewa di Owakudani?

Owakudani, Geomuseum, Black egg

Selain pemandangan kawah (crater), toko souvenier, dan resto, di sana juga ada Geomuseum yang menceritakan proses geologi wilayah Hakone, khususnya Owakudani. Dan, di sini toko-toko souvenier menjual Black Egg. Black egg adalah telur yang dimasak dengan di hotspring alias alias mata air panas dari gunung api. Proses tersebut membuat kulit telur jadi berwarna hitam, tapi isinya siyy tetap sama seperti telur yang dimasak biasa. Gak ada perbedaan rasa. Black egg menjadi icon sekaligus oleh-oleh utama dari Owakudani, bahkan penjualannya ada sejak di Odawara Station. Black egg biasanya dijual dalam paket yang terdiri dari 5 butir, dengan harga Yen 500 atau setara dengan Rp.65K. Kalau dibanding harga di Indonesia, apa laku ya jual telur sebutir Rp.13K? ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ

Dari Owakudani, perjalanan dilanjutkan ke Togendai. Jalur ini bisa ditempuh dengan ropeway, tapi karena kami kurang info, kami ke Togendai-ko dengan menggunakan bus selama 30 menit.

Togendai-ko

Apa yang mau dilakukan di Togendai yang berada di tepi Lake Ashi? Togendai-ko merupakan tempat berganti moda transportasi, dari ropeway ke kapal pesiar. Di Togendai ada tempat bermain sepeda air yang berbentuk bebek, tapi saat kami berkunjung tak ada nampak pengunjung sama sekali. Mungkin karena udara yang sangat dingin. Di sini ada permukiman tapi tidak besar, juga ada beberapa restaurant, tapi tak terlihat ada pengunjung. Sepi, kecuali di Togendai-ko, yang artinya stasiun Togendai.

Kapal persiar yang menysuri Lake Ashi mempunyai desain yang unik. Penuh ukiran yang mengingatkan diriku pada dewa Neptunus… ūüėÄ Kapal ini mempunyai 2 lantai ruangan tertutup, sedangkan lantai 3 merupakan dak, atau ruang terbuka, tempat penumpang bisa melihat pemandangan di sepanjang pelayaran dengan bebas.

Dari Togendai-ko kapal berlayar selama 45 menit ke Hakone sightseeing cruise di Moto Hakone, sebuah area pedesaan dengan pemandangan Gunung Fuji. Pemandangan tepian Lake Ashi di sepanjang kapal berlayar sungguh indah.

Lake Ashi

Moto Hakone desa yang nyaman, smenarik buat disusuri. Di sana terdapat beberapa museum, coffee shop, hotel-hotel, restaurant dan toko-toko souvenier. Sayang kami sampai ke sana menjelang senja, dan membuat kami tidak punya cukup waktu untuk menikmati desa ini. Sepertinya rancangan perjalangan yang lebih baik adalah menginap di desa ini, dan menikmati pemandangan Gunung Fuji di esok harinya.

Dari Moto Hakone, kami berusaha untuk pergi ke Gotemba. Tapi belum sampai setengah jalan, kami berganti bus untuk kembali ke Odawara, agar tidak kemalaman untuk kembali ke Tokyo. One day trip ke Hakone sungguh menyenangkan. Tapi untuk dapat lebih menikmati daerah yang luar biasa ini, sebaiknya dilakukan dalam 2 hari.***

1st Day : Tokyo Cruise

Saat menyusun ittenerary, menyusuri Tokyo tentu sebuah keharusan bila traveling ke Jepang. Dalam buku travel guide Lonely Planet,Japan dikatakan, buat bisa merasakan Old Tokyo, kawasan yang perlu dikunjungi adalah kawasan Asakusa dan tepian sungai Sumida (Sumidagawa), sungai yang bermuara di Teluk Tokyo.

Di berbagai kota besar dengan sejarah yang panjang, pada tepian sungai (river banks) biasanya terdapat banyak tinggalan sejarah, berupa kawasan pemukiman atau perdagangan lama. Hal ini menyebabkan aktivitas menyusuri sungai merupakan perjalanan yang selalu menarik, buat aku, saat mengunjungi kota-kota yang usianya relatif panjang. Dari hasil baca-baca, aku jadi tahu kalau ada cruise menyusuri sungai Sumida dari Asakusa sampai ke Odaiba, atau sebaliknya. Namanya paketnya Tokyo Cruise. For your information, cruise ini, seperti juga Bateaux-Mouches yang menyusuri sungai Seine, menyediakan layanan untuk dinner. Kebayang gak siyy romatisnya makan malam sambil menyusuri sungai..?? Perlu rogoh kocek dalam-dalam kayaknya klo mau makan malam di kapal tersebut… ūüėÄ

Odaiba : Rainbow Bridge dan DaikanranshaPerlu r

Btw, Odaiba itu dimana..?

Odaiba adalah pulau buatan yang menjadi pusat hiburan teknologi canggih di Teluk Tokyo. Untuk sampai ke Odaiba, dari Tokyo kita harus melintasi Rainbow Bridge. Di Odaiba terdapat kantor pusat Fuji Television Network, dengan bnetuk bangunan yang unik, yang bisa dikunjungi, dengan membeli tiket. Di Odaiba juga terdapat Pallete Town, tempat dimana terdapat Daikanransha, ferish wheel alias bianglala di tepi laut dengan pemandangan gunung Fuji,

So, hari pertama di Jepang tujuan kami adalah naik Tokyo Cruise dari Odaiba ke Asakusa. Kenapa milih berangkat dari Odaiba, bukan dari Asakusa? Pertimbangannya, Asakusa lebih dekat ke area kami menginap, sehingga jarak dan waktu tempuh untuk pulang akan lebih cepat saat tubuh telah lelah berjalan sehaarian. Dan rasanya setelah menyusuri sungai, bisa mencari kuliner halal yang infonya cukup banyak di kawasan Asakusa. Rencananya perjalanan ini bisa dilakukan mulai pukul 10 pagi, tapi karena ada beberapa kejadian yang unpredictable, kami baru bisa memulai perjalanan dari Shinjuku Station sekitar jam 2 siang. Jadi jalannya gak bisa sebanyak yang direncanakan. Gak bisa juga terlalu berleha-leha.

Untuk sampai ke Odaiba, kami naik kereta api, turun di Tokyo Teleport Station. Namun karena salah mengambil pintu keluar, kami bukannya langsung ke dermaga Tokyo Cruise. Kami nyasar ke arah Daikanransha dan Venus Fort. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ Venus Fort adalah mall dengan arsitektur Eropa Klasik. Mall ini tidak terlalu besar. Sebagaimana umumnya mall, di tempat ini tersedia counter-counter pakaian, tas, sepatu, baik yang branded maupun tidak. Terdapat juga tempat makan, berupa food court dan beberap restoran fine dining.

Setelah rehat dan makan siang yang telat di Venus Fort, kami kembali melanjutkan perjalanan ke dermaga Tokyo Cruise. Sebenarnya aku ingin juga naik Daikanransha, tapi waktunya tidak memungkinkan. Kami harus mengejar jadwal keberangkatan Tokyo Cruise. Lagi pula, waktu yang tepat untuk dapat melihat gunung Fuji agar tidak tertutup awan adalah di pagi hari.

Perjalanan ke dermaga Tokyo Cruise pakai perjuangan. Kami harus jalan kaki sekitar 1.5 kilometer dengan mengikuti petunjuk Google Map‚Ķ ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ Tapi perjuangan tersebut tidak sia-sia, selain sampai ke dermaga Tokyo Cruise, dan alhamdulillah masih dapat trip terakhir untuk hari itu. Bahkan kami bisa menikmati pemandangan menjelang sunset, dan menikmati senja dari atas kapal.

Tokyo Cruise

Saat kami naik Tokyo Cruise sore itu, penumpang tidak banyak. Hanya kami 6 orang plus 1 orang penumpang laki-laki. Jadi kami bebas untuk memilih mau duduk atau berdiri dimana saja di kapal tersebut. Bila ingin duduk nyaman dan hangat, bisa duduk di bagian dalam kapal dan melihat pemandangan tepi sungai dari jendela-jendela kapal. Tentu, pandangan terbatas, tidak seluas bila berada di bagian luar kapal..

Diriku dan kak Vivi yang senang menikmati udara bebas, memilih untuk berdiri di bagian atas kapal. Tempat tersebut cukup lebar berpagar, dan memang disediakan buat penumpang agar bisa bebas menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Angin di akhir musim dingin yang bbbrrrrrhhhhhh, sama sekali tidak membuat kami gentar, padahal sumpah, dingiiiiinnn banget, sampai jari-jari tangan terasa kaku.. Sarung tangan, gak cukup tebal untuk menghangatkan… Mungkin genggaman dari kekasih hati bisa menghangatkan.. Eaaaa…. !!!!

Sumida River Bank View

Apa saja yang terlihat di sepanjang perjalanan? Tepian Sumidagawa diisi dengan jejeran gedung-gedung bertingkat dengan arsitektur modern, dengan iconic building Tokyo Sky Tree. Tak terlihat bangunan tua dengan arsitektur Jepang. Berbeda dengan sungai Seine yang tepiannya dipenuhi bangunan-bangunan tua. Selain itu, di awal perjalanan kami juga melihat dan melintasi Rainbow Bridge yang bentuknya seperti red cable bridge San Fransisco, tapi warnya putih.

Sungguh meski tak melihat kawasan tua di tepiannya, menyusuri sungai Sumida bagiku adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan. Pemandangan, angin akhir musim dingin membawa rasa tersendiri..

Buat teman-teman yang akan traveling ke Jepang bila pandemi telah berlalu, bila memungkinkan sediakan waktu sehari penuh untuk mengunjungi Odaiba dan Asakusa. Usahakan sepagi mungkin sampai ke Odaiba agar bisa naik Daikanransha dan menikmati pemandangan gunung Fuji.. Dari searching-searching, infonya harga tiket naik wahana ini Yen1.000 buat orang dewasa, dan Yen500 buat anak-anak. Kira-kira Rp.130.000,- dan Rp.65.000,- Dan jangan lupa…, menikmati pemandangan tepian Sumidagawa dari Tokyo Cruise.. Untuk melihat jadwal dan harga tiket Tokyo Cruise, teman dapat lihat di website Tokyo Cruise, di sini.. ***

Tokyo Sky Tree from Tokyo Cruise

Traveling Mandiri ke Jepang, A Preparation (Part 2)

Kita lanjutin lagi cerita tentang persiapan perjalanan mandiri ke Jepang di Februari 2020, yang sudah ditulis di postingan sebelumnya yaa teman-teman…

TRANSPORTASI LOKAL

Kartu suica dan Vending Machine

Bila Japan Rail Pass digunakan untuk naik kereta api antar kota, untuk transportasi umum di Tokyo, kami membeli kartu SUICA. Saya membeli kartu SUICA secara online di Klook pada tanggal 17 Januari 2020. Tanggal 22 Januari 2020 terima email yang isinya voucher untuk ditukar dengan kartu SUICA yang isinya JPY1.500 dan deposit (jumlah yang tidak bisa digunakan untuk transaksi, tapi bisa di-refund saat pengembalian kartu ke JR Office) sebesar JPY500. Lokasi penukaran, ada di Bandara Haneda, Bandara Narita, juga di beberapa tempat lainnya yang dicantumkan di email.

Untuk kartu SUICA, menurut saya lebih baik beli setelah tiba di Jepang saja, karena kartu ini mudah didapat di counter JR yang ada semua stasiun di Tokyo. Kalau beli di Klook, harus ditukar di tempat tertentu, yang jam operasinya belum tentu sesuai dengan waktu perjalanan kita. Bahkan klo kita beli SUICA di counter JR ada pilihan, untuk turis atau bukan. Kalau untuk turis harganya berbeda, lebih murah. Selain itu gambar di kartu SUICA berbeda dengan kartu SUICA classic yang saya dapat. Teman-teman yang beli di di sana, kartunya bergambar bunga sakura. Untuk pengecekan dan penambahan (top up) saldo, bisa dilakukan di vending machine yang terdapat di sekitar pintu-pintu masuk stasiun. Penggunaan vending machine relatif mudah, so don’t worry.. Justru berkenalan dengan berbagai teknologi yang ada menjadi daya tarik sendiri selama di perjalanan..

Saya menukar voucher SUICA dimana? Di Shinjuku Takashimaya Duty Free, yang berlokasi di Takashimaya Times Square, 11th Floor, 5-24-2 Sendagaya, Shibuya-ku, Tokyo. Nemu lokasinya gak sengaja, saat mundar mandir ngisi waktu di Shinjuku Station menunggu teman yang menjemput passportnya ketinggalan di apartemen tempat kami menginap. Shinjuku Takashimaya itu bagian belakang gedungnya persis di seberang kantor JR di Shinjuku Station. Kesimpulannya, klo beli SUICA, beli setelah sampai di Jepang aja… ūüėÄ

Btw, klo gak salah ingat kartu SUICA ini juga bisa diguunakan untuk transportasi lokal di Osaka dan Kyoto. Jadi ini kartu efektif banget.

Google Map membantu mencari transportasi umum yang akan digunakan

Lalu…, bagaimana merencanakan jadwal perjalanan, untuk ke berbagai tempat? Mau naik apa, di stasiun mana, jam berapa?

Alhamdulillah… Jepang sebagai negera yang modern, dengan sistem transportasi umum yang canggih, informatif dan tepat waktu, membuat kita bisa merencanakan perjalanan dengan baik. Kita bisa melihat semua informasi transportasi umum di aplikasi Google Map. Bila kita memasukkan tempat awal dan tujuan, serta kapan waktunya kita bergerak, Google Map akan memberikan informasi arah ke stasiun/halte, pilihan-pilihan transportasi publik yang bisa kita naiki di sekitar waktu yang kita inginkan, nomor platformnya, bahkan berapa stasiun/halte yang akan kita lewati untuk sampai ke tujuan. Jadi kita insya Allah gak akan nyasar.. Klo nyasar2 dikit, tanya Google Map lagi. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ

Buat saya merencanakan transportasi ini salah satu bahagian yang sangat menyenangkan dalam merencanakan perjalanan kami.

Shirakawa-go Illumintaion

PAKET TRAVELING KHUSUS

Selama traveling di Jepang, inginnya semua perjalanan dilakukan secara mandiri. Tapi ada satu destinasi dengan event yang ingin kami kunjungi, yang tidak terbuka untuk transportasi umum, melainkan dikelola secara khusus, yaitu Shirakawa-go Illumination atau winter light up. Shirakawa-go adalah pedesaan di Gifu Perfecture, denga artsitektur rumah yang unik dan sudah ditetapkan menjadi World Heritage oleh Unesco. Di beberapa malam akhir pekan di musim dingin, lampu-lampu di rumah-rumah di Shirakawa-go akan dinyalakan, sehingga memberikan pemandangan tebaran cahaya dalam gelap malam bersalju. Seperti melihat gambar di buku dongeng.

Untuk bisa menghadiri Shirakawa-go Illumination kita harus membeli paket wisata yang dikelola oleh Nohi Bus, dengan keberangkatan dari Terminal Bus di Kota Takayama. Paket Shirakwa-go Illumination yang ditawarkan pada Februari 2020 ada 3 macam. Paket pertama kunjungan ke Shirakawa-go saja; paket kedua kunjungan ke Shirakawa-Go plus makan malam; paket ketiga kunjungan ke Shirakawa- Go sampai ke deck di kaki bukit sehingga bisa melihat desa dari atas plus makan malam.

Karena jumlah paket yang tersedia sangat terbatas, maka untuk bisa menyasikan Shirakawa-go Illumination pada tanggal 07 Februari 2020, paket tersebut dibeli segera secara online, sebelum keberangkatan.

AKOMODASI

Penentuan akomodasi dan penyusunan ittenerary adalah pekerjaan dengan panah dua arah. Bolak balik dan saling menyesuaikan. Karena kami pergi bersama, dan urusan persiapan dilakukan dengan berbagi tugas, mencari hotel menjadi tanggung jawab temanku. Namun pengambilan keputusan dilakukan setelah kami diskusi. Temanku itu melakukan pemesanan hotel di secara online di website yang biasa dia gunakan.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami dalam mencari akomodasi, yaitu :

Akomodasi di beberapa kota

1) Lokasi. Penginapan harus mudah diakses dari stasiun kereta, karena kereta merupakan transportasi publik terbesar di Jepang, dan akan menjadi transportasi utama yang akan digunakan selama perjalanan. Lokasijuga sangat perlu dipertimbangkan karena setiap hari perjalanan akan diisi penuh dari pagi sampai malam, jadi diperkirakan setiap malam, kami akan kembali ke tempat menginap dalam keadaan lelah. Jadi harus diusahakan sedekat mungkin dengan stasiun. Lokasi juga menjadi pertimbangan untuk keamanan bagi seluruh anggota rombongan yang berjenis kelamin perempuan. Keamanan tetap harus dipertimbangkan meski Jepang adalah negara yang relatif sangat aman ;

2) Kenyamanan. Akomodasi harus nyaman untuk digunakan bersama oleh seluruh anggota rombongan yang terdiri dari 6 orang. Nyaman ini meliputi luas ruangan, jumlah bed, ketersediaan lift bila berada di lantai lebih dari 2, ketersediaan mini kitchen yang lengkap dengan peralatan memanaskan air untuk minum, microware. Kalau soal toilet dan bathroom, sepertinya tak perlu khawatir, karena Jepang punya standard yang sangat baik menyangkut kedua hal tersebut;

3) Harga. Harga tentu saja menjadi pertimbangan yang juga penting, karena Jepang adalah salah satu negera dengan biaya hidup yang mahal, terutama di Tokyo. Seluruh biaya akomodasi ditanggung bersama secara merata oleh 6 anggota rombongan.

Mencari akomodasi buat perjalanan kami tidak mudah, karena kami cenderung mobile. Sesuai dengan ittenarary yang sudah disusun, kami merencanakan untuk menginap di Tokyo 2 hari pertama, lalu menginap di Toyama, Takayama, Osaka dan kembali menginap di Tokyo di malam terakhir di Jepang. Alhamdulillah kami mendapat kesempatan menginap di berbagai macam akomodasi. Kami menginap di menginap 2 malam di apartemen mungil di kawasan Yotsuya Tokyo. Menginap di Comfort Hotel di Toyama. Menginap di Sora-Ama Hostel dengan kamar ala Jepang alias berkasur tatami di Takayama. Lalu menginap 3 malam di Universal Bay Condominium, kondo 3 kamar dengan ruang duduk, dapur dengan area makan yang nyaman di Osaka. Terakhir, kami menginap di hotel Mimaru Hotel Tokyo Ueno North dengan 6 bed yang sangat nyaman, tak terlalu jauh dari Ueno Park. Review dari masing-masing akomodasi, dibahas nanti ya teman-teman..

Berapa biaya akomodasi untuk 8 malam? Lumayan, hampir setara dengan harga tiket Kuala Lumpur – Haneda pp. Akomodasi dan tiket pesawat merupakan dua komponen terbesar dari biaya perjalanan yang kami lakukan.

ASURANSI PERJALANAN

Mengingat perjalanan yang akan dilakukan cukup beresiko karena menempuh jarak yang jauh, di negeri yang asing, mobilitas yang tinggi, akan menggunakan berbagai moda transportasi, dilakukan pada musim end-winter yang sangat beresiko bagi kesehatan untuk yang biasa hidup di daerah tropis, kami memutuskan untuk mengurangi resiko dengan membeli asuransi perjalanan . Asuransi perjalanan ditujukan untuk menutup biaya yang timbul akibat pengobatan, pembatalan perjalanan, bagasi hilang, insiden dalam perjalanan, dan kerugian lain yang timbul selama perjalanan.

Kami mencari informasi tentang asuransi perjalanan dari beberapa websiste perusahaan asuransi, juga bertanya pada teman yang berkerja sebagai agen asuransi. Beberapa perusahaan asuransi telah menyediakan layanan pembelian asuransi perjalanan secara online. Namun mengingat banyak hal lain yang juga harus diurus, takut ada data yang kurang pas saat disampaikan ke pihak perusahaan asuransi, kami memutuskan untuk membeli asuransi melalui agen asuransi.

Paket asuransi apa yang kami ambil?

Asuransi perjalanan untuk group, karena harga premi bila dibagi bersama jadi lebih murah, dari pada premi asuransi perjalanan perorangan. Manfaat asuransi yang kami pilih, adalah manfaat maksimal.

FASILITAS KOMUNIKASI

Mengingat Jepang adalah negara dengan teknologi sangat maju, wifi ada dimana-mana. Di stasiun, bahkan di kereta-kereta api. Karena pada saat ini berbagai aplikasi yang membuat kita bisa berkomunikasi baik berupa text message, voice call maupun video call dengan menggunakan jaringan internet. Kita gak perlu menyediakan cadangan pulsa yang banyak, atau buka roaming sebelum berangkat ke Jepang. Cukup dengan mengakses wifi.

Apakah mengandalkan wifi public cukup? Menurut saya tidak. Karena wifi public kadang tidak stabil, kadang kualitasnya kurang baik. Lalu apa solusinya? Pocket wifi.

Untuk bisa menggunakan pocket wifi selama melakaukan perjalanan di Jepang, kita tak perlu membeli, cukup menyewa saja. Saat tiba, saya lihat di Bandara Haneda ada counter penyewaan pocket wifi. Ini bisa jadi alternatif bagi teman-teman yang ingin menyewa setelah sampai di sana. Tapi biar gak harus mencari-cari lagi setelah sampai di Jepang, pocket wifi bisa dibawa dari Indonesia. Kita tinggal mengaktifkan pocket wifi yang sumber energinya menggunakan battery yang bisa di-recharge dengan menggunakan kabel yang sama dengan charger handphone. Ukurannya pun kecil, tinggal dimasukkan ke backpack.

Untuk mendapatkan pocket wifi Jepang di Indonesia, coba searching di google. Ada banyak info layanan penyewaan alat tersebut, terutama di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Karena berangkat dari Pekanbaru, yang setahu kami belum ada jasa layanan tersebut, maka kami menyewanya dari Jakarta. Penyedia jasa mengirimkannya ke Pekanbaru dan sampai ke kami beberapa hari sebelum berangkat. Sesuai arahan penyedia jasa, pengembaliannya dilakukan dengan menyerahkan ke salah satu mini market yang ditunjuk penyedia jasa. Tapi di Pekanbaru, nampaknya petugas di mini market yang menjadi rekanan penyedia jasa belum terbiasa untuk menerima pengembalian wifi modem, sehingga teman saya yang mengembalikan ke sana agak mengalami kesulitan,

PAKAIAN

Bawa pakaian apa, berapa banyak selama perjalanan 11 hari pulang pergi ke daerah yang sedang end-winter, bahkan bersalju di beberapa tempat yang akan didatangi? Kalau gak salah ingat, diriku bawa 2 gamis katun, 3 rok, 1 celana panjang bahan kaus, 1 blus katun, 4 baju kaus tangan panjang, 1 baju kaus tebal selutut lengkap dengan hoodie, sengaj dibawa khusus untuk pergi ke daerah yang bersalju. Selain itu diriku bawa 2 legging, 3 set winter long john, 1 jacket panjang bahan rajut dan 1 jacket yang benar-benar tebal.

Aku juga bawa 6 set kaus kaki khusus untuk di cuaca dingin. Iyu pun selalu dipakai dua lapis. Kita juga perlu bawa kaus kaki untuk digunakan di tempat kita menginap, karena saat end-winter, lantai jadi sangat dingin. Sandal rumah yang disediakan penyedia akomodasi tidak cukup untuk menahan kaki dari rasa dingin. Untuk tidur, aku bawa 2 buah baju tidur. Aku juga bawa beberapa shawl aneka warna dan motif, selain wajib untuk menghangatkan leher, shawl juga membuat tampilan terlihat berbeda, meski menggunakan baju yang sama.

Sepatu? Aku sebenarnya bawa 2 pasang sepatu. Sepasang sepatu keds dan sepasang sepatu boots wedges berbahan suede. Mengapa bawa 2? Untuk mengantisipasi sepatu yang satu basah terkena salju. Tapi aku lupa, klo beberapa tahun yang lalu kaki kananku pernah cedera di angkle. Akibatnya sepatu boots tak lagi nyaman untuk dipakai berjalan kaki untuk wakttu yang lama dan jarak yang panjang Meski dibawa, bootsku tidak terpakai. Akibatnya saat septu basah kena hujan salju di Toyama, sebelum dan setelah bangun tidur, ada acara mengeringkan sepatu pakai hai dryer di kamar hotel. ūüėÄ ūüėÄ Kesimpulannya, untuk perjalanan yang sangat mobile, membawa dua pasang sepatu keds adalah pilihan terbaik.

Sebenarnya gak perlu bawa pakaian luar terlalu banyak, karena meski bergerak ke sana kemari, tubuh cenderung tak berkeringat. Kalau pun berkeringat, tak banyak, dan segera kering kembali. Tak ada bau yang melekat di pakaian. Tinggal dijemur sambil diangin-anginkan saja. Apa lagi kalau dapat tempat menginap yang ada mesin cuci, seperti di kondo di Osaka, pakaian bisa dicuci dengan keringkan sampai 80%, sebelum tidur, pagi-pagi dijemur, sore sudah kering. ūüėÄ

KONSUMSI DAN OBAT-OBATAN

Untuk konsumsi, sejak awal kami sepakat untuk tidak mengumpulkan uang. Pertimbangannya selera berbeda-beda, harga makanan yang akan dipilih juga akan berbeda. Jadi kita pakai prinsip, pay what you eat alias bayar sendiri-sendiri apa yang dimakan. Dan itu memang lebih fair.

Secara kami orang Indonesia asli, yang gak kenyang klo belum ketemu nasik dan sambel. Maka kami membawa aneka ragam makanan kering selera asal. Ada yang bawa sambal kentang, ada yang bawa sambal teri plus kacang, ada yang bawa rendang daging dan rendang kerang. Kami juga membawa beberapa mie instant, aneka biskuit, permen, dan minuman sesuai selera masing-masing. Saya bawa cadbury, minuman coklat kesukaan, juga teh dan pemanis buatan, juga beberap biskuit kesukaan. Minuman cadbury hangat yang dibawa dalam tumbler tahan panas sungguh menjadi mood booster dan sumber energi saat memulai perjalanan setiap pagi.

Gak usah repot-repot untuk bawa beras, ya teman-teman. Apa lagi sampai berkarung-karung.. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ Orang Jepang sama seperti kita, salah satu makanan pokoknya adalah nasi. Di gerai-gerai mini market seperti Seven Eleven atau Family Mart, yang terdapat di setiap sudut kota, tersedia nasi yang tinggal dihangatkan di microwave. Jadi gak perlu bawa mini magic com, apa lagi panci. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ Untuk mebawa bekal dalam perjalanan, masing-masing perlu membawa lunch box plus sendok dan gapu, serta tumbler.

Meski tidak sakit, obat-obatan tetap perlu disiapkan, termasuk vitamin untuk mejaga daya tahan tubuh, yang akan beraktivitas luar biasa selama 11 hari. Obat yang dibawa adalah obat-obat generik untuk berjaga-jaga bila terkeba flu, diare dan alergi. Juga obat bila terluka serta band aid.

KOPER, TAS DAN PENGIRIMAN

Setelah diskusi, saya dan teman-teman memuruskan untuk membawa 1 koper besar, 1 koper kecil, 1 ransel dan 1 sling bag. Ransel untuk membawa kotak makanan, minuma, perlengkapan sholat, kebutuhan sanitary selama melakukan perjalanan setiap hari dan juga berbagai keperluan lainnya. Sling bag digunakan untukmembawa barang-barang kecil yang harus cepat diakses, seperti dompet, kartu ATM, CC, passport, JR Pass, kartu Suica, handphone, serta catatan itenerary dan rencana tranportasi yang akan digunakan di hari tersebut.

Untuk lebih terorganisir, saya menyiapkan 3 card holder dengan warna yang berbeda untuk memudahkan dalam mengambil. Satu card holder untuk menyimpan plastic money, satu card holder untuk menyimpan beberapa kartu penting buat berjaga-jaga tapi kemungkinan sangat jarang digunakan, dan satu card holder lagi untuk menyimpan kartu Suica, tiket masuk museum, dan sejenisnya. Card holder penyimpan plastic money, dan card holder penyimpan kartu penting disimpan di kantong bahagian dalam sling bag, dan hanya dikeluarkan saat akan melakukan pembayaran. Karena terpisah, plastic money tidak bulak balik ikut keluar saat mengunakan kartu Suica yang harus di-tap saat masuk dan keluar stasiun. Tujuannya untuk mengurangi resiko tercecer selama melakukan perjalanan.

Selama perjalanan, saya tidak membawa dompet yang biasa saya gunakan. Saya menggunakan case berbahan sama dengan card holder untuk menyimpan uang, juga case senada untuk menyimpan passport. Saya tidak menggunakan passport wallet, karena sering kali petugas imigrasi minta kita menyerahkan passport tanpa cover saat mereka melakukan pengecekan. Menggunakan case-case ini rasanya lebih praktis, gak menuh-menuhin sling back yang ukurannya kecil.

Mengapa kami membawa 2 koper? Karena dalam perjalanan yang direncanakan, akan ada perjalanan ke beberapa kota dalam 3 hari, bahkan ada 2 kota dalam 1 hari. Dalam perjalanan yang seperti itu, agar leluasa bergerak, hanya perlu membawa 1 atau 2 set baju. Saat sampai di kota yang dituju, koper akan dimasukkan ke locker yang tersedia di stasiun, lalu diambil saat akan melanjutkan perjalanan. Akan menyulitkan bila membawa koper besar kemana-mana. Lagi pula semakin besar ukuran locker yang disewa, harga sewa semakin tinggi. Jadi untuk perjalan yang seperti itu cukup bawa koper ukuran cabin.

Lalu koper yang besar dikemanakan? Di Jepang, untuk memudahkan pergerakan orang dan barang, terutama traveler, tersedia jasa untuk pengiriman koper, namanya Takkyubin atau Takuhaibin. Perusahaan ini punya banyak outlet di berbagai kota di Jepang, dan bekerja sama dengan gerai Seven Eleven. Jadi bila kita akan melakukan perjalana ke beberapa kota dalam beberapa hari, kita bisa mengirim barang-barang kita ke kota tujuan akhir. Berapa biaya pengiriman? Tergantung jarak pengiriman dan berat barang yang akan dikirim.

Go Ca Delivery Service

Barang-barang akan di antar Takkyubin ke alamat penginapan yang sudah dibooking. Syaratnya, paling lambat barang yang akan dikirim sudah harus diserahkan ke outlet Takkyubin atau gerai Seven Eleven 2 hari sebelum waktu barang tersebut kita inginkan sampai di tempat. Jadi sejak awal kita perlu merencanakan, kapan barang-barang akan dikirim.. Selain itu perlu menyisihkan waktu untuk mencari outlet pengiriman dan juga waktu untuk pengantaran barang.

Menyisihkan waktu untuk mengirim barang, sangat perlu menjadi pertimbangan, karena di beberapa jaringan mini market yang bekerja sama dengan Takkyubin yang kami datangi, sebagian besar petugas tidak punya kemampuan berbahasa Inggris. Di sisi lain, saya dan teman-teman tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali, kecuali mengucapkan Konichiwa dan Arigato Gozaimas.. ūüėÄ ūüėÄ Ada memang aplikasi yang bisa melakukan translate, tapi tetap saja ribet dan butuh waktu.

Khusus untuk di Tokyo, bila kita akan berangkat sore atau malam, dan kita masih ingin jalan-jalan, kita bisa menggunakan jasa pengiriman barang ke Bandara Narita atau Haneda. Nama jasanya Ca-Go Delivery service, teman-teman bisa lihat keterangan jasa yang diberikan di Ca Go Website. Atau sebaliknya, begitu kita sampai di bandara kita ingin langsung jalan-jalan tanpa menyisihkan waktu untuk antar barang ke hotel terlebih dahulu, kita bisa menggunakan jasa Ca-Go Delivery untuk mengirim barang-barang kita ke hotel. Berapa biaya jasa pengirimannya? Untuk dari dan ke bandara Haneda, untuk segala ukuran koper, biayanya Yen 1.650 per koper.

UANG

Berapa banyak uang yang dibawa untuk bekal melakukan perjalanan? Ini merupakan salah satu topik bahasan teman-teman serombongan sebelum berangkat. Karena saya tujuannya jalan-jalan, saya hanya membawa uang tunai secukupnya saja untuk membeli makanan, jajan, tiket masuk museum atau tempat-tempat yang didatangai dan untuk beli souveniers.

Mata uang apa yang dibawa? Yen, jelas harus dibawa. MYR alias Malaysian Ringgit juga harus dibawa, karena saat beragkat dan pulang akan transit di Bandara KLIA, jadi perlu MYR buat beli makanan dan minuman. Saya juga membawa sedikit US $ buat berjaga-jaga untuk ditukar ke Yen, bila kehabisan. Selain menggunakan uang cash, kita bisa menggunakan CC atau Debit. Jadi untuk persiapan uang gak terlalu susah, asal uangnya ada.. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ

Rasanya semua persiapan yang saya dan teman-teman serombongan lakukan sudah include di postingan ini ya. Mungkin buat teman-teman yang biasa pergi traveling dengan menggunakan jasa travel, rasanya ribet banget ya persiapan yang perlu dilakukan. Bisa bikin ilfil, karena butuh waktu yang cukup panjang dan effort yang besar. ūüėÄ ūüėÄ

Tapi percaya deh, traveling mandiri itu seru !!! Pakai tiga tanda seru ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ Selain kita bisa menentukan sendiri mau kemana dan berapa lama di suatu tempat, kita juga bisa menikmati lebih lama tempat-tempat yang dikunjungi. Kita bisa melihat banyak hal yang mungkin gak terlihat dari balik jendela bus wisata. Di sisi lain, kita secara fisik harus lebih kuat, karena kita akan bepergian dengan tranportasi umum. Tranportasi umum utama di Jepang adalah kereta api. Jangan berpikir stasiunnya seperti di negeri kita, yang platformnya hanya 1 atau 2 tingkat. Di sana sebuah stasiun lorongnya bisa bercabang-cabang, dan punya puluhan platform. Untuk mencapai platform ada yang pakai escalator, ada yang tidak. Syukur-syukur klo ada lift. Dan harap diingat, bahwa kita juga bisa kesasar… ūüėÄ ūüėÄ Dan upaya mencari jalan kembali juga menjadi keseruan tersendiri.. ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ

Berapa estimasi pengeluaran? Di luar biaya konsumsi, uang icip-icip jajanan Jepang yang seru-seru, beli tiket masuk museum dan tempat-tempat yang dikunjungi, serta beli souveniers, saya mengeluarkan uang sekitar Rp.17 jutaan. Murah…?? Coba cari tahu dengan melihat tulisan-tulisan dari teman-teman yang telah melakukan perjalanan yang relatif sama.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan menjadi rujukan buat teman-teman yang merencanakan perjalanan mandiri ke Jepang setelah pandemi berlalu,ya teman-teman. ***

Traveling Mandiri ke Jepang, A Preparation (Part 1)

Hari-hari ini di memories Facebook ku muncul kenangan perjalanan ke Negeri Matahari Terbit yang kulakukan persis setahun yang lalu…¬† Hal ini membuat diriku ingin menuliskan certa tentang perjalananku itu, juga perjalanan=perjalanan yang ku lakukan beberapa tahun terakhir.. Ya, sudah hampir 2 tahun aku tidak membuat tulisan di ceritasondha.. Rindu untuk bisa kembali menulis, menuangkan pikiran dan rasa.., meninggalkan jejak kehidupan..¬† Ini tulisan pertamaku setelah pingsan lebih dari 2 tahun..¬† Tulisan tentang persiapan perjalanan ke Jepang.. Cerita tentang persiapan ini dibuat dalam 2 part, karena memang banyak hal yang haris dilakukan.. Di tulisan ini aku juga mencantumkan harga-harga tiket dll dengan tujuan bisa menjadi acuan teman-teman untuk mengambil keputusan.

So, here the 1st part..

Awal Agustus 2019, seorang teman menelpon, menawari untuk jalan bareng ke Jepang di awal Februari 2020.  Jalan ke Jepang secara mandiri, tidak ikut paket perjalanan yang dikelola oleh travel.  Setelah menimbang-nimbang jadwal pekerjaan, diriku setuju untuk bergabung.  Teman itu membelikan terlebih dahulu tiket saya dan juga tiket teman-teman yang diajak pergi bareng, agar berangkat dengan penerbangan yang sama di waktu yang sama.  Kami kemudian mengganti uangnya sesuai dengan rate yang berlaku.  Ada 6 orang yang diajak pergi bersama.

TICKET

Tiket yang dibeli dari skyscanner adalah tiket Singapore Airlines dengan rute Kuala Lumpur РHaneda pulang pergi, transit di Singapore.   Berangkat tanggal 5 Februari 2020, kembali tanggal 15 Februari 2020.  Kalau dilihat dari posisinya, rute penerbangan tersebut mundar mandir.  Maksudnya dari Pekanbaru mundur dulu ke Kuala Lumpur, baru kemudian maju ke Singapore, lalu lanjut ke Jepang.   Tapi teman saya punya pertimbangan, penerbangan dari Pekanbaru ke Kuala Lumpur ada setiap hari, sementara ke Singapore tidak.

Berapa harga tiket untuk perjalanan yang akan dilakukan 6 bulan ke depan dari tanggal pembelian? Coba teman-teman check di website skyscanner untuk penerbangan 6 bulan ke depan, biasanya harganya relatif sama.

Bagaimana dengan  penerbangan dari Pekanbaru ke Kuala Lumpur?

Karena penerbangan dari Kuala Lumpur ke Singapore jam 14.30 Waktu Kuala Lumpur (15.30 WIB), dan dari Pekanbaru ada penerbangan pagi hari ke Kuala Lumpur, maka kami membeli tiket Air Asia di hari yang sama.  Jadi tidak perlu menginap di Kuala Lumpur.  Soal harga tiket Air Asia, teman2 bisa check langsung di websitenya.  Dengan catatan, itu belum termasuk harga bagasi ya.  Karena Air Asia hanya memberi fasilitas untuk membawa 1 barang ke cabin, dengan berat maksimal 7 kg.  Jadi? Ya harus beli bagasi tambahan sebelum keberangkatan.

Dengan pertimbangan penerbangan melintasi Samudera Pasifik kemungkinan penerbangan mengalami turbulensi cukup besar, teman saya mengajak untuk membeli seat saat membeli tiket.  Jadilah kami membeli seat untuk penerbangan Singapore РHaneda pp. 

Jadi berapa harga tiket keseluruhan? Lebih kurang Rp.6.095.700,-   Mahal? yuukk kita coba cari perbandingannya..

ITINERARY

Setelah membeli tiket,  prioritas yang harus dilakukan bagi yang mau traveling mandiri adalah menyusun ittinerary.  Itinerary selain akan menjadi acuan bergerak saat traveling, juga  merupakan syarat yang harus dilampirkan untuk aplikasi visa.

Menyusun itinerary butuh waktu dan pengetahuan yang cukup tentang kota-kota yang mau dikunjungi, apa yang mau dilihat, sarana transportasi antar kota dan dalam kota yang dibutuhkan, juga perkiraan waktu  untuk bergerak dari satu tempat ke tempat berikutnya. Ittinerary juga menjadi acuan dalam memesan hotel di kota-kota yang akan dikunjungi.  lonely planet japan

Bagaimana cara mencari ilmu tentang hal-hal tersebut?

Di internet ada banyak informasi tentang pariwisata Jepang, bahkan di Youtube ada banyak vlog yang informatif, termasuk yang berbahasa Indonesia. ¬†¬† Selain searching-searching di Mbah Google, dalam satu kesempatan singgah di Periplus di Bandara Soetta, saya membeli buku Lonely Planet “Japan”.¬† Berapa harganya? Rp.528.000,-.¬† Mehong yeee…. ? Iyeee.¬† Tapi menurut saya pantas kok.¬† Karena informasi di buku itu cukup lengkap, update dan detail.¬† Buku ini menjadi referensi utama saya dalam menyusun ittinnerary perjalanan kami, yang merupakan salah satu tugas saya.

Selain mencari informasi, saat menyusun ittinerary, saya dan teman-teman berdiskusi tentang apa yang ingin dikunjungi.¬† Sebenarnya, ini sebaiknya dibicarakan sebelum membeli tiket, agar orang-orang yang akan jalan bersama adalah orang-orang dengan “frekuensi” yang sama, punya preferensi yang sama.¬† Paling tidak seleranya mendekati, agar semua anggota rombongan happy saat travelling.

Soal preferensi kita harus berterus terang dan jujur.¬† Jangan setelah di daerah tujuan kita merasa sebal karena ada beberapa kunjungan ke museum di dalam ittinerary, sementara kita gak suka sama museum.¬† Bisa¬† bete 7 hari 7 malam, kan.. ¬† Selain itu kita juga harus berani menyampaikan kepada teman-teman serombongan aktivitas yang kita sukai saat traveling.¬† Misalnya kita senang motret, membuat foto-foto tempat-tempat yang kita kunjungi, bukan cuma kitanya yang berfoto-foto.¬† Karena¬† memotret ini akan membutuhkan ruang dan waktu tersendiri, butuh pemahaman dari teman-teman serperjalanan.¬† Kebayang kan klo teman-teman serombongan tidak paham, begitu kita angkat kamera, mereka main langsung nongol aja di depan kamera kita. Hrrrgggghhhhhh….

Ittinerary yang kami susun secara umum adalah : Hari ke-1 : Pekanbaru – KL- Singapore -Haneda; Hari ke-2:¬† Old Tokyo (nginap di Tokyo); Hari ke-3 : Oneday trip ke Hakone (nginap di Tokyo); Hari ke-4 : Matsumoto – Toyama (nginap di Toyama); Hari ke-5 : Takayama – Shirakawa Go (nginap di Takayama); Hari ke-6 :¬† Kyoto – Osaka (nginap di Osaka); Hari ke-7 : Nara (nginap di Osaka); Hari ke-8 : Oneday trip ke Hiroshima (nginap di Osaka); Hari ke-9 dan ke-10: Tokyo (malam berangkat ke Singapore); Hari ke-11 : Singapore – KL – Pekanbaru.¬† Padat bangettttt….? Ya.. kalau mau jalan lagi ke sana, perlu diberi waktu yang lebih lega, karena ada saja hal-hal yang di luar rencana terjadi, yang membutuhkan waktu untuk diselesaikan.

VISA

Untuk penduduk di wilayah Pulau Sumatera, Visa Jepang diurus di Konsulat Jenderal Jepang di Medan.  Lokasinya di Sinar Mas Land Plaza, Jl. Pangeran Diponegoro No.18, Madras Hulu, Kec. Medan Polonia,  Medan.  Buat yang bermukim di luar Kota Medan, pengurusan visa bisa dilakukan oleh travel.  Kami menggunakan jasa Bayu Buana Travel cabang Pekanbaru. Biayanya Rp.550.000,- untuk Visa Single Entry.   Waktu yang diperlukan untuk pengurusan sekitar 1 minggu setelah dokumen persyaratan yang kita sampaikan lengkap.   Syarat Pengajuan Visa Jepang di Konsulat Medan   yang diminta oleh travel dapat dilihat di sini.  Alhamdulillah urusan pengurusan visa kami lancar jaya.

TRANSPORTASI

Japan Trip 1Untuk transportasi, Pemerintah Jepang yang sangat mendukung pariwisata menyediakan Japan Rail (JR) Pass.  Pass yang dapat dibeli di KLOOK hanya disediakan untuk wisatawan yang berkewarganegaraan Non Jepang, dan harus dibeli sebelum wisatawan sampai ke Jepang.

Bila kita membeli JR Pass, yang kita terima adalah Exchange Order.  Dokumen ini dikirim lewat jasa kurir ke alamat yang kita cantumkan saat memesan.  Sementara yang kita dapatkan di email adalah bukti pemesanan dan nomor pemesanan.  Progress pemesanan dan pengiriman dapat kita pantau di Klook, dan  kita harus registrasi dulu di Klook sebelum membeli berbagai produk yang ditawarkan di sana.

Setelah sampai di Jepang, Exchange Order ini kita bawa ke JR Office yang terdapat di bandara atau stasiun-stasiun besar untuk ditukarkan dengan JR Pass.  Kita juga akan ditanya sejak tanggal berapa JR Pass tersebut akan kita gunakan.

Jenis JR Pass bervariasi berdasarkan cakupan wilayah yang akan dikunjungi, dan rentang waktu penggunaan.  Harga JR Pass juga ditentukan variasi tersebut.   Jadi pembelian JR Pass harus mempertimbangkan itinerary, dan sebaliknya itinerary juga disusun berdasarkan jenis JR Pass yang akan  dibeli.  Pilihan JR Pass dapat teman-teman lihat di website KLOOK.

JR Pass apa yang kami beli? JR Pass All Area untuk 1 minggu.  Pilihan ini kami ambil karena area yang rencananya akan kami kunjungi tidak berada dalam satu area JR Pass dengan daerah lain.  Sebenarnya dengan JR Pass All Area ini kita bisa berkunjung sampai ke Hokaido Perfecture yang berada paling timur laut Jepang, dan berbatasan denga wilayah Rusia.  Tapi waktu yang tersedia untuk kami mengunjungi Jepang hanya 9 hari di luar perjalanan yang 2 hari, maka pergi ke Hoklaido belum menjadi pilihan.

Japan Trip 2

Saat menerima kiriman Exchage Order harus dicek dengan baik, apakah data yang tercantum di dokumen Exchange Order tersebut adalah data kita, sebagaimana tercantum di passport, sebagaimana dicantumkan saat memesan JR Pass. Kalau tidak sama, segeralah minta penggantian.¬† Karena bila nama di Exchange Order¬† berbeda dengan di Passport, maka Exchange Order tidak bisa ditukarkan menjadi JR Pass.¬† Dan…, jangan lupa membawa passport saat akan menukarkan Exchange Order dengan JR Pass.¬† Bila kita tidak menunjukkan passpor, maka proses penukaran tidak dapat dilaksanakan.

Untuk persiapan yang lain, kita lanjut di Part 2 ya teman2.. ***

Madain Saleh

img1521460588763-1820887088.jpg

The Signage

Beberapa tahun yang lalu, diriku melihat di FB mba @fitradiaz, foto beliau dan suaminya dengan latar bukit batu yang bentuknya seperti rumah-rumah. Caption foto tersebut klo tak salah ingat “Madain Saleh“. Diriku bertanya pada mba Diaz, dimana foto itu dibuat. Jawaban beliau itu di Madain Saleh, situs peninggalan wilayah syi’ar Nabi Saleh AS. Lokasinya masih di wilayah Provinsi Madina, namun belum menjadi destinasi wisata di Madinah yang ditawarkan paket-paket umroh.

Aku lalu mencari-cari informasi tentang Madain Saleh lewat mbah Google.

Dari mbah Google aku menemukan bahwa Madain Saleh atau disebut juga Al Hijr atau Hegra (dalam bahasa Yunani) adalah sebuah wilayah dimana terdapat situs arkeologi peninggalan kerajaan Nabatean. Madain saleh adalah kota terbesar kedua dari kerajaan yag berkuasa di abad pertama Masehi ini, sedangkan ibu kota kerajaan adalah Petra, yang saat ini termasuk wilayah kerajan Jordania.

Kawasan Madain Saleh dulunya dihuni oleh Kaum Tsamud, kaum yang sangat maju di zamannya, namun ingkar pada Allah SWT. Cerita tentang kaum Tsamud, kerap aku dengar di training-training ESQ yang sering aku ikuti beberapa tahun yang lalu. Nama kaum ini salah satunya disebutkan dalam ayat ke 11 Surat As Shams, surat ke 91 dalam Al Qur’an. Surat ini diawali dengan 6 sumpah yang menyebutkan nama benda-benda dan fenomena yang ada di semesta, dan satu sumpah yang menyebutkan “demi jiwa dan penyempurnaannya”. Lalu diikuti dengan ayat-ayat yang mengatakan, “Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang mensucikannya, dan sungguh merugi bagi yang mengotorinya”

Sejak itu diriku berharap suatu saat bisa menginjakkan kakiku ke Madain Saleh.

Aku selalu mengamati tawaran travel-travel umroh, tapi tidak ada travel yang menawarkan kunjungan ke Madain Saleh. Pada pertemuan dengan pak Rizky, pimpinan travel Penjuru Wisata Negeri saat kami mencari-cari travel untuk umroh, beliau bilang, “Kak, saya kasi bonus buat kakak dan teman-teman ya. Bonusnya kunjungan ke Madain Saleh.” Sungguh itu bonus yang sangat istimewa. Pak Rizky konsisten dengan janjinya, meski jumlah rombongan kami yg berangkat tak sesuai rencana awal.

screenshot_2018-03-16-20-13-30-1-886749079.png

Rute Madinah – Madain Saleh

Hari Selasa, 13 Februari 2018, diriku dan teman-teman, ditemani Ustadzah Alena – tour leader dari Travel Umroh Penjuru Wisata Negeri, juga 2 orang perwakilan travel yang menetap di Madinah, berkunjung ke Madain Saleh. Kami pergi dengan mini bus berkapasitas 14 penumpang. Supirnya orang lokal yang sudah relatif berumur, namun kemampuan menyetirnya luar biasa. Dia sangat mahir berkendara saat harus menghadapi rombongan unta yang bisa mendadak ditemukan memenuhi ruas jalan, atau ketika mobil tidak bisa jalan lurus dengan mulus alias agak zig zag karena adanya badai pasir.

Kalau teman-teman lihat di Google Map, Madain Saleh itu lokasinya berada 366 km di Barat Laut Masjid Nabawi yang berada Kota Medina. Waktu tempuh bila menggunakan mobil lebih kurang 3 jam 51 menit. Kami berangkat dari Hotel Gloria Alfayroz Diamod di Madinah sekitar jam 08.30 pagi, dan sampai di kawasan Madain Saleh sekitar jam 01 siang.

Madain Saleh atau Al Hijr saat ini adalah wilayah dengan luas ratusan hektar tanpa penghuni. Sebuah wilayah yang subur di antara gunung-gunung batu dan gurun pasir, sesuai dengan arti Al Hijr, gunung batu, yang juga merupakan nama surat ke 15 dalam kitab suci Al Qur’an.

Madain Saleh 2

Madain Saleh

Di wilayah ini tersebar banyak sekali batu-batuan besar dengan berbagai bentuk, antara lain seperti gundukan yang dapat difungsikan sebagai rumah, orang dan juga gajah. Ada juga kompleks bebatuan yang berbentuk bangunan-bangunan sangat besar. Kompleks ini yang sudah terdaftar sebagai World Heritage alias Warisan Dunia di UNESCO. Namun kompleks situs World Heritage pertama di Arab Saudi ini sudah diamankan dengan pagar kawat yang tinggi, dan tak bisa dikunjungi tanpa izin. Saat kami ke sana pintu gerbang kompleks tertutup, dan tidak ada petugas yang nampak. Jadilah kami hanya bisa melihat dari balik pagar, dan mengunjungi bahagian yang belum dikelilingi pagar kawat, seperti batu yang berbentuk gajah. Namun dari foto yang terdapat di galeri website Unesco, pada batu-batu yang sudah diamankan tersebut terdapat pahatan-pahatan yang berbentuk gedung, ruang-ruangan dengan pahatan-pahatan sebagai dekorasi.

Madain Saleh 1

Madain Saleh

Daerah ini sebagian besar sudah mulai tertata rapi, bahkan ada pedesterian untuk pejalan kaki. Jalannya lebar-lebar, dengan pengaturan arah dan signage yang baik. Nampaknya Pemerintah Arab saudi sedang mempersiapkan daerah ini untuk menjadi destinasi wisata yang baru, meski mungkin masih ada perbedaan pendapat tentang kelayakan tempat ini menjadi destinasi wisata. Mengapa begitu? Karena sehari setelah berkunjung ke Madain Saleh, saat antri untuk masuk ke Raudoh, saya berbicang-bincang dengan seorang ibu-ibu petugas pembimbing pengunjung wanita yang mau masuk ke Raudoh. Saat saya bercerita saya sehari sebelumnya berkunjung ke Madain Saleh, ekspresi wajah beliau menunjukkan keterkejutan. Beliau bilang, “Ibu mengapa ke sana?”. Saya bilang melihat-lihat wilayah yang pernah menjadi daerah syi’ar Nabi Saleh AS. Beliau bilang, “Ibu tidak seharusnya ke sana. Karena itu daerah yang pernah dimurkai Allah. Seharusnya bila ibu melewati daerah itu, ibu memalingkan muka dan berdoa memohon perlindungan dari Allah. Kita tak boleh bersantai-santai, ketawa-ketawa di tempat-tempat seperti itu.” Dan ternyata di dalam buku tafsir yang disusun oleh Ibnu Kasir pada penjelasan Surat Al Hijr Ayat 82 dikatakan “Janganlah kalian memasuki tempat tinggal kaum yang telah diazab , melainkan kalian dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak dapat menangis sungguhan, maka berpura-pura menangislah kalian, karena dikhawatirkan kalian akan tertimpa apa yang telah menimpa mereka. “

Alhamdulillah selama di Madain Saleh kami tak ada duduk bersantai-santai. Kami hanya menyusuri beberapa lokasi yang bisa dikunjungi, membuat foto-foto untuk kenang-kenangan. Kami melihat kebenaran yang dinyatakan dalam surat Al Hijr. Dan yang paling penting semoga kami bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada Kaum Tsamudu, dan apa yang kami lihat di wilayah Madain Saleh, untuk menguatkan iman Islam di diri.

Dan bagi diriku, berkunjung ke Madain Saleh adalah sebuah keinginan yang terwujud. Alhamdulillah.

Terima kasih atas hadiahnya, pak Rizky dan Travel Penjuru Wisata Negeri. Semoga Allah membalas dengan berlipat kebaikan. ***

Berkunjung ke Selatpanjang

Awal minggu lalu, aku kembali ngebolang.. Menjadi bocah petualang.  Ceritanya diriku diajak teman-teman kantor pergi ke Kota Selatpanjang, ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti.  Kota ini berada di Pulau Tebing Tinggi, salah satu pulau yang berada di pesisir timur Pulau Sumatera.

Untuk sampai ke Kota Selatpanjang, dibutuhkan sedikit perjuangan, karena kita harus berganti kendaraan sebanyak 3 kali.¬† ūüėÄ ūüėÄ Pertama-tama kita naik kapal selama 1 jam, dari Pelabuhan Sungai Duku di daerah Teluk Lembu di Pekanbaru, sampai ke pelabuhan rakyat di daerah Buantan di Kabupaten Siak.¬† Di Buantan kita bertukar kendaraan, naik bus.¬† Perjalanan selama 1.5 jam sampai ke Pelabuhan Butun yang berada di pantai timur Pulau Sumatera, namun masih termasuk Kabupaten Siak. ¬† Di Butun kita ganti kendaraan lagi dengan kapal.¬† Kita harus berlayar 1.5 jam, baru sampai ke Kota Selatpanjang.¬† Saat berpindah-pindah kendaraan, kita harus berjalan kaki antara 50 – 200 meter, jadi disarankan untuk tidak membawa barang yang besar atau banyak.¬† Kalau memang akan membawa barang, ada jasa pengangkut¬† berupa gerobak, atau serahkan kepada awak kapal untuk mengurus.¬† Dengan tambahan bayaran tentunya.¬† Atau kalau memang mau bawa barang banyak, supaya gak pindah-pindah kendaraan, pilihannya adalah naik kapal kayu Gelatik.¬† Hanya waktu tempuhnya 3 kali lipat, 12 jam lebih kurang.

Berapa ongkos Pekanbaru РSelatpanjang?  Kalau naik Nagaline, nama salah satu operator yang melayani  jalur tersebut, ada 3 kelas dengan 3 tingkatan harga.  Rp. 150K untuk kelas ekonomi.  Di kapal duduknya di baris keempat sampai ke belakang.  Kursi di bus, 3 tempat duduk di sisi kiri dan 3 tempat duduk di sisi kanan.  Untuk kelas VIP, harganya Rp.170K.  Di kapal duduk di baris pertama sampai baris ketiga.  Busnya beda dengan yang kelas ekonomi.  Tempat duduk di dalam bus berada di jalur kiri, 2 kursi bersebelahan.  Kelas VVIP harganya Rp.190K.  Di kapal duduk  di baris pertama.  Di bus, duduk di jalur kanan, kursi tunggal, kaki bisa selonjoran.

Vihara Hoo Ann Kiong, Agustus 2012 at my insta @sondhasiregar

Kunjungan ke Selatpanjang kali ini bukan yang pertama kali bagiku.  Diriku pernah ke sana sekitar bulan Agustus 2012, untuk mengunjungi teman lamaku,  kak Vivi.  Waktu itu kak Vivi yang dokter gigi dan besar di Selatpanjang bertugas di sana.  Saat berkunjung ke sana,  aku sempat dibawa kak Vivi berkeliling dengan sepeda motor, melihat-lihat beberapa bahagian sisi kota, termasuk melihat Vihara Hoo Ann Kiong, yang berlokasi di Jl.  Ahmad Yani.  Diperkirakan, vihara ini adalah vihara tertua di Kota Selatpanjang, bahkan  tertua di Provinsi Riau.   Kota Selatpanjang, sebagaimana kota-kota besar mau pun kecil di pesisir timur Pulau Sumatera, pesisir barat Pulau Kalimantan dan pesisir utara Pulau Jawa adalah daerah-daerah yang banyak penduduk dengan etnis Tionghoa.  Jadi tidak heran kalau ada beberapa vihara di Selatpanjang.

Becak Selatpanjang

Di Kota Selatpanjang transportasi umumnya adalah sepeda motor, sepeda dan becak. Tak banyak mobil yang wara wiri di kota ini.¬† Yang ada itu pun sebagian besar berplat merah alias mpbil dinas.¬† Karenanya kota ini udaranya segar dan nyaman untuk dihuni.¬† Kenderaan umum?¬† Becak. ¬† Jangan heran bila begitu keluar dari gedung pelabuhan akan banyak pengemudi becak yang menawarkan tumpangan, bahkan tukang becak yang nafsu banget mendapatkan penumpang bisa menarik bawaan penumpang untuk dimasukkan ke becaknya.¬† Rada-rada menyebalkan, memang. ūüėĬ† Tapi mungkin harus dimaklumi saja di tengah ekonomi yang sedang sulit.¬† Bersikap tegas, adalah cara terbaik menghadapi mereka.¬† Oh ya, becak di kota ini unik.¬† Seperti becak di Jakarta, becak di Selatpanjang ditarik dengan motor bebek, tapi kursi penumpangnya dua baris.¬† Untuk duduk di baris belakang, penumpang harus melompati kursi di baris depan, karena tak ada akses untuk naik ke bangku belakang dari samping.¬† Ya, bangku belakang itu memang lebih sering digunakan untuk tempat barang yang dibawa penumpang.¬† Sedangkan bila penumpang becak ada 3 atau empat orang, penumpang ketiga dan keempat duduk di bangku tambahan yang diletakkan di sisi belakang pagar depan becak.¬† ūüėÄ

Untuk menginap, di Selatpanjang ada banyak hotel dengan harga kamar yang wajar.¬† Tapi kita¬† harus cari-cari info yang cukup sebelum memilih hotel, karena katanya tak semua hotel airnya bersih dan jernih.¬† Makumlah, sebagai daerah pesisir yang sebagian besar lahannya adalah gambut, air di Selatpanjang selain payau juga berwarna coklat.¬† Katanya meski telah beberapa kali mengusapkan sabun ke badan, mandi bisa terasa bagai tak bersabun, busanya tak keluar, kulit terasa licin saja.¬† ūüėĬ† Untuk dapat air yang jernih, masyarakat biasanya menampung air hujan, atau dengan sumur bawah tanah yang mebutuhkan investasi sangat tidak sedikit.¬† Saat kunjungan kemaren diriku dan teman-teman menginap di hotel Dyva, atas rekomendasi teman yang sudah beberapa kali ke sana.¬† Alhamdulillah air di hotel itu bagus, dengan volume supply yang memadai.

Kemana saja saat berkunjung ke Selatpanjang kali ini?  Secara waktu terbatas,  selain menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan, kami menyempatkan diri menikmati seafood dan mie sagu, juga ke pasar untuk melihat-lihat berbagai produk khas Kepulauan Meranti lainnya.  Kabupaten Pulau Meranti  yang merupakan daerah pesisir, banyak ditumbuhi oleh tanaman Rumbia atau Sagu (Metroxylon sagu Rottb).  Makanya di daerah ini terdapat banyak produk olahan dari bahan dasar sagu.

wp-image-235261116.Apa itu mie sagu?¬† Mie sagu merupakan kuliner khas Selatpanjang.¬† Mie ini olahan dari teras batang sagu, teksturnya lembut dan kenyal.¬† Lebih lembut dan warnya lebih bening bila dibandingkan dengan kwetiaw.¬† Mie sagu biasanya dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih dan cabe merah yang digiling kasar. Sebagai penyemarak biasanya ditambahkan kucai (Allium tuberosum), toge dan ikan teri yang sudah digoreng atau udang kering.¬† Mie sagu saat ini sudah mulai banyak dijual di kedai-kedai kopi di Pekanbaru, tapi berburu mie sagu di daerah asalnya tentu memberi keseruan tersendiri.¬† ūüėÄ

Selama di Selatpanjang, kami dua kali menikmati mie sagu.  Yang pertama di foodcourt di samping hotel.  Mie sagunya enak, cuma bumbunya yang rasanya belum maksimal.  Mie sagu kedua, kami nikmati di Kedai Kopi Pelangi di Jl. Ahmad Yani.  Kedai kopi yang berada di ruko ini terkesan tak terawat karena dinding-dindingnya kusam, tapi mie sagu yang dijual maknyuss.

Mie sagu di Kedai Kopi Pelangi ini merupakan rekomendasi dari seorang cicik (tante) pemilik toko tempat kami membeli beberapa produk olahan sagu di pasar.¬† Cicik itu bilang, kedai kopi yang tak jauh dari Hotel Pulama.¬† Maka kami pun bertanya-tanya pada beberapa orang yang kami temui di sepanjang pencaharian, dimana itu Hotel Pulama, tapi tak ada yang tahu.¬† Dan ternyata maksud si Cicik itu adalah Hotel Furama.¬† ūüėÄ ūüėÄ ūüėĬ† Dan ternyata juga, salah seorang teman perjalananku pernah menginap di Hotel Pulama itu. Tapi enggak ngeh dengan maksud si cicik.. ūüėÄ ūüėÄ

Sebenarnya ada satu lagi tempat dan kuliiner yang direkomendasikan untuk menikmati mie sagu dan sempolet :  kantin di samping gedung kantor Badan Kepegawaian Daerah di kompleks perkantoran Pemerintah Kabaupaten Kepulauan Meranti.  Sayang saat kami ke sana, kami baru saja sarapan, perut kami masih penuh.  Adapun sempolet adalah bubur sagu yang dinikmati bersama sup ikan, seperti papeda kalau di Indonesia Bagian Timur.

Cerita Sondha - Oleh-oleh Selatpanjang

Oleh-oleh Selatpanjang

Apa yang didapat di pasar di Selatpanjang?¬† Klo diriku siyy cuma beli mie sagu, ebi alias udang kering dan kerupuk udang.¬† Sebenarnya di pasar, diriku menemukan banyak banget produk olahan sagu dan hasil laut yang sebenarnya layak untuk coba dibeli dan diolah jadi makanan istimewa.¬† Misalnya sagu dalam bentuk butiran yang bisa dibuat jadi bubur.¬† Ada juga terasi dan ikan teri.¬† Tapi mengingat transportasi yang nyambung-nyambung, jadi malas belinya.¬† Malas gotong-gotong.¬† ūüėÄ
Bagi penggemar kopi, di Selatpanjang  ada toko Diamond, yang menjual bubuk kopi dengan merk Cengkeh.  Kata teman-teman yang minum, rasanya enak pakai banget.  Jadi gak boleh dilewatkan.

So, bagi teman-teman yang senang menjelajah, silahkan berkunjung ke Selatpanjang…***

Holat dan Ikan Mera, Kuliner Padang Sidempuan

Masih cerita kuliner yang dinikmati saat libur lebaran 1438 H.  Kalau sebelumnya cerita kuliner di Medan (baca : Soto Udang Warkop Bahagia dan Kopitiam Apek), kali ini cerita kuliner di Padang Sidempuan.

Hari Rabu, 28 Juni 2017, alias lebaran keempat, diriku pulang kampung ke Sipirok dengan adik bungsuku Noy, dan ditemani teman kerjanya, Dana.  Dari Sipirok kami sempat jalan-jalan juga ke Padang Sidempuan, yang hanya berjarak 32 km dari Sipirok.

Padang Sidempuan bukan kota yang asing bagi diriku dan keluarga.  Papaku pernah bertugas 10 tahun di sini tahun 1970 Р1980.  Bahkan  3 dari 4 orang adikku lahir di kota ini. Tapi meski begitu kami tak tahu banyak tempat makan di sini.  Kami hanya tahu Buffet Anda di Jalan Merdeka dan Rumah Makan Batunadua di jalan ke arah Sipirok.  Kenapa begitu? Karena kalau kami ke Padang Sidempuan, kami selalu makan di rumah peninggalan Opung yang di belakangnya ada sawah dan kolam ikan.  Istri penjaga sekaligus pengelola sawah akan memasakkan ikan arsik dan rebusan sayur buat kami.  Jadi kalau ke Padang Sidempuan, kani hampir tak pernah makan siang di restoran, kecuali di Buffet Anda, restoran tempat kami dulu selalu dibawa almarhum Mama makan sepulang menemani beliau belanja.

Hari Kamis, 29 Juni 2017, seorang teman yang tinggal di Padang Sidempuan mengajak aku dan adikku makan malam, menikmati Kuliner Padang Sidempuan.  Teman itu membawa kami ke Warung Naufal, sebuah rumah makan yang menyediakan masakan khas Padang Bolak, nama salah satu daerah di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Padang Bolak terkenal sebagai daerah peternakan kerbau untuk memenuhi kebutuhan daging kerbau di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya.  Namun, masyarakat Padang Bolak juga terkenal dengan masakan Holat, yaitu pindang ikan mas asap yang dimasak dengan pakkat,  rotan muda, yang rasanya kelat, dan serutan buah balakka.

Selain holat, di Warung Naufal juga menyediakan gulai Ikan Mera dan gulai Lele Asap.

Apa itu ikan mera? Ikan Mera atau lebih populer dengan nama Ikan Jurung, merupakan makanan para raja dan ikan untuk upacara adat di Tapanuli Selatan.   Namun karena belakangan tak mudah didapat, hanya ada di daerah hulu sungai yang berair jernih, maka untuk upacara adat yang digunakan adalah ikan mas.  Ikan Mera diperkirakan mempunyai manfaat untuk kesehatan.  Ikan Mera yang dihidangkan di Warung Naufal adalah ikan yang sudah diasap, sehingga daging ikan yang gulai terasa padat dan punya bau yang khas.  Rasanya juaraaaaa.. !!!

Ikan Lele atau Ikan Tikkalang dalam Bahasa Batak Angkola, ¬†yang dihidangkan di Warung Naufal adalah hasil tangkapan dari sungai, bukan lele hasil budidaya di keramba. ¬†Jadi dagingnya juga lebih padat dan enak. ¬†Rasanya juga juaraaaa… !!!

Gimana soal harga?¬†Harga makanan di tempat ini lebih juara lagi ! ¬†Saat hari Kamis malam kami makan berlima, dengan menu Ikan Mera dan Ikan Lele, tagihannya hanya Rp.88.000,-. ¬†Saat makan hari Jum’at siang, yang makan 3 orang dengan menu masing-masing ikan dan telur dadar plus juice untuk 4 orang, tagihannya Rp.105.000,-. ¬†Murah yaaa…

Buat teman-teman yang sedang atau akan berkunjung ke Padang Sidempuan, silahkan mampir ke Warung Naufal di Jalan Mayjen Sutoyo, gak jauh dari Bank BRI dan Bank Mandiri yang berlokasi di Jalan Kapten Koima.  Mari menikmati kuliner lokal***

satu-minggu-satu-cerita

Kopitiam Apek

Hari ini pagi kedua diriku libur lebaran 1438 H di Medan.  Dua kali pagi juga diisi dengan jalan kaki menyusuri bahagian lama Kota Medan.  Kegiatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya, meski sejak masih bau kencur sudah bulak balik ke Medan.

Pagi ini diriku jalan kaki berdua dengan Aldy, ponakanku.   Kalau kemarin kami memarkirkan mobil di halaman BNI di Jalan Pemuda dan langsung masuk ke Jalan Kesawan,  hari ini kami memarkirkan mobil di basement Lippo Plaza di sekitar Lapangan Benteng.  Lalu kami jalan kaki menyusuri jalan Sutoyo ke arah Kesawan.

Di pojokan Jalan Hindu, kami singgah di sebuah kedai kopi warna hijau yang dari kemarin sudah terlihat ramai.  Tak ada plang nama di depan warung kopi itu, tapi ternyata warung kopi itu sudah terkenal di kalangan pencinta kuliner di Medan.  Kopitiam Apek, namanya.

Apa saja yang ditawarkan Kopitiam Apek ? Kopi dan segala macam variasinya, teh dengan variasinya, chocolate dengan variasinya, telur setengah matang, roti bakar dan roti kukus dengan aneka pilihan isi : srikaya, skippy, coklat, keju atau kombinasinya.

Makanan lain seperti lontomg medan dan menu khusus hari Jum’at, nasi briyani, disediakan oleh pihak ketiga yang ikut menyediakan gerai makanan di kedai kopi tersebut. ¬†Untuk yang ingin makan mie-mie-an, akan dipesankan dari warung di seberang jalan. ¬†Kerjasama yang baik ya. (Y)

Kopitiam Apek dikelola oleh Cici Suyenti, yang sekaligus merupakan generasi ketiga pemilik kedai kopi tersebut.  Seluruh minuman, baik teh dan variannya, kopi dan variannya, chocolate dan variannya serta telur setengah matang dibuat sendiri oleh cici Suyenti di dapur mungilnya di bawah tangga.  Menurut beliau, dia membuat semua sendiri minuman untuk menjaga kualitas produk yang  diberikan pada pelanggan.  Beliau dibantu 3 asistennya, perempuan, yang masing-masing bertugas memanggang roti di tungku berbahan bakar arang, mencuci gelas dan piring kotor, serta sebagai runner alias menerima dan mengantar pesanan.

Saat kami ke sana, di hari ketiga lebaran, semua meja yang jumlahnya tak lebih dari 10, penuh.  Padahal gerai makanan lain yang ada di kedai kopi tersebut belum buka.  Artinya pengunjung hanya datang untuk menikmati minuman dan roti bakar dan aneka mie dari kedai di seberang.  Tapi tetap, meja-meja penuh.  Bahkan pengunjung kadang harus antri dan berdiri di depan pintu masuk, menunggu ada meja yang kosong.

Berapa harga minuman dan makanan di Kopitiam Apek?  Sebagai referensi, teh manis Rp.15K, teh susu dingin Rp.31K, roti bakar srikaya Rp.20K, roti bakar coklat keju Rp.27K dan roti kukus skippy srikaya Rp.23K.   Mehong? Agak yaaa.. Tapi klo dibandingkan dengan rasa dan kualitas minuman dan makanan yang dinikmati, radanya worthed.

Buat yang lagi liburan di Medan dan cari alternatif sarapan, KopitIam Apek yang berlokasi di Jalan Hindu No. 37 Medan ini bisa jadi alternatif.  Silahkan singgah, dan salam buat cici Suyenti. ***

Soto Udang Warkop Bahagia

¬†Libur tlah tiba… ¬†Libur tlah tiba.. ¬†Horeeee… horeeeee… horrreeee ….

Libur lebaran kali ini panjang yaa.. Total 10 hari.  Kemana? Diriku ke Medan.  Kok gak bosan-bosan? Ya enggak lah.  Namanya juga balek kampung kata anak Medan.

Hari ini, lebaran kedua, Selasa 26 Juni 2017 diriku dan dua ponakan menikmati pagi dengan jalan kaki di kawasan lama Kota Medan, Kesawan. ¬†Jalan kali, mandi sinar matahari pagi sambil motret-motret bangunan tua, merupakan aktivitas yang menyenangkan. ¬†Diriku juga sempat mutar 2 keliling Lapangan Merdeka. ¬†Lumayan ngundang keringat. ūüėÄ

Capek jalan kaki, pasukan ngajak makan.  Ada yg ingin sarapan fastfood di pojokan Merdeka Walk.  Tapi aku ngajak mereka menikmati kuliner khas Medan di Kawasan Kesawan yg pernah aku nikmati dengan adikku Nora sekian belas tahun yang lalu.  Soto Udang.

Soto udang yg terkenal di Kawasan Kesawan ada di  Warung Kopi Bahagia.  Lokasinya di pojokan Jalan Masjid dengan Jalan Perdana, gak jauh dari bangunan kantor PT. London Sumatera (Lonsum) di seberang Merdeka Walk.

Apa istimewanya soto udang di Warkop Bahagia? Istimewa banget, karena tak banyak tempat makan yang menyediakan Soto Udang. ¬†Kebayangkan nyari udang di pasar gak mudah. ¬†Setelah dimasak dan dikupas kukitnya, dagingnya tinggal sejumput. ūüėÄ ¬†Tak heran klo harganya mehong. Seporsi Soto Udang plus nasi dan 1 buah perkedel, harganya Rp.35.000,- . ¬†Soal bumbu, bumbu soto udang ini khas Medan, pakai santan dan rempah yang pekat. Maknyuuuzzzz

Selain jual Soto Udang, Warkop Bahagia juga menyediakan Soto Daging, Soto Jeroan dan Soto Ayam dan.juga Sup Lembu.  Bisa juga kalau mau dicampur.  Soto Daging maupun Soto Ayam harganya Rp.20.000,- per porsi.  Di sini juga ada Lontong Medan dan Nasi Lemak.  Harga seporsi Rp.10.000,-

Tapi pilihan makanan di Warkop Bahagia tak terlalu banyak memang. ¬†Tak ada roti bakar, ¬†mie pangsit atau pun dimsum seperti di Kedai Kopi Kim Teng di Pekanbaru, atau pun Warung Srikandi di Merdeka Walk. ¬†Tapi bagi penń£gemar udang, kalo berkunjung ke Medan, sebaiknya tak lupa menikmatinya.***

Ketika Kaki Unjuk Rasa

Teman-teman, kali ini diriku mau cerita tentang kaki (baca : Thank you, foot !).  Ya kaki, bagian tubuh yang kadang tak terpikirkan bahwa dia juga punya rasa.  Bahwa dia juga bisa protes. 

Bagaimana ceritanya sampai kakiku yang sudah sangat berjasa itu bisa sampai protes dan berunjuk rasa? Here the story

Alhamdulillah tanggal 15 Р19 Mei yang lalu, diriku diberi kesempatan untuk ikut Workshop Penilaian Angka Kredit di Hotel Royal, Jl. Ir. H. Juanda Bogor.  Diriku senang banget. Kenapa? Selain karena akan dapat ilmu, alasan yang pertama, ke Bogor berarti bisa bertemu banyak teman lama, teman sejak kuliah di Kampus Rakyat.  Kedua, ke Bogor berarti kembali ke kota tempat aku pernah menjalani lima setengah tahun masa mudaku.  Lima setengah tahun yang penuh kegembiraan dari kehidupan berteman, juga penuh perjuangan untuk menyelesaikan pendidikan.  Lima setengah tahun menikmati sudut-sudut kota yang tak pernah bosan untuk ditelusuri (baca : Bogor In My Mind).    Ketiga, ke Bogor berarti bisa jalan kaki di sekitar Kebun Raya dan lingkar luarnya, bisa motret-motret dan bisa menikmati makanan yang aku suka dan gak ada jual di Pekanbaru.

Maka, begitu ada kepastian akan berangkat, aku pun menghubungi my BFF, Best Female Friends (Baca : Dulu dan Sekarang, Bersahabat Sampai Tua), menanyakan kapan mereka punya waktu untuk kumpul ramai-ramai.  Apakah hari Sabtu tanggal 13 Mei 2017 atau hari Minggu tanggal 14 Mei 2017.  Agar aku bisa mengatur jadwal penerbanganku ke Jakarta, agar bisa bertemu dengan mereka sebelum aku masuk ke tempat workshop di Bogor, hari Minggu 14 Mei 2017 sore.

Hasil diskusi di WA Group, kami sepakat untuk ketemuan ramai-ramai hari Sabtu pagi.  So, aku memesan tiket penerbangan di hari itu, penerbangan yang paling pagi.

Ndilalah, hari Jum’at 13 Mei 2016 pagi, saat keluar dari kamar mandi untuk bersiap-siap untuk pergi ke kantor, kaki terpeleset.¬† Alhamdulillah diriku sempat berpegangan, sehingga tidak jatuh terduduk, yang bisa berakibat fatal bagi perempuan Jelita, jelang lima puluh tahun, seperti diriku.¬† Tapi meski tidak jatuh terduduk, aku merasakan pada kaki kanan ada urat yang bergeser, urat yang memanjang mulai dari pergelangan kaki (ankle) sampai ke belakang paha.¬† Tapi pergeseran itu tidak terasa sangat sakit.¬† Hanya sedikit sakit, untuk waktu yang tak lama pula.¬† Jadi kejadian itu aku abaikan saja.¬† Aku pikir, urat itu akan kembali ke posisinya semula secara alami seiring waktu. Pikiran yang salah.¬† SALAH BESAR. Hiks

Sesuai schedule, aku berangkat hari Sabtu 13 Mei 2017 menjelang jam 07 pagi.  Jjam 09 pagi aku sudah bercupika cupiki dengan sahabatku Ati Lubis.  Dia bersama ssuaminya menjemputku di Bandara Soetta.  Kami lalu menjemput Venny, lanjut menuju rumah Linda untuk beranjangsana.  Ya, kali ini kami memutuskan untuk tidak main-main di mall atau tempat makan, sebagaimana yang sering dilakukan. Kami memutuskan untuk ngobrol-ngobrol di rumah Linda sambil menemani Linda beres-beres, nyiapin cadangan makanan buat suami dan anak-anak,  karena keesokan hari akan pergi liburan bareng dengan saudara-saudara perempuannya.  Jadi hari itu aku tidak berlaku kejam pada kakiku..  Jadi si kaki pun bersikap tenang.

Habis ngobrol di rumah Linda, aku ikut ke rumah Ati dan nginap di situ. ¬†Keesokan siangnya, aku minta Ati untuk mengantarkan aku ke stasion kereta api di Kalibata saja.¬† Aku pengen ke Bogor naik komuter. ¬†Lebih praktis dan gak nyusahin teman.¬† Hemat pula. ūüėĬ† Aku pernah naik komuter ke Bogor sekitar 2 tahun yang lalu, untuk berakhir pekan dengan Veny di rumah ibunya di Sempur, Bogor.¬† Saat itu Cikini – Bogor hanya butuh waktu tempuh sekitar 1 jam saja.¬†¬† Harga tiket juga gak sampai Rp.10.000,-¬† Keren kan?¬† Mau donk diulang lagi.¬† Secara,¬† meski diriku¬† Jelita, jiwaku teteupp Si Bolang, Si Bocah Petualang.¬† ūüėÄ

Naik komuter itu untung-untungan.¬† Kalau sepi, kita bisa dapat tempat duduk.¬† Kalau enggak, ya berdiri.¬† Itu bukan sesuatu yang menyengsarakan buat orang-orang yang sudah biasa naik komuter, atau buat orang-orang yang jarang naik komuter tapi punya semangat Si Bolang.¬† Hari itu, keberuntunganku setengah-setengah. ūüėĬ† Setengah perjalanan aku gak dapat tempat duduk, alias berdiri sambil berpegangan pada tiang-tiang yang ada di gerbong. ¬†Setengah perjalanan lagi diriku dapat tempat duduk di kursi di pojok gerbong yang Alhamdulillah nyaman.

Sampai di Bogor,  Si Jelita bersemangat Si Bolang ini melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sambil menuntun koper.  Koper dengan empat roda memang mooii buat dibawa jalan jauh, karena tidak memberikan beban bagi orang yang bejalan sambil menuntunnya.  Tinggal dituntun saja.

Keluar dari stasiun kereta, aku meminta salah satu pengemudi¬† becak yang ada di pintu keluar stasiun untuk mengantarkanku ke hotel tempat workshop akan dilaksanakan.¬† Ongkos becak Rp.30.000,-.¬† Untuk jarak tempuh 1.1 km menggunakan tenaga manusia, menurut aku worthed lah yaa.¬† Kalao enggak worthed, anggap aja bagi-bagi rezeki.¬† ūüėĬ† Kan belum tentu dalam sehari si bapak tukang becak dapat orderan.

Sekitar jam 4 sore aku sudah sampai di Royal Hotel, aku langsung ke bagian reception.  Di sana aku dikasi kunci kamar 314, dan diminta tanda tangan tanda terima kunci kamar.  Teman sekamar yang ditentukan panitia ternyata belum datang.  Ternyata yang jadi teman sekamarku kali ini, Devi, ASN di Bappeda Kota Pekanbaru, instansi tempat aku bertugas pada tahun 1997 Р2008.   Jadi  diriku dapat teman sekamar yang aku kenal dan tak asing bagi diriku.

Setelah meletakkan koper. sholat dan  duduk sebentar, aku lalu meninggalkan hotel.  Kemana? jalan-jalan donk.  Menikmati Bogor di sore hari.  Tujuanku sore itu ke kawasan Taman Kencana, yang gak jauh dari tempat kostku dulu.  Di situ juga ada Macaroni Panggang, salah satu resto favoriteku di Bogor.  Setelah bertanya pada satpam hotel angkot nomor berapa yang melintasi kawan tersebut, maka aku pun melangkah ke tepi jalan dan menyetop Si Hejo Bernomor 8.

Kawasan Taman Kencana sore itu tak terlalu ramai, aku langsung menuju Macaroni Panggang.  Aku memesan macaroni ukuran kecil, ternyata sold out.  Aku lalu memesan   macaroni panggang ukuran sedang untuk dibawa ke hotel, lalu memesan Caesarian Salad dan lechy tea untuk dinikmati di sana.  Aku duduk dan makan pelan-pelan di situ sembari menunggu magrib berlalu.

Mengingat hari sudah malam, sudah teduh, aku memutuskan untuk kembali ke hotel dengan berjalan kaki.  Berjalan kaki menyusuri lingkar luar Kebun Raya sebagaimana dulu kerap aku lakukan dengan teman-teman mainku.  Menurut Google Map,  jarak yang aku tempuh lebih kurang 2.3 km.  Bukan jarak yang berat buat ku bila dalam kondisi sehat,  karena bila jalan kaki di akhir pekan, biasanya, Alhamdulillah, aku bisa menempuh 5 bahkan sampai 7 km.

So, acara jalan kaki pun dimulai.  Dari Jalan Salak di depan Macaroni Panggang, aku menyusuri tepi Taman Kencana, lalu lanjut menyusuri  Jalan Salak di pinggiran lembah Sempur.  Dari situ aku belok ke kanan, menyusuri Jalan Jalak Harupat ke arah Istana Bogor.  Aku jalan dengan tenang dan santai, gak terburu-buru.  Apa lagi ruas Jalan Jalak Harupat tersebut agak mendaki.  Dari Jalan Jalak Harupat, aku belok kiri di depan Istana Bogor,  ke arah Jalan Juanda, dimana lokasi hotel juga berada, tapi di bagian di ujungnya. Aku sempat berhenti dan duduk di bangku semen yang berada di pinggir pagar Kebun Raya, di depan Gereja Zebaoth.  Aku berhenti untuk menerim telpon masuk dari Avita Usfar, salah satu teman baikku sejak tingkat 2.    Aku juga sempat sedikit berjalan cepat, saat menjelang Istana Bogor berpapasan dengan laki-laki setengah baya yang jalannya tak tentu arah.  Aku takut kalau orang itu bisa berlaku tak wajar.  Sampai malam itu, kakiku pun masih baik-baik saja.  Hanya terasa kaki kanan sedikit pegal.

Keesokan pagi, level kepegalan kaki kanan meningkat kuat.  Tapi masih bisa dengan santai turun ke lantai 1 hotel buat sarapan, lalu dengan lift naik ke lantai 6 untuk ikut workshop.  Sore hari , level kepegalan tak juga berkurang.  Bahkan semakin malam pegal.  Saat sahabatku yang tinggal di Bogor, Idien dan suaminya menemuiku  di hotel, diriku curhat tentang si kaki.  Idien menyarankan untuk minum obat radang sendi dan neurobion. Idien dan suami bahkan mmenemani diriku ke apotik terdekat.

Setelah Idien pulang, aku masuk ke kamar, bersih-bersih, minum obat dan tidur.  Tak berapa lama aku terbangun karena kaki kanan terasa sangat sakit.  Nyeri seperti ditusuk ratusan jarum.  Kaki pun terlihat bengkak mulai dari telapak kaki sampai betis.  Otot-otot kaki sampai paha semua tegang.  Bahkan kulit kaki pun terasa perih kalau disentuh.  Rasa malu dan gak ingin menggangu teman sekamar  saja yang bikin aku tidak menangis.  Begitu matahari menampakkan diri, aku langsung telepon Idien, minta tolong dicariin siapa yang bisa mengobati.  Aku gak mau ke tukang urut, aku maunya ke dokter, aku mau bantuan medis.

Tidak lama Idien nelpon.¬† Dia sudah dapat informasi tempat¬† rehabilitasi medis.¬† Bogor Rehabilitasi Center, namanya.¬† Lokasinya di Jalan Paledang Nomor 25, tidak jauh dari lokasi Royal Hotel tempat aku ikut workshop. Alhamdulillah.¬† Jadilah hari Selasa sore itu, setelah minta izin satu sesi workshop, aku dijemput Idien dan dibawa ke dokter rehab medik.¬† Melihat betapa bengkak dan tegangnya otot-otot kakiku, diperkirakan ada tulang yang patah, atau otot yang putus.¬† Tapi setelah aku ceritakan kronologisnya, bahwa kejadian terpeleset sudah 4 hari yang lalu, dan setelahnya diriku masih bisa jalan, dan setelah diperiksa, disimpulkan bahwa ada urat yang bergeser, yang belum sembuh, tapi sudah dibawa bergerak berlebihan.¬† Dengan kata lain, kakinya tereksploitasi dan unjuk rasa.¬† Kaki kananku protes dan menunjukkan kemarahannya pada ku. Hiksss…

Apa yang dilakukan asisten si dokter atas arahan bossnya?  Mulai dari telapak kaki sampai paha disinar dengan dengan lampu bergelombang infrared.  Baik dari bahagian depan maupun bahagian belakang.  Tahap berikutnya pada beberapa titik di kakiku dipasang alat yang mengeluarkan getaran listrik bertegangan rendah untuk membuat otot lebih rileks.  Selanjutnya, kakiku dipijat dengan menggunakan alat khusus dan cream untuk perawatan otot olahragawan.  Seluruh tahapan perawatan ini memakan waktu hampir 4 jam. Perawatan ini harus diulang sesering mungkin sebelum aku pulang ke Pekanbaru. Selain itu aku harus makan beberapa butir obat, antara lain pereda rasa sakit, perileks otot.  Oh ya, aku juga harus memakai ankle support, kecuali saat tidur.

Malam itu, meski rasa sakit belum hilang total, tapi level kenyerian sudah berkurang.¬† jauh berkurang.¬† Tapi cerita tak berakhir di situ, belum happy ending.¬† Keesokan hari, hari Rabu, karena harus duduk seharian mengikuti workshop, ruas kaki dari betis ke bawah terasa nyeri, sangat nyeri, sedangkan di bagian paha dan bokong sangat pegal.¬† Rabu sore setelah workshop, aku kembali ke tempat rehab medik.¬† Treatment kembali dilakukan, dari jam 17-an sampai jam 21-an.¬† Setelah treatment selesai, rasanya memang lebih nyaman.¬† Tapi dalam level yang nyaris sama, rasa sakit kembali muncul bila aku bergerak, seperti berjalan ke tempat makan, atau ke resto yang di sekitar hotel.¬†¬†¬† Jadi sepertinya akar permasalahan belum diselesaikan, belum terobati. ¬†Mungkin memang harus total rest dan tetapi tiap hari dalam jangka waktu yang lebuh lama. ¬†Dengan kondisi yang demikian, aku melakukan sekali lagi terapi, di hari Kamis malam, agar aku bisa bertahan sampai workshop berakhir di hari Jum’at.

Dengan kondisi yang demikian, aku memutuskan untuk segera pulang begitu workshop selesai.  Keinginan untuk jalan-jalan, motret-motret sambil menikmati Kota Bogor di akhir pekan aku coret dari daftar rencana.  Padahal hari Sabtu 20 Mei 2017 itu bertepatan denga perayaan 200 Tahun Kebun Raya.   Aku memutuskan untuk pulang bersama Devi, teman sekamarku, di  Sabtu pagi, agar ada  yang bisa diriku minta pertolongan kalau ada hal-hal tak terduga terjadi dalam perjalanan pulang.  Teman-teman yang pernah berangkat dari terminal  Ultimate 3 Bandara Soetta bisa membayangkan kan jarak yang harus ditempuh saat boarding.  Lumayan jauh !  Dengan jalan perlahan-lahan dan kadang tertatah-tatah, Alhamdulillah aku sampai di Pekanbaru.

Setelah membiarkan diriku beristirahat sehari,  Pada hari Minggu (ku turut ayah ke kota)  keluarga membawaku ke anaknya Almarhum Usmanto tukang urut langganan keluarga yang berlokasi di sekitar Jala Taskurun Pekanbaru.  Almarhum Usmanto, seorang keturunan Tionghoa adalah tukang urut yang bisa mengobati otot-otot yang terkilir.  Beliau mewariskan keterampilannya kepada istri, anak laki-laki dan juga salah seorang anak perempuannya.  Anak perempuan Usmanto lalu mengurut kakiku, mendorong urat yang bergeser untuk kembali ke posisi seharusnya.  urutannya pelan, tidak sakit.  Dia memintaku untuk tidak banyak bergerak dahulu, dan juga agar mengusahakn kakiku selalu berada dalam posisi lurus, tidak ditekuk.

Alhamdulillah sekarang kakiku sudah pulih, meski belum aku bawa kembali beraktivitas jalan pagi seperti sebelum-sebelumnya.  Tapi usia yang Jelita memang harus menjadi pertimbangan untuk beraktivitas.  Usia yang harus diterima dengan menyesuaikan diri, menyesuaikan aktivitas yang dilakukan.

Alhamdulillah buat proses belajar yang mahal ini. ***

Pasar Merah di Siak

Ini lanjutan dari tulisanku beberapa bulan yang lalu tentang perjalanan ke Kota Siak Sri Indrapura, kota kecil di tepian Sungai Jantan atau Sungai Siak, sungai terdalam di Indonesia.  Kota ini merupakan ibukota Kabupaten Siak, salah satu kabupaten penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia beberapa dekade ini (Baca : Berkapal ke Siak).

Kunjungan pada pertengahan Februari 2017¬† bukan kunjungan pertama bagi diriku.¬† Entah kunjungan yang keberapa diriku tak ingat.¬† ūüėÄ (Baca : Ke Siak Sri Indrapura (Lagi…..!!!),¬† Having Lunch di Siak,¬† dan Muter2 di Siak).¬† Lalu apa istimewanya kunjungan kali ini? Kunjungan kali ini, yang diriku lakukan bersama Wati, teman kuliahku di Kampus Rakyat, bertujuan untuk menikmati perayaan Cap Go Mei di¬†¬† Siak, di pasar yang merupakan Chinatown alias Pecinan Siak.¬† Kenapa di Siak?¬† Karena Wati yang senang motret ingin hunting foto di daerah Pecinan yang justru belum banyak diliput, gak kayak di Singkawang, yang sudah jadi mainstream bagi para pecinta fotografi.

Pasar Merah - Klenteng Hock Siu Kong

Upper Left :  Tandu Sang Dewa, Upper Rght : Tatung, Bottom : The Gate of Hock Siu Kong with Sungai Jantan as view

Pecinan di Kota Siak Sri Indrapura berada di Jalan Sultan Ismail, di tepi sungai.  Berdampingan dengan komplek istana peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura.  Lokasi Pecinan ini berhadapa-hadapan dengan bangunan benteng peninggalan Belanda, yang berada di seberang sungai.   Di Pecinan ini terdapat Klenteng Hock Siu Kong, yang berdiri sejak tahun 1898.  Klenteng yang menjadi pusat aktivitas ibadah dan budaya masyarakat Cina di Siak.

Bagaimana bisa Pecinan mempunyai lokasi yang begitu strategis? Menurut salah seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Siak, yang secara tak sengaja bertemu di salah satu kedai kopi di Siak, Kawasan Pasar Siak merupakan wilayah yang diberikan Sultan  Siak kepada pedagang yang datang dari Negeri Cina.  Pedagang yang sengaja diundang Sultan untuk menetap di Siak untuk mengajarkan rakyatnya bagaimana cara berdagang.  Selain untuk memudahkan masyarakat mendapatkan berbagai kebutuhan yang perlu didatangkan dari luar daerah, bahkan dari luar negeri.  Sebagai bentuk apresiasi, sekaligus untuk memudahkan memantau pendatang dari Negeri Cina, Sultan memberikan lahan di tepi sungai bagi mereka.  Sultan yang berwawasan luas, dan menghargai keragaman.

Pasar Merah - Pecinan

Deretan Rumah Toko Berwarna Merah, dan keranjang khas Chinesse

Beberapa tahun terakhir ini, dalam rangka meningkatkan pariwisata daerah, Pemerintah Kabupaten Siak semakin berupaya  mengangkat warisan budaya (heritage) kerajaan Siak Sri Indrapura  menjadi daya tarik wisata, termasuk juga kawasan Pecinan.   Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Siak adalah menata kawasan Pecinan, sekaligus membangun turap di tepi sungai untuk tempat masyarakat menikmati indahnya tepian sungai.    Pemerintah juga  memfasilitasi para pemilik rumah toko di kawasan pecinan  untuk mencat bangunan mereka dengan warna merah, dan  kombinasi hijau dan kuning sebagi penambah cantik.

Pasar Merah - Turap Siak

Kawasan Turap Tepian Sungai Jantan

Kawasan yang berwarna merah memang sungguh memikat mata, dan luar biasa menarik untuk difoto.  Kecantikan kawasan ini semakin menawan saat senja dan malam tiba, ketika lampion-lampion menyala.  Lampion-lampion yang bergantungan di langit-langit  emperan toko dan pada tali-tali yang dibentang di atas jalan raya.

Pasar Merah - Lampion

The Lampions

Selain menikmati kecantikan kawasan Pecinan yang merah, apa lagi yang bisa dinikmati  di sini? Kuliner, pastinya.  Kuliner khas Chinesse, berupa mie, kwetiau dan bihun, yang bercampur cita rasa Melayu dan Sumatera Barat  banyak dihidangkan di kedai-kedai kopi, yang merupakan budaya di hampir seluruh wilayah Pesisir Timur Sumatera.  Untuk makan berat, kita bisa menikmati aneka masakan dengan bahan ikan sungai dan udang galah.  Menurut pejabat yang sempat ngobrol dengan diriku itu, tak ada kedai kopi di Siak yang menjual makanan tak halal.  Tapi mengingat semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan wajibnya mengkonsumsi makanan halal,  selain membina peningkatan kualitas dan keragaman kuliner khas daerah,  kiranya Pemerintah juga perlu memfasilitasi kedai-kedai kopi di kawasan Pecinan untuk mendapatkan sertifikat halal dari instansi yang berkompeten untuk menerbitkannya.

Oh ya, apa lagi yang aku temukan saat mutar-mutar dari pagi sampai malam di kawasan Pecinan di Siak saat perayaan Cap Go Mei?  Ya, keragaman agama dan budaya yang saling menghargai.  Arak-arakan barongsai yang sejak pagi mengelilingi Pecinan, berkunjung ke rumah-rumah toko untuk mengusir roh jahat, mengundang roh baik, mengirim doa-doa, meyalakan petasan,  diistirahatkan saat azan berkumandang di Masjid Raya Syahbuddin Siak yang berada di kawasan Pecinan.   Arak-arakan dilanjutkan setelah adzan dan waktu sholat dzuhur usai.  Kehidupan bertoleransi yang indah.

Pasar Merah - Masjid Raya Syahbuddin 1

Masjid Raya Syahbuddin, dengan lampion-lampion di latar depan

Mari berkunjung ke Siak, teman-teman.  Mari menikmati keagungan warisan budaya Kerajaan Siak serta keragaman yang telah hadir di negeri ini sejak berabad yang lalu..***

Thank you, foot ! 

img1490070163776.jpg

Kemaren saat duduk menghadiri sebuah acara di ballroom hotel,  aku tak sengaja memandang kalian yang menyentuh lantai.  Satu per satu. Kanan. Kiri. Bergantian. Kalian yang dibungkus si biru yang casual.

Tiba-tiba diriku terpikir betapa luar  berjasanya kalian berdua bagiku.  Kalian mendukung diriku sejak awal kehidupanku di dunia.  Sejak aku mulai bisa merangkak, kalian membawa tubuhku berpindah dari satu titik ke titik, dari satu ruang ke ruang lain, dari satu tempat ke tempat lain.  Kalian yang selalu membawaku ke  ke sini dan ke sana, kemana-mana.

Kalian tentu kadang merasa tak nyaman dengan hobbyku berjalan kaki menyusuri ruang-ruang terbuka.  Sesekali juga ruang-ruang tertutup.  Bobotku yang menurut orang-orang kurang seimbang dengan ukuran kalian yang relatif mungil, 39.  Apa lagi kebiasaanku melangkah dengan cepat, bahkan kadang seperti setengah berlari, tentu membuat beban kalian terasa berat.   Tapi kalian tetap mendukung dan mengikuti kehendak hati dan pikiranku. Terima kasih ya !

Meski di sepanjang kebersamaan kita aku lebih sering memberikan sneakers  atau keds loafers, mary-jane dan wedges sebagai alas dan pelindung kalian, aku mohon maaf bila dulu diriku juga acap kali bersikap kurang bijak dengan memakaikan kalian alas kaki bertumit tinggi dan kurang nyaman di berbagai aktivitas.  Semua itu hanya agar terlihat  gaya, keren dan lebih feminim (oh no !).   Maafkan diri ini sangat jarang memanjakan kalian dengan pijitan dan pedicure, atau sekedar rendaman di air hangat bergaram.   Mohon maaf juga bila ucapan terima kasih pun langka terucap.

Tapi setelah begitu banyak perlakuan kurang ramah dari diri,  aku berharap kalian tetap mendukungku untuk menjalani kehidupan, meraih impian.  Aku berharap, berdoa, agar Pemilik kalian, berkenan meminjamkan kalian untuk menemaniku, mendukungku sampai akhir hayatku.

Aku sayang kalian.  Aku cinta kalian, kaki-kakiku. ‚ô°‚ô°‚ô°***

Ke Sungai Subayang

Sebuah postingan untuk memperingati WORLD WATER DAY tahun ini, 22 Maret 2017.

Beberapa waktu yang lalu, Rudi Fajar, seorang teman, adik kelas di SD sampai SMA, memasukkan diriku di komunitas yang beliau gagas dan pimpin.  Group yang berkomunikasi di WhatsAp itu bernama Exploring Riau Community, disingkat XRC.

Sondha @ Subayang

captured by Nono

Komunitas XRC adalah kumpulan orang-orang yang bermukim di Riau, Kota Pekanbaru khususnya, yang berminat, mencintai pariwisata, yang ingin mengeksplor obyek-obyek wisata di Provinsi Riau.  Sebagai orang yang pernah bekerja dan punya passion di bidang pariwisata, hobby nge-blog juga, jelas menjadi bahagian dari komunitas ini sesuatu yang menarik.

Beberapa hari setelah bergabung di komunitas XRC, dilemparkan lah ide untuk berwisata ke Sungai Subayang.

Apa dan dimana lokasi Sungai Subayang ?

Sungai Subayang yang merupakan bagian hulu Sungai Kampar Kiri tersebut berada di  Desa Tanjung Balit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu,  Kabupaten Kampar.  Sungai ini merupakan salah satu sungai penting, yang kuantitas dan kualitas airnya sangat menentukan kehidupan di sekitar Sungai Kampar.  Untuk teman-teman ketahui, Sungai Kampar adalah salah satu dari 4 sungai besar di Provinsi Riau, yang bermuara ke Selat Malaka.  Di bagian yang lebih hilir sungai inilah terjadinya gelombang Bono yang unik, gelombang yang besar dan panjang, sehingga  para perselancar  bisa memanfaatkannya untuk surfing.

Untuk sampai ke Sungai Subayang, kita dapat memulainya dari Desa Gema, yang berjarak lebih kurang 90 km jalan darat dari Pekanbaru ke arah Lipat Kain.

Rimbang Baling

Pemandangan Sungai Subayang dan Kawasan Rimbang Baling dari Tepian di Desa Gema

Di sekitar Sungai Subayang terdapat kawasan Rimbang Baling, kawasan yang hutannya dipertahankan oleh masyarakat adat.  Rimbang Baling merupakan salah satu penyumbang oksigen yang utama bagi wilayah Sumatera Tengah, teruama ketika musim kelima, musim asap, menyergap Provinsi Riau dan sekitarnya.  Hal ini terjadi karena masyarakat adat di kawasan Rimbang Baling tetap mempertahankan hutan adat, dan hidup dari budidaya karet ( Hevea brasiliensis).  Rimbang Baling juga catchment area yang menentukan kuantitas dan kualitas air Sungai Subayang, sehingga perlu dijaga kelestariannya.

Apa daya tarik Sungai Subayang ?

Di Sungai Subayang pengunjung bisa menyusuri sungai naik piyau alias sampan bermotor ke arah Rimbang Baling pulang pergi.¬† Ada 2 jenis piyau di situ,¬† piyau Johnson dan piyau Robin, sesuai dengan nama mesinnya.¬† Piyau Johnson berukuran sedikit lebih besar, sedangkan piyau Robin lebih kecil, namun lebih gesit.¬† Bila sungai sedang surut,¬† dan piyau melintasi daerah yang sangat dangkal, penumpang piyau bahkan bisa menikmati acara mendayung ! ūüėÄ

Piyau

Piyau

Hutan Rimbang Baling yang alami, hijau dan asri, serta  desa-desa dengan aktivitas kehidupannya merupakan pemandangan yang bisa dinikmati selama berpiyau menyusuri sungai.  Pengunjung juga dapat menikmati pemandangan Batu Belah dan singgah di Pulau Pidu, sebuah sedimentasi pasir dan kerikil di tengah-tengah sungai.  Pengunjung juga bisa menikmati pertunjukan kesenian rakyat di desa Batu Songgam, serta berbagai kuliner lokal.

img-20170226-wa0024-1.jpg

Berkumpul di Bandar Serai, The Meeting Point

So, pada hari Minggu tanggal 05 Maret, jam 06.30AM, sebagaimana ditetapkan, kami para peserta, sekitar 200 orang, sudah berkumpul di Kawasan Bandai Serai yang menjadi meeting point.  Karena gak berani nyetir keluar kota, dan juga karena aku nyetirnya pelan, aku terpaksa ikut dengan peserta lain.  Alhamdulillah, Rudi Fajar menawarkan aku untuk ikut bersama keluarganya.  Dan alhamdulillah juga diantara peserta juga ada 2 teman seangkatanku di SMA, Cing-cing dan Nono.  Jadi tambah seru.

wp-image-1543611043jpg.jpg

Sebahagian Anggota XRC yang Ikut Berwisata ke Sungai Subayang

Setelah berjalan lebih kurang 1.5 jam, dan sempat singgah di Masjid Raya Lipat Kain, kami sampai di Desa Gema.  Tapi karena hampir seminggu sebelum tanggal 5 Maret 2017 hampir seluruh daerah di Indonesia Bagian Barat mengalami hujan terus menerus, Sungai Subayang mengalami peningkatan muka air yang signifikan.  Bahkan arus sungai menjadi sangat deras.  Keadaan tersebut membuat resiko menyusuri sungai dengan piyau ke kawasan Rimbang Baling dan Desa Batu Songgam menjadi sangat beresiko.  Apa lagi diantara peserta banyak juga yang perempuan dan anak-anak.

Kondisi yang diluar ekspetasi ini membuat rencana yang sudah disusun XRC harus disesuaikan.  Acara makan siang yang rencananya akan dinikmati di Desa Batu Songgam, dirubah menjadi di tepian Sungai Subayang di Desa Gema.  Para peserta tetap bisa berpiyau tapi hanya dalam jarak yang lebih pendek, yaitu sampai ke lokasi Laboratorium Kualitas Air milik WWF.  Tapi meski jarak itu tidak terlalu panjang, tapi kami bisa melihat betapa indahnya kawasan Rimbang Baling.  Kami bahkan melihat pohon  durian dan  Sialang (Latin : Kompassia Exelca).  Pohon Sialang adalah tanaman tempat lebah senang bersarang dan menghasilkan madu berkualitas sangat baik.

Meski perjalanan tak sesuai dengan rencana, tapi one day trip ke Sungai Subayang ini sangat menyenangkan dan berkesan.  Ingin mengulang dan kembali ke sana ? Mengapa tidak ?  Bahkan jadi semakin ingin mengambil paket Camping di Rimbang Baling.  Ada yang mau bareng ? Yuuukkk  !!

Diriku berharap,  ecotourism dengan konsep desa wisata dapat dikembangkan di Desa Gema, Desa Batu Songgam dan desa-desa lain di kawasan Rimbang Baling.  Agar masyarakat  mempunyai alternatif sumber pendapatan, sehingga ketika harga karet jatuh, masyarakat tak perlu menebang pohon medang yang ada di hutan untuk diambil kulitnya,dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.  Agar kawasan Rimbang Baling, Sungai Subayang dan Sungai Kampar tetap lestari.***

Wisata di Pekanbaru

“Kalau berlibur di Pekanbaru enaknya kemana ya ?” adalah pertanyaan yang acap terdengar di kalangan penduduk Kota Pekanbaru.¬† Pertanyaan yang mungkin juga sering muncul dari wisatawan yang berkunjung ke Pekanbaru.

Pekanbaru yang berada di dataran aluvial (hasil sedimentasi)  dan tak jauh dari garis khatulistiwa, membuat iklim Kota Pekanbaru bisa dikatagorikan panas, gak cukup nyaman buat beraktivitas di ruang terbuka.  Tak heran kalau banyak penduduk Pekanbaru yang senang menghabiskan akhir pekan dengan ngadem di mall dan mall.

Kali ini diriku mau cerita tentang tempat yang bisa jadi alternatif tujuan wisata di Pekanbaru.  Ada ya? Ada donk!  Bahkan bisa dicapai dengan kendaraan umum busway.  Nama tempatnya, Taman Alam Mayang, lokasinya di Jalan Lintas Timur, Pekanbaru.  Sangat mudah untuk ditemukan.

Buat yang sudah lama tinggal di Pekanbaru,  Alam Mayang bukan lah nama yang asing.  Karena taman milik keluarga Badiun, yang berawal dari tempat mancing ini, memang sudah lebih dari 20 tahun dibuka untuk umum.

Dulu, hampir 20 tahun yang lalu, saat keponakan-keponakan masih kecil,  kalau diriku kebagian tugas momong di akhir pekan karena kakakku keluar kota, terkadang aku membawa mereka ke Taman Alam Mayang.  Cukup dengan berbekal beberapa paket nasi bungkus atau makanan kesukaan mereka, tikar, buku dan bantal-bantal plus mainan mereka.  Saat itu fasilitas yang tersedia di  Alam Mayang selain kolam pancing, hanya sepeda air berbentuk bebek-bebekan.  Jadi kalau ke sana kami mengisi waktu dengan baring-baring di bawah pohon sambil membaca, sedangkan keponakan-keponakan yang laki-laki mengisi waktu dengan bermain bola.

Setelah berbelas tahun tidak ke Alam Mayang, minggu lalu, aku dua kali ke sana. Kok bisa ? ūüėÄ

Kali pertama, hari Rabu sore sampai dengan Kamis pagi. untuk camping bersama keluarga besar L’ Cheese Factory (baca : Dream, Love and Family) toko kue milik kakakku.

Camping?¬† Di Pekanbaru yang puanasss…?¬† Yuppppssss…

Jadi ceritanya, untuk merayakan ulang tahun L’ Cheese Factory yang ke-5, seluruh anggota keluarga kami, management dan pegawai L’ Cheese camping bersama.¬† Kami menyewa tempat untuk camping di¬† Alam Mayang.¬† Kami dikasi lokasi lapangan rumput di tepi kolam.¬†¬† Kemahnya ?¬† Kemah kami bawa sendiri, dengan menyewa 12 unit dari jasa penyewaan.¬† Tak jauh dari lokasi tenda tersedia toilet dan kamar mandi dengan kondisi bersih dan dalam jumlah yang cukup.¬† Juga ada mushola yang cukup representatif untuk melaksanakan ibadah sholat lima waktu.¬† Kami boleh menggunakan lapangan¬† di dekat lokasi camping untuk main bola dan berbagai aktivitas.¬† Bahkan diperbolehkan membuat api unggun.¬† Tentu saja tidak di lapangan berumput, melainkan di jalan tanah, di sekitar lokasi camping.

Makanan ?  Tentu saja tidak ada, kecuali counter ice cream dan cemilan yang buka hanya sampai sekitar  jam 6 sore.  So, kami ke sana membawa bekal lengkap.  Air mineral beberapa galon, makanan yang sudah masak untuk makan malam, berbagai cemilan dan minuman.  Tak lupa, mie instant, teh dan kopi.  Air hangatnya ?  Kami bawa kompor gas kecil lengkap dengan tabung gas yang juga kecil.  Kumplit pokoknya !!

Berapa biaya untuk camping di Alam Mayang?  Untuk tiket masuk orang dewasa dikenakan biaya Rp.18.000,-, anak-anak dikenai biaya Rp.12.000,-/orang.  Karena rombongan kami terdiri dari 38 orang dewasa dan 4 anak-anak (ramai yaaa !), kami dapat discount 20%.  Lumayan, banget !  Untuk penggunaan sarana toilet dan kamar mandi Rp.2.000,-/orang/hari,dan dihitung 2 hari, Rabu dan Kamis.  Sedangkan penggunaan lapangan untuk camping dikenai biaya Rp.1.000.000,-/hari.  Berapa harga sewa tenda? Rp.25.000,-/unit/hari.

Camping di Alam Mayang sungguh bisa menjadi liburan yang menyenangkan, karena udaranya bersih dan segar.  Lingkungannya juga aman, bahkan cucu-cucu bisa bebas berlarian dan naik sepeda.  Apa lagi di hari Rabu sore sampai kamis pagi hanya kami yang memanfaatkan  Alam Mayang.  Kalau pagi hari, seperti hari Kamis itu, setelah jam 8 pagi banyak rombongan anak TK beserta guru-guru dan pendampingnya bermain di sini.  Kayaknya selain anak-anak bisa bebas bermain di ruang terbuka, banyak juga yang menikmati fasilititas mini outbond yang tersedia.

Buat diriku… Semalaman aku malah tidur di luar tenda.¬† Rasanya nikmat banget bisa tidur di udara yang kaya oksigen.¬† Bangun-bangun lengan yang tersingkap saat tidur sudah meriah dengan titik-titik bekas gigitan nyamuk.¬† Hahahaha.¬† Semoga tidak baik-baik aja.¬† Oh ya, untuk mengantisipasi serangan nyamuk, kami membawa cairan minyak serai.¬† Akunya aja yang bandel, malas makai.. ūüėÄ

Kali kedua minggu lalu ke  Alam Mayang adalah hari Minggu, tanggal 19 Maret 2017.  Kunjungan ini khusus untuk mengantarkan, Bang Harry dan Aufaa, yang ingin menikmati aneka permainan di Alam Mayang yang sudah mereka lihat hari Rabu sore, tapi gak dioperasikan.

So, jadilah kami kembali ke Alam Mayang.¬† Tapi kali ini hanya berbekal alas duduk, nasi bungkus untuk orang dewasa, paket fried chicken buat bang Harry dan dek Aufaa, plus cemilan serta sepeda bang Harry dan sepeda dek Aufaa.¬† Setelah makan, bang Harry dan Aufaa ditemani ayah dan bunda menikmati permainan, termasuk naik motor (kata bang Harry, “Itu bukan motor, Pung,¬† tapi ATV !).¬† Kami bahkan beramai-ramai naik mobil terbuka yang disediakan pengelola Taman Alam Mayang, berkeliling taman.

Oh ya.. ini ada vlog Bang Harry dan dek Aufaa nak motor ehhh ATV di Alam Mayang.

Seruuu kan ?

Taman Alam Mayang memang bisa jadi alternatif buat berwisata di Pekanbaru, terutama bagi warga kota yang berlibur tanpa keluar kota.***

1 Minggu 1 Cerita #9

Travel Batu – Bandara Juanda

Setelah mengikuti acara Badan Pengawasan Obat dan Makanan di hotel Singhasari sejak hari Senin 6 Maret 2017 yang lalu, hari ini, Kamis 09 Marer 2017,  aku harus pulang ke Pekanbaru.   Bandara terdekat dari Batu adalah Bandara Abdul Rahman Saleh di Kota Malang.  Jaraknya sekitar 16 km, namun waktu tempuh sekitar 1 jam karena lalu lintasnya super padat.   Tapi karena gak kebagian pesawat yang connected Malang РJakarta РPekanbaru dari satu maskapai, dan gak ingin berlari- lari pindah terminal atau paling pahit ketinggalan.pesawat sambungan karena pesawat pertama delay, aku memilih terbang dari Bandara Juanda Surabaya, di Sidoarjo tepatnya.

travel-batu-bandara-juanda-surabaya.png.png

Nayfa, Travel Batu – Bandara Juanda Surabaya

Jarak Batu – Sidoarjo kurang lebih hanya 90 km, tapi waktu tempuh di pagi sampai sore sekitar 3 sampai 3.5 jam. Jadi harus dihitung betul jam berapa berangkat dari Batu, agar tidak ketinggalan pesawat, dan gak pakai sport jantung juga sepanjang jalan. ¬†Terus mau naik apa ? ¬†Hotel menyediakan shuttle, harganya Rp.600.000,- sekali jalan. ¬† Kalo ada penumpang dengan tujuan yang sama, silahkan sharing. ¬†Kalo sendiri, ya bayar dewe. ¬†Mehoooonnnggg !! Meski¬†akan dapat penggantian dari ¬†instansi yang membiayai perjalanan, tapi kok ya gak tega. ūüėÄ ¬†Terus gimana solusinya ? ¬†Tanya mbah Google “travel¬†dari ¬†batu ke bandara juanda“. ¬†Hasilnya… Tadaaaa…. ! Tuh yang seperti di gambar.

Aku lalu menelpon nomor yang tercantum di website tersebut. ¬†Terdengar sapaan, “Nayfa Travel¬†selamat siang !” ¬†Aku lalu menyampaikan kepada si mba pengawai travel ¬†tentang kebutuhanku akan transportasi dari Batu ke Bandara Juanda pada hari Kamis, 09 Maret 2016 untuk ¬†jam keberangkatan 13.30 wib. ¬†Si mba tersebut mengatakan ada armada mereka untuk rute tersebut di hari yang ku maksud. ¬†Dia menyarankan aku untuk naik¬†travel¬†yang ¬†jam 07.30 WIB. ¬†Pihak travel akan menjemput di hotel tempatku menginap pada jam tersebut. ¬†Saat kutanya berapa ongkosnya? Si mba bilang, untuk jarak Batu – Bandara Juanda, Rp.100.000,- per orang per trip. ¬†Murah yaaaa !! ¬†Aku lalu melakukan reservation by phone. Si mba meminta nomor telepon dan alamat penjemputan, juga nomor kamar hotelku.

Karena nemu di internet, mesan by phone, gak liat travelnya, ada rasa ragu di hati. ¬†Takut mereka gak on time, atau malah gak datang. ¬†Bisa hangus tiket Surabaya – Jakarta – Pekanbaruku. Bisa panjang urusannya. ¬†ūüėÄ

Aku  reseevasi di travel tersebut hari Selasa.  Untuk meyakinkan diri dan menguatkan reservasi, hari Rabu siang aku telpon lagi itu travel.   Begitu aku sebut namaku, dan jam rencana berangkat dari Batu, petugas travel yang meladeniku di telpon merespon dengan menyebutkan lokasi penjemputanku seperti yang sudah aku sampaikan sehari sebelumnya.  Berarti travel tersebut punya sistem pencatatan reservasi yang baik.   Si petugas juga bilang kalau Rabu malam mereka akan mengirimkan nama dan nomor  telepon supir travel yang akan menjemputku di Kamis pagi.

Rabu malam sampai jam sekitar 08an aku belum menerima sms nama dan nomor telepon si supir. Aku kembali menghubungi travel.   Mereka memgirimkannya, cuma karena sms itu collect call, aku gak aware kalau ada sms masuk.

Kamis jam 6 pagi aku kembali menelpon travel meminta nama dan nomor telpon supir, serta memastikan jam jemputan.  Begitu dapat nama dan nomor telponnya, aku langsung menelpon si supir, dan dia bilang dia akan jemput aku sekitar jam 08an saja, karena penumpangnya hanya diriku sendiri.  Kami jadi gak harus mutar-mutar jemput penumpang lain, yang membutuhkan waktu lama.

Jam 08an, si supir menjemput diriku yang sudah menunggu di lobby hotel.  Dan ternyata penumpangnya memang cuma diriku.  Untuk berjaga-jaga, aku mengirimkan nama dan nomor telpon si supir ke David, adik laki-lakiku.

Si supir travel orang yang santun dan ramah.  Saat aku bertanya apakah dia mau singgah di salah satu toko oleh-oleh yang ada di perjalanan menuju bandara, dia bilang dia tidak keberatan selagi tempat yang ingin kusinggahi berada di ruas jalan yang  kami tempuh.  Kalau keluar dari jalur, akan berdampak pada pengeluaran bahan bakar yang akan semakin merugikan pemilik travel.  Karena dengan membawa hanya satu penumpang plus satu titipan paket dari Batu ke Surabaya, pendapatan yabg diperoleh sama sekali tidak cukup untuk menutupi biaya operasional mobil untuk perjalanan  Batu РSurabaya pp.  Tapi pemilik travel punya komitmen yang kuat terhadap pelanggannya.  Mobil tetap berangkat meski penumpang hanya satu.  Padahal mereka bisa saja mengalihkan penumpang ke travel lain untuk memcegah kerugian.  Atau yang paling ekstrim dengan membatalkan keberangkatan, tanpa mau tahu drngan resiko penumpang.  Sungguh aku salut dengan komitmen perusahaan ini. Dua jempol.

Si supir travel, pak Darmaji juga bercerita kalau upah dia bawa mobil adalah Rp.15.000,- per penumpang per trip, tanpa gaji tetap.  Jadi dengan hanya membawa diriku sebagai penumpang plus 1 buah paket titipan, dan bila tak ada penumpang atau titipan saat pulang, maka pendapatannya hari itu cuma Rp.30.000,-.  Dia juga cerita bahwa perekonomian yang surut sangat berdampak pada pekerjaannya sebagai travel.  Dia bisa 5 hari gak bawa mobil, karena jumlah penumpang tak lagi  sebanyak dulu.  sad  Tapi dengan kondisi yang seperti itu,  supir lulusan STM itu tetap menyetir dengan santun dan ramah.  Beliau membawa diriku singgah ke  Strudel Apple, toko oleh-oleh milik Tengku Wisnu.  Dia juga menawari aku untuk singgah di Masjid Cheng Ho di daerah Pandaan.  Tapi karena aku tertidur saat di daerah Pandaan, dan tak terbangun mesti ditanya apa mau singgah, pak Supir meneruskan perjalanan.

Kami sampai di Bandara Juanda jam 11an.  2.5 jam sebelum waktu keberangkatan.  Alhamdulillah.  Sebuah perjalanan yang menyenangkan, tak pakai deg-degan dan stress takut ketinggalan pesawat.  Mudah-mudahan travel Nayfa dan para supir-supirnya bisa bertahan menghadapi kondisi ekonomi yang sedang berat ini, dan semoga mereka bisa maju dan berkembang. ***

 

Kampoeng Sasirangan

Seperti kita tahu Indonesia adalah surga di Khatulistiwa.  Penuh keragaman, bukan hanya flora dan fauna, tapi juga suku dan budaya. Teknologi sebagai salah satu unsur kebudayaan suatu etnis, antara lain tercermin dari kain tradisional.

Di Indonesia, umumnya kain tradisional merupakan hasil tenun, hasil mbatik,  dan hasil ikat  celup (tie dye).

wp-image-574674184jpg.jpgDi daerah luar Pulau Jawa, umumnya kain tradisional adalah hasil tenun, misalnya ulos hasil karya halak Batak, tenun Silungkang karya urang Minang, tenun Siak karya anak Melayu, songket Palembang karya Wong Kito  Galoh,  Tapis dari Lampung, sarung Samarinda karya perantau Bugis yang tinggal di Samarinda, juga tenun karya etnis Sasak dari Lombok.  Tekniknya berupa menyusun helai demi helai benang menjadi lembaran-lenbaran kain, dengan berbagai motif dan hiasnya, dengan bantuan alat tenun bukan mesin.

Mbatik adalah teknik menghias kain, dengan menggunakan canting dan malam,  bukan membuat kain.  Canting alat untuk menorehkan malam atau lilin pada kain, untuk membentuk garis dan pola-pola yang ingin ditampilkan, untuk kemudian dicelup dalam larutan pewarna.

Mbatik sebenarnya budaya Jawa, namun seiring dengan ditetapkannya batik sebagai World Heritage, dan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Internasional, penggunaan batik menjadi booming.  Memakai batik menjadi trend, bahkan menjadi pakaian kerja di berbagai perusahaan dan instansi pemerintah.  Lalu hampir semua daerah di Indonesia, meski tidak punya budaya mbatik, membuat batik dengan motif khas daerah.  Karena bukan bahagian dari budaya, tidak mudah membangun sentra batik di luar Jawa.  Oleh karenanya, banyak daerah di luar Pulau Jawa yang ingin membuat batik dengan motif khas daerah  melakukan pembuatan di sentra-sentra produksi Batik, seperti Pekalongan.

Teknik menghias kain yang lain lagi adalah tie dye, ikat celup.  Daerah di Indonesia yang terkenal dengan kriya tie dye adalah Palembang dengan kain Jumputan, dan Kalimantan Selatan dengan kain Sasirangan.

kampoeng-sasirangan1

Kampoeng Sasirangan – Sasirangan

Pada perjalanan ke Banjarmasin tanggal 13 Р15  Desember 2016 yang lalu, diriku sempat berkunjung ke kawasan di tepian sungai Martapura yang menjadi sentra produksi sasirangan, yang bernama Kampoeng Sasirangan.  Lokasinya di Jalan Simpang Sungai  Mesa Kabel, gak jauh dari  jembatan di Jalan Pahlawan Perintis Kemerdekaan yang melintasi Sungai Martapura.

Di daerah ini, kain-kain sasirangan di jual di rumah-rumah penduduk. Rumah-rumah papan khas tepian.  Seandainya ditata dengan lebih baik, kawasan ini akan bisa menjadi tujuan wisata, karena sentra produksi sasirangan bisa menjadi daya tarik.  Aku jadi ngebayangin betapa asyiknya bila setelah atau sebelum keluar masuk rumah-rumah yang menjual sasirangan, pengunjung bisa duduk-duduk di tepian sungai menikmati kuliner khas banjar yang terkenal nyaman (Bahasa Banjar : nyaman = enak).

Umumnya yang menjual kain sasirangan di daerah ini membuat sendiri barang dagangannya.  Jadi antara satu pedagang dengan pedagang yang lain warna, desain tie dye -nya tidak sama.  Bahkan pada penjual atau pembuat yang sama, belum tentu ada sasirangan yang persis sama.  Mengapa bisa begitu ? Karena meski ada pola yang disiapkan, sasirangan yang merupakan handmade bisa berbeda akibat kekuatan ikatan, lama perendaman dan berbagai faktor lain yang berpengaruh dalam proses pembuatan.

Penjual sasirangan yang daku datangi di tempat situ memberi nama tokonya Rose Sasirangan.  Penjualnya ramah dan baik hati.  Bahkan dia menunjukkan bagaimana cara membuat sasirangan.

kampoeng-sasirangan

Cara membuat sasirangan

Jadi untuk membuat sasirangan, pengrajin mengambar pola-pola yang ingin dibuat di kain berwarna putih.  Lalu pengrajin menjahitkan benang pada garis-garis yang sudah digambar di kain,   Lalu benang-benang itu ditarik, sehingga membentuk puntalan-puntalan kain.  Puntalan-puntalan tersebut lalu dililit pakai karet gelang sampai tertutup rapat, sehingga tidak terkena cairan pewarna saat dicelup.

Saat melihat-lihat sasirangan yang dijual di Rose Sasirangan, duhhh rasanya mabok.. Kain-kain dan kerudung yang dijual cantik-cantik banget.¬† Bingung mana yang mau dibawa pulang.¬† ūüėÄ Berapaan harganya?¬† Lupa berapa persisnya.¬† Klo gak salah yang bahannya sutra sekitar Rp.250.000,-, yang bahannya katun sekitar Rp.150.000,-an.¬† Kalau kerudung, harganya sekitar Rp.50.000,-an.

Btw, sasirangan yang aku beli di Kampoeng Sasirangan itu bukan sasirangan pertamaku.  Sasirangan pertamaku pemberian dari kak Sartidja, oleh-oleh beliau saat mudik ke kampung leluhurnya di Kalimantan Selatan beberapa tahun yang lalu..

Buat teman-teman yang berkunjung ke Banjarmasin, jangan cuma nyari permata yaaa.¬† Cari juga sasirangan, salah satu kekayaan budaya bangsa kita. Beli yang banyak. Kirim ke aku satu. ūüėÄ ¬†Wajib beli yaa, karena ¬†kalau bukan kita, siapa lagi yang mengapresiasi dan mencintai karya anak bangsa, dan juga budaya negeri kita. ¬†***

Berkapal ke Siak

Setelah lebih dari 2 tahun tidak ke Siak Sri Indrapura.  Alhamdulillah akhir pekan kedua di Februari 2017 ini aku kembali melakukan perjalanan ke sana,  ibu kota Kabupaten Siak, Provinsi Riau.  Kota yang berjarak 102 km dari Kota Pekanbaru.  Sebuah kota sejarah  yang tumbuh pesat setelah otonomi daerah diberlakukan.

Ngapain ke Siak? Jalan- jalan dan hunting foto di kawasan Pasar Siak.  Kebetulan akhir pekan kali ini bertepatan dengan saatnya Cap Go Mei, perayaan minggu kedua setelah Lunnar New Year atau Imlek  bagi  keturunan Chinesse.

Ceritanya pertengahan minggu lalu, teman saat kuliah di Bogor, Itaw, yang tinggal di Jakarta nanya apakah ada event Cap Go Mei di Siak, karena dia pengen hunting foto. ¬†Dia sendirian, ¬†gak bareng teman-temannya, karena teman-temannya ¬†yang biasa sama-sama hunting foto pada pergi ke Singkawang untuk memotret suasana Cap Go Mei di sana. Acara Cap Go Mei di Singkawang sangat terkenal dan jadi event ¬†yang menarik bagi penggemar photography, bahkan dari manca negara.. ¬† Menurut Itaw dia ingin memotret suasana ¬†Cap Go Mei di tempat yang enggak mainstream, yang belum banyak di-explore para photographer, maka dia milih Siak. ¬†Itaw juga nanya apa aku mau bareng muter-muter di Siak. Tentu saja aku mau, selain buat motret, juga bisa nyari bahan untuk ceritasondha.com. ¬†Secara aku kerja sampai hari Jum’at sore, aku nyusul hari Sabtu pagi, naik kapal, karena Itaw ke Siak bawa mobil lengkap dengan supir hari Jum’at siang..

Dulu, selain di Pelabuhan Sungai Duku, untuk ke Siak, penumpang juga bisa naik di pelabuhan Pelita Pantai, ¬†di ujung Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru. ¬†Tapi itu dulu banget. Lebih dari 6 tahun yang lalu. ¬†Agar sesuai rencana, dan gak kesiangan, Jum’at 10 Februari 2017 malam, ¬†diriku ditemani keponakanku pergi ke Pelabuhan Pelita Pantai untuk menanyakan apakah ada kapal¬† yang berangkat dari situ. ¬†Kalau ada, jam berapa berangkatnya. ¬†Menurut petugas keamanan posko tentara yang ada di dekat pelabuhan, tiap jam 08.00 pagi ada kapal berangkat. ¬†Kapal yang sama akan singgah ke Pelabuhan Sungai Duku untuk mengambil penumpang.

cerita-sondha-pelabuhan-pelita-pantai-pekanbaru

Pelabuhan Peita Pantai, Pekanbaru

So, di Sabtu pagi yang hujan, jam 07.30 diriku diantar kakak dan keponakanku ke Pelabuhan Pelita Pantai.  Pelabuhan ini hanya sebuah bangunan kayu, sebuah pelabuhan yang dikelola Primkopad.

cerita-sondha-tiket-kapal-kapal-pekanbaru-siak

Saat sampai di sana, diriku diarahkan untuk menghampiri penjual tiket.  Seorang lelaki separoh baya, di belakang meja kayu tua.  Beliau menanyakan tujuanku. Saat kukatakan mau ke Siak, dia menyebutkan Rp.80.000,- sebagai harga tiket.   Saat aku menyerahkan selembar uang Rp.100.000,-, beliau dengan sigap memberiku kembalian uang Rp.20.000,-.  Beliau kemudian menanyakan namaku dan menuliskannya di lembar bahagian dalam tiket yang terdiri dari 2 halaman, satu putih dan satu merah.  Lembar merah diambil sebagai arsip perusahaan pemilik kapal SB. Siak Wisata Express, PT. Dharma Gati.

Kapal ke Siak hanya sebuah kapal tanpa atap. Jadi selama perjalanan penumpang ¬†akan bisa menikmati matahari pagi dan elusan angin. ¬†Asyiik yaaa …¬† Tapi gak asyik juga klo naik kapalnya siang, saat hari panas dan matahari lagi ingin menunjukkan senyum cemerlang. ūüėÄ Karena saat diriku berangkat cuaca hujan, maka bagian atas kapal ditutup dengan terpal berwarna hijau. ¬†Buat aku yang enggak suka suasana terkungkung, terpal di sisi kapal dimana aku duduk, aku singkapkan sedikit. Gak apa-apa kena riap-riap hujan sedikit. ūüėÄ

cerita-sondha-kapal-pekanbaru-siak

Kapal, tepatnya ferry kali ya, yang melayani jalur Pekanbaru – Siak berkapasitas 30 orang penumpang termasuk supir. Para penumpamg duduk di kursi-kursi kayu yang berbaris 8, masing-masing baris bisa muat 3 – 4 orang.

Apa serunya naik kapal ke Siak? Selain bisa menikmati hembusan angin seperti yang sudah kusebut, naik kapal membuat kita bisa menikmati alunan arus sungai dan pemandangan tepian sungai yang didominasi warna hijau.   Sungguh itu nutrisi bagi jiwa, bagiku.

Oh ya,¬† kapalnya berlabuh dimana?¬†¬† Di sepanjang perjalanan yang sekitar 2 jam, kapal bisa singgah di berbagai pelabuhan, untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, termasuk Pelabuhan Sungai Duku, yang merupakan pelabuhan resmi.¬† Di Kota Siak Sri Indrapura, kapal berlabuh di pelabuhan milik pemerintah Siak yang lokasinya persis di samping Balai Kerapatan Adat, salah satu situs sejarah Kerajaan Siak.¬† Pelabuhan ini berjarak sekitar 500 meter ke Kompleks Istana Siak, dan sekitar 600 meter ke Pasar Siak yang merupakan Chinatown.¬† Buat para pencinta jalan kaki, jarak ini tergolong ramah.¬† ūüėĬ† Jadi yang berkunjung ke Siak bisa jalan kaki mutar-mutar kompleks istana dan Pasar Siak.¬† Kalau malas jalan kaki, ada becak mesin yang bisa mengantar berkeliling Kota Siak.¬† Jadi banyak hal yang menyenangkan bila berkunjung ke Siak.¬† Mari ke Siak ! ***

Undangan di Doi Suthep

Sekitar 2 minggu yang lalu, seorang teman seangkatan di SMA Negeri 1 Pekanbaru menghubungi diriku, ngajak untuk ikut arisan, yang uangnya untuk biaya umrah bareng teman-teman. Ajakan untuk pergi umrah, mengingatkan diriku pada sebuah PERJALANAN yang menjadi penyebab diriku pergi umrah pada tahun 2014 yang lalu. Perjalanan yang mengantarkan aku untuk menerima undangan Allah untuk mengunjungi Baitullah. Perjalanan ke Doi Suthep.

Ceritanya di bulan Juni 2013, diriku pergi ke Bangkok untuk menghadiri sebuah event. Daku pergi bersama sahabatku, yang kukenal saat bertugas di Pemerintah Kota Pekanbaru, kak Viviyanti. Saat kami merencanakan perjalanan, kak Vivi mengajakku untuk meneruskan perjalanan ke Chiang Mai, Thailand Utara, karena di sana ada Worulak, sahabat kak Vivi saat kuliah di New Zealand.

So, setelah travelling beberapa hari di Bangkok, tanggal 18 Juni 2013 kami menempuh 685 km dengan terbang selama 2 jam dari Bandara Don Muang untuk sampai di Bandara Internasional Chiang Mai. Worulak dan suaminya menjemput kami di bandara.

Worulak meski bekerja di Chiang Mai, tapi tinggal dan menetap di Kota Lamphun, sebuah kota kecil 12 km di selatan Chiang Mai. Waktu tempuh Chiang Mai – Lamphun lebih kurang 35 menit dengan mobil pribadi. Jadi selama perjalanan di Chiang Mai, kami menginap di rumah Worulak di Lamphun.

Kami pergi ke Doi Suthep tanggal 20 Juni 2013.  Setelah dua hari sebelumnya kami isi dengan jalan-jalan ke Moslem District dan Night Safari serta keliling kota tua Lamphun.

Doi Suthep adalah daerah pegunungan, dengan jarak sekitar 37 km atau waktu tempuh sekitar 45 menit ke arah tenggara kota Chiang Mai.  Sama seperti kawasan puncak di Bogor, Doi Suthep berudara sejuk, dan didominasi alam hijau.  Di sana juga banyak yang jual buah dan sayur hasil budidaya masyarakat lokal, banyak juga yang jual jagung bakar, jagung rebus dan asinan.

ceritasondha-doi-suthep-1

Doi Suthep, Cable Car dan Tangga

Apa istimewanya Doi Suthep? Di Doi Suthep terdapat salah satu kuil yang diagungkan umat Budha di Thailand Utara, namanya Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan.  Kuil tersebut berada di bukit tertinggi di pengunungan Doi Suthep.  Untuk mencapai kuil tersebut dari jalan raya, ada dua akses, yaitu dengan cable car dan melalui ratusan anak tangga.  Untuk menghemat tenaga dan waktu, untuk naik kami memilih naik cable car.  Harga tiketnya sekitar TB 50 atau sekitar Rp.19.000,-.  Pulangnya menyusuri tangga.

ceritasondha-doi-suthep-2

Pagaoda Emas di What Phra That Doi Suthep

Apa yang bisa kita lihat di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan? Di sana ada pagoda berlapis emas, yang di sisi depannya dipasang sebuah payung,  berwarna emas juga.  Dalam ritualnya para umat Budha yang berkunjung di Watt Phra Thatt Doi Suthep Ratcha Warawihan mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.  Dan setelah selesai berkeliling, mawar merahnya diletakkan di lantai di tepi pagar pagoda.

ceritasondha-doi-suthep-3

What Phra That Doi Suthep

Di kompleks kuil ini ada bangunan sarana prasarana kuil berarsitektur khas Thailand dengar ornamen-ornamen keemasan yang luar biasa cantik.¬† Di sana juga ada sebuah bangunan kecil berbentuk dome, tapi bersegi-segi. ¬†Ada patung replika binatang di atasnya, dan di semua sisinya ada semacam laci-laci..¬† Setelah mengamati beberapa tulisan-tulisan dan foto-foto ¬†yang ada di sisi -sisi luar “laci”, aku mengerti kalau laci-laci itu adalah tempat menyimpan abu jenazah.

Aku lalu berkeliling mengamati benda-benda, bangunan dan taman yang ada di kuil tersebut.¬† Puas berkeliling, sebelum pulang aku berdiri di pintu kawasan sembahyang di kuil, sekali lago mengamati gerak gerik umat Budha yang melakukan ibadah di sana.¬† Tiba-tiba aku menyadari bahwa mereka juga sedang melakukan “tawaf”.¬† Hanya saja lokasinya berbeda, benda yang dikelilingi berbeda, arahnya berbeda, caranya berbeda.

Umat Muslim bertawaf di Masjidil Haram di Mekah Al Mukaromah, umat Budha di Kuil.¬† Umat Muslim mengelilingi Ka’bah, umat Budha mengelilingi pagoda.¬†¬† Umat Muslim bergerak melawan arah jarum jam, umat Budha bergerak serah jarum jam.¬†¬† Umat Muslim mengelilingi Ka’bah 7 kali tanpa membawa apapun, umat Budha mengelilingi pagoda sambil membawa bunga lotus.

Kesadaran yang datang membuat diriku berpikir, Aku ini ngapain yaa? Aku pergi ke tempat umat Budha beribadah, melihat mereka melakukan “tawaf”, sementara diriku belum pergi ke Tanah Suci dan bertawaf di tempat seharusnya aku melakukan tawaf.”¬† Saat itu aku bertekad tak akan melakukan perjalanan lagi sebelum aku pergi Tanah Suci dan bertawaf mengelilingi Baitullah, kecuali perjalanan yang terkait dengan tugas dan urusan keluarga.

Kesadaran agar bersegera pergi ke Tanah Suci adalah undangan Allah SWT padaku untuk datang ke rumah-Nya.  Dan undangan itu sungguh disampaikan dengan cara yang luar biasa.  Alhamdulillah.  Dan Alhamdulillah juga Allah memberi diri ini rezeki untuk bertamu ke rumah-Nya 11 bulan kemudian.***

satu-minggu-satu-cerita

Pekanbaru Juga Seru !

Diriku baru bergabung dengan sebuah komunitas  1 Minggu 1 Cerita.  Komunitas yang mendorong anggotanya untuk menerbitkan 1 tulisan setiap 1 minggu di web atau blog pribadi masing-masing.  Tulisan itu temanya bebas, kecuali bila ada ketentuaan dari pengelola.  Daku kecebur di komunitas tersebut karena diseret-seret Teh Ani Sulaksani, si Ibu Pengembara. ūüėÄ ūüėÄ

Nah untuk minggu ini, Komunitas 1 Minggu 1 Cerita menetapkan tema Kampung Halamanku  Juga Seru! bagi para anggotanya.  Tema ini membutuhkan pemikiran buat diriku.  Bukan karena gak kenal kampung, gak pernah pulang kampung atau gak cinta kampung..  ūüėÄ  Tapi justru karena sejak kecil terbiasa pulang kampung, punya banyak kenangan manis tentang kampung, cinta kampung dan selalu rindu kampung, maka selama 9 tahun 5 bulan punya blog, aku cukup sering menulis tentang Sipirok, kampung halamanku, tanah leluhurku.  Bahkan kata Sipirok menjadi Tags di Cerita Sondha.  Selama tahun 2017 yang baru 29 hari ini, di Cerita Sondha sudah ada 2 tulisan tentang Sipirok, yaitu Kuliner Sipirok, dan Sipirok, A Prospective Destination.  Karenanya untuk kali ini diriku menulis tentang  Kota Pekanbaru.

Ya, Pekanbaru adalah kampung halaman kedua bagiku.  Di kota ini aku dibesarkan sejak usia satu tahun.  Tempat aku menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja.  Tempat aku mengisi usia dewasa setelah kuliah di Bogor dan bekerja juga di Jakarta, lalu sekolah lagi ke Yogya.  Pekanbaru tempat aku hidup, bekerja, dan berkehidupan sosial.  Ya, Pekanbaru adalah kampungku, rumah bagi jiwaku, dan sampai saat ini Pekanbaru adalah tempat satu-satunya rumah yang kumiliki dari hasil kerja keras bertahun-tahun. ūüėÄ  Pekanbaru tempat aku kembali setelah bepergian kemanapun.  Makanya aku paling sebel dan geram, kalau ada orang yang merasa berdarah lokal lalu dengan seenak udelnya bilang aku adalah pendatang di Pekanbaru, hanya karena aku berdarah Batak.  Apa lagi klo yang ngomong itu gak lebih  lama tinggal di Pekanbaru dari diriku dan keluarga.  Rasanya diriku pengen ngebalas omongan gak enak itu dengan bilang, “Helloowww…. ! Kamu kali yaa,  yang pendatang !”  ūüėÄ

Apa siyy serunya Kota Pekanbaru ?

Buat aku, pertama-tama  Pekanbaru itu seru karena aku banyak teman dan kenalan di sini.  Mulai dari teman keluarga, teman sekolah, teman kerja dan juga teman yang aku kenal dari teman-teman.  Karena perkembangan, Pekanbaru tidak lagi seperti dulu, ketika kita pergi ke berbagai sudut kota akan ada saja ketemu orang yang kita kenali dan mengenali kita.  Orang-orang lama Pekanbaru.

Kedua, Pekanbaru itu seru karena kotanya relatif nyaman.  Kota yang saat ini cukup besar, dan sudah semakin banyak fasilitas tersedia.  Namun Pekanbaru  terhitung kecil bila dibanding dengan Medan, Bandung, Surabaya.  Apalagi Jakarta, kota dimana langkah kita terbatas karena macet cet cet.  Di Pekanbaru kita masih gampang kalau mau pergi kemana-mana.  Gak terlalu butuh waktu panjang.

Pekanbaru juga seru karena penataannya yang cukup rapi, terutama di pusat kota.  Ada jalan-jalan dua arah yang lebar dan dibatasi jalur hijau yang asri.  Ada trotoar yang cukup nyaman untuk melakukan salah satu aktivitas kesukaanku, jalan kaki.  Di kawasan tertentu ada  jalur khusus untuk pengendara sepeda, meski pada hari kerja, jalur sepeda tersebut sering dijadikan tempat parkir oleh orang-orang yang masih kurang perduli.

Di Pekanbaru ada perpustakaan megah, dengan koleksi buku-buku yang banyak, pustaka milik pemeritah daerah Provinsi Riau.  Fasilitas yang bisa  bikin mabok kepayang para pencinta buku.

Naahhh itu kan serunya Pekanbaru untuk orang-orang yang tinggal dan besar di Pekanbaru.   Buat orang-orang yang berkunjung ?  Pekanbaru juga seru lho !   Seru banget !

Pekanbaru secara historis merupakan bahagian dari Kerajaan Siak Sri Inderapura.  Salah satu kerajaan Melayu di sekitar Selat Malaka.  Kerajaan yang besar dan jaya di masanya.  Oleh karenanya, ciri khas Melayu yang bernuansa Arab mewarnai Pekanbaru,  termasuk kulinernya.

Lokasi Pekanbaru yang strategis, dilalui oleh Sungai Siak yang berhilir di Selat Malaka.  Selat ini sejak berabad-abad merupakan  perairan  tersibuk di dunia, diarungi berbagai bangsa.  Hal ini membuat Pekanbaru juga didatangi dan dihuni oleh orang-orang dari Sumatera Barat, Batak, Jawa dan juga China.  Ditambah lagi,  adanya eksplorasi minyak bumi dan perkebunan sawit di sekitarnya, membuat Kota Pekanbaru didatangi orang-orang dari berbagai suku yang mencari peruntungan.  Maka jadilah kota ini kota yang plural, namun tak kehilangan akar budayanya.

Pluralitas yang ada di Pekanbaru menghadirkan warna yang khas pada kulinernya.  Ini adalah salah satu daya tarik  Kota Pekanbaru.  Kuliner apa saja ?

Untuk sarapan di Pekanbaru, kedai kopi menjadi pilihan utama.  Kedai kopi yang diwarnai budaya Chinese, sama sekali tidak hanya menghidangkan kopi. Ada banyak kedai kopi di seantero Kota Pekanbaru.  Beberapa di antaranya  telah ada puluhan tahun, seperti Kedai Kopi Kim Teng di Jalan senapelan, Kedai Kopi Laris di Jalan Karet dan Kedai Kopi King di Jalan Juanda.  Ketiga kedai kopi tersebut punya ke-khasan masing-masing.

Kedai Kopi Kim Teng, menyediakan kopi yang luar biasa juga aneka roti.  Beberapa tahun terakhir, Kedai Kopi Kim Teng bahkan menjadi food court yang menyediakan berbagai menu, seperti dimsum, mie pangsit dan aneka mie.   Kedai Kopi Laris juga punya kopi yang sangat enak, kopi yang dihidangkan berasal dari biji kopi yang baru dipanggang.  Salah satu makanan khas di Laris adalah soto ayam kampung.  Bubur ayam merupakan hidangan utama di Kedai Kopi King.  Diriku gak pernah bosan dengan kuliner yang satu ini.  Jadi makanan wajib ketika tubuh butuh sesuatu yang bisa membangkitkan ekstra energi di pagi hari.

Selain ketiga kedai kopi  yang sudah well-known tersebut, di Pekanbaru juga ada Kedai Kopi Liana.  Aapa istimewanya kedai kopi ini? Kedai kopi ini menyediakan aneka hidangan yang berbahan utama mie sagu.  Mie sagu merupakan salah satu bentuk hasil olahan dari tanaman sagu (Metroxylon sagu) yang banyak terdapat di wilayah Pesisir Provinsi Riau.

pekanbaru-juga-seru-cerita-sondha

Sarapan lain yang khas Melayu adalah roti canai.  Saat ini ada 2 penjual roti canai yang maknyus banget.  Kedai Canai Kuansing di jalan Diponegoro Ujung, dan Kedai Canai Tuan Prata di Jl. Mendut Pekanbaru.  Oh ya, Tuan Prata juga menyediakan teh tarik dan luti gendang, roti khas Pulau Tarempa, yang dulunya bahagian dari Provinsi Riau, namun sekarang menjadi bahagian Provinsi Kepulauan Riau.

Selain mie sagu dan roti canai, ada kuliner untuk sarapan yang sangat khas Melayu, bubur lambuk.  Bubur ini hampir sama dengan bubur Manado yang sudah well-known, terbuat dari beras yang dimasak dengan air yang cukup banyak, lalu dicampur dengan sayur-sayuran.  Khusus untuk bubur lambuk, sayur-sayurnya berupa tanaman khas wilayah Riau, seperti sayur paku (Diplazium esculentum),  dan ditambahkan dengan ikan bilis (Mystacoleucus padangensis) goreng.  Setahu diriku sampai saat ini belum ada tempat makan atau kedai kopi yang menyediakannya.  Kalau mau, harus pesan.  Setahu diriku yang menerima pesanan bubur lambuk adalah ibu Dinawati, salah satu pengurus Ikaboga Riau, pemilik usaha bolu mojo Al Mahdi di Jalan Rajawali Pekanbaru.

Saat ini ada beberapa kedai kopi baru yang juga menyediakan berbagai sarapan yang khas Pekanbaru denga penataan ruang yang lebih nyaman, Kedai Kopi Coffee Two di Jalan Setia Budi, misalnya. Jadi kalau teman-teman ke Pekanbaru, tinggal pilih mau sarapan dimana. ūüėÄ

Untuk maksi, masakan khas melayu adalah asam pedan ikan patin (Pangasius hypophthalmus) atau asam pedas ikan baung (Bagrus nemurus).  Ada banyak restoran yang menghidangkan masakan ini,  Dari warung sederhana, sampai restoran canggih dengan tempat yang nyaman.  Restoran yang terkenal dengan masakan asam pedas patin adalah Rumah Makan Haji Yunus di Jalan Kaharuddin Nasution, tak jauh dari Bandara Sultan Syarif Qassim.  Atau Rumah Makan Khas Melayu di sekitar bandara.

Kalau mau menikmati ikan asam pedas patin yang dijual oleh masyarakat lokal, teman-teman bisa nyoba di Rumah Makan Si Tjuik.  Rumah makan ini dulu lokasinya unik, di dekat pelabuhan container PT. Chevron.  Sekarang lokasinya sudah di jalan besar, di Jl. Yos Sudarso, Rumbai.

Untuk kue-kue khas Melayu adalah kue Bolu Kembojo, atau yang populer dengan Bolu Mojo, dan kue bangkit.  Ada banyak pengusaha UMKM yang menjual kedua jenis kue ini.  Bolu Mojo adalah sejenis kue basah, sedangkan kue bangkit adalah cookies yang berbahan baku tepung sagu. Favorite keluargaku adalah bolu kembojo buatan Mie mie di Jalan Pepaya.  Kenapa ? Selain rasanya memang enak, ukurannya juga kecil-kecil.   Pas untuk satu kali makan.  Sedangkan kue bangkit favorite kami kue yang dibuat kelompok usaha Kembang Sari.  Kuenya renyah dan wangi karena dikasi parutan kulit jeruk purut.

Oh ya di Pekanbaru juga ada yang jual kue-kue khas Banjar alias wadai.  Namanya warung Papadaan.  Lokasinya di Jalan Hang Tuah, di seberang SD Teladan.  Di sini juga menyediakan Soto Banjar dan Nasi Kuning dengan Ayam Masak Habang (ayam masak merah) khas Banjar.

Ada lagi yang selalu bisa didapatkan kalau berkunjung ke Pekanbaru.  Durian.  Ya durian selalu ada di Pekanbaru.  Ada banyak warung-warung di sekitar Hotel Pangeran di Jalan Sudirman yang menyediakan durian, lengkap dengan ketan sebagai teman untuk disantap.  Kalau ingin bawa pulang durian, teman-teman bisa minta penjual mengupas durian yang sudah dibeli, lalu dikemas sedemikian rupa di dalam kotak sehingga layak untuk dibawa.  Atau kalau mau lebih praktis, bisa dengan membeli lempok alias dodol durian.  Ada banyak toko yang menjual makanan khas Riau ini.

Dengan kulinernya yang luar biasa, siapa yang bisa bilang Pekanbaru gak seru ? Yuukkk ke Pekanbaru !!!  ***

minggu-1-2017