Posted in Happy Hours, Tukang Jalan

Mengejar Matahari

mengejar-matahari
Enter a caption

Kali ini diriku mau cerita tentangone day travelling bersama 11 orang teman-teman peserta Diklat JFPM Spasial di weekend kedua diklat yang dilakukan di Yogyakarta.   Kami Mengejar Matahari 😀  Menyaksikan matahari terbit di Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam, serta menyaksikan matahari tenggelam di Istana Ratu Boko.  Perjalanan ini dipilih dengan pertimbangan untuk waktu yang sama, lebih banyak tujuan wisata yang bisa dinikmati, dibanding kalau kami pergi ke Kali Biru di tepi Waduk Sermo di Kabupaten Kulon Progo.

Untuk mengantar jalan-jalan, kami menyewa mini bus kapasitas 14 orang.  Mobil rental ini kami dapat berdasarkan rekomendasi mba Esti pengelola diklat.  Berapa biayanya? Rp.700.000,- untuk pemakaian mobil seharian, termasuk biaya bahan bakar dan upah supir.

Punthuk Setumbu itu nama apa?  Dimana lokasinya?

Punthuk Setumbu itu nama sebuah bukit dimana pengunjung bisa menyaksikan matahari terbit dengan latar Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Candi Borobudur.  Tempat ini bersama beberapa daya tarik wisata lain di  Yogya dan sekitarnya menjadi lokasi syuting sequel kedua AADC.

Punthuk Setumbu yang berada di Kelurahan Karangrejo hanya berjarak sekitar 4 km dari kompleks Candi Borobudur.   Kalau dari Hotel Cakra Kusuma tempat kami dikostkan?  Lumayan jauh.  Sekitar 41,1 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Mengingat matahari terbitdi Yogya dan sekitarnya berlangsung sekitar pukul 04.30 pagi, kami harus berangkat dari Hotel Cakra Kusuma jam 03 lewat dikit.  Artinya jam 02 lewat sudah harus bangun dan mandi.  Kan gak mau jalan-jalan seharian tanpa mandi. Bisa pingsan orang-orang semobil.  Sangkin khawatir telat, Pak Mustakin, salah seorang teman kami, bangun jam 12 malam, dan tanpa liat-liat jam, beliau langsung mandi.  Untuk melihat matahari terbit di Punthuk Setumbu memang butuh perjuangan.  😀

tiket-punthuk-setumbu
Tiket masuk Punthuk Setumbu

Setelah sempat mampir di salah satu SPBU untuk sholat subuh, kami sampai di kaki bukit Punthuk Setumbu sekitar jam 04.30 pagi.  Termasuk telat, karena matahari sudah hampir terbit.  Setelah beli tiket masuk seharga Rp.15.000,- per orang, kami terpaksa langsung mendaki bukit.  Gak sempat foto-foto dulu di kaki bukit.  hiks

Mendaki bukit Punthuk Setumbu, butuh stamina yang lumayan.   Diriku yang selama diklat tiap pagi jalan kaki sekitar 45 menit, sempat keder juga.  Gimana gak keder?  Aku sebelumnya nyaris gak pernah dengar nafasku bunyi ngik ngik ngik, bahkan beberapa tahun yang lalu pada saat kena asma pun nafasku hanya sekali dua berbunyi.  Rasa takut itu sempat menjalar kuat di diri, takut jantungku ternyata benar-benar tidak kuat.   Aku lalu memperlambat langkah, agar kerja jantung bisa lebih pelan.  Alhamdulillah setelah memperlambat langkah, detak jantung jadi lebih tenang.  Bunyi napas tak semeriah semula.

punthuk-setumbu-1

Saat kami sampai di puncak Punthuk Setumbu, matahari sudah mulai menampakkan diri.   Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat berdiri dengan gagah perkasa.  Di depannya, samar-samar terlihat Candi Borobudur.  Sungguh pemandangan yang indah.  Pemandangan yang memanjakan rasa.  Aku seketika sadar pemandangan ini adalah pemandangan yang pernah aku lihat di sampul National Gegraphic Traveller beberapa tahun yang lalu.

punthuk-setumbu-2Kami berada di Punthuk Setumbu sekitar 1 jam, menikmati pemandangan matahari terbit dan perlahan-lahan naik, menepis kabut, membuat terang semesta.  Sayang pelataran untuk melihat kurang luas, sehingga harus berebut untuk mendapat view terbaik.  Sayang juga aku belum punya lensa kamera yg lebih canggih sehingga belum bisa menzoom Candi Borobudur lebih besar. (Kerja, kerja, kerja.. Nabung, nabung, nabung. :D)

Saat kami bersiap-siap untuk turun ke kaki bukit, untuk menyambung perjalanan ke Gereja Ayam dengan mobil, seorang bapak yang tak muda lagi usianya menghampiri, menyarankan kami untuk jalan kaki memyusuri hutan menuju Gereja Ayam, dan menawarkan diri untuk menunjukkan jalan.   Bapak itu ternyata penduduk setempat yang menjadi local guide.. Ketika kami bilang kendaraan kami menunggu di parkiran di kaki bukit, dia menyarankan kami untuk menelpon supir, dan meminta supir untuk menunggu kami di parkiran Gereja Ayam.  Karena ternyata ada 2 parkiran yang berbeda lokasi dan arahnya, si bapak mengarahkan supir untuk menunggu di parkiran jembatan bambu… Berapa harga jasa si bapak sebagai guide? Berdasarkan hasil kesepakatan, Rp.50.000,-

otw-gereja-ayamGereja Ayam yang berada di Bukit Rhema memang tak jauh dari Punthuk Setumbu, masih berada di kelurahan yang sama, Kelurahan Karangrejo.  Bahkan saat melihat pemandangan Gunung Merapi dan Candi Borobudur, di pojok kiri bawah terlihat bangunan tersebut.

Apa itu Gereja Ayam?  Buat penonton AADC2, tentu bangunan tersebut tak asing, meski mungkin tak familiar dengan namanya.  Menurut cerita si bapak local guide, gereja alias rumah doa ini dibangun dengan bentuk merpati, burung lambang perdamaian, yang dilengkapi dengan sebuah mahkota di kepalanya.  Namun karena bahagian “badan” terlihat besar,  lebih tebal, sehingga lebih terlihat seperti tubuh ayam, maka orang-orang menyebutya sebagai Gereja Ayam. 

Bahagian tengah mahkota dari bangunan berbentuk unik ini merupakan sebuah teras atau pelataran kecil, yang bisa dikunjungi.  Karena posisinya tinggi, dari mahkota ayam, pengunjung bisa melihat pemandangan di sekitarnya, termasuk pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Candi Borobudur.  Pemandangan cantik, dan bentuk bangunan yang unik inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk  datang ke tempat ini.

Oh ya, oleh pihak yang membangun, gereja ini diharapkan menjadi rumah doa bagi segala bangsa,  dan diperuntukkan terutàma untuk membantu penyebuhan orang-òrang yang mengalami ketergantunģ  NAPZA, bekerja sama dengan yayasan Bethesda di Yogyakarta.

gereja-ayamSetelah sepakat dengan harga, kami lalu melanjutkan perjalanan ke Gereja Ayam dengan dipandu bapak local guide.  Kami jalan kaki menyusuri hutan, menuruni Punthuk Setumbu, mendaki Bukit Rhema. Perjalanan yang menyenangkan, karena sudah lama banget gak ke hutan, menyusuri kehijauan.  Setelah berjalan sekitar 20 menit, kami sampai di Bukit Rhema, di sekitar “ekor ayam” 😀

Untuk bisa melihat Candi Borobudur dari “mahkota ayam”, kita harus masuk ke bangunan gereja, menaiki 3 lantai melalui tangga kayu yang sempit, yang hanya bisa dilalui satu orang sekali jalan, gak bisa papasan.  Dan karena “mahkota” tersebut relatif sempit, dengan kapasitas maksimal 10 orang, maka bila kita berkunjung di akhir pekan atau hari libur, yang naik ke mahkota ayam tak bisa berlama-lama di sana.

Pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Candi Borobudur dan sekitarnya dari mahkota ayam, lebih rendah dari pada saat memandang dari Punthu Stumbu, dan tentu lebih terang karena memang saat berkunjungnya lebih siang dari pada saat berkunjung ke Punthuk setumbu.  Tapi over all, pemandangannya nyaris sama.  Setelah foto-foto secukupnya, kami segera turun dari mahkota ayam, lalu foto-foto dan duduk-duduk di halamannya yang luas dan sejuk.  Sebelum meninggalkan Bukit Rhema, kami sempat menghampiri warung yang ada di tepi jalan Bukit Rhema, membeli beberapa potong pisang goreng dan bakwan..

Perjalan turun dari Gereja Ayam menuju parkiran menyusuri jalan desa yang di kiri kanannya dipenuhi pohon-pohon bambu.. Hanya bisa dilalui pejalan kaki dan motor,  untuk mobil sepertinya  melalui jalur yang lain.  Udaranya segar, sejuk dan nyaman..  Jalur yang juga menyentuh hati, karena bertemu dengan penduduk setempat yang sederhana, berjalan tanpa alas kaki sambil membawa bakul di punggung dengan bantuan kain gendong…

Sebelum melanjutkan perjalanan, dan naik ke mobil, kami menikmati sarapan berupa nasi goreng dalam kotak yang disiapkan petugas hotel Cakra Kusuma.  Kami menikmatinya di Pos Kamling  Desa, sebelum menyebrangi jembatan bambu menuju parkiran mobil.  Sarapan yang istimewa, karena makan di udara yang segar, diiringi suara gemercik air di kali.  Kalau sudah begini, memang hanya ada dua rasa makanan : enak atau enak banget. 😀  Alhamdulillah.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan.. Kami singgah ke Borobudur, lalu mengikuti Lava Tour di Merapi, makan siang di Kaliurang, dan berkunjung ke Museum Ulen Sentalu, sebelum akhirnya ke Istana Ratu Boko.  Untuk kegiatan Lava Tour dan kunjungan ke Museum Ulen Sentalu, nanti dibuat tulisan tersendiri yaa.. Karena dalam 1 tahun terakhir diriku 3 kali mengikuti Lava Tour, dan belum dibuat jadi satu tulisan pun.. Demikian juga ke Ulen Sentalu, dalam satu tahun terakhir diriku berkunjung ke sana dua kali.  Dan yang terakhir kalau tidak salah hitung  merupakan kunjungan keempat. 😀

Istana Ratu Boko adalah sebuah kawasan situs arkeologi yang berada di perbukitan di sisi timur Kota Yogyakarta.  Menghadap ke Barat, dengan susunan batu-batu kuno yang cantik, tempat ini menjadi tempat yang luar biasa untuk menikmati matahari masuk ke peraduan.  Sebagai obyek wisata, Kawasan Istana Ratu Boko ini dikelola bersama Candi Prambananm yang lokasinya tak jauh.  Bahkan pengunjung bisa beli tiket terusan Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko.

Di film AADC, situs ini juga jadi lokasi. Tapi tidak untuk melihat sunset, melainkan jadi tempat ngobrol Cinta dan Rangga.

Sebenarnya ini kali kedua diriku mengunjungi tempat ini.. Kali pertama di akhir Maret Tahun 2010.  Datangnya ke sorean, nyaris senja.  Langit mendung dan kemudian hujan turun. Tempat ini jadi sepi sekali. Hanya ada aku, mba Ika teman yang bekerja di Pusat Studi Kebudayaan UGM, dan petugas keamanan Kompleks Ratu Boko yang menemani kami.  Saat itu, Istana Ratu Boko terasa sangat kuno.  Serem….!! 😀

ratu-bokoKali ini aku dan teman-teman sampai ke kompleks Istana Ratu Boko sekitar jam 5 sore.  Saat mentari masih bersinar, meski tak garang.  Kami bisa melihat-lihat bahagian candi yang bertebaran.  Aktivitas yang juga dilakukan para pengunjung lain, yang cukup ramai sore itu.  Ya, Kawasan Istana Ratu Boko sepertinya sudah berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau, tempat wisatawan dan juga masyarakat menikmati sore hari.

Puas berkeliling, sebahagian kami mengambil posisi naik ke bangunan candi yang tinggi.  Duduk-duuduk di pinggirnya menunggu matahari tergelincir pelan-pelan.  Sayangnya, menjelang matahari benar-benar masuk ke peraduan, awan datang menutupi.  Jadilah kami hanya bisa melihat warna langit yang perlahan berubah menjadi kuning, jingga dan akhirnya semakin gelap. Belum rezeki bagi saya dan teman-teman untuk melihat keindahan matahari terbenam dengan sempurna di tempat ini.Semoga ada kesempatan lagi yaa. ***

#punthuksetumbu #gerejaayam #bukitrhema #borobudur #ratuboko #yogyakarta #travellers #ceritasondha #myjourney

Posted in Happy Hours, Office Life

Buka Bareng Keluarga Besar Bappeda Kota Pekanbaru..

Minggu lalu jeng Boge Peni, mantan teman se-kantor di Bappeda Kota Pekanbaru, bbm aku..

Teman lama sejak di Bappeda : L - R : Lily Kusumawardhani, Randra Aprileni, Sondha Siregar, Boge Peni Sunestri..

Boge : Kak Son, ikut buka puasa Bappeda?

Aku : Siapa yang ngadain? Kapan? Siapa aja yang ikut? Dimana rencananya?

Boge : Yang ngadain kita-kita kak.. Bukan acara resmi Bappeda.. Rencana hari Selasa 23 Agustus di hotel A, kak..  Ini Boge lagi mendata siapa aja yang mau ikutan..

Aku : Mau lah…  Berapa kita urunan?

Boge : Seratus kak…

Aku : Baik lahhh…

So, akhirnya hari Selasa 23 Agustus 2011aku menghadiri acara Buka Bersama dengan Teman-teman Bappeda Kota Pekanbaru di The Premiere Hotel..

Siapa aja yang hadir…?  Lumayan ramai, ada sekitar 50 orang..  Ada beberapa senior yang sudah purna karya, teman-teman yang sudah mutasi dari Bappeda, juga yang teman-teman masih berkarya di Bappeda.  Bahkan banyak juga teman-teman yang gak sempat ketemu saat aku  bertugas di Bappeda..  Tapi alhamdulillah suasananya akrab banget… Kalau teman-teman mau lihat foto-foto buka puasa ini, teman-teman bisa lihat di album foto di sini

Sebagian karyawan/wati serta para mantan karyawan/wati Bappeda Kota Pekanbaru

Ya, buat aku Bappeda Kota Pekanbaru memang tak kan terlupakan… Why oh why…?  Hehehe..  Bukan hanya karena kantor ini merupakan institusi tempat tugas pertama ku sebagai Pegawai Negeri Sipil, tapi karena saat aku kerja di sana, para senior nya membina para junior dengan baik, bahkan mengayomi.., seperti yang pernah aku ceritakan di postingan yang ini dan ini….   Jadi meski telah 3 tahun 6 bulan pindah ke instansi lain, rasanya sebagian  hati tetap tinggal di Bappeda Kota Pekanbaru…

Mudah-mudahan silaturahmi yang kembali dirajut ini bisa tetap terjaga yaa….

Ok.. Sekarang waktunya ngebahas makanannya… 😀

Sebenarnya kami ingin buka puasanya di Resto Hotel Premiere..  Karena ada teman yang merekom menu buffet buka puasanya banyak pilihan dan uenak-uenak…  Aku siyy baru sempat ngerasain maksi di sini, yang rasanya lumayan siyyy menurut aku..  Tapi karena bagian resto yang paling nyaman buat di-block sudah direserve duluan oleh sebuah big company, terpaksa untuk kami dibuatkan di sebuah ruangan di lantai 3 hotel tersebut…  Nah karena enggak di Resto, kami tidak bisa menikmati buffet yang katanya seru itu… Jadi buat kami disediakan makanan dengan paket menu yang dipilih oleh panitia kagetan.. Hahaha.. Tapi jumlah, jenis dan rasanya juga lumayan..  Not bad laahhh…  Apalagi buat kami di ruangan yang sama disediakan space buat sholat, sehingga bisa sholat berjamaah… Alhamdulillah…

Serunya buka puasa bareng… ***

 

Posted in Happy Hours, My Friends, Tukang Jalan, Tukang Makan

Reunion Travelling 3rd Day : Around Bukittinggi..

Ke Bukittinggi…..???? Yesssss…. !! Kota dengan icon Jam Gadang ini merupakan salah satu kota yang aku senangi buat jalan2… Kenapa? Karena udaranya sejuk dan nyaman, banyak tempat yang bisa dikunjungi sambil berjalan kaki, juga banyak makanan enak… Hahahaha…

Icon Kota Bukittingi, Jam Gadang

Ya…, Sabtu pagi 02 April 2011 aku terbangun di sebuah hotel di Bukittinggi, dengan Linda dan Veny di 2 buah tempat tidur twins di kanan tempat tidurku…  Ahhh rasanya seperti kembali ke zaman di Bogor… :).  Btw Ati dan Idien dimana…? Mereka di kamar lain, secara kalau  sekamar berlima, bisa2 gak tidur2…. hehehehe…

Setelah beres dan sarapan kami segera memulai perjalanan di hari ketiga..  Kemana…?

Pertama2 kami ke Ngarai Sianok…  Buat beberapa teman, ini kali pertama mereka ke Bukittinggi… Jadi gak sah kalau enggak melihat Ngarai Sianok..

@ Ngarai Sianok7
@ Ngarai Sianok…

Buat aku…, hhhmmm  sudah tak ingat berapa kali sudah ke Ngarai ini…  Tapi ada kunjungan yang sangat mengesankan.. Yaitu ketika ke Ngarai Sianok dengan Vita, sahabatku di pertengahan tahun 1996.. Kenapa mengesankan…? Karenaaaaa, kami turun ke arah Ngarai, lalu menyusuri jembatan gantung tua yang menghubungkan kota Bukittingi dan desa Koto Gadang..  Jembatan itu posisinya persis di atas Ngarai.. So, kalau tidak waspada, alamat bye bye love…, jatuh ke jurang yang dalamnya beberapa puluh meter…   Lalu, diujung jembatan, bukan langsung Koto Gadang, tapi kita terlebih dahulu harus menyusuri tangga yang rasanya gak habis2… hehehehe…

Koto Gadang adalah kampung yang menarik untuk dikunjungi…, karena dari kampung ini berasal banyak pribadi-pribadi intelek yang kiprahnya sampai di tingkat nasional.., semisal H. Agus Salim, Sutan Syahrir, Rohanna Kudus, Emil Salim, dll.  Selain itu, di kampung ini terdapat banyak pengrajin perak yang berkarya langsung di rumah-rumah mereka… dan kita bisa mengunjungi dari rumah ke rumah yang memang dibuka untuk pengunjung…

Btw, lucu juga yaaa.., Koto Gadang di Sumatera Barat, Kota Gede di Yogyakarta, arti nama keduanya sama,  sama2 menjadi sentra kerajinan perak.. Ada teman2 yang tahu kaitan keduanya…??

Back to now… Begitu masuk ke taman tempat kita bisa memandang Ngarai Sianok, kami langsung menuju Japanesse  Tunnel alias lorong Jepang…  Ini adalah kali pertama buat aku… Biar entah sudah berapa kali ke Ngarai Sianok, aku gak pernah mau turun ke situ.. Sereeeemmmmm….  Tapi karena kali ini ramai2 dengan teman2, aku pun memutuskan untuk turun ke sana…

@ Lubang Jepang
di depan lorong Jepang..

Lubang ini dibangun Jepang pada masa kekuasaannya di Indonesia tahun 1942 – 1945.  Tidak ada penduduk Kota Bukittinggi pada waktu itu yang mengetahuinya.. Yang jadi pertanyaan…? Kemana dibuang tanah2 hasil galiannya…? Siapa yang dipekerjakan di situ…?  Apakah petani2 di sekitar Ngarai Sianok yang pada periode tersebut sering kali lenyap tak berbekas…? Apa tujuan pembangunan lorong itu…? Apakah untuk mengintai Koto Gadang yang berada persis di seberangnya…?

Untuk mencapai pintu lubang  ini, kita harus menuruni sekian anak tangga, dan selanjutnya untuk masuk ke lubang  ini kita akan menuruni 132 anak tangga lagi yang cukup curam… Hitungan ini kami lakukan saat kami akan meninggalkan lorong atas dorongan guide yang menemani ..  Lubang ini bentuknya seperti tapal kuda…  Melengkung di atas dan datar di bagian lantainya..  Menurut guide, lantai ini sebenarnya telah diperdalam oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan obyek wisata.  Tinggi yang sebenarnya lebih pendek, karena tentara Jepang saat itu pendek2…

@ Lubang Jepang13
in front of jail in d tunnel..

Di dalamnya, lubang  ini bercabang2… Sangat disarankan agar turun ke lorong ini dengan didampingi oleh guide yang sudah sangat paham dengan seluk beluk lubang yang bercabang2  ini, agar tidak tersesat… Amit2 deehhhh….  Dari yang kami susuri, di lubang ini terdapat antara lain ruang amunisi penjara, dapur, ruang pengintai, dan tempat pembuangan mayat… Astagfirullah aladzim…  Satu hal yang dipertanyakan teman2, ke guide…, dimana toiletnya…? Kemana berpuluh2 orang yang tinggal dalam waktu cukup lama di lorong2 ini buang hajat…? Karena lubang ini begitu tertutup.., kalau pun terbuka, bukaannya berada di tebing…

Puas dan capek menyusuri lubang Jepang dan cabang2nya… Kami kembali ke taman di atas dan menikmati pemandangan Ngarai Sianok dari sudut2 yang berbeda…

Harrau
Lembah Harau…

Selesai dari Ngarai Sianok, Gufron yang menyetir mobil, membawanya ke Payakumbuh, sebuah kota sekitar 45 km dari Bukittinggi.. Mau kemana? Ke Lembah Harau.., sebuah lembah yang terbentuk dari  patahan  dengan  tebing yang tinggi dan rata, yang menantang buat para wall climber..

Dari Lembah Harau, kami bergegas kembali ke Bukittingi… Paruik lah litak banaaa… (bahasa Minang : perut udah lapar banget…). Sempat siyy singgah di tempat jual pangan khas Payakumbuh..   Iya, kita memang menahan diri untuk tidak makan yang macam2 sebelum makan siang.. Karena kita pengen makan Nasi Kapau di Pasar Atas Bukittinggi…

Nasi kapau…? Apa itu…?

Nasi Kapau adalah nasi rames ala nagari Kapau.. Dihidangkan dengan berbagai aneka macam lauk pauk yang bisa kita pilih.  Ada gulai tambusu, yaitu usus sapi yng diisi telur dan tahu, gulai kikil, babat dan jeroan lainnya, juga ada gulai ikan, gulai dan goreng ayam.. Pokoknya beraneka deehh..  Dihidangkan lengkap dengan gulai cubadak (nangka muda) yang dicampur kacang panjang,  kol dan jariang alias jengkol… Huhuhu…, kalo yang terakhir ini ampun deehhh, aku gak makan… 🙂

si uni berdagang nasi kapau…

Nah di Pasar Atas Bukittinggi, ada suatu area yang memang disediakan untuk para penjual Nasi Kapau, yang semuanya perempuan alias uni (kakak)..  Yang uniknya, karena tempat lauknya besar2 dan jumlahnya banyak, waktu mengambil lauk pauk, para uni ini menggunakan sendok yang khas, yaitu dengan tangkai yang panjang  (sinduak panjang, dalam bahasa Minang).  Ke sanalah kami pergi untuk makan siang…

Jangan tanya betapa bersemangatnya kami… Biarpun selera asal kami sangat beragam..  Bahkan Neng Idien yang berdarah Banten pun makan dengan semangat…  Hehehehehe…

Pasar Atas4
@ Pasar Atas…
Penjual Pisang Kapik
Penjual Pisang Kapik…

Usai makan dan perut kenyang, kami melanjutkan dengan membeli oleh2 khas Sumatera Barat.. : kerupuk kulit mentah, ikan kering, baluik (belut) kering, dan juga mukena serta kerudung dengan sulaman tangan khas Bukittinggi.. Gak lupa juga kami membeli pisang kapik (pisang jepit), yaitu pisang batu dipanggang lalu dijepit pakai dua bilah papan sehingga gepeng.., lalu dihidangkan dengan kelapa yg sudah dimasak dengan gula aren.. Yang paling doyan dengan makanan ini, tentu saja Veny Sang Penggemar Pisang.. Hehehehe..

Lalu kemana lagi… Rencananya kami akan ke Padang Panjang untuk menikmati Sate Mak Syukur, lalu dilanjutkan ke Padang… Tapi ternyata Gufron yang nyetir mobil kami berkenan memberikan bonus… Bonus apa…? Just wait d next post… Hehehehe… 🙂 ***