Posted in Daily Life

Arisan !

Arisan ! adalah judul film satir karya Nia Dinata yang beredar tahun 2003.  Film yang keren abis, menggambarkan kehidupan 3 sahabat serta kehidupan sosialita di ibukota.  Film yang menurut diriku asyik banget buat ditonton, sampai diriku beli  DVDnya.  ๐Ÿ˜€

Tapi kali ini, diriku bukan buat ngebahas film tersebut.  Tapi mau sharing tentang pengalaman ikut arisan.  Kenapa jadi terpikir untuk nulis tentang arisan? Karena hari minggu tanggal 9 April 2017, aku kebagian tugas mendampingi kakakku yang menjadi tuan rumah arisan kompleks perumahan tempat kami dibesarkan.  Arisan yang sebagian  pesertanya adalah tetangga kami sejak zaman bahuela.  Tapi sebahagian lagi adalah warga baru, orang-orang yang membeli rumah di daerah tersebut dari pemilik lamanya.

Senang sekali bisa hadir di arisan tersebut, karena jadi ketemu teman-teman lama, yang tak lagi sering berjumpa.  Maklumlah, meski secara adminsitrasi kependudukan kami masih warga di kompleks tersebut, tapi realnya kami sudah pindah tempat tinggal sejak tahun 1981. Peserta arisan yang datang juga senang, karena kakakku yang memang suka masak, dan punya toko kue menjamu para peserta arisan dengan karya-karyanya dalam jumlah yang cukup juga untuk dibawa pulang.  Hahahaha..

Back to the topic…, teman-teman sudah pernah ikut ARISAN ?  Sudah berapa kali ? Diriku gak ingat persis sudah berapa kali ikut arisan.  Ini beberapa yang daku ingat.

Aku ikut ARISAN pertama kali saat baru lulus S1 dan bekerja di Jakarta.  Arisan dengan sahabat-sahabat sepermainan sejak di Kampus Rakyat.  Tujuan arisannya supaya kami ketemu dan kumpul-kumpul secara rutin.  Judulnya tak ingin terlepas dari kenyaman persahabatan masa kuliah. Hehehe.   ๐Ÿ˜€  Peserta arisannya cuma 6 orang : diriku, Venny, Linda, Ati, Idien dan Chi-chi.  Arisan ini diledekin bang Salim, suami Idien sebagai arisan aneh, peserta cuma 6, sehingga tempat arisannya mutar-mutar di rumah yang itu itu lagi. ๐Ÿ˜€   Arisan ini umurnya  tak lama, sekitar 2 putaran saja.  Karena saat itu, dalam waktu yang berdekatan  2 pesertanya pindah  dari wilayah Jabodetabek.  Diriku  kembali ke Pekanbaru, Venny ikut suami  pindah tugas ke negeri tetangga.

Setelah itu aku  baru  ikut arisan lagi beberapa tahun kemudian,  di kantor dan di lingkungan tempat tinggal.

ArisanArisan  di kantor itu arisan ibu-ibu Dharma Wanita Unit Bappeda Kota Pekanbaru.  Ini kegiatan wajib setiap bulan yang dilakukan dalam rangka pembinaan istri Pegawai Negeri.  Tapi karyawati juga dilibatkan.  Kalau gak salah, saat itu uang arisannya sekitar Rp.20.000,- per bulan.   Diriku saat itu kebetulan ditunjuk jadi pengelolanya.  Gak susah buat mengelola arisan Dharma Wanita, karena gak harus mengingatkan peserta arisan buat bayar.  Uang arisan diperoleh dari potongan gaji para karyawan dan karyawati. Begitu juga uang sosial dan uang konsumsi arisan. .  Diriku hanya harus berkoordinasi dengan ibu pimpinan tentang jadwal dan kegiatan yang akan dilakukan.  Acara bisa berupa beauty class, table manner class, parenting, ceramah agama, atau kunjungan ke rumah anggota yang baru melahirkan, atau berduka cita.  Mencari pengisi acara, membuat undangan, mengatur tempat dan konsumsi juga menjadi tanggung jawab diriku.  tentu aku tidak sendiri.  Saat itu ada sahabatku  alm Eko (baca : Rest in peace, Eko !), yang selalu setia dan tanpa lelah membantuku.

Arisan tetangga dibuat untuk membangun silaturahmi  kami yang tinggal di jalan yang sama.   Arisan dengan setoran Rp.50.000,- per orang per bulan ini seru karena menjadi ajang kami para ibu-ibu yang sehari-hari sibuk dengan kegiatannya masing-masing.  Dan lebih seru lagi karena  jumlah konsumsi yang disediakan harus berlipat ganda dari jumlah peserta arisan.  Kenapa?  Karena konsumsinya ikut dinikmati oleh anak-anak, bahkan pasangan dari peserta arisan. Seruuuu yaa.. !!!  Sayang arisan ini berakhir karena ada warga yang pindah, dan diriku juga semakin lebih sering di luar rumah.  Hikss..

Arisan berikutnya yang aku ikuti adalah arisan dengan teman-teman kantor saat bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.  Ini arisan benar-benar cuma ngumpulin duit setiap terima tunjangan.  Gak ada acara kumpul-kumpul dan makan-makan.  Uang dipotong langsung oleh bendaharawan gaji, untuk diserahkan ke pengelola arisan, dan selanjutnya diserahkan kepada yang dapat bulan itu.  ini arisan pertama yang iurannya lumayan bagiku,   Rp.1.000.000,- per bulan.  Alhamdulillah, setiap dapat arisan uangnya bisa aku pakai buat beli logam mulia sebagai tabungan.  Sebagian tabungan logam mulia ini lah yang beberapa tahun kemudian diriku jual untuk biaya umroh.  Alhamdulillah.

Arisan berikutnya, arisan dengan teman-teman lama (baca :  Bersahabat Sampai Tua), teman-teman main saat kuliah di Kampus Rakyat.  Teman arisanku yang pertama, yaitu Venny, Linda dan Ati.  Arisan ini arisan long distant,  3 peserta berdomisili di Jakarta, hanya diriku yang di Pekanbaru.  Kami bertemu, berkomunikasi lagi setelah bertahun-tahun tak berkomunikasi intens, bahkan sempat kehilangan kontak.  Arisan dilakukan tiap bulan, uang ditransfer tapi gak mesti ketemuan tiap bulan.  Kalau diriku pas lagi ke Jakarta, waktu untuk kumpul-kumpul disesuaikan.  Kalau tidak, yang kumpul Venny, Ati dan Linda saja.  Arisan dengan nominal Rp.1.000.000,- per bulan ini  juga tidak berlangsung lama, hanya beberapa putaran,   Tapi acara ketemu-ketemu begitu ada kesempatan selalu diusahakan.

Arisan EmasArisanku yang berikutnya adalah arisan emas, dengan Veny dan sahabat sekaligus partner bisnisnya, Meggy.  Caranya, pengelola tiap bulan bertugas membeli emas dengan berat sesuai kesepakatan di awal.  Harga emas tersebut  dibagi dengan jumlah peserta arisan.  Itulah besar uang arisan bulan tersebut.  Jadi uang arisan tiap bulannya fluktuatif, tergantung harga emas.   Untuk arisan emas keluaran Aneka Tambang (Antam) 10 gram yang bersertifikat seama 3 bulan, uang arisannya sekitar Rp.1.7000.000,- – Rp.1.800.000,- per bulan.  Arisan emas ini benar-benar sebuah upaya untuk menabung.  Gak banyak-banyak tiap bulannya, sesuai dengan kemampuan saja.  Arisan ini sudah berlangsung beberapa tahun, dan alhamdulillah masih berlangsung sampai saat ini.

Arisan lain adalah arisan dengan teman-teman alumni sekolah.  Uang arisannya gak banyak.  Hanya Rp.100,.000,- plus uang konsumsi Rp.30.000,- dan uang sosial Rp.20.000,-.  Arisan ini agak ribet menurutku, karena pesertanya buanyak,  70 orang dengan durasi 10 bulan.  Jadi direncanakan ada 7 orang peserta yang menerima uang masing-masing Rp.1.000.000,-  di setiap bulannya.  Tapi realnya, bisa 60% peserta saja hadir di pertemuan bulanan sudah luar biasa.  ๐Ÿ˜€  Karena rendahnya tingkat kehadiran,  menyebabkan ribet juga pengumpulan uangnya.  Ribet untuk mengelolanya.

Arisan yang baru beberapa bulan ini aku ikuti adalah arisan umroh dengan beberapa teman seangkatan di SMA.  Gak ramai-ramai, hanya sekitar 12 orang saja.  Tujuannya untuk mengumpulkan uang untuk membiayai umroh bareng-bareng di tahun yang akan datang.  Semoga Allah memudahkan.   Mekanismenya, siapa yang dapat uang arisan akan dibukakan tabungan umroh atas namanya, tapi buku dan atm dipegang oleh pengelola arisan.  Yang punya tabungan bisa menambahkan setoran ke rekening tersebut untuk meingkatkan jumlah uang persediaan biaya umrohnya.

Dari sederet perjalanan arisan yang telah diriku ikuti,  berikut diriku buat beberapa catatan yang mungkin bisa jadi masukan bagi kita yang menyukai arisan.

  1.  Jumlah peserta arisan sebaiknya gak banyak.  10 – 20 orang rasanya sudah jumlah yang optimal. Khusus arisan emas, sebaiknya hanya dilakukan dengan jumlah peserta hanya beberapa orang saja, namun rutin.
  2.  Peserta sebaiknya adalah teman-teman dekat, yang sudah diketahui karakter, terutama komitmennya atas janji dan kesepakatan.  Ini sangat penting, agar tidak ada peserta arisan yang gak bayar-bayar setelah dapat duluan.
    Pengelola arisan harus orang yang bisa dipercaya, mengerti pembukuan sederhana, punya waktu dan mau untuk melakukan pembukuan.  Ini SANGAT PENTING !!
  3. Bila arisan dilakukan dalam bentuk pertemuan, sebaiknya ada pemisahan antara uang arisan dan uang konsumsi, agar konsumsi tidak menjadi tanggung jawab si penerima arisan.  Karena arisan pada prinsipnya adalah sebuah upaya menabung. Kasihan donk tuan rumah kalo uang yang dia dapat harus diambil sebagian buat biaya konsumsi ramai-ramai.
  4.  Bila arisan dikembangkan menjadi  sebuah komunitas, bisa juga diadakan pengumpulan dana sosial di setiap kesempatan arisan.  Namun harus ditetapkan Peraturan Operasional seperti apa pengelolaan dana sosial tersebut.  Misalnya, siapa saja, dan dalam kondisi bagaimana peserta arisan bisa memperoleh dana sosial tersebut.  Peraturan tersebut sebaiknya cukup detil dan disepakati bersama oleh seluruh perserta arisan.  Sebainya harus dibicarakan juga akan dikemakan sisa uang sosial tersebut, bila suatu saat arisan tak lagi dilanjutkan.  Dan penggunaan uang sosial sebaiknya dilaporkan dalam pertemuan arisan.
  5. Bila ada uang konsumsi, sebaiknya harus dibuat juga kesepakatan, apakah uang konsumsi yang telah diumpulkan itu harus diserahkan utuh pada tuan rumah, atau hanya sebesar pengeluaran sang tuan rumah.  Ada pengalaman, beberapa teman menyarankan untuk melakukan negosiasi harga konsumi pada tuan rumah, karena harga konsumsi lebih murah bila disediakan sendiri, tidak dibeli di restaurant atau tempat pertemuan.  Sisa uang bisa untuk menambah kas komunitas.  Tapi upaya nego yang dilakukan juga bisa membuat sang tuan rumah merasa tidak nyaman karena merasa haknya dikurangi.  Jadi harus dibicarakan dan ditetapkan aturan main, agar semua pihak merasa nyaman..

Mungkin ada catatan lain dari teman-teman yang berpengalaman ikut arisan ? Yukk dishare di sini, untuk jadi masukan bagi kita-kita yang senang dengan kegiatan arisan sebagai upaya menabung sambil bersilaturahmi. ***

satu-minggu-satu-cerita

Posted in My Life, My Mind

Bagaimana Rasanya ?

Temans, postingan kali ini adalah sebuah tulisan tentang perasaan. Tapi sungguh bukan sebuah tulisan yang baper, bawa perasaan.  Alhamdulillah setelah perjalanan yang cukup panjang, nyaris setengah abad, insya Allah, diriku sudah mulai bisa menerima dan mensyukuri apa yang ada di diriku, yang ada di hidupku saat ini.  Tulisan kali ini adalah jawabanku atas sebuah pertanyaan yang disampaikan seorang teman tadi malam, saat diriku dan beberapa teman kumpul-kumpul di Wang Bistro, sebuah resto di kawasan lama Kota Pekanbaru.

bagaimana-rasanyaDi sela-sela percakapan ramai-ramai, temanku bertanya, “Ndha, apa rasanya gak punya anak?”  gubbbbrrrrraaaaaakkkksssss ๐Ÿ˜€

Hmmmm….  Petanyaan yang bagi kebanyakan orang bisa berkesan tak berperasaan.  Tapi  aku yakin pertanyaan temanku itu pertanyaan yang tulus.  Pertanyaan yang hadir karena rasa ingin tahu.  Diriku bisa melihat ketulusan itu dari sorot matanya saat bertanya.   Dan diriku juga mengerti kalau temanku yang usianya 2 tahun lebih tua dari diriku itu adalah sosok yang secara duniawi memang bisa dibilang tak pernah tak punya. Lahir, besar dalam keluarga berada, menikah dengan laki-laki yang juga berada, punya anak.  Dia mungkin tak pernah merasakan tak punya, sehingga ingin tahu bagamana rasanya tak punya. ๐Ÿ˜€

Apa rasanya gak punya anak ?  Apa yaaa….?

Dulu saat belum menikah dan melihat teman-teman punya anak,  aku sempat terpikir, “Mereka punya anak.  Ada yang mendoakan kalau nanti mereka sudah meninggal.  Lalu, siapa yang akan mendoakan diriku, kalau aku tak punya anak ?”

Tapi punya anak kan gak segampang beli boneka.  Datang ke toko, pilah pilih, bayar, lalu bawa pulang.  ๐Ÿ˜€  Anak harus dirawat, diisi jiwa dan pikirannya, agar dia bisa menjadi manusia yang utuh pada waktunya.  Dengan kehidupanku yang saat itu melajang, dan selalu mengisi waktu dengan bekerja dan bepergian, aku gak berani untuk mengadopsi anak.    Gak usahkan anak, kucing dan ikan aja aku gak berani pelihara di rumah.  Takut mati kalau ditinggal-tinggal.

So saat itu  aku berpikir kalau mau punya anak, ya menikah.  Tapi  menikah kan bukan cuma urusan bertemu seseorang, lalu bareng-bareng pergi ke KUA.  Menikah butuh 2 manusia, 2 hati, 2 pikiran yang mau berkomitmen untuk berjuang bersama membangun sebuah kehidupan bersama, sampai maut memisahkan.   Butuh orang yang frekuensi berpikirnya sama dengan diri kita, agar bisa conneted meski sebagai dua individu punya banyak perbedaan.

So, jadilah aku menunggu untuk punya anak dari pernikahan.  tapi penikahan datang padaku di usia yang sudah tidak muda.  Masa dimana jam biologis tak lagi seproduktif di usia muda.  Saat menikah, sebenarnya aku dikarunia seorang anak dari pernikahan terdahulu lelaki yang menjadi jodohku.   Sungguh mendapatkan bonus berupa anak adalah salah satu hal yang aku syukuri saat itu.   Tapi dengan berakhirnya pernikahan,  membuat diriku tak sempat mengurus dan merawatnya.

Setelah perjalanan yang panjang,  berkutat dengan berbagai pikiran selama bertahun-tahun, aku akhirnya sampai pada pemikiran bahwa bagaimana  pun perjalanan di masa lalu, keadaanku saat ini tak lepas dari ketentuan Allah SWT, izin Allah.  Ini lah keadaan yang terbaik bagiku saat ini.  Pasti ada hikmahnya.  Harus disyukuri, tak perlu bersedih, tak perlu berduka.    Lagi pula saat ini aku punya 13 keponakan dan 4 cucu dari kakak, abang dan adik-adikku.  Mereka mewarnai hidupku, membuat hidupku meriah.  Semoga rasa cinta dan kasih sayang antara diriku dengan mereka cukup kuat, sehingga tetap ada, meski diriku kelak sudah tak lagi bersama mereka.

Jadi apa rasanya tak punya anak bagiku?  Gak ada rasa apa-apa juga.  Yang ada rasa baik-baik saja.  Alhamdulillah.  ***