Posted in My Friends

Bertemu Wiwiek

Sekitar 3 minggu yang lalu, atasan ku bilang, “Ndha kamu ikut bagian promosi ke Kalimantan ya…” Entah kenapa, pikiran saya, “Kalimantan ” itu adalah Kalimantan Timur, tempat 2 dari 4 orang adik ku menetap… Ternyata oohh ternyata, Kalimantan yang dimaksud adalah Kalimantan Timur, tepatnya Kota Pontianak..

Kecewa…? Ya enggak laahhh.. Secara belum pernah ke Pontianak…, ini jadi kesempatan untuk melihat salah satu daerah lagi di Indonesia…, yang dikenal sebagai Negeri Khatulistiwa..  Lagi pula di situ ada Bu Wiwiek alias Tri Widiastuti, salah satu teman baik ku..

Sondha & Wiwiek
Sondha & Wiwiek

Siapa siy Wiwiek…?

Aku berkenalan dan kemudian berteman dengan Wiwiek saat kami sekelah di Program Magister Penginderaan Jauh di UGM tahun 1999.  Secara kelas itu hanya diikuti oleh hanya 13 orang dan hanya 3 di antaranya perempuan, yaitu aku, Wiwiek dan Aida, dan karena usia ku dengan Wiwiek tak beda jauh, hanya beda beberapa bulan, dan kami berasal dari daerah dengan culture yang mirip, Melayu,  obrolan kami jadi lebih nyambung… Dan kemudian otomatis kami jadi dekat..

Aku biasa berkunjung ke rumah Wiwiek dan keluarga… Ya Wiwiek kuliah ke Yogya dengan memboyong keluarganya.. Jadi dia menyewa sebuah rumah utuh, dengan 4 kamar..  Rumah nya tak terlalu jauh dari paviliun tempat aku tinggal..  Cuma butuh waktu 5 menit naik motor..  Rumah Wiwiek jadi tempat aku dan Aida bermain.  Kehadiran Rifki dan Dea, kedua anak Wiwiek memberi warna berbeda dari dunia sekolah dan pergaulan dengan teman-teman yang nyaris seusia…

Karena di Yogya bersama keluarga, kedua anak dan kakek (ayahnya Wiwiek), sementara suaminya memang bertugas di luar kota, aktivitas Wiwiek tidak hanya urusan kuliah aja..  Ada urusan rumah tangga, urusan sekolah anak dan…. urusan bakulan, alias dagangan…  Ya, Wiwiek bekerja sama dengan kakaknya, saat itu mempunyai bisnis pakaian..  Karena rumah kami berdekatan, dan Wiwiek suka cemas bawa kedua anaknya naik motor di keramaian lalu lintas Yogya, maka jadilah aku sering pergi bersama mereka..

Wiwiek gak tahu bahwa kalau membawa dia naik motor, apa lagi bila juga dengan kedua anaknya,  membuat aku takut… Takut aku tidak cukup waspada dan bisa menjaga keseimbangan  membawa istri orang, ibu dua anak.., apa lagi plus dua anaknya…  Huhuhuhu…  Alhamdulillah… Berkali-kali kami pergi bersama tak lah pernah terjadi hal-hal yang tak diinginkan…  Alhamdulillah…  Dan yang paling heboh adalah kalau aku menemani Wiwiek belanja buat kulak’an (jualan)nya..  Kami bisa bawa belanjaan satu karung besar naik motor dari Bring Hardjo ke rumah Wiwiek di sekitar Kaliurang KM 7…   Karena dia ngurusin kulak’an sambil kuliah, Wiwiek suka bilang kalau selesai sekolah dia bukan mendapat gelar MSi (Master of Science) tapi MBH (Master of Bring Hardjo)…   Hahahahahaa…

So, begitu tahu aku akan ke Pontianak, aku langsung menghubungi Wiwiek, dan kami  merencanakan untuk bertemu…

Wiwiek menemui ku di Pontianak Covention Center, tempat Kalbar Smesco UKM Expo dilaksanakan…  Meski sudah janjian, aku tetap merasa sangat surprised dengan kehadirannya…  Sungguh gak pernah menyangka kami bisa bertemu lagi setelah hampir 13 tahun tidak bertemu…  Sungguh ada kebahagiaan yang luar biasa bisa bertemu dengan sahabat lama..Apa lagi bebrerapa bulan terakhir ini aku beberapa kali menghubungi Wiwiek, berbagi cerita…   Berbagi duka di hati..  Tanpa sadar air mata ku mengalir saat memeluk Wiwiek…

Aku lalu meminta izin pada teman2 yang sama2 bertugas ke Pontianak untuk pergi bersama Wiwiek beberapa jam, dengan janji akan bertugas di sore sampai malam sebagai kompensasi.. 😀

Aku dan Wiwiek lalu pergi… Kemana? Melakukan sesuatu yang ingin kulakukan beberapa bulan terakhir, dan tetntu saja bernostalgia dengan teman lama…  Dan kami naik motor seperti zaman kami kuliah di Yogya.. Hanya kali ini di Pontianak… Wiwiek seperti dulu, juga grogi saat harus menggonceng ku yang bertubuh jauh lebih besar dari dirinya.., apa lagi aku pakai rok pula… Hehehee..

Alam Hijau

Selesai mengurus seuatu yang sudah kami rencanakan, aku diajak Wiwiek ke tokonya, toko baju muslim “Alam Hijau” di daerah Sungai Raya, Pontianak..  Toko yang semula dibuat di garase rumah, sekarang sudah berkembang menjadi toko yang berlokasi di jalan besar, tak jauh dari rumah Wiwiek.. Alhamdulillah senang melihatnya..  Apa lagi di lantai 2 toko, Wiwiek membuka kursus GIS, ilmu yang kami pelajari saat kuliah…

Bakmie Kering Haji Aman

Dari toko Wiwiek, kami makan siang di  Bkmiie Kering Haji Aman yang merupakan cabang dari Singkawang..   Lalu kami ke rumah Wiwiek, menunggu Dea pulang sekolah..  Dea bukan lagi gadis kecil berusia 4 tahun, seperti yang aku lihat 13 tahun yang lalu..  Usianya sudah 17, dan duduk di kelas 3 SMA.. Dan abangnya Rifki sudah sekolah ke Yogya..  Time flies so fast…

Karena sudah sore, aku diantar oleh Wiwiek dan Dea kembali ke tempat tugas..  Kami tak lagi bergoncengan motor, karena ada Dea yang nyetir mobil… Untuk urusan begini, Wiwiek kalah laahhh sama Dea.. Hehehe…

Setelah pertemuan yang pertama ini, aku dibawa Wiwiek berwisata kuliner, dan jalan-jalan ke bahagia lama Kota Pontianak..  Semua perjalanan itu akan aku tulis, in shaa Allah di tulisan2 berikut…

di Sukahati

Over all… Sungguh bertemu dengan sahabat lama, sangat menyenangkan rasanya…

Terima kasih atas waktu, bantuan dan hadiah2nya ya Wiek..  Semoga kita bisa ketemu lagi, segera.. Juga dalam suasana yang menyenangkan…  Hug.Bighug ***

Posted in My Friends

She Created Her Own Supervisor…

Hari ini, 3 minggu + 1 hari sudah sahabat ku, kembaran ku Eko berpulang ke Rahmatullah…Air mata ku sesekali masih menetes kala teringat akan dia, kala film2 kenangan berputar di benak ku.. Kenangan2 yang banyak, sangat banyak.. Kenangan 16 tahun kebersamaan.. Yang kalau dibuat jadi film entah berapa ratus keping CD yang dibutuhkan untuk menyimpannya..

Eko..
Eko..

Tapi ada satu hal yang sangat luar biasa yang telah dia lakukan…  Dia menciptakan atasan nya sendiri dalam satu episode kehidupannya sebagai pegawai…

Haaa…? Kok bisa…?

Itu lah hebatnya Eko…  Dan yang luar biasa dia melakukannya dengan senang hati, dengan sepenuh hati…

Gimana caranya…?

Caranya… ..Hmmmm.. Mudah2an pengakuan ini tidak berakibat buruk yaa…  Karena niatnya hanya menunjukkan betapa luar biasanya  bantuan yang sudah dia berikan pada ku… Tak terbalaskan..

Caranya…, suatu malam diatas jam 21.00 di akhir tahun 2000, telpon di tempat kost ku di Yogya berdering2…  Yuuppp, zaman itu hp masih barang mewah..  Masih jauh dari genggaman.. Telpon rumah ibu kost dan wartel adalah sahabat bagi ku yang sedang jadi anak kost, karena sedang sekolah lagi..

Gak lama, Ibu Suhaimi, ibu kost ku memanggil ku, memberi tahukan kalo ada telpon buat ku, Ibu bilang, “Dari Pekanbaru..”

Aku begitu gagang telpon nempel di telinga.. “Assalammualaikum… Siapa niyyy…?”

Terdengar suara yang tak terlalu sering ku dengar di telpon, hanya sesekali.. “Sondha, ini aku, Eko.  Cepat telpon balik aku yaa..”

Begitu menutup telpon, mengucap terima kasih ke ibu, aku langsung beres2 dan melangkah ke luar rumah, menuju wartel yang hanya sekitar 20 meter dari rumah..

Gak pakai antri…, alhamdulillah.. Aku lalu mendial nomor telpon rumah Eko.. 0761.44 sekian sekian sekian.. (Berapa ya.., aku sudah lupa… Dampak fasilitas phonebook pada handphone.. :D)

Begitu telpon berdering sekali, langsung diangkat.. Eko sudah menunggu di samping telpon sepertinya..

Aku : Assalammualaikum… Apa cerita, Ko..?

Eko :  Aku mau ngisi data awaktu (Bahasa Melayu : kamu).. Ada data-data yang aku gak tau..  Jawab yaaa…   Nama ayah, nama ibu, nama abang, nama adik, tempat tanggal lahir mereka, pendidikan mereka.. dst dst…

Oaalllaaahhhhh… ternyata Eko sedang mebuatkan Daftar Riwayat Hidup buat aku.. Itu lho format wajib untuk PNS kalau mau naik pangkat dll…

Aku : Buat apa siiyy, Ko?

Eko : Kan April nanti waktunya awaktu naik pangkat ke III/b.  Dari sekarang sudah harus dimasukkan usulannya..  Tenang aja lah.. Biar aku yang urus..  Tapi izin ya, aku tiru tanda tangan awaktu.. Karena kalau dikirim pula dulu ke Yogya, entah kapan pula sampai lagi ke sini..

Aku hanya bisa mengiyakan dan menjawab semua pertanyaan Eko satu per satu.., by phone..

Lalu di pertengahan 2001 aku menerima kabar kalo pangkat ku sudah naik ke III/b.  Alhamdulillah…  Thank you so much Eko…

Dengan modal pangkat III/b, yang bisa menjadi pangkat dasar untuk menjabat esselon IV/a, begitu pulang kuliah Desember 2001, 8 Januari 2002 aku diberi amanah untuk jadi Kasubbag Statistik dan Pelaporan di Bappeda Kota Pekanbaru..

Dan beberapa hari setelah pelantikan, Eko bilang ke aku, kalau dia ingin penyegaran.. Dia ingin pindah dari posisi dia saat itu..  Kebetulan aku ada di ruangan kepala Bappeda saat penyusunan formasi staff  yang akan dirolling..

Aku lalu menyampaikan keinginan Eko kepada Pak Raisnur, Kepala Bappeda Kota saat itu.  Dan respon pak Rais, “Ambil aja dia buat kamu, ‘Ndha.  Biar Eko jadi staff di tempat kamu, biar bisa bantu kamu..”

Yuuuppp, .She cerated her own supervisor…

Sejak itu kami jadi selalu bersama.. Di jam-jam kantor, mau pun di luar jam kantor…

Sejujurnya Eko sangat sabar menghadapi Sondha yang galak.. 😀

Sondha yang selalu memaksa Eko untuk sama-sama belajar agar kami bisa bekerja lebih baik, lebih sistematis, lebih mampu menggunakan alat2 kantor yang selalu berkembang teknologinya.. Dan alhamdulillah Eko bisa melihat semangat ku, kegalakan ku sebagai sesuatu yang positif..

Sungguh, mungkin kalau orang yang tak berpikir positif, bisa saja menggerundel dalam hati, “Udah gue urusin naik pangkatnya. Dapat jabatan setelahnya. Ehhh setelah jadi atasan, galak pula…” :Heheheheee…D

Tapi Eko tidak… Eko tetap memberikan pelukan dan kecupan hangat di kedua pipi ku saat kami bertemu dan berpisah..  Eko tetap menghapus air mata ku kala duka tak lagi tertahankan dan meledak menjadi tangisan..  Dan setelahnya Eko selalu membisikkan kalimat “Sondha itu kuat.. Sondha pasti bisa melewati semua cobaan..”

I miss U, dear.. Thank you for all you did to me…  Rest in Peace..

Posted in My Friends, My Heart

Rest in Peace, Eko…

Sepuluh hari yang lalu…, tepatnya tanggal 29 April 2013, sekitar jam 16.30…
Saat aku sedang mengangsur pekerjaan yang berderet-deret di meja, meski jam kerja sebenarnya sudah usai 30 menit sebelumnya… Tiba-tiba telpon ku berbunyi.., dari nomor yang tak kukenal… Tapi aku tetap menekan tombol “accept”…
Begitu aku dekatkan pesawat telpon ke telinga ku, terdengar suara panik “Tete, tete cepat ke rumah sakit.. Mami sakit..”
Aku yang bingung, dan gak mudeng bertanya, “Ini siapa…”
Suara panik itu menjawab “Emyr…”
Emyr adalah nama putra kedua sahabat ku Eko alias Randra Aprileni.. Dia dan abang nya Taffy memang memanggilku “Tete” yang diambil dari kata Tante..

EkoAku lalu lanjut bertanya, “Ada apa ‘Myr..?”
Emyr : “Mami di UGD RSUD, Tete cepat ke sini..”
Aku yang masih bingung : “Ada apa Myr, Mami kenapa? Ayah mana?”
Emyr dengan suara nyaris menangis : “Emyr gak tau Mami kenapa. Ayah ada di sini. Tete cepat datang.”
Aku : “Iya.. sebentar Tete datang.”

Aku bingung.. Gak ngerti ada apa.. Tubuh yang lelah karena sehari sebelumnya baru pulang dari luar kota selama seminggu turut membuat otak ku jadi lelet…
Tapi aku segera bergerak.. Aku memakai sepatu, yang biasanya aku lepas dan diganti dengan sandal jepit, kalau sudah duduk menghadapi meja kerja.. Lalu mengambil berkas surat2 yang rencananya sore itu mau aku bawa menghadap atasan untuk beliau tanda tangani bila berkenan.. Aku lalu menemui Fitri, ajudan atasan ku.. Minta dia untuk membawa berkas tersebut ke atasan ku, dan menjelasakan bahwa aku harus ke UGD RSUD dan tidak bisa membawa sendiri berkas tersebut ke atasan ku. Fitri lalu menerima berkas, dan mengatakan, “Hati-hati di jalan, bu…”

Di teras kantor aku bertemu Andre, teman kantor ku.. Aku sempat mengatakan kemana aku akan pergi, serta rasa bingung ku pada Andre.. Dan Andre bilang, “Cepat pergi, kak.. Hati-hati…”

Aku membawa si sparky meluncur keluar halaman kantor.. Menyusuri jalan yang ramai dengan pikiran tak tentu arah..
Ada pikiran kalau aku lagi dijailin sama Eko.. Bahwa dia sedang menunggu ku di gerbang pintu RSUD untuk mengajakku jalan sore di halaman masjid Annur yang persisi di seberang RSUD..
Tapi hati kecil ku bilang, tak mungkin Eko melibatkan Emyr untuk menjaili aku…
Rasanya ini memang sesuatu yang serius.. Karena sekitar 2 tahun yang lalu Eko masuk rumah sakit karena gejala stroke, Eko justru tak memberi tahu aku.. Aku justru tahu setelah dia keluar dari rumah sakit dan dirawat jalan..
Hati ku bilang, kali ini ada sesuatu yang serius.. Ada yang serius….

Saat aku masuk ke halaman RSUD, dan melihat ke arah UGD, ada banyak sekali orang berseragam Linmas, seragam yang dipakai PNS hari senin, seperti yang juga aku pakai hari itu.. Hati ku semakin tak tentu rasa.. Hati ku semakin bilang ini sesuatu yang serius… Tapi aku masih tetap tenang, dan memarkirkan sparky di tempat yang teduh..
Aku lalu melangkah dengan cepat meuju pintu UGD.. Lalu bertanya pada petugas SATPAM yang duduk di pos nya di antara 2 pintu UGD, “Pak, saya barusan ditelpon, dikasi tahu kalau sahabat saya Randra Aprileni dirawat di UGD. Dimana dia ya pak?”

Petugas SATPAM menunjuk pintu sebelah kirinya..
Aku lalu melangkah ke pintu itu, dan mulai melepas sepatu kanan ku saat melihat tulisan di pintu “Harap Alas Kaki Dilepas”.
Tapi belum selesai aku melepas sepatu kanan ku, seseorang laki-laki  yang tak ku kenal dan berbaju Linmas menarik tangan ku dan mengakatakan, “Tak usah dilepas, bu. Ibu masuk saja”. Dia menggiring ku masuk ke UGD, ke sebuah ruang yang dibatasi tirai dengan kiri kanannya, serta ke arah lorong UGD..

Di situ aku meliha Eko terbaring, tak sadar.. Petugas para medis sedang berusaha memacu agar jantung Eko bergerak.. Aku lihat ada bang Wan, suami Eko berdiri di samping Eko berbisik di telinganya, tak tahu aku apa yang dibisikkannya.. Di sebelah bang Wan aku lihat Emyr berdiri menahan tangis…

Aku tanpa sadar berkata dengan lembut, seperti kalau kami sedang bicara dari hati ke hati… “Ko…., Eko… Eko kenapa, Ko…?” Air mata ku langsung mengalir, aku terisak melihat keadaan yang membingungkan dan tak ku mengerti..
Aku tak percaya bahwa tubuh yang sedang diupayakan agar jantung nya tetap berdetak itu adalah Eko…
Aku dengar bang Wan berkata pada ku. “Te…, berdoa, Te.. Berdoa…”
Aku tak tahu harus berkata apa, hanya bisa menjerit dalam hati agar semua ini segera berlalu, dan Eko segera sadar..  Aku lalu meraih telapak tangan kirinya… Menggenggamnya.., berharap dia bisa merasakan bahwa aku ada di sampingnya.., agar dia kuat menghadapi pertarungan kali ini dan tidak menyerah…
Tapi tak lama petugas medis yang berdiri di sebelah ku meminta aku untuk melepaskan tangan itu karena dia akan mengukur detak nadi Eko…

Lalu, tak lama aku melihat petugas yang berdiri di sisi kepala Eko menganggukkan kepalanya, dan aku mendengar seseorang mengucapkan Innalillahi wa innaillaihi roji’un…

Aku terpana, bingung,  tak percaya akan apa yang terjadi..
Aku lalu melihat para petugas medis menutup seluruh tubuh Eko dengan selembar kain, dan membawanya ke ruang, di belakang ruang UGD..
Setelah rasa bingung ku berkurang, aku bergegas menyusul ke ruangan kemana mereka membawa tubuh Eko..
Di sana aku melihat anak-anak Eko menagis, lalu muncul Sari adik Eko yang baru saja sampai di RSUD..
Mereka harus menunggu beberapa saat, baru bisa membawa jenazah Eko pulang ke rumah..

Aku lalu pamit pada bang Wan dan Sari untuk duluan ke rumah mereka, bersama dengan ibu tetangga depan rumah Eko yang ikut bersama Sari ke rumah sakit..

Selama di perjalanan pikiran ku melayang-layang.. Rasanya aku semua yang terjadi tidak real..
Tapi saat aku sampai di rumah duka, ada begitu banyak orang datang, dan itu terus berlangsung sampai malam..
Menjelang jam 10 malam, aku memutuskan untuk pamit pulang pada keluarga Eko.. Tubuh ku yang memang kurang fit karena kelelahan, rasanya menjadi semakin lemah setelah mengalami apa yang terjadi sejak sore…

Dalam perjalanan pulang bersama sparky, aku rasanya melayang…  Tak percaya dengan apa yang terjadi..  Rasanya bukan Eko yang telah berpulang ke Rahmatullah tadi sore…  Air mata ku mengalir tak bisa ditahan…, ingatan ku melayang ke 16 tahun perjalanan pertemanan kami…, ke 11 tahun dimana  kami selalu bersama-sama…  Begitu banyak momen kebersamaan, yang rasanya tak seluruh detil mampu aku ingat kembali…

Ingatan ku melayang ke saat2 kami bicara di teras belakang rumahnya…  Saat itu dia dalam proses penyembuhan setelah gejala stroke… , dan aku bilang ke dia..,  “Jangan lah sakit…  Kalau nanti Eko sakit, nanti aku gak punya teman yang menemani sampai aku tua..  Nanti kalau udah pensiun aku gak punya teman jalan-jalan pagi.”  Obrolan orang-orang yang memandang dunia dengan polos..,  lupa bahwa kematian bisa terjadi dalam satu jentikan jari…

Sampai di rumah aku mengamati isi rumah ku… Hampir semua barang yang ada di dalam rumah aku beli dengan ditemani Eko.. Kulkas, lemari buku, mesin cuci, kipas angin, AC, kompor, ketel, sederet panci, karpet, peralatan makan, hiasan di dinding rumah, container-container penyimpan barang, bahkan baju, kerudung  sampai pakaian dalam…  Air mata ku kembali mengalir dan terus mengalir…  Kepala ku mulai berdenyut-denyut, sakit sekali…   Aku akhirnya jatuh tertidur, namun bulak balik terjaga…

Saat bangun pagi, pikiran pertama yang hadir adalah “Eko sudah tidak ada lagi…”.  Air mata ku kembali merebak..  Tak bisa ditahan.. BBM, SMS dan telpon dari orang-orang yang mengetahu kebersamaan kami justri membuat air mata ku semakin deras..  Tapi ingatan ku bahwa hari ini Eko akan dimakamkan, membuat aku bergegas mandi dan beres-beres..  Aku harus ke kantor untuk absen, baru pergi lagi ke rumah Eko..

Akhirnya, Eko dimakamkan hari Selasa, 30 April 2013 di pemakaman Rawamangun di Jalan Labuai Raya..  Namun berhari2 aku tetap tak bisa menghentikan air mata ku menetes kala mengenangnya…

Dia telah mengambil peran besar di kehidupan ku terutama 16 tahun terkahir.. Dia menolong ku, menemani ku, mengingat kan ku… Dia mengisi kehidupan ku yang dalam 11 tahun sering aku jalani dalam kesendirian, saat-saat jauh dari keluarga…    Dia bersikap sebagai pengingat agar aku kuat dan tegar, saat badai kehidupan melanda.. Dia memberikan pelukan, menghapus air mata ku.. Dia memberikan kehangatan bagi jiwa ku yang  kesepian…, melalui pelukan, dan ciuman di pipi kanan kiri tiap bertemu dan akan berpisah…

Tapi setahun yang lalu, saat aku mengaku padanya  ada badai besar sedang menghampiri hidup ku, justru Eko yang lebih dulu menangis dari pada diri ku sendiri..  Rasa sakit yang luar biasa justru memunculkan semangat bertarung pada diri ku, membuat air mata ku tak menetes..  Justru setelah Eko menagis, dan mengatakatan bahwa aku tak pantas mengalami apa yang terjadi, air mata ku tak bisa di bendung… Kami menangis berdua di dalam sparky, yang diparkir di bawah pohon di sudut halaman kantor Eko..

Mana mungkin aku bisa melupakan butir-butir kebaikan yang ditaburkannya dalam perjalanan 16 tahun kami…

Rest in peace, dear..  Selamat beristirahat sahabat ku, saudara ku.. Semoga rumah baru Eko lapang, terang dan indah..  Segala-galanya lebih dari yang ada di dunia ini…  Amiin..  ***