Posted in My Life

Canvassing IPB

Cavassing IPB…  Apaan tuuhh…? Bukan di-kanvas-in seperti Mike Tyson menganvasin lawan-lawannya kan…? **Buseet… Orang lama banget gw, yaakk… Koleksi petinju di pikiran gw Mike Tyson, petinju seperempat abad yang lalu...  Tau udah dimana itu orang…* 😀

IPB

Canvassing IPB itu kegiatan memperkenalkan  IPB, program-program study yang ada di IPB, jalur masuk ke sana,  fasilitas beasiswa yang tersedia, dan berbagai informasi penting lainnya, yang perlu diperoleh  pelajar SMA untuk menentukan dan memantapkan hatinya untuk mendaftar jadi mahasiswa IPB..

Jadi, ceritanya dua hari yang lalu…, Ocha, adik kelas di IPB, yang saat ini menjabat sebagai Sekjen HA – IPB  Riau nelpon…, ngajak hadir di acara Canvassing untuk pelajar-pelajar SMA di Kota Pekanbaru..  Acara yang ditaja adik-adik anggota IKPMR (Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Riau) yang kuliah di IPB, akan dihadiri Pak Ernan Rustiadi, Dekan Fakultas Pertanian IPB..  Dari pada dianggap kakak kelas tidak berbakti…, terpaksa lah diriku iyakan permintaan bu Sekjen ini…  😀

Tapi saat Ocha bilang, “Nanti kakak jadi salah satu pembicara yang cerita tentang perkuliahan di IPB yaa..” Diriku langsung pusing 7 keliling….**toenkkkk – toennkkkk –  toennkkkkkk*  😀 Lha gimana gak pusing klo disuruh testimony tentang perkuliahan dalam rangka promosi kampus…  Bukan karena kampusnya yang gak bagus… Kampusnya bagus banget.. Lha aku nya yang mahasiswa dodol.. Hahahaha…

Coba bayangin, saat kuliah, aku bukan mahasiswa yang menonjol… Kerjanya main melulu… Kalo sahabatku saat Tingkat Persispan Bersama (TPB), Ekarina, bilang “Dia maahh tidur melulu…” 😀  **sama kita, ya Na… Makanya cocok berteman… Hehehehe.*

Urusan kerjaan, aku juga gak menonjol… Biasa-biasa aja… Bertahun-tahun jadi orang di belakang meja… Jadi Tukang Masak, sekaligus Tukang Sapu.. Hahahaha…

Kalo aku ngasi testimony tentang betapa meriahnya hidup berteman selama di IPB, bisa-bisa orang tua calon mahasiswa gak ngizinin anaknya masuk ke IPB… Takut anaknya gak kelar-kelar kuliah… Main melulu…  Hehehehe…  Jadi lah aku memohon Ocha untuk mencari korban lain… Hahahaha…  Tapi sebagai alumni, aku setia, dan hadir di acara tersebut…

Canvassing IPB aAlhamdulillah yang hadir di acara tersebut ramai… Ada juga ibu dan bapak guru..  Ini pasti guru-guru yang keren…, mau datang ke acara sweeperti ini di luar jam kerjanya, supaya bisa memberi masukan pada murid-muridnya… Acara ini diisi dengan pemaparan dari Pak Ernan, testimony dari beberapa alumni, juga diisi dengan penampilan musik dari adik-adik IKPMR yang baru saja selesai keliling Riau untuk Canvassing IPB..  **Yang nyanyi suaranya bagus…..*

Dari pemaparan Pak Ernan aku jadi tahu kalo Fakultas di IPB udah gak 7  (A = Pertanian, B = Kedokteran Hewan, C = Perikanan, D = Peternakan, E = Kehutanan, F = Teknologi Pertanian, dan G = MIPA) lagi, tapi udah ada tambahan 2 Fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Manajemen, dan Fakultas Ekologi Manusia.

Kayaknya Jurusan Sosek Pertanian, yang heboh denganbring cikita bring cikita bring cikitik cikitik cikita, mantap gawat Sosek Sosek Sosek” udah gak berada di bawah naungan Fakultas Pertanian lagi…  Program Studi Agribisnis dan Ekonomi Sumberdaya jadi Fakultal Ekonomi dan Manajemen, sedangkan Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, bersama Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, jadi Fakultas Ekologi Manusia…

Jalur pendaftaran ke IPB juga tidak seperti zaman ku, 29 tahun yang lalu…  Sekarang selain ada Seleksi Nasonal Perguruan Tinggi Negeri (SNPTN), ini seperti PMDK di zaman dulu, dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) ini SIPENMARU  klo di zaman dulu, Juga ada Beasiswa Utusan Daerah, dan ada Ujian Talenta Masuk IPB (UTMI).

Apa itu Beasiswa Utusan Daerah atau BUD…? BUD adalah suatu cara penerimaan mahasiswa program sarjana dan pascasarjana IPB yang direkomendasikan dan dibiayai oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan atau lembaga swasta, yang bila lulus diharapkan kembali ke daerah untuk membangun daerah.    Sedangkan Ujuan Talenta Masuk (UTM) adalah salah satu cara penerimaan mahasiswa program sarjana IPB yang berbasis kepemimpinan, kewirausahaan, dan cinta pertanian.  Metode seleksi yang digunakan adalah ujian tulis.

Kalau ada teman-teman yang anak, keluarga/kerabat yang berminat untuk masuk ke IPB, bisa lihat informasinya di website IPB di sini

Lalu…., secara pribadi apa testimony ku sebagai orang yang pernah sekolah di Institut Gebukan Kasur ini…?? Kasi tau gak yaa….. Kasi tau dikit atau banyak….?  😀

Memory ku tentang kuliah di IPB pernah aku tulis  sekian tahun yang lalu, dan dikasi judul TERIMA KASIH, PAK ANDI..  Satu hal lagi yang aku senangi dari kuliah di IPB adalah KEBERAGAMAN KAMPUS…  Ini cuplikan tulisan yang pernah aku buat juga beberapa tahun yang lalu di sini

Tati jadi ingat masa2 kuliah di Bogor… Masa2 yang sangat menyenangkan karena hidup dalam keberagaman… Saat itu mahasiswa baru tingkat persiapan dibagi dalam sepuluh kelompok. Di setiap kelompok, mahasiswa dgn nomor induk terkecil berasal dari DI Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam), sedangkan mahasiswa dgn nomor induk terbesar berasal dari Indonesia Bagian Timur atau anak2 lulusan sekolah Indonesia di luar negeri. Jadi setiap kelompok merupakan cerminan Indonesia yang Bhinneka Tungal Ika. Dan mahasiswanya benar2 heterogen.. Ada mahasiswa yang berasal dari desa, ada yang berasal dari metropolitan, bahkan ada yang besar dan tumbuh di luar negeri. Ada yang anak petani, anak pegawai sampai dengan anak menteri bahkan anak presiden. Bahkan ada mahasiswa yang untuk bayar kuliah perlu keringanan dengan membawa surat keterangan tidak mampu…

Tapi gak masalah tuh…, kampus bisa menerima siapa aja tanpa melihat status ekonomi keluarga dan asalnya. Saat itu kami benar2 merasakan keberagaman di Kampus IPB, Kampus Rakyat.. Keberagaman yang memperkaya cara pandang tentang orang lain, keberagaman yang memperkaya wawasan kita..

Masih adakah keberagaman itu di kampus2 di negeri ini…? Masih ada kah keberagaman saat kampus dijalankan nyaris sebagai sebuah bisnis..? Masihkah pendidikan bisa menjadi sebuah cara untuk memperbaiki tingkat kehidupan di negeri yang kita cintai ini…?

Btw Tati sempat kaget lho waktu ujian Matematika Dasar I. Kaget karena petugas pengawas ujian yang mengulurkan kertas absen ke Tati adalah Mamik Suharto, yang waktu itu masih mahasiswa Jurusan Statistika. Bayangin, pengawas ujian anda adalah putri presiden yang selama ini wajahnya hanya anda lihat di media massa atau di buku2. Tati rasa kejadian seperti ini hanya terjadi di lingkungan kampus yang menghargai keberagaman, keheterogenan… Kalo enggak, mana mungkin kita2 yang berasal dari daerah dengan latar belakang keluarga biasa2 aja bisa ujian diawasi putri presiden Indonesia, yang zaman itu begitu diagungkan..?

Memang IPB yang ku dengar dari beberapa teman, yang adiknya, putra putrinya bersekolah di sana, IPB tidak seperti zaman aku dan teman-teman kuliah dulu..  Pilihan Fakultas dan Jurusan sudah dilakukan sejak mendaftar masuk, tidak di akhir Tingkat Persiapan Bersama (TPB).  Ujian tiap Sabtu sudah tak ada lagi..  Hanya mid dan akhir..  Kalau nilai kurang dari 2.00 atau di atas 2.00 tapi ada nilai F, seluruh pelajaran harus diulang, kecuali yang sudah B ke atas..  Sudah ada remedial dan semester pendek..  Jadi tak ada lagi istilah RCD atau Recidivis…

Aku dengar ilmu di IPB juga tak seperti zaman kami dulu..  Kalau dulu, kami diberi teori-teori yang kuat.., tapi segi teknis kurang banyak..  Sehingga kami para lulusan cenderung jadi generalis, yang bisa bekerja di banyak bidang, dan sedikit yang memilih bekerja di bidang pertanian.. 😀  Tapi sekarang katanya ilmu teknis lebih banyak diberi…, sehingga para lulusan jadi punya keahlian di bidang yang dipelajari.. Banyak juga mahasiswa yang menghasilkan inovasi-inovasi baru…..

Soekarno - _IPB

Dan kenapa harus memilih belajar pertanian…? Karena urusan pertanian itu urusan perut manusia, yang gak pernah ada habisnya selagi manusia ada di muka bumi..  Dan negeri kita ini adalah negeri agraris, punya potensi pertanian yang luar biasa… Jangan sampai ketika Pemerintah mencanangkan wajib makan makanan lokal seperti jagung, singkong…, ternyata jagung dan singkong itu impor dari negeri tetangga…  Mungkin slide paparan pak Ernan yang satu ini memang perlu kita renungkan…. Slide ini petikan pidato Bung Karno, Bapak Bangsa kita, Proklamator kita, saat beliau meresmikan Gedung kampus IPB yang di Baranang Siang..

JAYA LAH IPB KITA…***

Posted in My Family, My Heart, My Life

Always on my mind, Mom…

Mama_PenangHari ini pikiranku tak bisa berkosentrasi kerja sebagaimana biasanya…  Aku rindu sama Mama… Rindu yang tak terkatakan.. Seperti yang sudah2, rindu ini membuat air mata kerap mengalir, bahkan ketika rindu itu melintas saat aku sedang tenggelam dalam pekerjaan… Kalau sudah begitu, aku hanya bisa menahan agar tangis itu tenggelam di dalam dada… tak keluar dalam suara…

Lalu di kegalauan itu aku melihat tawasan sebuat applikasi, untuk membuat slide dari koleksi foto2 kita.. Bisa foto2 yang sudah kita upload di medsos2 yang kita miliki.. atau pun foto2 digital yang masih di komputer kita dan belum di-upload..  So, aku terpikir untuk membuat slide buat foto2 Mama yang ada di aku.. Karena slide itu juga menyediakan fasilitas untuk kita kasi sound untuk mengiringi, yang bisa kita pilih dari youtube, aku meilih lagu Always on my mind dari Michael Buble sebagai pengiring slide foto2 Mama…  Semoga slide ini bisa dilihat juga buat abang dan adik2ku, juga ponakan-ponakanku… Meski aku tahu ini tak akan membuat rasa rindu akan Mama hilang… Tapi semoga dengan melihat begitu banyak kebersamaan yang pernah kami rasakan bersama Mama, hati yang rindu itu bisa terhibur…

Silahkan dilihat slide yang aku buat untuk Mamaku, di sini…. Teman2 juga bisa bikin slide kalian, tentang apa yang kalian inginkan.. ***

Posted in My Heart, My Life

Jangan Bercerai, tapi….

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat lama..  Yang juga sudah lama tak berkomunikasi menghubungi ku by phone…

“Kak…, kakak sibuk? Kita bisa ketemu.. Aku ingin bicara..  Aku mau minta masukan… Aku rencananya akan bercerai..”

Innalillahi…  Tubuh ku mendadak rasanya dingin…

Aku menjawab “Iya.. Aku bisa.. Kapan mau ketemu..? Jam istirahat kantor saja, kalau mau.”

Sahabat ku itu menyetujui.. Dan dia menjemputku di tempat kerja, saat jam istirahat kantor…

broken heartBegitu bertemu, sahabat ku bilang  : Aku mau bercerai kak.. Gugatan sudah ku masukkan ke Pengadilan..

Aku : Tak bisakah ditahan lagi…?

Sahabatku : Kakak kok bisa bilang begitu? Kakak belum dengar apa yag terjadi pada ku..  Aku ingin bicara dengan kakak untuk dapat masukan dari seseorang yang telah melakukan perceraian.. Tapi aku gak nyangka kalau pikiran kakak begitu..

Aku : Aku pernah membaca buku.. Buku yang diberikan sahabat kita sebagai hadiah pernikahan ku sekitar 3 tahun yang lalu…  Dibuku itu tertulis sebuah riwayat hadist Rasulullah, dimana kesuksesan setan yang tertinggi bukan lah menggoda manusia hingga melakukan kejahatan, tapi menghancurkan rumah tangga, memisahkan suami dari istrinya… Apa yang terjadi dengan rumah tangga mu?

Sahabatku : Dia selingkuh kak..  Dan aku juga sudah dijahati secara finansial…  Selama ini sebenarnya aku yang membiayai rumah tangga kami kak.. Bahkan aku yang sekarang2 ini membiayai sekolahnya..  Aku bekerja keras, dia menikmati, sekarang dia menghianati…  Aku sudah melihat bukti-buktinya…

Innalillahi….

Sahabatku melanjutkan :  Kenapa kakak menyarankan aku untuk mempertahankan rumah tangga ini, sementara kakak melakukannya…?

Aku : Karena bagaimana pun perceraian itu menyakitkan.. Perceraian ku hanya menyangkut perasaan diri ku dan  juga keluarga ku.. Tapi perceraian mu, menyangkut perasaan anak-anak mu.. Pernikahan ku hanya seumur jagung, pernikahan mu sudah berbelas tahun…  Dan sesungguhnya aku melihat dari perjalananku bahwa ujian hidup  lelaki adalah  perempuan dan harta.. Sementara ujian hidup kita perempuan adalah kesabaran menghadapi, mendampingi suami menghadapi ujiannya..  Bukan kah suami adalah amanah Allah yang harus kita jaga, sebagaimana kita, para istri adalah amanah Allah pada para suami, yang harus dia jaga?

Sahabat ku : Kakak masih berpikiran seperti itu setelah semua perjalananmu, kak…?  Aku saja kalau ketemu dengan mantanmu rasanya pengen nonjok dia, kak…  Karena aku masih ingat bagaimana gembiranya aku saat mendengar kakak akan menikah.. Aku sampai berencana terbang ke Samarinda untuk menghadirinya…

Aku : Aku sesungguhnya untuk sampai di titik benar-benar memulai mengurus perceraian itu  setahun setelah aku mengetahui hal-hal yang menyakitkan..  Aku pernah berusaha memperbaiki..  Tapi ternyata tak berjalan… Bahkan aku tahu makin banyak, makin banyak..  Dan orang-orang yang terlibat di situ berusaha menggerogoti hati ku tanpa ampun..  Pada akhirnya aku melakukan perceraian untuk membebaskan diri ku dari rongrongan rasa sakit… Dan pada akhirnya, aku melihat proses ini sebagai upaya melepaskan mantan suami ku dari tanggung jawab dirinya atas diriku..  Dan sesungguhnya ketika palu perceraian itu diketuk…,  tubuhku gemetar..  Padahal, proses perceraian itu saja 1,5 tahun..  Di situ lah aku mengerti betapa kuatnya ikatan pernikahan yang dilakukan di hadapan Allah itu, meski hanya seumur jagung…  Jadi, kalau dirimu masih bisa bersabar, jangan bercerai..  Tapi kalau perceraian itu satu-satunya jalan untuk menghentikan suamimu dari kezalimannya, dengan berat hati lakukan lah..  ***