Terima Kasih Pak Andi..

Di “Album” majalah Tempo edisi 18-24 Februari 2008 ada berita bahwa 66 orang Guru Besar IPB memperoleh penghargaan Sewaka Winayaroha karena dinilai berjasa dalam memajukan dan meningkatkan peran perguruan tinggi. Dan salah satu yang menerima penghargaan ini adalah bapak Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion, Msc. (alm). Beliau dinilai berjasa dalam pengembangan mata kuliah Statistik, dan beliau juga pelopor pemberlakuan studi sarjana 4 tahun, pembentukan sekolah pasca sarjana dan sistem penerimaan mahasiswa baru tanpa ujian masuk, yang kini dikenal sebagai Program Penelusuran Minat dan Kemampuan.

Artikel ini membawa Tati kembali ke masa 22 tahun yang lalu… Haahh…, 22 tahun yang lalu..? Udah lama banget ya…? Kemana aja tahun2 berlalu… Kok rasanya baru kemaren Tati pake rok abu2…? Kok rasanya belum lama menyalurkan energi masa remaja yang luar biasa dengan sejuta aktivitas dan kejailan…? Hehehe..

Iya, Tati adalah satu dari berpuluh2 ribu anak di Indonesia yang mendapat kesempatan masuk perguruan tinggi, dalam hal ini IPB, tanpa tes.. Suatu program recruiting mahasiswa yang dirintis dan dikembangkan oleh Bapak Andi Hakim Nasoetion (alm).

Tati bukanlah anak yang cemerlang2 amat di masa SD-SMA… Gak pernah jadi juara umum sekolah.., paling cuma sekitar 5 besar di kelas.. Gimana mau cemerlang, orang isi otaknya main dan main melulu… Hehehe. Tapi selalu begitu sejak SD.. Nah waktu akhir semester 5 di SMA Tati ditawarkan oleh guru di sekolah untuk mengisi form mahasiswa undangan IPB dan juga memilih IPB waktu mengisi form PMDK (Penulusuran Minat Dan Kemampuan). Karena ngebayangin betapa serunya suatu saat nanti bisa bekerja di perkebunan, yang selalu Tati lihat2 dalam berpuluh kali perjalanan pulang kampung, ya Tati enggak menolak tawaran tersebut… Meski belum pernah punya bayangan kayak apa sistem perkuliahan di sono.. Kecuali kata kakak2 kelas yang udah duluan ke sana, “ujiannya tiap hari sabtu”…

Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan SMA, hasil PMDK juga diumumkan…. Tati ternyata diterima di IPB bersama 3 anak lain dari sekolah Tati.. Tapi sahabat2 Tati yang juga ikut mendaftar ternyata gak lulus… Waduuuuhhhhh…, dakyu beneran berjalan sendirian niyy ke dunia baru…!!

Setelah terlebih dahulu pergi ke Bogor buat nyari tempat kost di akhir bulan Mei 1986, sekitar 2 hari sebelum jadwal registrasi Tati pun berangkat ke Bogor. Tati berangkat ke Jakarta sendirian, karena jadwal-nya gak pas dengan jadwal para ortu. Lalu ke Bogornya diantar sepupu Tati, Bang Nyong (alias Pieter Siregar) dan sohibnya bang Gedong (dimana ya niyy orang sekarang?). Dasar anak cowok dan masih muda pula (kalo gak salah, si abang waktu itu masih kuliah di Sipil Trisakti tahun ke 3), setelah nganterin Tati belanja berbagai keperluan (sesuai dengan daftar belanja yang dibekali Ibu dan kak Lintje), plus pergi makan siang dan nunjukin dimana lokasi kantor telkom (supaya bisa nelpon ke rumah atau ke Jakarta klo ada apa2, karena hp saat itu masih ada dalam semesta impian, wartel aja belum menjamur kayak sekarang), Tati ditinggal deeh di tempat kost di Cirahayu 4… Huuuuuuuuu…….!! Tati waktu itu rasanya mau nangis jejeritan……!!!

Everything was completely strange for me at that time… Bahkan Tati gak punya kenalan satu orang pun kecuali bapak & ibu kost alias Oom Biyan dan istrinya. Tati juga belum tau teman2 sesama anak Pekanbaru tinggal dimana… Bahkan biar Tati tau lokasi kantor Telkom, Tati tuh gak tau mesti naik angkot nomor berapa ke sana. I wanted to go home.. !! Tapi Tati gak punya pilihan… Masa mau kalah sebelum perang…? Tapi perasaan itu hanya hadir beberapa hari aja…. Kehadiran Miko dan Riza sebagai teman kost membuat Tati merasa lebih baik…, lebih nyaman…

kampus-baranang-siang.jpgSo… tanggal 15 Juni 1986 pagi, Tati, Miko dan Riza pergi ke Aula Kampus Pusat (AKP) IPB buat registrasi.. Proses registrasinya panjang banget…. Gak ingat tuuhhhh mesti ngelewatin berapa meja… Mulai dari nyerahin surat panggilan di meja pertama, lalu nyerahin berkas (ijazah SMA yang asli, copyan rapor SMA dll) sampai photo-an buat kartu mahasiswa..

Selama proses registrasi yang panjang dan melelahkan, karena yang bertugas pada lumayan galak (gak tau kenapa…!) Tati melihat seorang bapak yang mundar mandir di AKP yang luas itu.. Beliau berkeliaran dengan membawa sebuah kamera dan memotret berbagai aktivitas di ruangan tersebut.. Setelah Tati amat2i dan mengingat2 referensi yang ada di otak.. ternyata beliau adalah bapak Andi Hakim Nasoetion sang rektor IPB pada saat itu. Belakangan Tati dengar dan baca di buku dan majalah, ternyata beliau memang hobby dengan photography… Pantessan…!!

Lalu kehidupan perkuliahan dimulai dengan matrikulasi… Hari2 dimana Tati harus menyusuri ruang2 kuliah P1 sampai dengan P12, laboratorium Fisika dan Kimia yang peninggalan zaman Belanda. Hari2 duduk di bawah pohon randu yang sexy dengan kapuk2 yang beterbangan di Taman Koleksi, buat ngerjain tugas rame2 dengan teman2 sekelompok… Hari2 bersama Ncin dan Mprit…

Jadwal kuliah dan praktikum yang padat, segera menimbulkan rasa sebel.. Hehehe.. Gimana enggak,..? Teman2 SMA yang suka pada nyuratin tuh bikin sirik karena masih pada bebas main2.., sementara Tati udah harus sibuk dengan diktat2, buku petunjuk & laporan pratikum plus ujian tiap sabtu.. Mana kebiasaan SKS (Sistem Kebut Semalam) semasa SMA kayaknya sulit buat dilakukan di sini… Materi kuliahnya banyak banget… Rasanya pengen nangiiiiiizzzzz….. Hehehe.

Belum lagi hasil2 ujian yang benar mengejutkan… Gimana enggak…? Teman2 anak2 Jakarta yang udah bertahun2 ikutan bimbel punya pengalaman banyak ngutak ngatik soal.. Hasil ujian teman2 anak2 Jakarta tuh bukan satu dua orang yang dapat nilai seratus…, seratus saudara2…!!! Sementara kita anak daerah yang gak kenal bimbel di zaman itu, dapat nilai antara 60-70 aja udah lumayan banget….!! Tati aja waktu ujian pertama Fisika cuma dapat nilai 32… Waduuhhh… keder deh rasanya..

Buat teman2 ketahui.. ada lho teman sekelompok Tati di Tingkat Persiapan yang waktu ditanya asalnya, katanya dari Balige (salah satu kabupaten di Sumatera Utara). Dia ternyata sebelumnya gak pernah ke Medan, bahkan ke kota Balige-nya aja jarang2. Jadi dia ke Medan itu, ya karena mau berangkat ke Bogor lewat Belawan (pelabuhan lautnya Medan). Jadi dia benar2 BTL (Batak Tembak Langsung…!!!). Dan orang2 yang seperti ini bukan satu dua orang di IPB, karena mahasiswanya berasal dari berbagai pelosok Indonesia. Untuk tahun pertama alias tingkat persiapan, biasanya mereka dan juga Tati memang terhege2 dan keder menghadapi anak2 Jakarta yang canggih..

Rasanya kalo bersaing dengan anak2 Jakarta, yang zaman itu sebagian besar keluaran bimbel Siki Mulyono dan Santa Lucia, di forum Sipenmaru, kami yang anak daerah akan kecil sekali peluangnya untuk bisa menikmati kuliah di Perguruan Tinggi Negeri papan atas negeri ini… Bayangkan kalo tidak ada program yang dibikin pak Andi, bagaimana teman2 yang lahir dan tumbuh di pelosok tapi punya talenta luar biasa ini punya kesempatan untuk meraih pendidikan yang baik?

Tapi sejalan dengan waktu, setelah kita bisa melewati seleksi alam, lalu menyerap dan mengembangkan pola pikir di kampus ini…, alhamdulillah kita para anak daerah bisa menyelesaikan kuliah di kampus ini.. Kuliah di kampus ini benar2 memberikan sesuatu yang luar biasa dalam hidup Tati dan pasti juga buat teman2 yang pernah kuliah di sana…. Untung ada program yang dikembangkan oleh pak Andi Hakim Nasoetion…

Program yang pak Andi bikin memang memberikan solusi untuk mengatasi keterbatasan anak2 daerah akibat kesenjangan kualitas & fasilitas pendidikan di pusat dan daerah. Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan kepada kami, ya Pak Andi.. Insya Alloh apa yang telah bapak lakukan buat kami menjadi penerang bagi bapak saat ini dan di yaumil akhir nantinya… Amin ya Rabbal Amin..

6 thoughts on “Terima Kasih Pak Andi..

  1. Hai Sonda, apa kabar? Salut atas tulisanmu. Pak Andi ternyata meletakkan dasar-dasar universitas modern di Indonesia di mana hasil akhirnya adalah “broad base skill”. Dulu lulusan IPB sebelum pak Andi ditujukan untuk mengisi Departemen Pertanian dan Sekolah-Sekolah Pertanian di Indonesia. Setelah beliau menjabat Rektor, lulusan IPB mengisi berbagai bidang. Bahkan saya baru saja menemui seorang pengusaha transportasi kapal (ship cargo) yang telah memiliki 5 kapal liquid cargo lulusan IPB! Ini bukan tidak sengaja. Pak Andi meletakkan Matematika dan terapannya (statistik, ekonometrika dan lain sebagainya) sebagai dasar ilmu yang sangat kuat tertanam di dalam benak para mahasiswa IPB.

  2. aku suka banged baca cerita2nya kak shonda ini. serasa dibawa masuk ke cerita itu sendiri. eniwei kak, aku juga berpikir begitu. anak2 jakarta memang bs dibilang lebih maju dr anak daerah krn disini banyak sekali fasilitas utk menunjang minat mereka, sementara di daerah, punya 1 bimbel aja mgkn udah syukur. jd pd saat semua siswa nasional berkumpul, anak daerah hrs berusaha keras mengejar ketinggalan.

    tp kak, dulu temanku ada yg pmdk (dia dr sma negeri paling buntut di medan), tnyt begitu kuliah, dia ketinggalan jauh dari mahasiswa lain yg masuk melalui umptn. aku rasa temenku itu salah 1 kiriman yg salah…..

    ————–
    Sondha : Tq ya Zee atas apresiasinya…

    Soal kiriman yang salah, di angkatan ku dulu juga ada.. Kalo gak salah, ceritanya ayah si mahasiswa undangan itu kepala SMA tempat si anak bersekolah. Si anak, yang kata teman2nya sedaerahnya diup-grade nilai2nya supaya bisa lolos seleksi, akhirnya gak tahan setelah beberapa bulan mengikuti perkuliahan di kampus rakyat. Biasanya hasil rekayasa begini sulit bertahan terhadap proses seleksi alam..

    Semoga kelakuan segelintir orang yang tidak berpikir panjang ini tidak membuat ribuan anak yang punya potensi tapi jauh dari fasilitas pendidikan kehilangan kesempatan masuk ke pintu gerbang lembaga pendidikan yang bermutu di negeri ini…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s