Keberagaman di Kampus..

ira.jpgTulisan ini diinspirasi oleh aktivitas Ira, ponakan Tati, akhir2 ini… Nona yang satu ini sekarang kelas 3 SMU, sedang siap2 buat ujian akhir, dan itu artinya doski juga mulai nyari2 tempat kuliah.. Secara Nona yang satu ini doyannya masak dan gosip2i.., doski pengennya kuliah di bidang kuliner atau klo enggak di bidang komunikasi..

Hari Sabtu yang lalu.. sore2 sekitar jam 16-an Ira pergi ke sekolahnya lagi buat ujian masuk universitas swasta terkenal di Yogyakarta. Dia milih fakultas komunikasi (klo gak salah). Buat ikut ujian itu setiap peserta harus membayar Rp.150.000,-. Menurut Tati itu masih wajar lah.., secara universitas itu kan sekolah swasta. Dan klo petugasnya pelaksananya juga datang dari Yogya kan butuh biaya transportasi dan akomodasi yang gak sedikit..

Beberapa hari sebelumnya Ira juga ikut ujian masuk salah satu universitas negeri di Jawa Barat. Ira ujian untuk masuk fakultas komunikasi. Nah untuk ikut ujian masuk yang diselenggarakan di Pekanbaru ini, setiap peserta harus bayar Rp.500.000,- Bayangin…., buat ujian masuk aja mesti bayar Rp.500.000,-. Terus gimana donk dengan anak2 dari keluarga yang pas2an atau bahkan anak2 dari keluarga ekonomi lemah…? Mana bisa ikut ujian…

dsc00059.jpgHal ini membawa pikiran Tati ke pertengahan tahun 2004… Waktu itu Olan, abangnya Ira, lulus di fakultas teknik sipil di universitas negeri di kota gudeg. Olan lulus ujian masuk yang diselenggarakan perwakilan universitas tersebut di Pekanbaru. Untuk registrasi sebagai mahasiswa Olan harus membayar sekitar Rp.13 juta-an. Sebenarnya siyy Olan pengennya kuliah di institut teknologi negeri terkenal di kota kembang. So, dia juga ikut ujian masuk institut tersebut. Ujiannya di kota kembang. Naah.., pengumuman lulus ujian masuk institut tersebut dijadwalkan setelah masa registrasi universitas yang di kota gudeg. Olan kebingungan… Kalo gak daftar, takut ternyata gak lulus di institut teknologi. Mau daftar takut uang Rp.13 juta-an melayang, karena kalo membatalkan uang registrasi tidak bisa ditarik kembali.

Keluarga mendorong Olan untuk melakukan registrasi di universitas di kota gudeg karena dia kan belum tentu lulus di institut teknologi di kota kembang. Ternyata Olan juga lulus di institut teknologi impiannya itu… Dan untuk registrasi di institut tersebut Olan dikenai biaya hampir Rp.40 juta. Nahhhh Olan benar2 kebingungan deeh… Dia gak mau kehilangan uang Rp.13 juta-an. TIGA BELAS JUTA RUPIAH… lebih kurang sama dengan gaji setahun Pegawai Negeri Sipil Golongan III/a. Tapi Olan juga gak mau meninggalkan kesempatan untuk kuliah di institut impiannya…

Mama Olan mendorong anaknya mengejar impian dan tidak usah memikirkan uang Rp.13 juta-an yang akan hilang lenyap tak berbekas… Karena pilihannya kali ini akan menentukan masa depannya, kebahagiannya… Olan akhirnya memilih untuk mengejar mimpinya kuliah di institut teknologi di kota kembang. Namun itu pun ternyata gak mudah buat dia… Selama beberapa minggu Olan mengalami diare tanpa sebab yang jelas… Setelah konsultasi ke dokter, ternyata itu dipicu oleh rasa tertekan karena menghabiskan uang lebih dari Rp.60 juta-an (uang registrasi 2 universitas, uang SPP dll dll) untuk memulai kuliah… Setelah Mama-nya menjelaskan bahwa semua dana yang keluar telah dipersiapkan melalui asuransi pendidikannya… Barulah Olan merasa tenang, merasa tidak terlalu membebani orangtua.

Bagaimana pun Olan termasuk anak yang beruntung… Bagaimana dengan anak2 lain yang berasal dari keluarga dengan level ekonomi pas2an atau bahkan kekurangan…? Bagaimana mereka bisa mengakses pendidikan yang berkualitas yang akhir2 ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi… ? Kok kesannya pendidikan berkualitas hanya tersedia untuk orang2 berkantong tebal..? Bukankah pendidikan merupakan jalan untuk memperbaiki taraf kehidupan? Bagaimana mereka bisa memperbaiki taraf kehidupannya kalau akses mereka terhadap pendidikan yang berkualitas sangat terbatas…

Tati jadi ingat masa2 kuliah di Bogor… Masa2 yang sangat menyenangkan karena hidup dalam keberagaman… Saat itu mahasiswa baru tingkat persiapan dibagi dalam sepuluh kelompok. Di setiap kelompok, mahasiswa dgn nomor induk terkecil berasal dari DI Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam), sedangkan mahasiswa dgn nomor induk terbesar berasal dari Indonesia Bagian Timur atau anak2 lulusan sekolah Indonesia di luar negeri. Jadi setiap kelompok merupakan cerminan Indonesia yang Bhinneka Tungal Ika. Dan mahasiswanya benar2 heterogen.. Ada mahasiswa yang berasal dari desa, ada yang berasal dari metropolitan, bahkan ada yang besar dan tumbuh di luar negeri. Ada yang anak petani, anak pegawai sampai dengan anak menteri bahkan anak presiden. Bahkan ada mahasiswa yang untuk bayar kuliah perlu keringanan dengan membawa surat keterangan tidak mampu…

Tapi gak masalah tuh…, kampus bisa menerima siapa aja tanpa melihat status ekonomi keluarga dan asalnya. Saat itu kami benar2 merasakan keberagaman di Kampus IPB, Kampus Rakyat.. Keberagaman yang memperkaya cara pandang tentang orang lain, keberagaman yang memperkaya wawasan kita..

Masih adakah keberagaman itu di kampus2 di negeri ini…? Masih ada kah keberagaman saat kampus dijalankan nyaris sebagai sebuah bisnis..? Masihkah pendidikan bisa menjadi sebuah cara untuk memperbaiki tingkat kehidupan di negeri yang kita cintai ini…?

Btw Tati sempat kaget lho waktu ujian Matematika Dasar I. Kaget karena petugas pengawas ujian yang mengulurkan kertas absen ke Tati adalah Mamik Suharto, yang waktu itu masih mahasiswa Jurusan Statistika. Bayangin, pengawas ujian anda adalah putri presiden yang selama ini wajahnya hanya anda lihat di media massa atau di buku2. Tati rasa kejadian seperti ini hanya terjadi di lingkungan kampus yang menghargai keberagaman, keheterogenan… Kalo enggak, mana mungkin kita2 yang berasal dari daerah dengan latar belakang keluarga biasa2 aja bisa ujian diawasi putri presiden Indonesia, yang zaman itu begitu diangungkan..?

3 thoughts on “Keberagaman di Kampus..

  1. Iya.. kondisi yang menyedihkan..

    Bila biaya pendidikan mahal, sehingga menyebabkan sebagian besar generasi muda kita memilih jalan pintas untuk kaya dan terkenal melalui pangung2 “idol”, lalu meninggalkan dunia pendidikan untuk mencari materi di jalan yang lebih cepat. Beberapa tahun yang akan datang kita gak akan punya penerus dari beribu2 nama intelektual yang pernah hadir di negeri ini.. Seperti Soekarno, Hatta, Hamangkubuwono, Adam Malik, Agus Salim, Kartini, Emil Salim, Ali Sadikin, Andi Hakim Nasoetion, Karlina Leksono dan nama2 besar lain yang gak bisa disebut satu persatu..

    Bila tidak ada lagi kaum intelektual yang menjadi penerus, akan kemana negeri kita..? Apa bisa generasi muda yang menghabiskan masa mudanya di pangung2 hiburan dan lokasi syuting suatu saat nanti mengelola negeri yang katanya surga di khatulistiwa..? Apa bisa kita mengelola secara berkelanjutan negeri yang luar biasa ini tanpa pengetahuan teknis? Apakah kita tidak akan kembali terjajah dengan cara yang lebih modern dan canggih…? Entah lah…

    Semoga Indonesia Emas 2020 yang dicanangkan bapak Ary Ginanjar bisa terwujud…

  2. Itulah Kak, pendidikan itu barang mewah, temen2 aku di kantor pontang panting kerja cari duit yang dikejer itu nabung buat pendidikan anak2nya….dengan harga pendidikan yang selangit ini kebayang ga sih mau jadi apa generasi bangsa ini, makanya mereka mending milih jadi idol ini dan itu, kontes ini dan itu, yang cepet ngasilin duit, tenar, ga perlu lama2 sekolah, gak keluar duit mahal pula…..salah siapa…..tanya kenapa…..

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s