Stormy Water…

Beberapa waktu yang lalu saat Tati mengurus izin pindah kerja, Tati ditanya atasan di kantor lama, mengapa Tati ingin pindah? Saat itu Tati beberapa kali bilang kalau Tati ingin mencari tantangan baru, ingin mencoba masuk ke sungai yang lebih besar dari pada sungai yang selama 11 tahun lebih Tati layari..

Sebenarnya keinginan untuk pindah disebabkan berbagai hal yang terakumulasi…. :

Mulai dari rasa jenuh karena berada di posisi yang sama selama 6 tahun, sementara tugas pokok dan fungsi dari jabatan itu lebih banyak tidak bisa kita laksanakan karena adanya kebijakan “pemerataan kegiatan” yang telah bertahun-tahun. Jadi meski punya jabatan, kita lebih berfungsi sebagai tukang sapu, menyapu berbagai kerjaan yang datang atas perintah atasan. Lebih banyak pekerjaan datang di luar tugas pokok dan fungsi kita. Lebih banyak pekerjaan yang sifatnya penyelesaian sesaat… We were the planner but we worked almost without a plan…

Sempat merasa exhausted karena merasa tereksploitasi, sementara kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri, melalui kursus2 atau pelatihan2, nyaris ditutup, karena kata boss, Tati gak boleh pergi, gak ada orang yang kerja di kantor . Lha emangnya pegawai lain yang seabrek2 itu pada kemana dan ngapain, pak…? Hehehe… Si boss ternyata bisa hyperbole mode on juga. Jadi teman2…, supaya bisa pergi-pergi jangan mau jadi orang yang kerja di kantor, ya… Hehehe… Sementara seperti teman2 tahu, Tati kan Tukang Jalan.., jadi yaa tersiksa lah ya kalo dikurung… Hehehe..

Lalu, adanya tuduhan kalo Tati mendirect proses pengadaan sebuah kegiatan di satker yang Tati urus penganggarannya. Padahal.. enggak sama sekali… Memang kegiatan itu bermula dari Tati.. Laporan Pendidikan yang Tati buat setelah mengikuti suatu kursus direkomendasi atasan buat dijadikan kegiatan di tahun berikutnya. Karena menurut Tati kerjaan itu lebih baik dilaksanakan oleh instansi teknis, kegiatan tersebut diletakkan di instansi teknis. Tati hanya memberikan bahan yang Tati peroleh kepada seorang junior yang bertugas di intansi teknis tersebut, tidak lebih. Dan karena memang si junior itu orangnya pintar dan punya latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya, jadi gak ada masalah. Dia bisa membantu merencanakan kegiatan itu secara teknis. Dalam pelaksanaannya, si junior itu menjadi anggota panitia pengadaan, sementara Tati rnggak terlibat sama sekali. Eh ujug2 Tati mendapat telpon ajaib yang menuduh Tati mengendalikan pekerjaan. Secara yang telpon ajaib tersebut dari seseorang yang penting, Tati rasanya mendingan pergi aja…. Sementara si junior harus mengalami penderitaan yang panjang akibat pekerjaan tersebut.. Karena dia dianggap sebagai pelaksana pengendalian pekerjaan tersebut.. Tati sungguh menyesal telah membuat si junior itu terlibat dalam urusan yang satu ini.. Padahal tidak ada niat lain selain melakukan yang terbaik bagi kota tempat Tati tinggal, tempat Tati mengabdi…

Terakhir Tati ditanya oleh seseorang yang penting, tentang apa yang telah Tati lakukan, karena orang yang bertanya tersebut mendengar kalo Tati sudah bersikap tidak loyal.. Yang nanya itu heran, karena sejauh yang dia tahu Tati tuh cuma kerja dan kerja… Gak berurusan dengan hal-hal donkel mendongkel orang… Yang Tati herankan, kok bisa ada tuduhan seperti itu.. Tidak kah mereka lihat apa yang sudah Tati upayakan selama berada di lingkungan itu.. Tidak kah semua itu bisa menjadi referensi untuk menilai…?

Kondisi-kondisi ini yang membulatkan tekad Tati untuk mencari dunia baru… Dengan harapan akan ada warna lain dalam kehidupan Tati…, warna-warna yang lebih cerah..

Naah sekarang setelah beberapa bulan di dunia baru, Tati akhirnya bisa merasakan kalo sungai yang kali ini Tati arungi memang lebih besar dari sungai yang dulu…, arusnya jauh lebih besar bahkan cenderung berbadai.. A stormy water….!!!

Tapi secara pribadi Tati merasa nyaman tidak ada rasa sesal…, karena setelah beberapa bulan di situ Tati merasa orang di dunia baru cukup menghargai diri Tati sebagai suatu pribadi. Tati mulai punya teman2 baru meski gak akrab2 banget…

Yang repot itu justru kondisi kerjanya… Ada senior yang sulit dihubungi…, mesti dikejar-kejar baru bisa ketemu… Ada senior dan teman-teman yang berani jalan tanpa perduli dengan aturan yang seharusnya jadi rambu-rambu dalam melangkah… Ada pihak luar yang mencoba mengintervensi pekerjaan, tanpa mencoba melihat kapasitas mereka untuk melakukan pekerjaan tersebut… Itu yang bikin repot.. bikin pusing…

Tapi kayaknya itulah tantangan dalam pekerjaan kali ini.. Mana ada siyy jalan hidup yang mulus-mulus aja. Bukan kah kesulitan berjalan seiring dengan kemudahan? Tati hanya berharap Tati bisa menjalani dengan baik, dengan niat yang baik yaitu ibadah… Tati berdoa semoga pihak-pihak yang aneh-aneh, diberi hati yang terang dan pikiran yang jernih, sehingga bisa meilihat dengan perspektif yang lebih baik…

Pics diambil dari sini….

 

3 thoughts on “Stormy Water…

  1. makanya…jangan jadi pegawai negeri…hahaha…
    udaaah..lu kan ada S2 …coba aja ngelamar jadi dosen……kalopun lu ga ada kerjaan di luar..tapi ilmu lu tetap kepake…

  2. Living the comnfort zone memang perlu totalitas mental yang tinggi….bisa jadi lebih nyaman tau sebaliknya…..tapi orang2 sukses adalah orang yang berani mengambil tantangan ini….

    Good luck! I am sure u’re one of them who can reach it, Kak!

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s