Cerita Lama di Suatu Masa…

Tadi malam seorang teman di lingkungan kerja yang lama tapi di lain unit kerja nelpon.  Kebetulan teman Tati ini adik kelas saat di SD dan SMP.  Ceritanya dia minta masukan tentang langkah2 yang akan dia lakukan untuk pengembangan karirnya….  Karena setahun terakhir, setelah menyelesaikan pendidikan untuk strata 2, beliau di tempatkan di birokrasi.  Sebelum sekolah, beliau menjadi kepala unit pelayanan kesehatan masyrakat di tingkat kecamatan.  Hmmm.. pekerjaan yang menurut Tati luar biasa pahalanya…

confused-womanTeman Tati ini merasa tidak diberi kesempatan untuk berkiprah lebih banyak.   Selama setahun terakhir dia diberi tanggung jawab untuk berbagai hal, tapi pada saat pengusulan nama calon pemegang jabatan esselon IV/a nama dia tidak tercantum, bahkan untuk posisi yang selama ini pekerjaannya dia lakukan.  Dalam kondisi seperti ini, seorang kenalannya menyarankan dia untuk masuk ke sebuah organisasi kemasyarakatan perempuan yang dibina dan dibiayai kegiatan-kegiatannya  oleh pemerintah.  Organisasi ini biasanya dikelola oleh ibu-ibu yang suaminya merupakan pejabat di wilayahnya.  Berkiprah di organisasi ini membuat kita terkoneksi dengan lingkaran inti sekaligus terlihat kiprahnya..  Sehingga membuat kita lebih punya kesempatan untuk mendapat promosi, katanya…..

Naaahhhh… si teman ingin mendapat masukan dari Tati, karena dia dengar dari orang-orang kalo I was involved in it, I was in there…

Hmmmmm….. Gimana yaaa….?  Ini benar-benar cerita lama di suatu masa….

Tati beberapa tahun yang lalu dilibatkan di organisasi tersebut, tapi sungguh Tati gak niat sama sekali, bahkan cenderung terpaksa…  Ceritanya istri atasan Tati saat itu menelpon Tati.   Istri atasan itu bilang, dia ditelpon oleh istri pimpinan yang lebih tinggi, beliau meminta Tati menjadi salah seorang dari 4 sekretaris di organisasi kemasyarakatan yang beliau pimpin.  waktu Tati bilang supaya jangan dilibatkan di situ, karena pekerjaan yang diserahkan ke Tati di kantor sudah cukup banyak, Tati takut nanti gak bisa memuaskan hati semua pihak.  Tapi saat itu istri atasan Tati bilang agar Tati jangan menolak karena nanti posisi dia yang terpojok..  Aihhhhh repotnya dunia yang diikat oleh struktur yang kaku…

Setelah dijadikan salah seorang sekertaris, penelpon Tati jadi bertambah..  Jadi makin krang kring krang krong..   Kalo biasanya telpon berasal dari atasan di kantor, rekan2 kerja, keluarga, teman2, sekarang nambah… ya dari teman2 di organisasi tersebut, dari sekretariat dan juga pimpinan organisasi..  Kadang rasanya pengen ninggalin HP di rumah, sehingga gak mesti nerima telpon2 yang kerap membuat bingung, mana yang harus didahulukan.  Karena atasan di kantor kalo ngasi perintah harus dikerjakan SEKARANG, sementara pimpinan organisasi juga maunya HARUS SEKARANG. Mereka gak kenal kalimat, “Boleh gak saya mengerjakan yang itu dulu..?”  Sering kali Tati harus bergerak dari kantor ke sekretariat organisasi atau sebaliknya dengan terburu-buru karena panggilan yang harus dipenuhi SEKARANG… Belum lagi kalo terjebak dikemacetan lalu lintas, lalu telpon berdering2 dengan pertanyaan, “Dimana kamu? Kok lama amat siyy?” Huahahahaha…..  Mau nangis jejeritan rasanya…  !!!

Sebenarnya apa siyy tugas yang diberikan kepada Tati di organisasi tersebut…?  Tati ditugaskan untuk membuat bahan-bahan presentasi pimpinan organisasi, secara beliau memang senang sekali menjadi pembicara di berbagai kesempatan dan membawakan tentang berbagai topik.  Mulai dari peranan wanita sampai masalah home decorating…!!!  Membuat bahan presentasi sebenarnya gak terlalu sulit asal kita diberi bahan2, serta waktu yang memadai untuk mempelajari bahan2 tersebut, atau kita dibantu oleh tenaga yang ahli di bidang yang akan dibicarakan sebagai narasumber.  Tapi seringkali, kita ditugaskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, di bidang yang bukan bidang ilmu atau pekerjaan kita, tanpa diberi bahan atau tenaga ahli pula…  Lengkaplah penderitaan…!!!  Padahal resikonya, kalo bahan yang dibuat gak sempurna atau salah…  Kita yang membuat bahan persentasi lah yang akan kena duluan…  Yang repotnya lagi, pimpinan organisasi, maunya kita membuat bahan-bahan itu di sekretariat, jangan di tempat lain..  Padahal, kalo Tati siyy maunya : kasi tau apa yang diinginkan, serahin bahan dan peralatan, lalu kasi tau tenggat waktu.  Soal kerja dimana dan kapan, jangan dipersoalkan, sehingga Tati bisa ngatur waktu dan tempat untuk penyelesaian pekerjaan..

Itu baru berurusan dengan pimpinan organisasi…  Belum dengan sesama teman di organisasi…  Ada banyak teman yang kalo di depan ibu pimpinan “heboh banget memberikan sumbang saran” tetapi begitu ibu pimpinan berlalu, mereka ngomongnya “Sondha, bikin lah ya seperti apa yang sudah saya bilang tadi.  Saya mau pulang…!!!”.  Buseeeetttt banget gak siyyy…? Yang kayak gini terakhir terjadi saat Tati disuruh datang ke sekretariat tanpa diberitahu untuk apa.  Ternyata Tati diminta bikin bahan persentasi ibu pimpinan yang akan menjadi pembicara keesokan harinya di suatu seminar bertema poligami.  Saat itu di Indonesia sedang heboh2nya isu poligami akibat pernikahan kedua seorang ustad kondang.

Saat Tati sampai di sekretariat, di situ sudah duduk ibu pimpinan dan seorang ibu pengurus organisasi yang bekerja di lingkungan pemberdayaan masyarakat.  Mereka membicarakan tentang materi yang akan disampaikan si ibu pimpinan di seminar esok hari.  Si ibu yang dari lingkungan pemberdayaan masyarakat memberikan banyak masukan dengan berapi-api.  Tati silence abis, karena emang gak punya wawasan di bidang ini.  Belum diperoleh ketetapan tentang materi, ibu pimpinan meninggalkan ruang sekretariat karena suaminya kembali dari kantor.  Begitu ibu pimpinan pergi, si ibu yang tadinya bicara dengan semangat langsung berkemas juga.  Beliau bilang beliau mau pulang, dan dia juga bilang supaya Tati membuat bahan presentasi si ibu berdasarkan apa yang sudah dibicarakan tadi.  Ketika Tati tanya jam berapa dia akan kembali supaya bisa memfinalisasi materi, dia bilang dia tidak akan datang lagi.  Tati lalu bilang, kalo pembicaraan itu belum final, belum menghasilkan sesuatu yang matang.  Si ibu bilang, ya pandai2lah Tati menyelesaikannya.  Whhhhhhaaaaaaattttt……?  Pandai-pandai….?

Tati lalu bilang, “Ibu, ini topiknya tentang poligami, artinya tentang perkawinan.  Saya gak ngerti sama sekali, karena bukan bidang ilmu saya, bukan bidang pekerjaan saya dan gak punya pengalaman.”

Ketika si ibu masih ngotot untuk lepas tangan, Tati akhirnya terpaksa mengatakan dengan lebih tegas, “Ibu, saya bukan seorang psikolog yang mengerti psikologi keluarga, saya bukan orang hukum yang mengerti undang-undang perkawinan, saya bukan orang dengan ilmu agama yang mengerti aturan agama tentang perkawinan, daaaaaannnnn…. SAYA JUGA BELUM BERKELUARGA SEHINGGA SAYA BELUM MENGERTI BAGAIMANA RASANYA BERUMAHTANGGA DAN MENGHADAPI SEGALA PEROBLEMNYA….!!!!

Si ibu lalu terdiam, namun tidak menyurutkan langkahnya untuk pergi.  Nyebelin gak siyyy….?  Hehehehe… Saat itu rasanya siyy nyebelin, tapi kalo sekarang siyy Tati bisa ketawa2..  Karena sebenarnya percuma Tati ngotor kayak apa, teteup aja si ibu itu gak akan menyurutkan langkah, karena emang dia gak mau dan enggak perduli..  jadi Tatinya aja yang kayak orang tolol mabok sendiri….  Hehehe..

Lalu ada lagi teman yang seneng banget mengambil dari tangan kita berkas pekerjaan yang sudah selesai kita kerjakan berhari-hari dan akan kira serahkan ke ibu pimpinan, lalu dia yang menyerahkannya…  Hihihihi…  Kalo sama orang yang begini siyy, Tati cuma senyam senyum ajahh…  Karena sebenarnya ibu pimpinan tau kok siapa yang mengerjakan, soalnya ordernya langsung ke Tati by phone.

Naahhhh, ada lagi teman2 yang suka mencatut nama ibu pimpinan untuk menyuruh Tati melakukan pekerjaan2 yang sebenarnya diserahkab ke dia… Sebel…  Mau di-iya-in kok kayaknya “gue dikerjain ya..”, mau di-enggak-in ntar jangan2 beneran si ibu yang nyuruh… Halaaahhh…  Belum lagi persaingan diantara anggota organisasi dalam rangka mendapatkan hati si ibu, daaannnn tentu saja peluang promosi dari suaminya si ibu, seringkali membuat anggota organisasi mendiskreditkan teman-teman yang tidak mereka sukai.

Buat Tati yang biasa apa adanya, seenaknya (dalam artian gimana enak dan nyaman-nya Tati dalam melakukan segala sesuatu tanpa merugikan orang lain), lingkungan seperti ini gak nyaman.  Bikin Tati merasa “Cappeeeeekkkkk deeehhhh….!!”.  Tati gak bisa 24 jam kali 365 hari jadi orang yang sempurna, memenuhi kehendak semua orang…   I’m not kind of that person..  Tati gak bisa main sandiwara…  Apalagi menjilat….  (kata teman Tati yang nelpon tadi malam, kita dulu di sekolah kan gak ada mata pelajaran MENJILAT,  jadi ya kita gak tau bagaimana cara melakukannya… Hehehehe…).

Tati lalu mengambil langkah mundur perlahan2..  Gak pamit terang-terangan.. Karena kata “BERTERUS TERANG” DAN “SPORTIF” kayaknya belum masuk dalam kosa kata di lingkungan itu..  Tati hanya meminimalisir kontak.  Kalo dipanggil buat ngerjain sesuatu, Tati datang, kerjakan secepat mungkin, lalu pergi.  Kalo ada undangan seremonial, Tati tidak hadir lagi….  Kayaknya sikap Tati terbaca oleh ibu pimpinan, dan pada saat penyusunan pengurus baru, nama Tati tidak lagi tercantum.  Alhamdulillah.  Tapi ya harus berlapang dada menerima konsekuensinya, dianggap sebagai orang yang tidak loyal mungkin ya..  Yang penting hati dan pikiran tenang…

Semua itu Tati sampaikan kepada teman Tati yang juga adik kelas zaman sekolah.  Tati persilahkan dia mengambil keputusan, apa mau tetap memilih jalur yang sangat berat tapi sekaligus sangat rapuh itu untuk mendapatkan promosi.  Kalo menurut Tati siyy, lebih bagus dia ambil jalur di luar sistem, menunjukkan eksistensi yang outstanding di masyarakat…  Itu akan lebih baik…  Kalo kita udah punya track record yang luar biasa, kayaknya atasan dehh yang akan minta kita membantu pekerjaan beliau.  ya gak siyyy…?

Note :  Pics diambil dari sini….

One thought on “Cerita Lama di Suatu Masa…

  1. Memang kerja dalam situasi yg pernah kak shonda alami itu ga enak banged. Aku jg dulu pernah spt itu, bos main suruh-suruh aja, padahal bukan kerjaan kita tp tetep maksa. Udah gitu nanti yg dapat pujian orang lain, males banged kan…
    Sayang sekali situasi ini selalu ada di tempat kerja manapun, ganti orang ganti karakter. Gitu2 aja trs.

    —————
    Sondha : Kalo soal disuruh2, ya itu resiko dalam dunia kerja. Buat aku sebenarnya itu gak terlalu masalah. Tapi kan atasan itu seharusnya punya empati terhadap staff apalagi kalo staffnya di-hire oleh lebih dari satu atasan. Dalam artian ada yang namanya batasan jam kerja, trus staff kan juga batas kemampuan baik dari kemampuan untuk berpikir, waktu maupun tenaga. Jadi atasan mesti mikir juga kalo menuntut dari staff-nya itu…

    Naahh, yang berat ini kalo atasan gak punya empati terhadap staff, lalu tidak punya konsep yang jelas dalam menilai staff.. Hancur laahhhh sudah. Kasian staff yang dipaksa bekerja dalam koridor yang tak jelas batasannya.. Staff akan merasa dieksploitasi..

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s