Posted in Tukang Jalan

Walking Around di Negeri Orang…

Ini cerita tentang Perjalananku saat menyempatkan diri berjalan kaki di negeri orang..  Sendiri….

Enggak takut…? Alhamdulillah enggak… Jalan sendiri membuat diri lebih bisa memutuskan berapa lama kita mau berjalan, dimana kita mau berhenti untuk mengamati sekeliling dengan lebih intens.., atau mau motret…  Juga kapan kita mau berbalik arah..  Memang harus extra hati-hati..  Jangan terlihat mencolok, terutama dengan pakaian dan bawaan…  Aku biasanya kalau jalan hanya bawa sling bag yang kecil, buat bawa dompet dengan isi sedikit uang, ID Card plus kartu untuk urusan bayar membayar, untuk berjaga-jaga.  Juga bawa handphone (ini wajib lah yaa…) dan kamera..  Bila kita tidak bisa berbahasa negeri itu.., sebaiknya kita tidak pergi terlalu jauh dari hotel tempat kita menginap..  Dan ingat lah tanda-tanda dari apa yang kita lalui, agar tidak getting lost, alias nyasar..  Dan jangan lupa, ingat juga baik-baik nama hotel tempat kita menginap.. Kalau bisa sebelum jalan, minta kartu nama hotel sama petugas reception, simpan di tas atau dompet.. Untuk situasi emergency…

Berlin 1a

Jalan kaki yang pertama aku lakukan di sore hari menjelang senja di sebuah  kota yang pernah dibelah dua oleh kekuasaan sekutu dan komunis…  Di kota ini bangunan baru dan bangunan lama, berdampingan, tanpa membuat yang satu terlihat lebih hebat..

Sebenarnya saat itu tubuh sudah sangat lelah, karena pengaruh jet-lag dan sudah melakukan berbagai kegiatan sejak pagi…  Tapi karena mata tak mau dipejam..  Pikiran juga terus melayang pada alm Mama, yang saat itu sedang koma…  Tak tahan bediam diri, aku lalu memutuskan untuk keluar dari hotel tempat menginap… Kemana?  Menyusuri Landsberger Allee...

Landsberger Allee  adalah sebuah jalan yang berada di daerah yang agak berbukit.   Itu jalan yang besar… Di tengah-tengahnya terdapat jalur trem..  Bagian yang menurun mengarah ke pusat kota, sudah ku lalui saat naik bus menuju dan keluar dari hotel.. Jadi aku memutuskan untuk bergerak ke  arah  sebaliknya..

Di kota ini banyak sekali orang bersepeda… Hampir di seluruh ruas jalan di kota ini ada jalur khusus untuk bersepeda.., demikian juga di  Landsberger Allee..  Bahkan di hotel tempat ku menginap juga tersedia sepeda yang bisa disewa…  Tapi karena sedang berada di tempat asing, tak mau mencari masalah yang tak perlu, belum lagi baju yang kupakai gamis, aku memilih untuk walk on foot..  Lagi pula aku memang senang berjalan kaki…, sama seperti aku menyukai bersepeda…

Berlin 3a

Apa yang aku lihat, aku rasakan saat berjalan kaki di sini….?  Udara di sini begitu bersih…, begitu nyaman…  Langit begitu biru…  Aku belum pernah melihat warna langit sebiru itu di negeri kita.. Mungkin karena udaranya bersih, jauh dari pencemaran..  Juga karena di sini posisinya sub tropis dan sedang summer… Matahari yang mulai redup, lampu-lampu mulai menyala, juga trem yang mundar mandir… , memberi pesona tersendiri…     Pemandangan yang  cantik…

Jalan kaki yang kedua kulakukan di Paris….  Di pagi hari sebelum keberangkatan pulang…

Kondisi alm Mama yang saat itu sedang koma, membuat aku selama di sana bangun jam 3 pagi…, untuk menelpon adik-adikku melalui Line.. Karena jam 3 pagi di Eropa, sekitar jam 10 di Indonesia.. Setelah menelpon, biasanya aku sudah tidak bisa tidur lagi.. Meski hanya baru tidur sekitar 4 atau 5 jam…

Paris1a

Pagi itu aku memutuskan untuk berjalan kaki,  lagi-lagi sendiri…    Aku  berjalan  dalam keremangan pagi Kota Paris…  Di sela-sela bangunan-bangunan tua yang catik dan…….., hampir mirip….  😀  Kota masih sepi…  Udara sejuk… Hembusan angin kadang membuat tubuh menggigigil kedinginan..  Tak nampak sisa kemeriahan Paris di malam hari…  Hanya ada satu dua orang melakukan jogging…  Sesekali aku bertemu dengan petugas kebersihan… Ada juga pegawai caffee yang sedang melakukan persiapan untuk memulai usaha di pagi hari…  Aku berjalan ke arah Arc de Triomph…   Rasanya sudah tahu arahnya dari hotel… 😀

Setelah berjalan hampir 20 menit…, akhirnya gerbang besar yang dibangun Napoleon itu nampak hadir di ruang pandang ku… Di sela-sela bangunan cantik dan pepohonan…  Saat mendekat , ke open space di pinggir Champ Elysee, tempat terdekat untuk memandang Arc de Triomph, aku menghitung, dan berusaha mengingat bahwa aku 2 kali menyeberangi jalan…  Kenapa…? Karena Arc de Triomph adalah center dari tata ruang yang radial, membuat gedung-gedung di sisi kanannya berbentuk segi tiga…, meruncing di depan Arch de Triomph…

Paris3 a

Di  taman-taman di sekitar Arc de Triomph banyak sekali merpati di pagi hari… Aku tak melihat mereka saat ke sana sehari sebelumnya di siang hari..  Aku lalu  duduk-duduk di kursi yang ada di taman tersebut..   Menikmati pagi, udara segar, dan pemandangan tinggalan seorang Napoleon Bonaparte..   Traffic yang masih sepi.., juga pengunjung (hanya ada 1 orang turis Korea yang juga duduk-duduk di taman yang sama), membuat aku leluasa menikmati  suasana, dan memotret…  Sempat berdiri berlama-lama di tepi taman, di ujung Champ Elysee… Membayangkan betapa visionernya seorang Napoleon…

Puas duduk-duduk, mengamati dan memotre…, aku memutuskan untuk segera kembali ke hotel..  Karena takut terlambat buat sarapan dan membuat teman-teman lain menanti-nanti..  Aku kembali ke arah diri ku datang… Dua kali menyebrang jalan, lalu berberbelok ke arah aku datang… Tapi kok rasanya jalannya beda yaa…   Lebih kecil…, dan ada outlet Mc D.. Itu gak ada di jalan saat aku pergi…  Hiksss….    Aku lalu mengintip melalui lorong-lorong di sela-sela bangunan.. Mencari tanda-tanda di jalan sebelah… Akhirnya ketemu… 😀  tapi, karena tata ruangnya berbentuk radial dengan Arc de Triomph sebagi pusatnya…, jarak yang harus ku tempuh agar bisa sampai ke jalan ku semula jadi lebih jauh…  😀

Alhamdulillah bisa sampai di hotel kembali tepat waktu… Bahkan sampai di tempat sarapan lebih pagi dari teman-teman lain.. Bisa lebih dulu melihat-lihat croisant mana yang mau disantap…. :D***

Posted in Tukang Jalan

Trocadero

Teman-teman pasti tahu Tour d’ Eiffel  alias Menara Eiffel…  Iya, semua makhluk romantis di muka bumi ini, apa lagi perempuan, pasti ingin ke Paris dan memandang Tour d’ Eiffel dengan orang tercinta..   haallllaaahhhhh…. Tapi klo Trocadero, pernah dengar atau baca…?

Aku tahu kata Trocadero itu pertama kali sekitar 18 tahun yang lalu dari judul lagunya Potret, yang ini..

Jadi dari lagu itu aku tahu Trocadero itu sebuah tempat di Paris.. Tapi kagag tahu di sebelah mana..  Selama ini gak pernah cari tahu… 😀  Apa lagi tempat itu gak pernah disebut dalam buku Da Vinci Code yang setting-nya Paris banget… 😀

Jadi saat Perjalananku ke Paris beberapa bulan yang lalu, saat tour guide, perempuan Perancis yang fasih berbahasa Indonesia bilang, “Di sebelah kanan kita adalah Jardins du Trocadéro”, aku mikir…, yang mana yaa…  Saat itu aku ngeliat gedung, dengan sayap kembar dan sebuah caroussel di depan salah satu sayapnya..

Palais de Chaillot a

Belakangan aku mencoba mencari tahu, apa itu Trocadero, dan menemukan informasi ini

Jadi gedung besar dengan sayap kembar itu adalah Palais de Chaillot..  Dulunya di tempat itu ada yang namanya Trocadéro Palace yang dihancurkan dan kemudian dibangun menjadi Palais de Chaillot,..  Tapi taman air mancur di depan Palais de Chaillot, tetap bernama Jardins du Trocadéro, alias taman Trocadero…

Trocadero a
Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot dilihat dari Tour d’ Eiffel
Saat bus memutar ke jalan di  bagian belakang gedung, si tour guide bilang, “silahkan turun kita akan ke Palais de Chaillot, anda bisa melihat salah satu pemandangan tercantik..”
Trocadero 1a

 

Dari tempat bus di parkir aku berjalan menuju sebuah plaza yang besar…  tak ada anak tangga yang berarti dari jalan.. Sehingga aku tak sadar, tak terpikir kalo aku saat  itu bukan sedang berada di atas permukaan tanah yang disemen..,  tapi aku berada di atas bangunan besar… di atas Palais de Chaillot.. Sayap sebelah kanan, yang berupa gedung tinggi besar adalah Musée de l’Homme

Apa siyy pemandangan cantik dari bagian atas Palais de Chaillot….???
Pemandangan menara Eiffel tanpa ada halangan apa pun…  Cantik banget…..

Eiffel a

Posisi menara Eiffel dengan  Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot yang secara simetris berhadap-hadapan, plus dibatasi sungai Seine, membuat Eiffel terlihat utuh dari Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot..  Sebaliknya Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot juga terlihat utuh dari Tour d’ Eiffel….  Saat aku ke sana siang hari, mungkin kalau ke situ malam, cantiknya lain lagi…  Cantik cahaya lampu…, the city of light….***

Posted in My Family, Tukang Jalan

Simarjarunjung dan Tanah Karo Trip

Apa itu Simarjarunjung….?  Apa itu Tanah Karo..?

Simarjarunjung itu nama sebuah daerah di tepi Danau Toba, yang termasuk Kabupaten Simalungun.. Kata Papa, daerah Saribu Dolok, alias seribu bukit.. Sekitar 123 km dari Medan, ibu Kota Provinsi Sumatera Utara….   Daerah ini merupakan destinasi pariwisata yang tidak seramai Parapat..   Lebih sepi… Tak ada hotel-hotel, seperti yang berserakan di Parapat dan sekitarnya…  Jalur ini terkoneksi dengan Tanah Karo, di daerah Tiga Panah…

Tanjung Unta 1a
@ Tanjung Unta

Menyusuri jalur ini sebenarnya sudah lama aku idam-idamkan…  Sejak tahun 1993-an….  Saat aku bersama Papa, alm Mama dan adik ku Noy jalan-jalan ke Parapat, dan di perjalanan Papa bercerita tentang jalur tersebut…  Tapi karena kesibukan, kami tak sempat-sempat melakukannya..

Pardede Cottage a
@ Pardede Int’l Cottage – Parapat

Aku akhirnya menyusuri jalur ini pada bulan September 2014.. Dalam perjalanan kembali ke Medan setelah mengantarkan alm Mama ke tempat peristirahatannya di kampung kami, Sibadoar – Sipirok.  Kami sengaja pulang sambil berjalan-jalan untuk meringankan hati Papa, dan juga hati kami yang kehilangan alm Mama..,   Kami berangkat dari Sipirok hari Sabtu 20 September 2014 setelah magrib.. Kami sampai hari Minggu, 21 September 2014 jam 02 pagi di Parapat, dan menginap di Pardede International Cottage, yang berada di tepi Danau Toba.. Pagi hari, setelah sarapan, dan santai-santai sejenak..  Aku, Papa, David, Uli,  Ivo plus supir meneruskan perjalanan menuju Simarjarunjung

Tanjung Unta a
@ Tanjung Unta

Jalur ini memang memanjakan mata… Sepanjang mata memandang, warna yang dominan hijau dedaunan, birunya langit dan air Danau Toba.. Cantik… Kita juga bisa melihat apa yang Papa bilang Tanjung Unta..,  perbukitan yang menjorok ke Danau Toba dengan bentuk seperti punggung binatang unta..  Tak banyak pemukiman yang kami temui… Jadi jangan berharap ada tempat bisa duduk-duduk, sekedar untuk minum teh atau kopi…

ikan mas a
Ikan mas raksasa.. 😀

Dalam perjalanan kami melihat ada sebuah bangunan yang unik, berada di tengah-tengah kebun kopi.. Bentuknya seperti ikan mas.. Besar… Aku dan adikku Ivo, sengaja turun dan menghampiri tempat itu.. Tapi tak ada apa-apa.. Hanya bangunan yang tak terurus…, belum selesai pula… Enggak tau niatnya mau dijadiin apa..Sayang yaa..

Simarjarunjung a
@ Simarjarunjung – Saribu Dolok

Setelah berjalan sekitar 1 jam 30 menit, kami akhirnya sampai di daerah Simarjarunjung, udaranya sejuk… Pemandangan danau Toba yang hampir ditutupi kabut begitu cantik…  Beda memang dengan pemandangan dari Parapat… Di daerah Simarjarunjung ada tempat yang namanya Bukit Simarjarunjung.. Tempat kita bisa melihat the best view..

Simarjarunjung2a
@ Bukit Simarjarunjung

Di sini juga ada sebuah restaurant, yang diresmikan oleh alm Raja Inal Siregar, saat beliau masih menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara..  Restaurant yang sepertinya direncanakan menjadi resto international ini punya pemandangan yang indah dari jendela-jendelanya..  Tapi mungkin karena omzet yang tak terlalu besar, karena tak banyak pengunjung, penataannya ya so so..  Penataan ala tahun 1980-an…  Padahal makanan yang dihidangkan rasanya lumayan.. Apa lagi saat lapar dan udara dingin… 😀

Setelah perut kenyang…, mata pun puas memandang…, kami melanjutkan perjalanan…, menuju Tanah Karo, ke daerah di sekitar Kota Brastagi, melalui  daerah Tiga Panah.. Gak tau apa artinya.. Yang jelas di Tanah karo ini ada beberapa daerah yang juga bernama Tiga.., antara lain Tija Jumpa, Tiga Binanga.  Tiga Binanga itu sebuah kota kecil di lintasan Medan – Aceh Tenggara.  Alm Ibu dan keluarganya sempat tinggal di situ saat orang tuanya bertugas menjadi guru di sana..

Kebun strawberry a
@ Kebun strawberry, Tongkoh, Brastagi

Di Tanah Karo ini kami ke daerah yang bernama Tongkoh…   Menurut Ivo, adik ku yang salah satu usahanya adalah pupuk organik, Tongkoh ini merupakan daerah pertanian.., dan di sana juga ada kebun strawberry.. Jadi gak cuma ada di Lembang – Bandung dan di Bedugul – Bali…  Kebun strawberry yang kami datangi bernama Rini Colia..  Saat kami sampai di sana, hari hujan… Mulai dari gerimis sampai hujan lebat… Udara semakin segar dan dingin… Tapi ya itu…, jadi gak bisa metik sendiri..  Bisanya beli hasil panen yang sudah ada di pondok pemilik kebun…  Kalau gak harga strawberry dengan ukuran besar, IDR 100 K per kilogram..

Peternakan Gundaling a
@ Peternakan Sapi Perah Gundaling, Brastagi

Dari Tongkoh kemana lagi…? Ke peternakan sapi perah Gundaling… Sayangnya saat kami sampai di sana sudah terlalu sore, jadi produk olahan susu berupa yoghurt dalam ukuran kecil yang untuk sekali minum sold out…  Karena aku, David dan Ivo lagi gak pengen minum susu sapi segar, jadi hanya Uli dan Papa yang minum… Kami menonton saja… 😀  Peternakan ini sebenarnya sudah bersiap untuk jadi tempat wisata.. Ada tempat pengunjung duduk-duduk menikmati produk olahan.., juga ada fasilitas toilet yang bagus.. Hanya tidak cukup terjaga kebersihannya..

Dari peternakan sapi perah Gundaling kami sempat singgah di permandian Lau Si Debuk-debuk… Tapi hanya Papa yang mencoba menikmati.. Anak-anaknya gak ada yang mau ikutan, karena ramai banget..  jadi tak lama di sana, kami pun segera pulang ke Medan, dan singgah makan malam di Green Hill Sibolangit…

Senangnya bisa berjalan bersama Papa.. Sayang bang Rio gak ikut.. Si bungsu Nora dan Ananda sengaja pulang dengan kendaraan terpisah, karena Ananda ingin main dulu di Parapat.  Semoga ada kesempatan berikutnya untuk jalan-jalan bersama keluarga… Ke desa Tongging di Tanah Karo, kayaknya asyik tuuhhh… ****

Some of pictures have captured by  my sissy, Uli Siregar.  Tq dear..