Posted in Tukang Jalan

Rom Bor Sang

Apa itu Rom Bor Sang...?

Rom bor sang a1

Rom itu bahasa Thailand untuk payung..  Sedangkan Bor Sang adalah nama sebuah daerah di Chiang Mai..Jadi Rom Bor Sang artinya, daerah pengrajin payung, Bor Sang.  Daerah ini memang terkenal sebagai daerah pengrajin payung.. Bukan sembarang patung, tentunya.. Tapi payung-payung yang cantik.., berwarna warni.., berhias lukisan…

Jadi ceritanya pada pada tanggal 19 Juni 2013, setelah berkeliling Wat Phra That Hariphunchai, di Lamphun pagi hari…, saya dan kak Vivi dibawa oleh Worolak dan keluarganya ke Kampung Bor Sang, yang berada di wilayah Chiang Mai..

Di sana kami dibawa ke salah satu sentra pengrajin, yang sekaligus menjadi toko besar yang menjual hasil kerajinan payung.  Tapi buat memenuhi kebutuhan turis, toko itu juga menjual beberapa produk oleh-oleh khas Chiang Mai..

Rom bor sang 2a

Payung-payung cantik yang diproduksi dan dijual di sini, mengingatkan diriku akan payung hias yang diproduksi daerah sentra-sentra kerajinan di Indonesia, seperti Tasikmalaya,  juga Bali..  Ngeliat payung-payung cantik itu, diriku ngiler…, pengen bawa pulang…  Tapi klo mau dimasuk koper, gak muat..   Mau ditenteng…..? Come on….  😀

Terus apa yang bisa jadi kenang-kenangan dari Bor Sang..?

Saat melihat ke tempat produksi yang bisa dikunjungi para turis, aku melihat bagaimana para pekerja, yang sesungguhnya adalah artist seni rupa, menambahkan goresan-goresan mereka di sisi atas payung.  Mereka membuat lukisan tanpa pola..  Benar-benar dengan sense of art yang luar biasa kreatif..

Ransel 1
Lihat serah jarum jam.. Mulai dari kiri bawah…

Aku bertanya pada salah seorang pelukis payung, apakah mereka membuat lukisan di media yang berbeda dengan payung.  Si pelukis lalu berdiri, menunjukkan bahagian depan celananya yang model 7/8.. Di situ terdapat lukisan  yang cantik..  Aku lalu berpikir, kenapa tidak ranselku saja yang dilukis…?  😀

Aku lalu menyerahkan ranselku yang hejo dan masih kinclong kepada salah satu  pelukis yang ada di situ..,. untuk dilukis..  Si pelukis, dengan santun bertanya, gambar apa yang aku inginkan dia lukis di ranselku, apa warnanya…?  Aku minta dilukiskan seekor gajah dan anaknya..  Si induk berwarna ungu, si anak berwarna pink ala bona gajah kecil berbelalai panjang…  😀  Hasilnya….?  Silahkan dilihat…

Oh ya…, berapa upah melukis dua ekor gajah tersebut…?  Klo gak salah murah banget.., sekitar BTH 30, klo gak salah…  Ada teman-teman yang mau barang-barangnya dilukis juga…? Silahkan datang ke Bor Sang.. 😀  Atau…., mungkin ini bisa jadi ide bagi daerah2 kerajinan di Indonesia***

Posted in Tukang Jalan

Berkunjung ke Lamphun

Tulisan kali ini merupakan catatan PERJALANANKU hari kedua di Chiang Mai.., lanjutan tulisan yang ini

Setelah sehari sebelumnya kami berjalan-jalan sampai malam hari ke Chiang Mai Safari Garden, dan pulang ke rumah Worolak dan keluarga di Lamphun, yang berjarak sekitar 25 km atau 3/4 jam dari Chiang Mai,  pagi hari kedua dimulai dengan santai di rumah Worolak yang sejuk, dengan halaman yang luas dan dipenuhi berbagai tanaman…

Lamphun a1

Setelah selesai mandi dan duduk-duduk sejenak, kami memulai hari kedua dengan menyusuri Kota Lamphun,  yang merupakan ibu kota dari provinsi yang bernama sama..  Menurut wikipedia, Kota Lamphun didirikan pada abad ke 9 oleh Ratu Chama Tevi, sebagai ibukota Kerajaan Haripunchai, Kerajaan yang terakhir jatuh ke tangan Thailand, dan merupakan bagian paling utara dari kerajaan yang diperintah oleh  Dinasti Mon.

Pada akhir abad ke-13 Lamphun diserang oleh Khmer, dan akhirnya ditaklukan oleh King Mengrai dari Kerajaan Lanna, dan menjadi bahagian dari Kerajaan Lanna sampai ekspansi Burma yang dilakukan pada abad ke-16.  Setelah itu, selama 2 abad Lamphun berada dalam kekuasaan Burma, sampai kebangkitan Thornburi dan Bangkok mengalahkan Burma pada abad ke-18.  Sejak itu Lamphun menjadi bahagian Kerajaan Thailand, dan kemudian menjadi salah satu provinsi di bagian utara Thailand.

Di Kota Lamphun  ini terdapat kuil terpenting di Thailand bagian  utara, Wat Phra That Hariphunchai. Ke tempat itu lah kami dibawa di pagi hari kedua di Chiang Mai…

Wat Phra That Hariphunchai terletak di pusat Kota Lamphun.. Pusat kota, atau bahagian kota lama Lamphun ini dikelilingi oleh parit besar dan  tembok tinggi ..  Dan untuk masuk ke pusat kota kita melalui gerbang.  Wat Phra That Hariphunchai ini berdampingan dengan sekolah biksu, yang terbesar di Thailand Utara.

Watt Haripunchai 5a

Wat Phra That Hariphunchai juga dikelilingi 2 lapis tembok putih dengan tinggi sekitar 2 meter.  Di halaman luar kuil selain terdapat bangunan tempat sembayang, juga ada beberapa toko-toko kecil yang menjual manisan mangga, minuman khas Lamphun, dan perlengakapan ibadah.  Kami diajak ayah Thumb menikmati minuman khas Lamphun, sejenis cincau, yang rasanya uenak..  😀  Aku juga sempat membeli dan mencicipi manisan mangga.  Sayang manisan yang fresh itu tidak bisa bertahan lama, hanya beberapa hari., jadi aku tidak bisa membawa pulang.

Reclining Budha 1

Setelah jajan di halaman depan kuil, kami lalu memulai kunjungan di kuil Wat Phra That Hariphunchai, dengan  masuk ke bangunan yang ada di halaman luar kuil.  Ternyata itu ruang tempat sembahyang yang  di dalamnya terdapat Reclining Budha, atau Budha dalam posisi baring menyamping, tapi ukurannya lebih kecil dari yang terdapat di Watt Pho di Bangkok.

Di tempat itu, para penziarah bisa melakukan pembacaan nasibnya dengan menggunakan bilah-bilah kayu..  Thumb melakukannya, aku duduk menyaksikan… 😀  Setelah mencari tahu tentang kemungkinan masa depannya, peziarah  menyalakan hio yang tersedia di situ, lalu membungkukan badan, tanda hormat kepada Budha.

Watt Haripunchai 2a

Setelah keluar dari ruangan tempat sembahyang itu, kami melanjutkan perjalanan ke halaman dalam kuil… Untuk masuk ke halaman dalam, ada 3 pintu.. Pintu utama terdapat di antara 2 patung makhluk yang bentuknya tubuhnya seperti singa, tapi wajahnya kombinasi kuda bermahkota, sedangkan 2 pintu lainnya mengapit pintu utama..

Apa yang kita temukan setelah melewati pintu?

Dari depan pintu kita menemukan sebuah bangunan besar dengan ornamen atap khas arsitektur Thailand.  Di sisi kiri ada semacam replika bangunan besar yang ada di hadapan kita, yang diletakkan di atas dudukan berwarna merah.  Di sisi kanan, terdapat sebuah bangunan berwarna merah 2 lantai, dengan empat tiang tanpa dinding. Di dalamnya digantung sebuah gong besar. Gong ini akan dipukul untuk mengingatkan waktu atau jadwal aktivitas kepada para bhiksu dan murid-murid sekolah bhiksu yang beraktivitas di kuil.

Di balik tembok pagar, baik di sisi kiri maupun kanan pintu masuk, terdapat deretan patung dewa (?) dalam posisi duduk.. Aku lupa menghitung ada berapa banyak.. 😀  Kayaknya perlu balik lagi niyy buat menghitung.. 😀

Apa yang ada di dalam bangunan besar yang kita temui begitu kita melalui pintu gerbang…?

Watt Haripunchai 3a

Di dinding atas di teras bangunan kita bisa melihat mural yang cantik..  Begitu melewati pintu masuk kita akan menemui  karpet merah terhampar di ruangan yang besar seperti hall.  Di langit-langit juga warna merah mendominasi diselingi warna emas…  Di ujung ruangan terdapat patung Budha berwarna emas dengan posisi duduk, berukuran sangat besar.. Di salah satu pojok di sisi kaki kiri sang Budha, ada patung seorang biksu yang persis seperti sosok manusia hidup..  Dengar-dengar siyy itu patung salah satu pemuka biksu yang sudah tiada..  Jangan tanya sama diriku siapa beliau, yaa..  Gak ingat.., karena saat disebut namanya, aku aja bingung, pabalieut soalnya… 😀  Di dinding kiri kanan bagian atas ruang tersebut terdapat banyak sekali mural yang menggambarkan kisah-kisah yang biasa kita kenal berasal dari India..  Seperti yang aku potret, sepertinya itu menggambarkan salah satu bagian dari kisah Ramayana.

Puas melihat-melihat, dan sempat bertanya-tanya apakah yang bhiksu yang duduk itu manusia beneran atau patung (hehehe), kami pun keluar dari bangunan tersebut..  Kami lalu berjalan ke bagian belakang bangunan besar tadi..  ternyata tepat di belakangnya terdapat chedi (bangunan seperti pagoda, tapi tidak bisa dimasuki)  besar berwarna emas, yang di pojoknya luarnya terdapat payung cantik juga berwarna emas.. Bangunan chedi dengan tinggi 46 meter ini, di bagian bawah bentuk persegi, sedangkan  di bagian atas berbentuk seperti susunan lingkaran.  Ada banyak orang yang bersembahyang di situ, dengan didahului  membakar hio..

Golden Chedi 1

Di samping kiri chedi besar berwarna emas terdapat bangunan yang juga berarsitektur khas Thailand.  Di bagian belakang bangunan tersebut ada bangunan terbuka.. Ada apa di sana…? Menurut kepercayaan umat Budha, itu adalah batu bekas telapak kaki Sang Budha…  Ukurannya besar… sekian puluh kali besar telapak kaki ku.  Mungkin manusia di zaman itu besar-besar yaa..

Watt Haripunchai 9a

Setelah bangunan tempat telapak kaki Sang Budha itu, masih ada bangunan lagi di belakangnya, sebelum berakhir dengan tembok yang membatasi halaman kuil dengan sekolah bhiksu.  Sejajar dengan bangunan paling belakang itu, terdapat dua bangunan lagi yang juga tertutup, dan sebuah chedi dari batuan vulkan, seperti candi-candi di Pulau Jawa.  Katanya siyy itu  chedi gaya Dvaravati..

Saat kami ke sana cukup banyak pengunjung..   Sebagian besar adalah etnis China yang datang untuk bersembahyang.  Hanya ada beberapa orang tourist non Asia..  Mungkin karena Chiang Mai lebih populer dalam promosi pariwisata Thailand.

Menurut diriku…, bila teman-teman ingin berkunjung ke sana, sebaiknya teman-teman mencari literatur dulu tentang Lamphun dan sejarahnya.., agar lebih bisa memaknai apa yang dilihat.. Memang di negeri kita tak banyak literatur yang bisa kita peroleh tentang sejarah Thailand, terutama Thailand Utara.  Apa lagi huruf mereka yang ajaib seperti huruf Palawa, membuat kita semakin sulit untuk mengerti.. Gimana mau ngerti, bacanya aja kagag bisa, yaa…?*  Padahal sebagai negara serumpun, kita punya kedekatan budaya dengan mereka.  Pada tulisan2 berikutnya, saya akan bercerita tentang kunjungan ke situs-situs warisan budaya Thailand, yang bisa membuat kita melihat adanya kedekatan budaya.. Tunggu ya, teman-teman… ***