Rom Bor Sang

Apa itu Rom Bor Sang...?

Rom bor sang a1

Rom itu bahasa Thailand untuk payung..  Sedangkan Bor Sang adalah nama sebuah daerah di Chiang Mai..Jadi Rom Bor Sang artinya, daerah pengrajin payung, Bor Sang.  Daerah ini memang terkenal sebagai daerah pengrajin payung.. Bukan sembarang patung, tentunya.. Tapi payung-payung yang cantik.., berwarna warni.., berhias lukisan…

Jadi ceritanya pada pada tanggal 19 Juni 2013, setelah berkeliling Wat Phra That Hariphunchai, di Lamphun pagi hari…, saya dan kak Vivi dibawa oleh Worolak dan keluarganya ke Kampung Bor Sang, yang berada di wilayah Chiang Mai..

Di sana kami dibawa ke salah satu sentra pengrajin, yang sekaligus menjadi toko besar yang menjual hasil kerajinan payung.  Tapi buat memenuhi kebutuhan turis, toko itu juga menjual beberapa produk oleh-oleh khas Chiang Mai..

Rom bor sang 2a

Payung-payung cantik yang diproduksi dan dijual di sini, mengingatkan diriku akan payung hias yang diproduksi daerah sentra-sentra kerajinan di Indonesia, seperti Tasikmalaya,  juga Bali..  Ngeliat payung-payung cantik itu, diriku ngiler…, pengen bawa pulang…  Tapi klo mau dimasuk koper, gak muat..   Mau ditenteng…..? Come on….  😀

Terus apa yang bisa jadi kenang-kenangan dari Bor Sang..?

Saat melihat ke tempat produksi yang bisa dikunjungi para turis, aku melihat bagaimana para pekerja, yang sesungguhnya adalah artist seni rupa, menambahkan goresan-goresan mereka di sisi atas payung.  Mereka membuat lukisan tanpa pola..  Benar-benar dengan sense of art yang luar biasa kreatif..

Ransel 1

Lihat serah jarum jam.. Mulai dari kiri bawah…

Aku bertanya pada salah seorang pelukis payung, apakah mereka membuat lukisan di media yang berbeda dengan payung.  Si pelukis lalu berdiri, menunjukkan bahagian depan celananya yang model 7/8.. Di situ terdapat lukisan  yang cantik..  Aku lalu berpikir, kenapa tidak ranselku saja yang dilukis…?  😀

Aku lalu menyerahkan ranselku yang hejo dan masih kinclong kepada salah satu  pelukis yang ada di situ..,. untuk dilukis..  Si pelukis, dengan santun bertanya, gambar apa yang aku inginkan dia lukis di ranselku, apa warnanya…?  Aku minta dilukiskan seekor gajah dan anaknya..  Si induk berwarna ungu, si anak berwarna pink ala bona gajah kecil berbelalai panjang…  😀  Hasilnya….?  Silahkan dilihat…

Oh ya…, berapa upah melukis dua ekor gajah tersebut…?  Klo gak salah murah banget.., sekitar BTH 30, klo gak salah…  Ada teman-teman yang mau barang-barangnya dilukis juga…? Silahkan datang ke Bor Sang.. 😀  Atau…., mungkin ini bisa jadi ide bagi daerah2 kerajinan di Indonesia***

Berkunjung ke Lamphun

Tulisan kali ini merupakan catatan PERJALANANKU hari kedua di Chiang Mai.., lanjutan tulisan yang ini

Setelah sehari sebelumnya kami berjalan-jalan sampai malam hari ke Chiang Mai Safari Garden, dan pulang ke rumah Worolak dan keluarga di Lamphun, yang berjarak sekitar 25 km atau 3/4 jam dari Chiang Mai,  pagi hari kedua dimulai dengan santai di rumah Worolak yang sejuk, dengan halaman yang luas dan dipenuhi berbagai tanaman…

Lamphun a1

Setelah selesai mandi dan duduk-duduk sejenak, kami memulai hari kedua dengan menyusuri Kota Lamphun,  yang merupakan ibu kota dari provinsi yang bernama sama..  Menurut wikipedia, Kota Lamphun didirikan pada abad ke 9 oleh Ratu Chama Tevi, sebagai ibukota Kerajaan Haripunchai, Kerajaan yang terakhir jatuh ke tangan Thailand, dan merupakan bagian paling utara dari kerajaan yang diperintah oleh  Dinasti Mon.

Pada akhir abad ke-13 Lamphun diserang oleh Khmer, dan akhirnya ditaklukan oleh King Mengrai dari Kerajaan Lanna, dan menjadi bahagian dari Kerajaan Lanna sampai ekspansi Burma yang dilakukan pada abad ke-16.  Setelah itu, selama 2 abad Lamphun berada dalam kekuasaan Burma, sampai kebangkitan Thornburi dan Bangkok mengalahkan Burma pada abad ke-18.  Sejak itu Lamphun menjadi bahagian Kerajaan Thailand, dan kemudian menjadi salah satu provinsi di bagian utara Thailand.

Di Kota Lamphun  ini terdapat kuil terpenting di Thailand bagian  utara, Wat Phra That Hariphunchai. Ke tempat itu lah kami dibawa di pagi hari kedua di Chiang Mai…

Wat Phra That Hariphunchai terletak di pusat Kota Lamphun.. Pusat kota, atau bahagian kota lama Lamphun ini dikelilingi oleh parit besar dan  tembok tinggi ..  Dan untuk masuk ke pusat kota kita melalui gerbang.  Wat Phra That Hariphunchai ini berdampingan dengan sekolah biksu, yang terbesar di Thailand Utara.

Watt Haripunchai 5a

Wat Phra That Hariphunchai juga dikelilingi 2 lapis tembok putih dengan tinggi sekitar 2 meter.  Di halaman luar kuil selain terdapat bangunan tempat sembayang, juga ada beberapa toko-toko kecil yang menjual manisan mangga, minuman khas Lamphun, dan perlengakapan ibadah.  Kami diajak ayah Thumb menikmati minuman khas Lamphun, sejenis cincau, yang rasanya uenak..  😀  Aku juga sempat membeli dan mencicipi manisan mangga.  Sayang manisan yang fresh itu tidak bisa bertahan lama, hanya beberapa hari., jadi aku tidak bisa membawa pulang.

Reclining Budha 1

Setelah jajan di halaman depan kuil, kami lalu memulai kunjungan di kuil Wat Phra That Hariphunchai, dengan  masuk ke bangunan yang ada di halaman luar kuil.  Ternyata itu ruang tempat sembahyang yang  di dalamnya terdapat Reclining Budha, atau Budha dalam posisi baring menyamping, tapi ukurannya lebih kecil dari yang terdapat di Watt Pho di Bangkok.

Di tempat itu, para penziarah bisa melakukan pembacaan nasibnya dengan menggunakan bilah-bilah kayu..  Thumb melakukannya, aku duduk menyaksikan… 😀  Setelah mencari tahu tentang kemungkinan masa depannya, peziarah  menyalakan hio yang tersedia di situ, lalu membungkukan badan, tanda hormat kepada Budha.

Watt Haripunchai 2a

Setelah keluar dari ruangan tempat sembahyang itu, kami melanjutkan perjalanan ke halaman dalam kuil… Untuk masuk ke halaman dalam, ada 3 pintu.. Pintu utama terdapat di antara 2 patung makhluk yang bentuknya tubuhnya seperti singa, tapi wajahnya kombinasi kuda bermahkota, sedangkan 2 pintu lainnya mengapit pintu utama..

Apa yang kita temukan setelah melewati pintu?

Dari depan pintu kita menemukan sebuah bangunan besar dengan ornamen atap khas arsitektur Thailand.  Di sisi kiri ada semacam replika bangunan besar yang ada di hadapan kita, yang diletakkan di atas dudukan berwarna merah.  Di sisi kanan, terdapat sebuah bangunan berwarna merah 2 lantai, dengan empat tiang tanpa dinding. Di dalamnya digantung sebuah gong besar. Gong ini akan dipukul untuk mengingatkan waktu atau jadwal aktivitas kepada para bhiksu dan murid-murid sekolah bhiksu yang beraktivitas di kuil.

Di balik tembok pagar, baik di sisi kiri maupun kanan pintu masuk, terdapat deretan patung dewa (?) dalam posisi duduk.. Aku lupa menghitung ada berapa banyak.. 😀  Kayaknya perlu balik lagi niyy buat menghitung.. 😀

Apa yang ada di dalam bangunan besar yang kita temui begitu kita melalui pintu gerbang…?

Watt Haripunchai 3a

Di dinding atas di teras bangunan kita bisa melihat mural yang cantik..  Begitu melewati pintu masuk kita akan menemui  karpet merah terhampar di ruangan yang besar seperti hall.  Di langit-langit juga warna merah mendominasi diselingi warna emas…  Di ujung ruangan terdapat patung Budha berwarna emas dengan posisi duduk, berukuran sangat besar.. Di salah satu pojok di sisi kaki kiri sang Budha, ada patung seorang biksu yang persis seperti sosok manusia hidup..  Dengar-dengar siyy itu patung salah satu pemuka biksu yang sudah tiada..  Jangan tanya sama diriku siapa beliau, yaa..  Gak ingat.., karena saat disebut namanya, aku aja bingung, pabalieut soalnya… 😀  Di dinding kiri kanan bagian atas ruang tersebut terdapat banyak sekali mural yang menggambarkan kisah-kisah yang biasa kita kenal berasal dari India..  Seperti yang aku potret, sepertinya itu menggambarkan salah satu bagian dari kisah Ramayana.

Puas melihat-melihat, dan sempat bertanya-tanya apakah yang bhiksu yang duduk itu manusia beneran atau patung (hehehe), kami pun keluar dari bangunan tersebut..  Kami lalu berjalan ke bagian belakang bangunan besar tadi..  ternyata tepat di belakangnya terdapat chedi (bangunan seperti pagoda, tapi tidak bisa dimasuki)  besar berwarna emas, yang di pojoknya luarnya terdapat payung cantik juga berwarna emas.. Bangunan chedi dengan tinggi 46 meter ini, di bagian bawah bentuk persegi, sedangkan  di bagian atas berbentuk seperti susunan lingkaran.  Ada banyak orang yang bersembahyang di situ, dengan didahului  membakar hio..

Golden Chedi 1

Di samping kiri chedi besar berwarna emas terdapat bangunan yang juga berarsitektur khas Thailand.  Di bagian belakang bangunan tersebut ada bangunan terbuka.. Ada apa di sana…? Menurut kepercayaan umat Budha, itu adalah batu bekas telapak kaki Sang Budha…  Ukurannya besar… sekian puluh kali besar telapak kaki ku.  Mungkin manusia di zaman itu besar-besar yaa..

Watt Haripunchai 9a

Setelah bangunan tempat telapak kaki Sang Budha itu, masih ada bangunan lagi di belakangnya, sebelum berakhir dengan tembok yang membatasi halaman kuil dengan sekolah bhiksu.  Sejajar dengan bangunan paling belakang itu, terdapat dua bangunan lagi yang juga tertutup, dan sebuah chedi dari batuan vulkan, seperti candi-candi di Pulau Jawa.  Katanya siyy itu  chedi gaya Dvaravati..

Saat kami ke sana cukup banyak pengunjung..   Sebagian besar adalah etnis China yang datang untuk bersembahyang.  Hanya ada beberapa orang tourist non Asia..  Mungkin karena Chiang Mai lebih populer dalam promosi pariwisata Thailand.

Menurut diriku…, bila teman-teman ingin berkunjung ke sana, sebaiknya teman-teman mencari literatur dulu tentang Lamphun dan sejarahnya.., agar lebih bisa memaknai apa yang dilihat.. Memang di negeri kita tak banyak literatur yang bisa kita peroleh tentang sejarah Thailand, terutama Thailand Utara.  Apa lagi huruf mereka yang ajaib seperti huruf Palawa, membuat kita semakin sulit untuk mengerti.. Gimana mau ngerti, bacanya aja kagag bisa, yaa…?*  Padahal sebagai negara serumpun, kita punya kedekatan budaya dengan mereka.  Pada tulisan2 berikutnya, saya akan bercerita tentang kunjungan ke situs-situs warisan budaya Thailand, yang bisa membuat kita melihat adanya kedekatan budaya.. Tunggu ya, teman-teman… ***

Berjuang Mewujudkan Mimpi

Mimpi…..

Kata mimpi sebenarnya “sesuatu” buat diriku yang sudah nyaris setengah abad…  Karena di usia yang sudah tidak muda lagi, kesadaran bahwa waktu untuk meraih impian tak sepanjang saat belia..  Impian tak lagi setinggi bintang di langit… Namun tetap ada dan ingin diwujudkan, dengan hasrat yang kuat…

Akhir-akhir ini, keinginan untuk hidup  lebih seimbang menderu deras dalam diriku.. Seimbang antara urusan dunia dan spiritual..  Aku ingin pekerjaan yang bisa lebih memberi rasa damai bagi diriku,  aktivitas yang sesuai dengan passionku..  Dan aku ingin punya waktu yang lebih untuk meningkatkan kehidupan spiritualku..  Bahkan menurut salah seorang sahabat,  seharusnya yang utama dalam  hidup itu adalah membangun spiritual, yang lain adalah pendukung untuk kehidupan spiritual tersebut…

JourneyYa, beberapa tahun terakhir ini, hidup, waktu, pikiran, perasaanku didominasi oleh pekerjaan.. Bahkan dalam satu tahun terakhir, ada kejadian dimana aku seharusnya berani menurunkan prioritas terhadap pekerjaan demi orang terkasih di akhir kehidupannya, tapi tidak aku lakukan, karena aku tak bisa menolak pekerjaan yang diperintahkan untuk aku laksanakan..  Tidak boleh ada sesal, karena sesal tak membawa semua yang sudah lalu, kembali.  Yang harus dilakukan adalah mengambil hikmah, agar tak terulang lagi.

Lalu…, apa impianku saat ini yang terkait dengan pikiranku itu?

Seperti yang pernah aku ceritakan di tulisan yang ini, pada tahun 2007 aku mulai menulis dengan membuat blog.  Dari situ aku menemukan passion untuk menulis.. Aku senang menulis, aku cinta menulis, aku ingin bisa menulis lebih banyak.. Menuangkan pikiran, menuangkan rasa, berbagi pengetahuan dan pengalaman.  Menulis memberikan rasa damai di hatiku…  Aku ingin jadi penulis…

Apa yang ingin ditulis…?

Sebagai manusia yang dinamis, aku bisa berpikir dan merasakan berbagai hal, juga bisa mengalami bermacam hal, yang bisa menjadi sumber inspirasi untuk menjadi tulisan.   Tapi sampai saat ini, salah satu bidang yang menjadi passion diriku adalah pariwisata.

Mengapa pariwisata…?

Setelah bekerja di instansi yang menangani perencanaan pembangunan daerah selama 12 tahun, aku dipindahkan ke instansi yang menangani pembangunan kebudayaan dan pariwisata daerah, masih di posisi mengurus perencanaan.   Aku menyukai pekerjaanku.  Pekerjaan yang mendorong aku untuk selalu berpikir komperhensif, menyeluruh.., tanpa mengabaikan detil.

Di instansi yang menangani pembangunan kebudayaan dan pariwisata ini, aku dengan latar belakang pendidikan bukan di bidang kebudayaan dan pariwisata, belajar nyaris dari nol tentang kebudayaan dan kepariwisataan.  Karena saat kuliah S1 di Sosek IPB, untuk yang terkait dengan ilmu sosial, aku hanya sempat belajar tentang Sosiologi Pedesaan dan Ekologi Manusia ( kalo gak salah ingat).   Ternyata bidang kebudayaan dan pariwisata ini menarik hatiku.   Kok bisa…?  Karena aku  melihat kebudayaan itu menyangkut hidup manusia, sejak lahir sampai meninggal.  Kebudayaan itu menyangkut rasa.. Kebudayaan suatu daerah dan tinggalannya merupakan keindahan, keunikan yang bisa menjadi daya tarik wisata.  Sementara pariwisata, bukan lagi hanya sekedar berlibur ke pantai atau ke gunung, tapi juga bisa menjadi cara untuk melihat, belajar tentang kebudayaan dan sejarah suatu daerah atau negara yang dikunjungi,  yang dapat membuat kita memahami betapa luar biasanya pemilik kebudayaan atau pelaku sejarah tersebut.  Dari pemahaman tersebut  bisa menjadi inspirasi untuk melakukan hal-hal yang lebih baik, dalam kehidupan.

Di sisi lain, bagi pemilik kebudayaan, pariwisata  bisa menjadi cara untuk meningkatkan ekonomi, yaitu dengan menjadikan kebudayaan dan tinggalan budaya yang mereka miliki sebagai daya tarik wisata.  Aku juga ingin bisa berkontribusi, dengan membuat tulisan-tulisan yang bisa menjadi bahagian promosi wisata daerah,

Apa yang telah aku lakukan untuk mewujudkan impianku itu?

Saat ini aku mencoba untuk intens menulis, termasuk menulis tentang perjalanan-perjalanan yang telah aku lakukan dalam beberapa tahun terakhir, namun belum sempat aku jadikan tulisan untuk blogku.  Aku juga mencoba lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman yang juga mencintai aktivitas menulis.  Aku akan berusaha untuk mendapat kesempatan mengisi ruang di salah satu harian yang terbit di kota tempat tinggalku. Aku berharap dengan semakin matangnya tulisan-tulisanku, aku bisa menulis buku, dan mendapat kesempatan untuk  menjadi penulis dalam rangka promosi pariwisata berbagai daerah atau negara.  Semoga…

Postingan ini diikutsertakan dalam #evrinaspGiveaway: Wujudkan Impian Mu”

label-ga1

 

“Teman” Wajib Kala Bepergian

1st-GA-Jalan-Jalan-KeNaiTadi malam, Mechta, teman seangkatan di Kampus Rakyat, dan sesama blogger, mencolekku.  Dia menulis Dua Penghuni Wajib Tasnya, dan menanyakan apa yang “wajib” aku bawa bila bepergian?  Pertanyaan itu adalah pertanyaan Chi, yang mengadakan Give Away dengan Judul  Benda Yang Wajib Dibawa Saat jalan-jalan.

Pertanyaan Mechta sempat membuat aku mengubek-ubek tasku, saat sampai di rumah tadi malam… 😀  Tapi kemudian aku berpikir kalau jawaban atas pertanyaan ini tentu bukan semata isi tas…  Tapi benda-benda apa yang memang selalu bersamaku, menjadi Teman Wajibku saat aku pergi jalan-jalan. Dan jalan-jalan itu definisinya bisa jalan-jalan di sekitar kota atau bepergian jauh…  😀

Bila bepergian keluar kota, selain membawa koper, aku selalu membawa ransel dan sebuah sling bag (tas bertali panjang yang bisa disilangkan di badan).  Ransel berisikan laptop, kamera dan perangkat pendukungnya, termasuk external harddisk, sedangkan sling bag biasanya diisi dengan dompet uang, dompet kartu dan dokumen pribadi, serta beberapa perlengkapan perempuan lainnya.

Kenapa selalu membawa laptop dan kamera? Sebagian besar perjalananku keluar kota terkait dengan pekerjaan, jadi peralatan kerja harus dibawa.  Kalau pun perjalanan itu karena alasan pribadi, laptop tetap dibawa, karena laptop memudahkan diriku berkomunikasi dengan teman-teman satu tim, terutama menyangkut data yang mereka olah dan harus diriku periksa.  Kenapa membawa kamera? Tentu karena senang memotret, dan mengumpulkan bahan buat tulisan.  Bahkan kalau aku ke suatu tempat, dan menemukan deskripsi tentang sebuah obyek yang menarik perhatianku, selain memotret si obyek, aku juga memotret deskripsi tersebut.

Lalu apa perlengkapan perempuan di dalam sling bag itu ?

Barang-barang yang wajib dibawa..  *Ini bukan iklan*

Barang-barang yang wajib dibawa.. *Ini bukan iklan*

1.  Panty liners.. Upppssss….   Ya.. Karena ingin bisa tetap nyaman dan bersih, sehingga tak ragu dengan kebersihan pakaian, meski dalam perjalanan, panty liners menjadi kebutuhan pokok buat diriku.  Wajib ada.  Tidak hanya saat melakukan perjalanan,  setiap hari panty liners ada di dalam tasku.. Ketika menjelang dan selama “tamu” datang, maka panty liners tidak sendiri di dalam tas, ada temannya yang berkuran lebih besar dan tebal, menemani..

2.  Pouch yang berisi peralatan manggung… Hehehehe… Teman-teman yang biasa begaul dengan diriku, mungkin  heran mengetahui keberadaan benda yang satu ini selalu bersamaku. 😀  Meski aku cenderung santai soal penampilan, tapi perlengkapan perempuan, berupa foundation, bedak, lipstick dengan warna natural, pinsil alis dan lip balm, selalu ada di tas. Biasanya benda-benda ini hanya digunakan setelah mandi dan mau keluar rumah, serta touch up setelah sholat, atau saat harus memberi kesan rapi, padahal sudah lecek karena habis wara wiri. 😀

3.  Di dalam pouch peralatan manggung selalu terselip Disposable Paper Toilet Seat Cover.  Benda yang satu ini memang jarang sekali tersedia di toilet umum, yang menyediakan toilet duduk.  Aku kalau bisa memilih, lebih senang menggunakan toilet jongkok di toilet umum, untuk meminimalisir kontak tubuhku dengan fasilitas umum, yang aku tidak tahu siapa yang memakai sebelum diriku dan bagaimana kondisi kesehatannya.

4.  Tissue basah.. Tissue basah selalu aku perlukan untuk membersihkan lensa kacamata, tangan dan kaki bila kotor dan belum ada air yang bisa digunakan untuk membersihkan..  Kalau perjalanan keluar negeri, tissue basah sangat penting, karena tidak banyak toilet di sana yang menyediakan air untuk membilas.

Itulah “teman-teman wajibku kala bepergian…  Apa “teman” wajib teman-teman saat bepergian?

1st GA – Benda yang Wajib Dibawa Saat Jalan-Jalan

Jalan-jalan ke Chiang Mai

Tulisan ini merupakan catatan PERJALANAN KU yang dilakukan sekitar 1,5 tahun yang lalu.. Tepatnya tanggal 18 Juni 2013..  Udah lama yaa…  Out of date atuhhh…  😀  Mudah-mudahan enggak yaa…  Karena siapa tahu bisa jadi info buat teman-teman yang juga akan travelling ke Chiang Mai..  😀

Chiang Mai itu dimana?

Chiang Mai itu nama sebuah kota di bagian utara Thailand..  Kota ini merupakan kota nomor 2 terbesar di Thailand, dan kota terbesar di Thailand Utara..

Mengutip dari Wikipedia

Chiang Mai didirikan oleh Raja Mengrai pada tahun 1296, menggantikan Chiang Rai sebagai ibu kota Kerajaan Lannathai. Chiang Mai sendiri berarti kota baru, Raja Mengrai melengkapi ibu kota baru ini dengan tembok kota serta parit yang berbentuk bujur sangkar mengelilingi kota untuk melindunginya dari serangan luar, terutama Kerajaan Burma.Seiring dengan melemahnya Kerajaan Lannathai, Chiang Mai beberapa waktu berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Kerajaan Burma ataupun Kerajaan Ayutthaya. Pada tahun 1767, perang antara Burma dan Ayutthaya mencapai puncaknya dan mengakibatkan penduduk Chiang Mai mengungsi meninggalkan kota tersebut. Pada kurun tahun 17761791, Chiang Mai ditinggalkan hampir seluruh penduduknya. Lampang menjadi ibu kota sementara dari apa yang menjadi sisa Kerajaan Lannathai masa itu.Chiang Mai secara resmi menjadi bagian dari Siam setelah direbut Raja Taksin dari Siam yang mengusir kekuatan Burma dari kota tersebut. Chiang Mai tumbuh dan berkembang menjadi pusat kebudayaan, ekonomi dan perdagangan serta mendapatkan posisi fungsionalnya sebagai ibu kota tak resmi di utara Thailand dan menjadi kota terpenting di Thailand setelah Bangkok.

Ngapain ke Chiang Mai…?

Ya jalan-jalan lah… 😀 😀 😀 

Jadi, ceritanya aku jalan-jalan ke Bangkok berdua dengan kak Vivi, teman yang ku kenal saat masih bertugas di Pemko Pekanbaru.  Saat merencanakan perjalanan, kak Vivi bilang agar kami tak hanya ke Bangkok, tapi juga ke Chiang Mai, karena di sana ada Worolak, sahabatnya saat ngambil pasca sarjana di New Zeland.

Untuk sampai ke Chiang Mai, kami terbang dengan Air Asia dari Bandara Don Muang selama lebih kurang 2 jam.  Sampai di  Chiang Mai siang hari, alhamdulillah Worolak dan keluarganya sudah menunggu kami…

Kemana aja selama di Chiang Mai… ? Kami pergi ke banyak tempat… Seru banget… Worolak dan keluarga benar-benar mengurus kami… Padahal Worolak dan keluarga tinggal di Kota Lamphun, sekitar 1 jam dari Chiang Mai.  Jadi kami jalan-jalan gak hanya di Chiang Mai, tapi menginap dan jalan-jalan di Lamphun..  Thank you so much Worolak and Family..

Dari bandara, kami dibawa ke suatu bagian Kota Chiang Mai yang merupakan daerah Muslim,  di Charoenprathet Lane 1, masuknya dari Charoenprathet Road yang berada di tepi Sungai Ping, sungai yang membelah kota Chiang Mai..  Gak jauh dari Thapae Road dan Nawarat Bridge.  Di jalan itu ada Masjid Hilal, dan ada beberapa restoran Muslim.

Masjid Hilal berada di lantai 2, lantai satunya berfungsi sebagai aula..  Di dinding panggung aula tersebut dipasang gambar ka’bah.  Masjidnya, alhamdulillah lapang dan bersih.. Juga toilet dan tempat wudhlunya.  Di kompleks masjid tersebut juga terdapat tempat pendidikan agama, seperti madrasah kalau di tempat kita..  Senang sekali rasanya menemukan masjid di negeri dimana muslim adalah minoritas.. Apa lagi sebelumnya beberpa hari di Bangkok, aku tak menemukan masjid..  Sepertinya Islam di sini masuk sebagai perpanjangan dari jalur sutra (Silk Road).

Muslim District a

Siang itu kami makan di resto yang bernama  Moslem Retaurant.  Yang dihidangkan di situ berbagai macam noodles dan menu arabian, seperti nasi briyani..  Aku memilih kwetiaw kuah seafood..  Nikmat banget rasanya.. Karena makan tanpa rasa ragu…

Setelah makan siang di daerah Muslim, kami pulang dulu ke rumah Worolak di Lamphun, karena Thumb, putra satu-satunya Worolak sekolah, dan harus dijemput.. Dan untuk 2 hari berikutnya, agar bisa sama-sama jalan dengan kami, Thumb, diminta izin untuk tidak masuk sekolah… Hehehehe…

Setelah menjemput Thumb dari sekolahnya, kami sore itu kembali ke Chiang Mai…  Ngapain mundar mandir dalam satu hari…? Jadi ceritanya Worolak dan suaminya sudah menyusun ittenarary buat kami selama ke Chiang Mai.. Luar biasa ya, baiknya Worolak dan keluarga.. Kami sore itu kembali ke Chiang Mai untuk melihat Chiang Mai Night Safari

Chiang Mai Night Safari beralamatkan di 33 หมู่ 12 หนองควาย หางดง (hehehehe…, gimana bacanya yaa…?), gak jauh dari Royal Park Ratchaphruek..  Tempat ini merupakan nocturnal zoo  dan nature theme park ketiga di dunia,  dibangun oleh Pemerintah Thailand dalam rangka promosi pariwisata Thailand… Apa maksudnya nocturnal zoo? Nocturnal zoo, artinya kebun binatang yang berisikan makhluk-makhluk dengan aktivitas di malam hari..  Jadi di kebun binatang ini kita bisa melihat aktivitas binatang di malam hari.. Seru yaaaa……

CM Night Safari1 a

Berapa harga tiket masuknya…? Untuk orang dewasa THB 300, untuk anak-anak THB 150.  Klo di kurskan hari ini, dengan kurs  TBH 1 setara dengan IDR 450, harga tiket masuk itu kira-kira IDR 135K untuk orang dewasa dan IDR 67,5K untuk anak-anak.

Saat kami sampai di sana, hari masih sore, menjelang magrib.. Kami bisa melihat-lihat dulu di halaman luar CM Night Safari, di sekitar parkiran.. Ada apa aja? Ada gajah, yang ditempatkan di tanah yang luas, berpagar kawat tinggi..  Juga ada rusa, kelinci dan jerapah.. Oh ya, di dekat parkiran ada serombongan ibu-ibu yang ditugaskan menjual sayur-sayuran untuk diberikan pada kelinci, rusa dan jerapah…

Sebelum masuk ke CM Night Safari, kami dibawa Worolak dan keluarga makan di tempat ini.. Makanan dihidangkan dalam bentuk buffet.  Worolak dengan sabar menjelaskan pada saya, apa bahan makanan yang dihidangkan.. Mana yang bisa yang saya makan, mana yang tidak..  Di restaurant itu juga Worolak mencarikan ruang buat saya agar bisa menjalankan sholat magrib, sekaligus isya.

Gerbang CM Night Safari dihiasi patung gajah putih yang besar, lambang Kerajaan Thailand..  Pintu masuk berada di dalam gedung yang berisikan toko-toko souvenir.  Di sana juga ada orang-orang yang memakai pakaian seperti binatang.. Dan ada juga orang-orang dengan pakaian carnival.. Mereka melakukan tarian semacam tarian selamat datang. Mereka cantik-cantik.. Tapi jangan salah…, they are not women…

Keluar dari gerbang masuk, kami menemukan kolam yang besar.., yang pada waktu-waktu tertentu menampilkan Dancing Fountain.., permainan air diiringi musik serta permainan lampu yang ciamik…

CM Night Safari2 a

Tapi Worolak, mengajak kami segera mengantri mobil yang akan membawa kami bersafari.. Karena biasanya antriannya lumayan..  Acara nonton Dancing Fountain bisa dilakukan usai safari..

Untuk bersafari, kita disediakan mobil terbuka, dengan 3 jalur tempat duduk.. Tiap-tiap mobil terdapat 2 petugas, supir dan guide, yang menjelaskan apa yang dilihat..  Apa memangnya yang dilihat…?

Zoo di CM Night Safari ini memang dibuat seperti alam bebas… Hampir tidak ada lampu… Para peserta safari dilarang memotret menggunakan flash.., karena bisa mengejutkan para binatang, dan memancing perilaku tak wajar dari mereka. Karena aku hanya membawa si Nikon merah (camera pocket), dengan zoom yang terbatas maka tidak ada satu pun foto binatang-binatang buas yang layak ditampilkan di blog ini…  Maaf yaa…

Jalur untuk lalu lintas mobil yang dinaiki pengunjung dengan hewan-hewan yang buas dibatasi dengan kolam yang besar dan pagar kawat rapat dan tinggi, yang dialiri listrik..  Antar zona dibatasi dengan gerbang-gerbang listrik.  Sedangkan hewan-hewan jinak di lepas, sehingga bisa menghampiri mobil yang ditumpangi pengunjung dan diberi makan oleh pengunjung..  Jangan kaget kalau tiba-tiba ada kepala jerapah muncul di samping kita… Hehehhe.. Tapi beneran seru dan deg-degan..  Karena beneran rasanya seperti di alam liar… Gelap, dan mobilnya terbuka, tanpa dinding..  Hanya ada suara jangkrik dan hewan liar…  😀

Selesai berkeliling, mobil dihentikan di tempat yang banyak rusa-rusa jinak..  Menggemaskan…  Puas bermain-main dengan rusa, kami kembali ke pelataran yang ada kolam air mancur besar.. Kami duduk di bangku-bangku yang disediakn di tepi kolam, menikmati Dancing Fountain..  Rasanya santai sekali… Malam, langit cerah, udara bersih segar… Sementara mata dimanjakan dengan permainan air, cahaya yang diiringi musik..  Tak sadar, waktu sudah jam 10 malam waktu Chiang Mai.. Kami harus segera pulang…,, ke Lamphun..  Sekitar 1 jam perjalanan.. ***

Diam…

goKetika kita tak bisa lagi bicara…

Mengatakan apa yang seharusnya kita katakan…

Maka, menepilah…

Menjauh…

Bukan karena rasa benci membelenggu hati…

Bukan pula karena ego tak terpenuhi…

Tapi demi ketenangan hati..

Demi rasa takut akan hari nanti…***

Ke Banda Neira ku akan pergi dengan “Lomba Blog Pegipegi”

Bandra Neira merupakan daerah tujuan wisata yang paling ingin aku kunjungi di negeri tercinta ini.  Bahkan beberapa bulan yang lalu aku sempat membicarakan dengan beberapa sahabat agar kami bisa pergi bersama-sama lagi, seperti yang pernah kami lakukan dan aku tulis di blog ini sekitar 4 tahun yang lalu..   Makanya, BANDA NEIRA lah daerah tujuan wisata yang aku tulis untuk menjawab tantangan Lomba Blog Pegipegi #BukanSekedarTraveling  kali ini…

Mengapa ingin pergi ke Banda Neira?  Itu kan bukan destinasi wisata yang sangat populer di Indonesia..   Dimana letaknya?  Apa istimewanya kota kecil itu…?

Banda Neira itu sebuh kota kecil di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku..  Karena berada di pulau yang sangat kecil, lahan yang tersedia untuk pemukiman terbatas, dari yang aku dengar, lahan di kota ini muahalllll…. 😀

Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/49/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Veilige_ligplaats_voor_schepen_te_Banda_Neira_TMnr_3728-863.jpg

Banda Neira Tempo dulu

Kepulauan Banda merupakan gugusan pulau dengan gunung api, yang berada di Laut Banda, salah satu laut terdalam di dunia.  Kepulauan ini juga berada diantara Paparan Sunda, di sisi barat dan Paparan Sahul, di sisi timur,  sehingga menyebabkan keunikan pada flora dan faunanya.  Letak geografis yang unik ini juga membuat Keplauan Banda mempunyai pemandangan yang indah, sangat indah…

Di sisi lain, Kepulauan Banda sejak berabad lalu merupakan penghasil pala (nutmeg) dan bunga pala (mace) yang luar biasa, baik dari sisi kuantitas mau pun kualitas.  Ini membuat para pedagang rempah dari Eropa berlomba menguasai jalur perdagangannya, bahkan menguasai tanah yang menghasilkannya. Ambisi bangsa-bangsa Eropa  ini  menjadi penyebab Indonesia mengalami penjajahan  Belanda selama 3,5 abad.  Ini lah sebabnya Kepulauan Banda, Banda Neira mendapat tempat istimewa dalam catatan Sejarah Bangsa Indonesia, dan juga catatan Sejarah Perdagangan Rempah Dunia..

Sebelum bangsa Eropa, sebenarnya pedagang rempah dari Timur Tengah sudah lebih dahulu sampai ke Kepulauan Banda.  Kedatangan para pedagang rempah dari Timur Tengah dan Eropa ini mewarnai Kepulauan Banda dengan agama dan budaya mereka.  Agama Islam dan Kristen, serta budaya Timur Tengah dan Eropa, berpadu di wilayah ini..   Tinggalan yang tentu memberi warna unik, dan cantik pada budaya di Kepulauan Banda.

Perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia juga mencatat Banda Neira, seperti juga Ende, dan Bengkulu.  Ya, Banda Neira pernah menjadi tempat pengasingan Founding Father of Indonesia, Bung Hatta.  Sebagaimana Ende dan Bengkulu pernah menjadi tempat pengasingan bagi Bung Karno.  Bahkan Bung Cilik, Sutan Sjahrir yang menjadi Perdana Menteri Pertama Indonesia, juga pernah diasingkan di Banda Neira.

Alam yang indah, budaya yang kaya, menjadi bahagian dalam catatan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, bahkan sejarah perdagangan rempah dunia, menjadi sebab mengapa diriku sangat, sangat ingin pergi ke Banda Neira.

Apa aja yang mau aku lihat, aku lakukan di Banda Neira..?

 sumber : http://www.tripadvisor.com/Attraction_Review-g2444699-d3258075-Reviews-Gunung_Banda_Api-Banda_Neira_Maluku_Islands.html

Gunung Api Banda Neira

Mendaki gunung api…  Dari yang aku baca, butuh waktu 2,5 – 3 jam untuk naik mau pun turun.. Perjalanan yang menurut catatan orang-orang yang sudah pernah ke sana, tidak mudah, karena berjalan di pasir.  Namun menurut mereka itu layak dilakukan, karena pemandangan yang luar biasa dari atas gunung.

Sumber : berbagai web

Sumber : berbagai web

Mengelilingi Pulau Banda dengan berjalan kaki, atau bersepeda… Berusaha menikmati sebanyak mungkin sudut-sudut Kota Banda Neira dan Pulau Banda… Membuat foto-fotonya… Melihat Benda Cagar Budaya yang masih ada, menikmati pertunjukan seni dan budaya, melihat kerajinan dan hasil kreativitas masyarakatnya, berinteraksi dengan masyarakat dan tentu menikmati kuliner khas Banda.  Aku juga ingin menginap di hotel Maulana yang didirikan oleh bapak Des Alwi, salah satu murid yang diajar oleh Bung Hatta saat menetap di Banda Neira, yang kemudian menjadi salah satu diplomat Indonesia.

Sumber : berbagi web

Sumber : berbagai web

Karena aku belum bisa diving, dan hanya bisa berenang gaya batu.. Hehehehe…  Aku tidak berencana untuk melakukan diving di Banda Neira.   Meski dari yang aku baca, dan dengan posisi geografis yang dimilikinya, Kepulauan Banda punya keindahan biota laut yang luar biasa.  Tapi aku ingin berperahu mengelilingi pulau-pulau yang ada di sekitar Banda Neira, dan juga singgah ke pulau-pulau tersebut.  Dan kalau di sana ada glass boat, tentu dengan senang hati aku mau menikmati pemandangan laut dari glass boat tersebut.. Ada gak yaaa….?

Apa yang ingin ku lakukan bagi Banda Neira?

Hmmmm…. Sebagai seorang pegawai pemerintah, waktuku untuk pergi tidak banyak.  Cuti bagi PNS hanya sekitar 12 hari kerja.  Dipotong dengan cuti bersama yang biasanya diberikan saat menjelang dan sesudah lebaran, juga pada harpitnas-harpitnas (hari terjepit nasional) 😀 biasanya cuti yang tersedia tinggal 7 hari kerja.  Jadi aku tak kan bisa berlama-lama di Banda Neira.. Seluruh perjalanan, dengan mengambil cuti, plus ditambah izin untuk tidak masuk kantor, kalau pimpinan berkenan memberikan, paling lama 10 hari.  Yang bisa dilakukan bagi masyarakat Banda Neira dalam waktu yang singkat adalah dengan menunjukkan perilaku yang baik, sesuai ajaran agama yang aku anut, terutama dengan cara berpakaian yang telah aku pilih selama 14.5 tahun terakhir.  Aku juga bisa membawakan  buku-buku,  vcd-vcd tentang Budaya Melayu untuk diletakkan di Pustaka-pustaka sekolah, sebagai upaya mengenalkan budaya yang berbeda.  Hal lain yang bisa aku lakukan adalah membuat tulisan tentang Banda Neira, bukan saja dalam rangka pengenalan dan promosi pariwisata, tapi juga untuk mengingatkan betapa luar biasa peran Kepulauan Banda, Kota Banda Neira dalam perjalanan sejarah bangsa kita, dengan harapan bisa mengetuk pintu hati, terutama orang muda Indonesia, agar lebih peduli, dan semakin cinta dengan Nusantara..

Sebenarnya untuk memenuhi keinginan pergi ke Banda Neira ini, aku sudah mulai mencari info.  Pada akhir tahun 2013,  di salah satu rapat koordinasi yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, aku kembali bertemu dengan kak Ellen, salah seorang teman yang bertugas di Dinas Pariwisata di salah satu kabupaten di Provinsi Maluku.   Aku sempat tanya-tanya ke kak Ellen,  bagaimana cara untuk pergi ke Banda Neira.  Karena sejauh yang aku dengar dan baca,  pesawat ke sana sangat jarang dan ukurannya kecil.

Menurut kak Ellen, untuk sampai ke Banda Neira, aku sebaiknya naik  pesawat ke Ambon, lalu melanjutkan perjalanan dengan naik kapal ke Banda Neira.  Mengingat kapal penumpang dari Ambon ke Banda Neira  yang ukurannya besar hanyalah 2 unit  kapal milik PELNI, dengan jadwal berangkatnya hanya satu  kali seminggu, maka waktu  untuk melakukan perjalanan ke Banda Neira harus direncanakan dengan baik.

Mengingat tugasku di kantor sejauh ini lumayan,  dan jadwal kerjanya cukup padat, serta acap kali harus menghadiri rapat yang mendadak, aku masih belum bisa membeli tiket untuk terbang dari Pekanbaru – Jakarta – Ambon pp.  Padahal kalau bisa beli tiket jauh-jauh hari, kan bisa dapat harga tiket murah.. Apa lagi kalau bayarnya bisa dicicil… Hahahaha…  Semoga keadaan bisa memungkinkan diriku untuk merealisasikan perjalanan ke Banda Neira, ya..***

banner pegi_pegi

Berkunjung Ke Kailasa

Tulisan ini merupakan repost dengan menggabungan dua tulisan yang aku tulis hampir 4 tahun yang lalu… Tulisan yang  ini dan yang  ini…  Semoga penggabungan ini justru memberikan gambaran yang utuh tentang keindahan Kailasa…

Kailasa

Deskripsi Tentang Dieng di Museum Kailasa…

Kailasa ? Dimana itu…? Kok rasanya nama itu gak pernah tercantum di peta.. Di Indonesia atau di negara lain ya…?

Kailasa itu di Indonesia… Beneran Indonesia.. Tepatnya di Dieng Plateu (Dataran Tinggi), di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.. Dieng karena keindahan dan ketentramannya diibaratkan sebagai Kailasa atau Khayangan, negeri para dewa, negeri yang indah di atas awan….

Menurut informasi di Museum di Dieng, yang diberi nama Kailasa, berdasarkan 22 buah prasasti berbahasa Jawa Kuna, Dieng yang berasal dari kata Dhi Hyang (tempat para roh).  Dieng dahulu berfungsi sebagai pusat kegiatan religius, tempat para pendeta sekte Saiwa melakukan praktek asketik, dimana Dieng diibaratkan sebagai Kailasa artinya Kahyangan Siwa yang Suci, Pusat Dunia dan Tempat Para Arwah Bersemayam…

Hari Sabtu, 26 Maret 2011 jam 06.30 pagi aku beserta 2 orang teman yang bernama sama, Ika dan Ika, diantar Mas Joko, si driver yang baik hati, memulai perjalanan dari Yogya ke Dieng..  Kami jalan ke arah Sleman… melalui daerah Kali Putih.., daerah yang mengalami bencana berupa lahar dingin yang membawa material pasir dengan volume yang subhanallah banyaknya.., yang menyebabkan banyak rumah hancur….

Setelah singgah untuk sarapan brongkos di Warung Ijo Bu Padmo di bawah jembatan yang menghubungkan desa Salam dan desa Tempel, kami menuju Wonosobo melalui jalan pintas, melalui desa-desa di perbukitan selama sekitar 2,5 jam.  Udara di Wonosobo sejuk…, dengan pemandangan warna hijau dimana-mana…

Dieng Plateu 1

Dari Wonosobo harus ditempuh 25 km lagi untuk bisa sampai ke Dieng.. Namun ini perjalanan yang menyenangkan…, karena menyusuri bukit-bukit dan pegunungan… Iya, Dieng berada diantara pegunungan karena Dieng diperkirakan dulunya merupakan danau bekas kawah gunung api yang sudah mati..

Mobil lalu diparkir di pelataran, yang di ujungnya terdapat semacam pintu ke arah sebuah taman… Tapi karena hari hujan, kami terpaksa menunda masuk ke taman tersebut dan duduk di warung Pak Saroji…  Warung yang antik…  Kenapa..? Karena penjualnya menghidangkan dagangannya berupa manisan carica, kentang goreng, kripik kentang, kacang, minuman purwaceng tanpa menagih pada pengunjung yang menikmati di tempat.. Yang ditagih hanya yang kita beli untuk dibawa pulang.. What a service…!!!!

Sementara menunggu hujan reda, sambil menikmati makanan dan minuman hangat di Warung pak Saroji, kami juga sempat melakukan sholat di musholla yang berada tepat di belakang warung..  Saat berwudhlu…. Subhanallah….. bbbbrrrrr………………… airnya sejuk banget…… gigi aja bergemeretuk dan ngilu ketika kumur-kumur….  Rasanya malah pengen bergelung dalam mukena.. hehehehe…

Setelah hujan agak reda,  dengan dibekali payung pinjaman dari isteri pak Saroji, kami berjalan menuju taman yang tersembunyi di balik rerimbunan bunga…  Melewati pintu gerbang, kami melihat selapis rerimbunan tanaman lagi di depan.. Sedangkan di sisi kanan terlihat umpak, yaitu tumpukan batu2 candi tersusun rapi…, yang ternyata Rekonstruksi Dharmasala…, tempat istirahat para penziarah dan juga tempat persiapan upacara keagamaan..

Lalu kami meneruskan langkah menuju taman yang ditutupi pagar tanaman… Subhanallah…, di balik tanaman2 tersebut terbentang jejeran 5  buah candi yang indah… Disempurnakan  dengan udara yang sejuk dan kekabutan serta perbukitan hijau  yang menjadi latarnya… Subhanallah…. Sungguh indah… Tak salah bila diungkapkan bagai Negeri Indah di Atas Awan

Candi tersebut oleh masyarakat diberi nama mengikuti tohoh-tokoh pewayangan..  Candi Arjuna, Candi Semar (di depan Arjuna), lalu Candi Sumbadra, Candi Puntadewa dan Candi Srikandi.

Nama-nama candi ini membawa aku pada kenangan masa kecil, ketika almarhumah ibu membelikan aku 4 jilid buku cerita bergambar yang sangat tebal (untuk ukuran anak kelas 4 SD) karya RA. Kosasih yang berjudul Mahabrata, lalu 3 jilid buku Barata Yudha, serta beberapa jilid (aku gak ingat persis lagi) buku yang tak terlalu tebal berjudul Pandawa Seda..  Buku-buku itu membuat aku mengenal tokoh-tokoh wayang beserta karakternya… Buku-buku yang mengajarkan pilihan-pilihan hidup yang bernama kebaikan dan keburukan, serta segala konsekuensinya…

Candi Arjuna 1

Tapi menurut deskripsi yang belakangan aku baca di Museum Kailasa, tidak ada hubungan antara nama dan karakter tokoh wayang-wayang tersebut dengan apa yang diekspresikan pada dinding-dinding candi itu…

Kami lalu menyusuri candi-candi tersebut satu persatu… Mengelus dan merasakan pahatan-pahatannya..  Kalau sudah begini, sedih rasanya tidak punya ilmu arkeologi sehingga tak mampu membaca apa makna yang tersurat dan tersirat pada setiap bahagian candi-candi tersebut…

Ada banyak tanya di dalam hati.. Generasi seperti apa yang mampu menetukan lokasi yang begini indah untuk menjadi tempat melakukan aktivitas asketiknya…? Berapa banyak orang yang terlibat membuat semua ini, berapa lama..? Dari mana mereka datang…? Dari mana mereka mendatangkan bahan-bahannya.. Bagaimana teknologi arsitektur dan pahat batu mereka sehingga mampu menghasilkan karya yang begitu indah…?  Dan satu hal lagi, lokasi ini, diperkirakan dengan teknologi saat ini, berada tepat di tengah Pulau Jawa.. Kok bisa generasi abad keenam dan ketujuh menentukannya..? Rasanya zaman itu pengetahuan pemetaan masih sangat sangat sangat terbatas..  Gak ada GPS atau apalah yang bisa membantu mengukur.. Coincidence….? Rasanya enggak yaa…  Kalau enggak, terus bagaimana…? Pakai teknologi apa…?

Belum puas berkeliling, mengamati dan duduk menikmati suasananya, kami harus bergegas pergi karena hujan mengguyur dengan derasnya… Payung tak mampu melindungi diri dari terpaan air hujan..  Udara jadi terasa semakin dingin menusuk tulang… tapi, candi dan lingkungannya jadi semakin indah dan eksotis…. Membuat semakin enggan meninggalkannya…

Ketika hujan semakin tak bersahabat, kami terpaksa berlari dan berlari untuk kembali ke warung pak Saroji untuk menghangatkan tubuh dengan teh hangat dan kentang goreng serta secangkir purwaceng…

Lama menunggu, hujan ternyata tak kunjung reda di daerah yang dingin ini…. Brrrrrrr…. Dingin  dan semakin dingin… Apalagi sebagian baju agak-agak basah kena tempias hujan saat berlari-lari meninggalkan Kompleks Candi Arjuna.  Setelah menunggu dan menunggu…, dan dengan mempertimbangkan waktu yang tersisa, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.  Meski masih hujan…, dan dengan bekal pinjaman 2 buah payung  dari pak Saroji pemilik warung di kawasan parkiran Kompleks Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan…

Kemana……………?

Ke Kawah Sikidang…

Kawah Sikidang 1

Kawah…? Maksudnya bukaan gunung api yang mengeluarkan gas…? Iya…. Betul sekali…  Tapi kawah yang ini tidak seperti Kawah Bodas di Gunung Tangkuban Perahu yang membutuhkan perjuangan untuk sampai ke lokasi.  Aksesibilitas ke kawah ini begitu mudah…, ada jalan aspal.. hotmix pula… !! So, setelah menyusuri jalan dan sempat melintas di bawah pipa gas yang merupakan jaringan dari PLTG,  kami pun sampai ke area parkir Kawah Sikidang… Area parkir….???  Iya… Kawah Sikidang dilengkapi dengan area parkir plus beberapa fasum yang umumnya ada di obyek-obyek wisata yang dikelola dengan baik..  Selanjutnya dari area parkir,  kami tinggal jalan kaki beberapa puluh meter untuk sampai ke lahan dimana terdapat bukaan-bukaan yang menjadi jalan keluar gas bumi…..

Btw, begitu membuka pintu mobil, selain merasakan udara yang sejuk serta rinai gerimis yang memang selalu ada di daerah ini, kita juga akan mencium bau yang “keren abizzzz”,  hehehehe… Bau yang nyaris seperti bau k****t, yang merupakan bau gas sulfur…  Sebagai catatan, pengunjung tidak boleh terlalu dekat dengan kawah-kawah yang ada.., karena gas Sulfur itu bisa menjadi racun bila terhirup dalam konsentrasi tertentu…  Untuk mengingatkan pengunjung , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara meletakkan tanda peringatan yang dilengkapi dengan gambar tengkorak…

Menurut legenda yang ada di masyarakat Dieng, Kawah Sikidang adalah seorang pangeran yang ditimbun dalam sebuah sumur yang digalinya sendiri atas permintaan seorang putri cantik yang telah dilamarnya.  Karena si pangeran tak cukup tampan di matanya, sang putri berusaha menyingkirkan sang pangeran buruk rupa dengan menguburnya di dalam sumur..  Namun akibat kesaktiannya sang Pangeran mampu tetap meronta-ronta dalam bentuk golakan lahar di kawah Sikidang….

Pasar Sikidang

Setelah melihat cairan yang bergolak di bukaan-bukaan yang ada di tanah tersebut dari balik kekabutan, kami kembali ke parkiran mobil…  Di sekitar parkiran itu tersedia beberapa bangunan yang difungsikan sebagai pasar lengkap dengan toilet yang cukup bersih…  Sebelum pulang kami menghampiri sebuah warung di pojokan pasar tersebut.., warung yang menjual goreng tempe, tahu, pisang serta lengkap dengan minuman berupah teh, kopi dan purwaceng, sejenis minuman khas dieng yang terbuat dari rempah-rempah..  Dalam cuaca yang dingin…, tempe dan tahu goreng yg dicocol sambel kecap rasanya nikmatttttt bangetttzzzzzz……  di pasar ini juga ada jual tanaman gunung yang cantik-cantik.. Menggemaskan…  😀

Merasa enakan setelah menyantap beberapa potong gorengan dan minuman…, kami melanjutkan perjalanan… Kemana lagi….? Ke Telaga Warna…, tapi sebelumnya kami singgah di Candi Bima yang berada di perbukitan di pertigaan jalan ke Kawah Sikidang yang telah kami lewati saat datang…

Candi Bima, seperti tokoh Bima yang bertubuh paling besar di antara anggota Pandawa, merupakan candi terbesar.. Lokasinya juga paling tinggi dibanding lokasi candi sebelumnya…, sehingga untuk mencapainya kita harus melewati  beberapa puluh anak tangga.    Aku amat-amati, bagian belakang candi ini mengarah ke Kawah Sikidang…, sehingga dalam candaanku ke teman-teman satu rombongan, aku bilang kalo “Bau yang keren abiz dari Kawah Sikidang itu adalah bau k****t Bima.. Hahahahaha….

Telaga warna a

Dari Candi Bima kami meneruskan perjalanan ke Telaga Warna..  Setelah membeli karcis di  di loket yang ada di pintu gerbang, kami menyusuri jalan setapak menuju telaga… Daannnn…, subhanallah, telaga itu berwarna hijau pupus, ada juga yang kemerahan di bagian ujung. Warna telaga nampaknya disebabkan oleh lumut yang ada di dasar telaga, yang mungkin disebabkan pengaruh lahan yang vulkanis.  Dikelilingi tetumbuhan, suasana yang sunyi dan rinai hujan, telaga itu tampak indah, juga syahdu…  Ada keheningan yang begitu dalam….

Telaga warna 1 a

Dari Telaga Warna kami kembali ke Yogya…, setelah singgah untuk mengembalikan payung pinjaman ke warung pak Saroji dan juga singgah untuk makan sore di sebuah rumah makan di Wonosobo…

Perjalanan ini begitu indah…, begitu memuaskan mata dan bathin..  Dataran yang tinggi dan selalu berkabut benar-benar bagai Negeri di Atas Awan…

Telaga warna 2 a

Dalam hati aku berharap bisa kembali ke sini untuk waktu yang lebih lama.. Sehingga bisa menginap dan menikmati setiap sisi Dieng….

Di dalam mobil yang menyusuri jalan berliku menuju Yogya, pikiranku yang liar dan terkadang ajaib berkata…, “Seandainya aku mendapatkan pasangan hidup yang orangtuanya menetap di Dieng, tentu aku punya alasan untuk kembali dan kembali berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan ini… Aku akan punya “rumah” di sini….” Hehehehehe….***

1 Banner Jan-Feb 2015 edit

Suatu Pagi di Kampung Bandar

Ini adalah catatan Perjalananku  ke Kampung Bandar…   Kampung Bandar…? Dimana itu…?

Kampung Bandar itu nama sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru..  Sebenarnya daerah ini  udah gak bisa dibilang kampung, karena daerah ini nuansanya sudah kota…  Tapi kata “Kampung” itu sudah melekat dengan kata Bandar, karena dulunya memang daeah itu adalah sebuah kampung… 😀

Apa istimewanya kampung ini sampai  dijadikan topik bahasan di blog ini hari ini…?   Hmmmm, kampung ini sangat istimewa…, karena kampung yang berada di tepi Sungai Siak ini  lah cikal bakal Kota Pekanbaru…

Siak III 1

Dulu sebelum tahun 1977-an, di daerah Kampung Dalam ini lah lokasi jembatan penyebrangan dari Kota Pekanbaru ke Rumbai, yang saat itu merupakan kawasan pertambangan, pengolahan minyak, perkantoran dan juga pemukiman pekerja PT. Caltex.  Saat itu jembatannya jembatan ponton, yang dibuka 2 kali sehari, jam 06 pagi dan sore agar kapal-kapal bisa lewat.  Setelah tahun 1977, jembatan Leighton (diambil dari nama perancangnya) menggantikan posisi jembatan ponton tersebut.  Lalu di lokasi jembatan ponton tersebut pada akhir tahun 2010-an dibangunan Jembatan Siak III.

Jadi ceritanya, kemaren tiba-tiba diriku teringat bahwa sudah lama sekali gak pernah jalan-jalan ngubek-ngubek Kota Pekanbaru.  Berbagai aktivitas beberapa tahun ini membuat dirriku mundar mandir rumah – kantor. Karena ingin menikmati Kota Pekanbaru, aku memutuskan untuk mengisi sabtu pagi ku dengan kembali menyusuri Kampung Dalam yang beberapa tahun lalu pernah aku susuri, plus melihat dari dekat rumah Tuan Qadi, yang dulunya selalu menjadi tempat singgah Sultan Syarif Qassim II,  bila beliau sampai di Pekanbaru, dan bila beliau mau meninggalkan Pekanbaru kembali ke Siak Sri Indrapura, kota dimana berada pusat kerajaan Siak dahulu kala…  Rumah Tuan Qadi ini baru selesai direvitaslisasi..  Jadi sudah cantik kembali..

Jalan-jalan di Sabtu pagi itu dimulai dengan sarapan Bubur Ayam Kings..  Ini merupakan bubur ayam terlezat di Pekanbaru.. Bahkan sampai saat ini ,setelah aku pergi ke beberapa tempat, rasanya Bubur Ayam Kings ini adalah juaranya bubur ayam.., belum ada yang bisa ngalahin kelezatannya..  😀

Rumah Tuan Qadi 1

Selesai sarapan, diriku dan Melly, seorang teman yang kerja sebagai PNS di salah satu Kabupaten di Provinsi Riau, melanjutkan perjalanan ke rumah Rumah Tuan Qadi.. Rumahnya udah rapi…, cantik…  Sayang belum dibuka untuk umum..  Padahal klo dijadikan Museum Pekanbaru Tempo Dulu, pasti keren yaa..

Ada kesamaan rumah Tuan Qadi dengan rumah Lontiok, rumah tradisional di Desa Pulau Belimbing, Kabupaten Kampar yang diriku pernah kunjungi..  Keduanya rumah panggung, karena berada di tepi sungai, dan ada bak di depan rumah…, sarana untuk membersihkan kaki sebelum masuk ke rumah…

Rumah berwarna biru ini sebenarnya sederhana.. Tak banyak ornamen sepert rumah Lontiok..  Ornamen hanya terlihat di pinggir tangga masuk..  Di tiang penyangga atap di sisi selaan tertulis PKB 23:7  Di tiang penyangga bagian utara tertulis 1928.  Apa artinya..? Selesai dibangun pada tanggal 23 Juli 1928?

Karena baru selesai dibangun dan sepertinya belum difungsikan…, tak banyak yang bisa dilihat di Rumah Tuan Qadi ini… Aku lalu melanjutkan perjalan ke Kampung Bandar, setelah sebelumnya sempat duduk-duduk sejenak di taman di bawah Jembatan Siak III, melihat-lihat dari kejauhan kapal yang bersandar..

Aku memarkirkan si sparky di pinggi jalan Perdagangan…  tak mudah untuk parkir di sini.. Jalannya sempit, dan di kiri kanan jalan, tanahnya turun ke bawah..  Saat parkir aku melihat ternyata di tepi jalan ini ada pintu air..  Sepintas, pintunya masih ada..  Mungkin masih berfungsi yaa.., mencegah air sungai masuk ke arah pemukiman…  Pintu air ini mengingatkan ku saat aku masih kecil, daerah Kampung Bandar ini acap kali banjir, bahkan pernah sampai ke dekat  kantor RRI lama, di pojokan jalan Ahmad Yani dengan jala, Ir. H. Juanda.

Rumah Tua 1

Apa yang aku cari di Kampung bandar… Aku ingin melihat-lihat lagi beberapa rumah tua yang cantik-cantik, yang aku pernah lihat di sana…  Ternyata oh ternyata, begitu mendekati salah satu rumah tua, yang pernah direvitalisasi oleh pemerintah Kota Pekanbaru beberapa tahun yang lalu, aku mendengar suara.., pletak pletak... Suara dua bilah kayu bertemu… Suara alat tenun tradisional..

Aku dan Melly langsung menghampiri rumah tersebut.. Di dinding depan rumah terdapat spanduk yang mengatakan bahwa Kampung Bandar itu sudah dijadikan Desa Wisata Sejarah dan Budaya oleh Pemerintah Kota Pekanbaru.  Dan rumah tua itu dipinjamkan oleh pemiliknya untuk tempat kegiatan kelompok penenun, “Pucuk Rebung”.  Pucuk Rebung merupakan nama salah satu motif khas Melayu.

Tenun Siak Pucuk Rebung 1

Saat kami di sana, kami menemukan 3 orang ibu-ibu yang sedang menenun.. Salah satunya sedang membuat bahan untuk blazer, pesanan salah satu pemilik toko besar di daerah Pasar Bawah.  Keseluruhan ada 4 alat tenun di rumah tersebut.. Juga ada 2 alat pemintal benang.. Ada 2 lemari kaca.., satu menyimpan berderet-deret benang…, satunya lagi menyimpan berbagai hasil tenun…

Hasil Tenunan 1

Ibu-ibu tersebut, adalah ibu rumah tangga yang tinggal di daerah tersebut,  Mereka perempuan-perempuan yang menikah dengan orang setempat, lalu menetap di situ, dan beberapa tahun yang lalu mendapat pelatihan menenun.  Menurut ibu Wawa, salah satu dari tiga orang ibu-ibu tersebut, mereka masih mengalami keterbatasan memasarkan hasil karya mereka.  Ada nama besar penenun yang lebih dikenal masyarakat di Pekanbaru.  Mungkin harusnya Pemerintah membantu dengan membuatkan media pemasaran online bagi hasil karya para ibu-ibu tersebut yaa..  sehingga orang tahu keberadaan mereka dan hasil karya mereka..

Buat teman-teman yang berminat…, Baik berminat untuk membeli tenunan, atau mau membawa putra putrinya agar bisa melihat seperti apa kegiatan menenun itu, silahkan datang ke Kampung Bandar di jalan Perdagangan di Pekanbaru.. Sama sekali tidak susah untuk menemukan tempatnya.. ***

Note : Foto jembatan lama diambil dari http://m.riaupos.co/14670-berita-.html

Ada Apa Dengan Kita?

Ada apa dengan kita?  Bukannya Ada apa dengan Cinta ??? 😀 Ahhh itu mah cerita lama.   Line sudah mempertemukan mereka kembali, jadi udah gak seru buat dibahas.  😀  Terus kita mau bahas apa donk ?   Membahas sesuatu yang penting.  Lebih penting dari urusan Cinta dan Rangga. Uppppssss.  Jadi deg-degan. Hahahaha.  LebayAbis.com.

Beberapa bulan ini aku sering berdiskusi dengan seorang teman. Seorang teman yang luar biasa.  Masih muda, cerdas, penuh semangat.  Bekerja sebagai jurnalis di sebuah media, bagian dari  jaringan media nasional.

students1Kami berbagi cerita tentang pikiran, mimpi-mimpi dan keinginan… Daku si PNS tak jelas ini semakin sering merasa, I’m not really belong to the system.  Aku gak bilang pekerjaannya, aku menyukai pekerjaanku, but not  the system. Itu menimbulkan kegelisahan diri yang terus menerus. Aku merasa aku belum bermanfaat secara maksimal bagi sekitar.  Aku merasa ada banyak hal yang seharusnya aku perbuat bagi orang banyak. Bukan menghabiskan banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk melayani sistem yang lebih perduli dengan berbagai kepentingan pribadi atau sekelompok orang.  I don’t want to be useless.  Lahir, tumbuh besar, menikmati kehidupan, lalu pergi tanpa meninggalkan kebaikan.   Ohh semoga tidak, ya Allah..  Ada banyak hal yang ingin aku lakukan, dan aku tahu bahwa aku tak mampu melakukannya sendiri. Aku butuh teman yang sama frekuensi pikirannya dengan diriku.

Temanku ini lalu mengusulkan agar kami perlahan-lahan membangun komunitas untuk berdiskusi. Dari diskusi itu nanti kita bisa lihat apa yang harus menjadi prioritas utama untuk dikerjakan.  Tapi karena masing-masing punya kesibukan, tak mudah bagi kami untuk ketemu, duduk bersama dan diskusi.   Apa lagi dengan mengajak teman-teman lain.

Lalu, 2 hari sebelum akhir pekan yang lalu, temanku itu menghubungi aku via handphone.

“Akhirnya saya memulai satu langkah kecil.  Karna dunia tulis menulis adalah jalan hidup  yang saya pilih, maka saya berkewajiban menjaganya.  karena itu saya pun membuka @Kerani House.  Kerani itu istilah Bahas Melayu untuk juru tulis.  jadi singkatnya rumah bagi para juru tulis.  Bisa siapa saja.  Penulis lepas, penulis cerpen, artikel, dan tentu saja para jurnalis.  Rencana besok mulai perdana, kat rumah saye.  Jike ada waktu, jom join lah.”

Di hari yang telah temanku itu tetapkan,aku datang ke rumahnya.  Telat.  Karena salah ingat jam yang dikatakan. 😀  Saat aku sampai di sana di teras rumah temanku itu ada sekitar 10 orang gadis-gadis belia. Cantik-cantik.

Setelah memperkenalkan diriku pada gadis-gadis belia itu, temanku lalu bercerita, bahwa gadis-gadis itu adalah mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi di kota kami.. Para mahasiswi jurusan jurnalistik.  Dikirim untuk magang di media yang dipimpin temanku itu, tapi mereka semua mengaku belum pernah menulis. Bahkan merasa tak mampu menulis. gubbrrraaakkkksssss

Temanku itu bilang, “Macam mana saya nak turunkan mereka ke lapangan, kalau begini modelnya, Mak Cik?  Bagus lah saya dorong mereka untuk mau, bisa menulis dulu.”

Aku dan temanku itu berusaha membuka mata, telinga dan hati terhadap ucapan para gadis tersebut.  Hampir semua bilang, mereka tidak tahu mau menulis apa.

Temanku itu lalu, minta aku bercerita tentang aku dan blogku kepada para gadis belia…

Aku lalu bercerita,  ceritasondha.com ini aku awali lebih dari 7 tahun yang lalu.  Ketika pikiranku, hatiku terlalu sesak dengan tekanan pekerjaan..  Lalu seorang junior di kantor, Veny Citra, bercerita tentang berpulangnya seorang blogger, Inong, Bunda Zidan dan Syifa.  Aku saat itu tidak tahu apa itu blog.. Bagaimana membuatnya.. Sama sekali tidak tahu…  Tapi dari postingan-postingan yang ditulis alm Inong, aku melihat bahwa yang dia ceritakan adalah her daily life..  Aku pikir, aku pun bisa membuat seperti itu..  Maka aku belajar membuat blog, menuangkan pikiran demi pikiran, perasaan demi perasaan, pengalaman demi pengalaman…  Dengan bahasaku sendiri… My personal language…  Tak ada yang mengharuskan ku menggunakan EYD 1972… 😀

Lalu para gadis bilang, “Kami tak tahu nak menulis tentang apa, bu”

Aku lalu bilang, “Mari kita cari bersama, apa yang bisa kalian tulis.. Satu hal, untuk di awal, tulislah sesuatu yang sangat kamu ketahui, sesuatu yang menjadi atau pernah menjadi bahagian hidupmu.. Sesuatu yang pernah kamu rasakan.. Tuangkan semuanya.. maka dia akan jadi tulisan yang, insya Allah hidup…”  Dan aku melihat kerlip semangat di mata mereka.. 😀

Lalu aku menanyakan satu persatu tentang diri mereka…

Saat kutanya dari mana asalnya, gadis cantik pertama mengatakan kalau dia berasal dari Air Tiris.. Sebuah kota kecil di Kabupaten Kampar, sekitar 40 km dari Pekanbaru..  Aku lalu bilang, “Kamu tahu masjid Jami’?”  Dia bilang, “Tahu, bu”.  Aku lalu melanjutkan, “Kamu tahu kalau Masjid itu tidak punya paku? Kamu tahu ada benda apa di dalam bak di bagian belakang masjid? Kamu tahu sejarah Masjid itu? Apa kamu pernah ke sana? Pernah beraktivitas di sana ?  Tuliskan lah tentang semua itu menurut apa yang kamu tahu, kamu pikirkan, kamu rasakan.”

Gadis kesekian, saat diberi pertanyaan yang sama, yaitu daerah asalnya, menjawab, “Saya dari Bagan Siapi-api, bu.  Rokan Hilir.”.  Aku lalu bilang,  “Berapa persen penduduk Tionghoa di Bagan? Kamu berinteraksi dengan mereka?  Kamu melihat bagaimana kerukunan antar etnis di sana?  Tuliskan lah itu semua.. Apa yang kamu tahu, kamu pikirkan, kamu rasakan.”

Ada suatu tanya di diriku… Apa yang diajarkan di kampus mereka ya…?  Bagaimana bisa anak-anak yang mengambil jurusan jurnalistik, tapi belum bisa menulis.  Jangankan menuangkan pikirannya, apa yang mau ditulis pun mereka belum familiar.  Aku bukan penulis professional.. Aku  hanya seorang blogger.. Itu pun terkadang termegap-megap oleh gelombang kehidupan…Tapi menjadi seorang blogger membuat aku lebih bisa mengekspresikan apa yang ada di pikiranku, perasaanku dalam bentuk tulisan..  kalau dalam bentuk ucapan dan ekpresi wajah, aku sering tak bisa…Aku bisanya berwajah juteg…  hahahaha

Apa yang terjadi dengan para gadis cantik ini juga mengingatkanku terhadap beberapa kasus yang aku temukan selama bekerja di lingkungan Pemerintah di daerahku ini….

Kasus pertama, dulu saat aku masih kerja di kantor lama, pernah ada dua anak magang dari SMK, jurusan komputer.  tapi enggak bisa menggunakan komputer…  Saat aku tanya, emang kamu belajar apa soal komputer, anak-anak itu menjawab, “Kami diajarkan teorinya apa saja isi komputer bu.  tapi enggak pernah praktek.  Karena saat kami kotak katik komputer di lab, jadi ada komputer yang terbakar.  Setelah kejadian itu kami enggak dikasi lagi megang komputer… Uppppppsssss….

Kasus kedua, ketiga dan entah yang keberapa, ada pegawai baru yang sarjana.  Tapi enggak bisa menggunakan wordprocessor… Yang lulusan akuntansi, enggak bisa menggunakan worksheet… Aku saat itu nanya, siapa yang mengerjakan skripsinya? Karena kalau dia kerjakan sendiri, pasti dia jadi bisa menggunakan wordprocessor…  Apa skiripsnya dia tulis tangan terus dia ngupahin orang buat ngetik…? Hari gini….?   Tapi orang-orang yang ku tanya itu biasanya diam….

studentsAku kali ini, seperti yang sudah-sudah, kembali bertanya, apa ya yang diajarkan di tempat mereka belajar?  Apakah tidak ada prosses mendorong siswa atau mahasiswa untuk punya kemampuan  paling dasar untuk memenuhi kualifikasinya untuk berhak menggenggam selembar ijazah?  Atau jangan-jangan kualifikasi itu hanya ada di atas kertas…?

Aku dulu juga bukan mahasiswa yang sempurna.. Aku sering bermain dengan teman-teman..  Menjadi sarjana pertanian tidak membuat ku ahli memegang cangkul..  😀   Tapi dari membuat laporan-laporan praktikum, tugas-tugas, Studi Pustaka dan Skripsi, membuat aku bisa menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.. Untuk laporan-laporan tahun-tahun pertama sampai ketiga masa kuliah, mengetik 11 jari  minimal harus bisa… 11 jari…, artinya jari telunjuk kiri dan jari telunjuk kanan.. hehehe.  Dan pada tahun ketiga masa perkuliahan, ketika komputer mulai mudah diakses, aku dan teman-teman pun belajar menggunakannya..

Tapi kalau sarjana di tahun gini, saat komputer berserak dimana-mana, masih gak bisa menggunakan word processor… Lulusan akuntasi gak bisa menggunakan worksheet… Calon jurnalis belum  bisa nulis…? Ada apa dengan kita…?  Bagaimana sistem pendidikan kita…?  Atau benar, apa yang dibilang orang-orang  kalau orang kita sekolah itu bukan mencari ilmu, tapi hanya mengejar selembar ijazah?  Yang setelah di tangan juga belum tentu laku buat digunakan mencari kerja..  **sad*

Tulisan kecil ini hanya sebuah masukan bagi kita agar kita berhenti mengejar hanya sekedar simbol-simbol…, yang sesungguhnya tak membawa kita kemana-mana..  Kecuali melayang pingsan  di langit, tanpa kekuatan…  tanpa tujuan…   Lalu terkaget-kaget saat sekitar sudah tak ada lagi, karena mereka telah melesat menuju dunia yang lebih baik…  Semoga juga bisa menjadi masukan bagi  teman-teman yang berkecimpung di dunia pendidikan di daerah ini.. ***

Pekanbaru di Mata Teman-teman…

Minggu lalu, seorang teman saat SMA, Connie Voster,  tahu-tahu men-share di Path-nya Memory ku tentang Pekanbaru yang aku publish di  ceritasondha.com 7 tahun yang lalu..  Dari Path beliau di-re-share ke FBnya..  Karena kami terkoneksi di Path dan FB, aku jadi tahu kalau dia men-share..  Saat aku tanya, kok dia bisa nemu tulisan jadul itu… Dia justru kaget, gak nyangka kalo sondha yang nulis blog itu adalah diriku, teman SMA nya yang dodol  banget… 😀

Re-share yang dilakukan jeung Connie, membuat arsip lama itu naik kembali ke permukaan.. Dan dibaca juga oleh teman ku, perempuan cerdas, Pimred Pekanbaru Pos, Pemimpin Redaksi Termuda di Group Jawa Pos, mak cik Afni Zulkifli.  Entah mimpi apa lah mak cik yang satu ini.., tahu-tahu blio mengirim BBM ke aku di pagi Selasa, 03 Februari 2015…

” Kenangan 25 perak dan toko-toko tua. Tulisan kaki Pekanbaru Pos hari ini. Saya menaikan tulisan masa kecil cik sondha. Semoga bermanfaat dan bisa memberi inspirasi bagi penulis lainnya.”

Gubrrraaakkkkss….

Pekanbaru Pos 03.02.2015

Sesampai di kantor, aku mencari koran tersebut… dan membacanya…  Subhanallah… Kenangan seorang Wakil Walikota, Bapak Ayat Cahyadi akan Kota Pekanbaru bersanding dengan kenanganku, yang diambil dari blog ku..   Kenangan yang menggunakan bahasa diri ku sekali, tak formal, dialek yang campur baur, efek rumah kacaupppsss…. Maksudnya efek hidup berdampingan dengan berbagai kultur…   Gak kebayang gimana pikiran si Bapak wakil Walikota punya warga yang bahasanya ancurrrrrr…  Hehehe…

Aku ingat saat mencoba untuk membantu sekelompok anak muda akan mengadakan “Pekan Wak?”  pada awal tahun 2014 dengan me-share jadwal acara mereka di FB, , ada beberapa teman lamaku yang memberi komen yang berisi tentang kenangan mereka saat kecil di Pekanbaru..  Naah kenangan beberapa teman tersebut  aku copy-kan di sini..   Semoga bermanfaat, menambahkan rasa cinta kita pada Kota Pekanbaru, “Rumah Kita”…

Jadi ingat kata Kak Tata Sapta Juwita Bahar, seandainya Pekanbaru bisa dibikin seperti dulu…. Dimana hampir semua warganya saling mengenal…  Rasanya itu tak mungkin lagi ya.. Karena Pekanbaru sudah menuju Metropolitan..  Jumlah penduduknya sudah sangat banyak.. Tak seperti 40 tahun yang lalu…  Tapi kalau lah boleh berharap…, kami berharap Pekanbaru bisa kembali menjadi kota yang “ramah ” sehingga warga kota bisa merasa nyaman, aman untuk beraktivitas..  Dan anak-anak bisa seperti kami dulu bebas bermain di berbagai penuju kota…   Semoga…

PS : Jangan heran yaa klo kenangannya ada yang lebay dan lebay bingitss… Namanya juga kenangan masa kanak-kanak.. Lihat juga kosa katanya, Pekanbaru bingits…

  • Rio Lardes Siregar Dulu kalau hari Sabtu, banyak karyawan Caltex yang datang ke depan bioskop Lativa, apakah bioskop Lativa yang gedung tua itu masih ada ya.??
  • Hotma Hasibuan · Bioskop latifa udah ga ada
     
  • Eva Sulaiman Dulu ada Sekolah Taman Kanak-kanak Perwari di samping kantor Walikota di jl.Hasanuddin bawah..banyak cerita indah ttg skolah tsb..baik guru2nya yg sagat mengayomi, pohon Flmboyan besar di halaman depan, serta cerita lucu ttg sahabat kecil yg berama Rio Lardes juga ada di TK tsb.. :))
  • Isnayana Wied Subarjo Ada taman bermain disebelah pom bensin jl sudirman, ada si abang aji ‘gilo’ dengan tas echolaknya, ada taptu drumb band dll di acara ultah TNI..
  • Adrini Issuko Wkt TK perrgi beli baju Bɑ̤̈̊®u di BOM.. Tokonya berlantaikan papan, jembatan Siaknya juga dari kayu.. Nonton film Ratapan. Anak Tiri di bioskop misbar Wira Bima, yg kala itu filmnya lagi booming… Krn masih kecil, yaa.. Digendong deh oleh kakak sepupu… Duh.. Kasian jg yg menggendongnya.. Sebelahnya ada Rumah Makan Eka Kapti… :Dhέhз:phέhз:
    http://www.riaudailyphoto.com

    Gambar diambil dari  riaudailyphoto.com

  • Isnayana Wied Subarjo Mbak nita kan sukanya es campur sama lotek rempah sari
  • Hotma Hasibuan Apa nama sebutan yg pake kuda di kota ini dulu ?
  • Sondha Siregar Bendi
  • Sondha Siregar Isnayana Wied Subarjo : taman Kaca Mayang.. Saya dan Nita Issuko pernah ikut lomba nyanyi di sana.. saya hanya sampai di final.. Nita salah satu pemenangnya.. Kita umur berapa itu, ya Nit? @ kak Eva Sulaiman : lokasi kantor walikota lama sudah jadi deretan ruko, bagian belakang jadi parkiran mall Senapelan.. @ bang Rio Lardes Siregar : bioskop Lativa, Asia semua sudah gak ada.. Pekanbaru Theater sudah jadi resto dan karaoke..
     
  • Hotma Hasibuan Yup bendi…seandainya masih ada ya….?. Aku mau jadi pilotnya hik hik…
  • Parlindungan Ravelino kenangan di pekanbaru…DULUUU…ada patung pesawat tempur di depan kantor gubernur…DULUUU…bisa main bola dan jogging di lingkungan rumah Gubernur Riau…DULUUU main bombom car di Kaca Mayang…DULUUU…setiap hari minggu pagi makan pagi bersama Opung saya di bandara simpang tiga yang sekarang sudah rata dengan tanah..hehehe..
  • Parlindungan Ravelino kalau bang Barumun Nanda kenangannya mungkin seputar bajaj tuh..
  • Sondha Siregar @ Isnayana Wied Subarjo : klo Nita Issuko siyy penyanyi beneran.. klo sondha maahh penyanyi kamar mandi..
  • Sondha Siregar @ bang Parlindungan Ravelino dan bang Barumun Nanda : bajaj Nyang… Rutenya Pasar Kodim – Jl. Durian…
  • Hotma Hasibuan Aku pernah fashion show di kaca mayang ama kakakku Shanty n kak Lidya. Marilah kita berdoa agar Allah SWT mau kembalikan masa lalu itu…….mau ga ya….? Atau lg masih ada yg main Patok lele ga ya ? He he…
  • Sondha Siregar @ Nita Issuko : di resto eka kapti itu pertama kali sondha kenal minuman bersoda, RC… Sondha juga nonton faradilla Sandy nangis di sepanjang Ratapan Anak Tiri di misbar WB alias Wira Bima… Karena hujan, penonton pada neduh, umpel2an… kita yang kecil2 rasa tenggelam…
  • Rio Lardes Siregar @ Eva Sulaiman….sahabat masa kecilku….banyak bana kanangan masa lalu yo…..ambo kadang2 takana jo siapa lari2………rupanya samo Eva yo.!!!!ha ha ha ha ha ha
  • Hotma Hasibuan Pekanbaru kota betuah tempat lahirku. Dulu masih banyak pepohonan hasilkan udara yg bersih. Teman2 kecilku pada riang bermain sepuasnya dijalan Gajah Mada depan rmh Nita apalagi dihari minggu pagi. Ada yg serius lari pagi saking seriusnya dia ga balik balik lg ya….itu si...bang Aji….he he….
  • Rudi Fajar Merasa paling hebat sedunia ketika sukses naik sepeda lewat kulim (Hang Tuah-Kulim-Harapan Raya). Pergi pagi sampai di rumah siang (haus dan lapar). Serasa keliling dunia
  • Rio Lardes Siregar Jln Diponegoro…….tempat ku dikejar2 polisi lantas yg bernama Muslim….kasihan juga dia, motornya besar kalau aku sudah mau dapat…median jalan ku lompat aku pindah jalur sebelah sambil mengeluarkan lidah biar pak polisinya ngejar lagi….ha ha ha ha ha…..kalau pak polisinya masih ada aku mau minta maaf dan traktir dia makan, biar dia kuat kejar2 aku lagi………..
  • Hotma Hasibuan Pak Muslim masih ada Yo
  • Parlindungan Ravelino oia..hampir lupa..tukang photo polaroid instant di seputaran kaca mayang dan depan pom bensin jln sudirman…pada kemana ya mereka..
  • Sondha Siregar @ Rudi Fajar : rasa berpetualang yaa… Sondha naik sepeda dr rumah jl durian ke dipo dulu, terus lewat lieghton sampai ke camp caltex..
  • Sondha Siregar dulu mereka masih suka di pinggir jalan di depan kaca mayang, bang Parlindungan Ravelino… terutama si Am, langganan abang… Tapi sekarang entah dimana lah mereka nongkrong.. ditambah lagi tugu selais sudah berpagar…
  • Sondha Siregar @ Nita Issuko : ingat kah kita saat TK naik sepeda hias…? Emak2 kita sibuk berjalan di samping kita, mengiringi…
  • Adrini Issuko Sondha: kendaraannya paling kereenn… Kalo kami jadi tukang becak waktu itu… :DНii˚⌣˚нii˚⌣˚нii..
  • Sondha Siregar @ Nita Issuko : justru Nita yang sepedanya pakai atap… sepeda Sondha tomboy kayak orangnya.. hehehe..
  • Adrini Issuko Wkt kelas 1, dadakan nyanyi di RRI, pemain pianonya adalah bang Joni wkt itu kls 5. Lagu yg dibawakan Kucingku ♡S[α̲̅]y[α̲̅]ng♡. Waahhh musiknya ngebut bangeett…., tak bisa diulang krn live… Sampai di rumah merajuk.. Nyanyinya jadi jelek… :DНii˚⌣˚нii˚⌣˚нii
  • Adrini Issuko Sondha: wkt karnaval ada yg pake pesawat2n, siapa ya? ☆Nîtα☆ lupa2 ingat.. Atau sepedanya Boni kalee?? Pokoknya keren abizz deh.. :Dhέhз:phέhз:
  • Isnayana Wied Subarjo Hahahahahahaha…. kalau sepatu rodaan di kantor gubernur lama, kak nita ikut nggak rud? Nggak kayaknya ya
  • Isnayana Wied Subarjo Hahahaha, iya kak, kami tau nyo… cuman mengingat aja. Gitu dang… hahahahaha
  • Adrini Issuko Wiwied: ndeee.. Rindu kami jadinya dengar bahasa Pekanbaru tu haa..
  • Sondha Siregar Nyooo, Dang, Doo… Ndeeee… Ndak age dooo...
  • Adrini Issuko Ada lagi Wied: icak2nya… ini haa…ga telap.. Tak ada doo…Sering teringat dg bahasa2 itu…
  • Isnayana Wied Subarjo Hahahahaha… iyaaa, ah, pengen pulang jadinya dang… pasti ‘jumpa’ sama orang2 tu hahahha, loyo tekak kata atuk2 tu

    Adrini Issuko Ndeeee…. Wiwied mau pulang? Kami mau ikut la.. Masak pula kami tak diajak… Tak aci dooo….

     Isnayana Wied Subarjo Hahahahaha… mana pulak ndak ajak-ajak… ayoklah ikut sama kami... kan kita ndak igek do… hahahha
  • Isnayana Wied Subarjo Bang rio… bagus cuman dikejar pak muslim, daripada dikejar si sulan... hehehehe
  • Sondha Siregar Bang Aji dgn seragam hansip lengkap dan nama “Soeripto” di dada, sulan, antok2 yg mutar2 kota naik sepeda ontel, Amir si tukang minyak keliling naik sepeda berhelm kuning…. Mereka mewarnai kota kita jd lebih meriah.
  • Isnayana Wied Subarjo Kak sondha… Bang aji pakai seragam pramuka kak… Hehehehe bener nggak? Bang rudi fajar yg hapal tuh secara sohibnya hahahaha
  • Sondha Siregar @ Isnayana Subarjo : bang Aji punya baju pramuka, baju hansip, bahkan baju putih gubernur lengkap dgn “jengkol” di dada kiri… . Entah siapa lah yg ngasi dia ide utk berpakaian spt itu… jgn2 Rudi Fajar…
  • Lusi Ariani Dah meninggal smw nya tu Son, tinggal si Amir masih Istiqomah naik sepeda n jualan myk…..aku paling takut klo dia lewat dpn rmh, langsung serondok
  • Sondha Siregar @ Lusi Ariani : dulu waktu kecil, sangkin takut sama Amir…, begitu ngeliat dia di kejauhan… sondha ngumpet di gorong2… hehehe…,
  • Adrini Issuko Kalo pintu rumah terbuka, eh tau2 udah ada Bang Aji sambil berpidato dan bernyanyi… Kita semua terhibur dg alunan bang Aji… Kalo bang Aji udah ga ada, mdh2n skg ada di tempat yg indah.. Aamiin
  • Adrini Issuko Wiwied: Hªª:D Hªª;) Hªª:p Hªª:D Hªª:* ……. Ondee janganlah igek2 lagi, tak enak dooo igek2 tu…. Cemana lah….
  • Sondha Siregar @ Nita Issuko : Amir yg kami bicarakan itu tukang minyak keliling, naik sepeda, pake helm proyek warna kuning, wajahnya ada totol2… orgnya tak jelas bicaranya… jd bikin anak2 kecil takut…
  • Isnayana Wied Subarjo Hehehe, kak sondha, itu belum bikin takut, yg bikin takut itu kalau ada pembangunan jembatan ada “potong leher” berkeliaran hahahaha, belum lagi ‘cindaku’ biar anak2 gak pada camping…
  • Sondha Siregar Iya ya Wied, entah kenapa laahh isu potong leher buat jembatan, cindaku pengisap darah bayi sering diucapkan utk menakut2i kita2 yg lasak saat kecil… belum lagi hantu di sembat.., yg bikin terpontang panting klo jalan kaki di samping Riau Hotel
  • Adrini Issuko Sondha; betul…betuul… Wkt masih kecil ada yg namanya Sulan… Ndeeee.. Takuuik dang…bisa terbirit2 melihat Sulan tu ha…
  • Rudi Fajar Ha ha semuanya betul. Dan juga ngeri kalau dengar cerita pelasik
  • Isnayana Wied Subarjo Nah, kalau kenangan tokoh… pasti semua tahu yg kita hormati dan banggakan om / bapak / atuk / mantri Hamid... dokter semua anak2 pekanbaru, sama om paidjan asistennya… doa terbaik untuk mereka selalu.
  • Isnayana Wied Subarjo Hahahaha ayo rud… sekalian tentang orang bunian / bunyian… hahahaha
  • Rudi Fajar Aduhh… cerita pelasik ya… Pelasik itu orang yg nggak punya belahan di atas bibir (apa tu disebut), dan pelasik itu suka nyedot darah terutama anak bayi… Hiiiii seram…. tadi sdh coba tanya Mbah Google nggak ada info tambahan ha ha ha
  • Sondha Siregar Oom Hamid, mantri yg praktek di poliklinik polisi jg menjadi perawat kesehatan keluarga kami.. sondha klo ke sana, kerjanya masuk ke ruang obat…, mungutin sendok2 plastik dr kardus tempat sampah mereka.. kadang mengamati yg kerja menggiling pil2 obat.
  • Isnayana Wied Subarjo Walau nggak punya tempat rekreasi yg hebat, tetep ngangenin, selain stanum dan petapahan, kalau ke airport sambil mampir di soto simpang tiga aja udah seruuu… Ada es doger merahnya
  • Lusi Ariani Betul…betul,,,betul,,,,,(y) walopun t4 rekreasi ga byk, tp t4 kuliner jaman dlu teuteup ngangenin, kongkow2 di bakwan sumatra, n paling fav pecel sutomo 45 n bakso Cikidin gg Pelita….malah ada sohib yg jadian disana
  • Sondha Siregar Dulu klo makan2 malam, biasanya ke medan ice cream, gelas mas, losmen pekanbaru, rempah sari..
  • Isnayana Wied Subarjo Kalau perlu barang kelontong ke toko apollo atau indola hahahaha…

Dream, Love and Family

DREAM, LOVE AND FAMILY  adalah filosofi  L’ Cheese Factory, toko kue milik kakak ku, Lintje Siregar..

L CheeseBuat diri ku dan keluarga, L’ Cheese Factory, yang L’ nya diambil dari nama kakaku ku Lintje, merupakan pencapaian yang luar biasa…

Why, why, why…..???  Karena seingat ku, dari sejarah keluarga kami yang aku tahu, dalam 3 generasi, tidak ada yang punya toko… Apa lagi toko kue.. 😀  Opung kami adalah para pendidik.. Generasi orang tua kami adalah para birokrat, demikian juga aku, dan kakak ku sebelum beliau pensiun..

Tak pernah terbayangkan rumah kami menjadi toko kue, tempat nongkrong anak muda, bahkan ada live music setiap sabtu malam..

L cheese1aTeras rumah yang dulu tempat duduk-duduk keluarga di pagi dan sore hari sudah menjadi tempat duduk-duduk customer 😀 Demikian juga ruang tamu.  Garasi mobil sudah menjadi tempat display produk, counter kasir dan juga tempat customer duduk santai menikmati produk yang mereka pilih… Ruang kerja, tempat aku dan para ponakan les dengan memanggil guru ke rumah,  yang posisinya di belakang garasi, bersama ruangan yang dulunya dapur bersih sudah menjadi ruang garnish.. Gudang tempat persediaan amunisi, alias penyimpan bahan makanan, sudah menjadi ruang kerja team marketing..  Ruang makan ramai-ramai yang menyatu dengan dapur sudah jadi tempat kerja pegawai toko, tempat menyimpan case-case besar stock produk dan bahan.  Kamar si mbok yang dulu juga merangkap ruang penyimpanan pecah belah peninggalan alm Ibu, sudah jadi ruang produksi dan tempat stock barang.  Ruang musik di halaman belakang rumah, sudah menjadi ruang produksi khusus buat wedding cake dan special order. Bahkan sebagian ruang keluarga dipakai untuk staff accounting bekerja… 😀

Terkadang bila aku habis bepergian, lalu pulang ke rumah tempat aku dibesarkan, dan melihat teras rumah ramai, terlintas di pikiran ku, “Siapa orang-orang itu…? Ngapain pada duduk-duduk di teras rumah kami…??” Hahahahaha…

L’ Cheese Factory bermula dari kakak ku yang ingin membangun usaha setelah beliau pensiun, setelah berkarir sejak muda di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau, berpindah-pindah  dari satu instansi ke instansi.  Bermulai dari instansi yang menerbitkan izin usaha pada tahun 1980-an, dan persiun di Badan Arsip dan Perpustakaan.  Beliau nyaris tak punya keahlian yang cemerlang, tapi suka dan cinta sekali dengan dunia memasak…

Saat aku kecil, kue lebaran di rumah kami adalah hasil kerjaan beliau, dengan mengerahkan bala bantuan dari teman-temannya dan juga orang-orang yang bekerja di rumah..  Saat aku SMA, teman-teman ku senang sekali kalau ke rumah.., karena selalu ada makanan, selalu ada kue yang enak..  Bahkan terkadang teman-teman perempuan ku dengan jail bilang pengen belajar bikin kue, padahal itu hanya alasan agar bisa menikmati cake-cake lezat buatan beliau..  Hahaha…

Di rumah tak pernah tidak ada tepung, gula, dan bahan  kue… Tak pernah juga sepi dari loyang-loyang, mixer dan oven  😀

Sepertinya, punya Mama yang gila memasak, bahan kue yang selalu ada, membuat Ira, putri  bungsu kakak ku juga jadi senang memasak..  Ira bahkan memutuskan untuk tidak mau sekolah “normal” seperti Mamanya, aku dan 2 abangnya, Parlin dan Olan. Dia memilih tidak mengikuti mainstream.., mengambil jurusan Pastry di Sekolah Perhotelan.  Ira merupakan anggota keluarga yang kedua, yang tidak mengikuti mainstream.. Yang pertama Nanda, anak kakak ku yang nomor dua.  Dia memutuskan untuk mengambil Sinematografi di IKJ, setelah bertahun-tahun, kalau ditanya mau jadi apa, jawabnya cuma satu “Kami mau jadi sutradara”

Setelah melalui proses yang tidak pendek, dan aku tahu tidak mudah…, bulan Maret 2012 kakak ku memulai usahanya.  Dengan hanya menggunakan garase rumah yang direnovasi sebagai tempat jualan, dan dapur bersih sebagai tempat produksi..  Beliau membuat sendiri cake yang akan dijual.   Parlin, putra sulungnya, dan Typhany, istri Parlin,  mengurus manajemen toko sekaligus menjadi penjaga toko..  Ira sebagai pembuat resep untuk produk-produk yang akan dijual..

L cheese2aProduk yang dipilih kakak ku PREMIUM CHEESE CAKE. Pilihan iItu dilakukan dengan pernuh pertimbangan, pasti.  Semua bahan yang digunakan merupakan bahan pilihan, diproses  secara cermat dengan  mengunakan peralatan yang terbaik, serta dengan pengawasan yang ketat untuk menghasilkan produk terbaik.  Bahkan untuk kepuasan dan ketenangan hati  konsumen, sejak awal usaha telah memiliki izin dari Dinas Kesehatan dan sertifikasi halal oleh LPPOM MUI Provinsi Riau.

Kak Lintje mengenang,  saat awal usahanya dengan ucapan “Kalau ada orang yang beli 1 slice cake aja, rasanya sudah senang sekali.. Kalau orang itu makan di tempat, rasanya deg-degan menunggu komentar si pembeli.” 😀

Waktu berjalan….  L’ Cheese Factory sudah hampir genap 3 tahun…  Kak Lintje tidak lagi harus mengerjakan sendiri seluruh proses produksi, tapi beliau mengawasi dan terkadang ikut mengerjakannya.   Yang terlibat dalam pengelolaan toko bukan lagi hanya Parlin, Ira dan Typhany.. Nanda, yang lulusan IKJ dan sempat kerja di production house untuk pembuatan iklan produk, dan Olan, anak nomor 3, yang sempat kerja di salah satu bank di Pekanbaru, memutuskan untuk full time bergabung dengan L’ Cheese dan mengambil peran sesuai dengan studi dan pengalaman kerja masing-masing.  Nanda mengurus marketing, Olan mengurus finasial.  Bahkan pada akhir Tahun 2013, L’ Cheese Factory mendapatkan penghargaan UMKM award dari Bank Riau Kepri, bank milik Pemerintah Daerah Provinsi Riau yang memberi dukungan pada awal usaha.  Alhamdulillah Tahun 2014, L’ Cheese Factory tak bisa lagi ikut dalam seleksi UMKM award yang diadakan bank tersebut, karena sudah tidak tergolong dalam Usaha Mikro lagi  😀

Anugrah UMKM a

Satu hal yang kak Lintje bilang berkali-kali ke diri ku, “JANGAN TAKUT MENGHADAPI PENSIUN”.  Tapi tentu saja bukan tanpa persiapan..  Bekerja, sambil meningkatkan keterampilan di bidang yang menjadi passion kita adalah hal yang HARUS DILAKUKAN.. Juga menyiapkan anak-anak dengan memberikan kesempatan bersekolah sesuai dengan passion mereka adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukan, bagi anak-anak, sekaligus bagi diri kita sebagai orang tua.

Seperti  Nanda bilang ke aku… DREAM artinya berani bermimpi dan berjuang mewujudkannya..  LOVE, melalukan hal-hal yang merupakan passion, seperti kak Lintje dan Ira yang mempunyai passion sangat kuat terhadap cooking, serta FAMILY, menjalankan bisnis dengan melibatkan keluarga dan value yang ada di keluarga..

So,  L’  CHEESE IS NOT JUST A CAKE SHOP, IT’S ABOUT DREAM, LOVE AND FAMILY…

L Cheese 2nd Anniversary

d Family on L’ Cheese 2nd Anniversary

So Guys, Kalau sedang berada di Pekanbaru,  come to L’ Cheese…  You are gonna  feel how the Dream, Love of cooking, and value of Family can MAKE YOUR HEART SAY CHEESE...

Canvassing IPB

Cavassing IPB…  Apaan tuuhh…? Bukan di-kanvas-in seperti Mike Tyson menganvasin lawan-lawannya kan…? **Buseet… Orang lama banget gw, yaakk… Koleksi petinju di pikiran gw Mike Tyson, petinju seperempat abad yang lalu...  Tau udah dimana itu orang…* 😀

IPB

Canvassing IPB itu kegiatan memperkenalkan  IPB, program-program study yang ada di IPB, jalur masuk ke sana,  fasilitas beasiswa yang tersedia, dan berbagai informasi penting lainnya, yang perlu diperoleh  pelajar SMA untuk menentukan dan memantapkan hatinya untuk mendaftar jadi mahasiswa IPB..

Jadi, ceritanya dua hari yang lalu…, Ocha, adik kelas di IPB, yang saat ini menjabat sebagai Sekjen HA – IPB  Riau nelpon…, ngajak hadir di acara Canvassing untuk pelajar-pelajar SMA di Kota Pekanbaru..  Acara yang ditaja adik-adik anggota IKPMR (Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Riau) yang kuliah di IPB, akan dihadiri Pak Ernan Rustiadi, Dekan Fakultas Pertanian IPB..  Dari pada dianggap kakak kelas tidak berbakti…, terpaksa lah diriku iyakan permintaan bu Sekjen ini…  😀

Tapi saat Ocha bilang, “Nanti kakak jadi salah satu pembicara yang cerita tentang perkuliahan di IPB yaa..” Diriku langsung pusing 7 keliling….**toenkkkk – toennkkkk –  toennkkkkkk*  😀 Lha gimana gak pusing klo disuruh testimony tentang perkuliahan dalam rangka promosi kampus…  Bukan karena kampusnya yang gak bagus… Kampusnya bagus banget.. Lha aku nya yang mahasiswa dodol.. Hahahaha…

Coba bayangin, saat kuliah, aku bukan mahasiswa yang menonjol… Kerjanya main melulu… Kalo sahabatku saat Tingkat Persispan Bersama (TPB), Ekarina, bilang “Dia maahh tidur melulu…” 😀  **sama kita, ya Na… Makanya cocok berteman… Hehehehe.*

Urusan kerjaan, aku juga gak menonjol… Biasa-biasa aja… Bertahun-tahun jadi orang di belakang meja… Jadi Tukang Masak, sekaligus Tukang Sapu.. Hahahaha…

Kalo aku ngasi testimony tentang betapa meriahnya hidup berteman selama di IPB, bisa-bisa orang tua calon mahasiswa gak ngizinin anaknya masuk ke IPB… Takut anaknya gak kelar-kelar kuliah… Main melulu…  Hehehehe…  Jadi lah aku memohon Ocha untuk mencari korban lain… Hahahaha…  Tapi sebagai alumni, aku setia, dan hadir di acara tersebut…

Canvassing IPB aAlhamdulillah yang hadir di acara tersebut ramai… Ada juga ibu dan bapak guru..  Ini pasti guru-guru yang keren…, mau datang ke acara sweeperti ini di luar jam kerjanya, supaya bisa memberi masukan pada murid-muridnya… Acara ini diisi dengan pemaparan dari Pak Ernan, testimony dari beberapa alumni, juga diisi dengan penampilan musik dari adik-adik IKPMR yang baru saja selesai keliling Riau untuk Canvassing IPB..  **Yang nyanyi suaranya bagus…..*

Dari pemaparan Pak Ernan aku jadi tahu kalo Fakultas di IPB udah gak 7  (A = Pertanian, B = Kedokteran Hewan, C = Perikanan, D = Peternakan, E = Kehutanan, F = Teknologi Pertanian, dan G = MIPA) lagi, tapi udah ada tambahan 2 Fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Manajemen, dan Fakultas Ekologi Manusia.

Kayaknya Jurusan Sosek Pertanian, yang heboh denganbring cikita bring cikita bring cikitik cikitik cikita, mantap gawat Sosek Sosek Sosek” udah gak berada di bawah naungan Fakultas Pertanian lagi…  Program Studi Agribisnis dan Ekonomi Sumberdaya jadi Fakultal Ekonomi dan Manajemen, sedangkan Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, bersama Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, jadi Fakultas Ekologi Manusia…

Jalur pendaftaran ke IPB juga tidak seperti zaman ku, 29 tahun yang lalu…  Sekarang selain ada Seleksi Nasonal Perguruan Tinggi Negeri (SNPTN), ini seperti PMDK di zaman dulu, dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) ini SIPENMARU  klo di zaman dulu, Juga ada Beasiswa Utusan Daerah, dan ada Ujian Talenta Masuk IPB (UTMI).

Apa itu Beasiswa Utusan Daerah atau BUD…? BUD adalah suatu cara penerimaan mahasiswa program sarjana dan pascasarjana IPB yang direkomendasikan dan dibiayai oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan atau lembaga swasta, yang bila lulus diharapkan kembali ke daerah untuk membangun daerah.    Sedangkan Ujuan Talenta Masuk (UTM) adalah salah satu cara penerimaan mahasiswa program sarjana IPB yang berbasis kepemimpinan, kewirausahaan, dan cinta pertanian.  Metode seleksi yang digunakan adalah ujian tulis.

Kalau ada teman-teman yang anak, keluarga/kerabat yang berminat untuk masuk ke IPB, bisa lihat informasinya di website IPB di sini

Lalu…., secara pribadi apa testimony ku sebagai orang yang pernah sekolah di Institut Gebukan Kasur ini…?? Kasi tau gak yaa….. Kasi tau dikit atau banyak….?  😀

Memory ku tentang kuliah di IPB pernah aku tulis  sekian tahun yang lalu, dan dikasi judul TERIMA KASIH, PAK ANDI..  Satu hal lagi yang aku senangi dari kuliah di IPB adalah KEBERAGAMAN KAMPUS…  Ini cuplikan tulisan yang pernah aku buat juga beberapa tahun yang lalu di sini

Tati jadi ingat masa2 kuliah di Bogor… Masa2 yang sangat menyenangkan karena hidup dalam keberagaman… Saat itu mahasiswa baru tingkat persiapan dibagi dalam sepuluh kelompok. Di setiap kelompok, mahasiswa dgn nomor induk terkecil berasal dari DI Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam), sedangkan mahasiswa dgn nomor induk terbesar berasal dari Indonesia Bagian Timur atau anak2 lulusan sekolah Indonesia di luar negeri. Jadi setiap kelompok merupakan cerminan Indonesia yang Bhinneka Tungal Ika. Dan mahasiswanya benar2 heterogen.. Ada mahasiswa yang berasal dari desa, ada yang berasal dari metropolitan, bahkan ada yang besar dan tumbuh di luar negeri. Ada yang anak petani, anak pegawai sampai dengan anak menteri bahkan anak presiden. Bahkan ada mahasiswa yang untuk bayar kuliah perlu keringanan dengan membawa surat keterangan tidak mampu…

Tapi gak masalah tuh…, kampus bisa menerima siapa aja tanpa melihat status ekonomi keluarga dan asalnya. Saat itu kami benar2 merasakan keberagaman di Kampus IPB, Kampus Rakyat.. Keberagaman yang memperkaya cara pandang tentang orang lain, keberagaman yang memperkaya wawasan kita..

Masih adakah keberagaman itu di kampus2 di negeri ini…? Masih ada kah keberagaman saat kampus dijalankan nyaris sebagai sebuah bisnis..? Masihkah pendidikan bisa menjadi sebuah cara untuk memperbaiki tingkat kehidupan di negeri yang kita cintai ini…?

Btw Tati sempat kaget lho waktu ujian Matematika Dasar I. Kaget karena petugas pengawas ujian yang mengulurkan kertas absen ke Tati adalah Mamik Suharto, yang waktu itu masih mahasiswa Jurusan Statistika. Bayangin, pengawas ujian anda adalah putri presiden yang selama ini wajahnya hanya anda lihat di media massa atau di buku2. Tati rasa kejadian seperti ini hanya terjadi di lingkungan kampus yang menghargai keberagaman, keheterogenan… Kalo enggak, mana mungkin kita2 yang berasal dari daerah dengan latar belakang keluarga biasa2 aja bisa ujian diawasi putri presiden Indonesia, yang zaman itu begitu diagungkan..?

Memang IPB yang ku dengar dari beberapa teman, yang adiknya, putra putrinya bersekolah di sana, IPB tidak seperti zaman aku dan teman-teman kuliah dulu..  Pilihan Fakultas dan Jurusan sudah dilakukan sejak mendaftar masuk, tidak di akhir Tingkat Persiapan Bersama (TPB).  Ujian tiap Sabtu sudah tak ada lagi..  Hanya mid dan akhir..  Kalau nilai kurang dari 2.00 atau di atas 2.00 tapi ada nilai F, seluruh pelajaran harus diulang, kecuali yang sudah B ke atas..  Sudah ada remedial dan semester pendek..  Jadi tak ada lagi istilah RCD atau Recidivis…

Aku dengar ilmu di IPB juga tak seperti zaman kami dulu..  Kalau dulu, kami diberi teori-teori yang kuat.., tapi segi teknis kurang banyak..  Sehingga kami para lulusan cenderung jadi generalis, yang bisa bekerja di banyak bidang, dan sedikit yang memilih bekerja di bidang pertanian.. 😀  Tapi sekarang katanya ilmu teknis lebih banyak diberi…, sehingga para lulusan jadi punya keahlian di bidang yang dipelajari.. Banyak juga mahasiswa yang menghasilkan inovasi-inovasi baru…..

Soekarno - _IPB

Dan kenapa harus memilih belajar pertanian…? Karena urusan pertanian itu urusan perut manusia, yang gak pernah ada habisnya selagi manusia ada di muka bumi..  Dan negeri kita ini adalah negeri agraris, punya potensi pertanian yang luar biasa… Jangan sampai ketika Pemerintah mencanangkan wajib makan makanan lokal seperti jagung, singkong…, ternyata jagung dan singkong itu impor dari negeri tetangga…  Mungkin slide paparan pak Ernan yang satu ini memang perlu kita renungkan…. Slide ini petikan pidato Bung Karno, Bapak Bangsa kita, Proklamator kita, saat beliau meresmikan Gedung kampus IPB yang di Baranang Siang..

JAYA LAH IPB KITA…***