Sate Karang…

Ini cerita tentang kunjungan yang dilakukan pertengahan April 2014… Udah lama yaaakkk….  Iya niyy teman-teman, hampir 3 tahun aku sibuk dengan pekerjaan dan melakukan banyak perjalanan, tapi banyak juga yang belum ditulis..  Ini sedang diusahakan menulisnya satu per satu… Agar bisa berbagi cerita dan informasi…, dan siapa tahu ada yang nawarin buat travelling turs nulis… Hahahaha… Amiin… 😀

So, apa ceritanya niyyy  si sate Karang…?

Diriku mengenal sate karang kira-kira 14 tahun yang lalu… Lamenye sudaahhhhh…. cakap Melayu  Saat itu aku lagi sekolah di Yogya, kost di Pogung, dan berteman dengan Anna, yang juga berasal dari Pekanbaru, Mimi, teman kuliah S1 Anna, dan Veni Moenif, our rantang…  Kami biasa pergi makan malam bareng, terutama nge-capjay di Jl. Kaliurang di sekitar Graha Saba..

Suatu malam, gak lama setelah magrib.. Anna dan Mimi datang ke tempat kost, terus bilang, “Kak Sondha, makan sate kerang yuukkk” (demikian pendengaranku menangkapnya saat itu).  Begitu aku mengiyakan ajakan mereka, kami pun keluar rumah, dan menjemput Veni di kos-kosan.  Anna menggonceng Veni.  dan Mimi bilang dia aja yang bawa motorku, karena aku gak tahu lokasinya..  Btw, itu bukan motorku.., itu mootor pinjaman dari adik ku David, dink…😀.  Saat itu aku herannya, kenapa Mimi bilang aku gak tahu lokasinya yaa.. Bukannya sate kerang sepertinya ada dekat jembatan sebelum Hotel santika..   Tapi karena berpikir mereka tahu tempat makan yang baru, aku manut aja…

Tapi ternyata jalannya enggak ke arah tugu…  tapi ke arah selatan Kota Yogya…, yang lama-lama ngebingungin aku..  Aku kehilangan orientasi… Secara udah malam, gelap…  Aku lalu nanya ke Mimi, emang mau keman siyyy.. Dengan nyebelinnya, Mimi bilang, “Diam aja lah, kak.. Pokoknya enak…”   Bussseeetttt daaahhhh…. 😀

Tapi saat aku amat-amati, kok sepertinya kami itu di Kota Gede yaa..  Karena ada beberapa bahagian jalan di  Kota Gede yang khas, dan aku ingat..  Saat aku tanya lagi, apa kami mau ke sate kelatak, Mimi  sambil ketawa-ketawa bilang bukaann… Sepertinya dia menikmati kebingungan ku… Aseeeemmmmmm….

Setelah naik motor sekitar 30 menit… Jauh euyyyy… motor akhirnya dihentikan.. Di pinggir lapangan… Bikin diriku makin bingung, dan bertanya-tanya, apa iya ada jual seafood di pojok negeri dalam gelap gulita begini… Hehehehe…  Aku akhirnya nanya sama Mimi dan Anna, kami ini sedang dimana, dan mau makan apaan…

Sate KarangBocah-bocah gendeng itu sambil senyum-senyum bilang, “Kak Sondha, ini di pinggir lapangan di Kota Gede.  Kita mau makan sate Karang… ” Oaaalllaaahhhhhh…. Salah dengar…, aku pikir sate kerang… 😀

Aku lalu bilang, apa hebatnya siyy niyy sate sampai dibela-belain pergi jauh-jauh naik montor, malam-malam pula…  Para bocah gendeng itu bilang, ayo dicoba aja…😀 Yoo wissss, aku nurut aja… Juga pesanannya apa, aku nurut ajaaaa…

Kami lalu duduk di tikar di pinggir lapangan.., tanpa atap.. Klo ujan, ya sudah kehujanan…  Aku lalu mengamati.., di pinggir lapangan, gak jauh dari tempat kami duduk, ada 3 buah gerobak.. Yang satu gerobak tukang sate, lengkap dengan bara buat bakar sate..  Yang satu aku lihat sepertinya tukang lontong…, soalnya sibuk motong-motongin lontong daun.. Gerobak yang satu lagi jual wedan ronde…

Saat makanan yang dipesan, dihidangkan, aku terheran-heran.. Kok banyak banget piringnya… Ada yang isinya sate, ada yang isinya lontong dengan kuah lodeh tempe..  Juga ada wedang ronde… Aku nanya sama para bocah gendeng, kenapa mesannya banyak banget..  Kan gak semua harus makan sate trus makan lontong juga… Kesannya kok kita kaum gembili banget….😀 Para bocah gendeng itu ngakak… Mereka lalu menjelasakan klo itu lah istimewanya Sate Karang…  Sate dihilangkan dengan lontong yang disiram sayur lodeh… Oaalllaahhhh…. Ngono toohhh…

Tapi memang rasa satenya enak… Dagingnya lembut dan bumbunya juga berasa.. Lontong daunnya juga lembut, kuah lodehnya lumayan enak…  Buat orang Sumatera, yang makanannya biasa berbumbu, lodeh ala Jawa yang bumbunya tipis, memang tak terlalu istimewa…   Tapi karena unik, Sate Karang ini jadi selalu terkenang-kenang.. Apa lagi saat pertama kali, kayak dibawa kemana gitu…😀

So, karena selalu terkenang-kenang, setelah kembali ke Pekanbaru di akhir tahun 2001, dan lumayan sering ke Yogya, aku kadang terpikir juga untuk kembali menikmati Sate karang..  tapi baru dua kali kembali ke sana..  Sekitar akhir Maret Tahun 2011, dan Pertengahan April 2014..

Akhir Maret Tahun 2011, aku pergi lapangan di Kota Gede itu dengan Ika dan Ika, staff-nya mba Widya Nayati, yang saat itu Kepala Pusat Studi Kebudayaan.  Kami pergi malam hari, khusus ke sana…   Sedangkan pertengahan April, aku pergi dengan salah satu kenalan, sesama peserta rapat, yang berasal dari Pontiianak, dan kami perginya sore hari…  Pada tahun 2014, tempat duduk pembeli sate udah dikasi terpal…, sehingga kalau hujan ndak kehujanan…  Tahun 2011, seingatku belum..

Oh ya, berapa harga se porsinya aku sudah gak ingat… Gak nyatat…😀

Bagi teman-teman yang mau ke sana…, gak usah bingung… Ada banyak petunjuk jalan menuju Kota gede dari Pusat kota Yogya.. Sampai di Kota Gede, teman-teman tinggal tanya dimana Lapangan Karang.. Tapi ya itu… Nyarinya jangan siang2.. Satenya jualan sejak sore hari, sekitar jam 17-an, sampai malam…

Selamat berburu Sate Karang…

Anna, Mimi dan Veni, para bocah gendeng (saat itu), I miss you so much… ***

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s