Veni Moenif…

Sore ini waktu buka YM, Tati mendapati offline message dari Veni Moenif. Isinya “Tati, V kangen”.. Sebelumnya tanggal 19 November Veni ngedrop comment di posting “A Morning Call“.

Commentnya…. :
Tanteeeeeeeeeeeee v mau protes!!! KAyanya yang jalan kaki bareng tante ga cuma mbak Ana aja dyeh, tapi pengutil setia tante yang satu ini juga ngekor: VENI. Jalan ke Parangtritis ama ponakan tante tersayang Parlin juga v ngikut. Tante tegaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Siapa sih Veni…? Waduh cukup susah juga menguraikan hubungan kita… Ok, let me tell u from d beginning..

Waktu kuliah di Program Studi Penginderaan Jauh UGM tahun 1999 – 2001, Tati berkenalan dengan Anna, anak Pekanbaru yang kuliah di Program Studi Lingkungan UGM. Baik Penginderaan Jauh maupun Lingkungan sama2 dikelola oleh Fakultas Geografi. So kita sering ketemu di kampus.. Secara kita berasal dari kota yang sama, meski beda generasi (beda umur hampir 7 tahunan) kita jadi berteman deh.. Apalagi ternyata tantenya Anna (adik Maminya Anna) adalah teman satu sekolah Tati di SMP 4 Pekanbaru. Mana kost2an kita deketan pula, sama2 di daerah Pogung.

Akrab dengan Anna membuat Tati jadi berteman juga dengan teman2 Anna, antara lain Mimi (dimana kamu sekarang, Non?). Suatu hari Tati main ke tempat Anna, di situ ada saudaranya Anna, sepupu tapi gak lagsung, perempuan masih muda banget, anak Pekanbaru juga dan lagi kuliah di YKPN. Dia dititipin buat tinggal di kostan Anna karena tempat kostnya sering jadi tempat nongkrong teman2nya, sehingga akhirnya menimbulkan rasa tidak nyaman.. Waktu ketemu, mula2 dia manggil Tati dengan mbak, sebagaimana dia memanggil Anna.

Setelah ngobrol beberapa waktu, anak itu bilang : Mbak, kayaknya saya sering lihat mbak sebelum ini. Wajah Mbak itu gak asing buat saya. Tapi gak tau dimana kita pernah ketemu.

Tati : Dimana ya..? Kamu tinggal dimana di Pekanbaru?

Si anak perempuan : Di daerah Beringin Indah.

Tati : Waduh, saya jarang tuh ke situ. Ada sih beberapa kenalan di situ. Kamu dulu SMA berapa di Pekanbaru?

Si anak perempuan : SMA 1.

Tati : Tamat tahun berapa? Soalnya ponakan saya pada sekolah di situ juga.

Si anak perempuan : Tamat tahun 1999.

Tati : Kamu kenal Parlin, gak ?

Si anak perempuan : Ya ampun.. Mbak itu tantenya Parlin, ya? saya seangkatan dengan Parlin. Bahkan setelah penjurusan dan masuk IPS, saya mainnya dengan Irawan, sahabat Parlin. Mbak sering ke sekolah, kan ya? Pernah ngambil rapor Parlin, juga kan ya? Pantes rasanya gak asing… Ya udah kalo gitu saya panggil Tante aja ya…

Si anak perempuan itu lah Veni.., ponakan Tati yang baru nemu di Yogya.. Hehehe. So Veni akhirnya jadi bagian pertemanan Tati dengan Anna. Istilahnya Veni, si penguntil.. suka nguntilin kita kemana-mana.. Ya, acara jalan pagi.. ya acara nyari capjay (CAPJAY, CAPJAY, CAPJAY saudara2, bukan CAPCAY. Ini istilahnya orang Jawa bilang Capcay.. aneh ya…) di trotoar jalan Kali Urang di samping Gedung Graha Saba, ya acara jalan2 ke Parang Tritis.. Selalu ada Veni.. Sampai kita bosan dikuntilin anak kecil yang ingusan… Hehehe.. Enggak dink sayang… Tante dan mbak Anna senang kok ada kamu di sekitar kita.. membuat kita merasa muda sekaligus menjadi emak2.. Hehehehe..

So, waktu Parlin datang berlibur ke Yogya, kalo jamnya Tati kuliah.., Parlin disuruh main aja dengan Veni… Aman khannnnnnn…..

I love U, Veni.. I miss U a lot, baby… I miss the time we shared….***

Vitamin Hati…

Ini cerita yang telat diposting.. Kesibukan kerja membuat Tati belum sempat menulis tentang yang satu ini.. sesuatu yang nulisnya membutuhkan keseriusan… Cerita tentang apa siyyyy?

Tanggal 12 November yang lalu, Tati mengikuti training Mission Statement, training lanjutan dari Emotional Spiritual Question (ESQ).

Di sessi awal, setelah dikelompokkan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang, Tati dan teman2 ditugaskan membuat visi misi dan nilai yang dianut di perusahaan yang kita kelola. Kita kebetulan dapat tugas sebagai pengelola perusahaan produsen jam.. Setelah membuat visi misi dan nilai perusahaan, masing2 kita disuruh membuat visi misi dan nilai2 pribadi.. Nah Tati kebagian sebagai seorang penghatur lalu lintas.. Waduuuuuuuhhhhhhh gak gatuk banget… Bayangkan, sebagai pribadi Tati punya visi sebagai seorang pengatur lalu lintas, tapi bekerja sebagai pengelola perusahaan jam… Weleh weleeeeeeehhhhhh…

Tapi sebenarnya, yang kayak gini sering kali menjadi realita hidup kita… Visi pribadi kita gak sama dengan visi institusi tempat kita bekerja… Akibatnya kita seringkali gak betah bekerja.. Tapi menurut arahan trainer, kedua hal yang gak gatuk ini harus digatukkan… Sebagaimana kita harus menempatkan visi kita sedemikian rupa sehingga jadi selaras dengan visi institusi tempat kita bekerja…

Lalu, kita di suruh nulis visi, misi dan nilai2 yang kita anut.. Honestly.. Tati lama gak bisa menulis.. karena ada banyak visi dan misi di kepala, tapi rasanya itu hanya bagian2 dari sesuatu yang justru Tati gak mampu mengungkapkannya… Di dalam diri ada visi untuk menjadi anak yang baik bagi orang tua, menjadi adik dan kakak yang baik bagi saudara2, menjadi Tati, Bou dan Wowo yang baik bagi para ponakan.. Lalu dari segi pekerjaan sebagai government staff alias civil servant alias pengabdi masyarakat, dan sejalan dengan pendidikan yang telah diambil, Tati juga punya visi , misi dan nilai sendiri.. Rasanya itu semua merupakan bagian dari visi misi dan nilai yang lebih makro… Trainernya akhirnya mengingatkan bahwa setiap kita sebenarnya punya ultimate vision, mission and value.. Vision, mission and value yang spritualistis.., sesuai dengan janji ruh kita pada Alloh saat ditiupkan ke dalam tubuh kita saat berada dalam rahim ibu..

Kita juga disuruh menulis apa yang menjadi tugas kita.. Baik itu pekerjaan di kantor ataupun pekerjaan di rumah tangga.. Lalu setelah selesai menulis, kita disuruh mengamati tulisan kita tersebut dan mencari apakah ada di tulisan kita tersebut kata2 yang mengandung unsur Asma’ul Husna, seperti membantu, mengurus dll. Dan ternyata ada dan ada.. Ini sebenarnya menggambarkan bahwa kita adalah hamba Alloh, hamba yang bertugas melakukan berbagai pekerjaan yang mengandung sifat2 Alloh..

Lalu ada sessi yang kita bisa merasakan diri seakan2 sedang naik jetcoaster.. Di sessi ini kita bisa merasakan, bahwa kita harus menyesuaikan diri pada saat jetcoaster belok, menanjak maupun meluncur.. Menyesuaikan diri tanpa keluar dari track. Hal ini adalah upaya menyesuaikan diri dengan G-Force atau Gaya Gravitasi. Melawan Gaya Gravitasi justru akan membuat tubuh terasa lebih berat.. So, katanya begitu juga dengan hidup… saat kehidupan kita berbelok, menanjak dan meluncur, kita harus menyesuaikan diri terhadap God-Force yang sedang bekerja terhadap diri kita. Kalau kita bergerak ke arah yang bertentangan, hidup justru akan terasa lebih berat… Adapun belokan, tanjakan dan turunan merupakan cara Alloh untuk mengingatkan hamba-Nya agar tetap berjalan di track yang sudah ditetapkan. So, ungkapan LIFE IS LIKE A JETCOASTER itu benar, ya…? Jadi ingat kata2 si Forrest Gump… “Life is like a box of chocolate. You never know what You’re gonna get..” Apa hubungannya.. Hehehe…

Di training ini juga dibahas mengenai keikhlasan dalam bekerja.. Keikhlasan fisik, keikhlasan emosional dan keikhlasan spiritual… Kita harus berupaya supaya bisa sampai pada tingkat ikhlas spiritual, sehingga bila kita tidak mendapat imbalan fisik dan emosi yang pantas, kita tidak merasa mutung dan putus asa, karena kita yakin Alloh akan menyediakan imbalan yang jaaaauuuuuhhhhh lebih besar dari apa yang manusia lain bisa berikan buat kita. Kita juga dikasi suatu pemahaman bahwa bekerja berarti beribadah.., diberi tanggung jawab dalam bekerja berarti diberi kesempatan untuk beribadah..

Training yang dibimbing oleh Pak Legisan Sugimin ini telah memberikan suatu perspektif yang berbeda tentang hidup.. , sesuatu yang terlepas dari pemahaman Tati selama ini. Alhamdulillah. Training ini juga memberikan beberapa jawaban atas pertanyaan yang selama ini seringkali bergema di hati… Makasih ya Pak Legisan. Mudah2an persepsi yang baru ini bisa Tati terapkan dalam hidup… , sehingga mampu meraih MY ULTIMATE VISION. Amin Ya Rabbal Alamin.***

Ibu di Yogya…

Sabtu 24 November 2007 sekitar jam 20an.. Tati, kak Lintje dan Kak Iye jalan ke Mal SKA.. Ceritanya pengen nyari makan malam ke Solaria, one of our favorite restaurant.. Begitu masuk.., di lobby depan kami berpapasan dengan kak Effi, suaminya bang Rizka Nasution dan kedua anaknya. Kita langsung saling menghampiri dan bersalaman memohon maaf lahir bathin, secara belum ketemu sejak Idul Fitri..

Habis salam2an, kak Effi bilang.. : Ndha, ibu tuh ingat kamu terus lho.. Yang diomongin tuh kamu terus.. Kata Ibu dia belum dapat anak kost yang kayak kamu lagi..

Tati : Iya kak. ‘Ndha juga sering kangen sama Ibu. Makanya waktu malam lebaran ‘ndha telpon ibu, tapi gak ada yang angkat telpon. Ternyata ibu, Bapak pergi sama kak Effi dan keluarga liburan ke Malang, ya?

Kak Effi : Iya ‘ndha. Di Pekanbaru lebarannya kan hari Sabtu, di Yogya hari Jum’at. Kami jalan2 rame2 setelah sholat Ied. Jadi waktu ‘Ndha nelpon kami udah gak di rumah.

Setelah ngobrol sana sini.. Tati cs bepisah dengan kak Effi dan keluarga..
Siapa sih kak Effi, siapa Ibu yang dibilangin kak Effi?
Kak Effi adalah putri bungsu Bapak dan Ibu Suhaimi, yang rumahnya menjadi tempat kost Tati waktu di Yogya. Tati tinggal di rumah Bapak dan Ibu Suhaimi selama 2 tahun, dari Januari 2000 sampai dengan Desember 2001.

Ceritanya, setelah beberapa bulan kuliah di Yogya, Tati ketemu dengan Hendrizal, teman sekelas Tati waktu SMP. Hendrizal waktu itu baru saja menyelesaikan S2 dan akan segera kembali ke Pekanbaru. Hendrizal menawarkan Tati untuk pindah kost ke rumah Bapak dan Ibu Suhaimi, yang orang Riau tapi mengisi masa pensiunnya dengan menetap di Yogya. Di Pekanbaru, rumah orang tua Hendrizal bersebelahan dengan rumah Bapak dan Ibu Suhaimi.

Tati lalu menemui Ibu Suhaimi, memohon agar beliau berkenan menerima Tati untuk jadi anak kost di rumahnya. Alhamdulillah ibu Suhaimi berkenan, jadilah Tati menghuni kamar kost yang berada di paviliun rumah Ibu..

Gak lama.. ternyata Tati dan Ibu Suhaimi malah jadi dekat.. Secara Bapak Suhaimi sering keluar kota karena beliau punya pekerjaan di luar kota bersama teman2nya sesama pensiunan, jadi Ibu Suhaimi tinggal di rumah sendirian. Mungkin karena Ibu Suhaimi sendirian di rumah, dan Tati juga jauh dari keluarga, kita jadi suka ngobrol kalo Tati ada waktu luang.. Dan Ibu paling seneng kalo ditemanin nonton TV.. Ibu juga sering banget nganterin sarapan semangkuk bubur Menado ke kamar Tati. Bubur Menado buatan Ibu enak banget… Tati jadi kangen sama Ibu Suhaimi..

Ibu dan Bapak Suhaimi percaya banget sama Tati. Bukan satu dua kali, Tati ditinggal di rumah berbulan2, sementara Bapak dan Ibu pulang ke Pekanbaru. Tati juga sering dilibatkan di kegiatan keluarga Bapak dan Ibu Suhaimi. Pernah Tati diajak berkunjung ke rumah besan Bapak dan Ibu di Solo. Kata Bapak supaya Bapak bisa gentian nyetir sama Tati kalo Bapak capek. Kali lain, Tati juga kebagian tugas nganterin kak Eva (anak ibu yang nomor 3 yang menetap Amerika) wara wiri mencari berbagai keperluan. Kali lain, Tati diajak ikut jalan2 dengan Ibu dan kakak2 yang lagi berkunjung ke Yogya. Bahkan telepon diparalel ke kamar Tati… So, kalau ada telepon, seperti yang dikatakan Ibu sebelumnya, Tati dulu yang angkat supaya Ibu Suhaimi gak mesti lari2 ngejar telepon.. Kalo teleponnya buat Ibu, baru deh Tati kasi tau ke Ibu di rumah induk. Asyik banget gak siyy tempat kostnya…?

Ibu juga peduli banget sama Tati, bahkan cenderung protektif ke Tati. Ibu Suhaimi beberapa kali bilang, “Saya gak ngerti sama kamu ‘Ndha. Kamu dari muda udah keluar rumah, sekolah di Bogor, kerja di Jakarta, bertahun2 kost, tapi pikiran kamu tuh tetap lugu. Kamu orangnya polos banget.. Saya gak ngerti, kok semua perjalanan kamu gak merubah kepolosan kamu. Saya kadang takut orang akan menyakiti kamu.” Masa sih Sondha sepolos itu, Bu?

Lalu ada masa dimana Ibu Suhaimi mencoba menjaga Tati yang beliau anggap terlalu polos…

Tati terbiasa hidup berteman bertahun2, namun Alhamdulillah gak ada teman yang aneh2. Tati jadinya berpikir bahwa teman2 Tati di Yogya pun seperti itu. So, Tati gak pernah berpikir jauh dengan jadwal bertamu teman2.., they could come to my place anytime. Mana Tati biasa nerima teman2 di kamar karena memang pintu paviliunnya langsung menghadap jalan. Karena kamarnya berfungsi ganda, Tati menatanya sedemikian rupa, bed-nya lebih berkesan seperti amben.. Jadi gak berkesan kamar tidur.. Tapi Ibu keberatan dengan teman laki2 yang suka datang sendiri berlama2, dan terkadang datang setelah magrib dan baru pulang setelah hampir jam 10 malam. Tati gak mikir jauh, dan juga gak bisa menolak kedatangan teman tersebut karena sering kali teman itu datang buat ngurusin keperluan Tati juga siyy.. Lagian Tati rasanya kenal baik dengan teman Tati itu, dan yakin kalo dia benar2 care dengan Tati dan gak akan berbuat buruk terhadap Tati. Tapi ibu tidak berpendapat demikian.. Ibu lalu mengajak Tati berbicara dari hati ke hati…

Ibu Suhaimi: ‘Ndha, saya keberatan dengan jadwal berkunjung teman kamu.

Tati : Tapi teman saya datang pasti ada perlunya, Bu. Dan kita gak ngapa2in kok. Ibu percaya deh sama saya, saya gak punya pikiran yang aneh2. Lagian saya punya prinsip untuk mejaga kepercayaan yang udah diberikan orang tua saya. Saya gak ingin menyalahgunakan kebebasan yang sudah diberikan orang tua saya sejak saya sekolah ke Bogor, Bu.

Ibu : Saya percaya dengan kamu, Ndha. Tapi saya gak percaya dengan orang lain, saya gak percaya dengan setan yang bisa menggoda manusia. Dan di agama juga sudah dibilang, laki2 dan perempuan itu gak boleh berdua2an, karena yang ketiga adalah setan. Ibu minta kamu mengerti.

Tati : Tapi Bu, saya gak bisa melarang teman saya buat datang.

Ibu Suhaimi : Apa perlu saya yang ngomong dengan teman kamu?

Tati : Jangan, Bu. Teman saya kan urusannya dengan saya, bukan dengan Ibu. Rasanya gak pantas kalo Ibu yang bicara dengan dia. Tapi saya bingung, bagaimana ngomongnya, Bu? Kok kesannya saya menyangsikan itikad baik teman saya terhadap diri saya.

Ibu Suhaimi : Pokoknya kamu harus ikut aturan saya. Kalo tidak, silahkan kamu cari tempat kost lain. Jangan pikir, saya jahat ke kamu. Tapi justru karena saya sayang dengan kamu seperti anak saya. Kalo kamu mau jalan di luar aturan agama, dan suatu saat tergelincir, lebih bagus tidak terjadi di depan mata saya. Saya gak tahu bagaimana nanti mempertanggungjawabkan pada keluarga kamu kalo sesuatu yang buruk terjadi pada kamu. Ngerti ?

Tati sempat bingung juga.. Malah sempat nyari kost lain.. Tapi waktu Tati telepon kak Lintje, kak Lintje gak setuju Tati pindah, karena menurut kak Lintje apa yang dilakukan Ibu Suhaimi itu adalah benar. By the time, Tati juga akhirnya bisa menerima aturan Ibu Suhaimi, apalagi setelah Tati membaca buku2 agama. Sikap terlalu percaya diri akan mampu menjaga diri adalah sikap yang angkuh.. padahal kita tahu setan jauh lebih pintar dan licik dari kita..

Ibu, terima kasih sudah menjaga Sondha dengan cara yang luar biasa.. Ibu benar2 telah bersikap sebagai seorang ibu buat Sondha..

Setelah Tati selesai sekolah dan pulang ke Pekanbaru, Tati beberapa kali ketemu dengan Bapak dan Ibu di rumah kek Effi. Ibu Suhaimi selalu bilang, kalo ke Yogya jangan nginap dimana2. Harus di rumah Bapak Ibu, karena itu udah jadi rumah kamu juga. Buat Bapak dan Ibu, kamu itu udah jadi anak Bapak dan Ibu yang nomor 6.

Bulan Mei 2006, Tati ada pelatihan ke Yogya. Waktu Tati ngasi tahu Bapak dan Ibu kalo Tati mau ke Yogya ternyata Ibu Suhaimi lagi di Semarang, di rumah kak Titin (anak ibu yang nomor 2). Tapi ibu ngotot Tati harus nginap di rumah.. Jadi nginaplah Tati di
rumah.. Bapak, seperti juga Ibu, memperlakukan Tati seperti anak sendiri.. Tiap pagi Bapak nganterin Tati ke kampus FMIPA UGM tempat Tati pelatihan. Sebenarnya Bapak Suhaimi nyuruh Tati bawa sendiri mobil beliau, tapi Tati gak mau. Eh Bapak malah ngotot nganteri tiap pagi. Malah mau menjemput segala.. Tapi gak bisa lah.. kan Tati habis pelatihan mau pergi main dengan teman2. Hehehe..

Tadi pagi.. Tati menelpon Ibu.. 0274 561 dst dst.. Setelah terdengar 2 kali nada panggil, terdengar suara Ibu Suhaimi..

Ibu Suhaimi : Assalammualaikum..

Tati : Waalaikum salaam. Ibu apa kabar?

Ibu Suhaimi : Siapa ini?

Tati : Sondha, Ibu. Ibu apa kabar?

Ibu Suhaimi : Ya ampun, Sondha.. Ibu kangen sama kamu. Kalo ngobrol sama kakak2 dan abang, pasti yang ibu omongin itu kamu terus. Enggak tau ya.., rasanya kamu tuh udah jadi anak Ibu.

Tati : Iya, Bu. Sondha juga kangen dengan Ibu. Waktu malam lebaran ‘Ndha telepon Ibu, tapi gak ada yang angkat. Kata kak Effi, Ibu dan keluarga liburan ke Malang.

Ibu Suhaimi : Iya, ‘Ndha. Karena semua kumpul jadi kita sekalian piknik aja.

Tati : Tadi malam ‘Ndha ketemu kak Effi dengan Bang Rizka dan anak2 di Mal SKA. Kak Effi cerita.

Ibu Suhaimi : Kapan kamu ke Yogya, ‘Ndha. Datang lah.. Jangan nginap dimana2, nginap di rumah. Ajak kak Lintje liburan ke sini… Biar kita ketemu dan ngelepas kangen.

Tati : Iya, Bu. Mudah2an ada rezeki, ‘Ndha bisa ngunjungin Ibu dan Bapak, ya.

Kita lalu ngobrol wara wiri untuk beberapa waktu.. Tati jadi semakin kangen dengan Ibu.. Air mata mulai merebak di pojok mata… ***

Ketemu Artis…???

Masih hasil beres2 rak buku minggu lalu.. Selain menemukan koleksi quotations, Tati juga menemukan sebuah album kecil yang udah tua, bergambar boneka di sampulnya.. Sewaktu tati melihat2 isinya… Ya ampyun…. Foto2 jadul banget… Foto2 Tati zaman SD, sekitar kelas 5 alias usia 10 – 11 tahun.. Itu foto2 Tati dengan beberapa artis waktu mereka berkunjung ke Pekanbaru… Dakyu waktu kecil ternyata sama aja dengan anak2 lain, tergila2 dengan sosok yang kerap muncul di TV, film atau cassette.. , dan hobby banget minta tanda tangan atau foto bareng kalo mereka berkunjung ke Pekanbaru..

Di album itu terlihat foto Tati dengan Chicha dan Helen Koeswoyo saat mereka show di Pekanbaru, ada juga foto Tati dengan oom Darto Helm dan Oom Diran. Mereka berdua yang sudah almarhum ini adalah pelawak dari group Bagio Cs. Ada juga foto Tati dengan almarhum Melky Goeslow, ayahnya Melly Goeslow.. Tapi yang paling lucu dan mengundang tawa… ternyata Tati punya foto bersama Arafiq..

Generasi yang lahir di akhir tahun 70-an dan setelahnya mungkin gak kenal dengan nama ini.. Tapi generasi Tati yang pada akhir tahun 70an selalu disuguhi acara “Manasuka Siaran Niaga” setiap jam 18.30 dan 20.30 di TVRI, rasanya gak ada yang gak kenal dengan nama ini… Arafiq adalah penyanyi dangdut pria terkenal di zaman itu.. Beliau kalo nyanyi, selalu tampil dengan kemeja yang full press body plus celana bell bottom aliat cut brai… Udah gitu kalo nyanyi gayanya… hmmmmm telunjuknya selalu bergerak2 lengkap dengan lirikan mata yang assssoooooyyyy… Mana lokasi nyanyinya selalu di taman bunga pulaaaa… Haaaallllaaaahhhhh…..!!! Dangdut habis… Mana beliau juga berwajah india pula… Lengkap laaaahhhh!!!! Kalo zaman sekarang, barang kali Arafiq tuh bisa dianggap Sharuhkhan-nya Indonesia kaleeeeeee yaaaa….?

Kok bisa2nya Tati fotoan dengan beliau? Secara Tati kan gak demen sama lagu dangdut kecuali “Kopi Dangdut” dan “Lagu Baru” dangdut ala KLa Project? Tati ketemu dengan Arafiq karena diajak oleh Tante Iwan, sepupu ibu. Ceritanya rumah Atuk (kakek) Aim, ayah Tante Iwan berlokasi di pojokan Jl. Kesehatan dengan Jl. Guru, persis di depan Lapangan Kampung Bukit di daerah Senapelan, Pekanbaru ini. Nah kalo gak salah, Arafiq ini punya hubungan keluarga dengan tetangga sebelah rumah Atuk Aim, sehingga Tante Iwan dan saudara2nya waktu muda berteman baik dengan Arafiq. So waktu Arafiq berkunjung ke Pekanbaru di akhir tahun 70an, saat Arafiq udah terkenal, Tante Iwan dan keluarganya ketemuan dengan Arafiq.. Nah Tante Iwan yang baik hati dan tau persis kalo Tati kecil demen ngumpulin tanda tangan artis, langsung deh ngajak Tati kecil buat ikutan ketemu dengan Arafiq si penyanyi dangdut terkenal..

So.. Tati dapat deh tuh tanda tangan Arafiq.. Sempat fotoan juga.. Tapi buku yang berisi tanda tangan Arafiq seperti juga tanda tangan para artis dan orang terkenal lain yang jadi koleksi Tati udah gak tau dimana.. Sayang ya… Kan lucu juga kalo masih tersimpan dengan baik.. Bisa jadi kenang2an buat anak cucu.. Hehehe.. Yang tersisa dan masih bias dinikmati ya foto2 ini.. Silahkan juga teman2 nikmati ya… Semoga bisa membuat kalian tersenyum….


Btw.. kalo umur segini masih mau gak ya ngejar2 orang terkenal….? Mungkin masih juga kali ya, kalo emang orang itu mewarnai hidup kita dengan cara yang luar biasa…. Iya, kenapa enggak.. ? Yang jelas, kalo “Mengejar Mas Mas” seperti judul salah satu film Indonesia, kayak gak lah ya…! Eh, tapi kalo Mas2nya ok, dalam artian punya pribadi yang baik, religious, punya wawasan yang luas dan bisa ngemong pula… , gimana???? Haaaayyyyyooooo…..? Gimana…? Mau juga kali yaaaa… Heheheeee…..
***

Fave Quotation…

Hari minggu kemaren diisi dengan beres2 buku. Setelah berbulan2 buku2 yang dibeli beberapa bulan terakhir hanya ditumpuk2 di pojok kamar.. Sebenarnya rak buku tua yang di kamar ini (dibeli saat Tati kelas 2 SMA, jadi lebih kurang 23 tahun yang lalu…!!!), masih bisa menampung buku2 tersebut, cuma emang dasar Tatinya aja yang gak pandai ngatur waktu buat nata2.. hehehe..

Waktu beberes, Tati menemukan phonebook tua.. Di dalamnya ada potongan2 kertas yang memuat quotations koleksi Tati zaman dulu kala.. Biasanya dikutip dari buku2, majalah atau kartu2 ucapan..

Ini salah satu quotation favorite Tati… Tapi Tati gak tau siapa yang menulis quotation yang indah dan inspiring ini….

Take time to work
It’s the price of success
Take time to think
It’s the source of power
Take time to play
It’s the secret of youth
Take time to read
It’s the foundation of wisdom
Take time to friendly
It’s the road to happiness
Take time to dream
It’s hitching your wagon to a star
Take time to love and to be loved
It’s the privilege of the God
Take time to look around
It’s too short day to be selfish
Take time to laugh
It’s the music of the soul…

A Morning Call…

Pagi2.. tidit tidit tidit.. hp Tati berdering…
Tati ngelirik jam dinding di seberang tempat tidur.. Jam 06.30 Waktu Indonesia Bagian Pandau..
Tati meraih hp yang terletak di samping tempat tidur. Di screen terlihat “ICAL”.. Waduh telepon dari jauh niyyy.. Tati langsung nekan tombol answer.. Lalu…,

Tati : Assalammualaikum, Ical. Apa kabar ?
Ical : Waalaikum salaam. Mbak Sondha…, punya teh anget gak…?
Hehehe… Ucapan Ical jadi bikin Tati kembali ke masa2 di Yogya..

KKL PJ 1999, Pantai Selatan @ DIY Agustus 2000

Apa lagi minggu pagi begini… Minggu pagi di Yogya biasanya diisi dengan kegiatan2 santai tapi asyiiikkkk banget… Apa aja….?
Biasanya, dimulai dengan acara jalan kaki pagi dengan Anna, mulai sekitar jam 05.30 sampai jam 06.30.. Lalu setelahnya.. kegiatannya bisa macam2… antara lain : nyari Kompas Minggu dan sarapan pagi di warung2 lesehan yang tersebar di sekitar Graha Sabha atau kalo lagi pengen sarapan gudeg, ya ke gudeg bu Ahmad yang di pinggir selokan utara.. Alternative lain…? Bersama Anna, bawa ransel yang berisi buku dan koran, lalu naik motor ke Pasar Kranggan, bela beli kue basah (di sini banyak banget yang jual kue basah di pagi hari, murah2 pulaaa !!!), lalu kita bergerak ke arah selatan Kota Yogya.. Kemana? Ke Parang Tritis… Asyiiiikkkkkkkk banget, membaca diiringi suara debur ombak sambil menikmati matahari pagi di atas pasir putih pluuuuuuuussssss… ditemani setumpuk makanan… Kita biasanya baru ngabur dari pantai setelah pasir terasa panas.. sehingga harus lari2 menuju motor yang diparkir dekat pintu masuk kawasan pantai.. Panas pasirnya bener2 panass… apalagi biasanya kita tuh cuma pakai sandal jepit… Hehehe..
Jadi kangen Yogya… Hmmm… air mata kayaknya mulai nitik niiihhhhh..

Back 2 now…

Ical yang dosen di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin ternyata lagi di Gorontalo. Dia sekarang banyak dapat kerjaan di Gorontalo, sehingga sering bulak balik Makasaar – Gorontalo. Pagi2 begini, karena bengong, dia jadi menelpon beberapa teman lama.. Tati adalah orang yang keempat yang ditelpon.. Sebelumnya Ical udah nelpon Wiwik, teman sekolah kita yang dosen di Universitas Tanjung Pura dan menetap di Pontianak..

Tati jadi ngobrol deh ama Ical pagi2.. bertukar cerita.. dan saling mengingatkan tentang berbagai hal… Ical kayaknya ingin segera melanjutkan studinya, dan dia nanya kapan Tati mau nerusin sekolah… Tati masih punya keinginan sih buat nerusin sekolah.., tapi kayaknya saat ini ada hal lain yang menjadi proritas lebih dulu…

Senang rasanya di telpon teman lama… Rasa memiliki seorang sahabat yang tetap perduli dan menjaga persahabatan meski sedang berada entah di belahan mana dunia, menimbulkan rasa bahagia.. Memberi kilasan warna yang cerah dalam hidup..

Makasih, Ya Cal… Mudah2an keinginan kamu segera tercapai, dan kamu serta keluarga selalu dalam lindungan Allah. Amin Ya Rabbal Alamin.

Di Suatu Perjalanan…

Kamis, 15 November 2007…

Tenggat waktu untuk penyampaian rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tempat Tati bekerja sudah mendekati batas waktu. Sebagai staff, Tati ditugaskan membantu budgeting beberapa unit kerja. Tati harus mengecek data2 yang sudah dientry ke system oleh adik2 yang bertugas untuk itu.. Dari siang Tati melakukan pekerjaan tersebut, dan akhirnya selesai juga menjelang jam 22-an..
Lega rasanya.. !!! Kantuk yang tadinya tidak terasa, mulai melanda..

Tati lalu mulai mengemas tas dan laptop, lalu keluar dari gedung kantor… Di luar hari betul2 gelap dan dingiiiinnn… Mungkin karena hujan yang telah berlangsung sejak sore hari.. Rintik hujan masih tersisa , saat Tati melangkah menuju si sparky yang menanti di pelataran parkir… Rasa kantuk semakin melanda.. .

Bayangan tempat tidur dengan selimut hangat, plus segelas teh hangat semakin menari2 di kepala…, Tati rindu rumah yang telah ditinggalkan sejak jam 06.30… Tati rindu kamar Tati.. . Tati rindu menatap lampu tidur yang berbentuk bunga mawar merah di sudut kamar yang selalu menimbulkan rasa nyaman dan hangat… Tati rindu kehangatan yang setiap malam hadir di kamar…, meski hujan, kilat dan petir menari2 di luar rumah.. Tapi malam ini, di sini, di halaman kantor, dunia rasanya dingin sekali….

Setelah menyalakan mesin si sparky, memasang seatbelt dan menyalakan tape yang mengalunkan lagu2 Snada, Tati mulai mengarahkan si sparky keluar dari halaman kantor dan menyusuri jalan Sudirman… Gak jauh dari kantor, di bundaran pesawat terbang, tempat dimana Tati harus berbalik arah menuju jalan pulang, lampu merah menyala.. , sehingga Tati harus berhenti… Tati lalu menatap ke luar ke sisi kanan.. Ada 3 orang anak kecil dengan usia sekitar 9 – 11 tahun, 2 laki2 dan 1 perempuan.. Yang laki2 membawa setumpuk Koran yang dibungkus dalam plastic..

Salah seorang anak tersebut segera menghampiri Tati, dan berkata : “Bu, beli korannya, Bu?” Tati lalu melirik, Koran yang ditawarkan adalah Koran X, yang harganya Rp.1.000,- per eksemplar, yang isinya berita kriminal di daerah ini.. Koran yang selama ini sangat sangat sangat sangat jarang Tati beli…

Tapi rasa ingin tahu membuat Tati menurunkan kaca jendela, dan menyapa..

Tati : Dek, kok jualannya malam2, besok gak sekolah ?
Anak penjual Koran : Sekolah, Bu. Saya masih sekolah..
Tati : Rumahnya dimana?
Anak penjual Koran : Di jalan Kuini, Bu. (Sekitar 2 km dari lokasi dia jualan; Tati)
Tati ; Tapi ini hujan, dek. Nanti sakit, lho..!!
Anak penjual Koran : Gak apa2, Bu. Udah biasa..

Astagafirullah… astagafirullah.. astagafirullah… Mohon ampun Ya Allah…

Tati yang jauh lebih berumur, dengan fisik yang lebih kokoh saja merasakan dingin yang luar biasa.. padahal rasa itu hanya sebentar… hanya menjelang sampai di rumah… Dan insya Allah pada saat sampai di rumah Tati akan segera merasakan kehangatan tempat tidur, selimut dan teh hangat.. Insya Allah semua rasa dingin akan terhapuskan saat mencapai rumah…

Tapi anak yang kecil ini, harus berada di pinggir jalan merasakan dingin malam yang rintik2 setelah hujan berjam2… berteman harapan akan ada yang membeli korannya menjelang malam tengah malam… Dia menepiskan rasa takut akan gelap, rasa dingin, rasa takut akan ada makhluk jahat yang mengintip-intip di sela malam dan mengancam keselamatan jiwanya…

Demi apa..? Demi beberapa ratus rupiah dari setiap eksemplar Koran? Demi uang yang mungkin tidak banyak bagi kita2 yang punya penghasilan..? Untuk apa uang itu? Mungkin untuk membiayai sekolahnya… Bahkan mungkin untuk membantu orang tuanya membiayai kehidupan keluarga…..

Masya Allah…!!!!

Kita (= TATI, TATI, TATI) sering kali tidak bersyukur dengan apa yang ada pada diri kita (= TATI, TATI, TATI).. Selalu merasa hidup kita (= TATI, TATI, TATI) jauh dari cukup…, bahkan hal2 kecil seringkali membuat kita (= TATI, TATI, TATI) merasa hidup kita (= TATI, TATI, TATI) tidak sempurna…

Saat Tati memutuskan untuk membeli korannya, lampu merah berganti hijau.. Tati lalu mengatakan pada anak tersebut..

Tati : Dek, mau nyeberang ke sebelah sana? Ibu mau beli Koran kamu, tapi lambu sudah hijau.
Anak penjual Koran : Iya, Bu. Saya ke sana.

Tati lalu menjalankan si sparky dan melihat anak itu menyusul menyeberangi jalan..

Sampai di seberang jalan, dia langsung mengulurkan korannya, dan Tati mengulurkan uang.. Setelah dia melihat jumlah uang yang Tati ulurkan, dia menatap Tati.
Mengerti arti “tatapan bertanya”-nya, Tati mengatakan : Sudah, dek. Itu buat kamu.

Tahu apa yang dikatakan anak penjual koran tsb?
Anak penjual Koran : Alhamdulillah. Ibu, semoga Allah selalu melindungi Ibu. Semoga Allah memberkahi Ibu dan memberi Ibu rezeki yang berlimpah.. Amin.
Subhanalllah, Maha Suci Allah…, Yang telah menciptakan makluk kecil yang tabah dan memiliki hati yang indah…, meski keterbatasan sedang mengisi kehidupannya.

Sebelum kembali menjalankan si sparky, Tati mengatakan pada anak tesebut : Hati2 ya Nak.. Jaga diri baik2..
Sambil berlari kecil dengan lincah dan riang ke arah lampu merah tempat dia berjualan koran, dia membalas ucapan Tati dengan mengatakan : Iya, Bu. Terima kasih.

Semoga Allah juga selalu melindungi kamu, Nak… Semoga engkau tumbuh jadi manusia yang sholeh, dan jadi penerang bagi keluarga dan orang2 di sekitarmu… Amin Ya Rabbal Alamin.

Suatu perjalanan yang memberi hikmah….. Semoga akan selalu memperkaya bathin Tati untuk merasakan betapa Allah telah memberikan nikmat yang luar biasa berlimpah bagi hidup Tati.***

Kalo Nanda Main Game….

Waktu Tati ke Medan akhir Juli yang lalu… Nanda melihat Tati main Feeding Frenzy di laptop.. Nanda langsung deh minta izin supaya boleh main juga… Tapi gak lama… score-nya langsung tinggi, saudara2… Doski jeli banget mengendalikan si Frenzy.. Dasar anak2…, fast learner..!!!

Lalu, waktu Tati ke Medan waktu liburan lebaran, Nanda bete banget karena Tati gak bawa laptop.. Karena dia gak bisa main Feeding Frenzy, sementara di laptop Tante Po cuma ada game STD-nya window yang gak menarik buat anak2… Karena gak tega ngeliat tampang Nanda yang bete.., Tati lalu men-download game gratisan di GameHouse.., Luxor.., ke laptop Tante Po.. Hasilnya..? Nanda happy, but Tante Po bingung, karena sometimes mereka jadi rebutan laptop. Hihihi….

Nanda emang jadi nempel banget sama lapotop Tante Po… Tati aja jadi cemas ngeliatnya.. Takut matanya terlalu lelah… dan dia juga terlalu larut dalam permainan.. Terpaksa deh, Tati bulak balik mengusik nona kecil ini dari depan laptop.. Kalo udah setengah jam Nanda di depan laptop, Tati lalu ngajak dia keluar dari kamar buat bermacam2 kegiatan : ngegodain enek atau nemenin enek latihan jalan, icip2 makanan di meja dapur, atau jalan2 ke luar rumah… Tapi itu juga gak gampang… Karena yang keluar dari mulat Nanda yang mungil adalah kalimat2…:
“Ntar dulu lah, Wo. Aku lagi asik niyyy.”,
“Wowo ini, mengganggu aja…!!” (mau pingsan Tati mendengarnya…!!!)
“Wowooooooooooooooooooooooooooo……..!!!!” (hehehe…!!!)

Here some pics, saat Nanda sedang asyik main game…





My Tabulapot…..

Dua tahun yang lalu…. Ujug2 ada orang yang ngedatangin Tati di meja kerja di kantor… Dia nawarin bermacam2 jenis tanaman buah dalam pot (tabulapot), yang akan segera berbuah… Secara Tati emang seneng memelihara tanaman…, dan harga yang ditawarkan reasonable serta terjangkau…, maka Tati memutuskan membeli sebatang pohon jambu. Kenapa pohon jambu…? Karena dulu di rumah jalan Kundur di Kompleks Gubernur, tempat Tati dibesarkan, ada pohon jambu dengan jenis yang sama.. A nostalgic reason.. Hehehe.. Tati malah pengen beli jambu bol juga, tapi yang jual gak punya….

Now…., setelah dua tahun berselang… pohon jambu tersebut tingginya gak sampai 2 meter, paling hanya sekitar 1.5 meter… dan sudah mulai belajar berbuah.. Baru beberapa rangkai sih… tapi lucu, imut2, cantik, segar daaaaaaaaannnnnnnn, setelah diicip2 dengan ibu2 peserta arisan tetangga yang lagi kumpul2 di rumah, rasanya maniiiiizzzzz meski gak pake acara dicuci dulu…, asli dari pohon langsung masuk mulut…!!! Halaaaaaaahhhhhhh….

Karena beberapa tahun yang akan datang halaman rumah Tati akan rimbun dengan pohon matoa dan pohon tanjung yang Tati tanam waktu mula2 menempati rumah ini, kayaknya tabulapot adalah tanaman yang cocok buat rumah Tati yang imut2 dengan halaman yang juga mungil.. Karena tabulapot itu juga imut2, gak makan tempat, dan cepat berbuah pulaaaa…. Kebayang deh serunya bisa panen buah di halaman rumah sendiri…

Ini foto2 buah jambu generasi pertama dari tabulapot Tati… Yang ngelihat dilarang ngeceeeezzzzzzz……..



My Guardian Angel…

Awal tahun 2002, waktu Tati kembali ke kantor setelah menyelesaikan sekolah di Yogya, Tati dipanggil oleh ibu Sartidja, yang waktu itu menjabat sekretaris (orang kedua) di kantor tempat Tati kerja. Saat itu beliau meminta Tati membantu beliau bekerja, meski Tati tidak ditempatkan di sekretariat, melainkan di bidang lain, tanpa meninggalkan tugas pokok yang menjadi kewajiban Tati. Saat itu beliau bilang, beliau gak bisa menjanjikan apa2, apa lagi yang sifatnya materi, tapi beliau akan memberikan Tati kesempatan buat belajar dan belajar…

Tati seneng banget dapat tawaran tersebut. Karena setelah hampir 3 tahun berkelana untuk menambah isi kepala.., pasti gak mudah buat bisa masuk ke “system”.. So, tawaran ini merupakan kesempatan yang baik… So, dimulai lah hari2 bersama ibu Sartidja yang di lingkungan kantor biasa dipanggil dengan “Kak Idja”.

Siapa sih Kak Idja..? Beberapa tahun setelah Tati bekerja dengan beliau, dalam salah satu percakapan dengan salah seorang senior di lingkungan kerja kita, bapak tersebut bilang, “Kak Idja itu karyawati nomor 1 di lingkungan kita, Ndha. Dia benar2 orang kerja, yang bekerja secara professional. Tanggung jawab. Kerjanya rapi dan teliti banget. Penuh pengendalian diri dan rendah hati, pula.”

Si bapak itu benar… bahkan kak Idja tuh punya kelebihan2 lain.. Peduli dengan anak buah dan lingkungan. Mampu mengendalikan emosi dengan luar biasa. Gak pernah kelihatan marah. Kalo marah paling cuma duduk diam di kursi kerjanya, sambil memandang ke halaman depan kantor…, mengamati kendaraan yang masuk dan keluar. Penampilannya juga rapi dan kalo beliau melintas…, sayup sayup akan tercium bau yang lemmmmbbbuuuuutttt banget, so feminine tapi sederhana, gak berlebihan.

Kak Idja gak pernah membiarkan anak buahnya lembur tanpa kehadiran dirinya…, mau sampai jam berapa pun.. bahkan sampai dini hari…!!! Buat anak buahnya yang kerja, kak Idja gak akan membiarkan meja2 kita kosong tanpa makanan dan minuman… Bahkan kalo semua orang sibuk, dan makanan yang diinginkan gak menyediakan jasa delivery, kak Idja akan menyuruh adiknya, Yelly, untuk pergi membelikan makanan…, meski terkadang harus mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri..!!

Kepada Tati, kak Idja mengajarkan cara mengkonsep surat2 dinas dengan bahasa yang efisien dan efektif… Kak Idja juga sabar mengkoreksi berbagai kesalahan2 yang Tati bikin selama proses belajar… Bahkan Kak Idja selalu mencari tahu dan mendengarkan problem2 Tati…, memberi nasehat, memberi perhatian yang gak sebatas perhatian seorang atasan, melainkan seperti seorang kakak… Soal rezeki…? Kak Idja selalu mengatur sedemikian rupa, sehingga kita2 yang bekerja memperoleh rezeki yang tidak berlebihan tapi alhamdulillah, layak disyukuri…

Lucunya kedekatan kita beberapa kali dinilai negative oleh pihak2 tertentu. Ada yang menuduh Tati bisa dekat dengan beliau karena “menjilat”.. Waduuhhh… Waktu itu Tati cuma nyeletuk ke teman yang nyampein dugaan tersebut, “Kalo emang si ibu yang satu ini bisa dijilat, kok teman2 lain gak menjilat?”. Hehehe.. Alhamdulillah, sampai saat ini meski kita udah gak punya hubungan struktural dalam pekerjaan, hubungan kita tetap dekat. Padahal dalam kondisi seperti ini kan gak ada yang mau dijilat….

Pernah juga, Tati dan kak Idja berangkat keluar kota dalam waktu hampir bersamaan. Tati ambil cuti tahunan untuk keperluan pribadi di Jakarta, lalu nerusin jalan2 ke Yogya. Sementara kak Idja sehari kemudian berangkat ke Jakarta buat urusan kantor.

Waktu kembali bekerja…, salah seorang yang saat itu senior di kantor berkata pada Tati, “Enak lah ya jalan2 dengan uang negara.”
Tati kaget dan terbengong2…
Setelah berpikir sejenak, Tati lalu bertanya “Maksudnya apa, pak?”
Si bapak : “Iya, kamu pergi jalan2 ke Jakarta sama kak Sartidja, kan? Dapat Biaya Perjalanan Dinas donk…!!”
Waduuuuhhhh, assooyyy banget tuduhannya..
Tati : “Pak, hati2 kalo nuduh …, Bapak tau gak kalo saya itu ke Jakarta buat urusan pribadi, lalu saya liburan ke Yogya. Saya itu ambil cuti tahunan, saya gak pergi dengan ibu Sartidja. Dan karena ini cuti, semua biaya berasal dari tabungan pribadi saya”
Si Bapak : “Oh gitu, ya? Maaf lah ya, saya salah informasi kalo begitu.”
Hehehe… Pahit… pahit… !!! Susah ternyata punya kedekatan dengan atasan…

Kenapa kok Tati tau2 hari ini nulis tentang Kak Idja yang udah lebih dari setahun gak sekantor dengan Tati …?

Ini karena kejadian kamis malam tanggal 1 November yang lalu. Kita berdua pergi menghadiri acara 40 hari meninggalnya orang tua salah satu rekan kita. Tati menjemput kak Idja di rumahnya karena kak Idja gak ada supir kalau malam dan beliau gak berani nyetir mobil. Waktu itu cuaca buruk, hujan lebat, kilat dan petir menyambar2.. Mana lampu jalan banyak yang mati pula. Tati menjalankan mobil sangat pelan.., sehingga kita butuh waktu lebih lama dari yang seharusnya untuk sampai di tempat acara.

Usai acara, Tati nganterin kak Idja pulang… Nah, waktu Tati mau nerusin perjalanan buat pulang, kak Idja gak membiarkan Tati mengendarai mobil sendirian menyusuri jalan keluar dari kompleks perumahannya, sepanjang sekitar 3 km yang gelap dan sunyi, menyusuri parit besar pula.. . Kak Idja beserta adiknya, yang baru sampai dari luar kota, mengiringi Tati dengan mobilnya dari belakang sampai ke jalan besar yang ramai.. Kak Idja tetap ngotot mengiringi, meski Tati bilang, insya Allah Tati gak apa2, karena rasanya si sparky dalam keadaan yang fit. Bahkan saat Tati udah sampai di rumah, beliau menelpon untuk memastikan bahwa Tati sudah sampai di rumah dengan selamat. Yang kayak gini bukan pertama kali.., melainkan kerap kali beliau lakukan. Beliau sangat perduli dengan keselamatan orang2 di sekitarnya. Bahkan waktu Tati baru2 pindah ke rumah yang sekarang, beberapa hari sekali, sebelum tidur beliau menelpon Tati untuk mengingatkan agar jangan lupa memeriksa pintu2 dan peralatan listrik sebelum tidur.. Perhatian banget, detil banget….

Ada satu cerita heboh … Suatu kali, saat salah satu jalan masuk ke perumahan tempat Tati tinggal rusak, orang yang tak dikenal menawarkan pada Tati untuk menunjukkan jalan alternative. Orang itu bersama beberapa temannya pakai mobil lain dan berjalan di depan mobil Tati. Tati pada awalnya mencoba menerima tawaran tersebut, tapi begitu melihat jalan yang ditunjukkan semakin tak tentu, mengarah pada semak belukar, Tati memutuskan balik arah, tanpa memperdulikan teriakan orang2 tersebut. Di kantor, Tati cerita ke kak Idja tentang kejadian tersebut. Kak Idja langsung wanti2 agar Tati benar2 waspada, secara selalu kemana2 sendiri, gak siang gak malam.

Malamnya, kak Idja bolak balik menelpon ke hp Tati, karena beliau khawatir Tati dibuntuti oleh orang2 tersebut. Tapi telepon gak Tati angkat karena hp tinggal di kamar, sementara Tati ngobrol sama ibu tetangga di depan rumah. Karena berkali2 nelpon dan gak juga diangkat, kak Idja lalu menelpon Eko, minta Eko cari tau keberadaan Tati. Saat Eko ngasi tau ke kak Idja kalo dia juga gak bisa menghubungi Tati, kak Idja lalu meminta Eko menghubungi sepupunya yang tinggal di blok lain tapi di perumahan yang sama dengan Tati, untuk mengecek keadaan Tati di rumah. Untungnya, sebelum sepupu Eko bergerak, Tati udah selesai ngobrol dengan ibu tetangga, dan menemukan so many miscall di hp, dari kak Idja dan Eko. Tati langsung menelpon balik kedua nomor tersebut.. Kak Idja langsung lega, begitu juga Eko. Nyesel deh udah bikin cemas orang2 yang perduli dengan Tati..

Makasih udah peduli dengan Son
dha selama bertahun2, ya kak. You are like a guardian angel for me… especially when I was in low part of my life.. Thank you.

Ini pics saat berlibur bersama.

Nonton Chingay Festival
L-R : Tati, Kak Idja dan Eko

Di depan sebuah bangunan tua yang masih dilestarikan dan dimanfaatkan menjadi pertokoan di Orchad…

Menhirup udara malam yang segar di tengah hirup pikuk the Lion City

Bersama Kak Idja dan Eko di Genting Highland..

A Birthday Party in Manulife..

Jum’at 02 November 2007, jam 14.30 monthly branch meeting di Manulife Pekanbaru.
Ini kegiatan rutin seperti bulan2 sebelumnya, mengevaluasi pencapaian target bulan sebelumnya dan sosialisasi target bulan yang akan datang oleh Branch Manager, Pak Ardhiansyah. Lalu di akhir acara, kalo ada yang ulang tahun akan dilakukan perayaan ultah kecil2an. Management di kantor cabang Pekanbaru menyediakan kue tart + lilin.. lalu yang ulang tahun diminta untuk melakukan little speech.. Nah karena bulan oktober ini yang ulang tahun 5 orang.. jadi kita lima2nya maju ke depan..

Btw, siapa aja sih yang ultah..? Berdasarkan tanggal ultah yang paling duluan…., :

L-R: Mila, Aey, Fifi, Sondha dan Nunung

1. 06 Oktober, Ainul Mardiah alias Nunung, salah seorang Unit Manager (UM) di Cabang Pekanbaru, ultah ke 40. Btw, Nunung adalah teman satu sekolah Tati di SMP 4 dan SMA 1 Pekanbaru, tapi kita gak pernah sekelas.
2. 07 Oktober, Mila Oktaviani, UM-nya Tati. Ibu ini ultah yang ke 35.
3. 10 Oktober, Alvira alias Fifi, staff di kantor cabang. Ibu yang ini ultah ke-26, kalo gak salah…
4. 11 Oktober, Sondha, agen, ultah ke 40.
5. 25 Oktober, Aey, sekretaris-nya pak Ardhiansyah, Pekanbaru branch manager. Kalo gak salah nona yang manis dan modis ini ultah ke 24..

Setelah acara singkat di kantor, kita lalu ke rumah Nunung, karena Nunung yang paling senior di antara kita di Manulife Cabang Pekanbaru, udah nyiapin makanan khas Melayu, yaitu Roti Jala lengkap dengan kari ayam plus minuman es kopyor… Hmmmmm sedap.. Ultah yang berkesan.. Mudah2an kita semua masih tetap di Manulife di tahun2 mendatang ya…, biar bisa merayakan ultah sama2 lagi….

Terima kasih atas perhatiannya ya pak Ardhi dan teman2 di kantor cabang Manulife Pekanbaru.. Terima kasih juga atas hari-hari yang menyenangkan.. Terima kasih juga atas my second life, yang mengajarkan nilai2 berbeda yang membuat saya merasa lebih bahagia akhir2 ini… Terima kasih juga atas doa2nya… Semoga kita bisa berbuat baik bagi sesama melalui Manulife.. Amien…

And the last… Go and Fight…, because Impossible is Nothing…!!!!

Here some pics waktu makan2 di rumah Nunung…


Yang ultah potong kue di rumah Nunung, tapi Fifi belum datang tuh, jadi gak ada..
L-R : Aey, Sondha, Nunung dan Mila

Praktikum Horti..

Mencari foto2 Firman di tumpukan foto2 jadul, membuat Tati menemukan sebuah album kecil yang berisikan foto2 di kebun jagung & kacang tanah di Dramaga Bogor saat praktikum hortikultura, kalo gak salah bulan sept – des 1988.

Praktikum ini membuat kita harus berangkat pagi2.. karena jam 06.30 angkot2 langganan udah nunggu di Jl. Malabar dekat pintu I Kampus IPB Baranang Siang. Dari sana kita diangkut ke kebun percobaan. Di sana kita belajar menanam jagung dan kacang tanah.. Mulai dari mengolah tanah, menanam, ngasi pupuk, merawat, menyiangi gulma daaaaaaannnnn panen, dunk…!! Seru dan asyik.. karena bisa menikmati kehidupan yang berbeda, merasakan segarnya udara kebun di pagi hari.. ramai2 pula… Beneran seru.. meski kalo pergi praktikum pada gak mandi dan di angkot empet2an…!!!

Ini beberapa pics kenangan anak2 Sosek di Kebun Horti..

L-R : Linda (teman sekamarku di Pangrango), Indra, Firman Bejo, Sahat, Sondha, Rinaldi, Anukman

Berdiri, L-R : Firman Bejo, Heru, Sondha, Sri Rezeki, Sahat, Idien (apa kabar ya ibu yang satu ini? Masih di Kedung Halang gak, ya?)
Duduk, L-R : Indra, Hesti dan Indra

Yang berikut… di kebun kacang tanah..!!



Mata yang Tersenyum…

Tadi pagi… sebelum subuh Tati membuka jendela kamar..
Merasakan sejuknya udara pagi yang menyelinap ke kamar…
Hmmmm… sejuk!!! Apalagi tadi malam hujan… Rasanya tenang, nyaman dan damai… It’s like heaven come down to my home, my small world..

Lalu, saat menoleh ke cermin.., terlihat seraut wajah dengan mata yang tersenyum.. Alhamdulillah… Setelah hari2 yang berkabut selama bertahun2..
Akhir2 ini hatiku rasanya jauh lebih baik…
Mudah2an semua akan selalu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi..