Di Suatu Perjalanan…

Kamis, 15 November 2007…

Tenggat waktu untuk penyampaian rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tempat Tati bekerja sudah mendekati batas waktu. Sebagai staff, Tati ditugaskan membantu budgeting beberapa unit kerja. Tati harus mengecek data2 yang sudah dientry ke system oleh adik2 yang bertugas untuk itu.. Dari siang Tati melakukan pekerjaan tersebut, dan akhirnya selesai juga menjelang jam 22-an..
Lega rasanya.. !!! Kantuk yang tadinya tidak terasa, mulai melanda..

Tati lalu mulai mengemas tas dan laptop, lalu keluar dari gedung kantor… Di luar hari betul2 gelap dan dingiiiinnn… Mungkin karena hujan yang telah berlangsung sejak sore hari.. Rintik hujan masih tersisa , saat Tati melangkah menuju si sparky yang menanti di pelataran parkir… Rasa kantuk semakin melanda.. .

Bayangan tempat tidur dengan selimut hangat, plus segelas teh hangat semakin menari2 di kepala…, Tati rindu rumah yang telah ditinggalkan sejak jam 06.30… Tati rindu kamar Tati.. . Tati rindu menatap lampu tidur yang berbentuk bunga mawar merah di sudut kamar yang selalu menimbulkan rasa nyaman dan hangat… Tati rindu kehangatan yang setiap malam hadir di kamar…, meski hujan, kilat dan petir menari2 di luar rumah.. Tapi malam ini, di sini, di halaman kantor, dunia rasanya dingin sekali….

Setelah menyalakan mesin si sparky, memasang seatbelt dan menyalakan tape yang mengalunkan lagu2 Snada, Tati mulai mengarahkan si sparky keluar dari halaman kantor dan menyusuri jalan Sudirman… Gak jauh dari kantor, di bundaran pesawat terbang, tempat dimana Tati harus berbalik arah menuju jalan pulang, lampu merah menyala.. , sehingga Tati harus berhenti… Tati lalu menatap ke luar ke sisi kanan.. Ada 3 orang anak kecil dengan usia sekitar 9 – 11 tahun, 2 laki2 dan 1 perempuan.. Yang laki2 membawa setumpuk Koran yang dibungkus dalam plastic..

Salah seorang anak tersebut segera menghampiri Tati, dan berkata : “Bu, beli korannya, Bu?” Tati lalu melirik, Koran yang ditawarkan adalah Koran X, yang harganya Rp.1.000,- per eksemplar, yang isinya berita kriminal di daerah ini.. Koran yang selama ini sangat sangat sangat sangat jarang Tati beli…

Tapi rasa ingin tahu membuat Tati menurunkan kaca jendela, dan menyapa..

Tati : Dek, kok jualannya malam2, besok gak sekolah ?
Anak penjual Koran : Sekolah, Bu. Saya masih sekolah..
Tati : Rumahnya dimana?
Anak penjual Koran : Di jalan Kuini, Bu. (Sekitar 2 km dari lokasi dia jualan; Tati)
Tati ; Tapi ini hujan, dek. Nanti sakit, lho..!!
Anak penjual Koran : Gak apa2, Bu. Udah biasa..

Astagafirullah… astagafirullah.. astagafirullah… Mohon ampun Ya Allah…

Tati yang jauh lebih berumur, dengan fisik yang lebih kokoh saja merasakan dingin yang luar biasa.. padahal rasa itu hanya sebentar… hanya menjelang sampai di rumah… Dan insya Allah pada saat sampai di rumah Tati akan segera merasakan kehangatan tempat tidur, selimut dan teh hangat.. Insya Allah semua rasa dingin akan terhapuskan saat mencapai rumah…

Tapi anak yang kecil ini, harus berada di pinggir jalan merasakan dingin malam yang rintik2 setelah hujan berjam2… berteman harapan akan ada yang membeli korannya menjelang malam tengah malam… Dia menepiskan rasa takut akan gelap, rasa dingin, rasa takut akan ada makhluk jahat yang mengintip-intip di sela malam dan mengancam keselamatan jiwanya…

Demi apa..? Demi beberapa ratus rupiah dari setiap eksemplar Koran? Demi uang yang mungkin tidak banyak bagi kita2 yang punya penghasilan..? Untuk apa uang itu? Mungkin untuk membiayai sekolahnya… Bahkan mungkin untuk membantu orang tuanya membiayai kehidupan keluarga…..

Masya Allah…!!!!

Kita (= TATI, TATI, TATI) sering kali tidak bersyukur dengan apa yang ada pada diri kita (= TATI, TATI, TATI).. Selalu merasa hidup kita (= TATI, TATI, TATI) jauh dari cukup…, bahkan hal2 kecil seringkali membuat kita (= TATI, TATI, TATI) merasa hidup kita (= TATI, TATI, TATI) tidak sempurna…

Saat Tati memutuskan untuk membeli korannya, lampu merah berganti hijau.. Tati lalu mengatakan pada anak tersebut..

Tati : Dek, mau nyeberang ke sebelah sana? Ibu mau beli Koran kamu, tapi lambu sudah hijau.
Anak penjual Koran : Iya, Bu. Saya ke sana.

Tati lalu menjalankan si sparky dan melihat anak itu menyusul menyeberangi jalan..

Sampai di seberang jalan, dia langsung mengulurkan korannya, dan Tati mengulurkan uang.. Setelah dia melihat jumlah uang yang Tati ulurkan, dia menatap Tati.
Mengerti arti “tatapan bertanya”-nya, Tati mengatakan : Sudah, dek. Itu buat kamu.

Tahu apa yang dikatakan anak penjual koran tsb?
Anak penjual Koran : Alhamdulillah. Ibu, semoga Allah selalu melindungi Ibu. Semoga Allah memberkahi Ibu dan memberi Ibu rezeki yang berlimpah.. Amin.
Subhanalllah, Maha Suci Allah…, Yang telah menciptakan makluk kecil yang tabah dan memiliki hati yang indah…, meski keterbatasan sedang mengisi kehidupannya.

Sebelum kembali menjalankan si sparky, Tati mengatakan pada anak tesebut : Hati2 ya Nak.. Jaga diri baik2..
Sambil berlari kecil dengan lincah dan riang ke arah lampu merah tempat dia berjualan koran, dia membalas ucapan Tati dengan mengatakan : Iya, Bu. Terima kasih.

Semoga Allah juga selalu melindungi kamu, Nak… Semoga engkau tumbuh jadi manusia yang sholeh, dan jadi penerang bagi keluarga dan orang2 di sekitarmu… Amin Ya Rabbal Alamin.

Suatu perjalanan yang memberi hikmah….. Semoga akan selalu memperkaya bathin Tati untuk merasakan betapa Allah telah memberikan nikmat yang luar biasa berlimpah bagi hidup Tati.***

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s