Catatan Hati Seorang Istri

Aku menemukan buku ini pada tanggal 09 Juni 2013 di sebuah rak di TB Gramedia Pekanbaru.. Dan membacanya secara mencicil selama dalam penerbangan2 saat aku liburan ke Thailand pada bulan Juni 2013…

Buku ini merupakan non fiksi yang ditulis ulang, dikompilasi oleh ibu Asma Nadia ..   Aku juga pernah menulis catatan kecil tentang buku ini di FB-ku… , tapi aku akan coba menulis lebih detil di sini..

Seperti yang pernah ku tulis, buku ini memang  bagus utk dibaca, oleh para istri, perempuan yg belum menikah, juga para lelaki.. Kenapa…?

DSCN2119Karena…., menegakkan rumah tangga bukan lah hal yang mudah,.., Dan rumah tangga selalu menjadi ujian besar bagi para istri untuk menggenapkan setengah dari imannya…

Buku ini menceritakan pengalaman para istri dalam menjalani cobaan-cobaan yang terjadi dalam rumah tangga, ketika suami berselingkuh, atau ingin berpoligami, serta langkah-langkah yang telah mereka lakukan untuk menyelesaikan masalahnya.  Tentu penyelesaian dengan jalan yang sesuai aturan agama, dalam hal ini Islam..

Buku ini memberi sisi pandang tentang hal atau situasi yang mungkin tak pernah terbayangkan akan terjadi dalam kehidupan kita para perempuan saat kita memutuskan akan menikah..  Jadi dengan membaca buku ini kita bisa melihat bahwa kemelut yang terjadi bukan hanya pada diri kita..  Kita juga bisa punya referensi langkah-langkah seperti apa yang bisa kita lakukan, tentu dengan penyesuaian terhadap kondisi dan situasi yang terjadi pada diri kita..

Namun….,  di dalam buku ini kita bisa melihat bahwa penderitaan para istri acap kali disebabkan oleh sikap dan tindakan perempuan lain..  Ya..,, ternyata selalu kaum kita sendiri yg menjadi peran pendukung dalam ujian2 yang hadir dalam kehidupan para istri.. Kaum kita sendiri yg menggerogoti, menyakiti hati perempuan lain yang telah berstatus istri…

Ya…, kaum ku, kaum perempuan, kalau jatuh cinta sepertinya sering kali menjadi buta, dan menerima ucapan lelaki yang menjadi kekasih hatinya sebagai kebenaran mutlak..  Si lelaki menjadi matahari, bulan sekaligus bintang di hati dan pikiran, sehingga tak mau membuka mata, hati dan pikiran terhadap kebenaran yang sesungguhnya..  Bahkan menargetkan si lelaki harus menjadi miliknya dengan segala cara, bahkan dengan menutup mata, telinga bahkan hati..

Ini beberapa kisah yang ku tahu pernah terjadi…

1.  Ada perempuan belia, yang begitu tahu kekasihnya ternyata sudah menikah dan punya istri, yang dia lakukan bukan meninggalkan si lelaki dan melanjutkan hidupnya.. Tetapi dia justru mengejar si lelaki, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang terus menerus menyakiti hati si istri, dengan harapan si istri sakita dan tak sanggup meneruskan pernikahan…   Astagfirullah al adzim…

2.  Ada perempuan yang bisa berkata pada istri lelaki yang pernah jadi kekasihnya, “Kalau kamu nanti cerai, kasi tau aku, ya…” Astagfirullah al adzim…

2.  Ada juga perempuan yang sudah berusia matang, yang pernah mengalami kegagalan rumah tangga, yang memutuskan tetap menjalin hubungan dengan lelaki yang dia ketahui sudah punya istri..  Bahkan dengan berani menulis status di media sosial, “Pacaran dengan brondong itu biasa.. Pacaran dengan suami orang, itu baru luar biasa dan menantang.”  Innalillahi..

3.  Ada juga perempuan yang setelah tahu bahwa lelaki yang melamar dirinya adalah suami perempuan lain, justru dia bersedia untuk dipoligami.. Saat si istri menolak untuk dipoligami, dan ingin berpisah saja, si perempuan lalu mendekati si istri dengan mengaku sebagai sahabat si lelaki.., Menasehati agar bersabar menghadapi tingkah laku suami, dan tak usah meninggalkan si suami karena permintaan poligaminya.., Dia juga  mengatakan apakah suami akan berpoligami atau tidak itu adalah takdir Allah, dan jangan lah bercerai hanya karena tak mau dipoligami suami..

4.  Ada juga perempuan yang tahu bahwa laki-laki yang mendekati dan melamar dirinya ternyata suami perempuan lain..  Tindakan yang dia lakukan bukannnya pergi, dan mengingatkan si lelaki akan tanggung jawabnya.  Tapi malah menghbungi si istri dan mengatakan ingin bersilaturahmi sebagai sesama istri dari si lelaki.  Gubrrrrraaakkksssss…   Padahal saat itu sebenarnya  dia belum menikah (siri) dengan si lelaki..  Bahkan setelahnya dia mengirim pesan agar si istri bersabar, tetap tersenyum dan melupakan orang yang menyakitinya..  Entah laahh…

Mungkin ada banyak cerita yang lebih mengerikan tentang ujian rumah tangga terhadap para istri..  Tapi apa pun, bagaimana pun itu, sebaiknya kita para perempuan berhati-hati agar tidak berkontribusi menyakti hati para istri..

Di halaman 286 buku ini ada tulisan yang menurut saya bisa jadi masukan bagi para perempuan yang menyatakan dirinya bersedia dipoligami..

“Tentang poligami, harus dilihat… siapa yang melakukannya.  Benarkah poligami tersebut dilakukan seseorang yang memiliki pemahaman agama dan berakhlak baik (implementasi iman)? Bukan sekedar dilakukan orang yang merasa jatuh cinta dan mencari wadah agar maksiat yang mungkin malah sudah terjadi menjadi halal?”

Buku ini juga baik dibaca oleh para lelaki, menurut saya…  Mengapa..?

Agar laki-laki yang katanya berasal dari planet yang berbeda dengan perempuan, bisa melihat dan memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan para istri saat mereka menghadapi perselingkuhan suami atau si suami minta agar diizinkan berpoligami..

Pada halaman 21 – 24 ada tulisan tentang pikiran seorang lelaki tentang poligami…

Menurut lelaki tersebut, “Kalau saya menikah lagi, itu murni karena saya suka dengan gadis itu.  Saya jatuh cinta. Titik.”  Jadi bukan karena untuk melindungi perempuan-perempuan yang semgsara… Atau untuk membantu para perempuan menegakkan imannya…  Sama sekali bukaaaaaaannnnn…..

Tapi kemudian si lelaki juga berkata…

“Jika saya menikah lagi ; pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu… karena tidak ada jaminan untuk itu.  Apa yang di luar kelihatannya bagus, dalamnya belum tentu.  Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah, belum tentu akan terealisasi indah.  Dan sudah banyak kejadian seperti itu. 

Yang kedua, sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi.  …

Sekarang, bagaimana saya bisa melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”

Hmmmm…..

Tapi di dalam buku ini, tak seluruhnya berisi cerita buruk tentang pernikahan bagi para istri..  Ada juga cerita tentang seorang suami yang tidak mau mempoligami atau menceraikan istrinya yang diserang penyakit cacar sehingga kehilangan kecantikan fisiknya…  Ada juga tentang seorang suami yang memilih menduda sampai akhir hayatnya setelah si istri meninggal, karena rasa cintanya, karena kebaikan-kebaikan yang telah diukir sang istri di sepanjang pernikahan mereka..  Ada juga cerit-ceritaa tentang istri yang sangat berduka karena meninggalnya suami yang begitu baik terhadap mereka…

Dari semua catatan yang ada di buku ini, KESABARAN DAN BERPEGANG KEPADA ALLAH adalah jalan dan langkah yang terbaik..  Bila masih banyak kebaikan dari pasangan yang berpotensi untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang, bertahanlah..  Berjuanglah untuk menegakkan rumah tangga.. Namun ketika pernikahan itu hanya mendatangkan kemudharatan, perceraian, tindakan yang halal namun dibenci Allah, bukan lah hal yang tak boleh dilakukan…

Namun…., saya tahu, sangat tahu BERSABAR itu tidak semudah membalikkan telapak tangan…  Tapi kita harus mencoba, mencoba dan mencoba…, meski luka menganga, dan sakitnya tak terkatakan…  ***

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s