Rupat Island…, The Virgin Destination

Me @ d Rupat Bay…

Tanggal 6 January 2011 yang lalu aku dan rombongan kantor pergi ke Pulau Rupat… Mungkin sebagian besar teman-teman gak pernah dengar nama pulau ini, apalagi tahu lokasinya…

Pulau Rupat adalah salat satu pulau terluar dari pulau-pulau yang terdapat di perairan Selat Malaka, yang berbatasan langsung dengan Negeri Jiran Malaysia…  Klo aku lihat di Google-earth, jarak dari Pulau Rupat ke Port Dickson sekitar 50 km-an… Bahkan menurut info yang aku dengar ada acara tahunan, yaitu mandi syafar di Pulau Rupat yang banyak dihadiri oleh warga Malaysia…

Aku ngapain ke sana…? Ngeliat kawasan yang menurut rencana akan dijadikan salah satu destinasi wisata Riau…

Tapi ternyata untuk ke sana butuh upaya extra…, butuh ketabahan.., butuh mengkonsumsi extra Joss 1 karduss… Hahahahaha… Kenapa…? Karena dari Pekanbaru harus pergi ke Dumai dulu.. Waktu tempuh sekitar 3 jam.. *Jauh yaa…? * Itu belum seberapa dengan rasa mabok yang melanda ketika melintasi jalan Pekanbaru – Duri yang seperti grafik sinus.. Aku hanya mampu terdiam dan memejamkan mata.. Menahan sedemikian rupa agar tidak muntah…!!!!

Sampai di Dumai, gak bisa langsung nyeberang… Mesti nginap dulu, karena di Rupat belum ada tempat buat nginap.  Jadi harus kembali di hari yang sama dengan saat kedatangan..  Karena perjalan Dumai – Rupat dengan ferry (dan ini satu-satu transportasi yang tersedia!!!!) membutuhkan waktu tempuh 3 jam, jadi harus berangkat ke Rupat dari Dumai pagi hari.., yaitu jam 09.00 WIB, lalu naik ferry untuk kembali ke Dumai jam 14.00 WIB…

Perjalanan dari Dumai ke Rupat dimulai dengan menyusuri sungai yang di kiri kanannya dipenuhi pohon bakau.., dan berlanjut dengan menyusuri selat selama 3 jam…

Pelabuhan Rupat…

Begitu ferry merapat, yang aku temukan hanyalah pelabuhan rakyat dengan beberapa rumah penduduk berbahan kayu…

Ternyata ini adalah sisi selatan Tanjung Medang.., pantainya di bagian Utara.. Jadi harus nyambung lagi… Naik apa…? Naik ojeg kena beceg, sodara-sodara… Hahahahaha…  Yesssssssss, ojeg is d only one public transport in this island.. Jangan harap akan ada angkot apalagi taxi…  Masih jauhhhhhh….

Menyusuri Rupat naik ojeg kena beceg…

Lalu kami pun melanjutkan perjalan by ojeg kena beceg, menyusuri jalan2 tanah yang diperkeras…, yang di kiri kanannya berupa kebun karet, kebun sawit, ladang, semak dan pemukiman yang jarak rumahnya jarang2…  Tapi most of rumah2 yang kami temui merupakan rumah penduduk beretnis China.. Ini terlihat dari kehadiran tempat2 sembayang dan arsitektur rumah yang khas..

Menurut cerita yang aku dengar, etnis China yang ada di Pulau Rupat ini adalah Suku Akit, yang datang langsung dari dataran China ratusan tahun yang lalu.. Mereka punya budaya dan dialek yang khas…

Pantai Rupat Utara…

Setelah naik ojeg sekitar 20 menitan, kami akhirnya sampai juga di pantai Rupat Utara.. Pasirnya putih…, pantainya panjang banget.. Katanya siyy sekitar 17 km… Tapi sarana untuk menikmati pantainya jauh dari memadai…  Butuh perencanaan, investasi dan strategi pemasaran yang terpadu buat membangun daerah ini menjadi destinasi wisata yang bisa diandalkan… Mungkin skema Kerjasama dengan Pihak Ketiga (dimana Pihak Ketiga membangun dan diberi keleluasaan mengelola daerah tujuan wisata selama sekian tahun, dan pemerintah mendapat bagian keuntungan, lalu diserahkan kembali kepada Pemerintah setelah berakhir masa kontrak) akan lebih efektif untuk membangun daerah ini..

Menyusuri pantai dengan motor…

Selesai memandang-mandang, kami kembali ke pelabuhan dengan naik motor melalui jalan berbeda, kali ini menyusuri pantai…  Hmmmm…. bay safari, ceritanya.. Hehehehe…***

16 thoughts on “Rupat Island…, The Virgin Destination

    1. Mama saya hanya waktu kecil saja menetap di Hanopan. Beliau pahoppuni Mangaraja Elias dan Ompu Paulina. Nama ayah Mama saya Baginda Soripada Paruhum atau biasa disebut BSP Harahap

  1. Salam Kenal,

    Saya dengan teman-teman dari Duri juga pernah kesan sekitar 2007 cukup berkesan memang. Mba sepat menginap disana? Nginap dimana? Thanks

  2. sebuah pengalaman perjalanan yg sangat berkesan nampaknya akan selalu dirasakan oleh mbak,sondha.
    sy tdk tau apa yg mbak rskan saat ketika menjalaninya.
    tp,yg pasti sy amatlah merasa bahagia manakala membayangkan perjalanan yg mbak lakukan. krn sy pun sesungguhnya,jk sj mampu, juga adalah penyuka petualangan.
    salam hangat mbak, sondha..!

    1. @ Mentari Jiwa : kalau dibiarkan dan ada rezeki saya sesungguhnya seorang traveller yang ingin menikmati setiap bagian dari dunia yang indah ini.. Mudah2an ada rezeki (yg tidak bisa kita duga dari mana datangnya) yang bisa membawa kamu juga menikmati anugrah Alloh SWT ini yaaa… Sukses dan semangat terus…

    1. @ Mechta : semoga yaaaa…. kalau bisa berkembang kan bisa untuk peningkatan ekonomi masyarakat tanpa kehilangan kelestarian alam… Tq 4 always visiting my blog, sist….!!!

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s