Another Old Pic of Us..

Ini selembar lagi  photo lama yang Tati temukan kemaren…  Photo Tati bersama dua orang adik yang urutan lahirnya persis mengikuti Tati : Papi David dan Mami Uli.

Photo ini dibuat saat kami rame-rame berenang malam hari di Hotel Kemang Jakarta, saat kumpul-kumpul keluarga sekitar tahun 1994.  Saat itu 5 dari 6 kami bersaudara menetap di Jakarta dan Bandung.  Cuma si bungsu Mama Nhoya yang masih SMP di Medan.  Jadi kalo liburan, justru keluarga yang di Medan ke Jakarta, bukan sebaliknya.  Lebih hemat, kannn…?  Masa-masa itu Tati bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, Papi David sedang menyelesaikan tugas akhir sebagai  mahasiswa di Teknik Lingkungan ITB, Bandung dan Mami Uli masih kuliah di Gunadarma.  Masa muda yang indah dan meriah…

Gimana Tati dan Mami uli saat ini, teman-teman bisa lihat di postingan yang ini…  Gimana Papi David…?  Hmmmm….  Ini dia…

Papi David saat ini berusia 39 tahun, menetap di Samarinda.  Menikah dengan Mami Nana, punya 3 putra dan satu putri : Aldy, Abby, Abner dan Ajere.

I Wish…

These days… I wish somebody sing this song for me..  I wish somebody lend a hand for me…  I really need it but I can not talk what happened to my life…

If I can turn the time back…

I know tears will not solve the problem… I have to be tough.. I have to be strong…

Usah Kau Lara Sendiri

Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
sekilas galau mata ingin berbagi cerita

Kudatang sahabat, bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa

Reff:
Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu
dan tegar dirimu

Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
menghadapinya

Sekali sempat kau mengeluh, kuatkah bertahan?
satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh

An Old Pic Of Us…

Saat beres-beres rumah beberapa hari yang lalu, Tati nemuin sebuah photo tua..  Photo Tati 4 bersaudara perempuan : Tati, Mami Uli, Tante Po dan Mama Nhoya.  Photo ini dibuat sekitar bulan Juni tahun 1992, beberapa hari setelah Tati wisuda S1 dari IPB.  Jadi udah lebih dari 16 tahun yang lalu…

L – R : Tati, Mami Uli, Tante Po dan Mama Nhoya

Saat itu Tati berusia 24 tahun, baru selesai S1.  Mami Uli berusia 20 tahun mahasiswi di Gunadharma, Tante Po berusia 18 tahun, baru lulus SMA ST. Thomas 1 Medan, sedangkan si bungsu Mama Nhoya berusia 13 tahun sedang sekolah kelas 2 SMP di SMP ST. Thomas Medan.

Saat ini, perjalanan hidup masing-masing sudah semakin panjang dan berwarna…  Bandingkan wajah2 di photo itu dengan wajah-wajah sekarang…

Tati, gonna be 41 next moth.  Work for Riau Government.

Mami Uli, 36 years old.  Married to Sinambela and now mother of three kids : Samuel, Esther and Monnicca.  Living in Samarinda.

Tante Po, 34 years old now.  Running her own bussiness after resign from Japan Electronic company in Kedah, Malaysia.  She’s the only one child who still live with our parents right now.

Mama Nhoya, 29 years old.  A proud Mom of a beautiful angel : Deandra Ananda.  Work and live in Medan.

How time has flied away...

Happy Eid Mubarak….

Teman dan sahabat….

Bulan Ramadhan telah sampai di akhir, Idul Fitri pun menjelang… Ada sedih di hati berpisah dengan Ramdhan…  Berharap kiranya Alloh berkenan memberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun mendatang…

Semoga ibadah di bulan Ramadhan membawa kita menjadi makhluk yang lebih baik di hari-hari mendatang…

Teman dan sahabat… di hari yang fitri ini, dengan sepenuh hati Tati mohonkan maaf lahir dan bathin…  Semoga hari yang fitri membawa kita kembali ke fitrah…

Kupu-kupu….

Ada sesuatu yang terjadi yang membuat ku ingin menjadi kupu-kupu..  Bisa terbang bebas menikmati bunga-bunga di taman…

Seandainya… seandainya….

KUPU-KUPU

Kecil mungil bewarna
Warna-warni terangi alam
Sentuhan karya indah
Jika tergambar baik
Matahati melihat kau sangat istimewa
Terbang melayang-layang menari hinggapi bunga-bunga

Kupu-kupu jangan pergi
Terbang dan tetaplah di sini
Bunga-bunga menantimu
Rindu warna indah dunia
Anak kecil tersenyum manis, pandang tarianmu indah
Bahagia dalam nyanyian
Kupu-kupu jangan pergi

by : Melly G.***

Heidi and My Childhood Dreams..

Beberapa hari yang lalu, saat ngantri beli chinesse food buat buka puasa, Tati dan Kak Lintje masuk ke toko kaset di sebelahnya yang juga menjual CD, VCD dan DVD..  Di rak yang memajang DVD-DVD yang dijual, Tati melihat DVD film Heidi. Aha……!!!!! Tati sebenarnya udah lama berharap bisa menemukan DVD atau VCD film ini.  Tati sempat nonton film ini saat ditayangkan di RCTI sekitar akhir tahun 1995.  Tapi ya cuma sekali itu…  RCTI atau pun stasiun TV lainnya gak pernah mutar lagi film ini..

Apa siyy ceritanya Heidi, kok Tati segitu terkesannya dan pengen nonton lagi…?

Tati mengenal Heidi saat Tati masih bocah banget..  Saat hidup Tati begitu indah karena dipenuhi dengan buku-buku cerita yang sangat banyak…  Karena ibu kalau keluar kota selalu mengoleh-olehi Tati dengan seabrek-abrek buku cerita..   Akibatnya Tati jadi  cinta buku sampai hari ini..

Saat itu Heidi hadir dalam bentuk buku cerita bergambar yang berwarna indah…  Yang mampu membuat imajinasi Tati melayang jauh bersama jalan cerita….

Heidi adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh adik ibunya setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan lalu lintas.  Karena ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di Frankfurt, adik ibu Heidi mengantarkan Heidi untuk tinggal bersama kakeknya, ayah dari ayahnya, yang tinggal di sebuah desa di pegunungan di Swiss. Kakek Heidy yang menjauhkan diri dari masyarakat setelah kehilangan istri dan anaknya, tinggal di daerah yang sangat tinggi dan hidup dengan menjual keju yang dibuatnya sendiri dari susu kambing peliharaannya.  Naahhh seorang anak lelaki seumuran Heidi yang membantu kakek mengembalakan kambing-kambing si kakek bernama Peter.

Awalnya sulit buat Kakek menerima kehadiran Heidi, namun Heidi yang manis, baik hati dan tabah membuat kakek dan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah mereka menyayanginya.

Kehidupan berbahagia mereka dirusak oleh tante Heidi yang mengambil Heidi kembali dan membawanya ke Frankfurt untuk menemani Clara, seorang anak tunggal orang kaya.  Anak tersebut sudah tidak punya ibu, ayahnya selalu bepergian untuk melakukan bisnisnya, dia juga tidak bisa berjalan dan tidak punya teman, sehingga kesepian.  Heidi yang tabah berusaha menjadi teman yang baik bagi Clara, yang sangat menyukainya.  Heidi bersabar dengan harapan dia suatu saat bisa kembali ke desanya dengan membawakan roti yang lebih lembut bagi nenek Peter yang sudah tua dan buta..

Tapi akhirnya rasa rindu Heidi akan kakeknya membuat dia jatuh sakit sehingga keluarga Clara mengirimkannya kembali ke desa asalnya.  Bahkan keluarga Clara berkunjung ke sana dan mengizinkan Clara untuk menikmati musim panas di sana.  Musim panas yang baik bagi kesehatan Clara.

Di buku cerita, gambar tentang desa dan rumah kakek Heidi serta rumah-rumah di desanya begitu indah.. Begitu indahnya sehingga di masa kanak-kanak Tati selalu berangan-angan suatu saat bisa berkunjung ke Swiss..  Tati juga bermimpi suatu saat untuk punya rumah dari kayu di pegunungan…

Tati berharap di suatu episode di hari tua Tati bisa tinggal di Sipirok yang sejuk, di sebuah rumah kayu yang dikelilingi taman penuh bunga-bunga…  Hmmmmm….. Mudah2an suatu saat bisa kesampaian ya…

Heran Deh Achhhhhh…… !!!!

Ramadhan segera berakhir….  Lebaran di ambang pintu…  Di kantor dua minggu terakhir banyak sekali manusia  dengan wajah-wajah yang TAK dikenal sebelumnya berkeliaran, datang dan pergi… Lalu datang kembali dan pergi kembali.. Diantara mereka ada yang berpenampilan rapi DAN sopan..  Ada yang berpenampilan rapi dengan wajah yang sangar……  Ada pula yang berpenampilan “ajaib” dengan wajah yang ajaib, lengkap dengan tatoo di tangan sebagai accecories…

Biasanya mereka mencari para pemegang jabatan alias pejabat.. Pada ngapain siyyy?  Pada minta bantuan untuk hari raya alias THR…!!!

THR, tiga huruf yang sangat populer di pertengahan kedua bulan ramadhan..  Dimana-mana orang membicarakan THR, THR dan THR, termasuk juga di kantor Tati..  Hhhhmmmmm…..  Secara Pemerintah Daerah kita menetapkan untuk tidak memberi THR bagi PNS di lingkungannya karena sudah diberi Tunjangan Beban Kerja, jadi kata THR harus dilupakan saja….  Ke laut ke laut….

Naahhhh… kita-kitanya aja THR-nya ke laut.., Kok bisa orang-orang berwajah tak dikenal dan tak punya hubungan kerja dengan kantor ini (kalo pun ada, kecil lah yaa….), datang2 minta THR…?  Sapa mereka…?  Apa hak mereka meminta THR…?

Belum lagi kalo mobil kita berhenti di traffic light… Adik-adik kecil yang menjajakan koran, atau yang emang suka minta-minta dengan santainya berkata “Bu, THR donk bu… Dua ribu ajaaahhhh….!!”  kalo kita diam dia akan bilang “Seribu juga gak apa-apa kok, bu….!!!”

Tati heran dengan ‘KONSEP THR’ yang ada di masyarakat kita akhir-akhir ini..  THR artinya kan Tunjangan Hari Raya.  Siapa siyy yang merayakan Hari Raya…? Siapa yang BERHAK MEMBERI dan MENERIMA TUNJANGAN HARI RAYA?  Apa urusannya orang-orang berwajah dan berpenampilan sangar minta THR kepada orang-orang yang tidak mereka kenal dan telah bekerja untuk menghasilkan rupiah demi rupiah…?  Heran deh achhhhh….!!!

Fixing A Broken Heart…

Suatu kejadian baru-baru ini mengingatkan Tati akan  lagu ini…  Lagu yang dinyanyikan Indecent Obsession dan Mari Hamada

 

FIXING THE BROKEN HEART

There was nothing to say the day she left
I just filled a suitcase full of regrets
I hailed a taxi in the rain
Looking for some place to ease the pain, ooh
Then like an answered prayer
I turned around and found you there

* You really know where to start
Fixing a broken heart
You really know what to do
Your emotional tools can`t cure any fool
Whose dreams have fallen apart
Fixing a broken heart

Ever could understand what I’m going through
There must be a plan that led me to you
Cause of the hurt just disappears
In every moment you are near, yeah
Just like an answered prayer
You make the loneliness easy to bear

* repeat

Soon the rain will stop falling baby
Let’s I’ll forget the past
’cause here we are at last

Buat kamu.., iya kamu… Be patient with me please…

Axel Nathaniel Wiranandra Siregar

Hari Jum’at 19 Sept 2008 s/d Minggu 21 Sept 2008 yang lalu Tati ke Bandung.. Bussiness trip yang singkat..  Tapi Tati nyempatin buat ketemu dengan buah hati yang udah lama banget gak ketemu.., Axel Nathaniel Wiranandra, atau biasa kita panggil dengan nama kesayangan Abby.  Abby yang menetap di Bandung adalah putra kedua Papi David, adik Tati.  Adiknya bang Aldy, abangnya Abner dan Ajere.  Secara Tati udah hampir 2.5 tahun gak ketemu si ganteng ini, Tati ngusahain banget banget buat ketemu setelah kerjaan selesai..  Pokoknya harus ketemu…  Cuma sayang karena waktunya mepet, Tati gak sempat bawa Abby jalan-jalan.. Padahal dulu kalo Bou-nya datang, Abby selalu minta dianterin  berenang, jalan-jalan ke tempat-tempat favorite-nya..  Next time ya sayang…

Setelah sekian lama, Tati tuh  lupa jalan ke arah rumah neneknya Abby yang berada di daerah Citarip, karena beberapa tahun terahir kita biasanya ketemuan di rumah Uuk (Buyut-nya Abby) di Jl. Jati di Bandung.  Tati sempat muter-muter, nyasar…!!  Karena seingat Tati jalan masuknya dari Perumahan Kopo Permai.  Ternyata Tati salah, yang bener tuh lewat Kopo Kencana…

Abby yang lahir di Bandung, 5 April 2000 (anak naga emas, lho…!!!) saat ini udah kelas 3 SD dan dapat rangkin 3 di kelas…  Alhamdulillah… Mudah2an semakin hari semakin pintar, baik hati dan baik budi, ya nak.  We all love you so much…

Abby mirip Bou-nya bukan?

Bou, Adik Dea, Abby dan Nenek

Good Paula and Bad Paula

Pernah dengan tentang Good Paula and Bad Paula…?

Tati mendengar tentang ini saat menonton film Anne Frank: The Whole Story (2001)..  Ini film yang dibuat berdasarkan diary Anne Frank, seorang gadis berdarah Yahudi yang tinggal di Belanda saat Perang Dunia Kedua…

Tati jadi ingat film ini ketika akhir pekan yang lalu, 20 September 2008, dapat kesempatan berkunjung ke Nu Art, sebuah  Sculpture Park di Bandung dimana kita bisa melihat hasil-hasil karya pematung Nyoman Nuarta.  Apa hubungannya patung karya Nyoman Nuarta dengan film Anne Frank ?

Di sebuah teras di lingkungan Sculpture Park, Tati melihat sebuah patung yang diberi nama Dua Wajah…  Wujudnya seperti sesosok tubuh yang terpisah  dua…  Yang satu menjadi sosok yang membawa kedamaian dengan seekor burung merpati di tangan..  Yang satunya lagi menjadi sosok yang dari depan terlihat mengikut arah pandang sosok yang damai, tapi sebenarnya dia memegang pisau yang disembunyikan di bagian belakang tubuhnya…

Dualisme ini yang memg membawa ingatan Tati ke sebuah adegan di dalam film Anne Frank: The Whole Story (2001).  Adegan dimana Anne yang sangat dekat dengan ayahnya, Otto Frank, berbincang-bincang sebelum tidur…

Pada adegan itu Anne bertanya pada ayahnya, “Mengapa ada orang jahat di dunia ini?”.  Anne bertanya setelah melihat kejadian orang-orang berdarah Yahudi diperlakukan semena-mena oleh Nazi.  Saat itu Otto Frank menjawab bahwa di dunia ini tidak ada orang sepenuhnya jahat..  Akan tetapi di dalam setiap diri manusia ada dua Paula, Good Paula and Bad Paula.  Good Paula akan mendorong orang untuk selalu berbuat baik, sementara Bad Paula mendorong orang untuk berbuat jahat.  Pada saat salah satu Paula sedang muncul dalam diri seseorang, maka Paula yang lain sedang mengendap-ngendap dalam diri orang tersebut..  Menunggu kesempatan untuk bica muncul … Naahhh, tergantung orang tersebut Paula yang mana yang akan dia ikuti, dan dibiarkan muncul dalam dirinya..

Jadi ingat lirik lagu Tuhan yang dinyanyiin Bimbo… “Hati adalah tempat, pahala dan dosa bertarung…..”. Juga jadi ingat salah satu ayat di Surat As Syam (QS 91 : 8-9) : Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketaqwaan.  Beruntung bagi yang mensucikannya, Merugi bagi yang mengotorinya…

Begitu juga kita bukan… ? Paula mana yang akan kita beri kesempatan untuk muncul dalam diri kita…?  Good Paula atau kah Bad Paula…?

Happy Bitrhday, Sist…!!!

Kemaren, 21 September 2009 kakak Tati, kak Lintje ultah yang ke 54…  So kemaren pagi,  begitu bangun tidur Tati nelpon beliau..  Meski lagi di Bandung Tati tetap ingat kok…

Kak Lintje 13 tahun lebih tua dari Tati.  Beliau sebenarnya kakak sepupu Tati, ayahnya adalah saudara laki-laki kandung Papa yang paling tua (Papa punya 1 saudara perempuan dan 2 saudara laki-laki).  Tapi karena Tati dibesarkan oleh orang tua kak Lintje sejak Tati berusia 1 tahun karena kak Lintje gak punya kakak maupun adik, so, kak Lintje is a sister for me.  Bahkan saudara perempuan yang paling dekat dengan Tati, secara we grew up together, kita melewati masa-masa bahagia bersama2, masa-masa kehilangan orang tua bersama-sama.  And She’s also be a mother for me setelah ibu kita berpulang ke rahmatullah pada 24 Mei 1987. Kak Lintje juga yang memberikan Tati 4 ponakan yang heboh dan meriah, yang memberi nama panggilan istimewa “TATI” : bang Parlin, bang Nanda, Olan dan Ira.

Tadi malam ini, begitu ketemu saat kak Lintje dengan bang Parlin dan bang Nanda menjemput Tati di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Tati langsung menyalamin dan mencium pipi beliau… Kita lalu pergi makan malam di Mall Seraya…

Time flies away…
Rasanya baru kemaren Tati si bocah kecil dibawa kak Lintje yang sudah remaja kemana-mana, saat dia main dan jalan-jalan dengan teman-temannya..  Rasanya baru kemaren kami menikmati kehidupan yang menyenangkan dengan kedua orang tua yang sudah gak ada lagi saat ini…

Saat ini kami tinggal dua bersaudara di kota ini… Nanda masih kuliah di Sinematografi IKJ, Olan di Matematik ITB, Ira juga sudah mulai kuliah di Sahid Jakarta.  Bang Parlin yang masih dalam proses untuk kembali menetap di Pekanbaru.  So, we have to back up each other…  Be a best friend for each other..

I love you Sist…!!!  Hope you’re always happy…

Tenggarong…

Ini 3 pics sisi kota Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara.. Kota yang sebelum Undang-undang Otonomi Daerah diberlakukan bisa jadi gak pernah kita dengar.. Tapi dalam beberapa tahun terakhir kota ini telah mempercantik diri…

Gambar Sungai Mahakam yang membelah Kota Tenggarong, dengan Pulau Kumala di tengahnya..

Pulau Kumala merupakan sebuah delta yang cukup besar, yang berada di Sungai Mahakam dan di pusat Kota Tenggarong.  Untuk mencapai pulau ini ada cable car, tapi entah ya rasanya gak safe aja buat naik.  Gak seperti kalo naik cable car ke Sentosa Island di Singapore atau ke Genting Highland di Malaysia.  Ada kapal sebagai fasilitas alternatif  buat mencapai pulau ini.  Tapi, setelah 3 kali ke Tenggaraong, Tati tetap aja belum sempat nyebrang ke pulau ini, karena kunjungannya selalu singkat.

Di ujung Pulau Kumala terlihat patung Lembuswana, simbol Kabupaten Kutai Kartanegara yang dibuat oleh seniman Nyoman Nuarta. Lembuswana adalah sosok perpaduan berbagai binatang. Seperti kuda tapi bersayap, bersisik, berbelalai, bergading, bertaji bahkan pake mahkota pula.. Kayaknya sosok ini bersumber dari hikayat setempat. Sayang ya, posisi patung Lembuswana-nya duduk. Kebayang gak siyy kalo posisi Lembusawa-nya berdiri pada dua kaki belakang sedangkan dua kaki depan terangkat tinggi…???  Pasti akan lebih keren lagi…  Patung Lembuswana dalam ukuran-ukuran yang lebih kecil bertebaran di sepenjuru Kota Tenggarong dan di perbatasan Kabupaten Kutai…

Ini fasilitas baru di tepian Sungai Mahakam, tepat di samping jembatan besar yang menghubungkan dua sisi Kota Tenggarong. Terakhir tati ke sini bulan Agustus 2006, fasilitas ini belum ada. Btw, apa ya fungsinya..? Design-nya siyy keren ya…. Kayaknya asyik juga tuh kalo kita bisa duduk di situ sore hari menikmati pemandangan Sungai Mahakam dan Pulau Kumala-nya..

Tati juga melihat masih banyak pemukiman khas masyarakat tepian di tengah kota ini… Rumah-rumah panggung dari kayu yang sebenarnya keren banget kalo ditata ulang..

A Journey To Borneo (3)

Hari Sabtu 6 September 2008, bersama Papi David, Mami Nana, Bang Aldy dan Bang Abner, Tati pergi ke Tenggarong. Tenggarong adalah ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sebuah kabupaten yang setelah berlakunya UU Otonomi Daerah, nilai APBD-nya tertinggi di Indonesia… Kota ini hanya sekitar 1 jam aja dari Samarinda, setelah Pemerintah Kukar membangun jalan-jalan yang lebar dan bagus…

Ini kali ketiga Tati berkunjung ke kota ini. Pertama kali ke sana di awal tahun 2005. Tati ke sana dengan Mami Uli dan pasukannya. Waktu itu Tati sempat ke museum Kutai, ke museum Kayu, juga sempat makan siang di hotel Singgasana yang berada di daerah tertinggi di kota ini. Kali kedua di bulan Agustus 2006, Tati ke sana juga dengan Mami Uli dan pasukannya, tapi cuma beberapa jam karena hanya berkunjung ke rumah adik iparnya Mami Uli, yang waktu itu bertugas di sana. Nah kali ketiga ini, Tati ke sana karena Mami Nana mau nemuin calon client-nya yang ingin dibikinkan kitchen set.

Sehari sebelum ke Tenggarong, Tati mengirim sebuah sms buat teman lama, “Gw besok akan ke Tenggarong dgn adik2 gw. Mau ketemuan?”

Teman Tati ini pernah mengisi hari-hari Tati selama beberapa tahun, namun kesalahpahaman, kemarahan sempat membuat hubungan baik kita terhenti. Kita terakhir bertemu hampir tujuh tahun yang lalu di lobby di depan ruang tempat Tati menjalani ujian thesis untuk menyelesaikan pendidikan strata 2. Saat itu beliau menunggui Tati ujian,. Setelah Tati dinyatakan lulus, beliau memberikan selamat dengan wajah muram dan mata berkaca-kaca, lalu pergi tanpa pernah kembali menemui Tati. Telepon Tati saat menyampaikan terima kasih atas segala kebaikan yang pernah diberi, permohonan maaf dan kata pamit karena akan meninggalkan Yogya untuk kembali ke Pekanbaru hanya dijawab dengan tiga kata yang diucapkan dengan suara yang dingin dan dalam, “Ya, Ya dan Ya”.

Namun waktu menyembuhkan segalanya.. Kita akhirnya kembali berteman, meski tidak lagi seperti dulu.. Hanya sesekali berhai-hai by YM. Kehidupan telah berubah.. Tapi kita tahu, bahwa kita pernah menjadi teman terbaik bagi satu sama lain.. Teman yang saling mengerti, teman yang saling mendukung untuk kemajuan satu sama lain…

Saat Tati dan keluarga baru berangkat dari rumah Papi David, sebuah telpon masuk.

Teman Lama (TL) : Kamu dimana ‘Dha?

Tati (T) : Otw, tapi kita mau singgah ke dokter gigi dulu. Ponakanku, Abner, mau di-flombir dulu giginya.

TL : Kira-kira jam berapa kamu sampai di sini?

T : Mungkin jam 13-an ya..

TL : Aku lagi di lapangan, ngedampingin tamu. Kalo kamu udah dekat Tenggarong telpon ya, supaya aku balik ke Tenggarong.

T : Ok. Thanks ya..

So, menjelang kami masuk Kota Tenggarong, Tati menghubungi beliau..

T : Kami udah hampir sampai.

TL : Mau ketemu dimana?

T : Gimana kalo ketemu di resto tempat David dan keluarga akan makan siang?

TL : Gimana kalo kamu ke kantor-ku aja jam 14-an ya..

T : Ok.

So, jam 14-an Tati diantar Papi David dan keluarganya ke kantor Teman Lama Tati, sementara mereka pergi makan siang.

Begitu sampai di lobby kantor yang sepi karena bukan hari kerja, Tati diberi tahu oleh staff yang ada di situ untuk naik aja ke ruang kerja beliau di lantai 3. Beliau ternyata menunggu Tati di ujung tangga lantai 3, di depan ruang kerjanya. Ruang kerja yang luas, meja kerja yang keren, sofa yang cantik daaaannnn… pemandangan yang luar biasa indah.

Gimana enggak, kantor itu berada di daerah tertinggi di kota itu, dan ruangannya berada di lantai 3, dengan dinding kaca selebar ruangan menghadap Kota Tenggarong dan Sungai Mahakam lengkap dengan Pulau Kumala di tengahnya… It’s really really beautiful view…! Persis seperti yang beliau katakan dalam suatu percakapan by YM. Waktu itu Tati sempat bilang betapa asyiknya kalo bisa menatap pemandangan itu sambil menikmati teh dan biscuit speculaas. Hmmmm…..

Tati berdiri di depan jendela tesebut beberapa waktu, menikmati pemandangan yang luar biasa indah itu, dan berusaha merekamnya dalam ingatan… Karena mungkin Tati gak akan pernah kembali ke situ lagi…

Kami lalu ngobrol… Tentang hidup dan pekerjaan masing-masing… I could see some of his habit has not changed… Hehehe.. And I am happy to see him well.. Senang rasanya kita bisa berhadapan dengan baik setelah pertengkaran dan perpisahan dengan cara yang menyakitkan bertahun-tahun yang lalu. Rasanya seakan menurunkan layar panggung saat pertunjukan usai, dan melihat tulisan “The End” di situ. Membuat Tati memperoleh kekuatan untuk benar-benar memulai hidup baru…

Ada rasa prihatin saat mendengar beliau mengatakan “I’ve been marriage for three years, but it’s just a name. I’m so busy with my work..” Ya, mudah2an semua akan baik-baik saja pada akhirnya, ya.. Semoga dia bisa merasakan kehidupan rumah tangga yang sakinah ma waddah wa rahmah..

Kita lalu turun ke teras kantor karena Papi David sudah menjemput, dan beliau juga akan pulang ke rumahnya..

Goodbye buddy… Thanks for every single things you did for me…

Can Not Retrieve…

Di WordPress, kalo bikin postingan yang di-link ke postingan lama kita sendiri, akan muncul di comment. Yang seakan ada comment baru.. Biasanya kalo yang begini suka Tati delete…

Beberapa hari yang lalu, saat delete men-delete, ternyata ada sebuah “real comment” dari teman yang ini di postingan yang ini terhapus… Sedih deh rasanya, secara Tati menghargai banget setiap komen yang dibuat teman-teman di blog Tati..

Tati lalu berusaha mencari tahu apakah ada fasilitas retrieve di WordPress. Tati menanyakannya ke pengelola, dan jawabannya..”Sorry, we don’t have….” Huhuhuhu….

Teman yang komennya terhapus…, maafkan dakyu ya…

Desa Pampang dalam Gambar…

Ini beberapa hasil jepretan Tati saat jalan-jalan ke Desa Pampang bersama Papi David, Mami Nana dan Abner. Bang Aldy dan Ajere kok gak ikut…? Bang Aldy lagi les… Secara Papi David dan Mami Nana selalu bersikap disiplin dengan jadwal anak-anak, ya Bang Aldy harus tetap pergi les. Lagian Pampang gak jauh kok, dan mereka udah beberapa kali ke sini. Ajere… ? Ajere ditinggal sama BS-nya di rumah, biar bisa bobok pulas tanpa digodain abang-abang yang lagi libur sekolah.. Hehehe.

Desa Pampang adalah pemukiman suku Dayak Kenyah yang berada di pinggiran kota Samarinda, hanya beberapa belas kilometer deh kayaknya. Secara administrasi masih masuk Kota Samarinda, kalo gak salah. Di desa ini setiap minggu siang ada pertunjukan kesenian masyarakat Dayak Kenyah. Naahhh pada waktu itu kita bisa melihat orang-orang tua suku Dayak dengan kuping yang panjang dan anting-anting besar. Mereka hadir di Rumah Panjang yang menjadi lokasi pertunjukan. Di situ juga dijual berbagai kerajinan hasil karya penduduk desa Pampang, berupa hiasan kepala, baju tradisional, gantungan kunci dll, yang semuanya berhiaskan manik-manik dan payet-payet berwarna warni. Bahkan waktu Tati ke sana pada bulan Agustus 2006 Tati juga ngeliat mereka menjual hasil-hasil kebun mereka pada para pengunjung.

Here d pictures…

Abner di depan Rumah Panjang, rumah tradisionil suku Dayak Kenyah yang menetap di Desa Pampang. Di rumah ini biasanya setiap hari minggu siang diadakan pertunjukan tari-tarian Dayak, juga dijual hasil kerajinan tangan masyarakat Dayak yang menetap di Pampang.

Tangga untuk naik ke rumah Panjang. Lihat ukiran-ukiran di anak-anak tangga...

Dinding bagian dalam Rumah Panjang yang jadi background pertunjukan tari-tarian

Tiang dengan patung burung Enggang di puncaknya. Burung Enggang merupakan symbol suku Dayak. Melihat tiang dengan burung Enggang ini mengingatkan Tati akan lirik lagu almarhum Chrisye yang berjudul Kalimantan

KALIMANTAN

Sungai Mahakam terbentang
Bagai membelah dunia
Berkayuh ku ke seberang
Mencari dambaan jiwa

Gunung biru menghijau
Berhutan bagai beludru
Juwita dimana engkau
Hatiku semakin sendu

Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana
Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana

Kudengar kicau burung
Dipohon bercanda riang
Menghilang rasa murung
Hatikupun merasa senang

Wahai kau burung enggang
Bolehkah daku bertanya
Dimana kucari sayang
Dambaanku tak kunjung datang

Dipadang belantara
Terdapat rumah panjang
Mungkinkah kasih disana
Jika ada kan kujelang

Ternyata kudapati
Hanyalah bekas bara
Kemana lagi kau kucari
Mungkin kita tak pernah jumpa

Kemana, oh kemana (3x)

Ini foto dari si Bapak Berkuping Panjang yang udah pernah Tati ceritain di postingan yang ini. Ternyata beliau adalah salah seorang tetua masyarakat Dayak Kenyah yang menetap di Desa Pampang, yang secara bergiliran bertugas menerima tamu di Rumah Panjang. Kelihatan gak daun kupingnya yang panjang dan digantungin assesories...? Beneran unik, kan?

Dalam perjalanan pulang, di tepi jalan di antara pemukiman masyarakat di Pampang Tati melihat sebuah pohon di pinggir jalan yang bentuknya unik.. Ternyata kata Papi David, yang dapat cerita dari teman-temannya yang orang Dayak, pohon itu memang dibentuk sedemikian rupa untuk tempat meletakkan jenazah sebelum dikebumikan..

Ini foto Papi David, Mami Nana dan Abner bersama si Bapak Kuping Panjang dan seorang bocah Dayak di depan Rumah Panjang. Lha Tatinya mana? Tati yang motret. Foto2 Tati malah adanya di kamera Mami Nana, dan kita belum sempat tukeran... Hehehe...

Sssstttt.... ini ada pic Tati dan Abner di depan Rumah Panjang, hasil ngebajak dari blognya Mami Nana...

A Journey To Borneo (2)

Hari ketiga di Samarinda, Jum’at 5 September 2009 diisi dengan nemenin Mama Nana nganterin Aldy dan Abner les gambar.. Di situ kita melihat seorang anak yang autis. Mukanya cakep dan bersih banget…. Sayangnya dia gak bisa fokus… Bulak balik ngedatangin Tati dan Mami Nana, lalu bilang “Tante hp tipe E90 itu cakep lho, apalagi yang warna coklat…” Kalimat yang sama diucapkan bulak balik more than 100 times in 2 hours.. Kasian deh ngelihatnya… Qiu qiu alias si guru gambar akhirnya nyamperin kita dan cerita tentang anak ini.. Beliau juga nunjukin hasil gambar yang pernah dibuat… Subhanalllah, dia itu ternyata sukanya ngegambar mobil dan gadget.. Gambar-gambarnya bagus banget, karena dia sangat detail menggambarkan obyeknya… Mami Nana, yang Arsitek, bilang “coba kalo gambarnya dibingkai sedemikian rupa, lalu dipajang diruang-ruang yang desainnya modern, pasti keren…”

Selesai les gambar, rombongan kita pergi ke Mall Lembuswana. Ceritanya udah janjian dengan adik Tati, Papi David, di sana buat belanja kebutuhan rumah tangga. Belanja yag heboh dan seru, secara Aldy dan Abner sibuk “ngebantuin” milih-milih barang yang mau dibeli… Selesai belanja, Papi David dan keluarga menikmati acara makan siang dengan menu masakan Jepang. Dari Mall Lembuswana kita pulang buat istirahat sejenak… Lalu menjelang jam 16-an wita, Papi David dan Mami Nana yang mau pergi nemuin client-nya, nganterin Tati ke rumah keluarga Surya Dharma, teman Tati waktu kuliah di Yogya..

Pak Surya yang mempunyai 3 putra (Dio, Reza dan Gunawan) adalah dosen di Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul). Waktu kita sama-sama di Yogya, Dio masih SD, Reza belum sekolah. Gunawan? Gunawan waktu itu masih Batita. Sekarang Dio udah kuliah tingkat I di Unmul, Reza udah SMP dan Gunawan udah SD. Hmmmm… kemana tahun-tahun berlalu…?

Tati sudah pernah berkunjung ke rumah mereka pada awal tahun 2005., tapi saat itu mereka masih tinggal di lingkungan sekolah dasar tempat bu Surya mengabdi sebagai seorang guru. Nah, sekarang keluarga ini sudah pindah ke rumah baru mereka di komplek Perumahan Dosen Unmul di jalan Kenyah – Dayak Batu Sempaja. Rumah mereka ternyata berada di bukit dan nyaris berada di posisi tertinggi di daerah itu. So, pemandangannya indah… Tati bilang sama pak Surya, ntar kalo rumahnya udah benar-benar selesai (saat Tati datang masih dalam proses finishing), pasti akan nikmat sekali kalo duduk-duduk sore hari di balkon rumah sambil minum teh… Hehehe..

Tati lalu ngobrol dengan bapak dan ibu Surya sembari menunggu waktunya buka puasa. Mengenang masa-masa sekolah dan teman-teman lama. Pak Surya cerita kalo dia sejak awal tahun 2005 gak ada komunikasi lagi dengan teman lama kita yang dulu juga runtang runtung dengan beliau. Padahal mereka tinggal di daerah yang relatif gak terlalu jauh. Tati lalu menelpon teman tersebut, yang memang sekali-kali masih berkomunikasi dengan Tati, lalu memberikan kesempatan mereka berdua untuk ngobrol… Hmmm, senangnya melihat 2 teman lama kembali berkomunikasi..

Tati berada di rumah keluarga Surya sampai acara makan malam. Masakannya si ibu enak-enak banget… Mudah-mudahan ada kesempatan lagi untuk kembali menikmati. Jam 20-an wita Papi David dan Mami Nana menjemput Tati karena kita akan kedatangan seseorang yang istimewa, yang mungkin akan menjadi bahagian keluarga kami nantinya.. Insya Alloh…

A Journey To Borneo (1)

Sebagaimana yang udah Tati bilang di postingan ini, so tanggal 03 September lalu, jam 09.20 wib Tati terbang ke Jakarta dengan pesawat Lion. Lalu jam 12.30 wib nyambung lagi terbang dengan pesawat Lion dari Jakarta ke Balikpapan. Sekitar jam 15.30 wita alias 14.30 wib, Tati menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Adik Tati, Papi David, beserta istrinya, Mami Nana dan putra ketiga mereka, Abner Harryndra Naiara Siregar, udah nunggu di resto di lantai 2 Bandara Sepinggan.

Setelah sempat ke supermarket yang berada di lingkungan Mall Fantasi, lalu singgah sejenak di rumah ortu Mami Nana di kompleks Perumahan Balikpapan Baru, sekitar jam 17.30 wita kita berempat melanjutkan perjalanan ke Samarinda. Karena merasa tanggung buat berhenti di jalan, Tati lalu memutuskan untuk makan malam di rumah di Samarinda ajah.. So, buka puasanya cukup dengan Aqua dan Kurma yang sempat dibeli di supermarket di Mall Fantasi.

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 3 jam, kita nyampai di rumah keluarga Papi David di Perumahan Bumi Sempaja sekitar jam 20.30 wita. Rasanya lega buanget… Apalagi setelah ketemu dengan Aldy dan Ajere, putra dan putri Papi Davud. Mana si mbak udah nyiapin makan malam yang hangat… Soto ayam plus perkedel dan mie goreng. Yummmy… Beneran lho, karena bumbunya paaasss…. Setelah ngalor ngidul…. Tati lalu mutusin untuk bersih2, sholat dan tidur…. Air hangat dari shower benar2 menolong menghilangkan rasa lelah, dan membuat tidur pulas blaazzzz… Nyadar2 saat si mbak yang kerja di rumah ngebangunin buat sahur… Hehehe…

Selesai sahur, Tati mendengar suara Ajere yang baru berusia 5bulan.  Lagi lucu-lucunya… Tati lalu mutusin untuk naik ke lantai 2 ke kamar anak2.. Lalu bergabung tidur dengan anak2… Hmmmmm…. Rasanya senang sekali bisa tidur dengan para kurcaci… I love you all…!!!

Pagi, sembari nemenin Papi David, Mami Nana dan anak2 sarapan, kita ngobrol ngalor ngidul… Siangnya Papi David, Mami Nana, Abner dan Tati pergi Pampang, Desa Wisata yang merupakan daerah pemukiman suku Dayak Kenyah. Gak jauh kok dari Samarinda, paling sekitar beberapa belas km ajah.. Kita ke sini buat mantau hasil kerjaan staff-nya Papi David dan Mami Nana yang dapat kerjaan membangun sebuah rumah tradisionil buat pemuka masyarakat di daerah Pampang.

Tati sebenarnya udah pernah ke Pampang pada bulan Agustus 2006 dengan adik Tati yang juga menetap di Samarinda, Mami Uli. Waktu itu kita pergi hari minggu, hari dimana masyarakat Dayak Kenyah di Pampang secara rutin mengadakan pertunjukan kesenian mereka di Rumah Panjang. Pada waktu itu masyarakat Dayak yang tinggal di desa tersebut juga menjual hasil-hasil karyanya berupa handicraft. Daaannnn…. biasanya pada saat-saat seperti ini kita bisa menemukan Si Kuping Panjang, yaitu tetua masyarakat dayak yang pake anting-anting sedemikian rupa sehingga daun kupingnya tertarik menjadi memanjang…. Karena kita datangnya hari Kamis, ya gak ada lah acara pertunjukan kesenian dan penjualan handicraft, tapi si bapak Kuping Panjang ada di situ. Beliau duduk di tangga Rumah Panjang lengkap dengan baju kebesarannya.. Kita bisa mengambil foto beliau atau berfoto bersama beliau, kompensasinya Rp.20.000,-/petik foto. Foto-foto di Pampang dibikin di postingan tersendiri aja aahhh….

Habis dari Pampang, kita sempat nyari wadai… Kita belinya di tempat langganan Mami Nana… Kue2nya…., weeiiizzzz delicious, bow.. Sayang gak sempat difoto, keburu dilahap… Huahaha… Malamnya kita ngobrol2 ajah di rumah… Kita sebenarnya menunggu kedatangan seseorang, tapi beliau beberapa hari sebelumnya mendadak harus pergi ke Banjarmasin, ya suudddd lah yaa… ditunggu saja…

Tapi hari itu Tati sempat nelpon Bapak dan Ibu Surya, mereka adalah keluarga yang menjadi sahabat Tati saat sekolah di Yogya. Pak Surya adalah teman sekelas Tati saat ngambil strata 2 di Penginderaan Jauh UGM. Bapak dan Ibu Surya mengundang Tati untuk datang ke rumahnya dan berbuka puasa keesokan harinya… Hmmmmm…., senengnya akan ketemu sahabat lama…

Lelah….

Tadi malam, Minggu 7 September 2008 jam 21 lewat, Tati kembali menginjakkan kaki di kota tempat Tati bermukim sejak kecil hingga remaja dan beberapa tahun terakhir.. Setelah perjalanan ke kalimantan Timur selama 5 hari pulang pergi, tubuh rasanya lelah sekali…. Tati akhirnya nginap di rumah Jl. Durian dan baru kembali ke rumah setelah subuh pagi ini..

Rencananya pagi ini kembali ngantor… tapi rasa sakit di sekujur tubuh membuat Tati memutuskan kembali ke rumah setelah sempat menjemput Nanda besar di bandara. Dia pulang dari Jakarta buat liburan puasa dan lebaran di Pekanbaru.

Tati rasanya benar-benar teler… Setelah selama 5 hari wara wiri : main dengan ponakan, pergi dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya rada lumayan jauh, ketemu teman-teman lama, ngobrol serius selama berjam-jam dan berhari-hari tentang topik yang serius dengan seseorang, tidur yang cuma sedikit, membuat tubuh benar-benar lelah….

Rasanya pijitan Bude, si pemijit langganan di dekat rumah, tempat tidur sendiri dan selimut butut membuat mata benar-benar tak bisa dikendalikan lagi… Tati tidur blazzzzzzzzzzzzzzzzzzz sampai sore, ditemani suara mesin cuci yang mulai mengangsur setumpuk cucian, oleh-oleh traveling. Hehehe…

So, cerita tentang perjalanan ke Kaltim Tati tulis besok-besok aja yaa… Karena kerjaan di kantor juga rada numpuk… Hari ini sambil tidur hp tetap aja krang kring krang krong minta dijawab… Telpon dari ibu A minta supaya besok mengantarkan barang X, telpon dari si B minta supaya besok melakukan kegiatan Y, telpon dari Bapak C minta supaya tati besok bisa menyerahkan kerjaan Z…. Jadi pengen nangis… Hiks. Siapa suruh jalan-jalan saat bukan musim liburan.. By the way, anyway, busway, emang PNS ada musim liburannya, ya…? Sbodo ah…!!! Pokoknya ari ini mau tidur dulu ajah…. Hehehe…

What should I say?

Somebody : You’re so closed to my heart…. Please marry me, dear…

I can’t say anything… Just silence and staring at the eyes of man in front of me..

Somebody : Tell me what is in your mind…? why are you just silence..?

Me : I’m just thinking…

Somebody : Tell me what are you thinking about?

Me : I don;t know what to say to you. It must be not easy to change my life. I’ve been alone for almost 41 years. I get used to make decisions for myself, but if I marry you I can’t do them anymore.. And I don’t know how to move my life. I’ve been worked so hard to have a good life in the town where I’m living now. And if I say yes to marry you, I have to start from beginning and leave it all behind.. I’m so worry… I’m afraid if everything not  runnin’ well…

Somebody : Don’t think too much… We’ll face the life together. OK, if you need time to think, I’ll give you time to think. I will ask you anymore when you want. Three months from now on? Six months? Next year? I’ll be patient to wait.. But please think about the time that will fly away…?

Me : Let me think… Please be patient..

Somebody : I will..

Friends, tell me what should I say?

Brave New Hope…..

Seorang blogger nulis tentang status yang suka ditulis para YM user. Tati selain make status2 yang STD alias standard, seperti available, busy, not on my desk,  selalu nulis BRAVE NEW HOPE. Ntah kenapa Tati senang banget dengan ketiga kata ini.. Rasanya menyiratkan suatu harapan, suatu rasa optimist meski kita sedang berada di bagian bawah siklus kehidupan…

Tati mengenal kata-kata ini sebagai judul sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Basia. Kayaknya penyanyi ini gak terlalu populer di Indonesia.. Tati kenalnya di tahun 1990-an.. Dan menikmatinya di malam-malam sepi saat tinggal di pinggiran kota Bogor dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN). Masiyy ada gak siyy program ini? So karena gak ada hiburan, kalo lagi senggang Tati tuh dengerin Basia di walkman. Zaman itu CD player masiyy barang langka deh kayaknya…!!

Teman2 bisa denger lagunya di sini, rasanya masiyy tetap maniz untuk dinikmati, meski nyaris 20 tahun yang lalu dirilis… Juga lyrics-nya… Gak habis dimakan zaman…

Brave New Hope

Looking out of the window
Can’t believe what I see
Where was all this beauty when I loved you
From now on this is my world
Yes we lost but I don’t hurt any more
I knew there must be more to life than this

Now is the time for me
I’m grateful you set me free
Baby one good turn deserves another
Now is the time for you
Pray our dreams come true
Could not see the world around me
You were my world
But now I keep inside my heart a brave new hope

There is no need to worry
I’ll find my place in the sun
Better days are here to stay forever
Times are changing so am I
Not alone ’cause there’s a heart needing love
I know that God will give me one more chance

Everything seems new
Have to get to know my friends again
I never realized that it could be like this
Time is a love-continuum
And I’ve got so much love to give
I’m not afraid to start this journey again tomorrow

To Borneo I will Fly…

Lusa, Rabu 3 September 2008, Insya Alloh Tati akan terbang ke Kalimantan Timur. Tujuannya siyy Samarinda, tapi penerbangan adanya ke Balikpapan. So, Tati harus ke Balikpapan dulu baru nyambung perjalanan darat sekitar 3 jam-an.

Kota Samarinda telah menyelinap di kehidupan Tati 10 tahun terakhir, juga akhir-akhir ini… Sebuah daerah yang sebelumnya gak ada di semesta pemikiran Tati. Sebuah tempat yang sebelumnya gak ada di WHERE 2 GO LIST-nya Tati.. Tapi 10 tahun yang lalu Tati berkenalan dan kemudian berteman baik dengan seseorang yang berasal dari sana. Kemudian 2 dari 5 saudara Tati pindah dan menetap di sana. Sehingga akhirnya daerah ini menjadi bahagian dari kehidupan keluarga besar Tati.

Tati sudah 2 kali berkunjung ke sana. Awal tahun 2005 dan Agustus 2006. Kayaknya datang dan datang lagi ke Samarinda, disebabkan karena Tati sempat minum air Sungai Mahakam, kali yaa.. Karena katanya kalau sempat minum air Sungai Mahakam, kita akan kembali lagi ke sana… Hehehe… Percaya gak siiyy sama yang begini-beginian? Kalo Tati siyy gak percaya…

Sebenarnya keluarga Papi David sudah beberapa kali mengajak Tati untuk kembali berkunjung ke Samarinda, tapi waktunya aja yang belum tepat. Apalagi setelah Mama terkena serangan stroke tahun lalu, rasanya kalau ada waktu Tati pengennya pulang ke Medan. Naahhh, di awal ramadhan ini, mumpung harga tiket pesawat rada turun.. Tati mutusin buat pergi ke Samarinda. Gak lama siiyy, hanya 5 hari pulang pergi. Namun insya Alloh akan menyenangkan dan membawa kebaikan buat Tati.

Oleh-olehnya, insya Alloh Tati bisa menikmati suasan ramadhan di sana yang bisa di-sharing dengan teman-teman ya.. Tati udah ngebayangin, betapa serunya berburu wadai (kue-kue) Banjar di Pasar Ramadhan di Samarinda.. Hehehe.. Dasar tukang makan.. Betapa serunya bisa sholat taraweh di mesjid2 Samarinda. Tati juga berharap bisa bertemu dengan teman-teman lama, teman-teman saat kuliah di Yogya dulu… Ada yang mau ikutaannn….? Yuuukkkk….