Resep Mandiri Ala Tati… (1)

Waktu Tati pertama kali kost, di Jl. Cirahayu No. 4 Bogor… Tati asli gak mandiri banget… Kalo cuma pergi kuliah atau ke toko atau ke mana siang hari siyy gak masalah.. Tapi ke kamar mandi yang terletak di ssmping kamar sendiri pada malam hari…., sumpe kagag beraniyy.. Kok? Iya, kamar2 kost di CR4 itu letaknya menghadap taman yang ada kolamnya.. Jadi kalo kita buka pintu kamar, ya langsung ke taman itu.. Sementara di kiri rumah kost adalah tanah kosong, sedangkan di kanan rumah kosong. Lalu di belakang rumah… tanah kosong yang merupakan Daerah Milik Jalan (DMJ) Tol Jagorawi..

Terus gimana kalo malam2 kebelet pe-i-pe-i-es…? Tati pasti teriak2 dulu manggil Opi yang berada di kamar sebelah…

Tati : Pi…, bangun dooonnkkk, gue mau pipis niyy….!! Hehehe..
Opi yang baik ati tapi bertampang judes itu selalu bangun sambil ngerundel : Iya, gue bangun…! Cepetan sana..!!
Tapi Tati akan segera teriak lagi : Loe keluar doonnkkk, gue gak berani keluar kalo gak ada orang di luar..

Maka setelah Opi dengan rambut yang awut2an dan bibir manyun keluar dari kamarnya, baru deh Tati berani keluar kamar. Dan selama Tati di kamar mandi, Opi dengan setianya akan nunggu di selasaran depan kamar, atau di dapur kecil yang berada tepat di depan kamar mandi…

Kelakuan Tati yang satu ini berlangsung berbulan2..
Opi emang baik banget.. Selalu mau diganggu..
Gue udah pernah bilang makasih belum siy sama elho, Pi? Makasih, ya Say…!!

Hantaman yang besar terjadi pada suatu siang, saat Tati jalan kaki di Jl. Riau Bogor… Saat itu Tati pulang les dari sekolah musik yang berlokasi di situ.. Jarak satu rumah dari rumah yang digunakan sebagai sekolah musik tsb, terdapat tangga yang menghubungkan Jl. Riau dengan Mesjid Raya Bogor yang berada di Jl. Raya Pajajaran, persis di samping Terminal Bogor.

Naaahhh…, saat Tati melintasi ujung tangga tersebut, ada seorang lelaki yang turun dari tangga tersebut, dia lalu berjalan di belakang Tati. Setelah beberapa puluh meter, si bapak tsb tetap aja berjalan di belakang Tati, padahal Tati jalannya pelan, normalnya dia pasti udah mendahului Tati.. Rasanya jarak dia dengan Tati kok dekat banget, ya.. Tati jadi deg2an.., mana jalannya sepi banget lagi.. Gak ada orang di jalan itu kecuali Tati dan orang itu. Tapi deg2an itu hilang saat si bapak menegur seorang anak yang sedang nebas rumput di lapangan yang ada di jalan tersebut. Pikiran Tati, si bapak itu berarti orang daerah situ. Tapi tiba2….. di leher Tati terasa ada tangan orang. Tangan tersebut menarik dengan keras kalung yang ada di leher Tati.. Tati benar2 shock, dan jatuh terduduk di jalan… Dari mulut Tati hanya keluar teriakan “Toloooooooooooooooooooooooooong.., rampoooooooookkkk……..!!!”

Begitu dengar Tati teriak, si perampok lari ke arah terminal, naik ke salah satu angkot yang sedang lewat kayaknya siyy dia emang preman di daerah situ.. Terus Tatinya gimana? Tati lama gak bisa berdiri.. sampai harus dipapah dulu ke pinggir jalan oleh salah seorang yang juga sedang lewat di jalan itu tapi datang dari arah berlawanan.. Belakangan Tati baru tau ternyata orang yang nolong Tati itu orang Pekanbaru juga, kakak kelas Tati, tapi sekitar 4 angkatan di atas, namanya Bang Yan. Lama Tati terduduk di pinggir jalan, sampai kaki udah bisa berdiri dan dilangkahkan..

Setelah kejadian itu.., Tati sempat untuk waktu yang lama jadi parno. Dengar pintu dibuka denga keras, Tati bisa deg2an. Di jalan kalo ada yang berjalan dalam jarak dekat dengan Tati, bisa bikin Tati gemeteran.. Pokoknya parno deehhhhh..

Tati lalu sadar bahwa kalo ke-parno-an ini dibiarkan terus menerus, akan menjadi penyakit.. Jadi harus dilawan.. Tati lalu memaksa diri untuk jalan sendiri setelah magrib dari tempat kost ke Toko Roti Jumbo yang berlokasi di Jl. Pajajaran, di depan kampus. Itu artinya Tati harus melintasi Jl.Cidangiang yang gelap dengan pohon2 besar dan rindang di kiri kanannya.. Hihihi… Sereeeemmmm…!!! Waktu pertama kali dilakukan, Tati bukannya jalan.. tapi lariiiiii….. Hehehe.. Tapi Tati lakukan lagi lagi dan lagi… Perlahan2 ke-parno-an itu tersembuhkan..

Tapi…, berbagai kejadian buruk kembali terjadi…: diincer copet di angkot atau saat turun angkot., diganggu preman saat jalan kaki di sepanjang Jl. Raya Pajajaran, seperti udah jadi makanan rutin.. Sampai akhirnya Tati mikir, yang salah itu bukan cuma para penggangu itu.., pasti ada dari diri Tati juga yang gak beres sehingga membuat mereka selalu tertarik untuk menjadikan Tati sasaran empuk.

Setelah berpikir dan berpikir, Tati lalu yakin, pasti sifat manja, gak mandiri dan penakut tercermin dari gerak tubuh Tati, sadar maupun enggak. Tati lalu memutuskan untuk men-train diri Tati lagi, lebih keras, lebih sering. Finally.. Tati akhirnya jadi lebih beranian, malah jadi kesannya tomboy buanget… Meski kalo di suruh melintasi kampus Baranang Siang malam2 sendiri tetap aja ngibrit… Hehehe.

Sebuah Bahan Renungan…

Kemaren di inbox Tati di hotmail ada email dari sahabat Tati, Avita Aliza..

Ternyata itu email yang diforward dari sebuah email yang diterima Vita dari seorang kenalannya, email yang penuh makna yang memerlukan perenungan yang dalam dari kita…

A Message by George Carlin:

The paradox of our time in history is that we have taller buildings but
shorter tempers, wider Freeways , but narrower viewpoints.
We spend more, but have less, we buy more, but enjoy less.
We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time.
We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more
experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little,
drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too
tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too
much, love too seldom, and hate too often.

We’ve learned how to make a living, but not a life. We’ve added years to
life not life to years. We’ve been all the way to the moon and back, but
have trouble crossing the street to meet a new neighbor.
We conquered outerspace but not inner space. We’ve done larger things, but not better things.

We’ve cleaned up the air, but polluted the soul.
We’ve conquered the atom, but not our prejudice.
We write more, but learn less.
We plan more, but accomplish less.
We’ve learned to rush, but not to wait.
We build more computers to hold more information, to produce more copies
than ever, but we communicate less and less.

These are the times of fast foods and slow digestion, big men and small
character, steep profits and shallow relationships.
These are the days of two incomes but more divorce, fancier houses, but broken homes.
These are days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality, one
night stands, overweight bodies, and pills that do everything from cheer, to quiet, to kill.

It is a time when there is much in the showroom window and nothing in the stockroom.
A time when technology can bring this letter to you, and a time
when you can choose either to share this insight, or to just hit delete…

Remember; spend some time with your loved ones, because they are not going
to be around forever.

Remember, say a kind word to someone who looks up to you in awe, because
that little person soon will grow up and leave your side.

Remember, to give a warm hug to the one next to you, because that is the
only treasure you can give with your heart and it doesn’t cost a cent.

Remember, to say, “I love you” to your partner and your loved ones, but most
of all mean it. A kiss and an embrace will mend hurt when it comes from deep
inside of you.

Remember to hold hands and cherish the moment for someday that person will
not be there again.

Give time to love, give time to speak! And give time to share the precious
thoughts in your mind.

AND ALWAYS REMEMBER:

Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.

George Carlin

Maksih emailnya ya Vit. Makasih juga buat Mr. George Carlin, yang Tati gak tau siapa dan ada dimana, yang udah mau berbagi hasil pemikiran dan renungannya..

Semoga setiap tarikan nafas kita menjadi lebih bermakna, terutama bagi orang2 tercinta…

Kok Bisa…?

Seorang kenalan lama yang udah kayak kakak sendiri malam ini bertanya…

Kok bisa ya ‘Ndha, kamu yang kecilnya manja skali, selalu dilindungi dan dijaga, sekarang tinggal sendiri, kemana2 sendiri…?

Kok bisa ya ‘Ndha, kamu yang kecilnya keliaran pake singlet dan celana renda2, berjalan megol2 dari satu rumah tetangga ke rumah tetangga di kompleks ini sekarang bisa dengan tegarnya menjalani apa2 sendirian…?”

2 pertanyaan ini selalu ditanyakan oleh orang2 yang kenal Tati dari kecil.. Ada satu pernyataan seorang kanalan lama ke sahabat Tati, si mami Eko.

Kok, bisa ya Ko..? Kakak pikir dia gak bisa hidup kalo gak ada Ibu-nya. Kakak pikir dia gak akan mampu bertahan kalo gak ada Ibu-nya lagi..

Alhamdulillah, temans.. Tati tuh masih sehat waalfiat, meski Ibu telah kembali ke Pangkuan Allah lebih dari 20 tahun yang lalu.. Semuanya karena lindungan Alloh SWT.

Iya…, Tati emang manja banget waktu kecil, bahkan cenderung terlalu dilindungi sehingga membuat orang2 di sekitar berpikir kalo Tati gak akan bisa mandiri.. Tapi ternyata kok sejauh ini bisa…? Ya itulah yang namanya kehendak dan perlindungan Alloh (pastinya…!!) Itu lah yang namanya keajaiban perjalanan hidup.., proses pendewasaan diri... Apa aja… ? I’ll tell you tommorow ya.. Sekarang udah ngantuk banget.. Secara malam ini pulangnya juga udah larut banget… CU…