Penang Trip, 1st Day

Setelah melakukan berbagai persiapan di sela-sela kesibukan kerja…  Akhirnya tanggal 6 Februari 2016 Perjalanan ke Penang pun dimulai…  Ceritanya dimulai dari keberangkatan dari Medan aja yaa…  Gak usah dari Pekanbaru, kepanjangan… 😀

Menurut schedule, Air Asia QZ106 yang aku, Papa dan adikku Ivo tumpangi akan berangkat jam 07.30. WIB, berarti kami sudah harus di bandara jam 05.00-an WIB.  Secara bandara Kualanamu lumayan jauh dari rumah kami di daerah Medan Baru, kami memutuskan untuk ke bandara dengan  Railink, kereta api yang khusus melayani rute Stasiun Merdeka Medan – Bandara Kualanamu pp.  Kasihan kan ponakanku Aldy kalau terkantuk-kantuk di jalan karena harus mengantar kami sebelum subuh…  Terlalu beresiko..  Kalau mau hemat sihh mendingan naik Damri, sebenarnya…  Ongkos Damri dari Carre Four Medan Fair Plaza, yang dekat rumah, ke Kualanamu, kalo gak salah Rp.20.000,- per orang.  Kalau naik kereta api railink, ongkosnya Rp.100.000,- per orang.  Tapi karena berangkatnya subuh, dan ingin lebih safe, kami  memilih naik railink.  Trip yang pertama, jam 04.00 WIB..  Jam berapa dari rumah? Jam 03.15 WIB…  Ayam berkokok aja kalah… 😀

Kami sampai di Kualanamu jam 04.40 WIB.  Karena sudah melakukan online check-in tanggal 5 Februari sebelum tidur, di counter check-in, kami tinggal ambil boarding pass.   Prosedurnya tetap sama, nunjukin kode booking dan nyerahin passpor.  Enaknya zaman sekarang, kita gak perlu nge-print tiket.  Cukup nunjukin kode booking.. Tapi klo di Luar Negeri, paket data kita gak aktif, lupa pula nge-save softcopy tiket, cuma punya kode booking, bisa deg-degan juga… 😀

AA QZ106 berangkat sedikit terlambat…, sekitar 20 menit-an.. Setelah terbang sekitar 45 menit, kami mendarat di Bandara Internasional Bayan Lepas..  Bandaranya rapi…, dan menjelang pintu keluar tersedia rak-rak berisi brosur-brosur tentang obyek wisata, juga kalender wisata Penang.. Kita bisa ambil for free… 😀

KOMTAR

KOMTAR, Kompleks Tun Abdul Razak

Dari bandara, kami memutuskan untuk memulai petualangan dengan naik bus  ke Kompleks Tun Abdul Razak (KOMTAR), pusat pertokoan modern di kawasan Georgetown, ibukota negara bahagian Pulau Penang.  Di KOMTAR ini juga terdapat terminal bus yang menghubungkan berbagai daerah di Pulau Penang.  Bus yang kami naiki, bus 102 jurusan Airport – KOMTAR – Teluk Bahang.  Berapa ongkosnya…? RM 3.4 per orang atau sekitar Rp.11.250,-.  Untuk jarak berapa km? Gak tau, tapi dengan bus yang lumayan cepat, waktu tempuh Airport – KOMTAR sekitar 45 menit..

Dari KOMTAR agar tak terlalu lelah nyari-nyari alamat Me.n.U.Cafe & Lodge, penginapan yang sudah dipesan melalui agoda.com,  kami memutuskan untuk naik taxi.  Untuk ke penginapan yang berlokasi di Steward Lane (Lebuh Steward) Nomor 34 Georgetown itu, Taxi minta RM 12, minimum payment..

Ternyata supir yang kami temui di antrian taxi di KOMTAR itu harus usaha extra untuk bisa mengantarkan kami ke Me.n.U.Cafe & Lodge , karena ada pengaturan baru arah jalan.  Lorong-lorong diatur jadi lorong sahala, alias jalan searah…  Padahal Lebuh Steward itu berada persis di belakang kuil Kuan Yin,  kuil Budha yang menghadap ke jalan Kapitan Keling, salah satu jalan utama di Georgetown.

George Town & 1st Houseshop

Buku George Town World Heritage. The Story of The Chinese in Nineteenth-Century Penang, dan rumah toko lama di Lebuh Steward

Belakangan saya tahu dari buku “George Town World Heritage Site, The Story of The Chinese in Nineteenth-century Penang “ yang ditulis Mark Thompson dan Karl Steinberg, kalau Kuil Kuan Yin, Lebuh Steward dan Lebuh Muntri merupakan salah satu alur awal Peranakan di Geortown.  Bahkan di lebuh Steward terdapat houseshop alias ruko pertama di Georgetown.  Saat ini ruko-ruko dimaksud berfungsi sebagai warung yang menjual barang harian dan minuman, termasuk minuman beralkohol… Hiks…

Setelah sampai di penginapan, kami bertiga langsung istirahat dulu.. Membayar waktu tidur  malam sebelumnya yang terpotong karena harus berangkat sebelum subuh… 😀

Kami bangun sekitar jam 12.00-an WIB, alias jam 13.00-an waktu Penang.., ketika perut mulai menyanyikan lagu keroncongan, minta diisi..  Sebelum keluar dari penginapan, kami menanyakan pada petugas penginapan dimana kami bisa menemukan resto yang menjual makanan halal.. Jawabnya si penjaga hotel yang orang Thailand, di sekitar hotel tidak ada, karena ini kawasan Chinese.. Hikksss..   Dari depan penginapan, kami berjalan ke arah timur,  ke  Jalan Kapitan Keling..

Seven Terraces

Seven Terraces dan bangunan cantik di depannya

Sekitar 30 meter dari depan penginapan, kami menemukan Seven Terraces..  Sebuah bangunan berupa 7 buah rumah toko  yang menyambung..  Bangunan yang didirikan di awal abad 20 ini mempunyai 7 teras yang menyambung dengan  keramik  yang cantik.  Bangunan ini difungsikan sebagai hotel..

Di tepi jalan, tak jauh dari seberang Kuil Kuan Yin,  kami bertanya pada seorang bapak yang sedang duduk-duduk sambil ngopi dengan teman-temannya yang berdarah India.  Beliau mengarahkan kami untuk bergerak ke arah selatan sekitar 50 meter, ke Lebuh Chulia, lalu menyusuri jalan tersebut ke arah timur.  Di ruas tersebut, menurut beliau ada beberapa resto India muslim… Beliau benar, di ruas jalan tersebut ada beberapa restoran India.., karena memang daerah itu adalah Little India-nya Penang..

Kami langsung berhenti di resto yang pertama kami temui.. Di pojokan Lebuh Chulia.. Masakan apa yang dijual….? Masakan India, pasti.. Ada nasi Briyani (asyyyiikkkk….!!), ada juga nasi putih dengan berbagai lauk yang diolah dengan bumbu khas India..  Buat diriku yang senang masakan Timur Tengah, rasanya seperti mendapat durian runtuh… 😀 Minuman yang ku pilih, es limau… Perasan jeruk limau, alias jeruk kesturi, dicampur air putih dan dikassi es batu.. Segerrrr…  Sementara Papa dan Ivo memilih teh tarik…, yang menurut Papa enak banget…

Wonderfood

Wonderfood, Museum yang memamerkan replika masakan-masakan khas Pinang dalam ukuran raksasa..

Setelah duduk sejenak  kelar makan siang yang nikmat…, kami melanjutkan petualangan dengan berjalan kaki menyusuri Lebuh Chulia ke arah timur.., sampai di perempatan Beach Road alias Lebuh Pantai..  Di jalan Lebuh Pantai yang lebar, kami belok ke arah utara..   Kami mencari Penang Peranakan Mension, karena menurut buku Inside Guide South East Asia, museum tersebut berada di sekitar daerah tersebut..   Namun sebelum menemukan Penang Peranakan Mansion yang dicari,  di sisi timur jalan tersebut kami justru melihat sebuah bangunan yang ditata cantik dan menarik..  Kami lalu menyebrang untuk melihat.. ternyata itu adalah Wonderfood, sebuah museum yang memamerkan berbagai replika makanan dengan ukuran yang besar…  Karena prioritas utama kami adalah museum-museum heritage, kami meletakkan museum ini sebagai tempat yang akan kami kunjungi pada hari terakhir, kalau masih ada waktu…  😀

Wisma Kastam

Wisma Kastam, gedung cantik dengan clock tower

Kami lalu melanjutkan petualangan menyusuri Lebuh Pantai, di sisi timur jalan..  Di sebuah jalan di sisi timur, kami melihat sebuah clock tower di atas sebuah bangunan.. Kami pikir itu Penang Clock Tower, yang merupakan salah satu must see, sehingga kami belok ke timur, ke arah Lebuh Pengakalan Weld – outer ring roadnya Georgetown..  Ternyata bukan.. Itu clock tower dari,  sebuah bangunan tua, yang saat ini digunakan untuk Wisma Kastam..  Kami sempat menyusuri Jalan Pengkalan Weld sepanjang satu block.., sampai akhirnya kami bertemu seorang penduduk lokal, dan menunjukkan arah ke Lebuh Gereja, atau Church Street, lokasi Penang mansion..   Dua block ke barat, lalu satu block lagi ke utara dari tempat kami bertemu dengan pemberi informasi tersebut..  Biar gak bingung, teman-teman bisa lihat Peta Georgetown di sini…

Gerbang Rumah Baba Nyonya

Rumah Baba Nyonya

Setelah berjalan ke sekitar 10 menit, kami sampai ke Lebuh Gereja..  Di sisi utara jalan, kami menemukan sebuah ruko yang di dindingnya tertulis Penang Heritage Trust (PHT), ternyata itu kantor NGO yang bergerak untuk mempromosikan koservasi warisan budaya dan menyelamatkan gedung-gedung bersejarah yang ada di Pulau Penang.

Di seberang kantor PHT, terdapat bangunan besar… Saat kami dekati, dari pintu yang terbuka di balik pagar, terlihat kalau di dalam bangunan itu adalah tempat sembahyang pribadi, milik sebuah keluarga..  Tapi pagarnya tidak terbuka…  Diujung pagar, terdapat pintu gerbang yang terbuka lebar.., ternyata itu adalah pintu masuk ke halaman depan Penang Peranakan Mansion, alias rumah Baba dan Nyonya..  Mansion tersebut tidak menghadap jalan yang berada di sisi utara gedung, melainkan menghadapa ke arah barat, ke halaman samping, yang saat ini berfungsi sebagai lapangan parkir. Di sisi dalam gerbang, terdapat patung perunggu seukuran manusia dengan raut wajah dan pakaian ala Eropa..

Brosur Peranakan Mansion

Untuk bisa menikmati keindahan rumah peninggalan Baba dan Nyonya yang berlokasi di 29 Church Street (Lebuh Gereja), 10200 Penang ini, setiap pengunjung harus membayar tiket masuk RM.20 atau Rp.66.200,- di nilai tukar Malaysia Ringgit Rp.3.310,- .  Untuk anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun, harga tiket masuk RM.10, sedangkan untuk pengunjung senior, di atas usia 70 tahun (kalau gak salah ingat), harganya tiket RM.17.  Sehingga untuk bertiga, kami membayar tiket RM.57 atau Rp.188.670,-  Harga yang menurut diriku sangat worthy.  Setelah membeli tiket, kita tidak diberi lembaran karcis, melainkan sepotong sticker bberwarna biru dengan tulisan “Penang Peranakan mansion” yang harus ditempel di baju selama berkunjung.. Setelah selesai, kalau mau tetap dipakai, juga boleh… 😀

Guide Peranakan Mansion

dengan guide Peranakan Mansion

Penjualan tiket dilakukan di dalam rumah, di sisi selatan ruang pertama yang kita temui begitu kita melalui pintu utama…   Oh ya, selama berkunjung di Peranakan Mansion, kita ditemani oleh guide yang disediakan pengelola museum..   Free of charge..  Bahasa Inggris dan Melayu guide-nya bagus, dan dia juga  sangat menguasai tentang apa-apa yang ditampilkan di museum ini…

Siapa sih sebenarnya Baba dan Nyonya, pendiri dan pemilik rumah ini…?

Baba adalah Chung Keng Quee, seorang milioner philantropis, alias penderma di zamannya.  Beliau  migran Cina yang datang ke Pulau Penang di usia 20 tahunan atas permintaan ibunya, untuk menyusul ayah dan saudara lelakinya yang sudah lebih dahulu merantau ke Malaysia dan tak pernah ada kabarnya..  Lelaki yang lahir tahun 1821 kemudian bergabung dengan ayah dan saudaranya melakukan bisnis timah dan tembakau di daerah Perak, Malaysia.

Pada tahun 1877 Chung Keng Quee ditunjuk menjadi Kapitan Cina oleh Pemerintah Britih yang berkuasa di Malaysia saat itu. Sebagai seorang philantropis, Keng Quee mendirikan dan membiayai operasional berbagai tempat ibadah, mendrikan sekolah-sekolah.  Lelaki yang meninggal pada tahun 1901 ini mempunyai 4 orang t’sais – istri sah (termasuk istri pertama yang ditinggal di Cina untuk merawat ibunya), 1 orang  t’sip – istri tak resmi (yang memberinya satu anak perempuan), 10 anak laki-laki dan 5 anak perempuan.  Kerajaan bisnis beliau dilanjutkan oleh anak keempat beliau, Chung Thye Phin.

Apa yang bisa kita lihat saat berkunjung ke rumah cantik yang diberi nama Hye Kee Chan oleh pemiliknya ini….?

Rumah Baba dan Nyonya  sepenuhnya menunjukkan Peranakan style, perpaduan budaya Cina, British dan lokal.   Rumah  ini terdiri dari  rumah utama  2 lantai, temple atau tempat sembahyang keluarga yang bisa diakses dari rumah utama melalui lorong khusus, dapur, dan ruang-ruang yang dimanfaatkan menjadi museum perhiasan dan museum embroidery alias sulaman, koleksi anggota keluarga Baba dan Nyonya..

Interior Lantai 1 Rumah Baba dan Nyonya

Top left : center courtyard; Topt rigth : tangga cantik di sisi timur; Below left : British Dining Room; Below right : Chinese dining room;

Begitu kita melewati pintu masuk rumah utama , kita bisa melihat bahwa  susunan ruang-ruang di rumah ini simetris, dengan  courtyard di tengah-tengah rumah..  Interior bangunan ni diisi dengan berbagai barang, termasuk kolom-kolom besi berukir cantik buatan Walter Macfarlane & Co dari Glasgow.  Kaya banget ya…. tahun 1800-an aja barang-barangnya udah diimpor dari Scotland..

Di sisi  selatan lantai 1 rumah utama terdapat dua dining room dan 1 living room untuk  tamu-tamu Baba dan Nyonya.  Dining room yang berhadapan langsung dengan central coutyard adalah dining room buat keluarga dan relasi-relasi lokal. Di dinding kiri dan kanan meja makan terdapat kaca-kaca besar, yang membuat tuan rumah yang duduk di kepala meja bisa melihat seluruh aktivitas di ruang tersebut..  Di sisi timur ruang makan besar ini, terdapat ruang makan yang lebih kecil.  Ruang makan  yang tertutup dan diisi dengan interior bernuansa Eropa ini diperuntukkan untuk menjamu para relasi berdarah Eropa.

Bed rooms Peranakan Mansion

Top left : love chair; Top middle : meja rias Nyonya; Top right : Baba & Nyonya’s bed room; Below left ; kamar anggota keluarga yang sudah menikah; Below middle : koleksi boneka Eropa milik putri Baba & Nyonya; Below right : Bed room dan koleksi pakaian putri-putri baba & Nyonya

Di belakang Chinese dining room, dibatasi dengan partisi kayu yang cantik, terdapat tangga kayu berukir untuk naik ke lantai 2. Tangga yang digunakan untuk pengunjung saat ini, karena tangga cantik di sisi timur rumah ditutup untuk umum.  di lantai 2 terdapat 4 kamar.. Kamar di sisi barat laut merupakan kamar untuk Baba dan Nyonya, kamar di timur laut untuk anggota keluarga yang menikah.  Kamar di sisi tenggara dan barat daya adalah kamar untuk anak-anak perempuan.. Semua kamar bernuansa merah, warna khas Chinese.

Antara kamar-kamar tersebut dihubungkan dengan ruang duduk bagi keluarga, serta selasar-selasar.   Di ruang di bahagian barat lantai 2 terdapat kursi yang bentuknya unik..   Terdiri dari 2 kursi ysng bersatu, dengan posisi yang berlawanan.. Yang duduk di kursi itu, posisinya akan berhadapan.. Konon, kursi adalah tempat  Baba dan Nyonya bercengkrama..

Koleksi Kristal dan Perlengkapan Makan Nyonya

Koleksi peralatan makan milik Nyonya

Apa lagi yang bisa dilihat di lantai 2 rumah utama? Koleksi kristal dan peralatan makan Nyonya..   Peralatan makan, sebahagian bermotif Phoenix dan Peony, motif khas China, yang diimpor dari Tung Chih pada periode 1862 – 1874 dan dari Kuang Hsu pada periode 1875 – 1908.  Koleksi yang sangat indah..  Oh ya, Baba dan Nyonya juga punya perlengkapan makan dari perak.. Peralatan makan dari perak ini akan membaut makanan yang dihidangkan berubah warna, bila makanan tersebut mengandung racun.

Setelah mengitari seluruh bagian rumah induk dan  beristirahat sejenak di koridor terbuka di sisi selatan rumah (koridor yang menghubungkan rumah utama dengan bahagian-bahagian lain), kami melanjutkan kunjungan ke Temple keluarga, yang berada di timur rumah utama, melalui  lorong kecil..

Bat Temple

Bat Temple @ Rumah Baba dan Nyonya

Temple keluarga Baba yang menghadap ke utara, juga mempunyai central courtyard.  Temple ini dinamakan Bat Temple, karena memang menjadi rumah bagi kelelawar di plafond di sisi utara temple.  Temple ini bertiang dan berpintu kayu yang  dihias dengan ukiran-ukiran yang cantik dan sangat detil..  Berbeda dengan rumah yang didominasi warna merah, temple ini didominasi warna coklat tua dan sedikit warna cyan..  Temple ini merupakan tempat untuk menghormati roh para leluhur keluarga Baba yang telah mendahului..

Dari Bat Temple, kami melanjutkan kunjungan ke dapur keluarga Baba, yang berada di barat daya mansion, tepatnya di belakang kantor museum.  Untuk sampai ke dapur ini, pengunjung harus melalui sebuah lorong di sisi barat bangunan Strait Jewelary Museum..

Dapur Nyonya

Dapur Nyonya

Dapur Nyoya berukuran sangat besar.. Fungsinya dapur tersebut bukan hanya tempat memasak, tapi juga berfungsi sebagai ruang makan sehari-hari, tempat menyimpan peralatan makan keluarga, bahkan apotik keluarga..  Hebatnya, koleksi barang-barang di dapur tersebut masih sangat lengkap…

Dari Dapur Nyonya, kami melanjutkan perjalanan ke bangunan di sisi barat rumah utama, di selatan dapur.  Bangunan ini terdiri dari 4 ruangan.  Dua ruangan memanjang,  yang satu  dijadikan  Strait Jewelary Museum,  satunya menjadi Embroidery Museum.  Dua ruangan lagi adalah lobby, dan ruang yang menjadi akses keluar dari Strait Jewelary Museum, sekaligus tempat menjual souvenir.

Strait Jewelary Museum

Koleksi Strait Jewelary Museum

Strait Jewelary Museum memamerkan koleksi lukisan, peralatan untuk menginang (makan sirih), koleksi souveniers dan perhiasan-perhiasan koleksi  anggota keluarga Baba dan Nyonya.  Barang-barang tersebut menunjukkan betapa mewahnya kehidupan keluarga Baba dan Nyonya, terutama para  perempuannya.  Perhiasan dan koleksi souvenier mereka terbuat dari logam mulia dan batu permata yang sangat indah.. Perhiasan tersebut mencerminkan budaya Peranakan.., karena ada sunting, yang merupakan hiasan perempuan Melayu, ada perhiasan perempuan khas Cina, dan ada juga perhiasan ala Eropa.. Mengingat koleksi museum ini sangat-sangat berharga, pengelola meuseum ini membuat sistem pengamanan yang ketat, termasuk penjaga keamanan yang ramah, namun dilengkapi senjata api.

Embroidery Museum

Koleksi Busana Keluarga Baba dan Nyonya

Apa yang dipamerkan di Embroidery Museum…? Baju-baju, tas, sepatu dan sandal, serta perlengkapan kamar tidur dan hiasan dinding yang penuh sulaman cantik, yang menunjukkan betapa makmurnya keluarga Baba dan Nyonya.  Semua begitu cantik, bahkan pantas untuk digunakan pada masa kini.

Oh ya…, seluruh bahagian Peranakan mansion ini mempunyai lantai yang terbuat dari tegel yang sangat cantik.., khas kolonial.. Diriku sampai gak bisa menahan diri untuk “melantai’ agar bisa dipotret di situ…

Kami mengakhiri kunjungan di Pinang Peranakan Mansion dengan hati senang.. Sungguh, mengunjungi Peranakan Mansion dan menikmati koleksi-koleksi yang dipamerkan di situ, merupakan aktivitas  memanjakan mata, hati dan pikiran..  Memberikan wawasan tentang kehidupan para perintis  di Pulau Penang..  Tentang mereka yang tetap membawa budaya yang diwarisi dari leluhur, menerima budaya tempat mereka menetap, juga menyerap budaya yang dibawa para relasi mereka, membaurkannya menjadi sebuah budaya yang luar biasa indahnya.., budaya Peranakan..

Penang Peranakan Mansion Souvenier

Oh ya, apa souveniers yang bisa dibeli di sini…? Duplikat perhiasan.., daaaannn…, buku Penang  Peranakan Mansion.. Berapa harganya, RM.85 atau Rp.281.350,-  Harga yang menurutku sangat pantas untuk sebuah buku yang cantik dan berisi…

Kami lalu melanjutkan perjalanan, tetap berjalan kaki.. Sebelum sampai ke hotel kami sempat singgah ke sebuah toko buku yang cantik di sebiah pojok di Jalan Kapitan Keling, di seberang Kuil Kuan Yin..

Setelah beristirahat, setelah magrib, kami menutup hari pertama perjalanan di Penang dengan makan malam di tepi pantai di kawasan Geurney.  Kawasan modern Pulau Penang,  di luar Georgetown..***

Penang Trip, A Plan…

Buat orang Medan, Penang itu adalah tempat berobat, sebagaimana Malaka bagi orang Pekanbaru…  Ya, kedua kota itu memang menyediakan jasa layanan kesehatan yang baik, sehingga menjadi alternatif bagi orang-orang di kedua kota tersebut yang tak puas atau ragu dengan pelayanan kesehatan yang ada…

Penang

@ Bayan Lepas Int’l Airport

Kok milihnya Penang untuk tujuan perjalanan di long weekend plus  cuti 4 hari kali ini…?  Kesannya gak cinta Indonesia…  Kan banyak daerah di Indonesia yang juga menarik…?? 😀 Apa mau lihat-lihat layanan rumah sakit di sana, karena sekarang bekerja di bagian manajemen rumah sakit….?  Enggak… Sama sekali enggak… 😀

Terus kenapa milihnya Penang…?

Karena aku belum pernah ke Penang…   Emang kenapa kalo belum pernah ke Penang….??  Enggak kenapa-napa…  Tapi, sekitar tahun 1997, saat aku baru jadi PNS dan ditugaskan mencatat surat-surat masuk, aku melihat sebuah surat undangan semacam kegiatan konferensi untuk Kepala Bappeda Kotamadya Pekanbaru, (saat itu masih Kotamadya istilahnya, setelah otonomi daerah istilahnya sudah Kota).  Di salah satu booklet yang dilampirkan di undangan tersebut dinyatakan seperti ini leih kurang :

“Kenapa orang harus datang ke Penang…? Karena di  Penang banyak sekali bangunan-bangunan tua yang cantik… Yang dibangun Cina Peranakan, Pemerintah Kerajaan Inggris, komunitas India, dan juga Melayu.  Bangunan-bangunan tua yang tetap terjaga dan cantik.. Daerah dengan kekayaan budaya  karena merupakan culture pot…”

Insight Guide

Insight Guides

Statement saat itu terekam dalam benakku…  Berkunjung ke Penang adalah sebuah keinginan, yang tetap tersimpan hampir 20 tahun…

Keinginan untuk pergi ke Penang bertambah setelah membolak balik buku Insight Guides  South East Asia pemberian bou Susan Rodgers saat kami bertemu bulan Juni 2013 yang lalu..

Kesempatan untuk pergi ke Penang akhirnya muncul saat aku lihat ada hari libur hari Senin tanggal 8 Februari 2016..  Libur hari senin artinya, long weekend..  Supaya punya waktu agar longgar, aku mengajukan cuti pada hari Sabtu tanggal 6 Februari, hari Selasa – Kamis, tanggal 9 – 11 Februari. Total 4 hari.. Itu   jatah cuti tahun 2015 yang belum diambil…

Karena aku merasa lebih nyaman tidak  jalan sendiri ke tempat yang baru,  aku mengajak adikku Ivo..Delapan tahun yang lalu,  Ivo pernah tinggal di Kedah sekitar 2 tahun, jadi Penang bukan daerah yang asing buat Ivo..  Kami lalu menanyakan apakah Papa mau ikut dengan kami…  Papa mau banget…, apa lagi saat Ivo bilang, kakak pengen ngeliat-liat museum dan heritage di Penang…

Perjalanan yang aku dan Ivo rencanakan  adalah perjalanan ala backpacker…  Murah meriah, dan seru..  Sebelum berangkat, aku dan Ivo melakukan beberapa persiapan…

Pertama-tama, Aku harus mengurus perpanjangan passportku yang habis masa berlakunya pada   bulan Oktober  2015.  Ivo juga. Aku mengurus passport secara online..   Untuk urusan yang ini, nanti daku buat postingan sendiri aja yaa..  Yang jelas biayanya gak mahal, Rp.360.000,-, termasuk biaya adinistrasi bank.

Lalu aku memesan tiket Pekanbaru – Medan untuk hari Jum’at tanggal 5 Februari 2016.   Dapat tiket di harga Rp.1.060.900,-.  Harga tiket peak season.. Menjelang Imlek, jalur penerbangan Pekanbaru  – Medan memang selalu penuh, karena warga Chinese di Kota Pekanbaru dan sekitarnya sebagian besar adalah Chinese dari Medan, mereka biasanya pulang ke Medan untuk family gathering..  Untuk tiket pulang tanggal 11 Februari, aku dapat di harga  Rp.498.000,-

Tiket Medan – Penang pp untuk aku, Ivo dan Papa, diurus oleh Ivo. Kami dapat tiket Air Asia, untuk 3 orang pulang pergi, harganya lebih kurang Rp.2.700.000,-  Berangkat tanggal 6 Februari jam 08.30 WIB, dan pulang tanggal 9 Februari jam 09.00 PM waktu Penang.  Oh ya, kami mengambil non bagage tiket.., karena kami rencananya hanya membawa 2 koper untuk dibawa ke cabin saja..

Untuk akomodasi, aku mencari alternatif  di agoda.com.  Karena daerah yang ingin kami jelajahi adalah ibukota Pulau Penang, Georgetown, dan karena rencana awal 2 ponakanku Aldy dan Ananda juga akan ikut, aku mencari pengnapan di daerah Georgetown yang menyediakan family room.  Dan aku menemukan Me.n.U.Cafe & Lodge.  Untuk berjaga-jaga, takut tak merasa nyaman, aku hanya mereserve untuk 1 malam saja..  Biayanya RM 210, sekitar Rp.630.000,- (2 hari sebelum kami berangkat, rate 1 RM = Rp.3.310,- )

Apa saja yang aku bawa untuk perjalanan 4 hari tersebut….?

Untuk pakaian, di koper aku hanya membawa 2 buah rok,  satu warna biru tua, satu ungu muda.. 5 buah blus.. 1 manset buat blus ungu yg tipis, 5 buah legging, plus pakaian dalam secukupnya..  Untuk alas kaki, aku hanya bawa 1, sepatu keds pinky ….  Tidak bawa yang lain.., karena tidak ada ruang di koper untuk itu..   Pakaian dari Pekanbaru, ditinggal dan dicuci di Medan..

Untuk dokumentasi, aku membawa kamera SLR dan juga kamera pocketku yang sudah bertahun-tahun memberikan hasil memuaskan.. Aku juga membawa tongsis, untuk memudahkan klo ingin ber-selfie atau ber-wefie.. Selain itu aku juga membawa si lapie, untuk memudahkan berbagai urusan..  Tak lupa, aku juga membawa si buku Insight Guide.. Mereka semua dikemas dalam si backpack hejo..  Sedangkan untuk tiket, passport, dompet dan telepon, aku menyiapkan sling bag kecil..

So…, semua persiapan ke Penang sudah okay.. Cerita perjalanannya.., di next post ya teman-teman..

Museum Sumpah Pemuda

Teman-teman  Warga Negara Indonesia,  yang mejalani pendidikan di Indonesia, tahu donk tentang Sumpah Pemuda….?  Keterlaluan, kalau gak tahu…  Hehehehe…  Secara cerita tentang sumpah yang satu ini disampaikan ke kita melalui pelajaran Sejarah dan pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) berkali-kali selama 12 tahun mengikuti pendidikan Dasar sampai Menengah… 😀  Masih ada gak siyy pelajaran ini sekarang…?

Ceritanya pada tanggal 11 Mei 2015 sampai dengan 10 Juni 2015, diriku mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang Perencanaan Pembangunan Daerah yang diadakan Pemerintah Daerah tempatku bekerja, bersama Lembaga Penyelidikan dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Indonesia (LPEM – FEB UI).  Pelatihan dilaksanakan di gedungLPEM FEB UI di Kampus UI Salemba.  Akomodasi kami disediakan di hotel Ibis Kramat Raya…  Jadi selama sebulan Kramat dan Salemba menjadi wilayah beredar diriku dan teman-teman.. 😀

Museum Bag DepanSekitar hari kedua pelatihan, salah satu narasumber, klo gak salah namanya Pak Budi, nanya dimana kami diinapkan.  Saat kami jawab  kami diinapkan di Hotel Ibis Kramat, beliau bilang, “Yang di sebelah Museum Sumpah Pemuda, ya?” Upppssss….  Ternyata, Museum Sumpah Pemuda itu hanya beda satu kavling dari tempat kami menginap.. Bahkan atapnya menjadi pemandanganku saat melihat ke luar jendela kamarku, kamar 612..

So…, pada hari Kamis tanggal 14 Mei 2015, yang kebetulan hari libur, aku memutuskan untuk berkunjung ke tetangga tersebut…  Tapi apa daya, karena hari libur, Museum ditutup…  sad  Dan aku baru bisa kembali ke Museum tersebut hari Sabtu, tanggal 06 Juni 2015, di hari-hari terakhir di Jakarta…

Museum Sumpah Pemuda dari kamar ku nampak terdiri dari satu bangunan yang cukup besar, dan satu bangunan tambahan di bagian belakang dan sebuah taman alias ruang terbuka di depannya…

Apa yang dipamerkan di Museum Sumpah Pemuda…?

Ruang UtamaDi teras museum terdapat beberapa patung setengah badan dari tokoh-tokoh Sumpah Pemuda, antara lain Prof. M. Yamin dan Dr. Leimena…  Dari catatan di dinding sisi utara teras museum terdapat keterangan bahwa Gedung Ex-Indonesisch Club-Gebouw ini dipugar pada 5 April – 20 Mei 1973 oleh Pemda DKI.  Menurut bincang=bincang dengan petugas museum tersebut, pada saat ini museum itu dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Bangunan induk museum ini terdiri dari 2 ruangan di sayap selatan, 3 ruangan di sayap utara, dan dua ruang besar di tengah..  Pintu masuk museum membawa kita masuk ke ruang tengah.. Yang di dalamnya ada patung-patung yang mengambarkan aktivitas para pemuda penggagas Sumpah Pemuda..

Dari ruang tengah ini kita bisa bergerak ke ruang selatan, di situ ada deskripsi tentang Jong Java, Jong Sumatera dan lain-lain. Ada juga patung pemuda yang lagi mendengar radio, media komunikasi yang menebarkan semangat persatuan saat itu..

Museum Bag Dalam

Di ruang belakang di bagian tengah ada patung-patung yang menggambarkan pemimpin sidang pemuda, juga ada patung WR Supratman yang memainkan biola.. Di dinding-dinding di ruangan tersebut terdapat salinan undangan kerapan pemuda, undangan hasil rapat pemuda, serta notasi dan teks lagu Indonesia Raya..

Sumpah Pemuda

Di ruangan-ruangan di bagian utara rumah, terdapat ruang yang bercerita tentang WR Supratman, juga terdapat biola milik beliau, serta deskripsi biola beliau…

WR Supratman1

Di ruang terdepan di sisi utara terdapat display dari tulisan-tulisan para pemuda pencetus Sumpah Pemuda.. Tulisan-tulisan yang seharusnya disosialisasikan saat ini untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan, semangat untuk membangun bangsa dan negeri kita, yang hanya bisa dilakukan salah satunya dengan menghentikan perilaku korup yang telah begitu merajalela, dan nyaris mendarah daging…

Tanah Air

Tulisan KH. Dewantoro

Api Sumpah Pemuda

Apa yang terdapat di bangunan tambahan gedung ini…? Selain kantor, terdapat juga ruang tentang sejarah kepanduan di Indonesia…, kepanduan yang merupakan salah satu wadah untuk membangun rasa cinta tanah air bagi para pemuda..  Sedangkan di ruang terbuka, selain terdapat Monumen Sumpah Pemuda yang berupa sebuah tangan kanan yang terkepal, juga terdapat dinding direlief berupa diorama Proklamasi..

Museum Kepanduan

Oh ya…   Berapa harga tiket masuk ke museum ini…?  Mahal kah…   Tidak…, hanya Rp.2.000,- (Dua Ribu Rupiah), saja.  Rasanya tidak mahal untuk masyarakat dari berbagai kelas ekonomi, terutama para pelajar dan mahasiswa..  Pada saat kunjungan diriku yang kedua, aku bahkan bertemu dengan rombongan pelajar salah satu SMA di Jakarta yang sedang touring mengunjungi museum-museum sejarah yang berada di sekitar Jakarta Pusat..  Menurut diriku, itu proses belajar yang keren…  Karena insya Allah akan lebih bisa dihayati, dirasakan, dibanding bila mereka hanya mengetahui dari buku-buku pelajaran sejarah..

Buat teman-teman yang akan berkunjung ke Jakarta, apa lagi akan membawa anak-anak berlibur ke Jakarta, mari berkunjung ke museum Sumpah Pemuda..  Agar tidak datang pada saat museum sedang tutup, silahkan lihat info museumnya di sini… ***

#CintakuNegeriku #CintaMuseum #WonderfulIndonesia #PesonaIndonesia

L Cheese Family Gathering di Echo Valley

Tanggal 16 Maret 2015 yang lalu adalah hari ulang tahun berdirinya L Cheese Factory, a premium cheese cake shop di kota kami, Pekanbaru.  Tahun pertama ulang tahun toko diadakan di L Cheese.. Tahun lalu, tahun kedua, acara ulang tahun diadakan di Grand Ballroom Hotel Aryaduta, dengan mengundang vendors dan customers untuk makan malam..

L Cheese 2nd Anniversary

L Cheese 2nd Anniversary

Naaahhh… untuk ulang tahun ketiga ini, kakak ku jauh-jauh hari udah bilang kalo ulang tahun ketiga L Cheese akan dirayakan bersama karyawan, dalam bentuk liburan sama-sama plus outbound.  Dan kakak ku sudah wanti-wanti agar aku menyisihkan waktu agar bisa ikut..  Baik laahhhh… 😀

Liburan kemana…? Ke Lembah Harau, di tepi Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Lembah yang dikelilingi tebing-tebing yang cantik dengan beberapa titik air terjun.  Di lembah itu ada resort yang bernama Echo Valley. Kenapa namanya Echo Valley alias lembah bergema…? Karena di seberang jalan masuk ke Echo Valley Resort terdapat dinding tebing yang kalau kita berteriak di depannya, suara kita akan bergema… Aaaaaaaaaaaa….. Uuuuuuuuu….. 😀   Diriku sebenarnya pernah ke tempat ini awal tahun 2010 saat liburan bareng sahabat-sahabatku, para mantan preman Sosek tahun 1988 – 1992-an,  tapi saat itu gak masuk ke Echo Valley.  Hanya singgah dan putu-putu… Kami saat itu nginap di Bukittinggi..

L Cheese Family Gathering

L Cheese Family Gathering

So…, tanggal 15 Maret 2015 jam 06.30, halaman rumah kami yang sebagian sudah dialihfungsikan menjadi L Cheese Factory sudah ramai dengan karyawan L Cheese, plus Deni dan teamnya dari Optima, yang akan mengurus outbound…  Sekitar jam 09-an, setelah ice breaking, rombongan yang berjumlah sekitar 43 orang berangkat dengan menggunakan satu bus..  Sementara ponakan ku #3 Olan plus istrinya Lianda Marta, menyusul sore hari, karena ada kegiatan lain yang harus mereka hadiri terlebih dahulu..

Kami sampai di Lembah Echo sekitar jam 04 sore, setelah perjalanan penuh warna.. Hehehe…  Iya penuh warna.., karena supir bus yang kami hire ternyata butuh pembinaan tentang Sapta Pesona.  Si supir berlaku seenaknya terhadap kami.   Dia merokok di dalam bus, tanpa perduli terhadap kenyamanan, kesehatan penumpang yang dia bawa.  Dia gak perduli di dalam bus itu ada bang Harry dan Aufaa yang masih balita, yang daya tahannya tentu belum seperti orang dewasa.

Bahkan si supir tidak mau menghentikan bus untuk berhenti di restoran Terang Bulan di Lubuk Bangku, yang menjadi pilihan kami untuk makan siang.  Alasannya, bus yang dia bawa harus makan di restoran yang berlokasi di seberangnya.   Hellooowwww…  Dia pikir dia bawa bus dengan penumpang umum, dimana supir punya kekuasaan mutlak untuk mengatur dimana dan kapan mau berhenti.  Kalau kami gak mau ikut kemauannya, dia tetap akan parkir di depan restoran pilihannya tersebut, dan kami dipersilahkan untuk menyeberang.  Untuk teman-teman ketahui, jalan yang harus kami, 43 orang termasuk 2 anak balita, itu adalah jalan lintas Sumatera yang lalu lintasnya padat, terutama di akhir pekan.  Sumpe gw pengen nabok…..!!!!

Echo Wall & Terang Bulan

@ Echo Wall & Terang Bulan

Tapi hikmah dari berurusan dengan supir yang belum tersentuh Sapta Pesona itu adalah, kalau kita akan menyewa bus, harus bikin kontrak yang jelas dengan pemilik bus, atau travel yang menyediakan jasa penyewaan bus. Lengkap dengan uraian tentang waktu penggunaan, kondisi bus yang kita inginkan, etika supir dan kernet yang kita kehendaki, serta konsekuensi kalau salah satu pihak melakukan pelanggaran terhadap perjanjian.

Lanjut ke cerita perjalanan…  😀

Karena tinggi bus kami melebihi portal di  jalan masuk lembah Harau, rombongan kami harus berjalan kaki sekitar 500 -800 meter untuk sampai ke Echo Valley Resort.  Buat kami para Ompung-ompung, pilihannya naik ojeg..  Jadilah diriku dan kakak-kakakku naik ojeg. Khusus diriku ada bonus…, gendong Aufaa, putra kedua Parlin, keponakanku, yang baru berusia 14 bulan saat itu.  Jadi aku rada-rada bawel deh sama si abang ojeg.. Hahahaha…

Echo Valley Resort nyaris gak terlihat dari jalan raya…  Hanya ada sebuah bangunan kayu di bahagian depan, yang berfungsi sebagai front office.. Namun tak terlihat pertugas yang ready..  Performancenya memang tak seperti hotel berbintang atau resort-resort di destinasi wisata terkenal..  Tak nampak petugas berseragam…  😀 Sehingga kita tak bisa mengenali yang mana petugas resort.. Selama kami menginap di situ, hanya satu wajah yang saya kenali..

Echo Valley

Echo Valley

Dari tepi jalan, untuk sampai ke resort kita harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak… , atau kalau agak-agak berani naik motor tukang ojeg atau petugas hotel.. Kenapa aku bilang agak-agak berani…? Karena lumayan curam… 😀

Echo Valley

Echo Valley

Tapi, begitu melalui jalan masuk yang menanjak, kita akan menemukan kejutan… Kejutan apa….? Resort yang nyaman…

Echo Valley

Echo Valley

Ada 4 bangunan besar yang langsung muncul di hadapan.. 2 berbentuk rumah gadang, 1 bangunan yang membuat kita berpikir tentang Spanyol atau negara latin, dan satu bangunan dengan desain minimalis…  Selain itu ada beberapa bangunan-bangunan yang lebih mungil..  Oh ya…, kita juga akan menemukan meja kayu dan 2 buah bangku kayu tanpa sandaran yang nyaman di bawah pohon rindang, plus sebuah lingkaran dengan tempat api unggun di tengahnya…

Echo Valley

Echo Valley

Ya, ini memang resort yang alami… Beda dengan resort-resort di Bali, yang cenderung lux..  tapi tempat ini nyaman banget… bahkan di siang hari, saudara-saudara tua, alias monyet akan muncul dan berkeliaran di sekitar bangunan..  So, jangan ninggalin barang sembarangan kalau gak mau dilariin saudara tua.. 😀 Meski resort ini lebih alami dibanding resort-resort di destinasi wisata yang lain, tapi fasilitas kamar, berupa tempat tidur dan kamar mandinya bagus.., kecuali mungkin di pondok-pondok yang kecil, yang sempat diriku intip pagi-pagi di hari kedua..  Ada air hangat…  Lantai kayu untuk rumah rumah dan kamar-kamar..  Soal harga dan contact person, teman-teman bisa lihat di web yang ini

Echo Valley

Echo Valley

Kalau teman-teman mau ke sini, jangan lupa harus bawa ransum yang cukup… karena lokasinya relatif yang remote dari kota, membuat makanan tak mudah ditemukan.. Pihak resort menyediakan sarapan, untuk lunch atau dinner ada by order.  Menunya standard..   Jangan lupa juga bawa sesuatu untuk mengatasi ulat bulu yang senang hadir di sekitar kita, akibat rindangnya pepohonan…  😀 Terus kami ngapain aja di sana… ?

Hujan di Echo Valley...

Hujan di Echo Valley…

Sore hari setelah sampai… Kami duduk-duduk di teras rumah Spanyol… Menikmati udara yang segar plus sejak karena hujan lebat… Ngobrol sambil mengawasi bang Harry dan Aufaa yang “merdeka” mundar mandir…  Bahkan Aufaa (saat itu berusia 14 bulan) yang berjalan aja masih belajar, sudah bulak-balik manjat tangga mezzanin yang ada di kamar tidur..  😀

@ Echo Valley

@ Echo Valley

Malam hari, kami makan di ruang makan, bangunan minimalis yang nampak di foto di atas.. Makanannya standard… Setelah selesai makan malam, menjelang jam tanggal 16 Maret 2015, dimulai acara ulang tahun L Cheese yang ketiga.. Acara dilakukan di ruang makan…, gak bisa disekitar api unggun, karena hujan terus sampai menjelang pagi..  Sayang, mataku saat itu benar-benar gak bisa diajak kompromi… Diriku tidur dengan nyenyak, meski sudah dibangunkan berkali-kali…  😀  Aku baru bangun sekitar jam 02 pagi.., kembali bergabung dengan keluarga, menikmati mie instant cup.. Untuk urusan mie instant ini, kakak ku sudah menyiapkan bekal 1 kardus besar, dan membawa kompor gas kecil, lengkap dengan panci untuk masak air dan tabung-tabung gas kecil.. 😀 Pesta mie cup usai sekitar jam 03 pagi..

@ Echo Valley

@ Echo Valley

Pagi hari…, kami menikmati sarapan yang disediakan pengelola Echo Valley..  Setelah acara foto-foto dan santai-santai sejenak, acara outbound dimulai..  Kami para ompung-ompung menunggu dan menyaksikan dari teras rumah Spanyol, sambil mengurus cucu-cucu..  😀  Sekitar jam 12-an, acara outbound dilanjutkan di air terjun yang ada tak jauh dari hotel.., sekitar 2 km.  Untuk ke sana, kami menggunakan mobil yang dibawa oleh ponakanku # 3, Olan, plus dibantu mobil pengelola resort.  Outbond selesai sekitar jam 15an.. Kami kembali ke resort, bersih-bersih, lalu kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan dengan makan malam di Bukittinggi..

L Cheese

L Cheese Big Family

Serunya family gathering keluarga besar L Cheese Factory.. Semoga outbound-nya bisa membuat Tim L Cheese bekerja dengan lebih baik, lebih kompak, agar L Cheese bisa memberi kebahagian yang lebih bagi customer dan semua pihak yang terkait dengan L Cheese…

L Cheese AnniversaryHappy 3 rd Anniversary, L Cheese… 

Semoga banyak kesuksesan dan kebahagian di tahun-tahun mendatang…

L Cheese Factory…, Make your heart say “cheese”

Ulos Angkola

Pulang kampung ke Sipirok dalam beberapa tahun terakhir selalu membuat hati dan pikiranku tergelitik… “Mau tau tentang apa lagi, yaa…?”

Yuupppp…  Besar di Pekanbaru, berada di lingkungan yang berasal dari berbagai suku,  lalu sekolah ke Bogor, dan sempat tinggal di 2 kota lain, bergaul dengan teman-teman dari berbagai daerah, membuat diriku di usia belia dan awal dewasa gak terlalu mau tahu tentang kampungku.. Tapi kemudian kesadaran bahwa budaya yang dimiliki leluhurku sungguh kekayaan yang tak ternilai, yang seharusnya aku kenal, aku pelajari, menggoda hati…  Makanya, bila ada kesempatan pulang kampung  aku berusaha melihat tinggalan budaya yang ada di kampungku..

Setelah mengunjungi ito Ardiyunus Siregar pengrajin Tuku dan Bulang  yang tinggal di desa Padang Bujur Sipirok, yang saya kenal melalui group orang-orang Sipirok di Facebook, kali ini saya berkenalan dan mengunjungi ito Advent Ritonga, seorang pengrajin ulos yang well-known.  Ito Advent Ritonga, yang formalnya hanya tamat Sekolah Dasar tapi sangat cerdas dan penuh bakat, menetap di Silangge, sebuah kampung yang berada sekitar 1 km dari jalan raya menuju Sipirok, kalau kita datang dari arah Medan.  Atau kalau dari rumah Ompungku sekitar 5 km-an.

Ulos 1

Ulos Angkola

Salah satu tulisan di dunia maya tentang Advent Ritonga bisa teman-teman lihat di sini

Aku sendiri sebelumnya enggak tahu dengan beliau dan nama besarnya.. Maklum kurang gaul.. Hahaha.. Tapi adikku Ivo, yang pernah menyusuri berbagai sentra kerajinan di Sumatera Utara, menyarankan aku mengunjungi pertenunan beliau kalau mau liat pengrajin Ulos.

By the way, anyway, busway…, teman-teman udah pada tahu kan apa itu ULOS…?

Ulos itu artinya secara harfiah kain, atau selimut..    Tapi biasanya pengertiannya dalam konteks adat..  Sedangkan untuk kain (bahan baju, sarung, kain panjang), kata yang dipakai adalah abit.  Ada juga yang menyebut ulos dengan istilah abit godang atau kain kebesaran, buka kegedean, lho.

Karena etnis Batak terdiri dari berbagai varian yang mempunyai budaya juga berbeda-beda…, maka ulosnya juga berbeda-beda, baik dari warna mau pun corak..  Sipirok, sebagai wilayah yang dihuni oleh masyarakat Batak Angkola, maka ulos di Sipirok adalah Ulos Angkola..  Ulos yang menggunakan lebih banyak warna..

Hari Jum’at 03. April 2015 kemaren, sore hari, dengan diantar kak Mega, anak Namboru (kakak Papa) yang menetap di Sipirok, diriku pergi ke Silangge, ke rumah ito Advent Ritonga, pengrajin Ulos itu..

Pertenunan Silangge

Pertenunan Silangge

Begitu sampai di rumah ito Advent Ritonga, mataku melihat di samping rumah beliau terdapat sebuah bangunan kayu, tempat bertenun, yang di atas pintunya terdapat tulisan yang mengatakan kalau pertenunan ini merupakan binaan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk pencelupan benang.  Tak sempat berbengong-ria, aku dan kak Mega langsung disuruh masuk ke ruang tamu rumah yang sekaligus berfungsi sebagai showroom sederhana..

Kak Mega langsung memperkenalkan diriku pada beliau, dan memberi tahu maksud kedatangan ku ke situ. Dan, ito Advent bilang, “Hu tanda do amangmu.  Ro do hami tu horja inatta na baru on”.  Artinya, “saya kenal dengan bapakmu, dan kami hadir saat acara adat pemakaman ibumu baru-baru ini”.  Hmmmmm.  Ini Sipirok, banyak orang yang saling kenal. Jadi hati-hati melangkah dan bicara.  Lebih hati-hati dari yang biasa dilakukan saat berada di luar sana.  😀

Silangge 1

dengan Ito Advent Ritonga, Pengrajin Ulos dari Silangge, Sipirok

Setelah ngobrol-ngobrol sambil melihat-lihat apa yang dipamerkan di situ, termasuk yang ada di dalam 2 lemari kayu besar dengan pintu-pintu berkaca, aku bertanya apa sesungguhnya makna yang ada di Ulos Angkola.

Menurut beliau Ulos Angkola merupakan ulos yang diberikan kepada pengantin Batak Angkola, dengan simbol-simbol penuh makna, penuh dengan pesan-pesan akan ajaran hidup yang harus dipelajari, dijalani orang Batak Angkola, terutama boru (anak perempuan).

Saya lalu meminta beliau untuk mengatakannya pada saya satu demi satu.  Ito Advent bilang, baru kali ini ada orang kita (orang Sipirok, maksudnya) yang bertanya pada dirinya tentang hal ini. Orang luar, orang asing yang justru lebih sering bertanya.  Semoga ini bukan tanda betapa tidak pedulinya generasi muda Sipirok terhadap tinggalan agung leluhurnya.

Saya lalu bilang, saya tidak sering mengikuti acara Mangulosi atau memberi ulos.  Tapi dari acara-acara yang saya lihat, saya ikuti, saya belum pernah meilihat, mendengar orang yang mangulosi itu menjelaskan makna yang tersimpan dalam ulos yang diberiannya.  Padahal bukankah makna adalah bagian terpenting dari sebuah pemberian..?

Ito Advent bilang, “Saya akan kasi tahu kamu.. Tapi kalau nanti tulisanmu sudah jadi.., sempatkan untuk memprintnya ya, dan kirimkan pada saya”.  Deal.  Insya Allah aku akan melakukannya.

By the way, diriku sempat bertanya, mengapa dirinya tidak pernah menulis tentang makna yang ada pada motif yang terdapat pada  ulos Angkola.  Dia bilang, dia pernah menuliskannya, lalu seseorang meminjam catatan tersebut, namun tak pernah mengembalikannya.. Hmmmmm… sad

Ito Advent menjelaskan pada saya mulai dari tepi ulos, yang wujudnya seperti bulu, sampai ke tengah ulos. Mari kita mulai.

Rambu 1

Rambu

RAMBU.  Rambu atau jumbai yang wujudnya seperti bulu, seperti putri melambai-lambai, melambangkan dalam berumahtangga, oarng harus luwes dalam mencari nafkah.

Manik-manik Si Mata Rambu 1

Manik-manik

MANIK-MANIK, SI MATA RAMBU, artinya dalam berumah tangga, sebagai orang tua nantinya, sepasang suami istri harus bisa menjaga anak laki-laki dan anak perempuannya dengan baik.  Bahasa Batak Angkolanya, Matahon anak dohot boru.

Sirat

Sirat

SIRAT, artinya suratan tangan, atau jodoh. Jadi orang yang menikah itu sudah jodoh, harus bisa mempertahankan rumah tangganya.

Jarak

Jarak

JARAK, tenunan polos berwarna hitam, berada di antara sirat dan pusuk robung.  Artinya dalam semua aspek kehidupan harus ada jarak, tidak boleh terlalu dekat.  Tidak boleh kita membuka semua yang ada pada kita kepada orang lain.

Pusuk Robung

Pusuk Robung

PUSUK ROBUNG alias pucuk rebung.  Artinya dalam kehidupan harus bisa bersikap seperti bambu, bermanfaat di sepanjang usia, makin tinngi makin merunduk, knea angin bergoyang tapi tidak patah.  Dan motif pucuk rebung ini juga ada lho dalam tenunan Melayu.  Apa ya maknanya? Ada kesamaan asal muasalkah? Hmmmm.

Luslus

Luslus

LUSLUS, artinya dalam hidup manusia itu harus bagai lebah, hidup bermasyarakat. Tak boleh hidup sendiri.

Tutup Mumbang

Tutup Mumbang

TUTUP MUMBANG. Artinya di dalam hati harus ada tempat untuk menyimpan yang panas dan yang dingin. Harus bisa mengendalikan diri, mampu menyimpan hal-hal yang buruk dan tidak mengumbar yang baik.

Iran-iran

Iran-iran

IRAN-IRAN, andege ni mocci.  Bahasa Indonesianya jejak tikus. Tiku kemanapun melangkah selalu terlihat jejak kakinya,  artinya dalam hidup manusia harus meninggalkan jejak, kebaikan. Tidak boleh berlalu tanpa meninggalkan bekas.

Jojak Mata-mata

Jojak Mata-mata

JOJAK MATA-MATA.  Ini motif dengan bentuk melintang terdiri dari warna merah, putih dan hijau.  yang menunjukkan perubahan.  Karena dengan pernikahan seorang perempuan akan melangkah ke tempat mertua, tinggal dan menjadi bahagian dari keluarga mertua, artinya berubah lingkungan, seorang perempuan atau boru harus meninggalkan jejak baik bagi keluarganya.  Suami dan istri harus mampu memberi kesan baik tentang keluarganya ke keluarga mertua, dan sebaliknya juga memberi kesan baik tentang keluarga mertua kepada keluarganya.

Yok-yok Mata Pune

Yok-yok Mata Pune

YOK YOK MATA PUNE.  Pune dalam bahasa Indonesia artinya burung Beo, burung yang cerdas.  Jadi seorang boru, perempuan Batak harus pintar, harus cerdas, harus mau selalu belajar.

Ruang

Ruang

RUANG.  Bahagian tenunan yang paling besar dan kaya warna ini melambangkan ular naga.  Kuat dan panjang.  Artinya suami istri itu harus berjiwa tegar, kuat dan mampu merangkul semua pihak yang ada di sekitarnya.

Si Jobang

Si Jobang

SI JOBANG. Motif yang berbentuk deretan prajurit.  Jumlahnya harus ganjil, di sisi-sisi terluar harus yangmenggambarkan Mora (Raja), berwarna merah. Mora di pakkal, mora di ujung.  Artinya sebagai Mora, harus bertanggung jawab terhadap seluruh aspek kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Singap

Singap

SINGAP alias ujung atap.  Artinya sebagai orang Batak, harus mampu bersikap seperti atap, mampu menahan panas terik matahari dan hujan.  Sepahit apa pun yang terjadi dalam berumah tangga harus bisa dihadapi.

Horas Tondi Madingin Sayur Matua Bulung

Horas Tondi Madingin Sayur Matua Bulung

Doa HORAS TONDI MADINGIN SAYUR MATUA BULUNG.. Ini serangkai doa, harapan, yang berarti semoga orang yang diulosi ini selamat-selamat, jiwanya sejuk sampai dia seperti daun yang menua.

Bunga

Bunga

BUNGA.  Perempuan Batak harus mengeluarkan bau yang harum bagi sekelilingnya. Harus bisa jadi pribadi yang teladan, jadi contoh.

Suri-suri

Suri-suri

SURI-SURI.  suri dalam bahasa Batak berarti sisir.  Makna Suri-suri, adalah sebelum keluar rumah orang harus merapikan diri, berkaca.  Jadi sebelum kita mengurusi orang lain, kita harus periksa diri kita dahulu, perbaiki diri kita, rapikan, baru kita boleh mengurusi diri orang lain.

Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu

DALIHAN NA TOLU.  Di dalam masyarakat adat Batak ada 3 unsur, Anak Boru, Kahanggi, dan Mora.  Yang paling tinggi kedudukannya adalah Mora atau Raja.  Yang menjadi Mora dalam adat adalah orang tua perempuan, alias mertua dari seorang laki-laki Batak.  Jadi bisa tahu donk, walau orang Batak itu menganut patrilineal, garus penerus marga ada pada anak laki-laki, tapi anak perempuan juga sangat berharga.  Ada istilah di masyarakat Batak, orang dianggap kaya kalau maranak (punya anak laki-laki) sapuluh (10), marboru (punya anak perempuan) sabolas (sebelas).  Karena dia bisa jadi mora untuk 11 keluarga. Hehehehe...  Pada ulos, dalihan na tolu digambarkan dengan 3 kolom yang berada di tepi kiri dan kanan ulos.  Yang paling luar adalah anak boru, yang tuigasnya dalam masyarakat adat melayani Mora dan Kahanggi.  Yang tengah adalah Kahanggi (saudara dari anak boru).  yang bahagian paling dalam, yang dibatasi dengan tugu adalah Mora.

Tugu

Tugu

TUGU, yang berupa 3 garis hitam sejajar, artinya perkumpulan keluarga.  Orang Batak harus hidup dalam perkumpulan keluarga.

Untuk diketahui, ulos Batak terdiri dari dua lembar yang disambung tepat di bagian tengah.  Seluruh susunan dan ukuran motif dari kedua lembar ulos itu sama, kecuali tulisan doa dan harapa Horas Tondi Madingin Sayur Matua Bulung.  Tulisan itu justru menjadi satu kesatuan setelah kedua lembar ulos disambung.  Kenapa harus terdiri dari dua lembar yang disambung? Karena rumah tangga itu terdiri dari 2 pribadi dengan latar belakang yang berbeda, yang disatukan, disambungkan.  Dalem maknanya.

Oh ya, seharusnya, diriku memperkaya penjelasan ito Advent ini dengan mendalami makna nama-nama corak tersebut, mengingat Papaku dan teman-temannya sudah menerbitkan 2 edisi kamus Angkola – Indonesia.  Tapi karena diriku takut lupa mengaitkan penjelasan-penjelasan yang diberikan dengan foto-foto yang diriku buat, jadi haris segera dikerjakan.  Lagi pula, aku ingin bisa mempublikasi paling tidak satu tulisan pada saat aku sedang berada di rumah peninggalan Ompungku.  Why ? Karena Ompung Godang kami mempunyai minat baca yang besar, dan mewariskannya pada anak-anak beliau, yang kemudian juga mewariskannya pada kami, cucu-cucu Ompung.  Buku adalah jendela dunia. Dan jendela itu tak ada gunanya kalau tidak dibaca.

Semoga tulisan ini bermanfaat.. Mungkin bisa menjadi referensi bagi yang akan mangulosi.. Atau mungkin juga bagi yang menerima ulos namun belum diberi penjelasan tentang makna yang ada di balik motif-motif yang ada di ulos tersebut.

Rumah Jl. Simangambat No. 97 Sipirok, 05 April 2015

Sondha Siregar

Rom Bor Sang

Apa itu Rom Bor Sang...?

Rom bor sang a1

Rom itu bahasa Thailand untuk payung..  Sedangkan Bor Sang adalah nama sebuah daerah di Chiang Mai..Jadi Rom Bor Sang artinya, daerah pengrajin payung, Bor Sang.  Daerah ini memang terkenal sebagai daerah pengrajin payung.. Bukan sembarang patung, tentunya.. Tapi payung-payung yang cantik.., berwarna warni.., berhias lukisan…

Jadi ceritanya pada pada tanggal 19 Juni 2013, setelah berkeliling Wat Phra That Hariphunchai, di Lamphun pagi hari…, saya dan kak Vivi dibawa oleh Worolak dan keluarganya ke Kampung Bor Sang, yang berada di wilayah Chiang Mai..

Di sana kami dibawa ke salah satu sentra pengrajin, yang sekaligus menjadi toko besar yang menjual hasil kerajinan payung.  Tapi buat memenuhi kebutuhan turis, toko itu juga menjual beberapa produk oleh-oleh khas Chiang Mai..

Rom bor sang 2a

Payung-payung cantik yang diproduksi dan dijual di sini, mengingatkan diriku akan payung hias yang diproduksi daerah sentra-sentra kerajinan di Indonesia, seperti Tasikmalaya,  juga Bali..  Ngeliat payung-payung cantik itu, diriku ngiler…, pengen bawa pulang…  Tapi klo mau dimasuk koper, gak muat..   Mau ditenteng…..? Come on….  😀

Terus apa yang bisa jadi kenang-kenangan dari Bor Sang..?

Saat melihat ke tempat produksi yang bisa dikunjungi para turis, aku melihat bagaimana para pekerja, yang sesungguhnya adalah artist seni rupa, menambahkan goresan-goresan mereka di sisi atas payung.  Mereka membuat lukisan tanpa pola..  Benar-benar dengan sense of art yang luar biasa kreatif..

Ransel 1

Lihat serah jarum jam.. Mulai dari kiri bawah…

Aku bertanya pada salah seorang pelukis payung, apakah mereka membuat lukisan di media yang berbeda dengan payung.  Si pelukis lalu berdiri, menunjukkan bahagian depan celananya yang model 7/8.. Di situ terdapat lukisan  yang cantik..  Aku lalu berpikir, kenapa tidak ranselku saja yang dilukis…?  😀

Aku lalu menyerahkan ranselku yang hejo dan masih kinclong kepada salah satu  pelukis yang ada di situ..,. untuk dilukis..  Si pelukis, dengan santun bertanya, gambar apa yang aku inginkan dia lukis di ranselku, apa warnanya…?  Aku minta dilukiskan seekor gajah dan anaknya..  Si induk berwarna ungu, si anak berwarna pink ala bona gajah kecil berbelalai panjang…  😀  Hasilnya….?  Silahkan dilihat…

Oh ya…, berapa upah melukis dua ekor gajah tersebut…?  Klo gak salah murah banget.., sekitar BTH 30, klo gak salah…  Ada teman-teman yang mau barang-barangnya dilukis juga…? Silahkan datang ke Bor Sang.. 😀  Atau…., mungkin ini bisa jadi ide bagi daerah2 kerajinan di Indonesia***

Berkunjung ke Lamphun

Tulisan kali ini merupakan catatan PERJALANANKU hari kedua di Chiang Mai.., lanjutan tulisan yang ini

Setelah sehari sebelumnya kami berjalan-jalan sampai malam hari ke Chiang Mai Safari Garden, dan pulang ke rumah Worolak dan keluarga di Lamphun, yang berjarak sekitar 25 km atau 3/4 jam dari Chiang Mai,  pagi hari kedua dimulai dengan santai di rumah Worolak yang sejuk, dengan halaman yang luas dan dipenuhi berbagai tanaman…

Lamphun a1

Setelah selesai mandi dan duduk-duduk sejenak, kami memulai hari kedua dengan menyusuri Kota Lamphun,  yang merupakan ibu kota dari provinsi yang bernama sama..  Menurut wikipedia, Kota Lamphun didirikan pada abad ke 9 oleh Ratu Chama Tevi, sebagai ibukota Kerajaan Haripunchai, Kerajaan yang terakhir jatuh ke tangan Thailand, dan merupakan bagian paling utara dari kerajaan yang diperintah oleh  Dinasti Mon.

Pada akhir abad ke-13 Lamphun diserang oleh Khmer, dan akhirnya ditaklukan oleh King Mengrai dari Kerajaan Lanna, dan menjadi bahagian dari Kerajaan Lanna sampai ekspansi Burma yang dilakukan pada abad ke-16.  Setelah itu, selama 2 abad Lamphun berada dalam kekuasaan Burma, sampai kebangkitan Thornburi dan Bangkok mengalahkan Burma pada abad ke-18.  Sejak itu Lamphun menjadi bahagian Kerajaan Thailand, dan kemudian menjadi salah satu provinsi di bagian utara Thailand.

Di Kota Lamphun  ini terdapat kuil terpenting di Thailand bagian  utara, Wat Phra That Hariphunchai. Ke tempat itu lah kami dibawa di pagi hari kedua di Chiang Mai…

Wat Phra That Hariphunchai terletak di pusat Kota Lamphun.. Pusat kota, atau bahagian kota lama Lamphun ini dikelilingi oleh parit besar dan  tembok tinggi ..  Dan untuk masuk ke pusat kota kita melalui gerbang.  Wat Phra That Hariphunchai ini berdampingan dengan sekolah biksu, yang terbesar di Thailand Utara.

Watt Haripunchai 5a

Wat Phra That Hariphunchai juga dikelilingi 2 lapis tembok putih dengan tinggi sekitar 2 meter.  Di halaman luar kuil selain terdapat bangunan tempat sembayang, juga ada beberapa toko-toko kecil yang menjual manisan mangga, minuman khas Lamphun, dan perlengakapan ibadah.  Kami diajak ayah Thumb menikmati minuman khas Lamphun, sejenis cincau, yang rasanya uenak..  😀  Aku juga sempat membeli dan mencicipi manisan mangga.  Sayang manisan yang fresh itu tidak bisa bertahan lama, hanya beberapa hari., jadi aku tidak bisa membawa pulang.

Reclining Budha 1

Setelah jajan di halaman depan kuil, kami lalu memulai kunjungan di kuil Wat Phra That Hariphunchai, dengan  masuk ke bangunan yang ada di halaman luar kuil.  Ternyata itu ruang tempat sembahyang yang  di dalamnya terdapat Reclining Budha, atau Budha dalam posisi baring menyamping, tapi ukurannya lebih kecil dari yang terdapat di Watt Pho di Bangkok.

Di tempat itu, para penziarah bisa melakukan pembacaan nasibnya dengan menggunakan bilah-bilah kayu..  Thumb melakukannya, aku duduk menyaksikan… 😀  Setelah mencari tahu tentang kemungkinan masa depannya, peziarah  menyalakan hio yang tersedia di situ, lalu membungkukan badan, tanda hormat kepada Budha.

Watt Haripunchai 2a

Setelah keluar dari ruangan tempat sembahyang itu, kami melanjutkan perjalanan ke halaman dalam kuil… Untuk masuk ke halaman dalam, ada 3 pintu.. Pintu utama terdapat di antara 2 patung makhluk yang bentuknya tubuhnya seperti singa, tapi wajahnya kombinasi kuda bermahkota, sedangkan 2 pintu lainnya mengapit pintu utama..

Apa yang kita temukan setelah melewati pintu?

Dari depan pintu kita menemukan sebuah bangunan besar dengan ornamen atap khas arsitektur Thailand.  Di sisi kiri ada semacam replika bangunan besar yang ada di hadapan kita, yang diletakkan di atas dudukan berwarna merah.  Di sisi kanan, terdapat sebuah bangunan berwarna merah 2 lantai, dengan empat tiang tanpa dinding. Di dalamnya digantung sebuah gong besar. Gong ini akan dipukul untuk mengingatkan waktu atau jadwal aktivitas kepada para bhiksu dan murid-murid sekolah bhiksu yang beraktivitas di kuil.

Di balik tembok pagar, baik di sisi kiri maupun kanan pintu masuk, terdapat deretan patung dewa (?) dalam posisi duduk.. Aku lupa menghitung ada berapa banyak.. 😀  Kayaknya perlu balik lagi niyy buat menghitung.. 😀

Apa yang ada di dalam bangunan besar yang kita temui begitu kita melalui pintu gerbang…?

Watt Haripunchai 3a

Di dinding atas di teras bangunan kita bisa melihat mural yang cantik..  Begitu melewati pintu masuk kita akan menemui  karpet merah terhampar di ruangan yang besar seperti hall.  Di langit-langit juga warna merah mendominasi diselingi warna emas…  Di ujung ruangan terdapat patung Budha berwarna emas dengan posisi duduk, berukuran sangat besar.. Di salah satu pojok di sisi kaki kiri sang Budha, ada patung seorang biksu yang persis seperti sosok manusia hidup..  Dengar-dengar siyy itu patung salah satu pemuka biksu yang sudah tiada..  Jangan tanya sama diriku siapa beliau, yaa..  Gak ingat.., karena saat disebut namanya, aku aja bingung, pabalieut soalnya… 😀  Di dinding kiri kanan bagian atas ruang tersebut terdapat banyak sekali mural yang menggambarkan kisah-kisah yang biasa kita kenal berasal dari India..  Seperti yang aku potret, sepertinya itu menggambarkan salah satu bagian dari kisah Ramayana.

Puas melihat-melihat, dan sempat bertanya-tanya apakah yang bhiksu yang duduk itu manusia beneran atau patung (hehehe), kami pun keluar dari bangunan tersebut..  Kami lalu berjalan ke bagian belakang bangunan besar tadi..  ternyata tepat di belakangnya terdapat chedi (bangunan seperti pagoda, tapi tidak bisa dimasuki)  besar berwarna emas, yang di pojoknya luarnya terdapat payung cantik juga berwarna emas.. Bangunan chedi dengan tinggi 46 meter ini, di bagian bawah bentuk persegi, sedangkan  di bagian atas berbentuk seperti susunan lingkaran.  Ada banyak orang yang bersembahyang di situ, dengan didahului  membakar hio..

Golden Chedi 1

Di samping kiri chedi besar berwarna emas terdapat bangunan yang juga berarsitektur khas Thailand.  Di bagian belakang bangunan tersebut ada bangunan terbuka.. Ada apa di sana…? Menurut kepercayaan umat Budha, itu adalah batu bekas telapak kaki Sang Budha…  Ukurannya besar… sekian puluh kali besar telapak kaki ku.  Mungkin manusia di zaman itu besar-besar yaa..

Watt Haripunchai 9a

Setelah bangunan tempat telapak kaki Sang Budha itu, masih ada bangunan lagi di belakangnya, sebelum berakhir dengan tembok yang membatasi halaman kuil dengan sekolah bhiksu.  Sejajar dengan bangunan paling belakang itu, terdapat dua bangunan lagi yang juga tertutup, dan sebuah chedi dari batuan vulkan, seperti candi-candi di Pulau Jawa.  Katanya siyy itu  chedi gaya Dvaravati..

Saat kami ke sana cukup banyak pengunjung..   Sebagian besar adalah etnis China yang datang untuk bersembahyang.  Hanya ada beberapa orang tourist non Asia..  Mungkin karena Chiang Mai lebih populer dalam promosi pariwisata Thailand.

Menurut diriku…, bila teman-teman ingin berkunjung ke sana, sebaiknya teman-teman mencari literatur dulu tentang Lamphun dan sejarahnya.., agar lebih bisa memaknai apa yang dilihat.. Memang di negeri kita tak banyak literatur yang bisa kita peroleh tentang sejarah Thailand, terutama Thailand Utara.  Apa lagi huruf mereka yang ajaib seperti huruf Palawa, membuat kita semakin sulit untuk mengerti.. Gimana mau ngerti, bacanya aja kagag bisa, yaa…?*  Padahal sebagai negara serumpun, kita punya kedekatan budaya dengan mereka.  Pada tulisan2 berikutnya, saya akan bercerita tentang kunjungan ke situs-situs warisan budaya Thailand, yang bisa membuat kita melihat adanya kedekatan budaya.. Tunggu ya, teman-teman… ***

Jalan-jalan ke Chiang Mai

Tulisan ini merupakan catatan PERJALANAN KU yang dilakukan sekitar 1,5 tahun yang lalu.. Tepatnya tanggal 18 Juni 2013..  Udah lama yaa…  Out of date atuhhh…  😀  Mudah-mudahan enggak yaa…  Karena siapa tahu bisa jadi info buat teman-teman yang juga akan travelling ke Chiang Mai..  😀

Chiang Mai itu dimana?

Chiang Mai itu nama sebuah kota di bagian utara Thailand..  Kota ini merupakan kota nomor 2 terbesar di Thailand, dan kota terbesar di Thailand Utara..

Mengutip dari Wikipedia

Chiang Mai didirikan oleh Raja Mengrai pada tahun 1296, menggantikan Chiang Rai sebagai ibu kota Kerajaan Lannathai. Chiang Mai sendiri berarti kota baru, Raja Mengrai melengkapi ibu kota baru ini dengan tembok kota serta parit yang berbentuk bujur sangkar mengelilingi kota untuk melindunginya dari serangan luar, terutama Kerajaan Burma.Seiring dengan melemahnya Kerajaan Lannathai, Chiang Mai beberapa waktu berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Kerajaan Burma ataupun Kerajaan Ayutthaya. Pada tahun 1767, perang antara Burma dan Ayutthaya mencapai puncaknya dan mengakibatkan penduduk Chiang Mai mengungsi meninggalkan kota tersebut. Pada kurun tahun 17761791, Chiang Mai ditinggalkan hampir seluruh penduduknya. Lampang menjadi ibu kota sementara dari apa yang menjadi sisa Kerajaan Lannathai masa itu.Chiang Mai secara resmi menjadi bagian dari Siam setelah direbut Raja Taksin dari Siam yang mengusir kekuatan Burma dari kota tersebut. Chiang Mai tumbuh dan berkembang menjadi pusat kebudayaan, ekonomi dan perdagangan serta mendapatkan posisi fungsionalnya sebagai ibu kota tak resmi di utara Thailand dan menjadi kota terpenting di Thailand setelah Bangkok.

Ngapain ke Chiang Mai…?

Ya jalan-jalan lah… 😀 😀 😀 

Jadi, ceritanya aku jalan-jalan ke Bangkok berdua dengan kak Vivi, teman yang ku kenal saat masih bertugas di Pemko Pekanbaru.  Saat merencanakan perjalanan, kak Vivi bilang agar kami tak hanya ke Bangkok, tapi juga ke Chiang Mai, karena di sana ada Worolak, sahabatnya saat ngambil pasca sarjana di New Zeland.

Untuk sampai ke Chiang Mai, kami terbang dengan Air Asia dari Bandara Don Muang selama lebih kurang 2 jam.  Sampai di  Chiang Mai siang hari, alhamdulillah Worolak dan keluarganya sudah menunggu kami…

Kemana aja selama di Chiang Mai… ? Kami pergi ke banyak tempat… Seru banget… Worolak dan keluarga benar-benar mengurus kami… Padahal Worolak dan keluarga tinggal di Kota Lamphun, sekitar 1 jam dari Chiang Mai.  Jadi kami jalan-jalan gak hanya di Chiang Mai, tapi menginap dan jalan-jalan di Lamphun..  Thank you so much Worolak and Family..

Dari bandara, kami dibawa ke suatu bagian Kota Chiang Mai yang merupakan daerah Muslim,  di Charoenprathet Lane 1, masuknya dari Charoenprathet Road yang berada di tepi Sungai Ping, sungai yang membelah kota Chiang Mai..  Gak jauh dari Thapae Road dan Nawarat Bridge.  Di jalan itu ada Masjid Hilal, dan ada beberapa restoran Muslim.

Masjid Hilal berada di lantai 2, lantai satunya berfungsi sebagai aula..  Di dinding panggung aula tersebut dipasang gambar ka’bah.  Masjidnya, alhamdulillah lapang dan bersih.. Juga toilet dan tempat wudhlunya.  Di kompleks masjid tersebut juga terdapat tempat pendidikan agama, seperti madrasah kalau di tempat kita..  Senang sekali rasanya menemukan masjid di negeri dimana muslim adalah minoritas.. Apa lagi sebelumnya beberpa hari di Bangkok, aku tak menemukan masjid..  Sepertinya Islam di sini masuk sebagai perpanjangan dari jalur sutra (Silk Road).

Muslim District a

Siang itu kami makan di resto yang bernama  Moslem Retaurant.  Yang dihidangkan di situ berbagai macam noodles dan menu arabian, seperti nasi briyani..  Aku memilih kwetiaw kuah seafood..  Nikmat banget rasanya.. Karena makan tanpa rasa ragu…

Setelah makan siang di daerah Muslim, kami pulang dulu ke rumah Worolak di Lamphun, karena Thumb, putra satu-satunya Worolak sekolah, dan harus dijemput.. Dan untuk 2 hari berikutnya, agar bisa sama-sama jalan dengan kami, Thumb, diminta izin untuk tidak masuk sekolah… Hehehehe…

Setelah menjemput Thumb dari sekolahnya, kami sore itu kembali ke Chiang Mai…  Ngapain mundar mandir dalam satu hari…? Jadi ceritanya Worolak dan suaminya sudah menyusun ittenarary buat kami selama ke Chiang Mai.. Luar biasa ya, baiknya Worolak dan keluarga.. Kami sore itu kembali ke Chiang Mai untuk melihat Chiang Mai Night Safari

Chiang Mai Night Safari beralamatkan di 33 หมู่ 12 หนองควาย หางดง (hehehehe…, gimana bacanya yaa…?), gak jauh dari Royal Park Ratchaphruek..  Tempat ini merupakan nocturnal zoo  dan nature theme park ketiga di dunia,  dibangun oleh Pemerintah Thailand dalam rangka promosi pariwisata Thailand… Apa maksudnya nocturnal zoo? Nocturnal zoo, artinya kebun binatang yang berisikan makhluk-makhluk dengan aktivitas di malam hari..  Jadi di kebun binatang ini kita bisa melihat aktivitas binatang di malam hari.. Seru yaaaa……

CM Night Safari1 a

Berapa harga tiket masuknya…? Untuk orang dewasa THB 300, untuk anak-anak THB 150.  Klo di kurskan hari ini, dengan kurs  TBH 1 setara dengan IDR 450, harga tiket masuk itu kira-kira IDR 135K untuk orang dewasa dan IDR 67,5K untuk anak-anak.

Saat kami sampai di sana, hari masih sore, menjelang magrib.. Kami bisa melihat-lihat dulu di halaman luar CM Night Safari, di sekitar parkiran.. Ada apa aja? Ada gajah, yang ditempatkan di tanah yang luas, berpagar kawat tinggi..  Juga ada rusa, kelinci dan jerapah.. Oh ya, di dekat parkiran ada serombongan ibu-ibu yang ditugaskan menjual sayur-sayuran untuk diberikan pada kelinci, rusa dan jerapah…

Sebelum masuk ke CM Night Safari, kami dibawa Worolak dan keluarga makan di tempat ini.. Makanan dihidangkan dalam bentuk buffet.  Worolak dengan sabar menjelaskan pada saya, apa bahan makanan yang dihidangkan.. Mana yang bisa yang saya makan, mana yang tidak..  Di restaurant itu juga Worolak mencarikan ruang buat saya agar bisa menjalankan sholat magrib, sekaligus isya.

Gerbang CM Night Safari dihiasi patung gajah putih yang besar, lambang Kerajaan Thailand..  Pintu masuk berada di dalam gedung yang berisikan toko-toko souvenir.  Di sana juga ada orang-orang yang memakai pakaian seperti binatang.. Dan ada juga orang-orang dengan pakaian carnival.. Mereka melakukan tarian semacam tarian selamat datang. Mereka cantik-cantik.. Tapi jangan salah…, they are not women…

Keluar dari gerbang masuk, kami menemukan kolam yang besar.., yang pada waktu-waktu tertentu menampilkan Dancing Fountain.., permainan air diiringi musik serta permainan lampu yang ciamik…

CM Night Safari2 a

Tapi Worolak, mengajak kami segera mengantri mobil yang akan membawa kami bersafari.. Karena biasanya antriannya lumayan..  Acara nonton Dancing Fountain bisa dilakukan usai safari..

Untuk bersafari, kita disediakan mobil terbuka, dengan 3 jalur tempat duduk.. Tiap-tiap mobil terdapat 2 petugas, supir dan guide, yang menjelaskan apa yang dilihat..  Apa memangnya yang dilihat…?

Zoo di CM Night Safari ini memang dibuat seperti alam bebas… Hampir tidak ada lampu… Para peserta safari dilarang memotret menggunakan flash.., karena bisa mengejutkan para binatang, dan memancing perilaku tak wajar dari mereka. Karena aku hanya membawa si Nikon merah (camera pocket), dengan zoom yang terbatas maka tidak ada satu pun foto binatang-binatang buas yang layak ditampilkan di blog ini…  Maaf yaa…

Jalur untuk lalu lintas mobil yang dinaiki pengunjung dengan hewan-hewan yang buas dibatasi dengan kolam yang besar dan pagar kawat rapat dan tinggi, yang dialiri listrik..  Antar zona dibatasi dengan gerbang-gerbang listrik.  Sedangkan hewan-hewan jinak di lepas, sehingga bisa menghampiri mobil yang ditumpangi pengunjung dan diberi makan oleh pengunjung..  Jangan kaget kalau tiba-tiba ada kepala jerapah muncul di samping kita… Hehehhe.. Tapi beneran seru dan deg-degan..  Karena beneran rasanya seperti di alam liar… Gelap, dan mobilnya terbuka, tanpa dinding..  Hanya ada suara jangkrik dan hewan liar…  😀

Selesai berkeliling, mobil dihentikan di tempat yang banyak rusa-rusa jinak..  Menggemaskan…  Puas bermain-main dengan rusa, kami kembali ke pelataran yang ada kolam air mancur besar.. Kami duduk di bangku-bangku yang disediakn di tepi kolam, menikmati Dancing Fountain..  Rasanya santai sekali… Malam, langit cerah, udara bersih segar… Sementara mata dimanjakan dengan permainan air, cahaya yang diiringi musik..  Tak sadar, waktu sudah jam 10 malam waktu Chiang Mai.. Kami harus segera pulang…,, ke Lamphun..  Sekitar 1 jam perjalanan.. ***

Berkunjung Ke Kailasa

Tulisan ini merupakan repost dengan menggabungan dua tulisan yang aku tulis hampir 4 tahun yang lalu… Tulisan yang  ini dan yang  ini…  Semoga penggabungan ini justru memberikan gambaran yang utuh tentang keindahan Kailasa…

Kailasa

Deskripsi Tentang Dieng di Museum Kailasa…

Kailasa ? Dimana itu…? Kok rasanya nama itu gak pernah tercantum di peta.. Di Indonesia atau di negara lain ya…?

Kailasa itu di Indonesia… Beneran Indonesia.. Tepatnya di Dieng Plateu (Dataran Tinggi), di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.. Dieng karena keindahan dan ketentramannya diibaratkan sebagai Kailasa atau Khayangan, negeri para dewa, negeri yang indah di atas awan….

Menurut informasi di Museum di Dieng, yang diberi nama Kailasa, berdasarkan 22 buah prasasti berbahasa Jawa Kuna, Dieng yang berasal dari kata Dhi Hyang (tempat para roh).  Dieng dahulu berfungsi sebagai pusat kegiatan religius, tempat para pendeta sekte Saiwa melakukan praktek asketik, dimana Dieng diibaratkan sebagai Kailasa artinya Kahyangan Siwa yang Suci, Pusat Dunia dan Tempat Para Arwah Bersemayam…

Hari Sabtu, 26 Maret 2011 jam 06.30 pagi aku beserta 2 orang teman yang bernama sama, Ika dan Ika, diantar Mas Joko, si driver yang baik hati, memulai perjalanan dari Yogya ke Dieng..  Kami jalan ke arah Sleman… melalui daerah Kali Putih.., daerah yang mengalami bencana berupa lahar dingin yang membawa material pasir dengan volume yang subhanallah banyaknya.., yang menyebabkan banyak rumah hancur….

Setelah singgah untuk sarapan brongkos di Warung Ijo Bu Padmo di bawah jembatan yang menghubungkan desa Salam dan desa Tempel, kami menuju Wonosobo melalui jalan pintas, melalui desa-desa di perbukitan selama sekitar 2,5 jam.  Udara di Wonosobo sejuk…, dengan pemandangan warna hijau dimana-mana…

Dieng Plateu 1

Dari Wonosobo harus ditempuh 25 km lagi untuk bisa sampai ke Dieng.. Namun ini perjalanan yang menyenangkan…, karena menyusuri bukit-bukit dan pegunungan… Iya, Dieng berada diantara pegunungan karena Dieng diperkirakan dulunya merupakan danau bekas kawah gunung api yang sudah mati..

Mobil lalu diparkir di pelataran, yang di ujungnya terdapat semacam pintu ke arah sebuah taman… Tapi karena hari hujan, kami terpaksa menunda masuk ke taman tersebut dan duduk di warung Pak Saroji…  Warung yang antik…  Kenapa..? Karena penjualnya menghidangkan dagangannya berupa manisan carica, kentang goreng, kripik kentang, kacang, minuman purwaceng tanpa menagih pada pengunjung yang menikmati di tempat.. Yang ditagih hanya yang kita beli untuk dibawa pulang.. What a service…!!!!

Sementara menunggu hujan reda, sambil menikmati makanan dan minuman hangat di Warung pak Saroji, kami juga sempat melakukan sholat di musholla yang berada tepat di belakang warung..  Saat berwudhlu…. Subhanallah….. bbbbrrrrr………………… airnya sejuk banget…… gigi aja bergemeretuk dan ngilu ketika kumur-kumur….  Rasanya malah pengen bergelung dalam mukena.. hehehehe…

Setelah hujan agak reda,  dengan dibekali payung pinjaman dari isteri pak Saroji, kami berjalan menuju taman yang tersembunyi di balik rerimbunan bunga…  Melewati pintu gerbang, kami melihat selapis rerimbunan tanaman lagi di depan.. Sedangkan di sisi kanan terlihat umpak, yaitu tumpukan batu2 candi tersusun rapi…, yang ternyata Rekonstruksi Dharmasala…, tempat istirahat para penziarah dan juga tempat persiapan upacara keagamaan..

Lalu kami meneruskan langkah menuju taman yang ditutupi pagar tanaman… Subhanallah…, di balik tanaman2 tersebut terbentang jejeran 5  buah candi yang indah… Disempurnakan  dengan udara yang sejuk dan kekabutan serta perbukitan hijau  yang menjadi latarnya… Subhanallah…. Sungguh indah… Tak salah bila diungkapkan bagai Negeri Indah di Atas Awan

Candi tersebut oleh masyarakat diberi nama mengikuti tohoh-tokoh pewayangan..  Candi Arjuna, Candi Semar (di depan Arjuna), lalu Candi Sumbadra, Candi Puntadewa dan Candi Srikandi.

Nama-nama candi ini membawa aku pada kenangan masa kecil, ketika almarhumah ibu membelikan aku 4 jilid buku cerita bergambar yang sangat tebal (untuk ukuran anak kelas 4 SD) karya RA. Kosasih yang berjudul Mahabrata, lalu 3 jilid buku Barata Yudha, serta beberapa jilid (aku gak ingat persis lagi) buku yang tak terlalu tebal berjudul Pandawa Seda..  Buku-buku itu membuat aku mengenal tokoh-tokoh wayang beserta karakternya… Buku-buku yang mengajarkan pilihan-pilihan hidup yang bernama kebaikan dan keburukan, serta segala konsekuensinya…

Candi Arjuna 1

Tapi menurut deskripsi yang belakangan aku baca di Museum Kailasa, tidak ada hubungan antara nama dan karakter tokoh wayang-wayang tersebut dengan apa yang diekspresikan pada dinding-dinding candi itu…

Kami lalu menyusuri candi-candi tersebut satu persatu… Mengelus dan merasakan pahatan-pahatannya..  Kalau sudah begini, sedih rasanya tidak punya ilmu arkeologi sehingga tak mampu membaca apa makna yang tersurat dan tersirat pada setiap bahagian candi-candi tersebut…

Ada banyak tanya di dalam hati.. Generasi seperti apa yang mampu menetukan lokasi yang begini indah untuk menjadi tempat melakukan aktivitas asketiknya…? Berapa banyak orang yang terlibat membuat semua ini, berapa lama..? Dari mana mereka datang…? Dari mana mereka mendatangkan bahan-bahannya.. Bagaimana teknologi arsitektur dan pahat batu mereka sehingga mampu menghasilkan karya yang begitu indah…?  Dan satu hal lagi, lokasi ini, diperkirakan dengan teknologi saat ini, berada tepat di tengah Pulau Jawa.. Kok bisa generasi abad keenam dan ketujuh menentukannya..? Rasanya zaman itu pengetahuan pemetaan masih sangat sangat sangat terbatas..  Gak ada GPS atau apalah yang bisa membantu mengukur.. Coincidence….? Rasanya enggak yaa…  Kalau enggak, terus bagaimana…? Pakai teknologi apa…?

Belum puas berkeliling, mengamati dan duduk menikmati suasananya, kami harus bergegas pergi karena hujan mengguyur dengan derasnya… Payung tak mampu melindungi diri dari terpaan air hujan..  Udara jadi terasa semakin dingin menusuk tulang… tapi, candi dan lingkungannya jadi semakin indah dan eksotis…. Membuat semakin enggan meninggalkannya…

Ketika hujan semakin tak bersahabat, kami terpaksa berlari dan berlari untuk kembali ke warung pak Saroji untuk menghangatkan tubuh dengan teh hangat dan kentang goreng serta secangkir purwaceng…

Lama menunggu, hujan ternyata tak kunjung reda di daerah yang dingin ini…. Brrrrrrr…. Dingin  dan semakin dingin… Apalagi sebagian baju agak-agak basah kena tempias hujan saat berlari-lari meninggalkan Kompleks Candi Arjuna.  Setelah menunggu dan menunggu…, dan dengan mempertimbangkan waktu yang tersisa, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.  Meski masih hujan…, dan dengan bekal pinjaman 2 buah payung  dari pak Saroji pemilik warung di kawasan parkiran Kompleks Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan…

Kemana……………?

Ke Kawah Sikidang…

Kawah Sikidang 1

Kawah…? Maksudnya bukaan gunung api yang mengeluarkan gas…? Iya…. Betul sekali…  Tapi kawah yang ini tidak seperti Kawah Bodas di Gunung Tangkuban Perahu yang membutuhkan perjuangan untuk sampai ke lokasi.  Aksesibilitas ke kawah ini begitu mudah…, ada jalan aspal.. hotmix pula… !! So, setelah menyusuri jalan dan sempat melintas di bawah pipa gas yang merupakan jaringan dari PLTG,  kami pun sampai ke area parkir Kawah Sikidang… Area parkir….???  Iya… Kawah Sikidang dilengkapi dengan area parkir plus beberapa fasum yang umumnya ada di obyek-obyek wisata yang dikelola dengan baik..  Selanjutnya dari area parkir,  kami tinggal jalan kaki beberapa puluh meter untuk sampai ke lahan dimana terdapat bukaan-bukaan yang menjadi jalan keluar gas bumi…..

Btw, begitu membuka pintu mobil, selain merasakan udara yang sejuk serta rinai gerimis yang memang selalu ada di daerah ini, kita juga akan mencium bau yang “keren abizzzz”,  hehehehe… Bau yang nyaris seperti bau k****t, yang merupakan bau gas sulfur…  Sebagai catatan, pengunjung tidak boleh terlalu dekat dengan kawah-kawah yang ada.., karena gas Sulfur itu bisa menjadi racun bila terhirup dalam konsentrasi tertentu…  Untuk mengingatkan pengunjung , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara meletakkan tanda peringatan yang dilengkapi dengan gambar tengkorak…

Menurut legenda yang ada di masyarakat Dieng, Kawah Sikidang adalah seorang pangeran yang ditimbun dalam sebuah sumur yang digalinya sendiri atas permintaan seorang putri cantik yang telah dilamarnya.  Karena si pangeran tak cukup tampan di matanya, sang putri berusaha menyingkirkan sang pangeran buruk rupa dengan menguburnya di dalam sumur..  Namun akibat kesaktiannya sang Pangeran mampu tetap meronta-ronta dalam bentuk golakan lahar di kawah Sikidang….

Pasar Sikidang

Setelah melihat cairan yang bergolak di bukaan-bukaan yang ada di tanah tersebut dari balik kekabutan, kami kembali ke parkiran mobil…  Di sekitar parkiran itu tersedia beberapa bangunan yang difungsikan sebagai pasar lengkap dengan toilet yang cukup bersih…  Sebelum pulang kami menghampiri sebuah warung di pojokan pasar tersebut.., warung yang menjual goreng tempe, tahu, pisang serta lengkap dengan minuman berupah teh, kopi dan purwaceng, sejenis minuman khas dieng yang terbuat dari rempah-rempah..  Dalam cuaca yang dingin…, tempe dan tahu goreng yg dicocol sambel kecap rasanya nikmatttttt bangetttzzzzzz……  di pasar ini juga ada jual tanaman gunung yang cantik-cantik.. Menggemaskan…  😀

Merasa enakan setelah menyantap beberapa potong gorengan dan minuman…, kami melanjutkan perjalanan… Kemana lagi….? Ke Telaga Warna…, tapi sebelumnya kami singgah di Candi Bima yang berada di perbukitan di pertigaan jalan ke Kawah Sikidang yang telah kami lewati saat datang…

Candi Bima, seperti tokoh Bima yang bertubuh paling besar di antara anggota Pandawa, merupakan candi terbesar.. Lokasinya juga paling tinggi dibanding lokasi candi sebelumnya…, sehingga untuk mencapainya kita harus melewati  beberapa puluh anak tangga.    Aku amat-amati, bagian belakang candi ini mengarah ke Kawah Sikidang…, sehingga dalam candaanku ke teman-teman satu rombongan, aku bilang kalo “Bau yang keren abiz dari Kawah Sikidang itu adalah bau k****t Bima.. Hahahahaha….

Telaga warna a

Dari Candi Bima kami meneruskan perjalanan ke Telaga Warna..  Setelah membeli karcis di  di loket yang ada di pintu gerbang, kami menyusuri jalan setapak menuju telaga… Daannnn…, subhanallah, telaga itu berwarna hijau pupus, ada juga yang kemerahan di bagian ujung. Warna telaga nampaknya disebabkan oleh lumut yang ada di dasar telaga, yang mungkin disebabkan pengaruh lahan yang vulkanis.  Dikelilingi tetumbuhan, suasana yang sunyi dan rinai hujan, telaga itu tampak indah, juga syahdu…  Ada keheningan yang begitu dalam….

Telaga warna 1 a

Dari Telaga Warna kami kembali ke Yogya…, setelah singgah untuk mengembalikan payung pinjaman ke warung pak Saroji dan juga singgah untuk makan sore di sebuah rumah makan di Wonosobo…

Perjalanan ini begitu indah…, begitu memuaskan mata dan bathin..  Dataran yang tinggi dan selalu berkabut benar-benar bagai Negeri di Atas Awan…

Telaga warna 2 a

Dalam hati aku berharap bisa kembali ke sini untuk waktu yang lebih lama.. Sehingga bisa menginap dan menikmati setiap sisi Dieng….

Di dalam mobil yang menyusuri jalan berliku menuju Yogya, pikiranku yang liar dan terkadang ajaib berkata…, “Seandainya aku mendapatkan pasangan hidup yang orangtuanya menetap di Dieng, tentu aku punya alasan untuk kembali dan kembali berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan ini… Aku akan punya “rumah” di sini….” Hehehehehe….***

1 Banner Jan-Feb 2015 edit

Suatu Pagi di Kampung Bandar

Ini adalah catatan Perjalananku  ke Kampung Bandar…   Kampung Bandar…? Dimana itu…?

Kampung Bandar itu nama sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru..  Sebenarnya daerah ini  udah gak bisa dibilang kampung, karena daerah ini nuansanya sudah kota…  Tapi kata “Kampung” itu sudah melekat dengan kata Bandar, karena dulunya memang daeah itu adalah sebuah kampung… 😀

Apa istimewanya kampung ini sampai  dijadikan topik bahasan di blog ini hari ini…?   Hmmmm, kampung ini sangat istimewa…, karena kampung yang berada di tepi Sungai Siak ini  lah cikal bakal Kota Pekanbaru…

Siak III 1

Dulu sebelum tahun 1977-an, di daerah Kampung Dalam ini lah lokasi jembatan penyebrangan dari Kota Pekanbaru ke Rumbai, yang saat itu merupakan kawasan pertambangan, pengolahan minyak, perkantoran dan juga pemukiman pekerja PT. Caltex.  Saat itu jembatannya jembatan ponton, yang dibuka 2 kali sehari, jam 06 pagi dan sore agar kapal-kapal bisa lewat.  Setelah tahun 1977, jembatan Leighton (diambil dari nama perancangnya) menggantikan posisi jembatan ponton tersebut.  Lalu di lokasi jembatan ponton tersebut pada akhir tahun 2010-an dibangunan Jembatan Siak III.

Jadi ceritanya, kemaren tiba-tiba diriku teringat bahwa sudah lama sekali gak pernah jalan-jalan ngubek-ngubek Kota Pekanbaru.  Berbagai aktivitas beberapa tahun ini membuat dirriku mundar mandir rumah – kantor. Karena ingin menikmati Kota Pekanbaru, aku memutuskan untuk mengisi sabtu pagi ku dengan kembali menyusuri Kampung Dalam yang beberapa tahun lalu pernah aku susuri, plus melihat dari dekat rumah Tuan Qadi, yang dulunya selalu menjadi tempat singgah Sultan Syarif Qassim II,  bila beliau sampai di Pekanbaru, dan bila beliau mau meninggalkan Pekanbaru kembali ke Siak Sri Indrapura, kota dimana berada pusat kerajaan Siak dahulu kala…  Rumah Tuan Qadi ini baru selesai direvitaslisasi..  Jadi sudah cantik kembali..

Jalan-jalan di Sabtu pagi itu dimulai dengan sarapan Bubur Ayam Kings..  Ini merupakan bubur ayam terlezat di Pekanbaru.. Bahkan sampai saat ini ,setelah aku pergi ke beberapa tempat, rasanya Bubur Ayam Kings ini adalah juaranya bubur ayam.., belum ada yang bisa ngalahin kelezatannya..  😀

Rumah Tuan Qadi 1

Selesai sarapan, diriku dan Melly, seorang teman yang kerja sebagai PNS di salah satu Kabupaten di Provinsi Riau, melanjutkan perjalanan ke rumah Rumah Tuan Qadi.. Rumahnya udah rapi…, cantik…  Sayang belum dibuka untuk umum..  Padahal klo dijadikan Museum Pekanbaru Tempo Dulu, pasti keren yaa..

Ada kesamaan rumah Tuan Qadi dengan rumah Lontiok, rumah tradisional di Desa Pulau Belimbing, Kabupaten Kampar yang diriku pernah kunjungi..  Keduanya rumah panggung, karena berada di tepi sungai, dan ada bak di depan rumah…, sarana untuk membersihkan kaki sebelum masuk ke rumah…

Rumah berwarna biru ini sebenarnya sederhana.. Tak banyak ornamen sepert rumah Lontiok..  Ornamen hanya terlihat di pinggir tangga masuk..  Di tiang penyangga atap di sisi selaan tertulis PKB 23:7  Di tiang penyangga bagian utara tertulis 1928.  Apa artinya..? Selesai dibangun pada tanggal 23 Juli 1928?

Karena baru selesai dibangun dan sepertinya belum difungsikan…, tak banyak yang bisa dilihat di Rumah Tuan Qadi ini… Aku lalu melanjutkan perjalan ke Kampung Bandar, setelah sebelumnya sempat duduk-duduk sejenak di taman di bawah Jembatan Siak III, melihat-lihat dari kejauhan kapal yang bersandar..

Aku memarkirkan si sparky di pinggi jalan Perdagangan…  tak mudah untuk parkir di sini.. Jalannya sempit, dan di kiri kanan jalan, tanahnya turun ke bawah..  Saat parkir aku melihat ternyata di tepi jalan ini ada pintu air..  Sepintas, pintunya masih ada..  Mungkin masih berfungsi yaa.., mencegah air sungai masuk ke arah pemukiman…  Pintu air ini mengingatkan ku saat aku masih kecil, daerah Kampung Bandar ini acap kali banjir, bahkan pernah sampai ke dekat  kantor RRI lama, di pojokan jalan Ahmad Yani dengan jala, Ir. H. Juanda.

Rumah Tua 1

Apa yang aku cari di Kampung bandar… Aku ingin melihat-lihat lagi beberapa rumah tua yang cantik-cantik, yang aku pernah lihat di sana…  Ternyata oh ternyata, begitu mendekati salah satu rumah tua, yang pernah direvitalisasi oleh pemerintah Kota Pekanbaru beberapa tahun yang lalu, aku mendengar suara.., pletak pletak... Suara dua bilah kayu bertemu… Suara alat tenun tradisional..

Aku dan Melly langsung menghampiri rumah tersebut.. Di dinding depan rumah terdapat spanduk yang mengatakan bahwa Kampung Bandar itu sudah dijadikan Desa Wisata Sejarah dan Budaya oleh Pemerintah Kota Pekanbaru.  Dan rumah tua itu dipinjamkan oleh pemiliknya untuk tempat kegiatan kelompok penenun, “Pucuk Rebung”.  Pucuk Rebung merupakan nama salah satu motif khas Melayu.

Tenun Siak Pucuk Rebung 1

Saat kami di sana, kami menemukan 3 orang ibu-ibu yang sedang menenun.. Salah satunya sedang membuat bahan untuk blazer, pesanan salah satu pemilik toko besar di daerah Pasar Bawah.  Keseluruhan ada 4 alat tenun di rumah tersebut.. Juga ada 2 alat pemintal benang.. Ada 2 lemari kaca.., satu menyimpan berderet-deret benang…, satunya lagi menyimpan berbagai hasil tenun…

Hasil Tenunan 1

Ibu-ibu tersebut, adalah ibu rumah tangga yang tinggal di daerah tersebut,  Mereka perempuan-perempuan yang menikah dengan orang setempat, lalu menetap di situ, dan beberapa tahun yang lalu mendapat pelatihan menenun.  Menurut ibu Wawa, salah satu dari tiga orang ibu-ibu tersebut, mereka masih mengalami keterbatasan memasarkan hasil karya mereka.  Ada nama besar penenun yang lebih dikenal masyarakat di Pekanbaru.  Mungkin harusnya Pemerintah membantu dengan membuatkan media pemasaran online bagi hasil karya para ibu-ibu tersebut yaa..  sehingga orang tahu keberadaan mereka dan hasil karya mereka..

Buat teman-teman yang berminat…, Baik berminat untuk membeli tenunan, atau mau membawa putra putrinya agar bisa melihat seperti apa kegiatan menenun itu, silahkan datang ke Kampung Bandar di jalan Perdagangan di Pekanbaru.. Sama sekali tidak susah untuk menemukan tempatnya.. ***

Note : Foto jembatan lama diambil dari http://m.riaupos.co/14670-berita-.html

Walking Around di Negeri Orang…

Ini cerita tentang Perjalananku saat menyempatkan diri berjalan kaki di negeri orang..  Sendiri….

Enggak takut…? Alhamdulillah enggak… Jalan sendiri membuat diri lebih bisa memutuskan berapa lama kita mau berjalan, dimana kita mau berhenti untuk mengamati sekeliling dengan lebih intens.., atau mau motret…  Juga kapan kita mau berbalik arah..  Memang harus extra hati-hati..  Jangan terlihat mencolok, terutama dengan pakaian dan bawaan…  Aku biasanya kalau jalan hanya bawa sling bag yang kecil, buat bawa dompet dengan isi sedikit uang, ID Card plus kartu untuk urusan bayar membayar, untuk berjaga-jaga.  Juga bawa handphone (ini wajib lah yaa…) dan kamera..  Bila kita tidak bisa berbahasa negeri itu.., sebaiknya kita tidak pergi terlalu jauh dari hotel tempat kita menginap..  Dan ingat lah tanda-tanda dari apa yang kita lalui, agar tidak getting lost, alias nyasar..  Dan jangan lupa, ingat juga baik-baik nama hotel tempat kita menginap.. Kalau bisa sebelum jalan, minta kartu nama hotel sama petugas reception, simpan di tas atau dompet.. Untuk situasi emergency…

Berlin 1a

Jalan kaki yang pertama aku lakukan di sore hari menjelang senja di sebuah  kota yang pernah dibelah dua oleh kekuasaan sekutu dan komunis…  Di kota ini bangunan baru dan bangunan lama, berdampingan, tanpa membuat yang satu terlihat lebih hebat..

Sebenarnya saat itu tubuh sudah sangat lelah, karena pengaruh jet-lag dan sudah melakukan berbagai kegiatan sejak pagi…  Tapi karena mata tak mau dipejam..  Pikiran juga terus melayang pada alm Mama, yang saat itu sedang koma…  Tak tahan bediam diri, aku lalu memutuskan untuk keluar dari hotel tempat menginap… Kemana?  Menyusuri Landsberger Allee...

Landsberger Allee  adalah sebuah jalan yang berada di daerah yang agak berbukit.   Itu jalan yang besar… Di tengah-tengahnya terdapat jalur trem..  Bagian yang menurun mengarah ke pusat kota, sudah ku lalui saat naik bus menuju dan keluar dari hotel.. Jadi aku memutuskan untuk bergerak ke  arah  sebaliknya..

Di kota ini banyak sekali orang bersepeda… Hampir di seluruh ruas jalan di kota ini ada jalur khusus untuk bersepeda.., demikian juga di  Landsberger Allee..  Bahkan di hotel tempat ku menginap juga tersedia sepeda yang bisa disewa…  Tapi karena sedang berada di tempat asing, tak mau mencari masalah yang tak perlu, belum lagi baju yang kupakai gamis, aku memilih untuk walk on foot..  Lagi pula aku memang senang berjalan kaki…, sama seperti aku menyukai bersepeda…

Berlin 3a

Apa yang aku lihat, aku rasakan saat berjalan kaki di sini….?  Udara di sini begitu bersih…, begitu nyaman…  Langit begitu biru…  Aku belum pernah melihat warna langit sebiru itu di negeri kita.. Mungkin karena udaranya bersih, jauh dari pencemaran..  Juga karena di sini posisinya sub tropis dan sedang summer… Matahari yang mulai redup, lampu-lampu mulai menyala, juga trem yang mundar mandir… , memberi pesona tersendiri…     Pemandangan yang  cantik…

Jalan kaki yang kedua kulakukan di Paris….  Di pagi hari sebelum keberangkatan pulang…

Kondisi alm Mama yang saat itu sedang koma, membuat aku selama di sana bangun jam 3 pagi…, untuk menelpon adik-adikku melalui Line.. Karena jam 3 pagi di Eropa, sekitar jam 10 di Indonesia.. Setelah menelpon, biasanya aku sudah tidak bisa tidur lagi.. Meski hanya baru tidur sekitar 4 atau 5 jam…

Paris1a

Pagi itu aku memutuskan untuk berjalan kaki,  lagi-lagi sendiri…    Aku  berjalan  dalam keremangan pagi Kota Paris…  Di sela-sela bangunan-bangunan tua yang catik dan…….., hampir mirip….  😀  Kota masih sepi…  Udara sejuk… Hembusan angin kadang membuat tubuh menggigigil kedinginan..  Tak nampak sisa kemeriahan Paris di malam hari…  Hanya ada satu dua orang melakukan jogging…  Sesekali aku bertemu dengan petugas kebersihan… Ada juga pegawai caffee yang sedang melakukan persiapan untuk memulai usaha di pagi hari…  Aku berjalan ke arah Arc de Triomph…   Rasanya sudah tahu arahnya dari hotel… 😀

Setelah berjalan hampir 20 menit…, akhirnya gerbang besar yang dibangun Napoleon itu nampak hadir di ruang pandang ku… Di sela-sela bangunan cantik dan pepohonan…  Saat mendekat , ke open space di pinggir Champ Elysee, tempat terdekat untuk memandang Arc de Triomph, aku menghitung, dan berusaha mengingat bahwa aku 2 kali menyeberangi jalan…  Kenapa…? Karena Arc de Triomph adalah center dari tata ruang yang radial, membuat gedung-gedung di sisi kanannya berbentuk segi tiga…, meruncing di depan Arch de Triomph…

Paris3 a

Di  taman-taman di sekitar Arc de Triomph banyak sekali merpati di pagi hari… Aku tak melihat mereka saat ke sana sehari sebelumnya di siang hari..  Aku lalu  duduk-duduk di kursi yang ada di taman tersebut..   Menikmati pagi, udara segar, dan pemandangan tinggalan seorang Napoleon Bonaparte..   Traffic yang masih sepi.., juga pengunjung (hanya ada 1 orang turis Korea yang juga duduk-duduk di taman yang sama), membuat aku leluasa menikmati  suasana, dan memotret…  Sempat berdiri berlama-lama di tepi taman, di ujung Champ Elysee… Membayangkan betapa visionernya seorang Napoleon…

Puas duduk-duduk, mengamati dan memotre…, aku memutuskan untuk segera kembali ke hotel..  Karena takut terlambat buat sarapan dan membuat teman-teman lain menanti-nanti..  Aku kembali ke arah diri ku datang… Dua kali menyebrang jalan, lalu berberbelok ke arah aku datang… Tapi kok rasanya jalannya beda yaa…   Lebih kecil…, dan ada outlet Mc D.. Itu gak ada di jalan saat aku pergi…  Hiksss….    Aku lalu mengintip melalui lorong-lorong di sela-sela bangunan.. Mencari tanda-tanda di jalan sebelah… Akhirnya ketemu… 😀  tapi, karena tata ruangnya berbentuk radial dengan Arc de Triomph sebagi pusatnya…, jarak yang harus ku tempuh agar bisa sampai ke jalan ku semula jadi lebih jauh…  😀

Alhamdulillah bisa sampai di hotel kembali tepat waktu… Bahkan sampai di tempat sarapan lebih pagi dari teman-teman lain.. Bisa lebih dulu melihat-lihat croisant mana yang mau disantap…. :D***

Trocadero

Teman-teman pasti tahu Tour d’ Eiffel  alias Menara Eiffel…  Iya, semua makhluk romantis di muka bumi ini, apa lagi perempuan, pasti ingin ke Paris dan memandang Tour d’ Eiffel dengan orang tercinta..   haallllaaahhhhh…. Tapi klo Trocadero, pernah dengar atau baca…?

Aku tahu kata Trocadero itu pertama kali sekitar 18 tahun yang lalu dari judul lagunya Potret, yang ini..

Jadi dari lagu itu aku tahu Trocadero itu sebuah tempat di Paris.. Tapi kagag tahu di sebelah mana..  Selama ini gak pernah cari tahu… 😀  Apa lagi tempat itu gak pernah disebut dalam buku Da Vinci Code yang setting-nya Paris banget… 😀

Jadi saat Perjalananku ke Paris beberapa bulan yang lalu, saat tour guide, perempuan Perancis yang fasih berbahasa Indonesia bilang, “Di sebelah kanan kita adalah Jardins du Trocadéro”, aku mikir…, yang mana yaa…  Saat itu aku ngeliat gedung, dengan sayap kembar dan sebuah caroussel di depan salah satu sayapnya..

Palais de Chaillot a

Belakangan aku mencoba mencari tahu, apa itu Trocadero, dan menemukan informasi ini

Jadi gedung besar dengan sayap kembar itu adalah Palais de Chaillot..  Dulunya di tempat itu ada yang namanya Trocadéro Palace yang dihancurkan dan kemudian dibangun menjadi Palais de Chaillot,..  Tapi taman air mancur di depan Palais de Chaillot, tetap bernama Jardins du Trocadéro, alias taman Trocadero…

Trocadero a

Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot dilihat dari Tour d’ Eiffel

Saat bus memutar ke jalan di  bagian belakang gedung, si tour guide bilang, “silahkan turun kita akan ke Palais de Chaillot, anda bisa melihat salah satu pemandangan tercantik..”
Trocadero 1a

 

Dari tempat bus di parkir aku berjalan menuju sebuah plaza yang besar…  tak ada anak tangga yang berarti dari jalan.. Sehingga aku tak sadar, tak terpikir kalo aku saat  itu bukan sedang berada di atas permukaan tanah yang disemen..,  tapi aku berada di atas bangunan besar… di atas Palais de Chaillot.. Sayap sebelah kanan, yang berupa gedung tinggi besar adalah Musée de l’Homme

Apa siyy pemandangan cantik dari bagian atas Palais de Chaillot….???
Pemandangan menara Eiffel tanpa ada halangan apa pun…  Cantik banget…..

Eiffel a

Posisi menara Eiffel dengan  Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot yang secara simetris berhadap-hadapan, plus dibatasi sungai Seine, membuat Eiffel terlihat utuh dari Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot..  Sebaliknya Jadins du Trocadero dan Palais de Chaillot juga terlihat utuh dari Tour d’ Eiffel….  Saat aku ke sana siang hari, mungkin kalau ke situ malam, cantiknya lain lagi…  Cantik cahaya lampu…, the city of light….***

Simarjarunjung dan Tanah Karo Trip

Apa itu Simarjarunjung….?  Apa itu Tanah Karo..?

Simarjarunjung itu nama sebuah daerah di tepi Danau Toba, yang termasuk Kabupaten Simalungun.. Kata Papa, daerah Saribu Dolok, alias seribu bukit.. Sekitar 123 km dari Medan, ibu Kota Provinsi Sumatera Utara….   Daerah ini merupakan destinasi pariwisata yang tidak seramai Parapat..   Lebih sepi… Tak ada hotel-hotel, seperti yang berserakan di Parapat dan sekitarnya…  Jalur ini terkoneksi dengan Tanah Karo, di daerah Tiga Panah…

Tanjung Unta 1a

@ Tanjung Unta

Menyusuri jalur ini sebenarnya sudah lama aku idam-idamkan…  Sejak tahun 1993-an….  Saat aku bersama Papa, alm Mama dan adik ku Noy jalan-jalan ke Parapat, dan di perjalanan Papa bercerita tentang jalur tersebut…  Tapi karena kesibukan, kami tak sempat-sempat melakukannya..

Pardede Cottage a

@ Pardede Int’l Cottage – Parapat

Aku akhirnya menyusuri jalur ini pada bulan September 2014.. Dalam perjalanan kembali ke Medan setelah mengantarkan alm Mama ke tempat peristirahatannya di kampung kami, Sibadoar – Sipirok.  Kami sengaja pulang sambil berjalan-jalan untuk meringankan hati Papa, dan juga hati kami yang kehilangan alm Mama..,   Kami berangkat dari Sipirok hari Sabtu 20 September 2014 setelah magrib.. Kami sampai hari Minggu, 21 September 2014 jam 02 pagi di Parapat, dan menginap di Pardede International Cottage, yang berada di tepi Danau Toba.. Pagi hari, setelah sarapan, dan santai-santai sejenak..  Aku, Papa, David, Uli,  Ivo plus supir meneruskan perjalanan menuju Simarjarunjung

Tanjung Unta a

@ Tanjung Unta

Jalur ini memang memanjakan mata… Sepanjang mata memandang, warna yang dominan hijau dedaunan, birunya langit dan air Danau Toba.. Cantik… Kita juga bisa melihat apa yang Papa bilang Tanjung Unta..,  perbukitan yang menjorok ke Danau Toba dengan bentuk seperti punggung binatang unta..  Tak banyak pemukiman yang kami temui… Jadi jangan berharap ada tempat bisa duduk-duduk, sekedar untuk minum teh atau kopi…

ikan mas a

Ikan mas raksasa.. 😀

Dalam perjalanan kami melihat ada sebuah bangunan yang unik, berada di tengah-tengah kebun kopi.. Bentuknya seperti ikan mas.. Besar… Aku dan adikku Ivo, sengaja turun dan menghampiri tempat itu.. Tapi tak ada apa-apa.. Hanya bangunan yang tak terurus…, belum selesai pula… Enggak tau niatnya mau dijadiin apa..Sayang yaa..

Simarjarunjung a

@ Simarjarunjung – Saribu Dolok

Setelah berjalan sekitar 1 jam 30 menit, kami akhirnya sampai di daerah Simarjarunjung, udaranya sejuk… Pemandangan danau Toba yang hampir ditutupi kabut begitu cantik…  Beda memang dengan pemandangan dari Parapat… Di daerah Simarjarunjung ada tempat yang namanya Bukit Simarjarunjung.. Tempat kita bisa melihat the best view..

Simarjarunjung2a

@ Bukit Simarjarunjung

Di sini juga ada sebuah restaurant, yang diresmikan oleh alm Raja Inal Siregar, saat beliau masih menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara..  Restaurant yang sepertinya direncanakan menjadi resto international ini punya pemandangan yang indah dari jendela-jendelanya..  Tapi mungkin karena omzet yang tak terlalu besar, karena tak banyak pengunjung, penataannya ya so so..  Penataan ala tahun 1980-an…  Padahal makanan yang dihidangkan rasanya lumayan.. Apa lagi saat lapar dan udara dingin… 😀

Setelah perut kenyang…, mata pun puas memandang…, kami melanjutkan perjalanan…, menuju Tanah Karo, ke daerah di sekitar Kota Brastagi, melalui  daerah Tiga Panah.. Gak tau apa artinya.. Yang jelas di Tanah karo ini ada beberapa daerah yang juga bernama Tiga.., antara lain Tija Jumpa, Tiga Binanga.  Tiga Binanga itu sebuah kota kecil di lintasan Medan – Aceh Tenggara.  Alm Ibu dan keluarganya sempat tinggal di situ saat orang tuanya bertugas menjadi guru di sana..

Kebun strawberry a

@ Kebun strawberry, Tongkoh, Brastagi

Di Tanah Karo ini kami ke daerah yang bernama Tongkoh…   Menurut Ivo, adik ku yang salah satu usahanya adalah pupuk organik, Tongkoh ini merupakan daerah pertanian.., dan di sana juga ada kebun strawberry.. Jadi gak cuma ada di Lembang – Bandung dan di Bedugul – Bali…  Kebun strawberry yang kami datangi bernama Rini Colia..  Saat kami sampai di sana, hari hujan… Mulai dari gerimis sampai hujan lebat… Udara semakin segar dan dingin… Tapi ya itu…, jadi gak bisa metik sendiri..  Bisanya beli hasil panen yang sudah ada di pondok pemilik kebun…  Kalau gak harga strawberry dengan ukuran besar, IDR 100 K per kilogram..

Peternakan Gundaling a

@ Peternakan Sapi Perah Gundaling, Brastagi

Dari Tongkoh kemana lagi…? Ke peternakan sapi perah Gundaling… Sayangnya saat kami sampai di sana sudah terlalu sore, jadi produk olahan susu berupa yoghurt dalam ukuran kecil yang untuk sekali minum sold out…  Karena aku, David dan Ivo lagi gak pengen minum susu sapi segar, jadi hanya Uli dan Papa yang minum… Kami menonton saja… 😀  Peternakan ini sebenarnya sudah bersiap untuk jadi tempat wisata.. Ada tempat pengunjung duduk-duduk menikmati produk olahan.., juga ada fasilitas toilet yang bagus.. Hanya tidak cukup terjaga kebersihannya..

Dari peternakan sapi perah Gundaling kami sempat singgah di permandian Lau Si Debuk-debuk… Tapi hanya Papa yang mencoba menikmati.. Anak-anaknya gak ada yang mau ikutan, karena ramai banget..  jadi tak lama di sana, kami pun segera pulang ke Medan, dan singgah makan malam di Green Hill Sibolangit…

Senangnya bisa berjalan bersama Papa.. Sayang bang Rio gak ikut.. Si bungsu Nora dan Ananda sengaja pulang dengan kendaraan terpisah, karena Ananda ingin main dulu di Parapat.  Semoga ada kesempatan berikutnya untuk jalan-jalan bersama keluarga… Ke desa Tongging di Tanah Karo, kayaknya asyik tuuhhh… ****

Some of pictures have captured by  my sissy, Uli Siregar.  Tq dear..

Musée du Louvre

Musée du Louvre alias Museum Louvre merupakan tempat yang must visit bagi pencinta budaya dan seni…  Kayaknya gak sah klo orang ke Paris gak nginjek Louvre…  Tapi, klo mau ke sana, sediain  waktu khusus…  Dengan bangunan yang gede banget, kompleks istana yang dibangun oleh beberapa raja, dari beberapa generasi.. dengan koleksi yang buanyak banget…, sehari gak cukup buat menikmatinya.. Apa lagi hanya sekitar 1 – 2 jam seperti ku…  Katanya siyy butuh seminggu buat bisa menikmati seluruh ruang dan koleksi di Louvre… Berkemah aja kali di halamannya yaa… 😀

Louvre a

Tapi meski singkat, dan semoga bisa kembali lagi, segera…  Ada rasa senang tersendiri bisa berkunjung ke sini…  Kenapa…? Karena bisa ketemu kembaran yang beda beberapa abad…. Maksudnya…?

Maksudnya, alhamdulillah bisa melihat lukisan asli karya Leonardo Da Vinci yang sohor banget, Monna Lisa..  Karena lukisan itu, senyum misterius itu, memberi inspirasi kepada almarhum Mama, untuk memberi nama tengah ku.. Monalisa..

Saat aku pergi ke sana, alm Mama sedang dalam keadaan koma, akibat serangan stroke yang ketiga..  Tadinya aku berharap beliau bisa sembuh, sehingga diriku bisa berbagi cerita, bahwa aku sudah melihat lukisan asli yang menjadi sumber inspirasinya..  But she never woke up…  Aku hanya bisa bercerita pada beliau yang tak bisa merespon apa pun…  dan beliau tak pernah bisa merespon ceritaku, karena beliau tak pernah sadar sampai beliau pergi untuk selamanya.. **miss you, Mom*

Karena Perjalananku yang sangat singkat.., tujuan ku masuk ke museum ini benar-benar hanya untuk melihat Monna Lisa.. Si cantik ini bermukim di Dennon Wing Lantai 1, salah satu sayap di sisi selatan Louvre..  Untuk masuk ke Louvre,  tiketnya klo gak salah ingat sekitar Euro $ 12, sekitar IDR 200 K.. Saat kami datang, alhamdulillah antrian untuk masuk gak panjang.., juga antrian untuk beli tiket..

Buku Paris a

Sebelum masuk ke Museum, diriku sempat singgah ke Toko Buku Louvre yang ada di hall, dekat tempat pembelian tiket..  Hall  berada di bawah pyramid kaca yang cantik.   Pyramid itu berfungsi sebagai atapnya, dan salah satu sisi pyramid menjadi  jalan masuk dan jalan keluar museum..

Dalam kunjungan yang singkat ke Paris, karena hanya singgah dalam perjalanan pulang, kami tidak bisa bersantai-santai, sehingga aku saat itu tidak sempat nyari toko buku untuk membeli buku-buku yang bisa jadi kenang-kenangan.. Di toko buku Louvre itu aku nemu 4 buku cantik yang bisa jadi kenang-kenangan.. Satu buku tentang Louvre, 1 buku tentang Kota Paris, 1 buku sketsa Kota Paris, dan 1 buku cerita bergambar dengan judul “Who Stole Monna Lisa?”.  Buku tentang Kota Paris, yang di dalamnya dilengkapi dengan gambar2 berbagai sudut Kota Paris dalam ukuran poster aku beli 2 buah, 1 buat diriku, 1 buat Papa..  Harganya macam-macam..  Buku  “Who Stole Monalisa?” itu harganya klo gak salah sekitar Euro $ 8.  Klo yang 3 buku lagi, harga per piece antara Euro $ 30 – 40, saat itu sekitar IDR 400K – IDR 700 K.

Untuk bertemu dengan Monna Lisa, butuh sedikit usaha.. Perlu bertanya pada beberapa petugas yang banyak menyebar.. Apa lagi kami jalan sendiri tanpa guide..  Ada hall-hall panjang yang diisi dengan koleksi patung-patung yang harus dilewati..

Monna Lisa 1a

Akhirnya… akhirnya sampai juga di ruang yang berisi koleksi  lukisan dari pelukis Itali..  si Cantik ini diletakkan di panel yang dilindungi kaca di tengah-tengah ruangan..  Dikasi semacam pembatas yang berjarak sekitar 1,5 meter dari  panel, sehingga pengunjung tak bisa mendekat..Sepertinya ini upaya pencegahan agar si cantik tak lagi diculik, seperti yang sudah pernah terjadi..

Ada hal mengejutkan saat melihat si cantik ini… Selama ini aku berpikir ukurannya sebesar poster…, minimal 120 cm x  80 cm..    ternyata ohh ternyata kecil saja…  hanya 77 cm x 53 cm..  Pantas gampang banget buat dibawa kabur… 😀

Saat mengunjungi Monna Lisa, teman-teman jangan berharap bisa berfoto santai dengannya yaa..  Apa lagi hanya berdua.. 😀 Fans- nya banyak banget… Orang-orang berkerumun di depannya…  Kayaknya lukisan ini dehh yang paling dilihat orang…   Jadi untuk bisa berfoto berdua saja dengannya hampir-hampir mustahil..  Ada saja tubuh orang terlihat di foto-foto kita..  Untuk mengambil posisi berfoto tepat di depan saja tak mudah.. Berfoto dari posisi agak menyamping pun sudah cukup laah…  Kalau mau foto dengan posisi yang memuaskan hati, harus usaha extra.., salah-salah malah jadi sikut menyikut dengan pengunjung lain.. Tak usah lah…  Tak bisa berlama-lama menatap si Monna Lisa, aku segera bergerak menikmati lukisan-lukisan cantik dan berukuran besar di dinding-dinding hall yang luas.. Hall yang panjang dan tinggi, dengan langit-langit yang juga sangat cantik… Ada yang dipenuhi mural.., ada yang dihiasi lampu-lampu…  Benar-benar menunjukkan kemewahan…. **Dalam hatiku muncul tanya, uang dari mana membuat ini semua…? Uang rakyat Perancis membayar pajak, plus uang daerah jajahan zaman dulu kah? Hmmmmm*

Diriku berharap, segera ada kesempatan lain bisa berkunjung ke Paris… Kunjungan yang santai, sehingga bisa menikmati sudut-sudut Kota Paris yang benar-benar cantik.. Bisa berkunjung lagi ke Louvre dan menikmati sebanyak mungkin ruang-ruang dan koleksi yang ada di situ.. **Kerja, kerja, kerja… Berhemat, hemat, hemat… nabung, nabung, nabung...*

Oh ya…, ngomong-ngomong soal story behind the object di museum ini…, informasi yang ditampilkan boleh dibilang sangat sedikit…  Jadi bila kita adalah penikmat seni, pencinta budaya dan sejarah…, sebaiknya sebelum masuk ke Louvre, kita udah baca dulu buku All the Louvre…, atau baca-baca di internet.., sehingga kita bisa lebih memaknai apa yang kita datangi, apa yang kita lihat…  ***

La Cité de la Musique

Apa itu La Cite’ de la Musique…? Itu nama sebuah tempat di Paris, tepatnya di La Villette quarter, 19th Arrondissement, Paris.   Artinya, Kota Musik..

Alhamdulillah Perjalananku pada akhir Agustus 2014 yang lalu sampai ke tempat ini..  Tempat yang luar biasa..  Tempat bisa jadi inspirasi bagi negeri yang menghargai seni pertunjukan, musik khususnya, yang ingin industri musiknya berkembang dengan luar biasa…  untuk hal ini, kata “baik” rasanya gak cukup

Ya, di tempat ini ada tempat pertunjukan musik, mulai dari pagung di ruang terbuka, tempat festival musik bisa diadakan.. Ada amphi teater, untuk pertunjukan musik di ruang tertutup.  Juga ada museum musik yang berisi berbagai peralatan musik sejak abad ke 15.. Bahkan dilengkapi dengan perpustakaan dan sebuah toko cantik yang menjual buku-buku musik, buku tentang musik dan koleksi-koleksi CD..  Tempat ini dirancang oleh arsitek Christian de Portzamparc , dan dibuka untuk umum mulai tahun 1995.

Museum Musik 2a

Tempat ini benar-benar keren bagi pencinta musik sejati.. Must visit kalo ke Paris…  Apa lagi lingkungan di sekitarnya nyaman banget deehhh, banyak bistro-bistro cantik…

Museum ini sesungguhnya tidak terlalu luas… Tapi menampilkan banyak koleksi di ruang yang bertingkat-tingkat… Mungkin untuk menjaga agar kondisi koleksinya bisa terjaga dengan baik…, ruang-ruang di sini pencahayaannya agak minim… Dan karena saat aku berkunjung, tak banyak pengunjung lain, ada rasa sepi.., rada-rada seram… Apa lagi petugas juga tak banyak…  😀

Di museum ini, story behind the object semua menggunakan bahasa Perancis..  Tapi jangan takut..  Di pintu masuk museum kita akan diberi peralatan pembantu, berupa ear phone dan sebuah alat seperti remote TV yang memuat sederet tombol-tombol bertuliskan angka.. Sebelumnya kita akan ditanya, bahasa apa yang akan kita gunakan.. Pilihannya hanya 2.. Bahasa Inggris atau Bahasa Perancis..  Kagag ade pilihan Bahasa Indonesia, apa lagi Bahasa Batak, Bahasa Melayu, Bahasa Jawa atau Bahasa Sunda… Hahahaha… just kidding  Jadi kalau kita melihat sebuah koleksi yang dipamerkan, dan kita ingin tahu apa siyy benda itu, kita tinggal menekan tombol yang bertuliskan angka sesuai dengan angka yang terdapat di deskripsi objek berbahasa Perancis.  Keren yaa… Jadi kita bisa menikmati seluruh koleksi secara personal.. Kita mau berlama-lama melihat sebuah koleksi dan mengulang-ngulang mendengar penjelasannya, atau mau selintas saja, terserah kita…

Apa yang aku lihat di museum ini…?

Koleksi di museum ini disusun menurut jenis dan periode waktu…

Piano a

Di ruang awal, ada koleksi alat musik yang digunakan pada abad ke 15, sejenis piano atau generasi awal dari alat musik sejenis piano..  Bentuknya macam-macam…  Juga ornamen penghiasnya.. Benar-benar benda seni yang menunjukkan betapa artistiknya seniman Perancis di masa itu.. Betapa mewahnya kehidupan bangsawan Perancis.. lupakan sejenak tentang catatan sejarah, bahwa di luar istana rakyatnya menderita

Museum Musik 3a

Ruang-ruang selanjutnya memamerkan koleksi berbagai alat musik gesek, petik, tiup… Ada biola Stradivarius dari zaman ke zaman.., Gitar.. Bass, Flute, akordeon, juga harpa2 yang cantik…  Sungguh koleksi yang memanjakan mata, dan memperkaya khasanah…

Musik modern a

Di lantai lebih atas, yang lebih sepi lagi… Ada koleksi alat musik modern.. Modern dibanding abad ke 15.. hehehe.. Dibanding zaman sekarang maahh, jadul… 😀  Ada juga mesin perekam jaman Opung-opung kita.. Ngeliatnya langsung kebayang  mainframe, alias komputer jadul, yang gedenya sebesar kamar entah berapa kali  berapa..

Setelah sampai di lantai tersebut, jangan balik arah kalau mau keluar… Ikutin saja jalurnya yang sudah diatur di museum ini… Kenapa…? Karena menjelang pintu keluar kita bisa melihat koleksi World Music.. Ya, peralatan musik dari berbagai belahan dunia selain Eropa..  Kita bisa melihat alat musik Timur Tengah, Asia Timur dan Afrika..  Alat-alat musik ini terkesan sederhana dibanding alat-alat musik  Eropa yang mewah, yang berkembang di seputar istana-istana kerajaan Eropa…  Tapi sungguh, alat musik-alat musik itu cantik dalam kesederhanaannya…  Menunjukkan local genius.. Pengenalan yang luar biasa terhadap alam.., karena ada yang terbuat dari cangkang makhluk laut, kulit hewan.. Kita harusnya bangga…

World Music a

Ngomong-ngomong, kapan ya di Indonesia akan dibuat Museum Musik yang memamerkan koleksi peralatan musik dari berbagai etnis di Indonesia…? Pasti butuh komitmen yang luar biasa untuk membangunnya.. Karena, bangsa yang Bhinenna Tunggal Ika ini terdiri dari banyak etnis, dengan keragaman budaya yang luar biasa.., pasti punya banyak alat musik yang cantik… Buat bekal pengetahuan untuk generasi penerus, yang mungkin beratus tahun dari sekarang, seharusnya itu layak dilakukan..  Tapi melihat generasi sekarang yang didominasi oleh tentera perut.., rasanya entah laahhhh…. uuuppppsssss…, stop rasa putus asa.. just do our best ajah…***

Museum Charlie Checkpoint

Museum Charlie Checkpoint  adalah sebuah museum yang berlokasi  di Friedrichstraße 43-45, D-10969 Berlin-Kreuzber, Jerman…   Jerman…? Iya, Alhamdulillah diriku menginjakkan kaki di tempat itu pada bulan Agustus 2014..

Checkpoint Charlie 2a

Ya…, dalam hidup kadang ada banyak kejutan yang hadir tanpa direncanakan..  Aku tak pernah merencanakan untuk menginjakkan kaki di Jerman pada tahun 2014..  Aku hanya merencanakan untuk pergi ke Tanah Suci.. Tapi Allah menentukan lain… Di tahun 2014, aku alhamdulillah bisa pergi ke Tanah Suci daannn, aku juga sampai ke Jerman.  Alhamdulillah..

Museum Charlie Checkpoint  berada di pusat kota tua Berlin..  Daerah yang merupakan  perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur… Dulunya  di lokasi ini terdapat pintu keluar-masuk Berlin Barat – Berlin Timur, tempat pemeriksaan di perbatasan,  yang dinamakan Charlie Point.     Sekarang hanya nampak sisa-sisa tembok di beberapa lokasi..   Sisa-sisa tembok itu pun banyak yang diambil  dan dijadikan souveniers, dengan label “Berlin Wall”.    Tempat yang dulu merupakan lokasi pemeriksaan, sekarang  menjadi tempat berfoto bagi turis yang datang.., tentu dilengkapi dengan petugas yang berpakaian ala tentara Amerika Serikat..  Untuk berfoto ddi tempat itu, lengkap dengan didampingi sepasang “tentara”,  kalau gak salah ingat, dipungut bayaran  Euro $ 3.. Sekitar IDR 50 K..  Ya, samalah dengan biaya 2 kali berfoto dengan si Bapak Kuping Panjang… 😀

Checkpoint Charlie 1a

Museum Charlie Checkpoint  didirikan pada tahun 1962 oleh Dr. Rainer Hildebrandt, pejuang hak azazi manusia..  Bermula hanya dari 2,5 ruang untuk display tentang Tembok Berlin yang saat itu baru dibangun (Tahun 1953), museum ini berkembang, tidak lagi hanya menunjukkan tentang perjuangan orang-orang yang berusaha menyebrangi Tembok Berlin, tapi juga tentang Perjuangan Hak Azazi di muka bumi ini…

Entah mengapa, masuk ke museum ini ada suasana tegang…, kaku…  Ada sederet peraturan di pintu masuk…  Ada kamera  pengawas dimana-mana..  Entah kenapa, aku tidak aware kalau di museum ini tidak boleh memotret…  Dendanya (kalau gak salah ingat, lagi) Euro $ 300, setara dengan 5 Jeti..   Jadi lah aku motret-motret… Pas dikasi tahu salah seorang teman serombongan, huuuuuhhhh rasanya stress…. Gimana enggak stress, bisa lenyap uang jajan untuk selama perjalanan..  Dan begitu menghirup udara di luar gedung museum, rasanya lega…. Hahahaha…

Checkpoint Charlie a

Museum ini punya story line yang bagus, menurut aku…  Informasi dan koleksi yang di-display cukup runut… , meski dalam ruang-ruang yang sempit dan bertingkat-tingkat…  Di situ dipamerkan berbagai wahana yang digunakan orang-orang yang berusaha melarikan diri dari Jerman Timur ke Jerman Barat..  Ada yang sembunyi di dalam kap mobil VW, ada yang diluncurkan dengan menggunakan tali… Yang jelas dari apa yang dipamerkan itu kita bisa merasakan betapa kuatnya keinginan orang-orang itu keluar dari wilayah Jerman Timur, wilayah Komunis… Ada apa? Tentu karena merasa tertekan,  tidak aman, tidak nyaman..  Mungkin rasa tertekan ini begitu kuat, sehingga melihat barang-barang yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka pun menimbulkan rasa tertekan…

Di bahagian yang baru dari museum ini dipamerkan tentang berbagai perjuangan untuk menegakkan Hak Azazi manusia.. Ada patung Mahatma Gandi (bahagian dada ke atas), ada foto-foto dan cerita tentang berbagai pejuang Hak Azazi Manusia dari berbagai belahan dunia, termasuk Aung San Suu Kyi.. Ada juga paparan tentang berbagai agama dan kepercayaan, dalam upaya agar manusia bisa saling menghormati dan menghargai..  Intinya museum ini berpesan agar Manusia di dunia ini hidup saling menghargai antar agama-agama yang ada,  berusaha mewujudkan Perdamaian Abadi dan hidup dengan Etika Global (Global Ethic).

Bila teman-teman punya kesempatan ke Berlin.., berkunjunglah ke tempat ini..  Agar  bisa mendapat gambaran betapa mengerikan hidup dalam negara yang diktator…  Betapa indah kebebasan, saling menghargai…  Semoga kita bisa belajar untuk melakukan sesuatu demi kebaikan umat manusia, bukan untuk kepentingan pribadi, golongan.. Apakah itu kelompok berdasarkan ras, etnis, mau pun agama..  Semoga yaa…  ***

Museum Batak

Tanggal 22 Desember 2014 yang lalu aku  ke Medan untuk menemani Papaku pulang kampung ke Sipirok.. Ya, tanggal 24 Desember 2014, tepat 100 hari kepulangan alm Mama, dan Papa ingin berziarah…  Jadi kami, aku, Papa adikku Ivo dan ponakan ku Ananda, berangkat ke Sipirok tanggal 23 Desember 2014.

Poda na 5

Semula kami berencana akan berangkat pagi-pagi sekali dari Medan, agar bisa singgah di Pematang Siantar untuk membeli Roti Ganda, minum teh dan makan roti bakar di kedai kopi Sedap, serta singgah di Balige   untuk berkunjung ke Museum Batak.   Namun karena sebelum berangkat Papa mengajak kami membeli mesin potong rumput pesanan salah seorang kerabat di kampung,  jadi lah kami berangkat jam 11 siang dari Medan.   Karena kami jalannya santai, dan pakai singgah makan siang di Tebing Tinggi, kami sampai di Pematang Siantar sekitar jam 4 sore,  dan tak bisa sampai ke Balige pada jam museum masih buka..  😀

Kami akhirnya menggeser rencana untuk ke museum tersebut.   Jadinya saat pulang dari Sipirok tanggal 26 desember 2014.  Hari itu kami berangkat dari Sipirok jam 06.30 pagi.  Agar aman melewati Aek Latong, kami membawa supir tambahan, salah satu tetangga di kampung, untuk menyetirkan mobil sampai di Balige dan sekitarnya.  Maklum lah, kami pergi berempat…  Nyetirnya gantian.., kalo enggak Ivo, ya diri ku..   belajar jadi supir medan, coy…!!!   Karena enggak tega ngeliat Papa nyetir jarak jauh di usia beliau yang menjelang 77 tahun..  Meski beliau merasa masih kuat nyetir…., dan merasa lebih jago nyetir di medan-medan yang menantang dibanding kami, putri-putrinya.. Hehehehe…

Gerbang a

Berangkat pagi tanpa mandi, hanya cuci muka, sikat gigi dan bebersih sekedarnya… 😀  Kami bisa sampai di Sipaholon, pinggiran Kota Tarutung sekitar jam 09.30 pagi..  Di situ kami mandi pagi di permandian air panas, air belerang, sekaligus brunch.. Puas mandi dan makan, kami lanjut perjalanan, dan sampai ke Balige jam 11 siang.

Di Balige kami langsung menuju Museum Batak yang berlokasi di Desa Pagar Batu, tak jauh dari tepian Danau Toba.. Museum Batak ini merupakan bahagian dari TB Silalahi Center…  Semacam sebuah pusat kebudayaan Batak  yang didirikan oleh Jenderal TB Silalahi di kampung beliau, Desa Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir.. TB Silalahi Center merupakan sebuah kawasan yang lokasinya tidak jauh dari Danau Toba..  Di kawasan itu terdapat Museum TB Silalahi, Museum Batak, Huta Batak..  Ada juga beberapa sarana pendukung…  Terus kami kemana aja…?

Museum TB Silalahi 2 a

Begitu masuk, kami menuju gedung yang  kami temui pertama kali saat masuk ke kawasan…  Museum TB Silalahi..  Apa isinya…?  Di bagian depan terdapat deretan foto-foto presiden Indonesia, dari pertama sampai akhir…  Lalu, dilanjutkan dengan cerita tentang riwayat hidup seorang TB Silalahi, dan koleksi-koleksi pribadi, seperti pakaian untuk berbagai kesempatan, jam tangan, pena, handphone, ijazah dan diploma-diploma serta berbagai penghargaan..  Juga souveniers dari berbagai negara yang pernah dikunjungi dan cendera mata yang pernah diberikan kolega-kolega beliau dari berbagai negara…

Huta Batak a

Keluar dari Museum TB Silalahi, kami menuju Huta Batak…   Apa itu Huta Batak…? Itu sebuah kawasan, yang di dalamnya ada 7 unit rumah adat Batak yang sudah tua…  Tapi masih cantik dan sangat terawat..  Miniatur perkampungan orang Batak..  Di situ juga ada 2 unit kuburan batu..  Ada juga pangulu balang di pojok kawasan huta Batak, dan ada si Gale-gale di depan salah satu rumah Batak…

Apa itu Pangulu Balang…?  Temen-teman baca sendiri ya di pic ini…  Biar jelas…  😀 Pangulu Balang 1

Ngomong-ngomong soal Pangulu Balang…, Papa ku pernah membuat tulisan tentang kampung kami Sibadoar yang hikayatnya  juga punya Pangulu Balang.. Tulisan itu bisa teman-teman bisa lihat di Cerita Rakyat Tentang Marga Siregar dan Bonabulu Huta Sibadoar (11). Tapi ini aku kutipkan…

Huta Sibadoar “tempo doeloe” ada penjaganya yang dikenal dengan nama “pangulubalang”, konon satu-satunya huta di Luat Sipirok na mar pangulubalang. Pangulubalang adalah patung batu (di gorga) bentuk manusia mini. Konon patung itu sebelumnya “di-isi” dengan jasad manusia yang sengaja dikorbankan dan diolah sedemikian rupa khusus untuk membuat “pangulubalang”. Pangulubalang pada saat-saat tertentu (periodik) di-pele (diberi makan) oleh majikannya yang menunya berupa padi yang digonseng (bertih), telur ayam kampung, dll. Seandainya majikannya terlambat ma-mele (memberi makan), ada harapan telur ayam sekampung yang sedang dierami akan “bayuhon” (tidak jadi menetas) karena sebelumnya telah disantap oleh pangulubalang. Roh manusia yang jasadnya ada dalam pangulubalang, dipercaya dapat berfunggsi sebagai penjaga huta. Jika ada musuh (zaman doeloe sering kejadian) mau menyerbu masuk huta, ataupun akan timbul wabah kolera (begu attuk) dan lain-lain bencana, maka sebelumnya oleh pangulubalang akan diberikan peringatan-peringatan dini dengan tanda-tanda umpamanya, semut-semut merah bermunculan disekeliling huta secara menyolok, dan atau tanda-tanda alam lainnya yang tidak lazim, bahkan katanya suara-suara aneh yang bersumber dari pangulubalang. Berdasarkan ini semua (majikannya biasanya cepat tanggap) orang sekampung dapat mengambil tindakan berjaga-jaga (mengantisipasi kemungkinan datangnya bahaya).

Terus apa itu si Gale-gale..? Si Gale-gale 2a

Si Gale-gale itu patung untuk menghibur orang yang mengalami kesedihan karena kematian anggota keluarganya.. Patung itu bisa beergerak.., menari mengikuti musik.. Kalo dulu digerakkan oleh roh yang dipanggil oleh datu..  Kalo sekarang digerakkan secara mekanik…  Di Huta Batak ini, si Gale-gale ditampilkan setiap 30 menit, kalau tidak salah..  Pengunjung bisa duduk-duduk di kursi-kursi yang terbuat dari semen di seberang rumah yang ada si Gale-galenya..  Tapi kalau mau, penonton juga bisa ikut menari.. 😀

Si Gale-gale 3 a

Oh ya, di dekat gerbang Huta Batak juga ada rumah adat Toraja… Mengapa? Karena katanya suku Toraja yang berada di wilayah Sulawesi Selatan itu punya kedekatan budaya dengan suku Batak..

Halaman Museum Batak a

Dari Huta Batak, kami berjalan menuju Museum Batak.. Karena  Huta Batak berada di belakang Museum TB Silalahi, yang sejajar dengan Museum Batak, jadi lah kami menyusuri halaman belakang Museum Batak…  Ada apa di sana? Ada patung yang menggambarkan aktivitas panen raya.., dan ada papan catur raksasa, yang tinggi buah caturnya setengah tinggi orang dewasa… Yaa…, orang Batak memang identik dengan catur dan domino.. 😀

Museum Batak a

Apa yang ada di dalam Museum Batak…? Banyak…. 😀  Selain memberikan berbagai informasi dan memamerkan benda-benda yang menggambarkan 7 unsur kebudayaan (Sistem bahasa, Sistem peralatan hidup dan teknologi, Sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup, Sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial,  Ilmu pengetahuan, Kesenian, dan Sistem kepercayaan, atau agama) dari berbagai etnis Batak (Toba, Angkola, Pakpak, Mandailing dll), di museum Batak juga ada bahagian yang menggambarkan sejarah perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, sejarah masuknya agama Kristen ke Tanah Batak, juga tentang interaksi antar agama yang ada di masyarakat Batak.

Di Museum ini juga dijelaskan tentang filosofi hidup orang Batak seperti CICAK.. What….?   Iya Cicak.. makanya di rumah-rumah adat batak, atau peralatan orang-orang Batak sering terdapat ornamen berbentuk cicak..  Apa artinya…? Dalam masyarakat Batak hewan ini adalah hewan yang mempunyai filosofi terutama dalam pergaulan. Kepercayaan para leluhur mengatakan bahwa setiap etnis Batak harus dapat bergaul dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam satu lingkungan.  Filosofi ini juga ditanamkan dari orang tua kepada anak-anaknya yang hendak merantau ke suatu daerah, anak-anak tersebut harus dapat menyesuaikan diri (adaptasi) dengan pemukiman barunya dan orang-orang disekitarnya, seperti halnya hewan cicak yang dapat menempel di dinding bangunan apa saja tanpa harus takut dan tertutup dari lingkungan di sekitarnya.

Di dekat pintu keluar Museum Batak juga terdapat tampilan tentang Poda Na Lima, yaitu prinsip hidup orang Batak yang 5.. Paias Rohamu (Bersihkan Hatimu), Paias Pamatangmu (Bersihkan Tubuhmu), Paias Paheonmu (Bersihkan Pakaianmu), Paias Jabumu (Bersihkan Rumahmu), Paias Paharanganmu (Bersihkan Halaman Rumahmu).  Di situ juga ada tampilan Nasehat Leluhur Tanah Batak, Carilah Rezeki dan Peruntungan, Carilah Kesempurnaan Hidup, Carilah Kehormatan dan Kemuliaan.. Kalau pesan-pesan ini dilakukan dengan konsep religi…, rasanya pesan-pesan ini akan menjadi pegangan yang sangat indah… Nasehat leluhur Batak a

Oh ya, makam Sisingamangaraja XII juga terdapat di kawasan ini, di bahagian depan..  Tapi kami tidak sempat singgah.. Karena tanpa sadar kami sudah menghabiskan waktu 4 jam di tempat ini.. Tak terasa..Karena tempat ini memang sangat layak untuk dikunjungi…  Tempatnya nyaman.. Story line museum-nya bagus..  Informasi-informasi yang disampaikan sangat banyak dan jelas..  Tempat ini sangat layak untuk dikunjungi, bukan hanya bagi yang di dalam tubuhnya mengalir darah Batak..  Tapi bagi mereka pencinta Budaya dan Sejarah…

Dari informasi yang saya dengar di sana, Museum ini merupakan Museum milik pribadi (non pemerintah) yang terbaik di Indonesia.  Saya gak bisa kasi komentar tentang hal ini.. Secara saya baru mengunjungi 4 museum pribadi saja di Indonesia, yaitu  museum ini, Museum Rahmat di Medan,  Museum Sapoerna di Surabaya. dan Museum Kata di Belitung Timur.  Tapi memang informasi yang ada di Museum Batak ini jauh lebih kaya dan dalam maknanya, karena menyangkut sebuah etnis..  Dan menurut saya, story behind the object yang ditampilkan juga jauh lebih bagus dibanding Musee’ de Louvre di Paris..  Sungguh… Dan sebagai peminat sejarah dan budaya, berkunjung ke tempat seperti ini buat Papa dan kami anak-anaknya merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan..   Semoga kami bisa segera jalan-jalan bersama Papa lagi, segera…  Doain ya teman-teman.. ***

Sate Karang…

Ini cerita tentang kunjungan yang dilakukan pertengahan April 2014… Udah lama yaaakkk….  Iya niyy teman-teman, hampir 3 tahun aku sibuk dengan pekerjaan dan melakukan banyak perjalanan, tapi banyak juga yang belum ditulis..  Ini sedang diusahakan menulisnya satu per satu… Agar bisa berbagi cerita dan informasi…, dan siapa tahu ada yang nawarin buat travelling turs nulis… Hahahaha… Amiin…  😀

So, apa ceritanya niyyy  si sate Karang…?

Diriku mengenal sate karang kira-kira 14 tahun yang lalu… Lamenye sudaahhhhh…. cakap Melayu  Saat itu aku lagi sekolah di Yogya, kost di Pogung, dan berteman dengan Anna, yang juga berasal dari Pekanbaru, Mimi, teman kuliah S1 Anna, dan Veni Moenif, our rantang…  Kami biasa pergi makan malam bareng, terutama nge-capjay di Jl. Kaliurang di sekitar Graha Saba..

Suatu malam, gak lama setelah magrib.. Anna dan Mimi datang ke tempat kost, terus bilang, “Kak Sondha, makan sate kerang yuukkk” (demikian pendengaranku menangkapnya saat itu).  Begitu aku mengiyakan ajakan mereka, kami pun keluar rumah, dan menjemput Veni di kos-kosan.  Anna menggonceng Veni.  dan Mimi bilang dia aja yang bawa motorku, karena aku gak tahu lokasinya..  Btw, itu bukan motorku.., itu mootor pinjaman dari adik ku David, dink… :D.  Saat itu aku herannya, kenapa Mimi bilang aku gak tahu lokasinya yaa.. Bukannya sate kerang sepertinya ada dekat jembatan sebelum Hotel santika..   Tapi karena berpikir mereka tahu tempat makan yang baru, aku manut aja…

Tapi ternyata jalannya enggak ke arah tugu…  tapi ke arah selatan Kota Yogya…, yang lama-lama ngebingungin aku..  Aku kehilangan orientasi… Secara udah malam, gelap…  Aku lalu nanya ke Mimi, emang mau keman siyyy.. Dengan nyebelinnya, Mimi bilang, “Diam aja lah, kak.. Pokoknya enak…”   Bussseeetttt daaahhhh….  😀

Tapi saat aku amat-amati, kok sepertinya kami itu di Kota Gede yaa..  Karena ada beberapa bahagian jalan di  Kota Gede yang khas, dan aku ingat..  Saat aku tanya lagi, apa kami mau ke sate kelatak, Mimi  sambil ketawa-ketawa bilang bukaann… Sepertinya dia menikmati kebingungan ku… Aseeeemmmmmm….

Setelah naik motor sekitar 30 menit… Jauh euyyyy… motor akhirnya dihentikan.. Di pinggir lapangan… Bikin diriku makin bingung, dan bertanya-tanya, apa iya ada jual seafood di pojok negeri dalam gelap gulita begini… Hehehehe…  Aku akhirnya nanya sama Mimi dan Anna, kami ini sedang dimana, dan mau makan apaan…

Sate KarangBocah-bocah gendeng itu sambil senyum-senyum bilang, “Kak Sondha, ini di pinggir lapangan di Kota Gede.  Kita mau makan sate Karang… ” Oaaalllaaahhhhhh…. Salah dengar…, aku pikir sate kerang…  😀

Aku lalu bilang, apa hebatnya siyy niyy sate sampai dibela-belain pergi jauh-jauh naik montor, malam-malam pula…  Para bocah gendeng itu bilang, ayo dicoba aja… 😀 Yoo wissss, aku nurut aja… Juga pesanannya apa, aku nurut ajaaaa…

Kami lalu duduk di tikar di pinggir lapangan.., tanpa atap.. Klo ujan, ya sudah kehujanan…  Aku lalu mengamati.., di pinggir lapangan, gak jauh dari tempat kami duduk, ada 3 buah gerobak.. Yang satu gerobak tukang sate, lengkap dengan bara buat bakar sate..  Yang satu aku lihat sepertinya tukang lontong…, soalnya sibuk motong-motongin lontong daun.. Gerobak yang satu lagi jual wedan ronde…

Saat makanan yang dipesan, dihidangkan, aku terheran-heran.. Kok banyak banget piringnya… Ada yang isinya sate, ada yang isinya lontong dengan kuah lodeh tempe..  Juga ada wedang ronde… Aku nanya sama para bocah gendeng, kenapa mesannya banyak banget..  Kan gak semua harus makan sate trus makan lontong juga… Kesannya kok kita kaum gembili banget…. 😀 Para bocah gendeng itu ngakak… Mereka lalu menjelasakan klo itu lah istimewanya Sate Karang…  Sate dihilangkan dengan lontong yang disiram sayur lodeh… Oaalllaahhhh…. Ngono toohhh…

Tapi memang rasa satenya enak… Dagingnya lembut dan bumbunya juga berasa.. Lontong daunnya juga lembut, kuah lodehnya lumayan enak…  Buat orang Sumatera, yang makanannya biasa berbumbu, lodeh ala Jawa yang bumbunya tipis, memang tak terlalu istimewa…   Tapi karena unik, Sate Karang ini jadi selalu terkenang-kenang.. Apa lagi saat pertama kali, kayak dibawa kemana gitu… 😀

So, karena selalu terkenang-kenang, setelah kembali ke Pekanbaru di akhir tahun 2001, dan lumayan sering ke Yogya, aku kadang terpikir juga untuk kembali menikmati Sate karang..  tapi baru dua kali kembali ke sana..  Sekitar akhir Maret Tahun 2011, dan Pertengahan April 2014..

Akhir Maret Tahun 2011, aku pergi lapangan di Kota Gede itu dengan Ika dan Ika, staff-nya mba Widya Nayati, yang saat itu Kepala Pusat Studi Kebudayaan.  Kami pergi malam hari, khusus ke sana…   Sedangkan pertengahan April, aku pergi dengan salah satu kenalan, sesama peserta rapat, yang berasal dari Pontiianak, dan kami perginya sore hari…  Pada tahun 2014, tempat duduk pembeli sate udah dikasi terpal…, sehingga kalau hujan ndak kehujanan…  Tahun 2011, seingatku belum..

Oh ya, berapa harga se porsinya aku sudah gak ingat… Gak nyatat… 😀

Bagi teman-teman yang mau ke sana…, gak usah bingung… Ada banyak petunjuk jalan menuju Kota gede dari Pusat kota Yogya.. Sampai di Kota Gede, teman-teman tinggal tanya dimana Lapangan Karang.. Tapi ya itu… Nyarinya jangan siang2.. Satenya jualan sejak sore hari, sekitar jam 17-an, sampai malam…

Selamat berburu Sate Karang…

Anna, Mimi dan Veni, para bocah gendeng (saat itu), I miss you so much… ***

Menyusuri Sungai Rokan…

Sungai Rokan? Dimana itu…?
Sungai Rokan itu salah satu dari 4 sungai besar yang melintasi Provinsi Riau, dan bermuara di Selat Malaka.. Sungai Siak, Sungai Indragiri, Sungai Kampar dan Sungai Rokan…  Katanya siyyy dari keempat sungai tersebut, Sungai Rokan adalah yang terbesar dengan panjang mencapai 350km..

Ngapain nyusurin sungai…? Hari gini…? Kan udah tua…, gak muda lagi.. Udah gak masanya berpetualang…?
Hohohoho… Kata siapa..? Umur boleh nyaris fifty…, semangat untuk melihat sekitar teteuuupppp tinggi… 😀

Sebenarnya, ngapain siyyy nyusurin Sungai Rokan?
Saya, atasan saya, seorang senior dan rekan kerja pergi ke Desa Rantau Binuang Sakti, Kecamatan Kepenuhan, untuk melihat progress pembangunan fasilitas wisata religi di sana…  Menurut yang saya dengar, tempat ini merupakan daerah tempat lahir Syekh Abdul Wahab Rokan atau Tuan Guru Babussalam (Bessilam), seorang Ulama dan pemimpin Tarekat Naqsabandiyah..  Tempat ini direncanakan untuk menjadi daerah tujuan wisata religi…

Karena daerah tersebut baru saja usai banjir…, sehingga jalan darat yang ada tidak layak untuk dilalui…, maka kami harus melalui jalur sungai…Dari mana rutenya…?

Dari Pekanbaru naik mobil ke Pasir Pangaraian… Karena melalui jalur Petapahan, kami bisa sampai di Pasir Pangaraian lebih kurang 3 jam.. Kami berangkat sekitar jam 19.30 wib, sampai di Pasir Pangaraian sekitar jam 22.30 wib..  Di Pasir kami nginap…, besok pagi perjalanan dilanjutkan ke Koto Tengah, dengan waktu tempuh 1.5 jam..Dari Koto Tengah baru perjalanan dilanjutkan dengan jalur sungai…

Rokan1Rencananya kami akan menumpang boat milik Pemda, yang akan mengantar beras raskin..  Tapi apa daya, karena mesinnya ngadat, jadi kami harus pergi naik perahu pompong.. Perahu kayu, yang menggunakan tenaga diesel yang berbunyi pom pom pom pom…, sehingga disebut perahu pompong…  Berapa jam…? Berangkat karena meghilir, mengikuti arus sungai ke arah hilir, butuh waktu 3 jam…  Karena kami sempat menunggu upaya memperbaiki mesin boat…, kami akhirnya baru berangkat sekitar jam 11 siang…

Perahunya benar-benar imut-imut.. Jangan pikir perahunya berdinding yang bisa duduk dengan lega…   Ini perahu yang kalau tangan kita dijulurkan ke luar badan perahu, bisa langsung menyentuh air.. Kalau diisi manusia full, kapasitasnya kira-kira 10 orang..  Tapi kami berangkat berempat, ditambah pak Suhaeri dari Pemda Rohul plus Pak Kades dan tukang perahu, plus sekitar 10 goni beras raskin… 😀   Untungnya saat berangkat perahunya beratap.. Sebagian besar perahu di sungai ini tanpa atap.. Jadi penumpang langsung beratapkan langit… Kalau panas ya kepanasan…, kalau hujan, ya mandi hujan.. 😀

Gimana rasanya berada di perahu, yang kecil, di bawah terik matahari… Alhamdulillah, senang-senang aja tuuhhh… Kalau aku punya cukup informasi sebelum berangkat, tentu aku bersiap-siap dengan membawa topi pandan yang lebar, atau caping.. juga life vest… Tapi di tengah keterbatasan pun ternyata hati ini tenang saja…   Untung sun glasses yang memang selalu ada di tas tidak tertinggal..  Jadi agar terik matahari tak menyakitkan mata,  sun glasses segera dipasang..

Oh ya, sederet lagu yang ada di hp juga menjadi hiburan…  Bayangkan teman2.. Betapa nikmat dan santainya, duduk bersandar di dinding perahu yang tingginyasekitar sepinggang kita saat duduk, meletakkan tangan di tepi perahu untuk menjadi sandaran kepala… Daaaannn…. tidur sambil dibelai angin… 😀

Btw, bahagia rasanya di usia ku yang hampir 50 tahun Allah memberi jiwa yang bisa menerima situasi yang berbeda dengan yang biasa aku jalani…  Bersempit-sempit, nyaris sulit bergerak.., menyusuri sungai yang aku tak tahu berapa kedalamannya, tak membuat hati gelisah, sehingga membuat orang-orang di sekitar juga santai..  Mereka tak gelisah akibat kegelisahan seorang and only one emak-emak yang pergi bersama mereka…. 😀  Hal yang rasanya sangat berbeda dengan keadaan sekitar 25 tahun yang lalu, saat ketidaknyamanan bisa membuat air mata menitik..  Dita… , yang menyeretku untuk sampai ke Puncak Gunung Gede tahun 1988, dimana kah diri mu…? Hahaha…

Nurul

Aku dan Nurul…

Kami sampai di Desa Rantau Binuang Sakti sekitar jam 2 siang.. Pak Aslimuddin, senior di kantor yang sebelumnya beberapa kali menjadi camat, mendadak didapuk oleh Pak Kades untuk memberi kata sambutan menggantikan Pejabat Kabupaten yang seharusnya menyerahkan raskin ke masyarakat.. Pejabat tersebut seharusnya satu perahu dengan kami, namun karena sesuatu dan lain hal tak jadi datang..  😀  Sementara pak Aslimuddin memberi kata sambutan, aku duduk sebentar di tangga rumah salah seorang penduduk yang kami tumpangi sholat.. Ibu-nya Nurul, guru PAUD di desa, pemilik rumah bilang, “Ini air baru surut, bu.. Kemaren-kemaren, kalau mau nyuci ya dari pintu rumah saja.. Gak perlu turun dari rumah…” Hmmmm….

Dari desa, kami ke lokasi yang berjarak sekitar 1.5km diantar ojek…  Hmmm… naik ojek bukan cuma takut becheq.., tapi takut jatuh dan bisa bikin kaki patah… Karena jalannya benar-benar hancur akibat banjir besar dan lama…

Puisi Sungai Rokan a

Kehidupan di Sungai Rokan

Selesai ngeliat dan bikin dokumentasi apa yang kami tinjau.. Ngpbrol dengan penanggung jawab pekerjaan, kami segera kembali ke desa untuk pulang… Harus segera.. Karena berperahu untuk pulang butuh waktu lebih lama, karena mudik…, melawan aliran air sungai..  Prediksi tukang perahu butuh waktu 4 jam…

Kami berangkat dari Desa Rantau Binuang Sakti jam 16-an.. Dengan perahu yang berbeda…, perahu lain yang ditugaskan mengambil sisa raskin yang masih tertinggal di tempat kami naik perahu..  Kali ini perahunya tanpa atap..  Dan tiga orang ada penumpang lain, salah satunya seorang ibu pengumpul ikan salai (ikan asap), yang akan membawa dagangannya ke pasar di Koto Tengah.. (Bayangkan betapa hebatnya ibu ini… Menyusuri sungai di malam hari untuk menjual ikan salai, demi menghidupi keluarga… A tough woman..!! )

Perjalanan pulang, memberi nuansa yang berbeda.. Rasanya alam lebih ramah karena matahari tak lagi terik.. Juga lebih banyak kehidupan di pinggir-pinggir sungai…  Sebelum senja tiba, aktivitas di desa-desa yang dilalui lebih nampak.. Ada orang yang mandi, mencuci… Ada juga sampan-sampan kecil di tepian, yang ternyata orang menjala ikan… Ada bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak usia sekolah.. Dan saat matahari telah sempurna tenggelam, masih ada saja orang-orang yang menjala ikan..

Pemandangan ini membuat aku merasa betapa beruntungnya aku.. Pulang kantor di sore hari, bisa pulang dengan santai.. Masuk rumah, nyalain pengatur suhu.., mengambil minuman yang sejuk, juga toples camilan, lalu nonton TV, atau baca buku…  Sementara di bahagian lain negeri ini, orang-orang masih mencari makan dengan menjala ikan di sungai…

Ingat minuman dingin dan cemilan, bikin perut yang keroncongan bernyanyi makin dasyat… Karena di desa gak ada yang jual makanan…, sedangkan nasi bungkus bekal saat berangkat sudah habis dalam perjalanan menuju Rantau Binuang Sakti.. Untung ada sawo pemberian ibu Nurul… Lumayan bisa ganjal perut sedikit… 😀 Alhamdulillah.. terima kasih ibu Nurul..

Puisi Sungai Rokan...

Puisi Sungai Rokan…

Pemandangan menjelang senja dan saat senja tiba di tepi sungai Rokan juga memberi nuansa yang lain… Cantik…  Alam seakan melantunkan puisi bagi para penikmat kecantikannya… Sementara ketika mentari telah lelap sempurna…, alam pun memberikan keindahan yang berbeda… Bisa kah teman-teman rasakan…, berada di atas perahu dalam kegelapan malam, tanpa cahaya lampu yang selalu menyertai kita…? Hanya cahaya bintang gemintang yang menerangi, serta suara mesin perahu dan gemercik air tersibak perahu…

Sesekali senter tukang perahu menyala,  menjawab cahaya senter dari penjala ikan yang meberi tahu keberadaannya, agar perahu diperlambat, sehingga riaknya tak menggangu aktivitas si penjala ikan..  Bahkan di sungai, dalam malam pun ada tata krama, ada sopan santun, ada sikap saling menghargai, ada toleransi..

Alam selalu punya pesona bagi mereka yang mau membuka mata dan hati untuk merasakan kecantikannya… ***

The Story of Holly Land Trip

Ini tulisan tentang perjalanan yang diriku lakukan bulan Mei 2014 yang lalu…  Perjalanan ke tanah suci.  Ke Madinah al Munawaroh lalu ke Mekah al Mukkaromah.  Semoga bisa jadi masukan bagi teman-teman, terutama yang awam, yang ingin berumroh.

Asmaulhusna1a


Perjalanan umroh yang pertama ini sangat berarti bagi diri ku.  Karena sebenarnya aku sudah mulai punya Tabungan Haji sejak tahun 2005.

Saat itu sesuai dengan pendapatan, aku setiap bulan menyisihkan sebahagian untuk tabungan haji. Namun karena selama beberapa tahun, sejak awal tahun 2007 aku mencicil si sparky, maka tabungan haji itu pun terlupakan.  Justru kakak ku yang juga mulai buka tabungan haji pada tahun yang sama dengan ku, pergi haji pada tahun 2010..

Perjalanan hidup yang bergelombang membuat aku rindu untuk pergi ke Baitullah.

Aku lalu bilang ke kakakku, bagaimana kalau kami pergi umrah bersama.. Tapi kakak ku bilang, sebaiknya  aku menggenapi dulu tabungan haji ku untuk bisa mendaftar, sehingga bisa dapat nomor porsi..  Setelahnya baru, kami pergi umrah…  Jadilah di akhir tahun 2013 aku fokus untuk menggenapi tabungan haji ku..  Lalu mendaftar…  Alhamdulillah wa syukurillah…. Meski aku harus mengantri selama 15 tahun, bila kuota haji masih seperti tahun- tahun ini, aku tetap bersyukur…  Ada teman-teman yang menyarankan agar pendaftaran haji reguler yang ku lakukan itu, dialihkan saja ke ONH Plus, biar lebih cepat.. Antriannya katanya hanya 5 tahun.. Tapi aku sampai saat ini masih bertahan di kelompok reguler, karena aku ingin kalau pergi haji bisa 40 hari.. Belum mau pergi haji hanya 2 mingguan di sana…  Pengen berlama-lama di sana…  Semoga Allah membuka pintu rezeki bagiku agar bisa segera pergi haji,  yaaa….

Lalu mulai awal tahun 2014, aku dan kakak ku mulai mencari-cari informasi tentang travel umroh.., serta mencari-cari kemungkinan waktu untuk aku cuti dari kantor.. Karena tugas ku di kantor itu ada sepanjang tahun…  😀  Tapi dari hasil diskusi dengan pimpinan ku, beliau menyarankan aku untuk berangkat setelah bulan Maret..  Dan setelah mencocokan paket-paket yang ditawarkan dengan kesesuaian jadwal, kami memutuskan untuk ambil paket yang berangkat di awal Mei 2014…

Apa pertimbangan untuk mengambil paket tersebut…?  Ada beberapa hal…

Pertama, agen dari travel umroh yang ada di Jakarta itu kenalanku..  Meski gak terlalu akrab, tapi kami kenal cukup baik..

Kedua, paket yang ditawarkan 15 hari.. Itu paket yang terlama dari yang ditawarkan travel-travel yang aku lihat-lihat..
Aku dan juga kakak ku menginginkan kita selama mungkin di tanah suci.. Toh, pimpinan ku mengizinkan.. 😀

Ketiga, karena itu paket promo, jadi harganya relatif murah dibanding paket-paket yang aku lihat..

Lalu apa saja yang aku siapkan sebelum berangkat umroh..? Selain menyiapkan hati, tentunya…

Sebagai perempuan…, aku harus mempertimbangkan siklus biologis ku…  Karena dengan waktu yang hanya 15 hari pulang pergi, tentu aku ingin bisa full beribadah..  Jadi sebulan sebelum berangkat aku pergi ke dokter obgyn, alias spesialis kandungan..  Kebetulan oleh menantu kakak ku, yang bekerja di Rumah Sakit Awal Bross Panam, Pekanbaru, aku direkomendasikan ke dokter kandungan perempuan, yang berjilbab syar’i..  Alhamdulillah beliau sangat membantu.., bahkan beliau memberikan pin BB nya agar bisa dihubungi bila kita butuh masukan…  Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kondisiku, dan hasil diskusi kami,  si ibu dokter memberi aku resep pil KB.. Jumlah yang diberikan tidak 30 butir, tetapi lebih untuk mengantisipasi perlunya meningkatkan dosis, karena pertimbangan kondisi tubuh ku..

Bagaimana dengan pakaian…? Sesuai dengan masukan dari sahabat-sahabatku yang sudah pergi umroh, aku tidak membawa banyak baju.. Jadi apa saja yang aku bawa…?

Beberapa lembar baju yang bahannya sangat ringan (aku bawa empat lembar)  plus legging bahan kaus yang menyerap keringat;  Sekitar 2 buah baju dengan bahan katun;  4 buah mukena (atasannya saja) yang ringan dan adem, plus sajadah kecil; 1 gamis putih dan 1 buah mukena putih, niatnya buat saat umrah.  Tapi ternyata gak harus kok…Jilbab atau kerudung cukup 3 buah saja, termasuk yang dipakai saat berangkat;
Beberapa kaus kaki; Sepatu sendal yang nyaman buat jalan kaki;  Sling bag (tas sandang menyilang badan) yg kecil,
yang tidak menghalangi saat berdesak-desakan saat tawaf dam umrah, dan gak perlu dilepas saat sholat.  Tas ini buat menyimpan dompet, dan buku cacatan doa; Biasanya travel memberikan sling bag, tapi buat aku rasanya kebesaran.. Menghalangi kalau gak dilepas saat sholat. Tas kain untuk bawa Al Qur’an dan tempat air minum. Kantong tempat sepatu; Sun glasses, lip balm, cream pelembab kulit, tissue basah, tissue kering, dan toilet paper (kertas untuk alas duduk di toilet umum); Beberapa buah gantungan baju, seperti yang biasa kita dapat dr laundry. Jadi gak merasa rugi kalo harus ditinggal saat pulang; 😀 dan beberapa perlengkapan pribadi lainnya…

Kok jilbab cuma tiga…? 😀

Jadi selama di tanah suci, kita kan aktivitasnya hanya mundar madir ke masjid Nabawi dan masjdil Haram.. Kalau ada yang mau dibeli biasanya juga dalam perjalanan menuju atau sepulang dari sholat di masjid.  Jadi busana yang nyaman adalah, baju yang ringan, lalu pakai mukena yang juga ringan, plus kaus kaki…  Jadi baju katun yang dua dan jilbab itu dipakainya saat travel membawa kita berkunjung ke berbagai masjid, saat di Madinah.. Juga saat diajak berkunjung ke Jeddah.., dan saat kembali ke tanah air..   Baju yang ringan, seperti juga pakaian dalam, mudah dicuci dan dijemur di kamar mandi hotel.. Kalau mau nge-laundry juga bisa siyy… Tapi saran saya, gak perlu kita bawa mukena cantik yang bordirnya besar-besar.. Beraaattt….. 😀

Oh ya di pesawat perlu bawa apa aja?

Saran saya, bawa koper buat cabin deehhh… Apa aja isinya? Baju ganti 1 stel, peralatan bersih-bersih diri, juga handuk kecil.. Di tas tangan sediain tissue kering, tissue basah, kertas alas duduk di toilet, shawl, kaus kaki tebal, dan klo saya bawa sarung tangan tebal untuk saat tidur di pesawat biar gak kedinginan. Bawa juga cemilan kesukaan,
atau lauk kering kesukaan.. Buat mengganjal perut kalau menu yang dihidangkan gak cocok di lidah… 😀

Sesuai jadwal, kami, aku, kak Lintje, Kak Yai dan Olan, putra kak Lintje berangkat tanggal 2 Mei 2014 sore ke Jakarta. Menurut jadwal kami tanggal 2 Mei sekitar jam 23-an akan berangkat dari Jakarta menuju Jedah via Kuwait. Kenapa ke Jakarta?  Karena travel umroh yang akan membawa kami base-nya di jakarta. Dan kenapa via Kuwait? Karena paket 15 hari itu menggunakan Kuwait Airlines..

Ternyata begitu kami landing di jakarta, kami diberi tahu bahwa pesawat Jakarta – Kuwait ditunda keberangkatannya sampai besok pagi, jam 06.00. Dan seluruh penumpang akan diinapkan di salah satu hotel di Jakarta.  Hmmmm…. Secara kami tidak menyiapkan koper untuk dibawa di cabin, kami terpaksa membongkar koper untuk mengambil baju tidur dan beberapa perlengkapan pribadi untuk keperluan menginap… Kejadian yang sama berulang saat kami dalam perjalanan pulang setelah umrah…  Penerbangan Kuwait Air Kuwait – Jakarta di-delay sekian jam, sehingga kami harus diinapkan di hotel di dalam bandara di Kuwait City.

Berdasarkan pengalaman ini, saya menyarankan teman-teman yang akan pergi ke luar negeri dan akan transit, membawa koper kecil di cabin yang berisi perlengkapan pribadi kalau mendadak harus menginap.. 😀

So, setelah mengambil beberapa perlengkapan, kami pun bergabung sama puluhan orang lain calon penumpang Kuwait Air yang didelay.. Ramai banget.., karena ada juga rombongan besar yang akan ziarah ke Jerusalem.  Ada 3 bus besar yang disediakan untuk mengangkut kami ke Hotel Aston di Kawasan Pluit.  Memang, airlines menyediakan fasilitas, tapi rasanya capek lho.. Apa lagi bersama saya ada 2 orang kakak yang tak muda lagi usianya.
Dan salah satu kakak saya, punya masalah dengan saraf di tulang belakang, yang membuat beliau jalan agak bungkuk dan tak selincah orang muda.

Keesokan paginya, jam 3 pagi kami sudah dibangunkan. Karena jam 4an sudah harus ke bandara lagi..

Saat kami berangkat, ternyata kami dari Pekanbaru ada 6 orang. Yang 2 lagi sepasang suami istri. Rombongan lain sebagian besar berasal dari Purworejo, dan ada juga beberapa orang dari Jakarta. Rombongan dari Purworejo dipimpin langsung oleh agen travel yang di Purworejo, yang kebetulan seoramg ustad.  Beliau beserta istrinya lah yang memimpin rombongan kami.  Alhamdulillah setelah beberapa hari bersama, mereka mengetahui keadaan kakak saya, mereka kemudian justru menjaga kami, terutama pada saat sai…  Bu ustad tetap mengiringi saya dan kakak saya, meski kami berjalan sangat pelan, karena kakak saya sempat tertatih-tatih di beberapa putaran terakhir, namun tak mau menyerah untuk menggunakan kursi roda.  Bu Ustad akhirnya bilang, di awal perjalanan mereka tidak mengetahui kondisi kakak saya itu, tidak ada yang menyampaikan kepada mereka.. Sehingga ketika boarding di Bandara Soettta dan turun naik di Bandara Kuwait, mereka tidak sadar bahwa kami berjalan sangat perlahan, dan sempat merasa tidak nyaman karena hampir tertinggal oleh rombongan. Merasa diabaikan…

Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi catatan buat teman-teman bila ingin mengambil paket umroh..  Terutama yang masih awam, seperti kami…

Pertama, tanyakan betul jalur perjalanan.. Saat presentasi, kami diberi tahu bahwa perjalanan kami Jakarta – Kuwait,
lalu langsung Medinah.  Sebagai orang awam kami berpikir dari Kuwait kami akan terbang ke Medinah.  Ternyata pesawat yang mendarat di Medinah itu hanya Saudi Air. Jadi yang bukan Saudi Air mendaratnya di Jeddah..
Dari Jeddah ke Medinah itu jalan darat sekitar 5 jam. Hal ini sebenarnya tidak masalah kalau ada pemahaman sejak awal… Tapi kami tahunya hanya beberap hari menjelang keberangkatan.  Bahkan kami tidak diberi tahu bahwa penerbangan itu tidak langsung dari jakarta ke Kuwait, melainkan singgah dulu beberapa jam di Bandara KLIA, Kuala Lumpur, tanpa penumpang turun dari pesawat.  Demikian juga saat pulang.

Kedua, pastikan betul lokasi hotel tempat kita akan menginap.  Berapa jaraknya  dari Masjid Nabawi, mau pun Masjidil Haram.Kalau kita dengan usia relatif muda, dan fisik sehat, jalan 400 meter pulang pergi 4 kali sehari , 2 kali di terik cuaca padang pasir, in sha Allah tidak apa-apa.  Anggap saja olah raga… Tapi buat yang usianya tak lagi muda,
dan untuk berjalan pun tak semudah yang sehat, ini adalah hal yang betul-betul perlu dipertimbangkan.  Bila kita  rasanya butuh hotel yang lebih dekat dari yang ditawarkan travel, tanyakan kemungkinan untuk meng-upgrade hotel.
Karena ternyata umumnya travel bisa menyediakan fasilitas tersebut. Apa lagi bila kita itu perginya bersama keluarga atau teman, yang akan sekamar bersama-sama.. Kalau dianggap bikin repot, karena ada rombongan yang terpisah,
itu bukan alasan yang kuat, karena selama di Madinah dan Mekah, di luar kegiatan umrah dan ziarah ke masjid, kita lebih banyak melakukan aktivitas pribadi, ke masjid.

Kalau bisa hotel itu cukup dekat, sehingga bila kita sedang menunggu waktu sholat berikutnya tapi mendadak ingin ke toilet, atau wudhlu batal, kita bisa kembali ke hotel.  Hal ini terutama di Masjid Nabawi.  Karena toilet perempuan di masjid Nabawi lokasinya jauh di bawah, dan ada dua tingkat. Terlalu beresiko untuk turun ke sana sendiri, apa lagi di malam hari.  Sedangkan di Masjidil Haram, kalau ingin ke toilet saya keluar dari masjid, pergi ke mall yang dipojok
di depan Masjidil Haram.  Di lantai 2 ada toilet wanita.  Kebetulan setiap  saya ke sana petugasnya seorang TKW dari Indonesia, yang ramah, bernama Patma.

Apa yang saya jalani selama umroh…?
Apa yang saya rasakan…?
Saya sharing di postingan berikutnya ya teman-teman..
Ini sudah sangat larut.. Dan saya sedang berada di Pasir Pangaraian,
ibu Kota Kabupaten Rokan Hulu, . ***

Tuku dan Bulang…

Apa itu TUKU…? Apa itu BULANG….?

Buat teman-teman yang tidk berasal dari Tanah Batak, tuku dan bulang adalah hal yang asing.. Kecuali teman-teman punya pergaulan dan pernah diundang ke pesta-pesta pernikahan yang menggunakan adat Angkola dan Mandailing..

Buat diri ku yang berdarah Batak Angkola…, bulang bukan hal yang asing.. Karena di usia belia, sekitar 10 tahun, aku pernah memakainya dalam salah satu horja (acara adat) yang diadakan keluarga ku..  Meski kadang suka salah sebut dengan bulung.. 😀  Padahal artinya beda banget… Bulung artinya daun…

Tuku Bulang 1

So…., apa itu Tuku dan Bulang…?

Tuku itu topi kebesaran adat batak Mandailing dan Angkola, biasa dipakai pengantin pria…  Sedangkan Bulang itu hiasan kepala yang dipakai pengantin perempuan…

Sebenarnya pakaian pengantin Batak Angkola dan Mandailing bukan hanya Tuku dan Bulang…, tapi ada perlengkapan lainnya.. Apa aja?  Gelang besar yang dipakai di lengan atas pada pengantin laki-laki, dan lengan bawah pada pengantin perempuan.  Pada pengantin perempuan juga ada hiasan dada, berupa deretan logam berhias yang disusun di atas kain beledru…, Ada juga penutup kuku, berupa logam yang dibentuk seperti kuku yang panjang dan berhias..  Oh iya, pengantin laki-laki dan perempuan juga dihias masing-masing dengan sepasang pisau yang bernama rencong dan tapak kuda.. Rencong…? Kaya orang Aceh yaa…  Hmmm…,  perlu dicari tahu niyyy, apa ada kedekatan budaya di antara suku2 ini…

Ceritanya, beberapa bulan terakhir,  aku sering melihat status ito Ardiyunus Siregar, seorang teman di FB yang berasal dan tinggal di Sipirok, yang menyiratkan kalau beliau adalah pembuat Tuku dan Bulang..  Aku ingin melihat kerajinan yang merupakan bagian dari budaya ku sendiri… Konyol rasanya ketika aku pergi kemana-mana, melihat berbagai aktivitas yang menyangkut kerajinan rakyat sebagai warisan budaya, tapi aku malah belum sempat melihat warisan budaya ku sendiri… 😀  Jadi saat  akhir Desember 2014 aku pulang ke Sipirok untuk menemani Papa ziarah ke makam Mama dalam rangka 100 hari kepergian beliau, aku berniat untuk melihat pembuatan Tuku dan Bulang..

Masih dalam perjalanan ke Sipirok, aku berusaha menghubungi ito Ardiyunus Siregar, meminta kesediaan beliau untuk memberi diriku kesempatan untuk melihat aktivitas pembuatan Tuku dan Bulang..  Alhamdulillah beliau bersedia..  Beliau bilang rumahnya, tempat membuat kerajinan Tuku dan Bulang, berada di Jalan Padang Bujur..  Jalan itu gak asing buat kami sekeluarga..  Karena kalau lagi pulang kampung kami selalu ke Padang Bujur untuk mandi air panas..  Namun sebagaimana alamat sebagian rumah-rumah di kampung, tidak ada nomor rumah.., hanya ada ancer2nya saja…  😀

Dalam perjalanan menuju ke air panas di Padang Bujur buat mandi pagi,Papa menunjuk sebuah rumah yang kami lewati.. Papa bilang. “Itu rumah teman alm tulang Sahrin.  Sebelum tulang mu meninggal dia suka ke situ buat mancing.  Papa beberapa kali diajak ke situ, tapi belum sempat.”

Songket1

Habis mandi air panas, Papa membantuku mencari alamat tersebut…  Tapi sepertinya tak ada yang bisa memberi informasi..  Kami lalu singgah di tempat kerajinan tenun motif Angkola binaan Indosat yang juga ada di Jalan Padang Bujur.. Kami bertanya-tanya di situ, tapi mereka juga tidak bisa memberi jawaban..  Aku kembali bertanya ke ito Ardiyunus, ternyata rumahnya ya itu, yang sering dikunjungi alm tulang Syahrin.  What a small world yaa…

Aku akhirnya berkunjung ke rumah itu.. Ditemui ito Ariyunus dan istrinya.. Mereka menunjukkan berbagai hsil pekerjaan mereka yang masih dalam proses..  Mereka juga menunjukkan bagaimana mengerjakannya…  Sungguh butuh keterampilan…  Tidak ada pola (pattern) yang diikuti… Semua motif mengikuti kebiasaan dan pikiran pengrajin..  Menurut ito Ardiyunus, dia mewarisi keterampilan itu dari ayahnya, yang juga pengrajin tuku dan bulang..  Dan menurut beliau hanya sedikit jumlah pengrajin Tuku dan Bulang yang masih ada di Sipirok.. Beliau saja hanya punya 3 orang pekerja..  Dengan 3 orang pekerja, beliau bisa menyelesaikan 1 set tuku dan bulang dalam waktu 3 hari kerja..

Tuku dan Bulang

Saat saya bertanya tentang filosofi yang ada pada motif-motif yang terdapat pada Tuku dan Bulang, ito Ardiyunus bilang dia juga belum paham.. Ada generasi muda yang mau belajar tentang hal ini…? Semoga ada yaa..  Supaya bisa lebih diapresiasi…

Tapi dalam candanya ito Ardiyunus bilang, “Bulang itu hadiah orang Batak buat boru (anak perempuan)nya.., sekaligus menunjukkan martabat kepada keluarga menantunya.. Karena pada zaman dulu, Bulang itu bulan gold plated, sepuhan, tapi emas beneran.. Dan lucunya, diserahkannya borunya kepada menantunya, tapi si boru dibekali satu set pisau..” Hahahaha…

Dengan perkembangan zaman…., dimana generasi muda banyak yang keluar dari kampung untuk bersekolah, lalu menetap dan bekerja di rantau, siapa yang akan mewarisi budaya yang agung ini yaa…?  Aku sempat mendiskusikan hal ini dengan ito Ardiyunus dan istrinya..  Juga sharing tentang peluang mengembangkan usahanya ini sebagai aktivitas ekonomi kreatif.. Misalnya dengan membuat inovasi berupa barang-barang yang bisa menjadi souvenir..  Semoga Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, mau membuka mata dan hati untuk melihat pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai kesempatan untuk membangun daerah dan mensejahterakan rakyat…  Apa lagi daerah ini berada di jalur yang strategis…, di antara 2 destinasi yang banyak diminati wisatawan, Danau Toba dan Bukit Tinggi..  Belum lagi oarang-orang Batak yang merantau entah kemana-mana, pasti ingin pulang kampung untuk berlibur dan mengenalkan kampung mereka pada anak cucunya…

Buat teman-teman yang berminat untuk melihat proses pembuatan tuku dan bulang saat berkunjung ke Sipirok, atau mau pesan, silahkan hubungi ito Ardiyunus di FB-nya ardiyunus.siregar.  Atau bisa juga menghungi saya,  saya dengan seizin ito Ardiyunus akan memberikan nomor telpon beliau… ***