Suatu Pagi di Kampung Bandar

Ini adalah catatan Perjalananku  ke Kampung Bandar…   Kampung Bandar…? Dimana itu…?

Kampung Bandar itu nama sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru..  Sebenarnya daerah ini  udah gak bisa dibilang kampung, karena daerah ini nuansanya sudah kota…  Tapi kata “Kampung” itu sudah melekat dengan kata Bandar, karena dulunya memang daeah itu adalah sebuah kampung…😀

Apa istimewanya kampung ini sampai  dijadikan topik bahasan di blog ini hari ini…?   Hmmmm, kampung ini sangat istimewa…, karena kampung yang berada di tepi Sungai Siak ini  lah cikal bakal Kota Pekanbaru…

Siak III 1

Dulu sebelum tahun 1977-an, di daerah Kampung Dalam ini lah lokasi jembatan penyebrangan dari Kota Pekanbaru ke Rumbai, yang saat itu merupakan kawasan pertambangan, pengolahan minyak, perkantoran dan juga pemukiman pekerja PT. Caltex.  Saat itu jembatannya jembatan ponton, yang dibuka 2 kali sehari, jam 06 pagi dan sore agar kapal-kapal bisa lewat.  Setelah tahun 1977, jembatan Leighton (diambil dari nama perancangnya) menggantikan posisi jembatan ponton tersebut.  Lalu di lokasi jembatan ponton tersebut pada akhir tahun 2010-an dibangunan Jembatan Siak III.

Jadi ceritanya, kemaren tiba-tiba diriku teringat bahwa sudah lama sekali gak pernah jalan-jalan ngubek-ngubek Kota Pekanbaru.  Berbagai aktivitas beberapa tahun ini membuat dirriku mundar mandir rumah – kantor. Karena ingin menikmati Kota Pekanbaru, aku memutuskan untuk mengisi sabtu pagi ku dengan kembali menyusuri Kampung Dalam yang beberapa tahun lalu pernah aku susuri, plus melihat dari dekat rumah Tuan Qadi, yang dulunya selalu menjadi tempat singgah Sultan Syarif Qassim II,  bila beliau sampai di Pekanbaru, dan bila beliau mau meninggalkan Pekanbaru kembali ke Siak Sri Indrapura, kota dimana berada pusat kerajaan Siak dahulu kala…  Rumah Tuan Qadi ini baru selesai direvitaslisasi..  Jadi sudah cantik kembali..

Jalan-jalan di Sabtu pagi itu dimulai dengan sarapan Bubur Ayam Kings..  Ini merupakan bubur ayam terlezat di Pekanbaru.. Bahkan sampai saat ini ,setelah aku pergi ke beberapa tempat, rasanya Bubur Ayam Kings ini adalah juaranya bubur ayam.., belum ada yang bisa ngalahin kelezatannya.. 😀

Rumah Tuan Qadi 1

Selesai sarapan, diriku dan Melly, seorang teman yang kerja sebagai PNS di salah satu Kabupaten di Provinsi Riau, melanjutkan perjalanan ke rumah Rumah Tuan Qadi.. Rumahnya udah rapi…, cantik…  Sayang belum dibuka untuk umum..  Padahal klo dijadikan Museum Pekanbaru Tempo Dulu, pasti keren yaa..

Ada kesamaan rumah Tuan Qadi dengan rumah Lontiok, rumah tradisional di Desa Pulau Belimbing, Kabupaten Kampar yang diriku pernah kunjungi..  Keduanya rumah panggung, karena berada di tepi sungai, dan ada bak di depan rumah…, sarana untuk membersihkan kaki sebelum masuk ke rumah…

Rumah berwarna biru ini sebenarnya sederhana.. Tak banyak ornamen sepert rumah Lontiok..  Ornamen hanya terlihat di pinggir tangga masuk..  Di tiang penyangga atap di sisi selaan tertulis PKB 23:7  Di tiang penyangga bagian utara tertulis 1928.  Apa artinya..? Selesai dibangun pada tanggal 23 Juli 1928?

Karena baru selesai dibangun dan sepertinya belum difungsikan…, tak banyak yang bisa dilihat di Rumah Tuan Qadi ini… Aku lalu melanjutkan perjalan ke Kampung Bandar, setelah sebelumnya sempat duduk-duduk sejenak di taman di bawah Jembatan Siak III, melihat-lihat dari kejauhan kapal yang bersandar..

Aku memarkirkan si sparky di pinggi jalan Perdagangan…  tak mudah untuk parkir di sini.. Jalannya sempit, dan di kiri kanan jalan, tanahnya turun ke bawah..  Saat parkir aku melihat ternyata di tepi jalan ini ada pintu air..  Sepintas, pintunya masih ada..  Mungkin masih berfungsi yaa.., mencegah air sungai masuk ke arah pemukiman…  Pintu air ini mengingatkan ku saat aku masih kecil, daerah Kampung Bandar ini acap kali banjir, bahkan pernah sampai ke dekat  kantor RRI lama, di pojokan jalan Ahmad Yani dengan jala, Ir. H. Juanda.

Rumah Tua 1

Apa yang aku cari di Kampung bandar… Aku ingin melihat-lihat lagi beberapa rumah tua yang cantik-cantik, yang aku pernah lihat di sana…  Ternyata oh ternyata, begitu mendekati salah satu rumah tua, yang pernah direvitalisasi oleh pemerintah Kota Pekanbaru beberapa tahun yang lalu, aku mendengar suara.., pletak pletak... Suara dua bilah kayu bertemu… Suara alat tenun tradisional..

Aku dan Melly langsung menghampiri rumah tersebut.. Di dinding depan rumah terdapat spanduk yang mengatakan bahwa Kampung Bandar itu sudah dijadikan Desa Wisata Sejarah dan Budaya oleh Pemerintah Kota Pekanbaru.  Dan rumah tua itu dipinjamkan oleh pemiliknya untuk tempat kegiatan kelompok penenun, “Pucuk Rebung”.  Pucuk Rebung merupakan nama salah satu motif khas Melayu.

Tenun Siak Pucuk Rebung 1

Saat kami di sana, kami menemukan 3 orang ibu-ibu yang sedang menenun.. Salah satunya sedang membuat bahan untuk blazer, pesanan salah satu pemilik toko besar di daerah Pasar Bawah.  Keseluruhan ada 4 alat tenun di rumah tersebut.. Juga ada 2 alat pemintal benang.. Ada 2 lemari kaca.., satu menyimpan berderet-deret benang…, satunya lagi menyimpan berbagai hasil tenun…

Hasil Tenunan 1

Ibu-ibu tersebut, adalah ibu rumah tangga yang tinggal di daerah tersebut,  Mereka perempuan-perempuan yang menikah dengan orang setempat, lalu menetap di situ, dan beberapa tahun yang lalu mendapat pelatihan menenun.  Menurut ibu Wawa, salah satu dari tiga orang ibu-ibu tersebut, mereka masih mengalami keterbatasan memasarkan hasil karya mereka.  Ada nama besar penenun yang lebih dikenal masyarakat di Pekanbaru.  Mungkin harusnya Pemerintah membantu dengan membuatkan media pemasaran online bagi hasil karya para ibu-ibu tersebut yaa..  sehingga orang tahu keberadaan mereka dan hasil karya mereka..

Buat teman-teman yang berminat…, Baik berminat untuk membeli tenunan, atau mau membawa putra putrinya agar bisa melihat seperti apa kegiatan menenun itu, silahkan datang ke Kampung Bandar di jalan Perdagangan di Pekanbaru.. Sama sekali tidak susah untuk menemukan tempatnya.. ***

Note : Foto jembatan lama diambil dari http://m.riaupos.co/14670-berita-.html

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s