Mangadati… (1)

Aapa siyy maksudnya MANGADATI? Mangadati artinya meng-adat-i, melakukan upacara adat terhadap suatu proses kehidupan.. Bisa dalam bentuk ritual sederhana ataupun dalam bentuk pesta.. nah kali ini Tati akan cerita tentang proses mangadati yang baru saja berlangsung di keluarga Tati yang Batak banget …

di rumah keluarga Op. Pardede Partigatiga Juhut

Seperti yang udah Tati ceritain di posting yang ini, minggu lalu Tati tuh pulang kampung ke Sipirok buat menghadiri pesta adat perkawinan adik laki-laki Tati, Papi David. Perkawinan Papi David dan Mami Nana sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu, bahkan telah dikarunia 4 putra-putri : Aldy, Abby, Abner dan Ajere, tapi mereka belum melakukan ritual adat perkawinan orang Batak. So, mereka melakukannya minggu lalu dengan tujuan, seperti yang diucapkan Papi David di depan keluarga dan kerabat di Sibadoar saat mengucapkan terima kasih setelah acara berlangsung dengan sukses, untuk menjalankan kewajiban sebagai orang batak yang berusaha mempertahankan adat istiadat yang telah diajarkan oleh opung dan orang tua selama ini, bukan karena mereka telah punya uang yang sangat-sangat berlebih. Ditambah lagi dengan adanya rasa sukacita atas kehadiran seorang anak perempuan dalam keluarga mereka.

Sukacita atas kehadiran seorang anak perempuan? Bukannya orang Batak lebih mementingkan kehadiran anak laki-laki sebagai penerus keluarga? Ternyata tidak sepenuhnya begitu…

Mami Nana, Papi David & bayi Ajere

Kehadiran anak perempuan dalam keluarga Batak akan membuat orang tuanya punya kesempatan menjadi Mora (yang dihormati) bagi keluarga menantunya pada suatu hari nanti. Posisi Mora dalam keluarga Batak sangat terhormat. Jadi kehadiran anak perempuan dalam keluarga Batak itu penting, bahkan sama pentingnya dengan kehadiran anak laki-laki. Makanya kata Papa ada peribahasa yang mengatakan kalo keluarga Batak itu disebut kaya bila dia punya 11 anak laki-laki dan 12 anak perempuan. Artinya dia akan mempunyai 11 mora dan menjadi mora bagi 12 keluarga. Jadi masih untung satu, hehehe…

Nah salah satu langkah dalam proses mangadati perkawinan ini adalah dengan menjadikan Mami Nana yang wong Magelang tapi besar di Samarinda dan Surabaya, menjadi Boru Batak. Caranya adalah dengan mencarikan orang tua angkat yang mau memberikan marganya bagi Mami Nana.

Untuk marga Mami Nana, Papi David minta pada Papa agar memohon kesediaan keluarga Pardede yang partiga-tiga juhut (penjual daging) di Sipirok agar mau mengangkat Mami Nana sebagai anak mereka dan memberikan marga Pardede pada Mami Nana. Kenapa keluarga Pardede tersebut? Kenapa bukan mengambil marga Harahap dari Hanopan seperti Mama dan Opung kita? Ada beberapa alasan….

Alasan pertama, keluarga Pardede tersebut sebenarnya adalah Mora keluarga kami, tapi telah jauh sekali di generasi atas, yaitu ibu dari buyut kami (Samuel Siregar gelar Baginda Parhimpunan) adalah boru Pardede yang bernama Helena. Dengan meminta keluarga Pardede tersebut menjadi orang tua angkat Mami Nana, hubungan dengan keluarga Pardede akan kembali terajut, dan posisi meraka sebagai Mora dari keluarga kami akan menguat kembali.

Alasan kedua lebih kepada kenangan masa kecil Papi David. Dimana di masa kecil kalo pulang ke Sipirok dia seringkali di suruh Opung kami, Opung Lintje (alm), ikut membeli daging ke pasar dengan salah seorang sepupu yang memang tinggal bersama Opung di kampung. Ceritanya, Opung selalu menyuruh membeli daging 1 kg, jadi ya uangnya hanya cukup untuk membeli sekilo daging. Tapi Opung Pardede yang partiga-tiga juhut selalu memberikan daging satu keranjang besar, lengkap dengan tulang buat dibikin sup, yang untuk membawa pulangnya aja sulit karena berat banget. Mana setelah Papi David memberikan uangnya, Opung Pardede selalu menyuruh tunggu sejenak, dan kembali dengan memberikan bungkusan yang berisikan panggelong (sejenis kue tradisional di Sipirok) kepada Papi David. Papi David lalu mempertanyakan hal ini kepada Opung, lalu Opung menjelaskan adanya hubungan kekerabatan yang telah terjalin dari generasi ke generasi.

Selain itu keluarga Pardede yang menjadi muslim di beberapa generasi terakhir juga selalu hadir pada saat Opung (alm) mengadakan jamuan makan siang menyambut tahun baru pada setiap tanggal 1 Januari. Mereka tidak pernah absen dari kebiasaan keluarga kami ini. Kekerabatan yang berlangsung dari generasi ke generasi dan menembus batas agama ini lah yang membuat Papi David menginginkan Mami Nana menjadi anak angkat keluarga Pardede, dan otomatis menjadikan kembali keluarga Pardede tersebut sebagai Mora keluarga kami.

Untungnya keluarga Pardede menyambut dengan gembira maksud keluarga kami. Bahkan sambutan mereka lebih dari yang keluarga kami harapkan. Mami Nana diangkat menjadi anak salah satu keluarga Pardede, yang merupakan anak dari opung yang partiga-tiga juhut, yang dulu selalu memberikan daging ekstra plus panggelong pada Papi David, Keluarga Pardede lalu memberikan nama HELENA KRISTIANA PARDEDE pada Mami Nana, mengikut nama ibu dari buyut kami.

6 thoughts on “Mangadati… (1)

  1. Kak, sebagai bahan diskusi, saya ingin tahu kenapa “untuk menjalankan kewajiban sebagai orang batak yang berusaha mempertahankan adat istiadat yang telah diajarkan oleh opung dan orang tua selama ini” itu harus “membatakkan” pihak dari perempuan (dalam case perempuan tidak berasal dari batak).

    Kenapa kita tidak bisa menjalankan prosesi adat batak tanpa “membatakkan” yang perempuan?

    1. @ Andy : GREAT QUESTION….!!! Mungkin agar pihak Perempuan mempunyai kedudukan yang setara dalam adat.. Kalau dia bukan Batak, kan dia gak bisa masuk dalam adat Batak. Dalam artian “rule alias aturan yang berarti hak dan kewajiban” orang Batak tidak bisa berlaku pada diri orang yang bukan Batak.. Tapi ini menurut pemikiran kakak, lho. Buat akuratnya, kakak akan tanyakan kepada Papa kakak yang lebih mengerti soal ini…

  2. Saya jadi rindu sama oppung setelah baca acara mangadati tersebut. Kebetulan sebelum oppung meninggal pernah cerita tentang oppung Op. Lintje yang sangat baik.
    Oppung Pangeran Pardede (Partiga tiga juhut) juga sangat mengetahui tentang semua keluarga Oppu Lintje tapi saya kurang mengerti ketika oppung menjelaskan pada waktu itu.
    Salam untuk semua
    Horas…

    —————-
    Sondha : Aduuuuhhhh saya mesti panggil apa ya sama Faizal Pardede..? Ito kah? Yang jelas senang sekali bisa terkoneksi dengan kerabat dari kampung. Sekarang Faizal menetap dimana? Kalo pulang kampung di waktu yang sama seru juga kalo kita bisa ketemuan ya… Terima kasih lho udah mampir ke “rumah” saya.

  3. Gw kalo kawin sama orang batak bagusnya marganya apa ya? Sidabutar, Sitompul, Harahap? hihihihih…..*sambari berharap ada George Clooney Nasution di tanah Batak sana* pesen satu ya Kak…..

    Eh, jadi tau adat istiadat orang Batak, bikin artikel di majalah Pariwisata aja Kak!

    ———————-
    Sondha :
    Mbak Fitra kalo jadi boru Batak dikasi marga “Margarine” aja.. Mau gak? Secara warnanya kan sama… Kekekekehhh…
    Kalo saya tau ada George Clooney Nasution, yang baik hati dan baik budi pula pasti udah saya embat duluan sebelum diinfokan ke Fitra… Hehehe…

    Ide bagus tuh buat nulis di majalah pariwisata.. Coba ntar ta cari2 jalurnya ya… Apalagi kalo ada yang mau menghire saya jadi wartawati di bidang kebudayaan, saya akan menerimanya dengan senang hati.. Bisa jalan2 terus nulis2.. Maunya… Hehehe..

  4. Wah kak, aq baru x ini tahu soal Mora itu. Tdnya aq pikir jangan2 si Vaya g disayang opung2nya krn anak perempuan, tp setelah baca postingan ini aq jd lbh pede. Dan stlh dipikir2 dan diingat2 lg, memang anak perempuan dalam keluarga batak pasti disayang bgd sama ayahnya, spt halnya papiku sayang bgd sama aku, juga si Vaya Pardede ini yg buat ayahnya jatuh hati🙂

    Kutunggu part ke-2 nya Kak Shon!

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s