Semoga…

Apakah harapan-harapan tidak lagi tinggal harapan, melainkan jadi nyata dalam kehidupan…?

Cinta bukanlah sesuatu yang bisa hadir dengan mudahnya… Meski cinta juga bisa hadir begitu saja bagai sambaran petir dan secepat jentikan jari…

Tapi saat ini…, seseorang dengan hati yang tulus, punya komitmen yang kuat akan keyakinannya terhadap Sang Pencipta, seseorang yang bisa menjadi sahabat seperjalanan untuk menjadi lebih baik di hadapan Alloh, seorang yang bisa melindungi adalah sosok yang dinanti..

Apakah si pengetuk pintu adalah kiriman Sang Pencipta sebagai jawaban atas doa-doa selama ini..? Entah lah.. Ku belum tahu jawabnya.. Tapi semoga yang terbaik lah yang terjadi dalam episode kali ini…

Panganan Khas Sipirok..

Ini sebuah pic yang terdapat di antara sederetan pics digital yang dibuat saat pulang kampung ke sipirok beberapa waktu yang lalu… Pic sebuah piring yang berisi 3 dari beberapa jenis panganan khas sipirok : panggelong, lemang dan lapet.. Panganan ini meski khas Sipirok tapi tidak setiap hari bisa diperoleh. Biasanya hanya ada dijual pada Poken (pasar) Kamis.

Panggelong itu sejenis makanan yang terbuat dari adonan tepung (beras or terigu?) dengan gula aren yang di goreng lalu di bagian luarnya dibalur lagi dengan gula aren. Rasanya manis… Khusus panggelong selain pada Poken Kamis juga bisa didapat setiap sore di sebuah warung di bagian pangkal Sipirok, bila kita datang dari Medan.

Lemang di Sipirok hampir sama dengan lemang di Riau. Terbuat dari ketan yang dimasak dengan santan plus sedikit garam dan dicetak dalam bambu yang dilapisi daun pisang lalu dibakar. Tati ingat banget waktu kecil setiap tahun baruan almarhum Opung membuat sendiri lemang dan juga dodol. Di Sipirok, lemang dimakan begitu aja, sementara di Riau lemang dimakan dengan tape pulut itam. Dirumah Pekanbaru kita malah biasa menikmati lemang dengan rendang daging. Paduan rasa keduanya maknyooosss…..

Lapet atau kalo didaerah lain disebut lepat. Di Sipirok lapet tuh ada 2 macam, lapet dari ketan yang diisi kelapa dan gula merah dan lapet yang terbuat dari tepung beras dicampur gula aren. Kalo Tati lebih senang makan lapet tepung beras dicampur gula aren. Lapet jenis yang terakhir ini ada juga yang dicetak dalam bambu dilapis daun pisang… Rasanya…. Hmmmmmm lezat…

Ada satu lagi kue khas Sipirok, yang kayaknya gak ada di daerah lain.. Kue apaan…? Kue angka 8. Terbuat dari tepung beras dibarur ama tepung gula . Teman-teman akan dapat menemukannya dengan mudah di toko2 di pasar Sipirok.

Di Sipirok juga ada cemilan yang terkenal dari generasi ke generasi. Berupa kerupuk singkong yang dioles sambel dicampur ebi. Namanya Sambal Taruma, karena konon dulunya dibuatnya di bagian atas rumah. Cemilan ini seperti juga kue angka 8 sangat mudah ditemui di Pasar Sipirok.

So, kalo mau pulang kampung ke Sipirok silahkan direncanakan sedemikian rupa agar sempat merasakan panganan-panganan khas yang hanya dijual di Poken Kamis. Kalo enggk, rasanya rugi…..!!!

Dualisme…

Dalam hidup Tati 8 tahun terakhir ada dualism yang Tati jalani…

Di satu sisi Tati berusaha menjalankan keyakinan Tati beserta aturan-aturannya..  Di satu sisi Tati harus menjaga hati orang-orang terkasih…  Orang-orang yang kebahagiannya mendominasi pikiran Tati, sehingga terkadang Tati harus melepas sesaat aturan yang telah Tati tekadkan untuk memegangnya…  Melepaskan aturan demi hati orang-orang terkasih…

Orang-orang di luar sana bisa saja menganggap Tati hypocrite, tidak konsisten…  Tapi mereka yang tidak pernah tumbuh dalam perbedaan tidak akan bisa memahami betapa sakitnya rasa berbeda dengan orang-orang terkasih itu…  Tapi keyakinan adalah keyakinan, sesuatu yang tidak bisa ditawar…

Semoga Alloh berkenan melindungi Tati dan orang-orang terkasih…  Semoga kebahagian dan keselamatan selalu menyertai kami…