Sipirok….

Sipirok adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, dan sekarang termasuk Kabupaten Angkola Sipirok, dengan ibukota kecamatan Pasar Sipirok, yang lebih populer disebut juga Sipirok.

Tati enggak ingat kapan pertama kali menginjakkan kaki ke daerah ini, secara sejak masih kecil banget Tati sudah dibawa pulang ke rumah Opung yang berada di Sipirok. Tati bahkan enggak pernah ingat sudah berapa kali pulang kampung ke Sipirok. Sipirok rasanya sudah menjadi bahagian hidup Tati, meski setelah dewasa frekuensi pulang ke sana tidak lagi se-intens pada masa kanak-kanak.

Ngapain sering-sering ke Sipirok?

Meski kampung keluarga Tati sebenarnya ada di Sibadoar, sekitar 3 km dari Pasar Sipirok ke arah Simangambat, tapi keluarga kami pulang kampungnya ya ke Sipirok, karena di situlah rumah Opung, orang tuanya Papa. Tepatnya di jalan menuju Simangambat. Secara Papa bersaudara sangat dekat dengan Opung (ibu Papa, ayah-nya Papa sudah duluan meninggal pada tahun 1965), jadi Papa bersaudara sering sekali pulang kampung, dan kami anak-anaknya juga diangkut buat pulang kampung… Bahkan bisa dua kali setahun, yaitu saat tahun baru dan saat ultah Opung di bulan Juli. Akibatnya Sipirok benar-benar menjadi bahagian hidup keluarga Tati.

Sekarang pun setelah Opung meninggal sekitar 19 tahun, kami tetap saja cinta dan rindu untuk pulang ke Sipirok.. Meski rumah tidak lagi sehangat dulu… Karena tidak ada lagi suara Opung yang menyambut kami di teras rumah kalau kami tiba dengan ucapan “Ma ro hamu, Amang (nak)? Ma ro hamu, Opung (cucu)? Keta-keta tu bagas (ayo, ayo cepat masuk rumah)… Na ngalian do di son (di sini dingin banget)…”. Tidak ada lagi Opung yang gak pernah diam, selalu sibuk menyediakan keperluan anak cucunya yang seabrek-abrek.. Tidak ada lagi Opung yang selalu berteriak pada sepupu-sepupu yang tinggal bersamanya agar segera membereskan keperluan kami dengan ucapan “Pasigop (cepetan)….!!!”. Tidak ada lagi yang membuat dodol dari tepung beras dengan menggunakan kuali yang sangaaaatttt besar di bagian samping rumah… Tidak ada lagi yang menyediakan sup tulang lengkap dengan kentang dan wortel yang masih ngebul di meja makan setiap kali kita makan…

Sipirok tuh daerah yang dingin… Kalo kita bernapas bisa keliatan asap keluar dari rongga hidung kita.. Tati ingat waktu Tati kecil, selama di Sipirok, berurusan dengan mandi adalah hal yang menjengkelkan, karena airnya dingiiiiiiiinnnnnn buanget.. Jadi kalo mo mandi tuh nunggu matahari sudah tinggi, itu pun pakai air panas yang dimasak atau pergi mandi ke permandian air panas (belerang), Aek Milas Sosopan (pulang kali ini Tati sempat pergi mandi air panas, tapi yang di Padang Bujur).

Permandian Aek Milas Sosopan, Juli 2008

 

Permandian Aek Milas Sosopan, Juli 2008

 

Permandian Aek Milas Sosopan, Juli 2008

 

Sipirok juga punya pemandangan yang indah… Kemanapun kita memandang, yang selalu nampak di latar belakang adalah warna hijau pegunungan…, perbukitan… Membuat adem hati yang memandangnya…

Suatu sisi Sipirok yang dipotret dari Pesanggrahan (Mess Pemda Sumut)

 

Dulu, di Sipirok kita akan menemukan rumah-rumah panggung berbahan kayu, yang eksotis di mata Tati.. Tapi kini mulai berganti dengan rumah berbahan batu bata… Bahkan biskop yang dulu terletak sekitar 50 meter dari rumah lama Opung sudah tidak ada lagi, berganti dengan bangunan rumah dari bata.

Sebuah rumah kayu yang sejak Tati kecil "cantik" di mata Tati. Mana lokasinya di tebing pula.. This house must have beuatiful view.. Sayang Tati gak pernah sampai ke terasnya karena gak kenal dengan pemiliknya..

Sebuah rumah kayu yang juga indah di mata Tati. Lokasinya tepat di seberang rumah Opung yang di bawah (Opung punya 2 rumah. Rumah yang lama dari kayu berada di lokasi yang lebih tinggi, sehingga kita menyebutnya dengan rumah atas. Rumah yang dibangun belakangan terbuat dari bata berada lebih rendah sehingga kita menyebutnya sebagai rumah bawah (bagas na di lombang). Tapi modernisasi udah menyentuh rumah ini, ada parabolanya, di depan rumah pula.. Agak2 merusak keindahan rumah ini.. Hehehe. Btw pic ini diambil dari atas mobil saat mau pergi, agak terburu-buru jadi keliatan ada spion mobil. Kalo di-cropping gambar rumahnya yang terpotong..

 

Temans… Silahkan dinikmati beberapa pics Sipirok yang sempat Tati ambil saat pulang ke sana minggu lalu.. Mungkin pics ini juga bisa menjadi pengobat rindu bagi temans dan kerabat yang telah lama tidak kembali ke sana.. Siapa tahu pics ini bisa mengetuk hati temans dan kerabat untuk berkunjung kembali ke sana…

Pertigaan Pasar Sipirok, lengkap dengan bus Sibualbuali yang lagi parkir. Bus dengan nama ini merupakan angkutan masyarakat di Sipirok selama puluhan tahun. Nama bus ini diambil dari nama gunung dimana daerah Sipirok berada di kaki gunung tersebut.

Dua buah pics pasar Sipirok pada saat Poken (pekan) Kamis, hari yang ditunggu-tunggu masyarakat, karena pada hari ini jenis dan jumlah barang yang diperdagangkan lebih bervariasi dan banyak. Biasanya penjual dan pembeli yang bertransaksi di poken ini tidak hanya berasal dari Pasar Sipirok, tetapi juga daerah-daerah di sekitarnya. Tati dan saudara-saudara sangat menunggu poken ini, karena hanya pada poken ini ada yang menjual makanan tradisionil secara komplit, seperti panggelong, lemang dll.

 

Suasana di lingkungan Hotel Tor Sibohi, hotel yang representatif di Sipirok, meski layanannya masih lelet. Saat musim liburan (seperti waktu Tati dan keluarga ke Sipirok) kamar-kamar di hotel ini penuh. Tati juga melihat ada bule juga yang menginap. Kebetulan adik Tati, Nhoy, punya teman yang kerja di travel yang bisa memberikan kita voucher untuk menginap di sini dengan harga yang lumayan, sekitar 60% dari harga kalo reservasi di hotel.

 

Pemandangan ke arah pegunungan di Sipirok dari teras kamar di hotel Tor Sibohi. Setiap pagi dan sore selama di sana Tati gak bosan-bosan memandangnya... Kebayang gak siyy kalo kita bisa duduk di teras hotel ini di pagi dan malam hari with our beloved one...? Hmmm... it's so romantic, isn't it..?