Jangan Bercerai, tapi….

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat lama..  Yang juga sudah lama tak berkomunikasi menghubungi ku by phone…

“Kak…, kakak sibuk? Kita bisa ketemu.. Aku ingin bicara..  Aku mau minta masukan… Aku rencananya akan bercerai..”

Innalillahi…  Tubuh ku mendadak rasanya dingin…

Aku menjawab “Iya.. Aku bisa.. Kapan mau ketemu..? Jam istirahat kantor saja, kalau mau.”

Sahabat ku itu menyetujui.. Dan dia menjemputku di tempat kerja, saat jam istirahat kantor…

broken heartBegitu bertemu, sahabat ku bilang  : Aku mau bercerai kak.. Gugatan sudah ku masukkan ke Pengadilan..

Aku : Tak bisakah ditahan lagi…?

Sahabatku : Kakak kok bisa bilang begitu? Kakak belum dengar apa yag terjadi pada ku..  Aku ingin bicara dengan kakak untuk dapat masukan dari seseorang yang telah melakukan perceraian.. Tapi aku gak nyangka kalau pikiran kakak begitu..

Aku : Aku pernah membaca buku.. Buku yang diberikan sahabat kita sebagai hadiah pernikahan ku sekitar 3 tahun yang lalu…  Dibuku itu tertulis sebuah riwayat hadist Rasulullah, dimana kesuksesan setan yang tertinggi bukan lah menggoda manusia hingga melakukan kejahatan, tapi menghancurkan rumah tangga, memisahkan suami dari istrinya… Apa yang terjadi dengan rumah tangga mu?

Sahabatku : Dia selingkuh kak..  Dan aku juga sudah dijahati secara finansial…  Selama ini sebenarnya aku yang membiayai rumah tangga kami kak.. Bahkan aku yang sekarang2 ini membiayai sekolahnya..  Aku bekerja keras, dia menikmati, sekarang dia menghianati…  Aku sudah melihat bukti-buktinya…

Innalillahi….

Sahabatku melanjutkan :  Kenapa kakak menyarankan aku untuk mempertahankan rumah tangga ini, sementara kakak melakukannya…?

Aku : Karena bagaimana pun perceraian itu menyakitkan.. Perceraian ku hanya menyangkut perasaan diri ku dan  juga keluarga ku.. Tapi perceraian mu, menyangkut perasaan anak-anak mu.. Pernikahan ku hanya seumur jagung, pernikahan mu sudah berbelas tahun…  Dan sesungguhnya aku melihat dari perjalananku bahwa ujian hidup  lelaki adalah  perempuan dan harta.. Sementara ujian hidup kita perempuan adalah kesabaran menghadapi, mendampingi suami menghadapi ujiannya..  Bukan kah suami adalah amanah Allah yang harus kita jaga, sebagaimana kita, para istri adalah amanah Allah pada para suami, yang harus dia jaga?

Sahabat ku : Kakak masih berpikiran seperti itu setelah semua perjalananmu, kak…?  Aku saja kalau ketemu dengan mantanmu rasanya pengen nonjok dia, kak…  Karena aku masih ingat bagaimana gembiranya aku saat mendengar kakak akan menikah.. Aku sampai berencana terbang ke Samarinda untuk menghadirinya…

Aku : Aku sesungguhnya untuk sampai di titik benar-benar memulai mengurus perceraian itu  setahun setelah aku mengetahui hal-hal yang menyakitkan..  Aku pernah berusaha memperbaiki..  Tapi ternyata tak berjalan… Bahkan aku tahu makin banyak, makin banyak..  Dan orang-orang yang terlibat di situ berusaha menggerogoti hati ku tanpa ampun..  Pada akhirnya aku melakukan perceraian untuk membebaskan diri ku dari rongrongan rasa sakit… Dan pada akhirnya, aku melihat proses ini sebagai upaya melepaskan mantan suami ku dari tanggung jawab dirinya atas diriku..  Dan sesungguhnya ketika palu perceraian itu diketuk…,  tubuhku gemetar..  Padahal, proses perceraian itu saja 1,5 tahun..  Di situ lah aku mengerti betapa kuatnya ikatan pernikahan yang dilakukan di hadapan Allah itu, meski hanya seumur jagung…  Jadi, kalau dirimu masih bisa bersabar, jangan bercerai..  Tapi kalau perceraian itu satu-satunya jalan untuk menghentikan suamimu dari kezalimannya, dengan berat hati lakukan lah..  ***

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s