Ada Apa Dengan Kita?

Ada apa dengan kita?  Bukannya Ada apa dengan Cinta…???😀 Ahhh itu mah cerita lama… Line sudah mempertemukan mereka kembali, jadi udah gak seru buat dibahas… :D  Terus kita mau bahas apa donk..?   Membahas sesuatu yang penting… Lebih penting dari urusan Cinta dan Rangga… Uppppssss… Jadi deg-degan… Hahahaha… LebayAbis.com…

Beberapa bulan ini aku sering berdiskusi dengan seorang teman… Seorang teman yang luar biasa.. Masih muda, cerdas, penuh semangat, bekerja sebagai jurnalis di sebuah media, bagian dari  jaringan media nasional..

students1Kami berbagi cerita tentang pikiran, mimpi-mimpi dan keinginan… Daku si PNS tak jelas ini semakin sering merasa, I’m not really belong to the system…  Aku gak bilang pekerjaannya, aku menyukai pekerjaanku.., but the system.. Itu menimbulkan kegelisahan diri yang terus menerus.. Aku merasa aku belum bermanfaat secara maksimal bagi sekitar…  Aku merasa ada banyak hal yang seharusnya aku perbuat bagi orang banyak… Bukan menghabiskan banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk melayani sistem yang lebih perduli dengan berbagai kepentingan pribadi atau sekelompok orang..  I don’t want to be useless..  Lahir., tumbuh besar.., menikmati kehidupan.., lalu pergi tanpa meninggalkan kebaikan... Ohh semoga tidak, ya Allah…  Ada banyak hal yang ingin aku lakukan, dan aku tahu bahwa aku tak mampu melakukannya sendiri.. Aku butuh teman yang sama frekuensi pikirannya dengan diriku..

Temanku ini lalu mengusulkan agar kami perlahan-lahan membangun komunitas untuk berdiskusi… Dari diskusi itu nanti kita bisa lihat apa yang harus menjadi prioritas utama untuk dikerjakan..  Tapi karena masing-masing punya kesibukan, tak mudah bagi kami untuk ketemu, duduk bersama dan diskusi.. Apa lagi dengan mengajak teman-teman lain..

Lalu, 2 hari sebelum akhir pekan yang lalu, temanku itu menghubungi aku via handphone…

“Akhirnya saya memulai satu langkah kecil.  Karna dunia tulis menulis adalah jalan hidup  yang saya pilih, maka saya berkewajiban menjaganya.  karena itu saya pun membuka @Kerani House.  Kerani itu istilah Bahas Melayu untuk juru tulis.  jadi singkatnya rumah bagi para juru tulis.  Bisa siapa saja.  Penulis lepas, penulis cerpen, artikel, dan tentu saja para jurnalis.  Rencana besok mulai perdana, kat rumah saye.  Jike ada waktu, jom join lah.”

Di hari yang telah temanku itu tetapkan,aku datang ke rumahnya… Telat… Karena salah ingat jam yang dikatakan… :D  Saat aku sampai di sana di teras rumah temanku itu ada sekitar 10 orang gadis-gadis belia… Cantik-cantik..

Setelah memperkenalkan diriku pada gadis-gadis belia itu, temanku lalu bercerita, bahwa gadis-gadis itu adalah mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi di kota kami.. Para mahasiswi jurusan jurnalistik.. Dikirim untuk magang di media yang dipimpin temanku itu, tapi mereka semua mengaku belum pernah menulis.. Bahkan merasa tak mampu menulis… gubbrrraaakkkksssss

Temanku itu bilang, “Macam mana saya nak turunkan mereka ke lapangan, kalau begini modelnya, Mak Cik?  Bagus lah saya dorong mereka untuk mau, bisa menulis dulu.”

Aku dan temanku itu berusaha membuka mata, telinga dan hati terhadap ucapan para gadis tersebut… Hampir semua bilang, mereka tidak tahu mau menulis apa..

Temanku itu lalu, minta aku bercerita tentang aku dan blogku kepada para gadis belia…

Aku lalu bercerita,  ceritasondha.com ini aku awali lebih dari 7 tahun yang lalu.  Ketika pikiranku, hatiku terlalu sesak dengan tekanan pekerjaan..  Lalu seorang junior di kantor, Veny Citra, bercerita tentang berpulangnya seorang blogger, Inong, Bunda Zidan dan Syifa.  Aku saat itu tidak tahu apa itu blog.. Bagaimana membuatnya.. Sama sekali tidak tahu…  Tapi dari postingan-postingan yang ditulis alm Inong, aku melihat bahwa yang dia ceritakan adalah her daily life..  Aku pikir, aku pun bisa membuat seperti itu..  Maka aku belajar membuat blog, menuangkan pikiran demi pikiran, perasaan demi perasaan, pengalaman demi pengalaman…  Dengan bahasaku sendiri… My personal language…  Tak ada yang mengharuskan ku menggunakan EYD 1972…😀

Lalu para gadis bilang, “Kami tak tahu nak menulis tentang apa, bu”

Aku lalu bilang, “Mari kita cari bersama, apa yang bisa kalian tulis.. Satu hal, untuk di awal, tulislah sesuatu yang sangat kamu ketahui, sesuatu yang menjadi atau pernah menjadi bahagian hidupmu.. Sesuatu yang pernah kamu rasakan.. Tuangkan semuanya.. maka dia akan jadi tulisan yang, insya Allah hidup…”  Dan aku melihat kerlip semangat di mata mereka..😀

Lalu aku menanyakan satu persatu tentang diri mereka…

Saat kutanya dari mana asalnya, gadis cantik pertama mengatakan kalau dia berasal dari Air Tiris.. Sebuah kota kecil di Kabupaten Kampar, sekitar 40 km dari Pekanbaru..  Aku lalu bilang, “Kamu tahu masjid Jami’?”  Dia bilang, “Tahu, bu”.  Aku lalu melanjutkan, “Kamu tahu kalau Masjid itu tidak punya paku? Kamu tahu ada benda apa di dalam bak di bagian belakang masjid? Kamu tahu sejarah Masjid itu? Apa kamu pernah ke sana? Pernah beraktivitas di sana ?  Tuliskan lah tentang semua itu menurut apa yang kamu tahu, kamu pikirkan, kamu rasakan.”

Gadis kesekian, saat diberi pertanyaan yang sama, yaitu daerah asalnya, menjawab, “Saya dari Bagan Siapi-api, bu.  Rokan Hilir.”.  Aku lalu bilang,  “Berapa persen penduduk Tionghoa di Bagan? Kamu berinteraksi dengan mereka?  Kamu melihat bagaimana kerukunan antar etnis di sana?  Tuliskan lah itu semua.. Apa yang kamu tahu, kamu pikirkan, kamu rasakan.”

Ada suatu tanya di diriku… Apa yang diajarkan di kampus mereka ya…?  Bagaimana bisa anak-anak yang mengambil jurusan jurnalistik, tapi belum bisa menulis.  Jangankan menuangkan pikirannya, apa yang mau ditulis pun mereka belum familiar.  Aku bukan penulis professional.. Aku  hanya seorang blogger.. Itu pun terkadang termegap-megap oleh gelombang kehidupan…Tapi menjadi seorang blogger membuat aku lebih bisa mengekspresikan apa yang ada di pikiranku, perasaanku dalam bentuk tulisan..  kalau dalam bentuk ucapan dan ekpresi wajah, aku sering tak bisa…Aku bisanya berwajah juteg…  hahahaha

Apa yang terjadi dengan para gadis cantik ini juga mengingatkanku terhadap beberapa kasus yang aku temukan selama bekerja di lingkungan Pemerintah di daerahku ini….

Kasus pertama, dulu saat aku masih kerja di kantor lama, pernah ada dua anak magang dari SMK, jurusan komputer.  tapi enggak bisa menggunakan komputer…  Saat aku tanya, emang kamu belajar apa soal komputer, anak-anak itu menjawab, “Kami diajarkan teorinya apa saja isi komputer bu.  tapi enggak pernah praktek.  Karena saat kami kotak katik komputer di lab, jadi ada komputer yang terbakar.  jadi kami enggak dikasi lagi megang komputer… Uppppppsssss….

Kasus kedua, ketiga dan entah yang keberapa, ada pegawai baru yang sarjana.  Tapi enggak bisa menggunakan wordprocessor… Yang lulusan akuntansi, enggak bisa menggunakan worksheet… Aku saat itu nanya, siapa yang mengerjakan skripsinya? Karena kalau dia kerjakan sendiri, pasti dia jadi bisa menggunakan wordprocessor…  Apa skiripsnya dia tulis tangan terus dia ngupahin orang buat ngetik…? Hari gini….?   Tapi orang-orang yang ku tanya itu biasanya diam….

studentsAku kali ini, seperti yang sudah-sudah, kembali bertanya, apa ya yang diajarkan di tempat mereka belajar?  Apakah tidak ada prosses mendorong siswa atau mahasiswa untuk punya kemampuan  paling dasar untuk memenuhi kualifikasinya untuk berhak menggenggam selembar ijazah?  Atau jangan-jangan kualifikasi itu hanya ada di atas kertas…?

Aku dulu juga bukan mahasiswa yang sempurna.. Aku sering bermain dengan teman-teman..  Menjadi sarjana pertanian tidak membuat ku ahli memegang cangkul..  :D   Tapi dari membuat laporan-laporan praktikum, tugas-tugas, Studi Pustaka dan Skripsi, membuat aku bisa menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.. Untuk laporan-laporan tahun-tahun pertama sampai ketiga masa kuliah, mengetik 11 jari  minimal harus bisa… 11 jari…, artinya jari telunjuk kiri dan jari telunjuk kanan.. hehehe.  Dan pada tahun ketiga masa perkuliahan, ketika komputer mulai mudah diakses, aku dan teman-teman pun belajar menggunakannya..

Tapi kalau sarjana di tahun gini, saat komputer berserak dimana-mana, masih gak bisa menggunakan word processor… Lulusan akuntasi gak bisa menggunakan worksheet… Calon jurnalis belum  bisa nulis…? Ada apa dengan kita…?  Bagaimana sistem pendidikan kita…?  Atau benar, apa yang dibilang orang-orang  kalau orang kita sekolah itu bukan mencari ilmu, tapi hanya mengejar selembar ijazah?  Yang setelah di tangan juga belum tentu laku buat digunakan mencari kerja..  **sad*

Tulisan kecil ini hanya sebuah masukan bagi kita agar kita berhenti mengejar hanya sekedar simbol-simbol…, yang sesungguhnya tak membawa kita kemana-mana..  Kecuali melayang pingsan  di langit, tanpa kekuatan…  tanpa tujuan…   Lalu terkaget-kaget saat sekitar sudah tak ada lagi, karena mereka telah melesat menuju dunia yang lebih baik…  Semoga juga bisa menjadi masukan bagi  teman-teman yang berkecimpung di dunia pendidikan di daerah ini.. ***

2 thoughts on “Ada Apa Dengan Kita?

    1. Terima kasih.. semoga punya domain sendiri membuat lebih produktif, lebih baik isinya.. juga lebih bermanfaar bagi banyak orang.. terima kasih sudah berkunjung, bang.. datang lagi ya, sering2.. ajak teman2 juga.. kunjungan balasan otw..

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s