Posted in My Family, Tukang Jalan

L Cheese Family Gathering di Echo Valley

Tanggal 16 Maret 2015 yang lalu adalah hari ulang tahun berdirinya L Cheese Factory, a premium cheese cake shop di kota kami, Pekanbaru.  Tahun pertama ulang tahun toko diadakan di L Cheese.. Tahun lalu, tahun kedua, acara ulang tahun diadakan di Grand Ballroom Hotel Aryaduta, dengan mengundang vendors dan customers untuk makan malam..

L Cheese 2nd Anniversary
L Cheese 2nd Anniversary

Naaahhh… untuk ulang tahun ketiga ini, kakak ku jauh-jauh hari udah bilang kalo ulang tahun ketiga L Cheese akan dirayakan bersama karyawan, dalam bentuk liburan sama-sama plus outbound.  Dan kakak ku sudah wanti-wanti agar aku menyisihkan waktu agar bisa ikut..  Baik laahhhh… 😀

Liburan kemana…? Ke Lembah Harau, di tepi Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Lembah yang dikelilingi tebing-tebing yang cantik dengan beberapa titik air terjun.  Di lembah itu ada resort yang bernama Echo Valley. Kenapa namanya Echo Valley alias lembah bergema…? Karena di seberang jalan masuk ke Echo Valley Resort terdapat dinding tebing yang kalau kita berteriak di depannya, suara kita akan bergema… Aaaaaaaaaaaa….. Uuuuuuuuu….. 😀   Diriku sebenarnya pernah ke tempat ini awal tahun 2010 saat liburan bareng sahabat-sahabatku, para mantan preman Sosek tahun 1988 – 1992-an,  tapi saat itu gak masuk ke Echo Valley.  Hanya singgah dan putu-putu… Kami saat itu nginap di Bukittinggi..

L Cheese Family Gathering
L Cheese Family Gathering

So…, tanggal 15 Maret 2015 jam 06.30, halaman rumah kami yang sebagian sudah dialihfungsikan menjadi L Cheese Factory sudah ramai dengan karyawan L Cheese, plus Deni dan teamnya dari Optima, yang akan mengurus outbound…  Sekitar jam 09-an, setelah ice breaking, rombongan yang berjumlah sekitar 43 orang berangkat dengan menggunakan satu bus..  Sementara ponakan ku #3 Olan plus istrinya Lianda Marta, menyusul sore hari, karena ada kegiatan lain yang harus mereka hadiri terlebih dahulu..

Kami sampai di Lembah Echo sekitar jam 04 sore, setelah perjalanan penuh warna.. Hehehe…  Iya penuh warna.., karena supir bus yang kami hire ternyata butuh pembinaan tentang Sapta Pesona.  Si supir berlaku seenaknya terhadap kami.   Dia merokok di dalam bus, tanpa perduli terhadap kenyamanan, kesehatan penumpang yang dia bawa.  Dia gak perduli di dalam bus itu ada bang Harry dan Aufaa yang masih balita, yang daya tahannya tentu belum seperti orang dewasa.

Bahkan si supir tidak mau menghentikan bus untuk berhenti di restoran Terang Bulan di Lubuk Bangku, yang menjadi pilihan kami untuk makan siang.  Alasannya, bus yang dia bawa harus makan di restoran yang berlokasi di seberangnya.   Hellooowwww…  Dia pikir dia bawa bus dengan penumpang umum, dimana supir punya kekuasaan mutlak untuk mengatur dimana dan kapan mau berhenti.  Kalau kami gak mau ikut kemauannya, dia tetap akan parkir di depan restoran pilihannya tersebut, dan kami dipersilahkan untuk menyeberang.  Untuk teman-teman ketahui, jalan yang harus kami, 43 orang termasuk 2 anak balita, itu adalah jalan lintas Sumatera yang lalu lintasnya padat, terutama di akhir pekan.  Sumpe gw pengen nabok…..!!!!

Echo Wall & Terang Bulan
@ Echo Wall & Terang Bulan

Tapi hikmah dari berurusan dengan supir yang belum tersentuh Sapta Pesona itu adalah, kalau kita akan menyewa bus, harus bikin kontrak yang jelas dengan pemilik bus, atau travel yang menyediakan jasa penyewaan bus. Lengkap dengan uraian tentang waktu penggunaan, kondisi bus yang kita inginkan, etika supir dan kernet yang kita kehendaki, serta konsekuensi kalau salah satu pihak melakukan pelanggaran terhadap perjanjian.

Lanjut ke cerita perjalanan…  😀

Karena tinggi bus kami melebihi portal di  jalan masuk lembah Harau, rombongan kami harus berjalan kaki sekitar 500 -800 meter untuk sampai ke Echo Valley Resort.  Buat kami para Ompung-ompung, pilihannya naik ojeg..  Jadilah diriku dan kakak-kakakku naik ojeg. Khusus diriku ada bonus…, gendong Aufaa, putra kedua Parlin, keponakanku, yang baru berusia 14 bulan saat itu.  Jadi aku rada-rada bawel deh sama si abang ojeg.. Hahahaha…

Echo Valley Resort nyaris gak terlihat dari jalan raya…  Hanya ada sebuah bangunan kayu di bahagian depan, yang berfungsi sebagai front office.. Namun tak terlihat pertugas yang ready..  Performancenya memang tak seperti hotel berbintang atau resort-resort di destinasi wisata terkenal..  Tak nampak petugas berseragam…  😀 Sehingga kita tak bisa mengenali yang mana petugas resort.. Selama kami menginap di situ, hanya satu wajah yang saya kenali..

Echo Valley
Echo Valley

Dari tepi jalan, untuk sampai ke resort kita harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak… , atau kalau agak-agak berani naik motor tukang ojeg atau petugas hotel.. Kenapa aku bilang agak-agak berani…? Karena lumayan curam… 😀

Echo Valley
Echo Valley

Tapi, begitu melalui jalan masuk yang menanjak, kita akan menemukan kejutan… Kejutan apa….? Resort yang nyaman…

Echo Valley
Echo Valley

Ada 4 bangunan besar yang langsung muncul di hadapan.. 2 berbentuk rumah gadang, 1 bangunan yang membuat kita berpikir tentang Spanyol atau negara latin, dan satu bangunan dengan desain minimalis…  Selain itu ada beberapa bangunan-bangunan yang lebih mungil..  Oh ya…, kita juga akan menemukan meja kayu dan 2 buah bangku kayu tanpa sandaran yang nyaman di bawah pohon rindang, plus sebuah lingkaran dengan tempat api unggun di tengahnya…

Echo Valley
Echo Valley

Ya, ini memang resort yang alami… Beda dengan resort-resort di Bali, yang cenderung lux..  tapi tempat ini nyaman banget… bahkan di siang hari, saudara-saudara tua, alias monyet akan muncul dan berkeliaran di sekitar bangunan..  So, jangan ninggalin barang sembarangan kalau gak mau dilariin saudara tua.. 😀 Meski resort ini lebih alami dibanding resort-resort di destinasi wisata yang lain, tapi fasilitas kamar, berupa tempat tidur dan kamar mandinya bagus.., kecuali mungkin di pondok-pondok yang kecil, yang sempat diriku intip pagi-pagi di hari kedua..  Ada air hangat…  Lantai kayu untuk rumah rumah dan kamar-kamar..  Soal harga dan contact person, teman-teman bisa lihat di web yang ini

Echo Valley
Echo Valley

Kalau teman-teman mau ke sini, jangan lupa harus bawa ransum yang cukup… karena lokasinya relatif yang remote dari kota, membuat makanan tak mudah ditemukan.. Pihak resort menyediakan sarapan, untuk lunch atau dinner ada by order.  Menunya standard..   Jangan lupa juga bawa sesuatu untuk mengatasi ulat bulu yang senang hadir di sekitar kita, akibat rindangnya pepohonan…  😀 Terus kami ngapain aja di sana… ?

Hujan di Echo Valley...
Hujan di Echo Valley…

Sore hari setelah sampai… Kami duduk-duduk di teras rumah Spanyol… Menikmati udara yang segar plus sejak karena hujan lebat… Ngobrol sambil mengawasi bang Harry dan Aufaa yang “merdeka” mundar mandir…  Bahkan Aufaa (saat itu berusia 14 bulan) yang berjalan aja masih belajar, sudah bulak-balik manjat tangga mezzanin yang ada di kamar tidur..  😀

@ Echo Valley
@ Echo Valley

Malam hari, kami makan di ruang makan, bangunan minimalis yang nampak di foto di atas.. Makanannya standard… Setelah selesai makan malam, menjelang jam tanggal 16 Maret 2015, dimulai acara ulang tahun L Cheese yang ketiga.. Acara dilakukan di ruang makan…, gak bisa disekitar api unggun, karena hujan terus sampai menjelang pagi..  Sayang, mataku saat itu benar-benar gak bisa diajak kompromi… Diriku tidur dengan nyenyak, meski sudah dibangunkan berkali-kali…  😀  Aku baru bangun sekitar jam 02 pagi.., kembali bergabung dengan keluarga, menikmati mie instant cup.. Untuk urusan mie instant ini, kakak ku sudah menyiapkan bekal 1 kardus besar, dan membawa kompor gas kecil, lengkap dengan panci untuk masak air dan tabung-tabung gas kecil.. 😀 Pesta mie cup usai sekitar jam 03 pagi..

@ Echo Valley
@ Echo Valley

Pagi hari…, kami menikmati sarapan yang disediakan pengelola Echo Valley..  Setelah acara foto-foto dan santai-santai sejenak, acara outbound dimulai..  Kami para ompung-ompung menunggu dan menyaksikan dari teras rumah Spanyol, sambil mengurus cucu-cucu..  😀  Sekitar jam 12-an, acara outbound dilanjutkan di air terjun yang ada tak jauh dari hotel.., sekitar 2 km.  Untuk ke sana, kami menggunakan mobil yang dibawa oleh ponakanku # 3, Olan, plus dibantu mobil pengelola resort.  Outbond selesai sekitar jam 15an.. Kami kembali ke resort, bersih-bersih, lalu kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan dengan makan malam di Bukittinggi..

L Cheese
L Cheese Big Family

Serunya family gathering keluarga besar L Cheese Factory.. Semoga outbound-nya bisa membuat Tim L Cheese bekerja dengan lebih baik, lebih kompak, agar L Cheese bisa memberi kebahagian yang lebih bagi customer dan semua pihak yang terkait dengan L Cheese…

L Cheese AnniversaryHappy 3 rd Anniversary, L Cheese… 

Semoga banyak kesuksesan dan kebahagian di tahun-tahun mendatang…

L Cheese Factory…, Make your heart say “cheese”

Advertisements
Posted in Boru Batak, Culture and Heritage, Tukang Jalan

Ulos Angkola

Pulang kampung ke Sipirok dalam beberapa tahun terakhir selalu membuat hati dan pikiranku tergelitik… “Mau tau tentang apa lagi, yaa…?”

Yuupppp…  Besar di Pekanbaru, berada di lingkungan yang berasal dari berbagai suku,  lalu sekolah ke Bogor, dan sempat tinggal di 2 kota lain, bergaul dengan teman-teman dari berbagai daerah, membuat diriku di usia belia dan awal dewasa gak terlalu mau tahu tentang kampungku.. Tapi kemudian kesadaran bahwa budaya yang dimiliki leluhurku sungguh kekayaan yang tak ternilai, yang seharusnya aku kenal, aku pelajari, menggoda hati…  Makanya, bila ada kesempatan pulang kampung  aku berusaha melihat tinggalan budaya yang ada di kampungku..

Setelah mengunjungi ito Ardiyunus Siregar pengrajin Tuku dan Bulang  yang tinggal di desa Padang Bujur Sipirok, yang saya kenal melalui group orang-orang Sipirok di Facebook, kali ini saya berkenalan dan mengunjungi ito Advent Ritonga, seorang pengrajin ulos yang well-known.  Ito Advent Ritonga, yang formalnya hanya tamat Sekolah Dasar tapi sangat cerdas dan penuh bakat, menetap di Silangge, sebuah kampung yang berada sekitar 1 km dari jalan raya menuju Sipirok, kalau kita datang dari arah Medan.  Atau kalau dari rumah Ompungku sekitar 5 km-an.

Ulos 1
Ulos Angkola

Salah satu tulisan di dunia maya tentang Advent Ritonga bisa teman-teman lihat di sini

Aku sendiri sebelumnya enggak tahu dengan beliau dan nama besarnya.. Maklum kurang gaul.. Hahaha.. Tapi adikku Ivo, yang pernah menyusuri berbagai sentra kerajinan di Sumatera Utara, menyarankan aku mengunjungi pertenunan beliau kalau mau liat pengrajin Ulos.

By the way, anyway, busway…, teman-teman udah pada tahu kan apa itu ULOS…?

Ulos itu artinya secara harfiah kain, atau selimut..    Tapi biasanya pengertiannya dalam konteks adat..  Sedangkan untuk kain (bahan baju, sarung, kain panjang), kata yang dipakai adalah abit.  Ada juga yang menyebut ulos dengan istilah abit godang atau kain kebesaran, buka kegedean, lho.

Karena etnis Batak terdiri dari berbagai varian yang mempunyai budaya juga berbeda-beda…, maka ulosnya juga berbeda-beda, baik dari warna mau pun corak..  Sipirok, sebagai wilayah yang dihuni oleh masyarakat Batak Angkola, maka ulos di Sipirok adalah Ulos Angkola..  Ulos yang menggunakan lebih banyak warna..

Hari Jum’at 03. April 2015 kemaren, sore hari, dengan diantar kak Mega, anak Namboru (kakak Papa) yang menetap di Sipirok, diriku pergi ke Silangge, ke rumah ito Advent Ritonga, pengrajin Ulos itu..

Pertenunan Silangge
Pertenunan Silangge

Begitu sampai di rumah ito Advent Ritonga, mataku melihat di samping rumah beliau terdapat sebuah bangunan kayu, tempat bertenun, yang di atas pintunya terdapat tulisan yang mengatakan kalau pertenunan ini merupakan binaan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk pencelupan benang.  Tak sempat berbengong-ria, aku dan kak Mega langsung disuruh masuk ke ruang tamu rumah yang sekaligus berfungsi sebagai showroom sederhana..

Kak Mega langsung memperkenalkan diriku pada beliau, dan memberi tahu maksud kedatangan ku ke situ. Dan, ito Advent bilang, “Hu tanda do amangmu.  Ro do hami tu horja inatta na baru on”.  Artinya, “saya kenal dengan bapakmu, dan kami hadir saat acara adat pemakaman ibumu baru-baru ini”.  Hmmmmm.  Ini Sipirok, banyak orang yang saling kenal. Jadi hati-hati melangkah dan bicara.  Lebih hati-hati dari yang biasa dilakukan saat berada di luar sana.  😀

Silangge 1
dengan Ito Advent Ritonga, Pengrajin Ulos dari Silangge, Sipirok

Setelah ngobrol-ngobrol sambil melihat-lihat apa yang dipamerkan di situ, termasuk yang ada di dalam 2 lemari kayu besar dengan pintu-pintu berkaca, aku bertanya apa sesungguhnya makna yang ada di Ulos Angkola.

Menurut beliau Ulos Angkola merupakan ulos yang diberikan kepada pengantin Batak Angkola, dengan simbol-simbol penuh makna, penuh dengan pesan-pesan akan ajaran hidup yang harus dipelajari, dijalani orang Batak Angkola, terutama boru (anak perempuan).

Saya lalu meminta beliau untuk mengatakannya pada saya satu demi satu.  Ito Advent bilang, baru kali ini ada orang kita (orang Sipirok, maksudnya) yang bertanya pada dirinya tentang hal ini. Orang luar, orang asing yang justru lebih sering bertanya.  Semoga ini bukan tanda betapa tidak pedulinya generasi muda Sipirok terhadap tinggalan agung leluhurnya.

Saya lalu bilang, saya tidak sering mengikuti acara Mangulosi atau memberi ulos.  Tapi dari acara-acara yang saya lihat, saya ikuti, saya belum pernah meilihat, mendengar orang yang mangulosi itu menjelaskan makna yang tersimpan dalam ulos yang diberiannya.  Padahal bukankah makna adalah bagian terpenting dari sebuah pemberian..?

Ito Advent bilang, “Saya akan kasi tahu kamu.. Tapi kalau nanti tulisanmu sudah jadi.., sempatkan untuk memprintnya ya, dan kirimkan pada saya”.  Deal.  Insya Allah aku akan melakukannya.

By the way, diriku sempat bertanya, mengapa dirinya tidak pernah menulis tentang makna yang ada pada motif yang terdapat pada  ulos Angkola.  Dia bilang, dia pernah menuliskannya, lalu seseorang meminjam catatan tersebut, namun tak pernah mengembalikannya.. Hmmmmm… sad

Ito Advent menjelaskan pada saya mulai dari tepi ulos, yang wujudnya seperti bulu, sampai ke tengah ulos. Mari kita mulai.

Rambu 1
Rambu

RAMBU.  Rambu atau jumbai yang wujudnya seperti bulu, seperti putri melambai-lambai, melambangkan dalam berumahtangga, oarng harus luwes dalam mencari nafkah.

Manik-manik Si Mata Rambu 1
Manik-manik

MANIK-MANIK, SI MATA RAMBU, artinya dalam berumah tangga, sebagai orang tua nantinya, sepasang suami istri harus bisa menjaga anak laki-laki dan anak perempuannya dengan baik.  Bahasa Batak Angkolanya, Matahon anak dohot boru.

Sirat
Sirat

SIRAT, artinya suratan tangan, atau jodoh. Jadi orang yang menikah itu sudah jodoh, harus bisa mempertahankan rumah tangganya.

Jarak
Jarak

JARAK, tenunan polos berwarna hitam, berada di antara sirat dan pusuk robung.  Artinya dalam semua aspek kehidupan harus ada jarak, tidak boleh terlalu dekat.  Tidak boleh kita membuka semua yang ada pada kita kepada orang lain.

Pusuk Robung
Pusuk Robung

PUSUK ROBUNG alias pucuk rebung.  Artinya dalam kehidupan harus bisa bersikap seperti bambu, bermanfaat di sepanjang usia, makin tinngi makin merunduk, knea angin bergoyang tapi tidak patah.  Dan motif pucuk rebung ini juga ada lho dalam tenunan Melayu.  Apa ya maknanya? Ada kesamaan asal muasalkah? Hmmmm.

Luslus
Luslus

LUSLUS, artinya dalam hidup manusia itu harus bagai lebah, hidup bermasyarakat. Tak boleh hidup sendiri.

Tutup Mumbang
Tutup Mumbang

TUTUP MUMBANG. Artinya di dalam hati harus ada tempat untuk menyimpan yang panas dan yang dingin. Harus bisa mengendalikan diri, mampu menyimpan hal-hal yang buruk dan tidak mengumbar yang baik.

Iran-iran
Iran-iran

IRAN-IRAN, andege ni mocci.  Bahasa Indonesianya jejak tikus. Tiku kemanapun melangkah selalu terlihat jejak kakinya,  artinya dalam hidup manusia harus meninggalkan jejak, kebaikan. Tidak boleh berlalu tanpa meninggalkan bekas.

Jojak Mata-mata
Jojak Mata-mata

JOJAK MATA-MATA.  Ini motif dengan bentuk melintang terdiri dari warna merah, putih dan hijau.  yang menunjukkan perubahan.  Karena dengan pernikahan seorang perempuan akan melangkah ke tempat mertua, tinggal dan menjadi bahagian dari keluarga mertua, artinya berubah lingkungan, seorang perempuan atau boru harus meninggalkan jejak baik bagi keluarganya.  Suami dan istri harus mampu memberi kesan baik tentang keluarganya ke keluarga mertua, dan sebaliknya juga memberi kesan baik tentang keluarga mertua kepada keluarganya.

Yok-yok Mata Pune
Yok-yok Mata Pune

YOK YOK MATA PUNE.  Pune dalam bahasa Indonesia artinya burung Beo, burung yang cerdas.  Jadi seorang boru, perempuan Batak harus pintar, harus cerdas, harus mau selalu belajar.

Ruang
Ruang

RUANG.  Bahagian tenunan yang paling besar dan kaya warna ini melambangkan ular naga.  Kuat dan panjang.  Artinya suami istri itu harus berjiwa tegar, kuat dan mampu merangkul semua pihak yang ada di sekitarnya.

Si Jobang
Si Jobang

SI JOBANG. Motif yang berbentuk deretan prajurit.  Jumlahnya harus ganjil, di sisi-sisi terluar harus yangmenggambarkan Mora (Raja), berwarna merah. Mora di pakkal, mora di ujung.  Artinya sebagai Mora, harus bertanggung jawab terhadap seluruh aspek kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Singap
Singap

SINGAP alias ujung atap.  Artinya sebagai orang Batak, harus mampu bersikap seperti atap, mampu menahan panas terik matahari dan hujan.  Sepahit apa pun yang terjadi dalam berumah tangga harus bisa dihadapi.

Horas Tondi Madingin Sayur Matua Bulung
Horas Tondi Madingin Sayur Matua Bulung

Doa HORAS TONDI MADINGIN SAYUR MATUA BULUNG.. Ini serangkai doa, harapan, yang berarti semoga orang yang diulosi ini selamat-selamat, jiwanya sejuk sampai dia seperti daun yang menua.

Bunga
Bunga

BUNGA.  Perempuan Batak harus mengeluarkan bau yang harum bagi sekelilingnya. Harus bisa jadi pribadi yang teladan, jadi contoh.

Suri-suri
Suri-suri

SURI-SURI.  suri dalam bahasa Batak berarti sisir.  Makna Suri-suri, adalah sebelum keluar rumah orang harus merapikan diri, berkaca.  Jadi sebelum kita mengurusi orang lain, kita harus periksa diri kita dahulu, perbaiki diri kita, rapikan, baru kita boleh mengurusi diri orang lain.

Dalihan Na Tolu
Dalihan Na Tolu

DALIHAN NA TOLU.  Di dalam masyarakat adat Batak ada 3 unsur, Anak Boru, Kahanggi, dan Mora.  Yang paling tinggi kedudukannya adalah Mora atau Raja.  Yang menjadi Mora dalam adat adalah orang tua perempuan, alias mertua dari seorang laki-laki Batak.  Jadi bisa tahu donk, walau orang Batak itu menganut patrilineal, garus penerus marga ada pada anak laki-laki, tapi anak perempuan juga sangat berharga.  Ada istilah di masyarakat Batak, orang dianggap kaya kalau maranak (punya anak laki-laki) sapuluh (10), marboru (punya anak perempuan) sabolas (sebelas).  Karena dia bisa jadi mora untuk 11 keluarga. Hehehehe...  Pada ulos, dalihan na tolu digambarkan dengan 3 kolom yang berada di tepi kiri dan kanan ulos.  Yang paling luar adalah anak boru, yang tuigasnya dalam masyarakat adat melayani Mora dan Kahanggi.  Yang tengah adalah Kahanggi (saudara dari anak boru).  yang bahagian paling dalam, yang dibatasi dengan tugu adalah Mora.

Tugu
Tugu

TUGU, yang berupa 3 garis hitam sejajar, artinya perkumpulan keluarga.  Orang Batak harus hidup dalam perkumpulan keluarga.

Untuk diketahui, ulos Batak terdiri dari dua lembar yang disambung tepat di bagian tengah.  Seluruh susunan dan ukuran motif dari kedua lembar ulos itu sama, kecuali tulisan doa dan harapa Horas Tondi Madingin Sayur Matua Bulung.  Tulisan itu justru menjadi satu kesatuan setelah kedua lembar ulos disambung.  Kenapa harus terdiri dari dua lembar yang disambung? Karena rumah tangga itu terdiri dari 2 pribadi dengan latar belakang yang berbeda, yang disatukan, disambungkan.  Dalem maknanya.

Oh ya, seharusnya, diriku memperkaya penjelasan ito Advent ini dengan mendalami makna nama-nama corak tersebut, mengingat Papaku dan teman-temannya sudah menerbitkan 2 edisi kamus Angkola – Indonesia.  Tapi karena diriku takut lupa mengaitkan penjelasan-penjelasan yang diberikan dengan foto-foto yang diriku buat, jadi haris segera dikerjakan.  Lagi pula, aku ingin bisa mempublikasi paling tidak satu tulisan pada saat aku sedang berada di rumah peninggalan Ompungku.  Why ? Karena Ompung Godang kami mempunyai minat baca yang besar, dan mewariskannya pada anak-anak beliau, yang kemudian juga mewariskannya pada kami, cucu-cucu Ompung.  Buku adalah jendela dunia. Dan jendela itu tak ada gunanya kalau tidak dibaca.

Semoga tulisan ini bermanfaat.. Mungkin bisa menjadi referensi bagi yang akan mangulosi.. Atau mungkin juga bagi yang menerima ulos namun belum diberi penjelasan tentang makna yang ada di balik motif-motif yang ada di ulos tersebut.

Rumah Jl. Simangambat No. 97 Sipirok, 05 April 2015

Sondha Siregar