Still, She’s A Never Give Up Mother…

Mom with her wheelchair

Kemaren, adik ku Ivo meng-up load foto2 terbaru our Mom… Mom with her wheelchair…

Yuuppp setelah mendapat serangan stroke di pertengahan tahun 2007, Mama mengalami penurunan fungsi tangan kanan dan kaki kanan, keduanya jadi  susah digerakan..

Tapi, sebagaimana yang kami kenal di sepanjang hidup kami, Mama tidak pernah menyerah meski beliau tidak bebas seperti dulu…

Meski sulit berjalan dan kami sudah menyediakan 2 jenis tongkat (tongkat kaki tiga untuk satu tangan dan tongkat kaki empat yang kayak jemuran handuk), Mama tidak mau menggunakan tongkat di rumah.. Beliau lebih senang menggunakan kursi plastik yang ada sandarannya sebagai alat bantu..  Tapi kalau keluar rumah, beliau menggunakan wheelchair.. Lebih nyaman dan lebih aman… Dan kami anak2nya sudah terbiasa dengan acara menurunkan, membuka, melipat dan menaikkan kembali kursi roda beliau ke mobil…

Mama gak bisa lagi membuat seluruh penjuru rumahnya rapi jali… Tapi teteup.., setiap pagi dan sore Mama akan masuk ke dapur untuk memantau yang bekerja di rumah menyiapkan makanan…, memantau cucian, memantau kebersihan sepenjuru rumah..

Mama teteup gak mau dibantu untuk urusan paling pribadinya.. Beliau tetap mandi snediri, bahkan membersihkan sendiri pispotnya.. Orang yang ada di sekitar beliau, hanya diminta berada di sekitar kamar mandi, saat beliau mandi, supaya bisa memantau..

Mama enggak bisa ke Mall nyaris setiap hari seperti dulu… Wait… Don’t judge her as a shopacholic woman… Dengar dulu alasan beliau mengapa ke Mall nyaris setiap hari, setelah rumahnya rapi jali..

Menurut Mama, setelah diabetes menyerang sekitar 11 tahun yang lalu, Mama harus olahraga..  Selain menggerakkan tubuh dengan mengerjakan sendiri segala pekerjaan rumah dan mengurus 2 cucu yang dititipkan pada beliau, jalan kaki adalah cara olahraga yang paling efektif.., Dan menurut Mama, jalan kaki di Mall, menyusuri toko demi toko adalah tempat jalan kaki yang paling aman : gak bakalan ketemu anjing galak, gak bakal ngeliat sampah2 berserakan apalagi kotoran binatang yang suka ada aja di pinggir jalan…  Mama paling mengeluarkan uang untuk beli makanan dan minuman… Plus sesekali baju, sepatu atau pernak pernik cantik buat anak2 perempuan dan cucu2nya… Hehehehe…

Do shopping @ Pasar Buah Brastagi

Tapi sekarang beliau tetap jalan-jalan keluar rumah.. Meski terkadang lebih banyak tidak turun dari mobil.., tapi teteuupp wajib jalan-jalan..  Beliau membatasi diri untuk ke Mall besar yang ramai dan parkirnya susah… Beliau lebih prefer ke one stop shopping yang parkirannya luas seperti Pasar Buah Brastagi yang gak jauh dari tempat tinggal keluarga kami.  Saat ku tanya mengapa enggak mau ke Mall besar sesering dulu, jawab Mama “Jangan ahh.. Nanti kalau ada apa2, kalian akan repot memilih siapa yang mau diselamatkan lebih dahulu..  Kita cari tempat yang aman2 aja.. Yang mudah keluar kalau ada apa-apa…”

Beberapa kali terakhir aku ke Medan, Mama malah maunya dibawa ke Greenhill di Sibolangit.. Mama bilang, udaranya segar, bunganya cantik2.. Bikin mata dan paru2 sehat..  Ok deh Mom….

Mama tetappp berjuang untuk mandiri semampu yang beliau bisa, meski tak sebebas dulu.. We proud of your spirit Mom.. We love you so much…

Makna…

Apa makna tatapan itu…?

Apa makna percakapan2 itu…?

Tahu kah engkau, aku perempuan yang hatinya nyaris sebeku salju di kutub…?

Habibie & Ainun

Buku Habibie & Ainun

Beberapa hari yang lalu, saat leyeh-leyeh di  satu pagi di akhir pekan aku melihat Prita Laura, salah seorang presenter Metro TV, mewawancarai Pak BJ Habibie di halaman rumah beliau di Patra Kuningan.  Content utama percakapan itu  adalah buku tulisan pak Habibie yang baru saja dirilis, Habibie dan Ainun.

Buku itu merupakan salah satu cara beliau untuk mengembalikan keseimbangan mental beliau karena kehilangan ibu Ainun, perempuan yang telah 48 tahun 10 hari mendampinginya.  Aku mengikuti wawancara tersebut, yang juga diikuti dengan wawancara terhadap Yanty Noor, istri almarhum penyanyi legendaris Chrisye, dan Tika Bisono, mantan putri Indonesia & psikolog terkenal yang kehilangan putrinya akibat serangan demam berdarah.

Aku sempat terkesima dan meneteskan air mata saat mendengar ucapan2  beliau, yang begitu mengekspresikan rasa cinta yang begitu dalam, rasa kehilangan yang begitu luar biasa.  Buat aku,  perempuan yang telah bertahun2 berhati batu terhadap hubungan pria dan wanita, it’s so amazing…..!!!  Luar biasa rasanya  ada laki-laki yang begitu mencintai istrinya.. Hari gini, ketika perceraian terjadi dimana-mana, ketika berita tentang perselingkuhan terdengar lebih sering dari jadwal makan obat yang 3 kali sehari…   Betapa luar biasanya pasangan ini merawat cinta mereka selama 48 tahun dan 10 hari kebersamaan..  I couldn’t  imagine their daily life…

Sesungguhnya saat pak Habibie jadi idola anak-anak di negeri ini karena kecerdasannya yang luar biasa, aku gak terlalu concern dengan keluarganya.. Aku tahu nama istri dan anak2nya, tapi gak perduli dan gak ambil pusing…   Tapi aku aware kalo ibu Ainun itu penampilannya sederhana, tidak pernah menonjol, apalagi terlihat sebagai seorang perempuan yang mengendalikan suaminya dari belakang, sebagai mana banyak ibu2 petinggi dan penguasa.  Bukan satu dua kali  kita mendengar istilah, “kalau si bapaknya direktur, maka istrinya adalah presiden direktur”.  Heheehehe… Bahkan Ismail Marzuki  pernah membuat lirik “Namun ada kala pria tak kuasa, bertekuk lutut di kerling wanita”..  Nahh hal itu tidak pernah nampak pada sosok ibu Ainun..  Aku juga mendengar aktivitasnya di Yayasan Orbit, tapi juga aku gak terlalu   concern, karena saat itu banyak sekali istri dan anak pejabat yayasan…

Saat berita berpulangnya ibu Ainun, aku baru tahu bahwa Pak Habibie dan Ibu Ainun nyaris tidak pernah berpisah selama 48 tahun 10 hari perkawinan mereka. Bahkan Pak Habibie tidak pernah meninggalkan rumah sakit bila ibu Ainun dirawat.  Saat itu aku baru aware betapa luar biasanya pasangan ini..;

Setelah mendengar wawancara Prita Laura dengan pak Habibie, aku terpikir untuk membeli dan membaca buku tulisan beliau, tapi aktivias yang cukup padat akhir-akhir ini, membuat aku lupa untuk membeli buku tersebut…

Hari Minggu 19 Desember 2010, begitu aku nyampe di rumahnya, Venny sahabatku yang selalu menyediakan tumpangan buat menginap bilang, “Son, kita ke Gramedia Grand Indonesia, yuukk.. Lagi ada discount 30%, karena ultah kedua toko itu..”  Jelasssss aku mau… Gramedia Grand Indonesia adalah salah satu toko buku terbaik dan terlengkap di Indonesia , yang aku tahu.. Masuk ke dalamnya bisa membuat aku larut dan lupa akan waktu…

Sebenarnya, niat awal ke Grand Indonesia selain liat2, juga mau nyari buku yang ng udah beberapa kali dicari di beberapa toko buku tapi gak ada. Sold out..  Nah, begitu nyampe di deretan rak buku agama Islam, aku juga menemukan buku yang aku cari.. Saat aku browsing di komputer yang disediakan toko untuk mengecek jumlah ketersediaan buku dan lokasi raknya,  ternyata buku yang aku mau lagi kehabisan stock.. Sold out again..!!

Aku lalu mulai melihat kiri kanan, mencuci mata…  Tiba-tiba, mataku melihat tumpukan buku “Habibie & Ainun”..  Setekah menimbang dan menimbang, apalagi dengan adanya discount 30%, aku akhirnya mengambil buku ini.  Buku ini dibandrol Rp.80.000,- setelah discount haganya jadi sekitar Rp.56.000,- Lumayan bangetsss….

Begitu sampai di rumah Venny, meski mata mengantuk, aku mulai membaca halaman demi halaman buku ini..  Ternyata isinya luar biasa… Bahkan di dalam taxi yang membawa ku ke tempat2 yang aku tuju untuk menjalankan kegiatan yang direncanakan sejak di Pekanbaru, aku pun tetap mengangsur untuk membacanya..  Hanya dalam waktu sekitar 36 jam, termasuk berkerja dan berkegiatan, aku dapat menyelesaikan buku dengan 323 halaman ini.

Ini bukan prestasi luar biasa, di zaman masih kuliah di Bogor aku bisa menyelesaikan buku  Sydney Sheldon yang bercerita tentang Jeniffer Parker si pengacara perempuan muda usia, dengan jumlah halaman nyaris 500 dalam waktu sekitar 9 jam.  Tapi akhir2 ini aku sering kali tidak mampu menyelesaikan buku2 yang sudah ku mulai baca… Akibatnya di samping tempat tidur ku ada banyak buku dan majalah menunggu untuk diselesaikan dibaca…

Kok bisa kali ini aku kembali menyelesaikan bacaan dengan cepat, selain karena waktu yang agak lapang, karena lagi tidak di kantor, fisik dan pikiran tidak terlalu lelah, tentu juga karena aku curious dengan isi buku itu..

Ok… Sekarang waktu aku menyampaikan pikiranku tentang isi buku itu…

Secara alur pikir, buku ini tidak seindah novel sastra atau novel populer…  Ceritanya memang merunut waktu…, tapi ada di beberapa bagian yang melompat2.. Menurut aku ini adalah upaya Pak Habibie mengkoneksikan beberapa peristiwa yang terkait.. Jadi masih bisa diterima..

Tapi secara content, buku ini sangat sangat sangat indah…, bahkan jauh lebih indah dari film Love Story…  Ini kisah cinta dua sosok manusia yang luar biasa saling mencinta.. Dua sosok dengan “dunia” yang berbeda, dengan pribadi yang berbeda…

Kita yang dulu acap kali melihat penampilan Pak Habibie di televisi saat beliau duduk di pemerintahan, pasti bisa melihat bahwa beliau adalah tipe orang yang straight, berkata apa adanya, sebagai imbangan kecerdasannya yang luar biasa, yang mebuat pikirannya bergerak lebih cepat dari kita yang otaknya biasa2 aja…  Pernah terpikir, betapa sabarnya perempuan yang mendampinginya…?  Seberapa sabar dan kuat kah perempuan yang bisa mendinginkan, menenangkan beliau, mengingatkan beliau untuk tetap under control dalam berekspresi?

Lalu, sebagi tipe laki-laki yang fokus terhadap dunianya :  dunia rekayasa teknologi, dan perjuangan mewujudkan mimpi2nya, betapa kuatnya perempuan yang mampu mengurus segala urusan rumah tangganya, dan memberikan waktu dan wadah bagi suaminya untuk sepenuhnya berkarya setiap waktu?

Aku seorang perempuan… Sebagai perempuan, sebagimana juga laki-laki, kita memerlukan affection dari pasangan kita, kita butuh diperhatikan, kita butuh dukungan bahkan terkadang kita butuh perhatian yang “agak lebih”..  Bagaimana seorang Ainun mampu mengendalikan semua kebutuhannya itu dengan tetap menjadi pihak yang memberi dukungan bagi seorang Habibie yang fokus pada perjuangannya, pada dunianya..?

Buku ini bisa menjadi bahan pembelajaran bagi para perempuan bagaimana menjadi mitra  yang baik bagi pasangannya.. Mitra yang menjadi sumber inspirasi, sumber semangat, pemberi rasa tenang dan damai bagi pasangannya.., bagi keluarganya.  Bahkan mampu memberi ruang secara maksimal kepada pasangannya untuk berkarya…

Bagi laki-laki, buku ini menjadi inspirasi agar mereka lebih fokus berkarya, berjuang bagi kejayaan negeri, memberikan yang terbaik bagi keluarga dan lingkungan.., bukan sibuk dengan pikiran untuk mengikuti  nafsu duniawi yang kerap menggoda..

Dalam buku ini juga bisa dilihat,  karena rasa cinta yang luar biasa, jiwa yang menyatu, Pak Habibie melakukan tindakan-tindakan yang semula berkesan berlebihan, tak masuk akal, tapi akhirnya terlihat bahwa itu merupakan tindakan preventif yang menyelamatkan nyawa ibu Ainun, dan upaya penyembuhannya..  Subhanallah.. Alloh SWT mengilhamkan cinta yang luar biasa pada mereka..

Ada beberapa hal yang juga mengingatkan ku secara pribadi.., yaitu sosok Ainun yang religius, yang selalu membaca 1 juz Al Qur’an setiap hari.., puasa senin kamis, tetap berdoa di sepanjang kesempatan yang ada.. Subhanallah…  Beliau memang patut menjadi Wanita Teladan di zaman ini..

Teman2ku.., aku menyarankan untuk membaca buku ini.., agar kalian bisa menangkap sendiri hikmah hidup seorang Ainun, hikmah cinta sejati Habibie & Ainun…

Semoga Alloh SWT memberikan tempat yang terbaik bagi wanita mulia ini.. Semoga pak Habibie dan keluarga dapat meneruskan butir2 hikmah yang telah ibu Ainun tebar selama bersama mereka..  Semoga kita dapat mengambil yang baik dari beliau…

Mie Sagu

MIe sagu kedai kopi Liana

Temans, kalian pernah dengar “Mie Sagu”? Atau pernah menikmatinya…? Iya, mie dengan bahan baku sagu.. Memang mie ini khas daerah Selat Panjang, sebuah kota di daerah pesisir yang banyak menghasilkan sagu di Provinsi Riau.  Karena bahannya dari sagu, mie ini warnanya agak bening dan rasanya agak kenyal..

Aku mengenal mie sagu beberapa belas tahun yang lalu, ketika kakak ku mendapat oleh-oleh dari temannya yang bertugas ke sana. Zaman itu kalau kakak ku gak masak, ya aku gak bakalan nemu mie sagu. Tapi sekarang tidak lagi…, setahu ku ada 2 tempat di Pekanbaru yang menyediakan hidangan mie sagu, yaitu Pondok Mie Sagu di Jl. Cemara, dan Kedai Kopi Liana di Jl. Setia Budi (ujung), sudah dekat dengan pertigaan Jl. Dr. Sutomo.

Mie kuah udang…

Kedai Kopi Liana biasanya buka pagi, meyediakan makanan buat sarapan sampai brunch.  Kalau siang udah gak ada lagi.  Selain mie sagu, kedai kopi itu juga menyediakan mie rebus kuah udang dan mie rebus kuah kacang. Yang rasanya juga maknyussss…

Menurut yang aku dengar kedai kopi ini adalah tempat sarapan favorite seseorang yang pernah menjadi orang nomor 2 di Riau, kebetulan asal beliau dari Selat Panjang.  Agar beliau punya privacy saat berkunjung ke kedai kopi ini, sang pemilik kedai kopi menyediakan ruang makan tertutup yang berisikan satu set meja makan.  Kalau beliau sedang tidak berkunjung, orang lain boleh menggunakan ruangan ini.

Adapun Podok Mie Sagu jualan dari jam 10-an pagi sampai sore, jadi biasanya orang makan di situ brunch sampai sore.

Apa bedanya mie sagu yang dijual di Kedai Kopi Liana dengan Pondok Mue Sagu? Secara prinsip, gak ada beda..  Cuma beda tangan jadi beda takaran bumbu, beda rasa.. Mie sagu di Pondok Mie Sagu bumbunya terasa lebih ringan, sehingga perlu tambahan sambel botol bagi para pencinta masakan yang spicy.  Lalu mie sagu di Pondok Mie Sagu menambahkan ikan teri sebagai bahan tambahan, sedangkan di Liana menggunakan udang.

Sebenarnya kalo menurut aku, mie sagu buatan kakak ku lebih enak.., karena lebih spicy dengan cabe dan kecap manis yang pekat.  Sedangkan bahan tambahannya kakakku menambahkan kucai dan irisan bakso ikan dan bakso daging, selain bawang prei.   Huhuhuhu…, jadi ngileeerrrr………….

Teman-teman yang akan berkunjung ke Pekanbaru, ayo coba nikmati kuliner khas Riau yang satu ini…

UAE Trip (Part 5)

d city in d mornin', captured from balcony room 720 Address Hotel

Hari Jum’at 26 November 2010, aku bangun pagi dengan rasa nyaman, segar, setelah tertidur lelap  sepulang dari makan malam di Dubai Heritage Village… Begitu kesadaran sepenuhnya kembali ke tubuh…,  aku segera bagkit dari tempat tidur, bergerak membuka pintu dan menuju balkon kamar 720 Address Hotel..

Ngapain…??

Menikmati cityscape di pagi hari..  Aku tak ingin kehilangan moment untuk bisa menikmatinya di pagi hari dari balkon kamar hotel ini.. .  Karena malam ini aku dan rombongan akan kembali ke Indonesia, kembali ke Pekanbaru…   Yaa.. ini adalah pagi terakhir dari kunjunganku di Dubai kali ini .  SEMOGA ADA KALI LAIN….!!!!!!

Aku berusaha menyerap segala cityscape yang hadir di pandanganku…, meyimpannya dalam kenangan…, membungkusnya dengan harapan : agar bisa kembali ke sini suatu saat nanti…

Setelah beberapa menit… , meski belum merasa puas, karena memang tak ada rasa puas memandang kota yang menakjubkan ini…  Aku segera berberes… Berberes koper dan travelling bag.., lalu mandi daaannnnn pergi sarapan…..

Strawberry pie yg menggoda hari...

Sarapan kali ini juga aku nikmati dengan sepenuh hati… Why..? Karena entah kapan lagi aku bisa menikmati prata sebagai menu sarapan…  Hahahaha…  Setelah prata lengkap dengan kentang kari, aku menemukan pie strawberry di rak yang menghidangkan dessert…  Tenang teman2…, size potongannya gak terlalu besar kok…  Hehehehe..

Kelar sarapan, kita hunting foto di sekitar hotel… Lucu juga rasanya ketika seorang bapak anggota dewan yang aku tahu dari awal sampai di UAE  juga sibuk berfoto seperti aku dan teman2 lain, tiba-tiba berkata
, “Kok saya jadi narcis begini, ya…?” Hahahahahaha….  Aku gak berani komentar…, jadi cuma senyam senyum aja, sambil menawarkan bantuan.. “Bapak mau diambilkan fotonya?” Hehehehehe…

Selesai hunting foto di sekitar hotel, aku dan 2 teman memutuskan untuk berburu Waterfall… Dimana…?  Katanya siyyy, dan aku juga udah beberapa kali liat sign-nya, di Dubai Mall ada waterfall nya..  Tapi sampai kemaren sore aku belum nemu.. Padahal Kak Lisda bilang, “Air terjunnya keren lho ‘Ndha…!!”, sambil menunjukkan hasil jepretannya..  Jadi, jelasssssss, aku gak mau rugi.. Mumpung masih ada waktu.. Kan haruis kumpul di lobby hotel jam 12 siang waktu Dubai…

Waterfall @ Dubai Mall

Kami pun segera masuk ke Dubai Mall melalui pintu belakang Address Hotel, seperti biasa… Lalu bergegas mengikuti sign “Waterfall”..  Setelah jalan sekitar 5 menit, kami akhirnya melihat dinding tinggi yang dialiri air dilengkapi dengan patung-patung orang yang sedang terjun mengikuti jatuhnya air… Baguuusssss banget….!!!

Puas melihat waterfall, aku mengajak teman2 ku kembali ke water fountain yang kemaren hanya kami kunjungi sekejap, sebelum masuk ke At The Top..  Aku ingin mengubek-ngubek tempat itu, mumpung masih ada waktu beberapa jam…

Ternyata keputusan ku untuk mengunjungi Water Fountain tidak salah… Kolam lokasi water fountain ini lebih menyerupai laguna yang dikelilingi oleh Souk Al Bahar yang berarsitektur khas Timur Tengah dan berbagai skyscrappers yang luar biasa indah… Kombinasi air kolam yang berwarna biru, langit yang biru, arsitek tradisional, gedung2 tinggi…, menghadirkan pemandangan yang tak terkatakan…  Bahkan di satu sisi terdapat bangunan yang bentuknya seperti pyramid.. Sayang karena lokasinya agak jauh, aku tidak sempat mendatanginya…

Here some pictures yang aku ambil di sekitar Water Fountain…

Souk Al Bahar

Burj Khalifah, captured from Souk Al Bahar

D pyramids & skyscrapers...

Skyscrapers around Dubai Mall water fountain

Selesai ngubek2 area di sekita water fountain, kami kembali ke hotel.., menurunkan barang masing2 dan  check-out dari Addtess Hotel.. Sebelum meninggalkan kamar hotel, aku kembali ke balkon, menatap pemandangan kota, menyimpannya dalam kenangan…

Dari hotel kami kembali dibawa makan ke restaurant Sari Nusa… Makanannya seperti 2 hari sebelumnya terasa nikmat… Cuma sambelnya gak sepedas sebelumnya… Hehehehe…

Kelar makan siang, kami dibawa ke City Center.. Ngapain..? Ngisi waktu, karena masih jam 04-an sore waktu Dubai, padahal check in jam 06.30.. Jadi lah kami muter2 sebentar di City Center..

City Center gak istimewa… Gak beda dengan mall yang ada di Indonesia.. Produk yang dijual juga gak beda.. Vinci, Hush Puppies dll.. Setelah dari City Center kami diantar ke Dubai Int’l Airport…

Alhamdulillah proses check in gak ribet… Sekitar 1.5 jam sebelum keberangkatan kami sudah bisa masuk ke waiting room… Tapi…, hampir semua anggota rombongan tertahan oleh… Duty Free… Hehehehe…

Duty Free di Dubai Int’l Airport besar sekali, berada di antara gate2.   Tempat ini menjual berbagai macam barang.. Dari alat shisha, chocolate dan dates alias kurma, parfume, koper  aneka urkuran, travelling bag, tas aneka model & merk,  pakaian, perhiasan, souvenir khas Arab dan juga buku-buku..  Aku seperti biasa selalu tertarik dengan buku dan buku… Sebagai kenang2an buat diriku sendiri, aku membeli  2 buah buku tentang Dubai : Dubai Discovered dan Dubai Pictorial Souvenir..

Lelah ngubek2 Duty Free, aku dan teman2 berjalan ke Gate 15 yang akan menjadi gerbang kami menuju pesawat.. Dan ternyata, pesawat Garuda yang akan membawa kami pulang tertunda  kedatangannya dari Amsterdam, sehingga keberangkatan ke Jakarta pun tertunda selama 45 menit..

Akhirnya sekitar jam 10 malam Dubai alias sekitar jam 01 malam WIB kami boarding…  Begitu duduk, dan  selesai menyantap kue yang dihidangkan stewardess, aku pun tertidur…  Aku terbangun sekitar jam 05.30 WIB.. Setelah sejenak bersih2 ke toilet dan menjalankan kewajiban di subuh hari.. Setelahnya aku kembali tidur tapi hanya bisa half sleep.. Mungkin karena tubuh sudah kenyang tidur  selama 4 jam 30 menit, trus posisi tidurnya enggak nyaman… , bentuk kursinya enggak memberikan kesempatan bagi tubuh untuk benar2 relax.., mana   enggak ada tempat kaki pula… Tapi bagaimana pun, Alhamdulillah, karena  kami pulang dengan selamat… Sekitar jam 07 wib stewardess mengantarkan sarapan.. Dan sekitar jam 10 wib pesawat kami mendarat di Bandara Soeta, Jakarta.  Alhamdulillah…

Perjalanan kali ini sangat luar biasa… Satu hal paling berharga yang aku pelajari dari perjalanan ku kali ini adalah tentang RAHASIA REZEKI… Aku tidak pernah berpikir kalau aku akan sampai ke United Arab Emirate dalam waktu dekat…  Anggarannya tidak ada di instansiku…  Bahkan untuk anggaran perjalanan ke luar negeri yang ada di instansi ku yang penganggarannya aku kelola, aku nyaris tak pernah dilibatkan..  Tapi tiba2, Alloh SWT membisikkan namaku ke seorang senior yang menjadi penanggung jawab kegiatan ini, seorang sahabat, dan juga pasangan hidup dari sosok yang pernah menjadi atasanku, sehingga beliau mengajukan namaku untuk masuk di Tim ini…

Lihat lah…, biar pun orang2 mungkin tidak menghargai jerih payah kita, tidak menyisihkan buat kita dari apa yang sudah kita upayakan dengan susah payah…, kita tidak boleh bersedih, tidak boleh kecewa, karena upah kita adalah pahala, kebaikan di hadapan Alloh SWT.  Dan di dunia Alloh SWT sudah menetapkan rezeki kita dan menuliskannya di kitab Lahu Mahfudz, tidak ada orang yg bisa mengugatnya.. Jadi  tersenyumlah…, tersenyumlah sahabat2ku, tersenyumlah jiwaku…. Bila kesedihan datang, ketika kita diperlakukan dengan tidak layak, ingat lah RAHASIA REZEKI…  Bermohonlah kepada SANG PEMILIK REZEKI agar DIA BERKENAN memberikan tambahan rezeki bagi kita, hamba Nya…

Hakekat Kerja….

Aku adalah penggemar KLa Project…  Itu wajar, selain karena memang mereka adalah pemusik yang jaya di era kemudaanku,  lagu2 mereka indah, penuh kejutan, tidak monoton dan liriknya sangat puitis dan penuh makna.

Satu lagu KLa Project  yang mengingatkan aku akan hakikat kerja, hakekat yang sering kali terlupakan di saat kata “kerja” mendangkal pemaknaannya hanya sekedar sebagai upaya mencari rezeki semata…  Hakekat kerja yang dinyanyikan Kla Project ini adalah mutiara hidup ditebarkan Kahlil Gibran dalam Sang Nabi.

Let’s sing my dear friends… Sambil menikmati dan menghayati maknanya.. Semoga membuat kita lebih bersemangat untuk bekerja…

HEY

Kerja adalah cinta, yang ngejawantah
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta
Hanya dengan enggan
Maka lebih baik jika kau meninggalkannya
Lalu mengambil tempat di depan gapura candi
Meminta sedekah dari mereka
Yang bekerja dengan suka cita
(Dari “sang Nabi”, Kahlil Gibran)

Hey! Angkat wajahmu
Bermuram durja tak guna
Susunlah lagi rencana yang harus engkau benahi
Bangun jiwa, bangun raga bijana

Hey! Bertahanlah
Kegagalan adalah satu sukses tertunda
Jangan ragu, tetap pada arahmu sejak dulu
Keyakinan, pengharapan, teguh dalam tujuan

Bekerja dengan cinta
Bagai Sang Pencipta
Membentuk citra insaninya
Satukan dirimu seutuhnya…

Hey! Siagalah
Raih kesempatan begitu kau jumpa
Atur nadimu seiring irama bumi mengalun
Bangun jiwa, bangun raga bijana

Bekerja dengan cinta
Bagai Sang Pencipta
Membentuk citra insaninya
Satukan dirimu seutuhnya…

Sebar benih penuh kemesraan
Hingga panen tiba
Kita tuai kegirangan…
Satukan dirimu seutuhnya… ***

UAE Trip (Part 4)

Pintu masuk terdekat dari Water Fountain ke Entry Point of At The Top

So, hari Kamis 25 November sore, sekitar jam 16.30-an waktu Dubai kami berkumpul  di lobby Address Hotel.. Mau ngapain…?  Mau naik ke Burj Kalifa…, the tallest building in the world these days…  Ceritanya kita diikutkan paket tour untuk berkunjung ke Burj Kalifa, tepatnya ke lantai tertinggi yang dibuka untuk umum..

Aku pikir setelah kumpul kita akan digiring naik ke bus oleh tour guide yang berdarah Pakistani, ternyata tidak…  Kami justru diajak ke  pintu belakang Address Hote.  Menuju….? Yuuupppp, benar sekali saudara2… Menuju Dubai Mall… Ternyata pintu masuk ke AT THE TOP, yaitu bagian tertinggi Burj Kalifa yang dibuka untuk umum berada di Dubai Mall…  Keren bangets  ya itu Mall… Bener2 segala ada.. Jadi ingat lagunya Project P “Toko Sagala Aya”… Hehehehe…

Masuk ke Dubai Mall melalui Bloomingdales, kami lalu berjalan kaki menuju salah satu sisi Dubai Mall yang menjadi entry point ke At The Top…  Setelah sampai di sana jam 17-an, kami belum dikasi masuk, bahkan disuruh keluar dari antrian dan kembali lagi jam 18-an… Kenapa…? Karena ternyata emang di tiket masuk sudah tertera bahwa kami giliran naiknya 18.00..  Sepertinya  pengelola benar2 mengatur dengan ketat jumlah pengunjung yang berada di At The Top…

Tiket Masuk ke At The Top Burj Khalifa

Sementara menunggu, kami diajak tour guide melihat water fountain yang juga ada di lingkungan Dubai Mall…  Water fountain ternyata berada dekat dengan entry point ke  At The Top, dan bisa dibilang  berlawanan arah dengan Address Mall Hotel..  Saat kami sampai ke area water fountain yang outdoor, baru kami menyadari kalau water fountain, yang tidak menyala saat kami datang, berada di kolam yang saaaaannnngggggaaaaattttttt besar, yang menguhubungkan Dubai Mall dengan Souk Al Bahar, juga Burj Khalifa serta banyak bangunan keren lainnya… Keren banget…

Me & Burj Khalifa...

Karena waktu terbatas, kami gak bisa terlalu bisa ngubek2 tempat itu… Jadi hanya sekedarnya.. Berfoto dengan latar belakang Burj Khalifa dan Souk Al Bahar…

Kami lalu melanjutkan perjalanan  ke pintu masuk At The Top..  Begitu diizinkan, dan setelah melalui pemeriksaan, kami masuk ke lorong yang panjang dan terkadang agak berliku.., dan berakhir dengan mengantri di depan lift…   Di salah satu bagian dinding di lorong yang panjang dan berliku aku melihat tulisan tentang makna Burj Khalifa…, bangunan dengan ketinggian 828 meter, bangunan tertinggi di dunia saat ini..   Tulisan yang indah dan penuh makna…

Lift yang akan membawa pengunjung ke At The Top mempunyai  daya angkut sekitar 15 orang…  Sedangkan kecepatannya….. 10 meter per detik… Whaaaaatttttt….? Yaaaa..  10 meter per detik.. Di dinding lift, di sebelah kiri pintu  terdapat screen yang menunjukkan nomor lantai yang sedang dilalui lift…

Begitu lift bergerak, rasanya biasa aja.. Tidak terasa ada mobilitas yang kuat…, namun terasa ada perubahan tekanan udara yang nyata di telinga, dan angka angka yang berganti dengan cepat di screen di dinding…  Lalu saat di screen terlihat angka  124, lift berhenti… Jadi At The Top berada di lantai 124..

Keluar dari lift, kami bergerak ke kiri sesuai petunjuk.., lalu masuk ke satu ruang yang ada pintu putarnya…  Lalu….  Voila……!!!  Yang hadir di pandanganku adalah gugusan cahaya lampu di kejauhan di bawah sana…  Begitu indah…, begitu gemerlap bagai ribuan kunang-kunang dalam formasi yang luar biasa.. Subhanallah… Aku tak mampu menjabarkannya lebih jauh… Hanya kata2 INDAH… SANGAT INDAH….

View from At The Top Burj Khalifa : Water Fountain Dubai Mall

Another view from At The Top, Burj Khalifa..

Me @ "At The Top" Burj Khalifa.

Sebenarnya tak ada rasa cukup, tak pernah ada rasa puas menatap cahaya yang gemerlap di kejauhan itu…  Sungguh aku jadi mengerti mengapa ada orang yang senang tinggal di ketinggian di tengah metropolitan…   Hatiku bertanya-tanya, seperti apa pemandangan ini semua di siang hari…? Apakah cahaya matahari membuatnya tetap indah, lebih indah…? Atau malah mengekspose hal-hal yang ditutupi kegelapan malam…? Entah lah…

Kami lalu bergerak meninggalkan anjungan berkaca tempat memandang “dunia gemerlap” di bawah sana… Bergerak menuju tempat lift sesuai sign yang ada.. Sebelum sampai di tempat lift, kami terlebih dulu menemukan tempat menjual berbagai souvenir khas At The Top..   Lucu2 barangnya, but most of them not really unique and special…

Proses turun dari At The Top ke lantai bawah juga sama dengan proses naik.. Begitu cepat tanpa terasa… Hanya angka-angka, yang menunjukkan nomor lantai yang dilalui lift, yang tampil di screen berganti dengan sangat cepat.  Alhamdulillah hanya dalam hitungan tidak sampai 3 menit kami sudah sampai di lantai bawah.. Kami kembali menyusuri lorong2 yang panjang dan berliku menuju pintu keluar… Di dinding lorong yang panjang itu terdapat tulisan Making The Burj Khalifa : proses pembuatab Burj Khalifa, serta orang2 yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pengelolaannya.. Mereka datang dari berbagai negara, berasal dari bermacam ras.. Ada yang dari Arabian, Eropa, Korea, Asia lainnya.  Ini benar2 proyek multinational…., multicultural…  Keren bangetsssss….

Pikiran rasanya masih melayang2 saat tubuh telah keluar dari lorong2 At The Top.. Pesona yang luar biasa begitu menyergap hati… Betapa luar biasa karya anak manusia… Tapi yang luar biasa lagi adalah Yang Menciptakan Manusia…

Selanjutnya kami kembali berjalan kaki menyusuri Dubai Mall menuju hotel…  Bis sudah menunggu untuk mengantarkan kami makan malam terakhir di Dubai… Makan malam di Dubai Heritage Village

Dubai Heritage Village

Dubai Heritage Village berlokasi di tepi Dubai Creek, alias anak sungai, di kawasan Deira…  Tempat ini disediakan buat menikmati malam di udara terbuka di Dubai.. Sepertinya selain para pengunjung dari luar Dubai, juga banyak masyarakat lokal yang menikmati tempat ini.. Mereka makan malam dan bersantai menikmati shisha

Makan malam di sini rada enggak seru.. Kenapa? Layanannya lama… Appetizer berupa salad khas Arab lama banget baru datang.., sehingga kami terpaksa mengganjal perut dengan “kertas” (istilah kami buat sejenis roti bakar Arab yang tipis dan nyaris tanpa rasa).  Bumbu saladnya, hmmmm gak cucok dengan selera, kecuali yang diguyur pakai vinegar dan olive oil..  Lalu main course nya lama sekali baru datang, sehingga kami pikir appetizer itu adalah satu2nya makanan yang dihidangkan… Hehehehe…   Main coursenya, beraneka daging (beef, mutton dan chicken)  yang dipanggang dilengkapi mayonese  dan kentang goreng…  Not bad at all….

But, suasananya nyaman banget…, karena ditiup angin semilir dari sungai plus pemandangan kapal-kapal berlayar di creek..   Dan di sekitar tempat makan juga tersedia kawasan yang ditata seperti pemukiman asli masyarakat Arab, tempat  menjual berbagai souvenir khas Arab…  Ini ide yang sangat bagus untuk diterapkan di negeri kita…

Dinner @ Dubai Heritage Village

 

Tubuh lelah, perut kenyang…, maka mata pun mengantukkk…  Begitu naik ke bis, sebagian kami langsung terlelap dan bangun ketika bus sampai di teras hotel…  Aku tak sempat lagi menikmati pemandangan yang indah di malam hari dari jendela kamar tempatku menginap dengan penuh kesadaran… Terlalu mengantukk, terlalu lelah…  Padahal It was the last night in Dubai…  Sungguh aku menyesal… Hiks…

UAE Trip (Part 3)

Hari Rabu, 24 November 2010… Hari ini aku bangun lebih lambat… Tidurnya lelap bangetsss setelah sehari sebelumnya beraktivitas cukup heboh dengan desert safari…..  Tapi begitu sadar, aku langsung bergerak cepat… Iya, hari ini kan acara Trade, Tourism and Investment Promotion.. Acara mulai jam 09.00 waktu Dubai, dan sebelumnya harus sarapan dan bantu beres2, nyiapin goodie bags yang diisi dengan booklet dan brosur promosi buat tamu2.. Jadi harus bergegas dan bergegas…

Sekitar jam 13-an waktu Dubai, Alhamdulillah acara kelar, berlangsung lancar dan ditutup dengan lunch meeting dengan tamu-tamu yang datang di “Ember Restaurant”, salah satu restaurant di Address Hotel…  Btw, kok nama resto-nya aneh yaaa…? “Ember”… Hehehe.. Tapi, ada lagi yang lucu., lounge yang ada di hotel ini, lokasinya berdampingan dengan “Ember”, namanya “Karat”.. Klo digabung jadinya Ember Karat.., dibuang ke tong sampah aja kali… hehehehe…

Selesai lunch meeting, kami para wanita langsung bergegas.. Kemana…? Ke kamar dan ganti kostum.. Secara, setelah meeting ini adalah free program.., sampai saatnya dinner.. Kami memutuskan untuk gak pergi jauh2…, melainkan hanya ke tetangga sebelah lewat pintu belakang Adrdress Hotel tempat kami menginap.., yaitu Dubai Mall…. Iya, Address Hotel memang menyatu dengan Dubai Mall, mall terbesar di dunia saat ini..  Dari bagian belakang hotel, melalui lorong dimana terdapat Karat Lounge, Ember Restaurant dan Resto tempat sarapan, kita akan menemukan Bloomingdales yang merupakan bagian dari Dubai Mall..

Apa aja yang ada di Dubai Mall….? There are more than 1200 stores..  Rasanya waktu satu minggu pun gak akan cukup untuk melihat-lihat semua toko satu persatu… So, apa yang aku temukan di Mall itu…? Apa yang luar biasa….?

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku memasuki Dubai Mall melalui pintu belakang Address Hotel ini.. Tanggal 22 malam, hari pertama sampai di Dubai, setelah acara makan malam yang ajaib di Rainbow Restaurant, aku dengan 3 orang teman perempuan pergi ke Mall ini.. Tapi karena sudah jam 21.30 waktu Dubai, most of stores were already closed..  Malam itu kami hanya melihat di sign2 yang ada di berbagai sudut mall bahwa di Mall ini ada aquarium, zoo, waterfall, fountain…  So target utama sore ini adalah menemukan aquarium.. Apalagi aku dengar di aquariumnya ada shark alias ikan hiu.. Can U imagine sharks in a mall…? Apa dia gak mengganas kalo setiap hari melihat manusia yang bisa dia konsume tapi untouchable… Hehehehe…

Karena jalan ramai2, mula2 kami berjalan keluar masuk toko..  Barangnya lucu2 siyy…, tapi koleksinya berbeda dengan barang2 di Singapore..  Harganya juga ma’al… Hehehehe…  Contohnya Charles & Keith..  It’s one of my favorite brand for shoes, beside Everbest, Vincci, Kickers and Crocs.. Aku suka selain karena modelnya simple, nyaman di kaki dan harganya juga affordable buat kantong ku..   Di outletnya di Dubai Mall, koleksi Charles & Keith sebagian besar model bertali2 dan dengan permata yang blink2… Gak seperti koleksi yang biasa kita temukan di Mall2 di Indonesia, Singapore & Kuala Lumpur..  Mungkin ini sesuai dengan selera para perempuan di Arab Emirate…  Soal harga… Harga Charles & Keith di Sing lebih murah dibanding di Dubai juga di Indonesia.  Jadi benar2 cuma liat2, memperluas wawasan… Hehehehe..

@ Aquarium Dubai Mall

Setelah bosan keluar masuk toko dan melihat jarum jam di pergelangan tangan hampir menunjukkan jam 16.30-an waktu Dubai, maka kami bergegas mencari sasaran utama kami, Dubai Mall Aquarium.. Kami akhirnya menemukannya… Aquarium dapat dilihat dari Lantai  Dasar, tapi untuk masuk ke lorong Aquarium seperti di Sea World Ancol,  harus dari lantai Basement.. Harga tiket masuknya Dhs 25,- atau sekitar Rp.65.000,-  Dengan tiket itu kita bisa menyusuri lorong sepanjang lebih kurang 50 meter yang berada di bagian bawah aquarium sehingga kita bisa melihat ikan hiu, ikan pari dan berbagai jenis ikan lainnya berenang2 di kiri kanan bahkan di atas kepala kita… Saat kita menyusuri aquarium kita juga melihat ada diver yang berkelana di dalam aquarium tersebut memberi makan ikan2..

Aku membayangkan betapa hebohnya Abner, anak David, adikku, kalau dia ke sini.., because he loves everything about shark.. Klo ditelpon ditanyain, pengen dikirimin buku apa, jawabnya selalu shark… Hehehehe…  Semoga kamu bisa ke sini segera ya, nak…!!!

Selesai melihat aquarium kami segera bergegas pulang ke hotel, karena pengen magriban dulu sebelum saatnya berkumpul untuk makan malam, yaitu jam 19.00 waktu Dubai.

Deira… Dubai

Malam ini kami makan malam sebuah resto yang terdapat di lantai 3 Hotel Reviera.  Hotel ini berada di Deira, sebuah daerah di timur creek alias sungai yang melintasi kota Dubai.  Deira merupakan pusat kota Dubai dulunya, sebelum daerah Bur Dubai, yang saat ini menjadi lokasi skyscrapers, berkembang…

Hotel Reviera menyediakan Indonesian Cuisine, yang beneran selera dan rasa Indonesia.  Chef nya adalah Mas Mumu, orang Cirebon yang telah bertahun-tahun bekerja di Dubai. Masakan Mas Mumu bener2 top markotop, bias melepaskan rasa rindu akan masakan Indonesia.  Selama makan, aku yang duduk menghadap sisi luar resto, mendapat pemandangan kapal yang hilir mudik lengkap dengan lampu-lampunya… Selesai makan malam, kami kembali ke hotel, dan kami memilih untuk kembali ke Dubai Mall.. Tapi lagi2 most of the stores were already closed….

Kamis 25 November… Jam 10-an pagi, setelah sarapan dan bisa besantai2 alias tidak terburu2.., kami kembali ke daerah Deira.. Kali ini tujuannya adalah ke Spice Souk alias Pasar Rempah.. Mau ngapain…? Mau belanja bumbu buat masak..? Hehehehe… Bukaaannn… Di spice Souk ini, selain menjual rempah2, juga menjual souvenir dengan harga yang affordable…

Spice Souk @ Deira Dubai..

Suasana @ Spice Souk..

Suasana di Spice Souk sangat unik menurut aku.. Feeling ku bilang pasar ini sudah ada sejak berabad2 lalu..  Karena Dubai sebenarnya sudah eksis sejak  abad 8.   Suasananya sangat Arabian, meski sepertinya yang dominan di sini orang-orang yang berkulit coklat, bukan yang berkulit terang seperti yang banyak berkeliaran di sekitar Address Hotel dan Dubai Mall..  Belanja di sini harus berani menawar habis2an… Don’t be afraid…!!! Satu hal yang jadi joke kami saat berkeliaran di Spice Souk adalah, adanya tawaran bagi para peserta pria maupun peserta wanita untuk membeli semacam jamu lokal yang fungsinya seperti Viagra.. Para peserta langsung hebohhhh….  Hahaha..  Di Spice Souk ini juga aku dan teman-teman menemukan “batu aquarium” yang dibungkus2 dalam plastic sekiloan… Setelah bertanya2, ternyata itu coklat… Haaa…? Aku lalu membelinya, lumayan kan buat ngerjain teman2… Hehehe….

Dari Spice Souk, kami digiring menyusuri jalan-jalan kecil…, menuju Gold Souk.. Gold Souk…? Iya, pasar emas.. Pasar yang berisikan toko-toko yang menjual emas dan emas… Di pangkal pasar ada toko yang mendisplay mannequin yang memakai baju emas.., dan ini dapat world book of record.  Di Gold Souk yang dijual memang emas dan emas, dengan berbagai jenis karat dan ragam hias…  Karena tidak berminat untuk membeli emas, aku dan Elly serta kak LIsda, justru masuk ke toko souvenir yang ada di salah satu pojok Gold Souk.  Toko souvenir ini menjual lebih beragam dan dengan kualitas yang lebih bagus dari yang dijual di Spice Souk,  Tapi harganya ya otomatis juga lebih tinggi…

Sebuah lorong di Gold Souk…

Salah satu toko emas di Gold Souk… Dipilih ibu2, dipilih…

Selesai dari Gold Souk kami digiring ke arah jalan raya,ke parkiran khusus untuk tourist bus.  Menjelang ke tempat parkir, kami menemukan toko yang menjual berbagai chocolate dan dates alias kurma..  Chocolate2 yang dibungkus kecil kayak permen ini dijual kiloan.. Chocolate yang kualitasnya bagus banget dijual Dhs 35,-/kg, yang sedikit di bawahnya Dhs 30,-/kg. Chocolate yang diisi dengan almond dan dates dijual Dhs 40,-/kg.. Tinggal dipilih, dipilih dan dipilih…. Selesai dari

Gold Souk kami dibawa ke Sari Nusa, Indonesia Cuisine Restaurant. Masakannya asli Indonesia, karena pemilik, juru masak bahkan pelayannya 100% Indonesia.. Sambal gorengnya pedeeeezzzzzzz bangetzzzz… Mengobati rasa rindu setelah beberapa hari gak makan sambel… Hahahaha…

winter @ Emirate Mall

Kelar maksi di Sari Nusa, kami dibawa ke Emirate Mall… Ada apa di sana…? Di sana ada lagunya Anggun C Sasmi : Snow on Sahara.. hehehehe… Enggak dink.., tapi ada snow on desert…  Maksudnya…? Maksudnya di Mall ini ada tempat orang bisa merasakan seperti lagi di Swiss buat main salju, termasuk buat berseluncur dan naik lift yang bentuknya seperti kursi… Wanna ski..? U don’t have 2 go 2 Swiss.. Just come 2 Dubai… Hehehehe..  Kami gak masuk ke area ski itu, karena hanya dikasi waktu 20 menit di Mall, sementara untuk masuk ke area itu kita harus bayar cukup mahal.. Sayang atuhhh duitnya.. Jadi kita lihat2 aja dari luar, itu juga terasa dinginnya…. Brrrrrr…………

Kelar ngeliat salju di Emirate Mall, kami pulang ke hotel.. Menunggu.. Menunggu apa? Menunggu apa…? Ada deehhh…  I will tell U in next part aja yaa…..***

UAE Trip (Part Two)

Hari Selasa 23 November 2010… Pagi ini aku bangun sekitar jam 04.30.. Bangun karena mendengarkan lagu Insya Alloh nya Maheer Zein dari E71 ku yang memang telah berbulan-bulan diset-up sebagai waker..  Tapi kali ini wakernya tidak berbunyi pukul 04.30 WIB melainkan 04.30 waktu Dubai.. Iya, aku menyesuaikan jam di E71 ku ke waktu UAE, dari pada bingung..  Hehehehe…

Dubai Mall Hotel in d night as a background

Setelah terbangun dan menyadari bahwa aku sedang tidak di rumahku, dan waktu subuh juga belum sampai, aku tetap berdiam diri di tempat tidur.. Lalu memandang jejeran pencakar langit yang memancarkan cahaya di kegelapan malam..  Sekali lagi aku terpana akan rahasia keajaiaban rezeki.. Tidak pernah ada dalam semesta pemikiranku bahwa pada akhir tahun 2010 ini aku akan berada di sini, menikmati cahaya gemerlap Dubai.. Gak lama aku mendengar suara bell … Hhhhmmmm… somebody’s coming… Itu pasti teman sekamarku yang telat datang karena visanya terlambat terbit..  Aku lalu bangun dan mengintip dari kaca pengintip yang ada di pintu kamar… Aku melihat wajah bang Ferry, tour leader kami, wajah seorang perempuan dan petugas hotel..  Itu pasti bang Ferry mengantarkan teman sekamarku yang baru tiba di Dubai..  Aku lalu membuka pintu dan mempersilahkan teman sekamarku masuk tanpa menampakan diriku.., soalnya cuma pakai baju tidur tanpa kerudung..  Hehehe… Aku lalu mendengar bang Ferry berkata, “Ini mba Afni, teman sekamarnya ya mba Sondha.”.  Aku lalu menjawab, “Ok, bang Ferry.”` Aku dan Afni lalu saling memperkenalkan diri.  Aku lalu menunjukkan padanya pemandangan indah dari balkon kamar.  Lalu dia melanjutkan dengan bebersih dan bergegas istirahat…, dan aku melanjutkan berbaring di tempat tidur sambil memandang deretan pencakar langit… Aku terbangun kembali sekitar pukul 05.30… , dan kembali bermalas2 setelah solat subuh dan mengambil foto2 skyscrapers pada pagi hari… Sekitar jam 07.30 waktu Dubai, aku dan Afni turun ke Lobby Floor, tempat dimana resto buat sarapan berada… Hmmmmm…. Makanan yang dsediakan mengundang selera… Setelah tubuh lebih beradaptasi dengan waktu yang lebih telat 3 jam, setelah makan malam sebelumnya yang rada ajaib… Jelas perutku lapaaarrrr banget… Ngomong2 soal makan malam yang ajaib… hehehe… Iya, malam sebelumnya kami dibawa oleh tour leader local yang berdarah Pakistan ke Rainbow Restaurant, yang aku gak tau lokasinya dimana.  Yang jelas lokasinya di lantai 3 sebuah gedung di pusat kota.  Apanya yang ajaib…? Menunya.. Hehehe..  Restaurant ini menawarkan Chinese, India, Malaysia Cuisine.. Hasilnya….???? Hahahaha… Ada cream soup yang sangat mengoda selera saat memandangnya, tapi setelah diicip…, kok ada rasa asamnya yaaa….??? Dan hal yang sama terjadi juga dengan beberapa menu yang lain… Tapi pudding caramel nya ok bangetsss.. Back 2 Selasa pagi…

Residences @ Palm Jaumaerah

Setelah sarapan, kami menuju bis.. Acaranya…: city tour…!!! Perjalanan pertama, kami menuju Palm Jumaeraah… Sebuah pulau hasil reklamasi d tepi Arabian Gulf yang berbentuk pohon palem..  Di bagian puncak, terdapat Atlantis Hotel yang terkenal itu… Sementara di bagian yang merupakan “pelepah” terdapat residences.. Sedangkan di antara pelepah, terdapat laut… Bahkan dibeberapa ruas yang menghubungkan bagian2 dari pohon palem itu merupakan terowongan yang berada di bawah permukaan laut..  Keren bangetsss….. Apa yang bisa dilihat di Atlantis Hotel…? Ada aquarium, Aladin’s cave, swimming pool yang berbentuk lagoon.. Tapi karena hanya dikasi waktu 45 menit, ya hanya sempat muter sana sini…

@ a corner of Atlantis Hotel, Palm Jumaeraah

@ Atlantis Htl, Palm Jumaeraah

Tapi di salah satu lorong aku menemukan sebuah counter yang menjual pasir gurun yang ditata sedemikian rupa di dalam botol sehingga berbentuk lukisan… Di samping counter tersebut duduk si seniman yang mempertunjukkan keterampilannya.  Sungguh keterampilan yang keren… Ketika ku tanya dimana dia mempelajari keterampilan ini, dia bilang di Yordania..

Penyusun Pasir dalam botol…

@ Burj Al Arab

Dari Palm Jumaeraah, kami dibawa menuju  Burj Al Arab.. Sebuah bangunan  di tepi pantai Arabian Gulf yang menjadi icon kota Dubai.. Bangunan ini berbentuk layar… Di bagian atasnya ada helipad dan restaurant berbentuk rectangle dimana para pengunjung bias bersantap sambil menikmati laut…  Sementara di pantai di sekitar Burj Al Arab banyak sekali tourist yang bejemur dengan swimsuite beraneka warna dan model…. Dari Burj Al Arab, kami dibawa menyusuri jalan yang sejajar dengan garis pantai.. Jalan yang di kiri kanannya terdapat rumah-rumah mewah, termasuk rumah salah satu putra sheikh yang menikah dengan putrid Raja Jordan…  Kami lalu menuju kawasan yang dulunya merupakan pusat kota Dubai sebelum jejeran skyscrapers mengisi kawasan Bur Dubai… Kami juga sempat melewati Jumaerah, sebuah masjid yang merupakan salah satu landmark  Dubai.. Masjid yang indah.. Sayang karena merasa lelah dan lapar, sebagian besar  peserta tour tidak ingin singgah dan melihat masjid tersebut.. Tapi sungguh masjid itu dari luar pun terlihat sangat indah.. Tidak masuk ke masjid ini merupakan salah satu yang aku sesali dari perjalanan ini..  Semoga ada kali yang lain…, dan semoga kalau ada kesempatan tour kemana pun lagi, aku tidak kehilangan kesempatan melihat rumah Alloh lagi…

Jumaerah Mosque @ Deira Dubai

Jumaerah Mosque @ Deira Dubai

Setelah melihat Masjid Jumaerah, kami lalu makan siang di sebuah restaurant India..  Makanannya lumayan lezat…. Gak ngecewain lidah… Hehehe…  Selesai makan kami segera kembali ke hotel, karena harus istirahat sebelum ikutan Desert Safari… Desert Safari…? Apa itu…? Desert  Safari itu safari di padang pasir dengan menggunakan kendaraan 4 wheel drive… Hmmmm, gak sabar dan deg-deg-an… Karena aku pernah baca di sini, kalau gak kuat, ikutan desert safari bisa mabok sampai muntah2… Desert Safari kami mulai jam 16.30-an.. Telat dari jadwal yang seharusnya, jam 15.30, karena menunggu sesama anggota rombongan tapi gak muncul2…  Padahal sejam jam 15-an di depan hotel sudah tersedian 6 unit mobil 4 wheel drive berwarna putih, yang masing2 dikendarai oleh seorang supir berbusana khas lelaki setempat, jubah putih, beberapa di antaranya memakai tutup kepala yang juga sangat khas Arab..  Mana wajahnya cakep2 pulaaa…. Hahahaha… Karena jumlah mobil yg sudah di-reserve ada 6, yang jumlah penumpang seharusnya 4 orang, sementara yang ikut cuma 11 orang, dan cuma 5 diantaranya laki-laki,  mobil kami menjadi sangat longgar..  Pokoknya di tiap mobil harus ada satu laki-laki dari rombongan.  Jadinya satu mobil tidak ada penumpangnya.. Sayang banget.., padahal supirnya cuakep banget lho… Hahahaha…  Tapi gak berani lah ya naik mobil tanpa ada lelaki dari rombongan yang menemani…

Mengurangi tekanan angin pada ban sebelum surfing di antara sand dunes..

Mobil diarahkan oleh supir ke arah utara dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dan berhenti di rest area..  Di situ para penumpang dipersilahkan bongkar muatan, alias pipis, sebelum perjalanan dilanjutkan..  Sementara para supir mengurangi volume udara yang mengisi ke-empat ban mobil.. Setelah semua ok, perjalanan dilanjutkan… Gak lama supir membawa mobil keluar dari jalan aspal  masuk ke sand dunes… Rasanya seperti naik jet coaster… Tegang, cemas, ngagetin…  Seruuu aja pokoknya….. !!! Hehehe…  Tapi menurut kak Lisda yang semobil dengan aku dan juga Roy, ini belum maksimal… Safari yang pernah diikuti kak Lisda sebelumnya jauh lebih hebooohhh…, karena beneran bisa bikin mabok dan muntah orang yang gak kuat…   Mungkin jalur yang diambil lebih pendek dan simple karena waktunya yang pendek yaaa…  Menjelang magib, para supir memberhentikan mobil2 di salah satu sand dune.. Memberikan kesempatan bagi kami untuk berfoto-ria di padang pasir sambil menikmati sunset… Yuuuuppppp….. sunset on d desert.. Biasanya sunset yang ditunggu-tunggu kan di pantai yaa…  Sama seperti di pantai, di gurun pun enaknya bertelanjang kaki… Dan karena sudah menjelang malam, pasir gurun terasa sejuk di kaki.. Hmmm nyamannya….

Meluncur di antara sand dune…

Sunset on d desert…

Mejeng di gurun pasir… heheheh..

Selesai berfoto-foto dan menikmati sunset, perjalanan dilanjutkan…  Beberapa puluh menit kemudian kami sampai di sebuah kawasan yang dibatasi pagar kawat duri dan di tengah-tengahnya terdapat tenda berukuran besar… Di sampingnya terparkir sebuah mobil ATV buat yang ingin merasakan nyetir di padang pasir, juga terdapat beberapa ekor onta.. ONTA…? Iyaaa… Onta itu disediakan bagi peserta yang mau mencoba rasanya mengendarai onta..

Ridin’ a camel..

Apa emang rasanya naik onta…? Hahahahahahahahahahhahaha…. Pas naiknya siyyy deg-degan… Takut dengan reaksinya… Tapi ternyata waktu naik, cukup aman, ontanya tenang2 aja..  Kitanya ja yang deg2an.. Bahkan mengendarainya juga fine-fine aja…  Yang ngagetin itu pas turun… Onta itu main njegruk aja turun tanpa aba-aba, tanpa tanda2… Bussseeeeettttttt daaaahhhhhh……. Hehehehe… Selesai kami naik onta, kami masuk ke area dalam kemah…  Di sana sudah disiapkan tempat2 duduk berupa busa yang menghadap ke meja-meja panjang..  Selain itu juga ada tempat duduk melingkar yang dibatasi pelepah kering di sekelilingnya..  Juga ada tempat duduk di tepi2 tenda.., serta toko souvenier di dekat pintu masuk yang sekaligus berfungsi sebagai pintu keluar…  Selain itu, di dekat pintu masuk terdapat tenda di kiri kanan yang menyediakan cemilan khas padang pasir, yaitu semacam pancake dan roti goring dicelup gula aren… Begitu masuk ke tenda, kami bergegas mencari perempuan tukang bikin henna.. Karena menurut tour guide yang orang Pakistan, di dalam paket desert safari peserta perempuan boleh minta dihias dengan henna.  Setelah bertanya, kami segera menemukannya duduk di sebuah karpet di salah satu sisi tenda.. Perempuan pemasang henna itu ternyata berdarah Iran, yang sejak lahir sudah tinggal di Dubai, dan sudah bekerja di kemah tersebut lebih dari 10 tahun…  Pemasangan henna untuk satu kali, apakah di tangan atau di kaki, tidak dipungut bayaran, alias bagian dari paket.  Untuk pemasangan kedua dikenakan biaya DRH 10, atau sekitar Rp.24.000,-.  Aku memutuskan untuk menghias tangan dan kaki kanan ku… Gadis penghias henna itu begitu terampil menggoreskan henna langsung dari tube dan membentuk gambar-gambar yang feminim dan artistic… Keren bangetsss… Dan tiap-tiap orang mendapat gambar yang berbeda, tidak menggunakan pola atau pattern seperti yang pernah ku lihat di Little India, Singapore.  Setelah selesai digambar, henna harus dibiarkan minimal 30 menit, baru dibersihkan…

dihias dengan henna..

Henna on my foot… Does it make my foot look sexier…? Hahahaha…

Selesai memakai henna, kami segera mengambil tempat duduk yang disusun mengitari sebuah persegi yang akan menjadi tempat pertunjukan.. Pertunjukan apa…? Belly dance… Tari perut…? Are U sure…? Yeesss….  Kami pun duduk2 menikmati cemilan yang disedikan : kebab, goreng2an sejenis pastel dengan isi khas Arab dan teh atau kopi..  Gak lama, ada pemebritahuan melalui sound system kalo kami dipersilahkan mengambil Jatah makan malam berupa makanan barbeque khas arab..  Dagingnya boleh pilih, mau chicken atau beef, yang dihidangkan dengan beberapa jenis salad khas arab dan roti prata…  Sembali menikmati makan malam, kami diputarkan video tentang sejarah UAE, perjuangan rakyatnya dan kepemimpinan Sheikh Zayed bin Sultan Ali Nahayan..

Desert Dance…

Selesai makan malam, para peserta safari diminta duduk disekitar segi empat tempat pertunjukan…, dannnnn pertunjukan dimulai…  Pertunjukan pertama adalah seorang penari pria yang memakai rok lebar dan menari berputar2 selama beberapa belas menit.. Kuat banget tuuhh orang.. Gak pusing, apalagi mabok dan muntah.. Padahal kalo kita disuruh begitu, 3 puteran aja udah keleyengan… Hahaha… Rok yang dipakai ternyata 2 lapis dan ada lampunya..  Bahkan rok yang terakhir diangkat dan diputar-putar di atas kepalasemua penonton satu persatu.. Rasanya seperti berada di bawah kipas angin.. Di akhir pertunjukannya, penari pria itu menjemput seluruh peserta perempuan untuk menari bersama di tempat menari, kecuali………… perempuan-perempuan yang berbusana muslimah..  Alhamdulillah… Ini adalah salah satu saat dimana aku merasakan betapa terhormatnya menjadi perempuan berbusana muslim… Orang tidak berani mengajak kita menari di tempat umum… Sementara penari tersebut meminta semua peserta satu persatu menari, meliukkan tubuh di depan umum… Setelah penari laki-laki itu selesai menari, akhirnya muncul juga belly dancer..  Perempuan bertubuh tinggi dengan wajah khas arab dan rambut panjang terurai sampai melebihi pinggang.  Busananya, hanya bra dan underwear yang ditutupi oleh kain tule beberapa lapis..  Perempuan itu menari dan menggerakkan otot2 perutnya… Mungkin buat sebahagian kesannya sexy dan indah ya.. Tapi di mataku, kok rasanya gak pantas ya perempuan mencari nafkah dengan seperti itu.. Aku juga merasa   gak benar dengan menonton  tarian ini… Semoga ini adalah yang pertama dan terakhir.. Hanya utnuk tahu, bukan untuk dinikmati, apalagi diulangi…

It’s time 2 go home…

Selesai pertunjunkan belly dance, selesai pula lah acara desert safari.. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 waktu Dubai, alias jam 00.30 WIB.  Kami kembali naik mobil yang menjemput kami, lalu diantar oleh supir yang sama ke hotel..  Rasa lelah membuat aku tertidur pulas begitu roda mobil menyentuh jalan aspal… Sekitar jam 22.30 waktu Dubai kami sampai di depan pintu masuk hotel… Dengan tubuh lelah dan mata mengantuk, kami beriring2 masuk ke lobby hotel, dan naik ke lantai 2 di sayap lain hotel untuk ngecek tempat acara investment opportunity besok pagi akan dilaksanakan…  Setelahnya kami kembali ke lobby dan masuk ke lift dan keluar di lantai tempat kamar kami masing2… Hari ini benar2 hari yang menyenangkan.. Hari melihat berbagai  “dunia” yang baru… Banyak pengalaman yang tak terpikirkan sebelumnya… Alhamdulillah….

I am Burj Khalifa….

d burj from Souk Al Bahar, 26.11.2010

Rising gracefully from the dessert and honouring the city with a new glow.  I am extraordinary union of engineering and art, with every detailed considered and beautifully crafted.

I am the life force of collective aspirations and aesthetic union of many cultures.  I stimulate dreams, stir emotion and awaken creativity.

I am the magnets that attracts the wide- eyed tourist, eager catching their postcard moment, the centre for the world’s finest shopping, dining and entertainment, and home for the world’s elite.

I am the heart of the city and its people, the marker that defines Emaar’s ambition an Dubai’s shinning dream..

More than just a moment in time, I define moments for future generations.

I am Burj Khalifa

Tulisan ini aku temukan di salah satu dinding di lorong panjang yang aku susuri saat menuju lift berkecepatan 10 meter per detik yang akan membawaku ke At The Top, sebuah lantai di bagian puncak Burj Khalifa, yang dibuka untuk public.  Tulisan ini begitu berkesan buat aku, karena mengekspresikan arti dari Burj Khalifa… Sebuat burj alias menara yang diberi nama sesuai dengan nama penguasa UAE saat ini, penguasa yang merupakan putra dari Sheikh Zayed bin Sultah Ali Nahyan, sheikh yang membawa UAE menuju kemajuan yang luar biasa…

Hormatku bagi mu Sheikh Zayed.. Hormatku bagi mu Sheikh Khalifa.. Hormat ku atas kepemimpinan kalian yang membawa kemajuan bagi masyarakat negeri kalian…  Semoga negeri kami pun dikaruniai pemimpin yang visioner, yang akan membawa negeri kepada kejayaan…

d burj @ night, captured from d balcony of my room @ d hotel, 22.11.2010

burj in d morning, captured from d balcony of my room @ d hotel, 23.11.2010

d burj @ noon, captured from d balcony of my room @ d hotel, 23.11.2010

UAE Trip (Part 1)

UAE Trip…? Yuuuppp… I got a chance to trip to UAE, United Arab Emirate… Sebuah Negara gabungan dari 7 emirate yang berdiri sejak tahun 1971, yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ajman,Umm – Al Quwain, Ras – Al Khaimah dan Fujairah.   Sebuah perjalanan yang gak ada dalam semesta pemikiran untuk dilakukan pada tahun 2010 ini.. Bener2 sebuah hadiah kejutan dari Alloh SWT yang diberikan melalui tangan seorang teman lama yang berwenang di sebah instasi yang bertugas untuk mempromosikan daerah.

Dalam pemikiranku, kalau aku suatu saat menginjak wilayah Timur Tengah, itu adalah ke Jeddah, Makkah al Mukaromah dan Madinah, dengan tujuan pergi menjalankan ibadah Haji atau Umrah.. Jadi ini benar2 perjalanan tak terduga, apalagi perginya dalam rombongan yang dipimpin langsung oleh orang nomor satu di daerahku..

Perjalanan kali ini dimulai jam pada tanggal 20 November 2010 jam 13.30 WIB, yaitu terbang dari Pekanbaru ke Jakarta.  Sampai di Jakarta jam 15-an, kami menunggu proses check in yang dilakukan oleh Tour Leader dari Light Water Tour & Travel.  Selesai urusan check in kami lalu menuju Sky Lounge untuk beristirahat sejenak sebelum boarding melalui Gate E7.  Lalu jam 20.30 WIB kami mulai boarding ke pesawat Garuda Flight 088 dengan destinasi Asmterdam lewat Dubai, dan sekitar jam 21.30 pesawat pun take off. Setelah menikmati supper yang dihidangkan pramugari sambil mendengarkan lau Tangga “Kesempatan Kedua”, aku pun terlelap…

Perjalanan menuju Dubai memakan waktu 7 jam 45 menit, saat terjaga aku melihat jam dipergelangan tangan kiriku menunjukkan waktu jam 05.00… Itu Waktu Indonesia Bagian Barat… Katanya di Dubai lebih lambat 3 jam…

Salah satu anggota rombongan yg duduk disebelahku bilang “Udah waktunya sholat subuh ya, Ndha?”

Aku bilang “Itu kan jam Indonesia, pak.  Di belahan dunia tempat kita berada saat ini, kayaknya belum waktunya sholat subuh, pak.”

Si Bapak : “Iya pula ya Ndha…”  Beliau pun melanjutkan tidurnya… Hehehehe….

Gak lama pramugari datang mengantarkan sebuah muffin dan minuman hangat, dan memberitahukan kalau pesawat akan mendarat di Dubai International Airport sekitar 45 menit lagi…

Sekitar jam 05.30 WIB alias 02.30  pesawat mendarat di Dubai Int’l Airport.. Cuacanya dingin…, bbbrrrrrrrrrr….. Maklum aja, dini hari…  Kami lalu diarahkan ke sebuah hall besar, dimana kami harus antri untuk eye-scan.. Eye-scan…? Iya…  Kita disuruh duduk, lalu memposisikan sebelah mata kita tepat didepan kamera digital, dannnnn click…  Khusus untuk pemegang passport biru (pejabat pemerintah) tidak perlu melalui proses ini…  Setelah proses ini selesai, kami diarahkan untuk memalui proses imigrasi.. Ngantri…, dan rasanya gak nyaman banget, karena para petugas berjubah putih, bertutup kepala dan memakai sandal itu wajahnya sangat tidak ramah… Hhhmmmm…. Nyebelin…

Beres urusan imigrasi, kami lalu menuju tempat baggage claim, dan setelahnya kami digiring keluar gedung bandara dan menuju…., bis yang sudah parkir di pelataran lengkap dengan tour guide perempuan berdarah Pakistan.

Sebuah masjid di pinggiran kota Dubai...

Bis lalu berjalan menyusuri kegelapan malam…, lalu berhenti di sebuah masjid di pinggir kota..  Memberi waktu untuk sholat subuh…  Saat turun dari bis, tubuh diterpa angin yang sangat dingin… Bener-benar membuka kesadaran kalau aku sedang berada di kawasan sub-tropis…

Lalu sekitar jam 06-an waktu Dubai kami brunch di sebuah lokasi persinggahan.  Brunch…? Iya brunch….. Karena kalo menurut jam Dubai emang breakfast, tapi menurut jam Indonesia itu udah jam 09.30.. Biasanya jam segitu seporsi lontong, soto atau beberapa potong kue udah mengisi perut… Hehehehe… Salah strategi niyyy mestinya bawa bekal sedikit buat ganjel perut yaaa…. Hehehehe…

Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju…. ABU DHABI… Ya, Abu Dhabi, ibu kota United Arab Emirates.  Abu Dhabi sekitar 2 jam perjalanan darat dari Dubai..

Kami sampai di Dubai sekitar jam 10-an UAE..  Karena belum waktunya check-in di hotel, guide mengarahkan bis kami menuju Masjid Zayed bin Sultan Ali Nahayan…

Masjid Zayed bin Sultan Ali Nahayan di Abu Dhabi

Subhanallah…. Masjid ini indah sekali…, berwarna putih dengan kubah (dome) bertebar di sana sini, yang menurut penjelasan guide berjumlah 38.  Masjid ini adalah masjid ketiga terbesar di jazirah Arab setelah Masjidil Haram di Makkah Al Mukaromah Dan Masjid Nabawi Di Madinah.. Masjid ini memang dipersembahkan bagi Emir yang membawa Emirate Arab kepada kemajuan yang luar biasa, Emir yang sangat perduli pada kesejahteraan rakyatnya…  Bahkan di halaman masjid ini juga terdapat maqam beliau, namun tidak diperkenakan untuk dipotret…

Btw, kapan ya negeri kita yang sebenarnya juga kaya akan punya pemimpin dengan jiwa seperti Zayed bin Sultan Ali Nahyan…? Pemimpin yang peduli dengan rakyatnya, pemimpin yang punya konsep pembangunan yang stratejik, yang akan mendorong pengelolaan kekayaan negeri ibu pertiwi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya… Semoga ada dalam waktu dekat ini.. Sungguh negeri ini mendambakannya…

Back 2 Abu Dhabi…

Untuk masuk ke pelataran masjid, para pengunjung perempuan diwajibkan memakai abaya (baju terusan) warna hitam, yang merupakan pakaian standard bagi wanita setempat saat keluar rumah.  Bagi yang tidak mengenakan abaya hitam, di halaman masjid terdapat kereta yang berisi sejumlah abaya hitam dengan berbagai ukuran.  Abaya2 tersebut dapat dipinjam tanpa mengeluarkan uang satu sen pun…

Pelataran masjid tersebut sangat indah… Lantai dan tiang2 berhiaskan mosaic marmar yang tertata indah… Plafon-plafond berhias motif cornice… Semua luar biasa indahnya…

Sebuah sudut kota Abu Dhabi

Keluar dari masjid kami langsung menuju Intercont Hotel.. Aku mendapat jatah kamar di lantai 7, kamar 721, sekamar dengan journalist yang ikut dalam rombongan ini.. Tapi karena visa si journalist terlambat terbit, untuk sementara waktu aku tidur sendiri.

Hotel Intercont bener2 hotel yang nyaman, dengan pemandangan yang indah dari dalam kamar.. Yang aku senengi dari hotel ini, mereka menyediakan fasilitas setrikaan lengkap dengan meja setrika di dalam lemari pakaiannya.  Jadi aku bisa merapikan jas, rok dan blouse ku yang rada2 kusut saat dikeluarkan dari koper.. Hehehehe….

Setelah check-in dan bersih2, sesuai dengan pemberitahuaan sebelumnya, jam 13.30 waktu Abu Dhabi, kami sudah kumpul di bis untuk pergi makan siang.  Karena sudah lelah dan berjalan bergerombol, aku bahkan tidak sempat mengingat nama restoran tempat kami makan siang.  Tapi makanan yang disediakan dalam bentuk buffet benar2 luar biasa.. Begitu beragam appetizer, main course dan dessert.  Main coursenya juga terdiri dari berbagai aneka daging dan seafood yang diolah dalam berbagai bumbu… Bisa bayangkan apa rasanya menemui segitu banyak jenis makanan yang menggiurkan, dalam keadaan tubuh lelah, mata mengantuk namun perut lapar…  Karena saat itu di Indonesia kan sudah jam 5 sore, dan seharian yang masuk perut baru setangkup chicken thigh burger.  Mabok deehhhh… , pengen makan ini itu tapi mulut, perut dan hati tak berdaya… Hahahaha…

Selesai makan siang kami kembali ke hotel dan mengecek persiapan untuk acara besok pagi.. Acara apa? Penawaran Investment Opportunity yang ada di Proinsi tempat ku bekerja bagi para pemilik modal di Abu Dhabi..

Selesai mengecek persiapan, kami bersiap2 untuk menghadiri jamuan makan malam di Wisma Indonesia di Abu Dhabi..  Yuuupppp, kami diundang makan oleh Duta Besar Indonesia untuk UAE.. Nikmatnya bias merasakan msakan Indonesia di negeri orang.. Tapi lagi2 tidak mampu menikmati secara optimal karena acara makan dilakukan jam 09-an waktu Abu Dhabi alias jam 00-an WIB.  Rasa lapar udah lewaaattttttttttt bangettttttttttttttttt… Yang ada ngantuk luaaaaarrrrrrrrrrrrrrr biasa..  Saat di bis sepulang dari Kedutaan, aku tidur dengan pulas, tidak sadar kalau bis telah menyelesaikan perjalanan 30 menit… Bangun bangun sudah di depan hotel.. Hehehehe….

Roti prata & kari kentang...

Hari kedua dimulai dengan breakfast di resto di lantai 3 hotel..  Resto ini mempunya view kolam renang dan juga pantai yng dipenuhi yacht yang pada parkir.  Saat menyusuri makanan demi makanan yang dihidangkan…, tarraaaaaaa…. aku menemukan prata, roti khas India dan Arab yang aku sukai… Roti ini mirip dengan roti canai, namun lebih tipis..  Biasanya disantap dengan kari kentang dengan bumbu khas India dor Arab yang kental…

Selesai makan, kami mulai melakukan persiapan untuk acara, dan selanjutnya fokus dengan acara tersebut sampai dengan saat makan siang di resto yang terdapat di lantai satu sampai dengan basement hotel tersebut.. Pemandangannya…? Pantai dan yacth2 yang pada parkir….  What a luxury life…

Selesai makan, kami langsung berkemas dan mengangkut barang2 ke bis… Lalu kembali ke Dubai…

Kami sampai di Dubai saat magrib… Begitu sampai di Address Hotel yang berada di Kompleks Dubai Mall, kami langsung dibawa ke lantai 15.  Tempat dimana kami menunggu pembagian kunci kamar sambil menikmati welcome drink berupa juice mangga yang segar dan beberapa potong sandwich…  Service yang keren, yang mebuat kami tidak perlu duduk terpongok2 di lobby hotel menunggu pembagian kunci kamar, sebagaimana biasa terjadi kalau kita pergi dalam group…

Burj Khalifa dari balkon kamar...

view from balcony...

Lagi-lagi saya mendapat kamar di lantai 7.  Kamar 709… Saat memasuki kamar… Subhanallah…. aku melihat pemandangan skyscrapers yang indah di kegelapan malam…  Pemandangan yang mengundang aku untuk mendekat ke jendela, dan membuka pintu kamar kea rah balkon…  Saat memandang ke sisi kiri, subhanallah…, aku melihat Burj Khalifah berdiri kokoh.  Burj Khalifah, bangunan tertinggi di dunia saat ini bediri, bercahaya dalam kegelapan malam… Aku jatuh cinta pada pemandangan ini… Dan sejak saat itu, aku selalu membuka tirai kamarku agar dapat menikmati pemandangan itu lagi dan lagi… Bahkan dalam kegelapan saat aku membaringkan tubuh menjelang tidur, aku tetap mengarahkan mataku ke sana… Menikmati cahaya dari para pencakar langit di kegelapan malam….