Sixty 4 The Rest of My Life..

Tati sebenarnya ragu2 untuk nulis tentang ini karena merupakan pegalaman tidak menyenangkan… tapi Tati pikir ini mungkin bisa jadi pelajaran buat teman2, terutama para perempuan single…

Tati dari kecil terbiasa bersikap ramah pada siapa aja, terutama orang2 yang berurusan dengan kita sehari2…

Waktu zaman SMA dimana Tati hobby banget ke toko buku dan toko cassette, Tati berteman dengan tukang2 parkir yang bertugas di depan toko2 tersebut…, tujuannya supaya mereka “care” dengan motor Tati yang selalu parkir di situ… sehingga aman dari tangan2 jail meski diparkir berlama2… Cara bertemannya…, sekali2 ngasi uang parkir lebih dari tarif, atau beliin minuman kalau lagi punya uang lebih… It worked, really worked..

Zaman di Bogor…, Tati paling senang kalau naik bemo 08 (yang selalu ditumpangin dari rumah ke kampus dan sebaliknya), duduk di samping supir.. Bisa ngobrol…, Topiknya tentang keluarga si supir bemo dan cerita sehari2 lainnya.. Manfaatnya…?? Kalau Tati naik bemo pulang kuliah terus hari hujan, tukang bemo akan menghentikan bemonya persis di gerbang tempat kost… sehingga Tati kena hujannya lebih sedikit… Belum lagi rasa aman yang Tati peroleh kalau naik bemo pulang dari kampus malam2… Alhamdulillah… it also worked…

Berdasarkan pengalaman2 sebelumnya, Tati menerapkan hal yang sama saat harus berurusan dengan parkir memarkir mobil di depan kantor Manulife…

Karena kerja di Manulife sifatnya freelance, Tati gak sepanjang hari di situ.. Tati biasanya ke sana saat jam istirahat siang di kantor yang satunya lagi, biasanya sekitar satu jam-an…, tapi hampir tiap hari kerja. Kantor Manulife Pekanbaru lokasinya di daerah pertokoan yang rame…, jadi mobil2 banyak datang dan pergi, dengan jam parkir yang biasanya singkat…, artinya tukang parkir di situ punya target setoran yang lumayan… Gak tega sama tukang parkir karena sering mengunakan tempat parkir cukup lama.., sesekali Tati ngasi uang parkir lebih… dengan harapan si tukang parkir yang sudah tua bertubuh ringkih serta gelap itu gak marah kalo Tati parkir lebih lama… Setiap Tati ngasi uang lebih, si tukang parkir selalu bilang “Alhamdulillah, semoga ibu selamat sampai di rumah ya…”. Hati Tati rasanya senang, karena ada orang yang mendoakan kita…, ada yang berharap keselematan terjadi atas diri kita… Jarang2 lho di hari gini…

Suatu hari, Tati ada training di Manulife, dari jam 11-an sampai 17an… Pulangnya.., di parkiran Tati bilang sama si tukang parkir “maaf ya pak.., saya parkirnya lama… ada training…”. Si tukang parkir bilang “iya bu, hari ini banyak mobil orang manulife parkir, mobil2 lain jadi gak bisa parkir, pemasukan jadi kurang jauh dari biasanya”. Tati lalu mengulurkan uang sepuluh ribu sambil berkata “semoga ini bisa meringankan hati bapak ya”. Si tukang parkir tua seperti biasa bilang “alhamdulillah, semoga Tuhan melindungi ibu supaya selamat sampai di rumah”.

Sehari setelah training di manulife, Tati tidak menemukan si tukang parkir tua saat Tati meninggalkan pelataran manulife.., begitu juga hari2 selanjutnya… Tati menduga mungkin dia dipindahkan tempat karena tidak mencapai target pada hari sebelumnya.. Setelah sekian hari, Tati bertanya pada tukang parkir pengganti kemana perginya si tukang parkir tua. Si pengganti bilang si tukang parkir tua sakit.

Beberapa hari kemudian, si tukang parkir tua kembali bertugas.. Setelah dia membantu mengarahkan mobil saat Tati mau keluar dari pelataran Manulife, Tati menyapa “bapak katanya sakit ya?”. Si bapak menjawab “iya bu.. darah tinggi saya kumat”. Tati menjawab “ya udah pak, hati2 mudah2an gak sakit2 lagi ya..”.

Keesokan harinya, saat Tati sedang mau masuk ke mobil setelah keluar dari kantor Manulife, si tukang parkir tua menghampiri, dia bilang “bu, ibu bisa tolong saya. Saya mau pinjam uang seratus ribu buat bayar hutang beli obat waktu saya sakit. Saya akan cicil hutang saya ke ibu”. Tati setelah berpikir sejenak lalu mengulurkan uang enam puluh ribu sambil berkata “bapak, ini ada uang enam puluh ribu, diambil aja, gak usah hutang. Kalau hutang nanti bapak yang susah”. Si bapak bilang “terima kasih ya bu”.

Besoknya lagi, ketika Tati mengulurkan uang parkir si Tukang parkir tua gak mau nerima, dia bilang dia sudah menerima kebaikan dari Tati. Tati bilang yang sudah dikasi itu merupakan pertolongan, kewajiban bayar parkir harus tetap Tati jalankan, keduanya berbeda. Si bapak bilang, “ibu baik sekali ya.., udah berapa anaknya bu?”. Tati yang memang tidak pernah merasa terbebani dengan status single dan berpkir bahwa tukang parkir ini sudah tua serta baik, jadi Tati harus bersikap apa adanya. Tati menjawab “oh, saya belum berkeluarga, jadi belum punya anak pak”. Tiba2 si tukang parkir tua bilang “Saya duda lho, bu. Ibu mau gak sama saya?”. Masya Allah…. Tati serasa ditampar habis2an… badan Tati langsung gemetar, kaget dengan reaksi si tukang parkir tua… Tati hanya menjawab “Maaf ya pak” dan langsung buru2 masuk ke mobil, seakan2 tidak mendengar apa yang sudah diucapkannya…

Tiba2 Tati lihat, si tukang parkir tua berjalan masuk ke kantor Manulife… Tati langsung meraih hp dan mendial nomor Manulife. Begitu Fifi yang bertugas sebagai receptionist angkat telpon, Tati langsung bilang “Fi, kalau ada yang tanya2 tentang status kakak, bilang kakak sudah tunangan. Kakak kayaknya salah menilai orang, Fi. Tolong kakak ya..” Fifi langsung bilang “ok kak, jangan khawatir”. Beberapa menit kemudia hp Tati bunyi, dari nomor Manulife. Begitu diangkat Fifi bilang “Kak, ada apa? Kok si tukang parkir tua nanya status kakak? Fifi bilang aja kakak sudah tunangan. Dia gak percaya, kak. Katanya Fifi bohong. Fifi bilang tunangan kakak adalah sepupu Fifi. Ada apa kak?”. Tati pun menjelaskan pada Fifi apa yang terjadi secara singkat. Fifi bilang “udah kak, cuekin aja”.

Besoknya Tati ke Manulife, pas mau pulang Tati bersikap seakan2 tidak pernah terjadi apa2…, Tau2 si tukang parker tua menghampiri dan berkata “eh, padusi panduto (bahasa minang artinya perempuan pendusta) !!! ”. Tati rasanya marah sekali…, dalam pikiran Tati. Apa haknya mengatakan Tati pendusta? Kenapa dia tidak bersikap realistis dan menyalahartikan kebaikan yang Tati lakukan???” Tapi lagi2 akal sehat harus dipegang.. Tati bersikap tidak mendengar apapun…

Sejak hari itu, sampai hari ini (sekitar 6 bulan berjalan), si tukang parkir tua tidak mau menerima kalau Tati memberikan uang parkir… Tati setiap mau keluar dari tempat parkir tetap mengulurkan uang parkir (tapi hanya seribu rupiah tidak lebih), tapi si tukang parker tua tidak mau menerima. Ya sudah lah.., yang penting Tati kan sudah menjalankan kewajiban, dia gak terima itu urusan dia. Teh Desi bilang, “You have paid 60 thousands to park here for rest of your life, Sondha…!!!”

Buat Tati, pelajaran yang bisa diambil adalah :
Jangan terlalu polos menghadapi kebaikan orang lain.. karena manusia itu kan gak sama…, tapi jangan jadi bikin kita gak bisa berbuat baik pada orang lain.., ya gak ? Semoga Allah meridhoi segala upaya kebaikan yang telah kita kerjakan, dan semoga Allah mengampuni segala kesalahan yang juga telah kita kerjakan. Amin ***

One thought on “Sixty 4 The Rest of My Life..

  1. Ternyata, Inel, si sekretaris Unit Manager di manlife yang baru kerja sebulanan juga diresehin sama si Bapak Tua…. Inel dirayu, dibilang kalo Inel adalah perempuan yang terbaik yang pernah ditemui… Si Bapak lupa umur kali ya… Hehehe…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s