Why Worry…

Baby I see this world has made you sad
Some people can be bad
The things they do, the things they say
But baby I’ll wipe away those bitter tears
I’ll chase away those restless fears
That turn your blue skies into gray

Why worry, there should be laughter after the pain
There should be sunshine after rain
These things have always been the same
So why worry now

Baby when I get down I turn to you
And you make sense of what I do, I know it isn’t hard to say
But baby just when this world seems mean and cold
Our love comes shining red and gold
And all the rest is by the way

Why worry, there should be laughter after pain
There should be sunshine after rain
These things have always been the same
So why worry now

By : Art & Garfunkel

Ini lagu yang selalu mengalun di kepala Tati kalau sedih, lelah dan cemas melanda… Pasti akan ada tawa setelah tangis…. So, optimist aja kali ya

Wanna hear this song Direstreet version?? Just click :

Ketika Rasa Lelah Melanda…

Pagi ini bangun tidur rasanya gak ingin turun dari tempat tidur…. Rasanya pengen tetap berbaring, leyeh2 sambil nonton DVD… Kebetulan Tati baru dapat kiriman seabrek DVD dari Icha, pacarnya Nanda besar…

Rasanya gak ingin ke kantor…, badan rasanya capek banget… padahal baru bangun tidur… Tapi karena hari ini harus ngurus acara arisan Dharma Wanita di kantor.., ya jadi tetap harus ke kantor… Harus tetap semangat… (Kayak Intan aja… He)

Sebenarnya rasa ini sudah berbulan2 muncul.. Tati sebenarnya cemas kalau ini adalah gejala fatique alias kelelahan yang bertumpuk2 sebelumnya … Atau mungkin efek psikologis dari rasa jenuh yang keluar dalam bentuk kelelahan fisik… Tapi di lingkungan Pemerintah gak gampang untuk pindah posisi.. Apalagi Tati rasanya gak ingin kerja yang hanya bersifat administrasi…, kalau di tempat sekarang kan kerangka pikirnya harus holistik… tapi juga harus mampu berpikir mikro…

Team Manulife Pekanbaru

Untung Tati punya dunia lain…. Manulife… Dunia yang berbeda, penuh tantangan dengan prinsip “Impossible is Nothing”. Ya semua tergantung apa yang kita pikirkan… Kita seringkali gagal karena rasa takut yang berlebihan…, sehingga takut mencoba, takut memulai.. Padahal seringkali semua itu tidak seburuk yang kita fikirkan…

Btw… besok akhir pekan… Mungkin mengurus tanaman, merapikan rumah yang udah berantakan karena gak diurus berminggu2, leyeh di tempat tidur sembari nonton DVD dan ditemani secangkir teh hangat akan memberikan nuansa lain…, memberi kesegaran, menghapus rasa lelah… Semoga… ***

Ananda’s Graduation Day

Ananda & her kindergarten diploma

Sabtu, 23 Juni 2007…
Meski Enek masih terbaring di Rumah Sakit, Wowo dapat tugas dari Odang dan Enek untuk menghadiri wisuda Ananda bersama Mama Nhoya. Hari ini Nanda diwisuda atas kelulusannya dari TK… Kok pake istilah wisuda ya? Kayak lulus dari Universitas aja…

Pagi2, setelah Enek rapi dan bisa ditinggal dengan kak Tina (si mbak yang ditugaskan Mami Uli menjaga Enek), Wowo berangkat ke sekolah Nanda dengan ditemani AU.

Di sekolah Nanda udah ramai banget… Para bapak ibu berbaur dengan anak2nya…, duduk di bangku anak TK. Benar2 pemandangan yang lucu.. Untung kursinya kuat2 ya….. Mungkin kalau hidup mereka akan menjerit…atau malah mungkin ngabur… hehehe.

Setelah kata sambutan dari Suster Kepala dan Wakil Ortu, para wisudawan dipanggil satu2 ke podium untuk menerima ijazah. Mereka dipanggil berdasarkan kelas dan abjad namanya..
Nanda termasuk kelompok kedua, yaitu kelas Markissa. Pantas senyum Nanda manis banget.. tapi juga rada asem kalo lagi ngambek.. Kayak markissa… Hehehe.

Ananda’s kindergarten diplomaIjazah yang dibagiin lucu deh… Ada foto Nada pake toga di bagian bawahnya, berwarna pula…!!! Di zaman Wowo ijazah Cuma pake pasphoto 3×4 hitam putih.. Zaman emang udah berubah….

Setelah selesai dapat ijazah, anak2 digiring ke halaman TK buat ngambil foto2 mereka plus…. 1 paket McD… (hebat juga link sekolah ini…).

Di halaman sekolah Nanda ketemu dengan Glory teman mainnya, tapi gak sekelas.. Glory nanya ama Nanda “Nanda, kok tante ini mukanya sama dengan Mamanya Nanda” sambil nunjuk ke Wowo… Nanda menjawab… “Ya iyalah… itu kan Wowoku…”. Glory belum tau Nan, kalau Mama Nhoya punya saudara kembar beda 12 tahun… Hehehe..***

Esther, Wowo dan Kacamata….

Esther Meilissa Maharani Sinambela

Wowo-nya Esther

Sejak pakai kacamata, Esther belum pernah ketemu muka dengan Wowo.. Begitu ketemu di RS tempat Eneknya dirawat, dia menemukan Wowonya ternyata sudah pake kacamata juga….

Esther langsung bilang “Wowo pakai kacamata juga ?” Wowo jawab “Iya Nak.., supaya melihatnya lebih jelas…” Esther bilang dengan ragu2 “Iya…, aku juga melihatnya jadi lebih jelas…”. Wowo rasanya mau nangis dengar Esther bilang begitu… Wowo lalu menggapai Esther, dan bilang “biar aja teman2 ngeledekin kacamata Esther…, yang penting Esther bisa melihat dunia dengan lebih jelas, ya sayang….? Kita gak perlu malu dengan kacamata kita..”. Esther balas memeluk Wowo dan bilang “Iya Wo.., yang penting kita melihat dunia dengan lebih jelas….”. That’s my brave little angel…***

 

Never Give Up Mother

Setelah terbaring di RS 3 hari, Mama mulai mengikuti sesi fisioterapi… Mula2 bagian tubuh Mama yang gak bisa digerakkan disinar pake lampu infrared, lalu dimassage terus digerak2kan… Pada sesi ketiga, Mama mulai dilatih untuk berjalan.. Karena belum bisa digerakkan, kaki Mama disorong2 oleh si fisioterapist..  Di luar sesi fisioterapi Mama kerap melatih sendiri tubuhnya…

Sabtu malam, untuk membuat Mama merasa nyaman selagi ditinggal Tati mandi, tangan dan kaki Mama dipijat pelan2 oleh Kak Tina… Tiba2 Mama mampu menggerakkan engsel bahu kanan dan juga mampu sedikit menekukkan lutut. Tadinya gak bisa digerakkan sama sekali… Mama kembali jadi optimis…. Besok paginya Mama jadi makin semangat belajar menggunakan tongkat, berlatih untuk bias berjalan kembali…

Hari selasa 26 Juli jam 19an, kata Papi David, Mama sudah bisa menggerakkan sikunya, bahkan siangnya Mama sudah mau dibawa muter2 dengan kursi roda di Sun Plaza, her most favorite place 2 hang out..

She’s really really never give up Mother…., meski kadang ada tangis dan keluh kesah… Benar kata Papi David beberapa hari yang lalu.. “Kakak pikir dari mana kita mendapatkan semangat hidup yang menggebu2 dan tidak mau menyerah pada cobaan hidup ?” Yup… We’ve inherited it from U, Mom…***

Ketika 6 Anak Burung Telah Terbang…..


Hari Kamis 21 Juni 2007 Mami Uli, Tante Po, Samuel dan Esther pamit ke Enek buat berangkat ke Penang untuk control mata Esther dan ngurus kerjaan Mami Uli & Tante Po. Perginya cuma bentar kok, cuma 3 hari…

Mungkin karena mengingat rencana, bahwa Enek seharusnya juga ikut pergi, Enek jadi nangis… Segala rasa duka, gelisah, ketakutan dan rasa tidak berdaya karena tidak dapat menggerakkan tangan dan kaki, tumpah…. Enek nangis sejadi2nya… bahkan sampai manggil2 Maminya alias Opungnya Wowo yang udah passed away more than ¼ abad…

Papa, Wowo, Mami Uli, Tante Po bahkan Uwel dan Esther gak bisa nahan air mata… Sedih banget liat Enek nangis… Karena kami hampir gak pernah melihat Mama mengeluarkan air mata… Mama selalu menyembunyikan kesedihannya dalam diam, bahkan terkadang keluar dalam bentuk amarah…

Kami bisa merasakan kepedihan Mama…, kecemasan Mama…
Mama biasa bergerak bebas, mengurus semua kerjaan rumah tangga tanpa bantuan PRT…, Mama biasanya sore2 jalan ke mall buat olahraga.. karena kalau jalan2 di jalan umum takut disrempet atau dikejar anjing, juga takut kotor…

Lalu stroke menyerang, tangan kanan yang biasa bergerak lincah buat “kutak katik”, gak bisa dikendalikan… Juga kaki kanan yang biasanya gak bisa diam kini tergeletak…

Saat2 depresi datang, Mama sempat bilang… “Mama punya 6 anak, tapi semuanya terbang.. Gak ada yang bisa di rumah aja buat ngurus Mama”. Sekilas ada rasa sesal karena seumur2 anak2nya dididik dan didorong untuk berkepak, lalu terbang tinggi di angkasa kehidupan…

Tati lalu bilang… “Ma, Mama yang mendorong kami untuk mengembangkan potensi diri agar punya sayap untuk terbang menjelajahi kehidupan.. Apa Mama mau jadi ibu burung yang sampai tua harus mencarikan makanan buat anak2 burung yang tidak mampu mengepakkan sayapnya ? Apa tidak seharusnya kita mensyukuri apa yang ada pada keluarga kita ? Soal yang mengurus Mama, percayalah pasti ada jalan.. pasti kita akan menemukan jalan untuk mengurus Mama, untuk membuat Mama merasa nyaman…”

Setelah diam sejenak.., Mama menjawab “Iya ya.. Mama udah bisa bikin kalian mampu terbang…, gak nyusahin dan bisa mandiri…” Iya Ma.., That’s the most precious things that You’ve done for us…, Taught us how 2 fly in the Life Sky and support all the way….***

It Was A Long Long Saturday…

Sabtu tanggal 16 Juni 2007…

Pagi2 Tati udah bangun… Hari ini so many things 2 do..
Buat Tati akhir pekan biasanya adalah waktu untuk beres2 rumah, ketemu2 orang buat urusan insurance, kongkow2 dengan kak Lintje dan Ira… Kebetulan hari ini ada calon nasabah yang mau closing alias beli produk…

Dari jam 08.00 pagi Tati udah mulai dial2 telepon, mengkonfirmasi janji2 yang udah dibuat untuk hari ini…, lalu ngepak2 properties karena rencana malam minggu mau nginap di rumah Durian. Besok, ari Minggu tgl 17 akan ada Pekanbaru 10K dalam rangka Hari Jadi Kota Pekanbaru, Tati dan teman2 kantor wajib hadir jam 06.00 pagi di jl. Gajah Mada karena Boss kita ketua panitia tahun ini… Malas banget kalau mesti bergerak jam 05.30 dari Pandau… karena artinya jam 05.00 udah mesti mandi… Dingin euy… (entah kenapa, tempat tidur dan selimut terasa lebih hangat dan nyaman di akhir pekan…, apa lagi kalau jendela kamar dibuka lebar2 setelah subuh….. hehehe)

Setelah semua rapi and I’m ready 2 go… Tiba2 jezzzz ada rasa pengen nelpon Mama..
Gak biasanya nih… Biasanya Tati nelpon Mama tuh malam sebelum tidur (nge’denger suara Mama membuat perasaan menjadi nyaman banget….), atau kalau lagi pengen dapat penguat semangat…, nelponnya jam 6an pagi…. Tapi rasa pengen nelpon kuat sekali sehingga Tati memutuskan untuk ngikutin perasaan… dan… mendial telepon 061786…. sekian sekian..

Setelah deringan kedua, telpon diangkat… Terdengan suara Nhoy… “Hallooooo”
Tati heran, kok Nhoy ada di rumah jam segini, seharusnya dia jemput Ananda pulang sekolah…
Tati lalu menyapa “Apa kabar ‘dek…, Kok tumben ada di rumah jam segini? Gak jemput Nanda?”
Nhoya menjawab “Nanda aku suruh jemput sama tukang becak langganan kak, aku mesti urus Mama, Mama sakit…”
Perasaan Tati langsung seeeerrrrrr “Sakit apa dek ?”
Jawab Nhoya “Kayaknya stroke deh Kak…, Tangan dan Kaki kangan gak bisa bergerak, bibirnya mencong, bicaranya cadel…”
Tati bilang “Kok gak dibawa ke rumah sakit? Papa dan Ivo mana?”
Nhoya bilang “Mama gak mau dibawa ke rumah sakit, mau di rumah aja biar bisa dipijat. Tapi kemaren sore udah ke dokter. Papa ada di depan, Kak Ivo pergi ke kantor…”

Tiba2 di seberang terdengar sayup2 suara Mama “Siapa Nhoy?”
Nhoya jawab “Kakak, Ma. Mama mau ngomong?”
Lalu Nhoya bicara dengan Tati “Bentar kak, Mama mau bicara”

Dari seberang terdengar suara Mama, lemah dan cadel, “Mama sakit, ‘Nang… Tangan dan kaki Mama gak bisa digerakin. Gak tau kenapa. Kemaren bangun tidur tau2 udah begini… Padahal hari sebelumnya Mama masih pergi sama Papa bawa Nanda jalan2..” (Mama biasa memanggil anak2 perempuannya dengan kata Nang, singkatan dari Inang, dalam bahasa Batak artinya Ibu. Tapi dalam pembicaraan sehari-hari bapak/ibu biasa menggunakan kata ini untuk memanggil anak perempuannya).

Tati bilang, “Mama ke rumah sakit aja, ya…”
Mama jawab, “Enggak ah, di sana enggak bisa diurut. Mama pengennya diurut. Mama udah dapat obat kok dari dokter S yang biasa ngerawat Mama”
Tati bilang “Ya udah, Mama istirahat dulu ya… Ndha mikir dulu mesti bagaimana…”
Klik, telepon ditutup.

Tati bingung… Gak tau mesti gimana… Semua rencana kerja hari ini bubar dari kepala…
Lalu Tati telepon Papi David, 0815 sekian sekian… Ada nada panggil tapi gak diangkat..
Tati ulang… sama aja, gak diangkat juga…
Tati lalu telpon Mami Nana, mau nanya Papi David ada dimana. Mami Nana bilang Papi ternyata lagi kuliah, jadi telepon di-silence…

Gak lama tit tit tit tit… A message received..
Dari Papi David. Isinya “Ada apa, Kak ? Aku lagi kuliah. Jadi gak bisa angkat telepon”.
Tati balas “Mama sakit, kayaknya stroke, tapi gak mau dibawa ke rumah sakit. Aku mesti gimana ya? Apa aku pulang aja ya sore ini..?”. Lalu message di-send.
Gak lama Papi David telpon. Setelah bla bla bla bla, Papi bilang “Kakak berangkat aja sore ini, biar kita tahu pasti situasinya… Kalo gak liat kita kan bingung-bingung gak jelas…”

Tati lalu nelpon Diko pegawai travel langganan sambil mulai beres2, ambil koper, masukin baju… Gak tau baju mana yang mau dibawa… Jadi yang keliatan di mata aja yang dimasukin ke koper… (belakangan nyadar, semua baju yang dibawa berwarna putih… 3 t’shirt putih, 2 blus putih… seakan gak punya baju waran lain deh si Tati). Diko bilang, satu2nya penerbangan yang tersisa ke Medan hari itu full booked. Kalau pun ada yang cancel , informasinya baru bisa tahu setelah jam 12 siang. Tati langsung minta Diko usahain.

Sementara itu beres2 udah selesai, koper dan segala properti yang udah disiapkan sebelumnya langsung dimasukin ke mobil… Kunci2 pintu rumah…. terus, lari ke rumah Mama Dasdo yang di depan, ngasi tau bahwa mendadak akan ke medan, so titip liatin rumah dan nyalain lampu kalau sore hari…

Karena pesawat ke Medan berangkatnya jam 17an, Tati memutuskan untuk tetap melakukan schedul yang udah direncanakan…
Jam 11.30 Donni calon nasabah nelpon, “Tante, kita bisa ketemunya sekitar jam 12an aja gak ? dan di sekitar jl. nangka aja.. karena Donni ada urusan di sekitar situ…”
Tati jawab, “Ok, kitra ketemu jam 12an di Bakso Lapangan Tembak di Citra Plaza jl. pepaya aja ya… Tante tunggu. ”

Gak lama Teh Desi, kakak kelas di IPB dan senior di Manulife telepon. Teh Desi janji mau nganterin bahan ujian sertifikasi asuransi ke rumah durian.. “Kamu udah dimana “Non?” tanya Teh Desi.. Tati jawab “Di jalan Teh, mau ke Citra Plaza ketemu Donni.”. Teh Desi bilang “Mau ditemanin ? Gue lagi gak ngapa2in nunggu anak pulang les..”. Tati rasanya senang banget… karena kalau ada yang nemanin, artinya ada yang bisa bantu ngecek kelengkapan bahan2 permohonan asuransi jiwa yang akan dilengkapi calon nasabah.. Pada saat stress begini biasanya suka jadi agak gak teliti, ada aja yang kurang.. padahal itu bisa bikin proses pengajuan asuransi tertunda-tunda… kan kasian nasabah… Tati langsung jawab “Boleh banget, Teh. Ditunggu dan makasih ya..”

Di jalan menuju Citra Plaza, Diko pegawai travel telpon… “Kak, ada tuh tiket yang kosong.. tapi harganya 570. Mau diambil gak ? Waduh…, kalau kita lagi kepepet emang selalu deh harga tiket melambung luar biasa… Usually tiket Pekanbaru – Medan itu antara 320 – 450 ribuan.. Tapi karena situasi, mana flight terbatas, ya Tati gak punya pilihan… So… “Iya Diko, ok-in aja…”. Diko bilang “Ntar jam 16.40 kakak temuin aja pak Alim di bandara, dia nunggu di sana ya.

Jam 12 lewat… Tati sampai di Plaza Citra… Gak lama Teh Desi nyusul… lalu Donni datang.. Donni lalu ngisi blangko Surat Permohonan Asusransi Jiwa, kemudian dia nyerahin Premi Pertama, dan Tati nyerahin Tanda Terima Pembayaran Premi Pertama (TP3). Transaksi selesai… Tati dan Teh Desi lalu ke ATM buat transfer uang yang diserahin Donni ke rekening perusahaan.. Lalu semua berkas Donni dititipin ke Teh Desi buat dibawain ke kantor hari Senin. Thank you ya Teh.. Kalo gak ada Teteh, Tati pasti akan lebih repot lagi menyelesaikan kerjaan hari ini.

Pisah dengan Teh Desi, Tati melanjutkan perjalanan ke tempat Iyon yang mau benerin laptop yang rada betingkah.., lalu ke tempat Lily buat ngambil suplemen pesanan, baru pulang ke rumah jl. durian.. Di sana Kak Lintje dan pasukan udah nunggu, kita harus pergi ke rumah Oom Nunung sepupunya ibu buat ngadirin selamatan sunatan cucunya.. Undangan Oom Nunung gak bisa diabaikan begitu aja.. karena beliau sangat perduli dan membantu kita pada waktu terjerembab dalam masalah… Oom Nunung mengajarkan doa2 yang harus dibaca saat setelah selesai sholat…

Dari rumah Oom Nunung, tati langsung diantar ke airport… rasanya udah lelah banget… tati sampai tertidur dalam perjalanan ke airport… Sampai di airport, pak Alim udah nunggu…, semua udah beres dan Tati langsung masuk ke ruang tunggu..

Jam 17an, pesawat akhirnya take off… Lega sekaligus mulai ketakutan… Honestly, I
have a trauma with flying because of turbulance… Rasanya pengen keluar dari pesawat dan gak jadi terbang… Buat ngalihin pikiran, Tati ngajak ibu2 yang duduk di sebelah ngobrol.. Setelah ngobrol wara-wiri tentang keluarga, kerjaan dll, si ibu tiba2 nanya, “Dek, boleh gak kalau dikenalkan dengan seseorang….? Jangan tersinggung ya…” Tati setelah menarik nafas dalam2 menjawab “Gak apa2 Ibu.. Kita kan gak tau jodoh ada dimana dan lewat mana datangnya… Saya berterima kasih Ibu telah memikirkan saya. Ngomong2 yang mau Ibu kenalkan itu siapa, usianya berapa ?” Si Ibu menjawab ” Anak teman Ibu, orang tuanya udah meninggal. Usianya 34th. Sekarang dia jadi vendor di perkebunan tempat Bapak kerja” Tati menjawab “Ibu, saya umurnya udah hampir 40 lho…, kayaknya kurang pas deh, Bu.” Si Ibu bilang “Masa kamu hampir 40? Kayaknya belum 35an deh…” Tati langsung tersunjang… bukan tersanjung lagi… Si Ibu gak tau kalo Tati udah nyaris jadi nenek2… Hehehe

Gak lama pesawat mendarat…. Alhamdulillah. Papa udah jemput… Mama bahkan ngotot mau ikut jemput… Beliau nunggu di mobil dengan Tante Po… Dari airport kita langsung ke RS. Santa Elizabeth.. Mama setelah dibujuk2 akhirnya mau dirawat… Kayaknya Mama tadinya gak mau dirawat karena takut gak ada yang nungguin…. Mama akhirnya dirawat dibawah pengawasan dr. Kolman Saragih, spesialis saraf yang sangat komunikatif… Beliau memperlakukan pasiennya sebagai manusia, sehingga pasien dan keluarganya merasa nyaman… Dr. Kolman meyakinkan Tati bahwa Mama akan bisa recover, paling sedikit 80% asal benar-benar di rawat…

Di ujung malam…, saat melihat Mama tidur dengan nyenyak… Tati rasanya lega sekali… Rasa lelah mulai menguasai tubuh yang semakin menjerit minta diistirahatkan… Sofa rumah sakit terasa nyaman
This is really really good ending of a very very long saturday….***

Aku saaaaaayang sama Wowo-ku…….

Dari mana asal kata ”WOWO” ?
Panggilan ”WOWO” diberikan adik perempuan Tati, si Mami Uli..
Dia mengajarkan anak pertamanya Samuel memanggil dakyiu dengan sebutan Wowo. Sebenarnya Wowo itu plesetan dari Mak Tuo… Tapi berhubung si Mak Tuo masih muda (ehm.., 8 thn yang lalu maksudnya), genit dan pecicilan…., maka Mami Uli memberikan panggilan yang lebih fungky.. Hehehe..

So who call me Wowo…?
Samuel, Esther dan Monic, ketiganya anak Mami Uli, serta Ananda putrinya Nhoy, my youngest sister.

Samuel Gading Sisoantunas, alias Uwel, 7,5 yo. He’s named follow our great grand father, Samuel. Uwel adalah anak yang tergila2 dengan robot2an dan segala tokoh imaginer.. Papi David sampai nyaranin Mami Uli supaya mengurangi mainan imaginer, takut Uwel lupa bahwa they’re just imagination…

Waktu masih tinggal dengan Opung di Medan dan Wowo datang berkunjung…, Wowo dan Uwel plus AU (panggilan Uwel dan Ananda pada bang Rio) pergi ke McD yang di Plaza Millenium. Seperti biasa, Uwel pesan menu standar versi Uwel..”1 Ayam, 1 Nasi dan 1 Kowa”. Lagi asik2 disuapin…, tau2 Uwel ngeliat, ada persiapan pesta ultah di situ… Ada banyak balon warna warni, ada pita2, ada badut… dan kue ulang tahun… Dia menghampiri persiapan pesta dan mengamati dengan seksama dari dekat…. Uwel lalu datang ke Wowo.. dan berkata ”Wowo, bisa gak kita ikut ke pesta itu…” Wowo bilang, ”gak bisa Nak.. karena kita tidak kenal sama yang punya pesta, jadi kita tidak diundang….”. Lalu Uwel bilang, ”tapi aku mau datang ke pesta itu… bisa gak Wowo kenalan sama yang punya pesta supaya kita diundang…?”
Gubraaakkk….

Esther Meilissa Maharani, 6 yo. She’s named follow our Mama, Maharani. Waktu dia lahir, kata Mami Uli dan Papi David (yang ikut nungguin), Esther persis Wowo… apa lagi kulitnya…
Ngomong2 warna kulit, dari zaman masih sama2 tinggal di Jakarta, Mami Uli selalu bilang ”Kakak itu kulitnya pink… (tersanjung deh gue…, tapi dengar dulu terusannya), like a pig….. Pig is funny but dirty too”. Whatttt??? Awas ya Mami Uli…!!! Nah begitu yang lahir like a pig…, kita selalu menyebut Esther as a little pig… Hehe… Kalo ketemu Wowo, Esther suka ngomong.. “Ini Wowoku, aku saaaaaaaaayang sama Wowoku.” Ya iyalah, sesama pig kan harus saling menyayangi… Hehehe,

Beberapa bulan yang lalu Mami Uli membawa Esther ke Eye Care Center di Penang… karena mata bidadari kecil ini cenderung jereng.. Ternyata, mata si cantik ini minus 10 dan minus 9…, matanya jereng karena ototnya dia paksa untuk melihat lebih jelas… Oh my God.. Karena dia mengalami lemah penglihatan dari kecil…, Esther gak tau bahwa penglihatannya itu gak seperti orang lain… Mungkin dia pikir, ya memang begitulah segalanya terlihat… Hal ini menjadi jawaban atas pikiran Wowo tentang keberanian Esther naik sepeda-sepedaan di selasaran yang sempit di rumahnya di Samarinda. Wowo heran, kok Esther gak takut jatuh ya…? Ternyata Esther hanya bisa melihat jelas sampai jarak sekitar 1 meter…, jadi dia gak ngerti kalo ada bahaya…. Yang kuat ya sayang… Pasti akan ada kesembuhan buat kamu, kalau Tuhan berkehendak… Mudah2an suatu saat kamu bisa melihat dengan jelas dunia yang indah ini tanpa kacamata…

Esther punya cerita lucu… Dia selalu mengucapkan namanya dengan Esthe… (e nya lembut seperti mengucapkan huruf e pada kata ”sekali” dan tidak diikuti huruf r). Waktu liburan ke rumah Odang dan Enek di Medan… Esther disapa oleh seorang opung2 yang masih kerabat keluarga…
Si opung bilang.. ”Aduh cantiknya… siapa namanya ?”
Esther dengan senyum manis menjawab ”Esthe…(dengan e yang lembut dan tanpa r)”
Si Opung bilang, ”Esther (dengan e dan r yang keras khas orang batak…)??? Bagus kali namanya…”
Esther bilang ”Bukan Esther (dengan e dan r yang keras), tapi esthe (dengan e yang lembut dan tanpa r)”
Si Opung jawab… ”Iya, tau lah aku. Si Esther (dengan e yang keras) namamu, kan?”
Esther desperate….. lalu teriak… ”Kepi (Kak Evi, pengasuhnya), namaku esthe (dengan e lembut dan tanpa r) bukan esther (dengan e dan r yang keras)…” dan dia langsung lari dengan muka cembetut…..
Opung itu gak tau kalo Esther kan bukan orang batak. Esther itu orang Samarinda, jadi e-nya lembut… Kalo ngomong aja Esther suka pake ”Iya na? Iya kalo…” Hehehe….

Monic….? She’s 1.5 yo. Nama lengkapnya Monicca Nathalizabeth Hasianna Sinambela. Waktu Wowo bilang ke Mami ”kok namanya kaya merk lapis legit?”.. Mami dengan ngikik bilang…”sembarangan deh si Wowo, itu nama dari Papinya, lagi….!!! Jadi dilarang protes dan dikomentari…” Wowo langsung menelan ludah…, ups…!!!

Wowo belum banyak berinteraksi dengan si cilik ini.. Terakhir Wowo berkunjung, Monic masih lebih banyak bersama Kepi yang mengurus dan merawatnya… Btw, Monic benar2 mirip Papinya… Tampangnya Batak banget… Hehehe..

Ananda..? Ya, ada dua Nanda di keluarga.. Yang satu laki usia 23yo, yang ini perempuan and will be 6yo pada bulan Juli ini, dan nama lengkapnya Ananda Deandra…
Ananda is my little shining star…., She’s very very pinkie & barbie lover.। adore her very much… Mengamati dia bermain dan senam pagi dari balik pagar sekolah bisa membuat air mata Wowo mengalir… Karena berharap dia akan tegar dan bahagia sepanjang umurnya…

Nanda punya keyakinan bahwa Wowo mencintai dia tanpa reserve… Waktu ketemu kak Ira di Sipirok bulan Desember 2006, kak Ira menggoda dengan bilang ”Kok Nanda sayang dan nempel terus dengan Wowo..? Wowo itu judes dan galak lho…!! Nanda langsung menjawab dengan suara keras dan tegas… ”Manalah mungkin…??? Wowo itu baik, dia sayang dengan aku. Kalau datang, dia selalu bawa aku jalan2, selalu beliin aku baju, buku… Dia selalu urus aku”. Gubraaakkk, kak Ira pingsan. Makanya…, jangan coba2 ngejelekin Wowo yang udah jelek…. Hehe.

Wowo sangat menikmati mengurus Nanda pada saat2 libur ke Medan… She makes me feel like a mother… Mulai dari tidur bareng, bangun, mandiin, pake baju, antar sekolah, jemput lagi, jalan2 di mall dst ds..

Saat2 yang paling menakjubkan adalah saat2 Nanda menyandarkan tubuhnya ke Wowo…, lalu mengulurkan tangannya untuk memeluk leher Wowo dan dengan mata penuh sayang berkata.. ”Wowo, aku sayang lho sama Wowo…” How sweet my little bunny… Dunia rasanya damai…. rasanya Wowo akan rela melakukan apa saja buat kebahagiaan my little shining star… ***

Menikah….????


Sudah 2 kali Ira bilang ke Tati… “Kita selalu pergi ke pesta perkawinan orang… tapi kok kita gak pernah ngadain pesta perkawinan.. Ayolah Ti…, cepat lah menikah, biar kita bikin pesta…., rumah kita akan ramai.. Ira akan punya adik kecil…”. Gubraaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk… Tati rasanya langsung pingsan 7 ari 7 malam…

“Apa lagi sih ‘Ndha ? Apa yang ditunggu2 ? Mau cari yang kayak apa sih ? Jangan terlalu banyak pilih lah…!!!” adalah beberapa kalimat dari sederet kalimat yang sering kali diucapkan orang2 di sekitar Tati…
Anyway…, buat Tati itu artinya orang2 itu perduli dengan Tati, sayang dengan Tati… Terima kasih dari lubuk hati terdalam… (I really mean it..).

Tapi menikah kan tidak semudah seperti saat beli baju di Mall, “liat2, pilih2, fitting, cari alternatif, lalu ambil keputusan dan bawa ke kasir…” Pilih baju memang pake rasa… tapi memutuskan untuk menikah pasti membutuh rasa yang berjuta kali lipat….

Bahkan Tati pernah baca di blog Bunda Zidan dan Syifa kalimat..
“Jangan nikahi orang yang kamu pikir kamu bisa hidup dengannya…
Tapi nikahilah orang yang kamu pikir kamu gak bisa hidup tanpa dia…”

Apa lagi sih ‘Ndha?
Tati bingung untuk menjawab pertanyaan ini… Karena gak tau apa yang sudah ada, dan apa yang lagi (what else)..? Karena rasanya gak pernah menetapkan suatu standar harus begini harus begitu (dalam artian materi…), baru akan menikah…

Apa yang ditunggu2…?
Rasanya gak ada ya… Rasanya Tati enggak menunggu seseorang dari masa lalu untuk kembali…, karena dia sudah melanjutkan hidupnya…, dan tati harus menghargai pilihannya.. Kalaupun ada yang ditunggu…, adalah seseorang yang bisa bikin tati terpana karena chemistry yang kuat… Ehm.. hm.. Masih ada stok gak ya di luar sana…??? Paketin ke Tati satu aja… Hehe…

Mau cari yang kayak apa ?
Waduh ini pertanyaan yang sulit…, selain karena Tati memang jarang memikirkannya.. juga sulit mendeskripsikannya… Tati pikir setiap orang pasti akan mencari calon pasangan yang ada chemistry-nya…, punya visi yang sejalan, punya rasa humor dan hobby yang click…, sehingga akan bisa menikmati lebih banyak kebersamaan… dan most of all.., Tati mencari orang yang punya pengetahuan agama lebih dari Tati… supaya bisa jadi imam sekaligus guru pribadi…. Tati juga nyari teman buat berbagi cerita, beradu argumen (dan terkadang berantem) di sepanjang sisa umur..! Ups..

Jangan terlalu banyak pilih lah..!!!
Wah…., kalimat ini bisa bikin kuping Tati tegak, menahan rasa tidak suka..
Ini kalimat yang menurut Tati sangat tidak senonoh… Hehehe.
Aneh aja kalo diri kita yang satu-satunya ini, kehidupan yang luar biasa ini harus dibagi dengan sembarang orang… Tati percaya ada banyak orang baik di luar sana… tapi jumlah orang yang tidak baik juga cukup signifikan… (buktinya berita di Busser tetap banyak…).
Ya waspada aja kali yaaaa, semoga Allah SWT melindungi.
Tapi kalimat ini juga bisa berarti positif lho…, artinya “Jangan ngarapin Mel Gibson or Al Pacino… jangan ngarapin laki-laki yang punya rumah di sepenjuru dunia…. jangan ngarapin laki-laki yang punya puluhan mobil mewah…, jangan ngarapin laki-laki yang seperti superman, yang akan datang untuk menyelamatkan dunia dari segala bencana, dst dst dst, cukup mengharapkan seorang laki2 yang bisa membimbing menuju kebaikan dunia dan akhirat, seorang laki-laki yang mau berbagi rasa duka, duka, duka dan suka…” Suit suit…!!!

Ya mudah2an aja, keinginan Ira segera terkabul… Atau jangan2 Abang atau Nanda yang akan nikah duluan dan bikin rumah ramai…. Who knows…**

Papa Seluler…

Setiap hari… sebelum jam 8 pagi…, hp Tati berbunyi tit.. tit.. tit.. tit..
A message received…

Abang2, kakak2 dan teman2 pasti tau MQ Seluler atau mungkin Teh Ninih Seluler…. Itu mah biasa… tapi kami para anak2 Papa.. punya sesuatu yang pribadi dan sangat istimewa… : “PAPA SELULER”
Yap…, setiap pagi kami anak2 Papa masing-masing akan mendapat kiriman SMS dari Papa..
Isinya…: nasehat, ajaran agama, kabar2i keluarga serta ditutup sebaris kalimat “Doa Papa Menyertai Anak-anak Papa”…

Rasanya pagi hari belum sempurna sebelum menerima SMS Papa.

PAPA SELULER dioperasikan dengan menggunakan hp tipe yang sangat sederhana, hadiah dari Papi David. Papa bilang, Papa gaptek, jadi gak mau yang ribet… Papa punya hp setelah dipaksa2… Berkali-kali anak2nya ingin membelikan tapi selalu ditolak…
Padahal kita ingin Papa punya hp supaya mudah mengakses beliau.. Telpon rumah gak cukup karena Papa meski sudah 12 tahun pensiun sebagai PNS, mobilitasnya luar biasa… Belum lagi hobbynya naik scooter, yang bikin kita cemas takut beliau disrempet di jalan2 Kota Medan yang mengerikan.. Pernah dengar kan istilah “Ini Medan, bung…!!”

Papa baru mau punya hp setelah Aldy bilang, “Kalo Odang (singkatan dari Opung Godang) gak punya hp, aku gak bisa kirimin Odang SMS…, mana cukup pulsaku buat telepon Odang, Medan kan jauh dari Samarinda ” Ucapan cucu memang lebih efektif dari pada anak, hehehe..

 


Suatu hari, sampai jam 12 siang Tati belum menerima SMS dari Papa…
Tati mulai gelisah…
Tati lalu mengirim SMS ke Papa “Papa apa kabar? Kok belum kirim SMS pagi ini?”
Tit.. tit, report masuk…. Message Failt to Send…
Waduh… Ada apa ya…?
Tati mendial nomor telepon rumah Medan… 061 786… sekian sekian..
Tapi nobody picked up d phone… Hati Tati makin risau… Papa dan Mama kemana ya…? Ada apa ya…? Jangan2 Mama dirawat di RS lagi nih… Sejuta dugaan berseliweran di kepala… Tati lalu mendial nomor hp Papa…. 0815 sekian sekian…
Terdengar suara operator “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”..
Waduh makin gelisah lah…

Trink…!!!! Tiba2 Tati ingat untuk tanya ke Tante Po, adik Tati yang masih tinggal sama Papa dan Mama..
“Vo, Papa apa kabar ? Kok gak kirim SMS pagi ini? Terus waktu kakak telepon hpnya gak aktif.. Kakak kan jadi cemas. Mana ditelepon ke rumah juga gak ada yang angkat… ”
Tante Po bilang… “Papa kehilangan hp sejak kemaren siang kak… Kayaknya jatuh… Udah beli gantinya tadi malam, tapi gak ada yang jual seperti punya Papa yang lama.. Papa jadi mesti belajar lagi cara makainya… Makanya belum bisa SMS. Terus kemaren Papa dan Mama pergi ada acara jadi gak di rumah waktu kakak telepon…”

Alhamdulillah… Papa dan Mama dalam keadaan sehat dan tidak kurang apa pun.. Bagi Tati, PAPA SELULER bukan sekedar SMS, tapi harapan, doa orang tua… dan pengingat bahwa Tati dan saudara2 Tati begitu dicintai oleh Papa dan Mama.. Semoga Tuhan mencintai Papa dan Mama melebihi cinta mereka pada kami anak2nya… Amin.. ***

B….O…..U…..

Apa itu “BOU”…? BOU itu singkatan dari kata NAMBORU, artinya saudara perempuan ayah. Kalo bukan ethnic batak dan turunannya, pasti agak asing dengan kata ini…, kecuali yang sering ke pasar tradisional yang banyak penjual sayur dan buah berasal dari ethnic batak…. atau mungkin yang pernah nonton drama “Pariban dari Bandung” di TVRI jaman bahuela…. Hehehe.. Biasanya penjual sayur dan buah suka menjajakan dagangannya dengan kalimat, “Sayur, Namboru…” atau “Buahnya, Namboru”..

Namboru juga pangilan menantu perempuan bagi mertua perempuannya. Kok bisa…? Dalam adat Batak, jodoh yang terbaik bagi seorang perempuan adalah anak laki-laki dari saudara perempuan ayahnya, dengan kata lain anak Namborunya, atau istilah populernya Pariban… Kenapa para pedagang itu pakai kata NAMBORU? Mungkin si tukang sayur atau buah berharap kalau dia menyapa calon pembeli dengan Namboru alias mertua, si pembeli akan merasa akrab lalu menghampiri dan membeli dalam jumlah banyak. Bisa aja…!!

So who call me Bou ?
Vania dan Davina (alm), kedua putri bang Rio, lalu Aldy, Abby dan Abner, ketiganya putra David, my youngest brother.

Vani saat ini berusia 3.5yo, lengkapnya Vania Lardes. Cerewet dan lincah.. Tante Po bilang, kalau dilarang sama Papanya, Vania dengan cepat dan suara manja menjawab ”Ya, Papa”, tapi ziunkkk….!!!! Dalam sekejap mata dia sudah melesat mengikuti kata hatinya… Tinggalah Papanya terbengong2 lalu lari mengejar… Hehehe.

Beberapa hari yang lalu, menjelang pulang ke kebun setelah mengantar Vina (alm) ke Sipirok, Vani bicara dengan Bou di telpon, dia bilang…”Bou… kakak gak mau pulang lagi ke kebun.. Kakak mau di Medan aja…”. Mungkin karena di kebun sepi kali ya… apalagi setelah gak ada Vina… Bou bilang, ”Ya udah Kakak nanti sekolah sama Bou aja di Pekanbaru…”. Dia langsung jawab dengan suara melengking heboh… ”Iya Bou, Kakak mau Bou…! I love You Bou…!”.. Nangis deh Bou dengernya… I love You Too, Honey..

Aldy, 10yo.. Dia diberi nama mengikuti nama Papa “Arden Thoman” ditambah dengan Denaldy plus Siregar. He’s very serious boy with good manner tapi juga suka bergaya…, rada modis dan cinta kamera.. hehehe.. Aldy loves science… Kata Maminya, kalo ke Gramedi pilihan bacaannya adalah National Gegraphic… What???? Aldy akan segera menelpon Bou kalau kiriman buku science buat anak2 dalam bahasa Inggris dengan gambar yang meriah sampai ke tangannya. Kata Mami Nana, Aldy dan juga Abner gak bisa ditahan buat menunda membuka paket.. Dasar anak2…

Aldy belajar membaca di usia dini (sekitar 4yo) dengan cara yang ”ajaib” Setelah membaca koran di pagi hari, Papinya memberikan koran tersebut pada Aldy, dan Aldy belajar mengenal huruf dari situ.. Aldy jadi bisa baca sekaligus ”cerdas”… Suatu hari Aldy bertengkar dengan Papinya… karena tidak mendapatkan apa yang dimaunya… Aldy bilang ke Papi, ”Papi akan aku laporkan ke Komnas HAM karena telah melanggar hak azaziku”…. Papi yang sebenarnya terkejut2 tapi tetap harus bersikap tegas, menjawab ”Silahkan saja, Komnas HAM jauh di Jakarta, sebelum kamu sampai di Jakarta Papi duluan akan laporkan kamu ke Polisi di Samarinda sini karena pencemaran nama baik…”Duuugggg…… Skor satu sama॥!!!


Abby, 7yo…, lengkapnya Axel Nathaniel Wiranandra Siregar… Abby paling senang jalan-jalan… Kalo ketemu Bou, selalu bilangnya ”Bou, dek Abby belum pernah ke sana, dek Abby belum pernah ke sini…”। Padahal dia sering ke tempat2 itu… Dia hanya ingin ajak Bou ke tempat2 dimana dia biasa main… (I miss U, jagoan!!!!)


Abner, 4 yo, lengkapnya Abner Harryndra Naiara Siregar. Dek Abner adalah penyembuh rasa lelah Bou…
Beberapa minggu yang lalu, ketika rasa lelah tidak tertahankan, Bou menelpon ke hp Papi David… Papi bilang Papi lagi di jalan… Nanti ditelpon balik… Setengah jam kemudian, hp Bou berdering, dari nomor telepon rumah Papi di Samarinda…
Begitu diangkat terdengan suara Abner, ”Halo Bou… Bou kenapa ? Kata Papi Bou lagi pusing…”
Wezzzzz dada Bou rasanya langsung lapang…, ringan…., beban di pundak terangkat..
Bou jawab ”Bou gak apa2 dek, cuma kecape’an kerja..”.
Abner bilang ”Jangan capek2 donk, nanti Bou sakit”.
Bou bilang ”Dek, kalo disuruh Boss, kita harus nurut.. Gak bisa suka2 kita..”. Abner menjawab ”Bou bilang aja sama Bossnya ”MAKSUD LHOE?””….
Bou nanya, ”Kok gitu dek ngomongnya? Mana boleh..”.
Abner menjawab ”Ya iya, maksud boss apa nyuruh2 Bou, emang gak ada yang lain ya…?”… Gubraaaaaak…..
Tapi kata Papi, saat itu dek Abner memang terkena demam ”Maksud Lhoe”, setelah dia nonton sinetron di kantor Papi dan Mami.. Papi dan Mami kecolongan.., karena di rumah mereka sinetron dilarang tayang..
Kali lain, Abner mengadu… ”Bou, Papi itu baik lho… Tapi kata Papi kalau nakal aku akan dipang sampai ke awan….” Halah dek …. ***

Ponakan dan Ponakan

Aku merasa ponakan2ku lah yang membuat hidupku berwarna…
Enggak kebayang gimana rasanya kalau gak ada mereka dalam hidupku…

Sebagian besar ponakanku hidup di kota yang berbeda denganku… Tapi, thanks 4 Graham Bell karena telah menciptakan telepon… thanks para penemu dan pembangun fasilitas transportasi canggih sehingga telah mebuat aku bisa mengunjungi ponakan-ponakanku.. dan alhamdulillah atas rezeki yang diberikan Allah SWT yang Maha Pemurah yang membuat aku punya banyak kesempatan bertemu dan berkomunikasi dengan ponakan2ku..

4 dari 13 ponakanku memanggilku TATI.., mereka anak2 kakakku Lintje, mulai dari yang besar :
Parlindungan Ravelino alias Dungan (baca : Dan-gen Mc Leod, the Lord of Durian Land) alias Abang, 26yo gonna be 27 next July.

He’s very very JADUL style maniac…, rambut ikal dan gondrong plus celana ketat… (halah abang….!!!!), so seventies banget!!

Masa awal kuliah di Ars UNPAR tahun 1999an, abang selalu bikin tingkat kecerewetan Tati meroket… Mulai dari urusan bersih2 kamar kosnya yang ancur banget… (sprei warna putih bisa jadi berwarna coklat susu, lalu pakaian dalam, coklat dan kripik sambel kiriman Mamanya berbaur di lemari pakaian…).

Belum lagi Tati mesti berangkat dari Yogya ke Bandung karena abang pacaran melulu. Pokoknya kalo Mamanya udah nelepon dan bilang “Ti…, tengok anak donk…!!!”, maka Tati akan segera mencuri-curi jadwal kuliah di Yogya buat lari ke Bandung…., padahal beberapa kali sampai di Bandung Tati diasemin, karena abang gak terima dibilangin… Ancur Mina…, rasa pegel akibat perjalanan Yogya – Bandung berlipat seribu kali. But… that’s what a Tati are for… , taking care para ponakan… Tapi abang sekarang sudah jauh lebih dewasa… Rasanya senang banget, meski di dalam hati tercetus… “Oh God, How old I am….”

Barumun Nanda Aditya alias Nanda, 23yo. Sebenarnya Nanda adalah my first baby, karena sejak usia 2 minggu setelah mimik sekitar jam 2 malam dia diantar Mamanya buat tidur dengan Tati.. Tati gak ingat bagaimana kebiasaan itu bermula… But he was a nice baby…, karena gak pernah nangis dan bikin Tati terbangun.. meski tiap pagi popoknya udah basah… hehehe.
Nanda adalah ponakanku yang paling apa adanya kalau bicara…. Prinsipnya : “Biar Mama, kalau salah harus dikasi tau..”. 

Nanda adalah ponakanku yang paling awal sadar tentang “Apa Yang Dia Mau”. Dari dia masih di SMP dia udah bilang, “Kami nanti mau jadi sutradara”, dan memang itu yang dia upayakan… Dia memilih untuk kuliah di jurusan sinematografi di IKJ, jurusan yang gak pernah ada dalam semesta pembicaraan keluarga kami sebelumnya…

Nanda juga yang paling berani pacaran terang-terangan, dan yang mula-mula membawa pacarnya buat main di rumah… Satu lagi…, Nanda juga yang paling itung2an soal duit… Kalau dia minta duit ke Mamanya dan Mamanya belum sempat transfer itu artinya Mama berhutang pada dia (gimana cara ngitungnya sampai bisa begitu ya…hehehe..)

Sornong Maulana alias Olan, 19yo. Olan adalah anak dengan hati dan pipi yang sangat lembut…, sampai Tati dan Mamanya memanggil dia ‘Pipud alias Pipi Puding” karena pipinya memang lembut, dan kalau dicium bikin kita serasa tenggelam dalam seember puding.. Hehehe. Tapi sekarang puding udah lenyap seiring dengan datangnya masa mahasiswa…
Biar Olan lembut dan baik banget, tapi jangan coba2 nyakitin hatinya…. satu dua kali dia diam… kali berikutnya…. segala dosa masa lalu kita bisa berhamburan di sela-sela tangisnya…. Hebatnya, dia gak pernah dendam tuh… apalagi membalas sakit hati, jauh banget…
Tati gak ngerti cara belajar Olan…, dia selalu terlihat santai dan tenang…, gak kayak Tati zaman dulu yang panik kalo mau ujian… Waktu masih di rumah, biar besok mau ujian, kalau Olan lagi pengen nyantai dia akan main drum… Yang pasti dia udah menemukan cara belajar yang efisien dan efektif… Mudah2an kuliahnya yang sudah tahun ke3 di Matematik ITB bisa diselesaikan dengan baik dan bisa menjadi bekalnya di masa depan…. Amin।


Ira Menmenita alias Ira, 17yo adalah d only girl in home.. She’s good in cooking.., sehingga kita menyarankan dia untuk kuliah di bidang perhotelan jurusan culinary, supaya suatu saat nanti dia bisa kerja sesuai dengan bakat dan hobbynya…

Saat ini Ira sedang membutuhkan perhatian yang sangat besar… Pengaruh Peer Group sangat kuat pada Ira. Mamanya harus sangat sabar dan berjaga-jaga…. kalau Mama sudah pusing, maka telepon Tati akan berdering…. “Ti, Ira begini… Ira begitu….”.

Ira juga membuat Tati berpikir betapa zaman sudah berubah… Dulu Tati takut banget sama yang namanya orang tua…, Tati patuh banget sama yang namanya aturan keluarga…. Prinsip Tati “Bandel tapi dalam koridor”.. artinya tetap serius dengan yang namanya sekolah, meski sekali-kali bolos buat have fun ama teman2… Kumpul2, party2 iya juga… tapi gak ada ceritanya magrib di luar rumah… Keluar malam, hanya boleh kalau diantar orang rumah, atau dijemput oleh teman yang orang tuanya dikenal baik oleh ortu…, kalo gak jangan harap…
Keluar malam bawa kendaraan sendiri ? Gak ada ceritanya tuh…
Anak sekarang kayaknya lebih “bernyali” buat menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman2nya di luar rumah…

Mudah2an putriku yang satu ini bisa segera mulai dewasa, bisa membedakan yang baik dan buruk…, bisa segera membuat rencana mau kemana tahun depan setelah tamat SMA. Tati berharap suatu saat Ira menjadi perempuan yang bijak, berperilaku terpuji, cerdas, intelek dan punya kegiatan produktif baik dari segi finansial maupun untuk peningkatan wawasannya… ***

Deviena Lardes…

Delapan hari yl… tanggal 4 Juni 2007 sekitar jam 18.30 WIB hp ku berdering…. Ternyata dari abangku, Rio… Bang Rio bilang “Ndha, Vina sakit… tadi dalam perjalanan ke rumah sakit, dia udah gak sadar, sekarang dia comma. Rencana, begitu kondisinya stabil abang akan bawa dia ke Medan… Doain Vina ya ‘Ndha”. Klik telpon terputus…

Davina… putri ke dua abangku, lahir tanggal 29 Mei 2005. Waktu Vina berusia sekitar 6 bulan, bang Rio telepon “Ndha kamu cuti gak saat lebaran? Kalau cuti kamu ke tempat abang ya…, Vina tuh gampang banget sakit.. Kata orang tua2 di tempat abang tinggal itu karena Vina mirip banget ama Mamanya, dia sebaiknya “dijual”. Abang sebenarnya gak percaya yang begituan…, tapi dicoba aja lah… Abang pengen jual dia ke kamu, ‘Ndha.”

Beberapa hari kemudian, aku dengan ditemani Papa pergi ke tempat bang Rio di Rantau Prapat, lebih kurang naik mobil 7 jam dari Medan. Mereka tinggal di permukiman khusus pengelola perkebunan sawit tempat Bang Rio bekerja… Suasananya nyaman seperti di pegunungan…, fasilitasnya lumayan… hanya saja jauh dari jalan besar… Untuk sampai ke jalur trans Sumatera butuh waktu 40 menit…, lalu 30 km lagi baru sampai ke Kota Rantau Prapat.

Lalu aku pun “membeli” Vina, dengan uang tebusan “Lima Puluh Ribu Perak”, karena uang itu hanya syarat bukan dinilai dari nominalnya… Setelah dibeli, Vina tetap tinggal dengan Papa dan Mamanya, ecek2nya dititip di sana….

Aku pun kembali ke kehidupanku… dan tidak bertemu lagi dengan anakku yang satu ini sampai bulan Desember 2006 yang lalu. Hal ini karena waktu kunjungan ku ke Medan gak klop dengan jadwal libur bang Rio…

Karena Vina masih bolak balik sakit, sekitar pertengahan tahun lalu bang Rio akhirnya membawa Vina ke Medan untuk general check up. Hasilnya…, menurut dokter katub jantung Vina belum sempurna pada saat dia lahir…, sehingga darah bersih dan darah kotor sering bercampur… akibatnya daya tahan tubuhnya lebih rendah, gampang sakit, pertumbuhan akan lambat dan membutuhkan perawatan ekstra… Kalau memungkinkan sebaiknya dioperasi….

Dalam perjalanan libur keluarga ke Sipirok pada bulan Desember 2006, kami singgah di rumah mertua bang Rio di Siantar… Abang dan keluarganya sedang berlibur di sana… Di situ aku bertemu lagi dengan Vina, my baby… Dia jauh berkembang dari yang terakhir aku lihat… tubuhnya nampak tinggi dan mulai lincah merangkak… Matanya hidup berbinar… Rambutnya ikal… She’s so beautiful meski masih terlihat agak rapuh… Harapan bahwa dia akan tumbuh seperti anak2 lain berkembang di hatiku….

Setelah berkali2 menelpon dan gak masuk2… sekitar jam 20-an tangal 04 Juni 2007, aku berhasil menelpon bang Rio… Begitu diangkat, bang Rio langsung bilang, “Vina baru aja jalan ‘Ndha. Dia udah gak ada…..” Rasanya pikiranku blank….

Semalaman aku tidak bisa membayangkan wajah Vina… dan entah mengapa aku belum punya selembar pun foto Vina…. Esok malamnya, baru aku bisa mengingat wajah Vina yang polos dan senyumnya yang lucu….

Jenazah Vina dibawa pulang ke Sipirok… dan dimakamkan di pemakaman keluarga… Disamping makam leluhurku, leluhurnya juga…
Rest in peace, baby!! We always remember and love you…

TATI

Tati ? Apa itu “TATI”…

Kalo abang2, kakak2, mas2 dan mbak2 menyusuri Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tati yakin tidak akan menemukan arti kata ini… Apalagi dalam kamus bahasa Inggris…

Kata Tati sebenarnya berasal dari kata Tante…, kata ini diciptakan oleh Parlindungan alias Dungan alias Abang, ponakan Tati yang paling besar pada saat dia baru belajar bicara…. (kapan ya itu ? rasanya baru kemaren…. tapi Abang saat ini sedang sibuk ngerjain thesis buat menyelesaikan program S2 Seni Rupa di ITB.. Where have the days gone…..) Karena belum bisa mengucapkan kata-kata secara benar…, maka yang berhamburan dari mulut Abang adalah sejumlah kata-kata baru… yang entah kenapa sering kali menjadi “kosa kata abadi” di lingkungan keluarga….

Herannya, meski kemudian Abang udah fasih mengucapkan beribu-ribu kata… Kata “Tati” tidak pernah hilang atau berganti menjadi Tante… Dan tiga orang adik2nya yang menyusul lahir jstru ikut memanggilku “Tati”… Bahkan teman2 mereka juga memanggil “Tati”.

Panggilan Tati, juga punya cerita lucu…

Suatu siang di tahun 1986an, di tempat kos2an di Jl. Cirahayu 4 Baranangsiang 3 Bogor 16143, Tati dengar Miko teman sekos Tati berteriak di ruang makan…

“Woi…, ini kayaknya ada surat salah alamat…., suratnya kepada Tati… dari Abang. Di sini kan gak ada yang namanya Tati… Tapi alamatnya bener lho… Kita kemanain ya?”

Ternyata Miko abis ngambil surat2 dari Kotak Pos, dan menyortir berdasarkan nama penerima…
Biasanya pak pos nganter surat ke Cirahayu 4 segepok, karena rumah ini dihuni 9 anak kos yang semuanya doyan surat2an.., mana zaman itu belum ada email apalagi sms, bahkan telepon pun yang katanya udah tinggal kring sampai kita keluar dari tempat kos itu gak juga kring-kring. Jadi surat adalah benda yang ditunggu-tungu para anak kos…

Gak lama Miko ngomong lagi…
“Tapi kok surat ini dari Pekanbaru ya? Mana tulisannya acak ablak…! Siapa sih yang namanya Tati?”
“Lu kenal anak Pekanbaru yang namanya Tati gak Sondh?” teriak Miko ke Tati yang masih beres2 di kamar sepulang kuliah..

Tati dengan polos tanpa pikir panjang, cuma dengan modal mengingat-ingat nama teman2 dari Pekanbaru yang juga kuliah di Bogor menjawab “Kayaknya kagak ada deh ‘Ko…. Iya setau gue gak ada yang namanya Tati”.

Miko lalu bilang, “Ya udah gue tarok di meja makan aja ya… Kali-kali suatu saat kita tau ada anak yang namanya Tati di dekat sini”

Setelah selesai beres2, ganti baju cuci kaki dan tangan, Tati nyusul Miko ke ruang makan… Sambil makan, Tati iseng pengen tau surat salah alamat yang diributin Miko…

Tulisan di amplop itu tulisan orang yang baru belajar nulis… asli ancur banget…

Di bagian depan amplop tertulis :

Kepada Yts. TATI
Jl. Cirahayu 4 Baranang Siang 3
Bogor 16143

Di bagian belakang tertulis :
Dari Abang
Jl. Durian No. 78 Pekanbaru

Masya Allah, ini kan alamat rumahku….

Ternyata itu surat dibuat si Abang yang baru bisa menulis… dan mencoba menulis surat buat Tatinya… Dia gak tau kalo di luar rumah, gak ada yang kenal Tatinya dengan nama “Tati”.., orang kenal Tatinya sebagai “Sondha”.. Gubrak….

Btw… thanks 4 the letter, honey…
I still keep it in my magic box….

Tatinya-anak-anak

Continue reading