Ngobrol @ Dijan’s

Dijan’s… Apa itu…?

b3 @ Dijan's1

@ Dijan’s pannekoeken & poffertjes, Kemang.. L – R : Ati Lubis, Sondha Siregar & Linda Ramalah Omar

Dijan’s atau lengkapnya Dijan’s pannekoeken & poffertjes adalah nama sebuah cafe yang berlokasi di Jl. Kemang Selatan, Jakarta..

Ceritanya setelah kelar dari Cafe Zamrud, aku, Linda, Veny & Ati pengen nyari tempat duduk2 santai buat ngobrol.. Setelah bingung dan bingung, Linda menyarankan untuk ke Dijan’s…

Tapi karena malam minggu, hujan pula.. Tidak mudah bagi kami untuk mencapai daerah Kemang Selatan.. Mana kami sempat jalan2 dulu ke Tebet dan Kebayoran Baru, sambil ngobrol di mobil… Hebat bukan, 4 emak2 keliaran malam minggu.. Hehehehe…

b4 @ Dijan's2

seperti rumah kost di Jl. Pangrango 16 Bogor… L – R : Linda Ramalah Omar, Veny Angrijani, Ati Lubis & Sondha Siregar

Begitu sampai di parkiran Dijan’s aku langsung tersepona eh terpesona.. Why…? Karena arsitektur bangunan yang digunakan untuk Dijan’s persis seperti rumah tempat kost aku dan Linda saat kuliah di Bogor.. Rumah di Jl. Pangrango 16 yang sekarang dijadikan Met Liefde Caffee… Bedanya lahan Dijan’s berkontur dan bangunannya berlokasi di bagian yang tinggi di sebelah dalam lahan, sementara rumah di Pangrango 16 berlahan relatif datar di bagian depan, berkontur justru di bagian belakang yang merupakan service area..

Dijan’s poffertjes…

Dijan’s menawarkan Holland Cuisine…, antara lain sebagimana yang tercantum di nama caffeenya, pannekoeken & poffertjes.  Interior dan perangkat hidangnya juga Holland bangetzzz… Di salah satu pojok ruangan terdapat lemari pajang yang berisi koleksi miniatur windmill.. Lucu2…

Suasananya nyaman bangetzz buat ngobrol… Karena sebenarnya udah kenyang setelah menikmati Arabian Cuisine di Cafe Zamrud, kami hanya memesan 3 teh anget, 1 lemon tea anget, plus seporsi biterballen dan poffertjes untuk teman ngobrol…

b4 @ Dijan's

ngobrol @ Dijan’s.. L – R : Veny, Linda, Ati & Sondha…

Kami lalu ngobrol ke sana ke mari… Berputar2 antara masa kini dan masa lalu di Bogor… Bercerita tentang teman2… Rasanya nyaman sekali berkumpul dengan teman2 yang 3 ini.. Sebagaimana Ati bilang, “Ngobrolnya enak, santai, apa adanya.. Sementara dengan teman2 lama dari suatu kelompok lain rasanya melelahkan karena ada yang snob, ada yang ngomong seenak perut tanpa mikirin perasaan orang lain…” Hehehe..  Ya iya lah.. Kami telah berteman lama sekali, lebih dari 20 tahun.. Kami sudah tahu pasang surut kehidupan masing-masing, dan gak perlu lagi bergengsi-gengsi yang gak perlu… We are friends for each other.. Persahabatan yang langka di hari gini, yang perlu dipertahankan sampai tua…

b4 @ Dijan's1

bersahabat… semoga sampai tua yaaa…

Kembali ke Dijan’s…

Dijan’s biterballen

Biterballen-nya enak… Rasanya mirip banget dengan biterballen di Resto Puncak Pass yang terkenal itu… Poffertjes-nya juga enak.. Jadi ingat beberapa tahun yang lalu di Pondok Indah Mall ada caffee yang juga jual masakan jadul termasuk poffertjes.., tapi kayaknya sekarang udah gak ada lagi…

Belum puas ngobrol, tapi karena udah lewat jam 11 malam (kami takut jam keburu berdentang sehingga kereta kencana kami menjadi labu.. hehehehe..) Kami pun pulang.., secara kami semua sudah sangat lelah setelah beraktivitas sejak pagi… Lagi pula sebelum pulang ke rumahnya di daerah Tebet, Ati  mengantar aku dan Veny ke daerah Fatmawati, Linda ke Kampung Rambutan.. Kasian dia klo pulang terlalu larut…, terlalu riskan…***

Cafe Zamrud..

Sabtu 19 Februari 2011 sore, aku, Veny, Ati & Mas, ngejemput Linda di kompleks pertokoan Jakarta Theater… Veny, Ati dan Linda yang teman main sejak zaman di Bogor…?  He’ehhh…

Ceritanya aku ada kerjaan hari Senin 21 Februari 2011 di Jkt dan Selasa 22 Februari di Bandung.. Seperti biasa, para teman dan temin ku langsung deehh menga’arrange agar kita bisa ketemu bareng, menikmati happy hours bersama seperti waktu di Bogor 20 tahun yang lalu…  So, aku berangkat lebih awal dari jadwal seharusnya.. Aku berangkat di wiken…

Begitu kumpul, ngblek di mobil Ati, mulai deh ribut membahas mau kemana… hehehe.. Bukannya dari tadi yakkk, sebelum ketemuan… Setelah sempat bingung, dan memarkirkan mobil di tepi jalan di daerah Menteng buat diskusi, akhirnya kita mengikuti saran Linda..

Emang Linda nyaranin apa…?

Cafe Zamrud…

Secara dan telah terbukti sah kalo kita berempat tuh senang dengan Arabian Cuisine, seperti waktu kita tahun lalu jalan bareng di Sing…, Linda ngajak kita ke Cafe Zamrud.. Sebuah cafe kecil di jalan kecil di daerah Jatinegara yang nyediain Arabian Cuisine…

Sumpppeeee, ini pertama kalinya aku sampai ke daerah ini..  Dimana siyyy emangnya…? Di Jalan Mesjid II RT 005/04 No 10. Kelurahan Rawabunga Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.. Supaya gak nyasar, kalo lain kali mo ke sini mesti pake Peta Jakarta buatan Gunther W. Holtorf kali yaaa… Soalnya melewati  1000 belokan ke kiri dan 1000 belokan ke kanan… Hehehehe… Lebayyyyabizzz.com…

Sampai di Jl. Mesjid II, di sebelah kanan jalan yang one way ini, Linda menunjukkan kami sebuah bangunan ruko 2 lantai dengan sign di depannya bertulis “Cafe Zamrud”..

Kami lalu melangkahkan kaki memasuki cafe yang sederhana ini.. Jauh dari hingar bingar musik apalagi kerlap kerlip lampu seperti Hard Rock Cafe.. Jauh bangetzzzzz..  Begitu kami duduk, seorang pelayan menyerahkan pada kami daftar menu yang sederhana, beberapa lembar karton pink yang dilaminating dengan tulisan yang diketik pakai pc…

Zamrud1

@ Cafe Zamrud.. L – R : Ati Lubis, Veny Angrijani, Sondha Siregar & Linda Ramalah Omar

Tapi menu yang disediakan di cafe itu, bukan sembarangan menu.., melainkan menu2 penggoda iman.. Hehehehe… Bagaimana tidak…, yang ditawarkan antara lain :

  1. Nasi Goreng Bombay dengan berbagai varian, yaitu dengan daging kambing, daging ayam, daging sapi atau seafood.

2.  Nasi Goreng Pataya (nasinya dibungkus telur dadar) dengan berbagai varian..

3.  Roti Canai juga dengar berbagai varian…

4.  Martabak dengan berbagai varian…

  1. Gulai kambing

6.  Aneka minuman hangat antara lain teh tarik, kopi2an serta teh2an..

7.  Aneka juice.. dan lain-lain…

Setelah berunding dan berunding, kami memutuskan untuk memesan beberapa makanan untuk dinikmati bersama2… Jadi semua bisa merasakan makanan yang dipesan dan tidak ada yang kekenyangan…

Lalu apa yang kami pesan…?  Kami memesan Nasi Goreng Bombay Seafood, Martabak Ayam, Canai dengan Kari Ayam, Canai Pisang Keju sebagai dessert.  Minumannya, Ati, Mas & Veny memesan teh tarik angat, Linda memesan teh tarik + es, sedangkan aku memesan juice strawberry…

Membuat canai

membuat canai…

Sementara menunggu pesanan, aku sempat melongok ke dapur dan berbicara dengan ibu dan bapak pemilik cafe yang sekaligus jadi juru masak di cafe ini..  Sambil masak mereka bercerita bahwa cafe ini baru berusia 2 tahun.. Sebelumnya mereka jualan dengan gerobak di depan mesjid yang ada di jalan itu…

Lalu apa yang kami peroleh…?

Nasi Goreng Bombay Seafood

nasi goreng Bombay seafood…

Nasi Goreng Bombay Seafood-nya enak banget.. Bumbu kari terutama berupa sauce yang diletakkan di bagian atas tumpukan udang dan cumi yang dicampur cabe ijo besar rasanya top markotop….

Martabak Ayam

martabak isi daging ayam

Martabak isi daging Ayam…? Rasanya juga enak banget… Jarang kan ada orang jual martabak dengan isi daging ayam..  Biasanya daging kambing atau daging sapi atau plus jamur… Tapi bumbunya emang luar biasa…

Plain Canai

roti canai kosong, dimakan dengan kari ayam..

Canai Pisang Keju

roti canai dengan isi pisang dan ditaburi keju… hmmmm.. maknyuusss…

Roti canai…? Canai dengan kuah kari ayam maupun pisang keju juga maknyuuussss… Roti canainya renyah… Mengingatkan pada roti prata di Al Jilani...  Beda memang dengan prata yang hampir tiap hari aku nikmati selama di UAE… yang di UAE lebih tebal, padat namun gurih… Yang ini lebih tipis tapi juga gurih…

teh tarik ala Cafe Zamrud, more spicy…

Teh tariknya…? Aku sebenarnya gak terlalu menyenangi teh tarik.. Gak doyan aja teh dicampur susu.. Buat aku teh, ya teh… Susu yang aku sukai cuma susu strawberry ala Susu Ultra yang sudah didinginkan atau pakai es…. Hehehe… Tapi Linda memaksa aku untuk mencicipi teh tarik ala cafe ini, sehingga aku mencicipinya juga, finally.. Ternyata oh ternyata teh tarik ala cafe ini rasanya lebih enak dari yang pernah diminum baik di Malaysia maupun teh tarik instant yang banyak dijual di toko2 di Pekanbaru.. Spice nya lebih terasa, jahe, cinnamon nya manstaapppp…. Bikin aku pengen mencicipi lain kali.. 4 thumbs up…

Oh ya, sebagai bahan masukan buat teman2.. Dengan pesanan sebanyak yang telah ku ceritakan, kami hanya kena tagihan kurang dari Rp.100.ooo,-.  Kalau gak salah sekitar Rp.80ribuan..  Hari geneeee, di Jakarta…?

Menurut Linda, cafe ini juga menerima orderan kalau ada acara.. Teman-teman bisa mengubungi pemiliknya di 08567760808 atau 087884864051..

Selamat berburu Cafe Zamrud yaa teman2…***

Visiting Our Beloved Uncle..

Kemaren, begitu ngobrol by phone dengan David adikku sesaat aku menginjakkan kaki di Bandara Soeta, David bilang “Kak, sempatin ke Tanah Kusir yaa… Kunjungin Pak Tuo…”

Our beloved uncle…

So, this morning, dengan diantar oleh sahabatku Veny, yang selalu menawarkan kamar tamu di rumahnya buat tempat aku menginap kalau ke Jakarta, aku pergi ke Tanah Kusir… Menziarahi makam abang Papa ku, Janthi Anwar Siregar..

Beliau adalah anak ke 3 dari 4  Siregar bersaudara, anak kedua dari 3 anak laki-laki Pieter Siregar gelar Sutan Barumun Muda, yang berasal dari Sibadoar – Sipirok, seorang guru SMP yang pernah mengabdi di Pematang Siantar, Sibolangit dan terakhir  di SMP Sipirok.. Ibu beliau adalah Menmen Harahap, putri Mangaraja Elias Harahap, seorang pemborong di zamannya, yang berasal dari Hanopan – Sipirok.

Setelah bersekolah di Sipirok, beliau melanjutkan kuliah di UGM.  Awalnya mengambil Jurusan Arsitektur, lalu pindah ke Fakultas Ekonomi dan menyelesaikannya di situ..

Perjalanan karir beliau, tidak banyak detil yang aku tahu… Yang aku ingat dari cerita2 orang tua, beliau tahun 1960-an sempat bekerja di PN Irian Bakti di Irian Jaya.  Lalu mengabdikan diri menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia di Angkatan Darat.  Hanya ada di serpihan ingatan saat aku masih kecil bahwa beliau datang ke Pekanbaru di tahun 1970-an ikut dengan tim pak Soedomo yang memberantas para renternir yang menggerogoti para pensiunan yang mengambil uang pensiun mereka di KPN di Pekanbaru zaman itu…

Lalu setelah aku beranjak dewasa, aku ingat bagaimana beliau menyuruh 4 saudara laki-lakiku, 2 saudara kandung dan 2 saudara sepupu yang merupakan putra kandung beliau untuk hadir pada hari wisudaku di Bogor, dengan harapan kelulusanku akan memotivasi 3 abang dan 1 adik laki2ku itu untuk segera menyelesaikan studi mereka..  Kebayang gak siyyy betapa ramainya anggota keluarga yang menghadiri wisudaku…?

Lalu percakapan2 setelah makan malam sampai larut di meja makan di rumah beliau, ketika kami berkunjung ke sana..  Percakapan2 yang menanamkan rasa cinta pada keluarga, fighting spirit yang kuat untuk maju…  Rasanya akan selalu jadi kenangan yang manis..

Di akhir tahun 1993 beliau sakit dan sempat dirawat di RS. Tebet Jakarta,  Lalu di awal tahun 1994, beliau kembali dirawat..  Pada saat aku membezuk beliau di RS Tebet, beberapa hari sebelum beliau dibawa ke Singapur untuk berobat, dan kemudia berpulang di sana, beliau berkata padaku “Hidup saya gak akan lama lagi, Sondha.. Kamu si kakak buat  adik-adikku.., harus bisa menjaga adik2mu…” Iya saat itu aku adalah anak perempuan tertua dengan 1 abang & 2 adik perempuan yang kuliah di Jakarta, serta 1 adik laki-laki yang kuliah di Bandung.

Lalu, setelah sakit beberapa bulan.., beliau pergi di usia 60 tahun 2 bulan… 06 Januari 1934 – 06 Maret 1994..  May you rest in peace.., We love you… ***

Kumpul keluarga…

L-R : Papa, David, Nanda, Mama, Sondha, Noy & Ivo...

Tahun 2011 baru saja menunjukkan hari ke 19 di bulan kedua…, tapi alhamdulillah aku sudah dapat kesempatan pulang ke tempat Papa & Mama di Medan 3 kali…  Kayaknya belum pernah dehhh kayak gini.. Biasanya setelah libur tahun baru, aku kembali lagi ke rumah sekitar bulan April atau May.., saat libur paskah atau great friday..

Tahun lalu, karena terbenam dengan kesibukan kerja, setelah libur tahun baru aku baru pulang lagi bulan Agustus… Mama waktu itu gak pernah complain atau mengeluh atas ketidakpulangan ku.. Tapi kata adik2 ku, sometimes Mama melamun dan bertanya pada Papa dan adik2ku  “Kok si kakak gak pulang2, ya…? Sibuk banget sama kerjaannya yaa…? “I’m sorry I made U sad, Mom…!!

Dari 3 kali pulang di awal tahun ini, yang paling meriah adalah pulang yang kedua, karena 5 dari 6 bersaudara kumpul…. Cuma adik ku Uli yang gak hadir.. Sayang juga siyyy…

Ngapain aja selama kumpul2…? Apalagi kalau bukan ngobrol-ngobrol…, becanda, ledek2an, bertukar pikiran, makan2… Seru aja pokoknya runtang runtung ramai2..  Apalagi kumpul nyaris komplit ini tidak mudah buat kami yang menetap di kota yang terpisah jauh….

Duduk2 sore di Merdeka Walk saat Imlek Day... L-R : Ivo, Sondha, Noy & Mama

Mudah-mudahan bisa segera kumpul2 lagi yaa…****

Rupat Island…, The Virgin Destination

Me @ d Rupat Bay…

Tanggal 6 January 2011 yang lalu aku dan rombongan kantor pergi ke Pulau Rupat… Mungkin sebagian besar teman-teman gak pernah dengar nama pulau ini, apalagi tahu lokasinya…

Pulau Rupat adalah salat satu pulau terluar dari pulau-pulau yang terdapat di perairan Selat Malaka, yang berbatasan langsung dengan Negeri Jiran Malaysia…  Klo aku lihat di Google-earth, jarak dari Pulau Rupat ke Port Dickson sekitar 50 km-an… Bahkan menurut info yang aku dengar ada acara tahunan, yaitu mandi syafar di Pulau Rupat yang banyak dihadiri oleh warga Malaysia…

Aku ngapain ke sana…? Ngeliat kawasan yang menurut rencana akan dijadikan salah satu destinasi wisata Riau…

Tapi ternyata untuk ke sana butuh upaya extra…, butuh ketabahan.., butuh mengkonsumsi extra Joss 1 karduss… Hahahahaha… Kenapa…? Karena dari Pekanbaru harus pergi ke Dumai dulu.. Waktu tempuh sekitar 3 jam.. *Jauh yaa…? * Itu belum seberapa dengan rasa mabok yang melanda ketika melintasi jalan Pekanbaru – Duri yang seperti grafik sinus.. Aku hanya mampu terdiam dan memejamkan mata.. Menahan sedemikian rupa agar tidak muntah…!!!!

Sampai di Dumai, gak bisa langsung nyeberang… Mesti nginap dulu, karena di Rupat belum ada tempat buat nginap.  Jadi harus kembali di hari yang sama dengan saat kedatangan..  Karena perjalan Dumai – Rupat dengan ferry (dan ini satu-satu transportasi yang tersedia!!!!) membutuhkan waktu tempuh 3 jam, jadi harus berangkat ke Rupat dari Dumai pagi hari.., yaitu jam 09.00 WIB, lalu naik ferry untuk kembali ke Dumai jam 14.00 WIB…

Perjalanan dari Dumai ke Rupat dimulai dengan menyusuri sungai yang di kiri kanannya dipenuhi pohon bakau.., dan berlanjut dengan menyusuri selat selama 3 jam…

Pelabuhan Rupat…

Begitu ferry merapat, yang aku temukan hanyalah pelabuhan rakyat dengan beberapa rumah penduduk berbahan kayu…

Ternyata ini adalah sisi selatan Tanjung Medang.., pantainya di bagian Utara.. Jadi harus nyambung lagi… Naik apa…? Naik ojeg kena beceg, sodara-sodara… Hahahahaha…  Yesssssssss, ojeg is d only one public transport in this island.. Jangan harap akan ada angkot apalagi taxi…  Masih jauhhhhhh….

Menyusuri Rupat naik ojeg kena beceg…

Lalu kami pun melanjutkan perjalan by ojeg kena beceg, menyusuri jalan2 tanah yang diperkeras…, yang di kiri kanannya berupa kebun karet, kebun sawit, ladang, semak dan pemukiman yang jarak rumahnya jarang2…  Tapi most of rumah2 yang kami temui merupakan rumah penduduk beretnis China.. Ini terlihat dari kehadiran tempat2 sembayang dan arsitektur rumah yang khas..

Menurut cerita yang aku dengar, etnis China yang ada di Pulau Rupat ini adalah Suku Akit, yang datang langsung dari dataran China ratusan tahun yang lalu.. Mereka punya budaya dan dialek yang khas…

Pantai Rupat Utara…

Setelah naik ojeg sekitar 20 menitan, kami akhirnya sampai juga di pantai Rupat Utara.. Pasirnya putih…, pantainya panjang banget.. Katanya siyy sekitar 17 km… Tapi sarana untuk menikmati pantainya jauh dari memadai…  Butuh perencanaan, investasi dan strategi pemasaran yang terpadu buat membangun daerah ini menjadi destinasi wisata yang bisa diandalkan… Mungkin skema Kerjasama dengan Pihak Ketiga (dimana Pihak Ketiga membangun dan diberi keleluasaan mengelola daerah tujuan wisata selama sekian tahun, dan pemerintah mendapat bagian keuntungan, lalu diserahkan kembali kepada Pemerintah setelah berakhir masa kontrak) akan lebih efektif untuk membangun daerah ini..

Menyusuri pantai dengan motor…

Selesai memandang-mandang, kami kembali ke pelabuhan dengan naik motor melalui jalan berbeda, kali ini menyusuri pantai…  Hmmmm…. bay safari, ceritanya.. Hehehehe…***

Hidup Tak Pernah Berjalan Mundur..

Masa lalu adalah sebuah kotak kenangan…

Isinya banyak yang indah.., yang mebuat hati menjadi riang, tawa mengalir…  Namun ada juga yang pahit, menyedihkan dan mungkin juga kelam, yang menimbulkan rasa perih ketika mengingatnya, membuat air mata mengalir ketika dia muncul di genangan pikiran…

Tapi Alloh SWT memberikan kita kekuasaan yang sangat besar untuk mengendalikan apa yang mau kita ingat,  apa yang mau kita lupakan atau apa yang mau kita abaikan saja di kotak itu….

Yang jelas, kita harus berupaya menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih taqwa…, karena hidup tak pernah berjalan mundur…. ***

Boru Panggoaran

Boru panggoaran itu dalam masyarakat Batak artinya anak pertama yang berjenis kelamin perempuan, yang namanya digunakan sebagai nama panggilan orang tuanya.. Secara dalam adat Batak, kalau sepasang suami istri sudah punya anak, tidak sopan untuk dipanggil dengan nama mereka, melainkan dipanggil dengan Mama atau Papa nya si “Ucok” (kalo nama anaknya Ucok).  Seperti abangku misalnya, nama panggilan yang sopan buat dia adalah Papa Vania karena anaknya  benama Vania Lardes Siregar.  Adikku David dipanggil Papi Aldy karena anak pertamanya bernama Arden Thoman Denaldy Siregar dengan nama panggilan sehari-hari Aldy.  Dan adikku Uli dipanggil Mami Samuel, karena anaknya yang pertama bernama Samuel Sisoantunas Sinambela.

Aku & Mama years ago…

Karena aku anak kedua, meski anak perempuan tertua, aku jelas bukan boru panggoaran… Namaku tidak digunakan dalam panggilan orang-orang pada Papa dan Mamaku…  Tapi Mama sering sekali menyanyikan lagu Boru Panggoaran di depanku…

Bahkan sekitar 2 tahun yang lalu, saat teman2 adik ku Ivo ramai2 kumpul di rumah dan ada membawa gitar dan biola, mereka mengiringi Mama menyanyikan lagu ini…  Jangan tanya…, sudah pasti air mataku mengalir tanpa bisa dicegah…  Aku hanya bisa menikmati alunan suara Mama yang bening (perempuan Batk, bo…!!) dengan duduk di kursi di kamar kerja adikku Ivo.. Aku tidak ingin menangis di depan teman2 adikku…

Sebenarnya aku tidak mengerti secara utuh arti kata demi kata lagu ini, secara aku tidak fasih berbahasa Batak…  Tapi aku mengerti, kalau lirik lagu ini mengungkapkan harapan orangtua pada anak perempuannya, yang diharapkan akan menjadi penjaga mereka ketika usia menua dan tubuh merapuh…  Ada diantara teman2 yang mau ngasi aku artinya secara utuh…? Aku tunggu lho…

Here d VC of d song yang dinyanyiin Victor Hutabarat…

BORU PANGGOARAN

Ho do boruku tampuk ni ate-ateki
Ho do boruku tampuk ni pusu-pusuki
Burju burju ma ho
Namarsikkola i
Asa dapot ho na sininta ni rohami

Reff
Molo matua sogot ahu
Ho do manarihon ahu
Molo matinggang ahu inang
Ho do na manogu-nogu ahu

Ai ho do boruku boru panggoaranki
Sai sahat ma da na di rohami
Ai ho do boruku boru panggaoaranki
sai sahat ma da na di rohami**

Ketika Si Buncil Mulai Tak Buncil Lagi…

Wowo & Buncil....

Selama setahun terakhir, saat2 pulang ke Medan  aku sudah beberapa kali ngantar ponakanku si buncil Ananda ke salon buat potong rambut.. Menurut dia dianterin ama Wowo lebih ok, karena lebih ngerti  trend  fashion dan rambut… Padahal,  sumpppeeee  I’m not a trendy  woman.. Meski adik perempuanku Uli selalu bilang “you have taste kakak…!!”

Koleksi baju ku biasa2 aja dari segi model dan warna, bahkan cenderung hanya menggunakan bahan2 polos not colorful… Baru beberapa bulan terakhir ini  aja aku menambahkan beberapa potong  baju colorful ke dalam lemariku…

Potongan rambut…? Apalagi…!!!! Aku sebenarnya lebih senang punya rambut panjang karena  curly di bagian bawah rambut membuat rambutku jadi keren, feminin bangetzzzz,  menurut aku.. Hahahaha…  Tapi karena faktor U alias Umur, rambutku jadi lebih mudah rontok.., sehingga aku lebih memilih model yongen skop alias KDM alias Korban Demi More “Ghost” untuk rambutku …

Tapi Ananda di usianya yang baru akan 10 tahun di Juli mendatang ingin rambutnya dipotong dengan layer2 dan setelahnya disosis… Diapain coba….? Nggak ngatri deh gue, si Wowo auwo yang menurut Nanda ngerti trend… Hehehehe…

Nanda di salon.. "Yang bagian dalam lebih panjang dari yang bagian luar, ya bang.."

Aku hanya termangu2 dan sesekali tersenyum terkagum-kagum melihat bagaimana Ananda bicara dengan kapsternya.  Nanda bilang “Bang dipotongnya berlapis2 ya.., yang bagian dalam lebih panjang dari pada bagian luar..”  Dan setelah selesai dipotong, rambutnya dikeringkan dengan menggunakan pengering rambut yang bentuknya  seperti sosis, dan hasilnya rambut jadi bergelung2… Persis rambutku kalau panjang…  Oalaaahhhhhhh, nak, nak…. Gayamu so tante2, nak…!! Nyontoh siapa siyyyy….? Hehehehe…

Beberapa bulan yang lalu saat Nanda dan Nora menemani Papaku berobat ke Penang, di suatu kesempatan jalan-jalan di Mall, Nanda meminta Nora untuk membelikan sepatu Vincci model wedges warna putih… Whaaatttt….? She’s just 8 years old at that time….  Tapi dengan kaki ukuran 38, memang mudah buat dia menemukan sepatu perempuan dewasa buat kakinya… But she’s juSt a kid…!!! Rasanya gak rela memberikan dia sepatu-sepatu yang sebenarnya belum pas untuk usianya..  Rasanya sepatu keds akan membuat dia nyaman untuk berlari dan melonjak sana sini….

Black pump shoes...

Saat ke Medan di pertengahan Januari lalu, saat menjemput  Ananda pulang les, aku melihat dia tidak menggunakan sepatu keds sebagai mana  biasa.. Dia menggunakan sepatu model pumps warna hitam… Ternyata hari2 ini Nanda klo ke sekolah pake sepatu pumps hitam, gak mau pakai sepatu keds…Weleh… weleh…,  Kami bahkan beberapa hari kemudian sempat pergi mencari sepatu buat Ananda.. Model sepatu pilihannya…., ya pumps juga… Hahahaha…

Lalu saat aku ke Medan minggu lalu, setelah duduk sesorean di Merdeka Walk, adikku Ivo  ngajak aku, Mama, Noy & Ananda ke Sogo di Sun Plaza.. Secara  Ivo pengen beli sepatu, dan di Sogo lagi ada sale dalam rangka Imlek..

Begitu sampai di Sogo di lantai 1 yang menjual sepatu dari  berbagai brand, yang sibuk plengak plengok bukan cuma Ivo, tapi juga Ananda…., padahal di situ gak ada jual sepatu anak2.., semua sepatu orang dewasa…

Mula-mula, Ananda tertarik dengan sepatu berwarna pink muda (warna pink, jeung… pink…!! pink……..!!!!) model sandals, dengan tali yang dilingkarkan di pergelangan kaki..  Tapi karena sepatu itu nomornya 37 dan d only 1 stock…, pupuslah harapan Ananda untuk membawa pulang si pink tea…!!!  Ananda dengan tidak putus asa kembali plengak plengok…. Eiitttssss, gak jauh dari situ, masih di rak yang sama, Nanda menemukan sepatu model sandals yang hampir mirip dengan si pink tea, tapi warnanya mere gehese… alias merah merona…. Oaaalllahhhh nak…., pilihanmu…!!!

Buncil dan sepatu mere gehese....

Dengan yakin dan PD nya, Ananda menenteng si merah ke salah satu  bangku yang disediakan bagi para calon pembeli yang ingin mencoba-coba sepatu  mereka minati… Ndilalah sepatu yang dicoba, pas banget di kakinya….  Nora yang merasa  model sepatu itu belum tepat buat anak seumur Nanda, menyarankan Nanda untuk tidak membeli septu itu dengan ngeledek klo sepatu itu gak cocok dengan kaki Nanda yang seperti gedebong pisang…  Bukannya menerima saran Nora, yang ada Sogo Sun Plaza mendadak banjir air mata…..   Walllllaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…………..!!!  Wowo langsung minta si mbak penjaga toko untuk mengantarkan Wowo ke kasir untuk membayar sepatu yang masih terpasang di kaki cantik si buncil…

Kalau dilihat2, sepatu itu memang matching dengan baju yang dipakainya saat itu…  Serasi bangetzzzzzz…  Bahkan 2 hari kemudian dia kembali mengenakan baju dan sepatu tersebut plussss…., tas Elle  warna merah milik Uli, adikku, yang ditinggal di Medan…  Secara keseluruhan, Nanda terlihat bukan seperti gadis kecil lagi.., she’s more like a teenager….  Si Buncil kami telah tumbuh besar…***

Peragawati kagetan.. Baju, sepatu dan tasnya serasikan.. ..??? Gubraakssss...

Air Mata Mama…

Mama & her grand daughter, Ananda

Minggu sore 6 February yang lalu, aku kembali ke Pekanbaru setelah mengisi akhir pekan bersama Papa, Mama, 2 adik dan ponakan di Medan..  Anggota keluarga lengkap ikut serta mengantar ke bandara Polonia…

Saat aku check in, Papa, Mama, Ivo, Nora dan Nanda menunggu di Dunkin’ Donuts.., dan aku bergabung dengan mereka setelah selesai check in, sebelum masuk ke ruang tunggu…  Setelah kembali duduk bersama-sama beberapa menit, aku pun pamit..  Tinggal 10 menit dari waktu boarding..

Saat aku pamit dan mencium kedua pipi Mama, aku melihat mata Mama basah.. Mama menangis.. Hatiku rasanya semakin  perih….

Meninggalkan kedua orang tua di usia mereka yang tidak muda lagi menimbulkan rasa perih di dada… Ada kesadaran di hati bahwa ada jarak fisik yang membentang antara aku dan orang tuaku.. Aku tidak bisa segera berlari setiap saat untuk menemui mereka, melihat mereka, menemani mereka, memberi perhatian pada mereka…  Padahal waktu semakin terbatas… Subhanallah… Lindungi orang tuaku ya Alloh… Berikanlah yang terbaik bagi mereka…

Beberapa hari sebelumnya, saat di mobil berdua aku berkata pada Mama :  “Lucunya kita ini ya Ma…  Kita sekarang bisa jalan-jalan berdua…

Mama : “Iya.. Semakin lama kita semakin seperti kakak adik..”

Yaaa… setelah proses bertahun-tahun aku dan Mama bisa menjadi sangat dekat…  Pulang ke Medan berarti “Driving Mrs. Ani” alias jadi supir Mama… Aku nyaris gak bisa membagi waktu untuk yang lain kecuali untuk ponakan ku si buncil Ananda..

Ya, sejak mengalami keterbatasan setelah serangan stroke di pertengahan 2007, salah satu kesenangan Mama adalah jalan-jalan. Bisa ke Pasar Buah Brastagi yang gak terlalu jauh dari tempat tinggal Papa dan Mama, bisa ke Merdeka Walk untuk duduk-duduk sambil menikmati dim sum kesukaan beliau di Resto Nelayan, atau sekedar keliling kota Medan…  Pokoknya jalan-jalan, setelah rumah rapi jali….

Bahkan pernah, saat  duduk di tempat tidurnya, setelah nyaris seharian jalan-jalan berdua, Mama bilang “Haaaahhhhh…., puasnya hati Mama… Jalan-jalan seharian…!!” Hehehehehe… It’s so funny…, sekaligus mengharukan…

Sebagai anak yang terpisah dari Papa dan Mama sejak usia satu tahun, di usia belia aku menjadi begitu berjarak baik secara fisik dan psikologis dari Mama..  Ada rasa dalam diri yang tak terucapkan… Butuh proses yang sangat panjang  bagiku untuk menjadi dewasa dan bijak untuk menerima pilihan-pilihan yang telah dilakukan pra orang dewasa terhadap diri ku di saat aku belia… Butuh waktu untuk menerima bahwa keputusan mereka adalah yang terbaik untuk hidupku…

Pilihan jalan hidup bahkan sempat membuat jarak semakin terentang… Usia muda yang penuh gejolak dan jauh dari rasa bijaksana membuat aku menarik diri, menjauh dari jangkauan Mama.. Padahal sebenarnya itu bukan jalan yang diajarkan oleh keyakinanku.. Astagfirullah al adzim…

Kehilangan seseorang yang begitu penting dalam hidupku di awal tahun 2001 membuka mata hatiku, bahwa hidup ini fana.., semua akan sirna, cepat atau pun lambat.. Aku akan kehilangan segalanya, bahkan jasad ku sendiri pada waktunya nanti… Kesadaran itu membuat aku bergegas menghampiri Mama..  Aku memohon maaf atas cara yang salah dalam mempertahankan keyakinanku…

Setelah semua itu, yang ada cuma rasa cinta, dan semakin cinta.. Rasa sayang tanpa reserve… Ada pengertian..   Ada penerimaan atas ketidaksempurnaan masing-masing.. Ada penerimaan atas pilihan hidup masing-masing, meski dengan rasa yang sangat perih… Rasa perih yang justru membuat semakin sayang, yang membuat hati semakin perih karena ada pemahaman waktu akan yang semakin sedikit…

Semoga Alloh menjaga Mamaku… Menjaga kedua orang tuaku…

Don’t cry Mom…  I’ll visit you soon… I promise… ***

Tulisan kak Ibeth…

Siapa siyy kak Ibeth…? Kak Ibeth adalah temanku di komunitas Alumni ESQ.. Kami sering bertemu saat menghadiri training2 ESQ..  Kami menjadi lebih mengenal pada bulan Juli 2010, ketika kami diberi amanah untuk membantu pada salah satu kegiatan Peduli Anak Yatim dan Duafa yang diadakan Forum Komunikasi Alumni ESQ Riau, berupa Sunatan Massal.  Sesekali kami ngobrol dan bertukar pikiran.. Kami juga sering di-tag di Notes oleh teman2 kami sesama Alumni ESQ..

ESQ

L – R : Kak Ibeth, Kak Eva & Aku, saat ikut training ESQ Lanjutan E=SC2

Kemaren, di sebuah Notes Facebook Pak Harry Abrir, kak Ibeth meninggalkan comment yang indah sekali… Comment yang rasanya sayang bila suatu saat nanti tak bisa dilihat lagi karena Notes kalau sudah lama sulit dilihat kembali..  For that reason, aku mereposting comment tersebut, dengan harapan dapat dilihat kembali dan kembali, terutama ketika hati sedang bergejolak menghadapi godaan…

Here d beautiful words…

Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egoismu.
Walaupun begitu, tetaplah bersikap baik…

Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu.
Walaupun begitu, tetaplah berbuat jujur dan berterus terang…

Bila engkau sukses, mungkin engkau akan mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati.
Walaupun begitu, tetaplah meraih sukses…

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan oleh seseorang dalam semalam.
Walaupun begitu, tetaplah membangun…

Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagian,
orang mungkin akan iri hati dan dengki.
Walaupun begitu, tetaplah berbahagia dan temukan kedamaian di hati…

Kebaikan yang kau lakukan hari ini,
mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya.
Walaupun begitu, tetaplah lakukan kebaikan…

Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup.
Walaupun begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik.

Ketahuilah, pada akhirnya semua ini adalah masalah antara engkau dengan Tuhan-mu…
Bukan antara engkau dengan mereka… 🙂

Jazakumullah khoiroo 4 d beautiful words kak Ibeth… Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan inspirasi bagi kak Ibeth melahirkan kalimat2 yang indah dan bisa menjadi penguat hati…