Air Mata Mama…

Mama & her grand daughter, Ananda

Minggu sore 6 February yang lalu, aku kembali ke Pekanbaru setelah mengisi akhir pekan bersama Papa, Mama, 2 adik dan ponakan di Medan..  Anggota keluarga lengkap ikut serta mengantar ke bandara Polonia…

Saat aku check in, Papa, Mama, Ivo, Nora dan Nanda menunggu di Dunkin’ Donuts.., dan aku bergabung dengan mereka setelah selesai check in, sebelum masuk ke ruang tunggu…  Setelah kembali duduk bersama-sama beberapa menit, aku pun pamit..  Tinggal 10 menit dari waktu boarding..

Saat aku pamit dan mencium kedua pipi Mama, aku melihat mata Mama basah.. Mama menangis.. Hatiku rasanya semakin  perih….

Meninggalkan kedua orang tua di usia mereka yang tidak muda lagi menimbulkan rasa perih di dada… Ada kesadaran di hati bahwa ada jarak fisik yang membentang antara aku dan orang tuaku.. Aku tidak bisa segera berlari setiap saat untuk menemui mereka, melihat mereka, menemani mereka, memberi perhatian pada mereka…  Padahal waktu semakin terbatas… Subhanallah… Lindungi orang tuaku ya Alloh… Berikanlah yang terbaik bagi mereka…

Beberapa hari sebelumnya, saat di mobil berdua aku berkata pada Mama :  “Lucunya kita ini ya Ma…  Kita sekarang bisa jalan-jalan berdua…

Mama : “Iya.. Semakin lama kita semakin seperti kakak adik..”

Yaaa… setelah proses bertahun-tahun aku dan Mama bisa menjadi sangat dekat…  Pulang ke Medan berarti “Driving Mrs. Ani” alias jadi supir Mama… Aku nyaris gak bisa membagi waktu untuk yang lain kecuali untuk ponakan ku si buncil Ananda..

Ya, sejak mengalami keterbatasan setelah serangan stroke di pertengahan 2007, salah satu kesenangan Mama adalah jalan-jalan. Bisa ke Pasar Buah Brastagi yang gak terlalu jauh dari tempat tinggal Papa dan Mama, bisa ke Merdeka Walk untuk duduk-duduk sambil menikmati dim sum kesukaan beliau di Resto Nelayan, atau sekedar keliling kota Medan…  Pokoknya jalan-jalan, setelah rumah rapi jali….

Bahkan pernah, saat  duduk di tempat tidurnya, setelah nyaris seharian jalan-jalan berdua, Mama bilang “Haaaahhhhh…., puasnya hati Mama… Jalan-jalan seharian…!!” Hehehehehe… It’s so funny…, sekaligus mengharukan…

Sebagai anak yang terpisah dari Papa dan Mama sejak usia satu tahun, di usia belia aku menjadi begitu berjarak baik secara fisik dan psikologis dari Mama..  Ada rasa dalam diri yang tak terucapkan… Butuh proses yang sangat panjang  bagiku untuk menjadi dewasa dan bijak untuk menerima pilihan-pilihan yang telah dilakukan pra orang dewasa terhadap diri ku di saat aku belia… Butuh waktu untuk menerima bahwa keputusan mereka adalah yang terbaik untuk hidupku…

Pilihan jalan hidup bahkan sempat membuat jarak semakin terentang… Usia muda yang penuh gejolak dan jauh dari rasa bijaksana membuat aku menarik diri, menjauh dari jangkauan Mama.. Padahal sebenarnya itu bukan jalan yang diajarkan oleh keyakinanku.. Astagfirullah al adzim…

Kehilangan seseorang yang begitu penting dalam hidupku di awal tahun 2001 membuka mata hatiku, bahwa hidup ini fana.., semua akan sirna, cepat atau pun lambat.. Aku akan kehilangan segalanya, bahkan jasad ku sendiri pada waktunya nanti… Kesadaran itu membuat aku bergegas menghampiri Mama..  Aku memohon maaf atas cara yang salah dalam mempertahankan keyakinanku…

Setelah semua itu, yang ada cuma rasa cinta, dan semakin cinta.. Rasa sayang tanpa reserve… Ada pengertian..   Ada penerimaan atas ketidaksempurnaan masing-masing.. Ada penerimaan atas pilihan hidup masing-masing, meski dengan rasa yang sangat perih… Rasa perih yang justru membuat semakin sayang, yang membuat hati semakin perih karena ada pemahaman waktu akan yang semakin sedikit…

Semoga Alloh menjaga Mamaku… Menjaga kedua orang tuaku…

Don’t cry Mom…  I’ll visit you soon… I promise… ***

6 thoughts on “Air Mata Mama…

  1. sebuah hubungan yg dibangun atas dasar, adanya rasa saling menghormati dan,rasa saling menyayangi. adalah sebuah hubungan yg sangat indah. namun,tidak bagi semua orang mudah untuk mewujudkannya.
    sy percaya mbak,sondha mampu mewujudkan itu.
    kerna, sy melihat ada ketulusan disinar mata,kebaikan dihati dan,keindahan dirangkaian pemikiran, yg menyatu dlm jiwamu.
    o,alangkah berbahagianya, siapa pun orangnya. entah ia suami. entah ia orang tua. atau,entah ia hanyalah sekedar teman.
    jika ia senantiasa berada dekat denganmu mbak,sondha..
    salam hangat senantiasa buat mbak,sondha

  2. saluuttt buat kak sondha,,,aku iri liat kakak..he…he…trus kakak tinggal di Pekanbaru bukan sama orang tua ya….salam maniez selalu..

  3. satu sisi aku cemburu kak, di sisi lain betapa bangganya aku mlihat kakak msh bisa bawa Ibunda jalan kll2ng kota Medan….hmmm asiknya🙂

    1. @ Ito Ucok : ada kebahagiaan sendiri melihat beliau merasa bahagai.. ada juga proses lebih mengenal pribadi beliau saat beliau mengamati barang2 yang dipajang di toko2, seperti saat beliau mengamati bunga2 artifisial di Ace Hardware minggu lalu… Knowing her deeper and deeper makes me more love her… Jangan cemburu, dikirimkan doa buat kedua orang tua yang sudah mendahului, itu akan menjadi kebahagiaan mereka di sana…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s