Wisata Kuliner Samarinda (3) : Warung Tenda Biru Mba Tun

Sate Tenda BiruHampir 2 minggu di Samarinda… Adik2ku, termasuk adik ipar, memberikan suasana yang nyaman banget.. Membantu melupakan tekanan2 yang telah terjadi, memberikan suasana yang kondusif untuk menata hati, memberi gambaran peluang2 yang dapat dilakukan untuk kehidupan yang lebih sehat…

Ada beberapa kebiasaan yang kita lakukan yang membuat diri merasa nyaman banget… :

Jam 7an kita udah memulai acara jalan pagi mengelilingi stadiun madya Sempaja yang gak jauh dari rumah.. Lima keliling, minimal 3 keliling.. Cukup membuat keringat mengalir… Aktivitas yang berbulan2 gak pernah dilakukan…

Lalu…? Acara berburu sarapan pagi di seputar Samarinda… Tapi yang selalu kita lakukan adalah menyantap nasi kuning dengan daging atau telor masak habang (masak merah, menggunakan cabe merah kering) di Kedai Kopi Taufik di Jl. Diponegoro, di depan Hotel Senyiur… Atau makan di Warung Tenda Biru Mba Tun…

Warung Tenda Biru Mba Tun….?

Warung tenda ini berlokasi di Jl. Limau di daerah Voorfo Segiri, gak jauh dari Lembuswana, salah satu Mall besar di Samarinda. Kok doyan ke sana…? Emang apa yang dijual…?

Sate Mba Tun

Mba Tun menyediakan Sate Daging Sapi untuk sarapan… Sumpe…. aku baru kali ini tau ada yang jual sate buat sarapan.. Yang ada juga sate buat makan siang atau makan malam.. Dan jangan salah, meski dijual buat sarapan tapi sate mba Tun, ok bangetss.. Dagingnya gede2, empuk dan spicy… Bisa disantap dengan lontong atau nasi.. Sebagai temannya, Mba Tun juga menyediakan urap, atau tumis sayuran, sup tulang lalu goreng tempe dll…

Biasanya klo David milihnya sate 1 porsi + urap 1 porsi. Kalo aku sate 1 porsi + lontong 1/2 + urap 1/2 porsi, Sedangkan Nana, adik iparku, sate 1 porsi + lontong 1/2 + tumis sayur 1 porsi atau sup tulang 1 porsi. Banyak banget ya makannya kita… hehehehe.. Kita emang gerombolan tukang makan, sekeluarga hobbynya makan… Makan segitu buat sarapan, kita baru makan lagi siang jam 2an…

Harga makanan yang dijual Mba Tun juga wajar… Kita makan bertiga, biasanya gak lebih dari Go Ban… Mantep kaannnn….?

Sate

Sate……. sate….. Dagingnya emmpuukk, bumbunya passs…

Sup Tulang

Sup Tulang.. Untung bukan “tulang”nya orang Batak… Hahahaha…

Tumis Sayur

Tumis sayuran…

Urap

Buat teman2 yang mau berkunjung ke Samarinda, aku rekom dehhh warung ini… Cuma jangan lupa, warung ini hanya menyediakan makanan buat sarapan.., artinya jualannya cuma pagi.., gak sampai jam makan siang…

Selamat mencoba…

Wisata Kuliner Samarinda (2) : Roti Tissue…

Roti Tissue9

Abner dan roti tissue

Apa siyyy roti tissue yang di jual di Kedai Sabindo Jl. Soerapto No. 5 D Samarinda…? Aku juga gak ngerti jenis makanan apa ini, saat Abner ponakanku memesannya ketika kami ke Sabindo saat aku baru datang ke Samarinda tanggal 17 Oktober yang lalu..

Ternyata roti tissue ini bahan bakunya sama ama roti canai, makanan khas Melayu yang biasa disantap bersama kari. Hanya saja dalam proses pembuatan roti tissue ini, setelah adonan tepung yang udah diuleni ditipiskan dengan cara dibanting, langsung digelar di penggorengan lebar, gak dilipat2 kayak roti canai. Lalu lapiran roti ditaburi susu kental manis dan bubuk milo.. Trus tepinya dirapikan dengan pisau seperti roda, seperti yang digunakan buat motong pizza, supaya rada rapi.. Setelah adonan matang, roti dipotong dari titik tengah ke salah satu tepi, lalu digulung sehingga berbentuk kerucut…

Temans.. silahkan liat cara membuat roti tissue ala Sabindo…

Roti Tissue1

membut adonan menjadi setipis tissue

Roti Tissue2

adonan yang setipis tissue digelar di penggorengan…

Roti Tissue3

adonan ditaburi susu kental manis dan bubuk milo…

Roti Tissue4

merapikan pinggiran roti..

Roti Tissue5

roti dipotong dari tengah ke salah satu sisi…

Roti Tissue6

Roti mulai digulung membentuk kerucut…..

Roti Tissue7

Acara gulung menggulung selesai…

Roti Tissue8

Jadi deeehhhh roti tissuenya….. Silahkan dicoba….

-Sondha Siregar-

Wisata Kuliner Samarinda (1) : Kedai Sabindo

Saat sampai di rumah adikku di Samarinda tanggal 17 Oktober 2009 malam…, tuan rumah alias adikku David dan Nana, istrinya nanya, “Kakak udah makan kah?”
Aku menjawab dengan tegas… “Belum…, dan rasanya lapar banget…” Hahahaha..

Gimana enggak lapar, aku jam 09.00 udah check out dari hotel di Jakarta, trus naik taxi ke Cengkareng ngejar schedule penerbangan Jakarta – Balikpapan jam 11.20 WIB. Saat check in di Terminal 3 jam 10.30, petugas airlines bilang “Langsung ke ruang tunggu Zona 3, ya bu. Boarding gak lama lagi…” Ya, aku langsung lahhhh naik ke ruang tunggu…. Gak berani buat singgah dan duduk buat makan.. Cuma berani singgah di Papa Beard dan counter di sebelahnya yang jual sejenis pastel yang isinya blackpeper beef, ikan sarden dan beef curry.. Beli buat oleh2 untuk Aldy & Abner, dan buat makan sambil nunggu boarding… Gak lama duduk di zona 3, petugas informasi mengumumkan kalo penerbangan di-delay ke jam 12.30… Halaahhhh…. Tau gitu kan makan dulu… Kue tuhh gak cukup untuk mengatasi rasa lapar… hehehehe…

Setelah boarding jam 12.30, persiapan terbang, lalu terbang sekitar 2 jam… Pesawat mendarat di BandaraSepinggan, Balikpapan sekitar jam 16an WITA.. Setelah ambil bagasi, trus keluar ruang kedatangan. Gak lama Oom Yan, orang yang bantu2 David datang menjemput… Langsung perjalanan dilanjutkan ke Samarinda, setelah singggah dulu buat sholat di sebuah mesjid di pinggiran Kota Balikpapan. Sampai di Samarinda udah hampir jam 19-an.., enggak langsung pulang… Tapi singgah dulu ngambil baju kotor Aldy, ponakanku yang sekolah dan tinggal di boarding school di pinggir Kota Samarinda. Setelah sempat ngbrol sama Aldy dan ngeliat kamarnya di asarama, baru pulang… Capek dannnnnnn lapppaaaarrrrr bangets… Wajar kan, waktu ditanya udah makan atau belum aku menjawabnya dengan sangat tegas.. “Belum…” Hehehehe…

Kedai Sabindo1

Abner @ Sabindo, Samarinda

David dan Nana beserta Abner membawaku ke jejeran ruko, gak jauh2 banget dari rumah… gak jauh juga dari Mall Lembuswana, yang masih jadi Mall terbesar di Samarinda.. Di halaman depan ruko berjejer meja2 dengan bangku2 plastik.. Di tiap2 meja ada lentera yang diletakkan dalam gelas2 kecil berisi minyak.. Pada plank di bagian atas ruko terlihat tulisan nama toko “Kedai Sabindo“.

Kami gak dapat tempat duduk di luar, karena penuh… Bahkan di dalam pun penuh sebenarnya … Tapi kita akhirnya dapat tempat juga setelah ada pengunjung yang selesai makan….

“Menyediakan Masakan dan Minuman Malaysia” demikian tertulis di bagian kiri atas daftar menu yang disodorkan pelayan pada ku… Hmmmm…. Cocok selera niyyy… secara aku suka sama masakan Peranakan khas Malaysia… Mau makan apa yaaaa….?

Aku mulai plengak plengok, antara daftar menu dan dinding toko yang ditempeli poster berbagai hidangan yg ditawarkan… Di dinding toko aku lihat ada gambar Nasi Goreng Pataya, nasi goreng yang dibungkus ama telur dadar. Kalo di Medan, ada juga resto yang menyediakan makanan seperti ini, tapi namanya Nasi Goreng Kari. Seluruh makanan dan minuman yang ditawarkan benar2 menggunakan istilah Malaysia.., misalnya Teh O.. Bahkan di tiap meja disediakan alat cuci tangan yang khas Malaysia : air cuci tangan dimasukkan dalam teko yang diletakkan di atas wadah seperti rantang, dengan tutup berlubang2. Kalo mo cuci tangan, ya guyur aja tangan kita di atas wadah, air kotor akan tertampung di dalam wadah.. Jangan sampai air di dalam teko itu diminum yaaa…, karena itu air mentah… Hehehehe…

Setelah plengak plengok.. larak lirik… tanya2 David dan Nana, aku memesan Wan Tao apa gitu… Itu nama buat Kwetiau siram… Sementara Abner mesan teh tarik dingin dan roti tissue… David dn Nana cuma pesan kari karena udah makan malam…

Kwetiau Siram

Kwetiaw Siram ala Sabindo

“Wan Tao apa gitu” muncul dengan penampilan yang menggugah selera… Kuahnya mengingatkan ku akan sup sirip… , terus ada bakso ikan dan udang dalam jumlah yang lumayan… Rasanya………..? Enak bangetss…. Mengingatkan ku akan Kwetiau ala Penang di Food Court Cabe Rawit Sun Plaza Medan.. Roti tissue yang dipesan Abner, muncul dalam wujud yang sangat menarik.. berbentuk kerucut dengan serat yang halus… Sayang lupa motonya…

Naaahhhh…, sore ini kami kembali lagi ke Kedai Sabindo, dengan formasi tambahan, Akung, Papanya Maria, alias mertua David adikku, yang juga berkunjung melihat cucunya… Waktu ngobrol2, Maria bilang, “Kakak tau artinya Sabindo ? Sabindo itu singkatan Sabah-Indonesia”. Eeeaaaalllaaaahhhhh…. itu toh artinya… Jadi bila orang Medan terkoneksinya dengan Penang, orang Riau dengan Malaka, maka orang Kaltim dengan Sabah… Ternyata kita jiran beneran yaaa… secara banyak banget daerah di Indonesia dan Malaysia yang terkoneksi…

Buat teman2 yang berkunjung ke Samarinda…, Kedai ini bisa jadi tempat makan yang must visited.. Dijamin gak nyeselll…..

Still It Takes Me By Surprise

TalkingSambil utak atik laptop…, aku membuka folder My Music di External Harddisk-ku… External ini relatif baru, dibeli untuk menyimpan data yang diambil dari laptop lama yang bulan lalu aku hibahkan ke Ivo, adikku… Di folder itu aku menemukan folder bernama Seagull yang berisikan beberapa lagu … Kayaknya folder itu folder jadul dehhh…, yang dicopy setiap kali ganti pc atau laptop… Iya… folder itu berisi lagu2 dari teman lama yang seneng musik dan punya koleksi musik yang okeh…. Salah satu lagu yang bagus dan meaningfull kata2nya ya lagu Tony Banks ini…

Aku ingin membaginya dengan teman2, mengingat lyric -nya yang indah banget dan penuh makna….

STILL IT TAKES ME BY SURPRISE….

It can be strange
In the world we live in
So many things are not how they appear
We sit and talk
Of what it doesn’t matter
The meaning of the words we use
hides behind the sound

Yet still it takes me by surprise
How the feeling overtakes me and fills my mind
With thoughts which even now I can’t control
How simple words and gestures
make the world seem right
No matter what they say
No matter what they say

It’s hard to believe
That once we met as strangers
Not knowing of the life that we would share
You lead me on
Through new ways unfamiliar
Or down a road we travelled many times before

Yet still it takes me by surprise
How the feeling overtakes me and fills my mind
With thoughts which even now I can’t control
How simple words and gestures
make the world seem right
No matter what they say
No matter what they say

The years go by
Older yet no wiser
Our hearts and minds remain as they once were
And after all the time
That we have been together
So many times we must have been this way before

Yet still it takes me by surprise
How the feeling overtakes me and fills my mind
With thoughts which even now I can’t control
How simple words and gestures
Make the world seem right
No matter what they say
No matter what they say

By : Tony Banks

Dedicated 2 U… U know who U are….

Run away…..

runaway womanKalo dengan tittle “Run away” yang kebayang mungkin lagunya The Corrs dengan judul yang sama

Tapi run away yang ini beda bangets…. Run away-nya The Corrs siyy karena cinta… Kalo yang ini…? Jauh buanget dari nuansa cinta…. Jaka sembung bawa golok aja pokoknya…

Run away sebenarnya gak asing ya buat kita.. Sewaktu kita muda pun kita bisa jadi run away sesaat, beberapa jam atau beberapa hari karena berbeda pendapat dengan ortu atau penghuni rumah lainnya atau karena si dia yang menyebalkan setengah hidup….

Tapi hari gini…, di usia segini….? Kayaknya gak masuk akal yaaa, kalo harus run away…
Kenapa harus runaway…?
Lah rumah, rumah dewe… Jadi gak ada lah orang lain yang bisa bikin kita gak betah di rumah..
Teribat kriminalitas, sehingga dikejar2 yang berwajib….? Rasanya juga enggak….
Jadi saksi atas peristiwa2 kejahatan kayak di film2 Hollywood juga bukan…
Trus kenapa….?

Pernah gak siyyy teman2 merasakan kalo seseorang atau sekelompok orang memaksa kalian utuk melakukan apa yang tidak ingin kalian lakukan… , yaitu mengambil alih tanggung jawab perbuatan yang tidak pernah kalian lakukan.. Bahkan dilakukan pun tanpa setahu apalagi seizin kalian…?
Dan rasa tidak ingin itu bukan rasa sembarang rasa, tapi karena kalian tahu konsekuensi yang bisa terjadi di masa yang akan datang pada kalian bila kalian menuruti kehendak orang tersebut…

Mungkin teman2 bisa bilang, “Come on Sondha, just say NO.. BIG NO….!!!!”, dan apa susahnya siyy bilang “NO alias TIDAK”
Aku ingin bisa dengan mudah mengucapkan kata tersebut…, karena memang aku tidak punya beban apa-apa untuk mengatakannya…. Tapi ternyata tidak mudah karena aku hidup dalam dunia yang penuh ewuh pakewuh, meski acap kali ewuh pakewuh yang terjadi gak jelas aturan mainnya…
Tapi seberat2nya, aku mencoba mengatakannya…, dengan segala penjelasan supaya tidak menimbulkan rasa sakit hati dari orang yang mendengarkan…
Tapi………. anehnya ketika aku sudah mengucapkannya, menyampaikan penjelasan yang mendasari pilihan ku, ternyata orang yang ku hadapi tidak mengerti dan tidak mau mengerti akan kata2 tersebut… Sebaliknya mereka tetap memaksa mengikuti kehendak mereka…

Jadi bingung sendiri… Jadi mulai berpikir, apa yang salah yaaa….?
Apa bahasa yang ku gunakan adalah Bahasa Eskimo? Bahasa Tanzania? Bahasa Rusia? Rasanya enggak dan gak mungkin, secara aku gak bisa menggunakan ketiga bahasa tersebut, lha bahasa enggres ku aja masee belepotan… Hahahaha. Rasanya bahasaku masih bisa dimengerti, meski mungkin itu bukan Bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut EYD 1974 (weiiizzzz… udah lama banget yaakkk, perlu direvisi tuh, secara bahasa sekarang udah banyak mengadopsi bahasa asing dan bahasa gawl).

Ketika pemaksaan itu dilakukan semakin kuat…, ketika kita dituduh sebagai pihak yang membuat kemacetan dari suatu sistem karena tidak mau mengambil alih tanggung jawab tersebut, hati mulai merasa tidak nyaman… Dan ketika pemaksaan dilakukan dengan halus tapi keras dan terus menerus…. Hati rasanya lelah, hati butuh tempat dimana bisa kembali merasakan ketenangan…, kenyamanan…
No choice.. I have to run away… Meninggalkan rumahku, meninggalkan komunitasku…
Meski rasanya konyol meninggalkan hidup kita padahal bukan karena kesalahan kita..
Tapi demi ketenangan hati… ya sudahlah…, run away aja dulu….
Mudah2an tidak lama…
Mudah2an orang2 berubah pikiran…
Mudah2an hati menjadi lebih tegar dan bisa dengan santai menyatakan dan mempertahankan pilihan2an hidupku…

Sahabat….

Kahlil Gibran dalam Sang Nabi mengatakan :

Friend1Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mendapat imbangan.
Dialah ladang hati, yang dengan kasih kau taburi,
Dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih.
Dia pulalah naungan sejuk keteduhanmu,
Sebuah pendiangan demi kehangatan sukmamu.
Karena kau menghampirinya di kala hati gersang kelaparan,
Dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian.

Bila dia bicara, menyatakan fikirannya,
Kau tiada menakuti bisikan “TIDAK” di kalbumu sendiri,
Pun tiada kau takut melahirkan kata “YA”;
Dan bilamana dia diam, terbungkam tanpa bicara,
Hatimu tiada ‘kan berhenti mencoba menangkap bahasa hatinya,
Segala fikiran, harapan dan keinginan, dicetuskan bersama,
Dengan sukacita yang utuh, pun tiada disimpan.

Di saat berpisah dengan teman, kau tiada ‘kan berdukacita;Sebab apa yang paling kau kasihi darinya,
Amatlah mungkin lebih cemerlang dari kejauhan.
Sebagaimana sebuah gunung, nampak lebih agung, dari tanah ngarai dataran.
Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan,
Kecuali saling memperkaya kejiwaan.
Sebab kasih yang mengandung pamrih,
Di luar misterinya sendiri,
Bukanlah kasih, namun jaring yang ditebarkan,
Hanya akan menangkap yang tiada diharapkan.

Persembahkanlah yang terindah demi persahabatan;
Jika dia harus tahu musim surutmu,
Biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Sebab, siapakah sahabat itu, hingga kau hanya mendekatinya untuk bersama sekedar akan membunuh waktu?
Carilah ia, untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Sebab dialah orangnya untuk mengisi kekuranganmu,
Bukannya untuk mengisi keisenganmu.

Dan dalam kemanisan persahabatan,
Biarkanlah ada tawa-ria kegirangan,
Berbagi duka dan kesenangan,
Sebab dari titik-titik kecil embun pagi,
Hati manusia menghirup fajar hari,
Dan menemukan gairah segar kehidupan.

Rangkaian kata2 ini rasanya begitu indah.. Sampai di usia segini, alhamdulillah aku sempat merasakan punya sahabat2 yang luar biasa… Sahabat2 dengan hati yang indah…
Mereka ada yg kutemukan saat aku di SMP trus berlanjut di SMA, ada yang aku temukan saat kuliah di Bogor, di Yogya, bahkan juga ada yang aku temukan setelah bekerja. Memang menemukan teman di lingkungan kerja, sedikit lebih rumit di banding saat masih di bangku sekolah. Mungkin karena unsur “kompetisi”nya lebih kuat ya..

Sahabat2ku…, aku rindu dengan kalian….