Caleg…

Beberapa orang di sekitar Tati akhir2 ini menyebut-nyebut soal caleg…

Seorang mertua teman Tati yang datang dari provinsi lain di pulau Sumatera ini bercerita kalau dua orang anaknya dicalonkan partai di daerahnya buat jadi caleg di pemilihan wakil rakyat tahun 2009. Seorang teman Tati saat di sekolah dasar sejak setahun terakhir sibuk nyiapin diri buat jadi caleg juga.. Seorang teman baru dari pulau yang berada di Indonesia bagian tengah juga bercerita kalau dia dicalonkan partainya buat jadi caleg…

Kayaknya emang lagi musim ya, sejalan dengan proses yang sedang berlangsung… Cuma dalam pikiran Tati, apa siyy yang dipikirkan orang-orang itu tentang their future job? Apa mereka tau apa yang akan mereka kerjakan..?

Saat ketemu setahun yang lalu dengan teman SD Tati yang akan jadi caleg pada tahun depan, kita sempat ngobrol puaaannnjang lebaaarrrr…. Waktu itu dia cerita kalo dia sedang dalam tahap persiapan untuk mencalonkan diri buat jadi caleg. Beberapa tahun terakhir dia mengaktifkan diri dalam kegiatan2 partai yang menjadi naungannya, untuk tujuan tersebut..

Waktu itu Tati nanya sama teman Tati tsb, apa dia mengerti apa tugas dan fungsinya kalo dia suatu saat duduk di Dewan Yang Terhormat itu. Saat itu dia menggeleng… Tati lalu mengatakan pada dia, mumpung ada waktu pelajarilah segala seluk beluk tugas legislatif, karena tugas di situ tidak mudah.. Tidak sekedar menyanyikan lagu setuju atau tidak setuju seperti lyric lagu Iwan Fals.

Fenomena caleg ini membawa pikiran Tati melayang ke sebuah peristiwa beberapa tahun yang lalu… Saat itu Tati hadir dalam pembahasan budgeting unit kerja Tati dengan pihak legislatif. Saat itu kita dibantai habis2an, karena sebagian usulan kerjaan yang disampaikan tanpa didukung oleh hitungan teknis… Kita jelas salah…. Seharusnya semua usulan harus dengan hitungan teknis yang didasari analisis, bukan dengan onggok-onggok lado.. Tapi para pengusul suka malas nyiapin hitungan teknis karena katanya belum tentu juga disetujui.. Dari pada capek gak ada hasil mendingan dionggok lado ajah…

Saat kami dibantai di rapat tersebut, salah seorang yang sangat mengebu-gebu adalah seorang anggota dewan yang udah sangat senior. Entah sudah berapa periode duduk di situ, Tati pun gak tau dan malas nyari tau. Penampilannya sangat rapi : wajahnya sangat terawat, kuku2 tangannya sangat rapi dan bersih, mencerminkan hasil menipedi. Beliau mengatakan bahwa dengan cara kerja seperti ini kami telah menghianati kepala daerah, melakukan penipuan terhadap kepala daerah… Waaddduuuhhhh berat banget niyy tuduhannya… Saat itu atasan Tati berusaha mencairkan situasi yang gak enak, dengan janji bahwa kami akan memperbaiki usulan2 tersebut. Lalu rapat ditutup.

Selesai rapat…, saat rombongan kami keluar dari ruang rapat, si bapak yang rapi jali itu memanggil atasan Tati. Mereka berbicara empat mata. Ternyata kata atasan Tati, beliau menanyakan, kalo usulan kami di-approve, bagaimana feedback ke dia dan teman2nya… Weleh weleh weleh… UUD juga….

Tanpa bermaksud memandang sebelah mata apalagi meremehkan.. Dulu kalo rapat, sering kali mendengar beberapa anggota dewan yang gak ngeh dengan topik yang dibicarakan, sehingga ketika beliau2 berbicara jadinya jaka sembung bawa golok, gak nyambung g*****k…!

Saat pembahasan budgeting, sering juga kita melihat beberapa anggota dewan yang maksa agar usulan kegiatan di daerah pemilihannya dianggarkan. Padahal usulan mereka itu gak nyambung dengan perencanaan secara menyeluruh, atau dengan peraturan tertentu. Kayaknya itu karena belum adanya pemahaman tentang perencanaan jangka panjang daerah dan peraturan-peraturan yang terkait…

So, sebenarnya untuk jadi pekerja di legislatif yang tugasnya mengawal aspirasi rakyat agar dilaksanakan dengan baik oleh pihak eksekutif butuh pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak.. Mudah-mudahan para legislator-wanna-be punya kesadaran tentang ini ya… Bukan seperti yang ini atau yang ini ya…?

Pic diambil dari sini