Posted in Culture and Heritage, Tukang Jalan

Desa Pulau Belimbing…

Pernah berkunjung, dengar atau baca tentang Desa Pulau Belimbing?

Sebelum kerja di kantor yang sekarang, boro-boro tau lokasinya, dengar namanya aja Tati gak pernah.. Tapi setelah kerja di kantor yang sekarang, Tati di forum-forum rapat sering mendengar nama desa ini, karena desa ini merupakan salah satu obyek wisata budaya di wilayah Riau, dengan Rumah Lontiok sebagai obyek andalan. Tapi Tati masih gak ngerti kayak apa sih Rumah Lontiok.

Hasil penelusuran di dunia maya, Tati menemukan statement berikut di sini

Bentuk rumah Lontiok berasal dari bentuk perahu, hal ini tercermin dari sebutan pada bagian-bagian rumah tersebut seperti: bawah, tengah, ujung, pangkal, serta turun, naik. Dinding depan dan belakang dibuat miring keluar dan kaki dinding serta tutup didinding dibuat melengkung sehingga bentuknya menyerupai sebuah perahu yang diletakkan diatas tiang-tiang. Rumah Lontiok berfungsi sebagai rumah adat dan rumah tempat tinggal. Dibangun dalam satu prosesi panjang yang melibatkan masyarakat luas serta upacara.

Naahhhh… saat jalan-jalan dengan kak Lintje hari Rabu 30 Juli yang lalu, saat melintasi jalan di sekitar km 68 dari Pekanbaru, Tati melihat di sisi kiri jalan ada sebuah sign dengan panah mengarah ke sisi kanan jalan yang bertulis “Obyek Wisata Desa Pulau Belimbing”. Tati lalu melihat ke sisi kanan jalan, di situ ada sebuah gerbang bertuliskan “Desa Pulau Belimbing”. Tati mengajak kak Lintje untuk singgah. Karena si ibu ini setuju, Tati lalu membelokkan mobil ke jalan masuk Desa Pulau Belimbing.

Gak jauh setelah melewati gerbang, si sparky harus melintasi jembatan yang terbuat dari batang kelapa yang disusun sedemikian rupa. Tapi setelahnya kita melintasi jalan yang mulus banget dengan kebun campuran di kiri kanan jalan. Kira-kira berjalan 500 meter kita menemukan tepian sungai yang rapi jali karena udah didam… Kayaknya bisa jadi tempat yang asyik untuk memandang-mandang atau bersampan-sampan di sore hari.. Hmmmmmm

Gak jauh, di sisi kiri jalan kita mulai menemukan pemukiman penduduk. Lalu di antaranya kita melihat sebuah rumah tradisionil, Rumah Lontiok. Tapi dilihat dari bahan bangunannya, rumah ini kayaknya siyy bangunan baru yang mengikuti design bangunan lama. Tati dan kak Lintje lalu turun dan mengamat-amati…

Rumah lontiok yang dibangun baru

Kami lalu meneruskan perjalanan… Kami lalu menemukan sebuah Rumah Lontiok yang tua yang sudah ditinggalkan, dinding-dindingnya sebagian sudah lepas.. Tapi kerusakan yang telah terjadi sama sekali tidak mampu menutupi keindahan yang pernah ada pada rumah tersebut… Ornamen bangunannya indah banget…., detil bnaget… Tati ngebayangin, betapa sejahteranya pemilik rumah ini dahulu, sehingga mampu membuat rumah dengan detil seindah itu..

Rumah Lontiok dan ornamennya yang indah…

Setelah mengamat-amati dan mengambil beberapa gambar dari rumah tersebut, kami meneruskan perjalanan.. Kami lalu sampai di bagian jalan yang bercabang. Kami lalu memutuskan untuk belok kiri… ke jalan yang juga beraspal mulus.. Lalu…, masya Alloh… kami sampai di bagian desa yang sudah ditinggalkan oleh penduduk. Di sini ada banyak rumah-rumah panggung yang tua dari kayu dengan ukuran yang besar… Tapi semua terlantar, semua tak berpenghuni… Jumlahnya bukan satu dua rumah tapi belasan, bahkan mungkin lebih dari 20 rumah…


Dua dari sekian banyak rumah-rumah tua yang ditinggalkan

Tati lalu menghentikan mobil.. Memberanikan diri untuk turun, meski hati berdebar-debar.. Maklumlah kejahatan terlalu sering terjadi dimana-mana, sehingga membuat gampang cemas.. Tapi dengan nekad mendekati beberapa rumah, membuat beberapa pics. Di antara rumah-rumah tua yang terlantar itu Tati melihat dua buah Rumah Lontiok, yang satu rumah tua, yang satunya baru dibangun. Tapi Tati gak berani mendekati, karena posisinya sekitar 50 meter dari jalan. Terlalu jauh kalo mendadak ada orang jahat menghampiri.. Lagi, kebanyakan nonton Sergap. Hehehe.. So, Tati hanya mengambil pic dari jauh..

Tati lalu memutar arah mobil, kembali ke pertigaan. Lalu mengarahkan mobil ke kiri, ke terusan jalan yang mula-mula.. Again… kita menemukan belasan rumah tua yang semuanya terlantar dan ditinggalkan.. Kita berdua semakin cemas… Tapi Tati nyempatin buat mengambil pics dari beberapa rumah, baru memutar mobil ke arah kita datang…


Beberapa rumah tua yang lagi-lagi ditinggalkan.. Lihat dinding dari papan yang disusun miring..

Di pertigaan kita berhenti buat mengamati sebuah rumah yang berada di tepi sungai.. Tati membayangkan seandainya rumah itu dan juga rumah2 lain yang juga terlantar di desa ini direvitalisasi, terus disediakan fasilitas yang layak, rumah-rumah itu bisa dijadikan penginapan bagi turis yang ingin menikmati kehidupan pedesaan di tepian. Apabila masyarakat bisa dibina untuk mengembangkan kuliner setempat, budaya2 setempat, dan bagaimana melayani wisatawan, desa ini bisa jadi desa wisata, bisa jadi sumber peningkatan kesejahteraan masyarakatnya… harusnya bisa, ya.. Tinggal komitmen dari pelaku-pelaku yang terlibat di sini… Baik dari masyarakat, pemerintah sebagai pembina, mapun dari pelaku di bidang pariwisata…

Rumah tua di tepi sungai Kampar

Lalu, seorang bapak mengahampiri Tati dan kak Lintje, ternyata beliau adalah kepala desa di situ. Beliau menawarkan diri untuk mengantar Tati melihat Rumah Lontiok yang gak berani Tati lihat dari dekat tadi.. Ternyata… Rumah Lontiok yang itu dibangun pada tahun 1800-an, dan dulunya sering digunakan masyarakat untuk rapat-rapat saat perang melawan penjajah. Saat Tati bertanya mengapa begitu banyak rumah yang ditinggal dan diabaikan, si bapak bilang kalo rumah-rumah yang berada di tepi sungai ini sempat mengalami banjir bandang, sehingga penghuninya pindah dari situ. Bahkan sebagian pemilik rumah-rumah tua itu sudah merantau ke Malaysia dan menetap di sana.

Rumah Lontiok yang agak jauh dari jalan..

Lihat ornamennya yang indah..