Ke Desa Wisata…

Kamis, 17 April 2008 menjelang jam 16-an, Tati dan rombongan dari bergerak ke arah selatan kota Yogya..? Mau kemana, denger2 siyy mau ke desa wisata yang merupakan salah satu wilayah yang hancur lebur saat gempa yogya Mei 2006… Setelah berjalan sekitar 1/2 jam-an, kami sampai di daerah Imogiri… Sebelum sampai ke arah makam para raja, bus bergerak ke arah barat… Ke Desa Kebonagung

Di pangkal desa, rombongan berhenti di depan bangungan non permanen yang digunakan sebagai balai desa.. Di sana kita disambut oleh warga desa, beberapa ibu2 diantaranya memainkan musik dengan menggunakan alat penumbuk padi yang panjang… Alat musik yang sederhana tapi menghasilkan bunyi yang harmonis….

Setelah menyaksikan aksi para ibu tersebut, kita dipersilahkan untuk lesehan di balai desa.. Di sana para pemuka desa, menjabarkan konsep desa wisata yang ada di Desa Kebonagung. Dan kami, sembari mendengarkan penjabaran dihidangkan kue2 buatan ibu2 setempat plus wedang jahe yang maknyooooosssss baanget…

Desa ini ternyata menawarkan kehidupan pedesaan bagi tamu2nya, termasuk kegiatan belajar membuat batik, membuat kue apem dan makanan2 tradisional lainnya. Desa ini juga menawarkan permainan2 rakyat seperti gobak sodor, permainan yang anak2 kota mungkin udah gak tau.. Selain itu desa ini juga menawarkan pemadangan berupa bendungan.. Adapun untuk penginapan, para tamu dapat menginap di rumah2 penduduk.. Jangan salah saudara2, dari daftar yang ada, ternyata rumah2 penduduk di sini bisa menampun tamu sampai 350 orang.

Setelah mendapat penjelasan, rombongan dibawa menyusuri desa… Saat menyusuri jalan utama desa, terlihat semua bangunan di desa ini adalah bangunan baru, bahkan sebagian besar bangunan rumah2 tersebut belum diplester.. Sampai di ujung desa, kami melihat bendungan yang telah disampaikan oleh pemuka desa.. Suara gemercik air yang jatuh, di senja hari pula… Hmmmmmmmm… menimbulkan nuansa tersendiri… Jadi pengen liburan di sini…

Karena adzan magrib telah memanggil…, rombongan lalu menuju mesjid desa yang mungil… Sebuah bangunan baru yang dicat putih…, Begitu kita sampai di sana, para ibu2 dan bapak2 langsung menyodorkan sendal2 jepit untuk kta gunakan saat berwudhu… Mereka benar2 ramah dan sadar bahwa keramahan mereka merupakan asset yang akan membawa turis datang dan kembali lagi ke desa meraka. Tapi Tati juga bisa merasakan ketulusan mereka…

Saat antri berwudhu, Tati mendengarkan cerita seorang ibu bahwa saat terjadi gempa, semua bangunan di desa ini rata dengan tanah.. Tidak ada yang tersisa, sehingga mereka pun sulit mengenali puing yang mana yang tadinya rumah mereka… Innalillahi wainnaillahi rojiun…

Tanpa sadar…, saat mengangkat tangan pada waktu mengucapkan takbir, air mata Tati mengalir…. dan air mata tetap mengalir dan terus mengalir sampai sholat berakhir…

“Ya Alloh, Kau hantarkan aku ke daerah yang pernah mengalami kehancuran untuk menyaksikan betapa kami manusia ini adalah makhluk yang tak berdaya, bahwa kami manusia ini adalah makhluk yang tak punya kekuatan. Segala daya, segala kekuatan, segala2nya adalah milik Alloh.. Tidak ada yang dapat kami lakukan tanpa seizin Engkau ya, Alloh… Berikanlah kami daya, berikanlah kami kekuatan untuk dapat menjadi hamba yang taat, hamba yang patuh, hamba yang hidup di jalan Alloh, hamba yang mengagungkan Nama-Mu di sepanjang hidup kami. Amin ya Rabbal alamin..”

Temans, bagi yang berminat untuk menikmati suasana desa di Desa Kebonagung, silahkan hubungi pak Bachroni di 0815-792-7374 ajaahhh… Beliau adalah salah satu warga masyarakat Desa Kebonagung.

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s