Belajar…..

Jam di tangan tati menunjukkan waktu jam 11.30 wib… Hp Tati berdering, tidit tidit tidit.. Di layar hp terlihat nama seorang teman baik, tepatnya seorang junior di kantor, A. Dia junior baik dari segi masa kerja maupun usia (jauh banget, 12 tahun).

A : Kak, lagi dimana? Aku lagi ngecek pembukuan, ternyata ada angka yang berselisih.

Tati : Kakak lagi di luar, sebentar balik ke kantor.

A : Kalo gitu, tolong suruh staff kakak sekarang ke tempat aku, buat membereskan.

Tati : Bisa menunggu, kakak 10 menit lagi akan sampai di kantor.

A : Ya, aku tunggu ya.

Sembari menuju mobil, Tati segera menelpon Venny, yang membantu Tati untuk berbagai pekerjaan di kantor.

Tati : Ven, di kegiatan yang kita kelola ada yang berbeda di pembukuan. Bisa Venny menemui si A, coba tanya apa masalahnya. Kakak segera ke kantor.

Sampai di kantor ternyata, selisih terjadi karena dana yang diajukan ke kas besar lebih kecil dari yang digunakan untuk kegiatan, sehingga kas kecil menjadi minus. Solusinya gak susah, tinggal dibuatkan permintaan dana ke kas besar. Nah yang jadi masalah, menurut perhitungan Tati angkanya sekian, sementara menurut mbak A angkanya lebih kecil.

Tati berusaha menjelaskan kepada A, hitungan Tati. Tapi A gak mau mendengar apa pun yang Tati coba jelaskan.

Tati : A, coba dengar dulu penjelasan kakak. Ini ada hitungannya, lho.

A : Enggak, kak. Pokoknya angkanya sekian.

Tati : Dengar dulu penjelasan kakak. Ini ada hitungan yang sudah kakak buat.

A : Enggak kak. Pokoknya angkanya ini. Kakak bikin aja angka permintaannya seperti yang aku bilang.

Tati : Bagaimana nanti kalo bermasalah? Karena angka hasil hitungan kakak tuh beda.

A : Kalo nanti beda, aku yang tanggung jawab.

Tati langsung diam, gak mau ribut. Belajar untuk sabar dan menahan diri meski Tati merasa sangat tidak nyaman karena junior Tati itu berbicara pada Tati dengan kedua tangan terlipat di dada, serta nada suara yang tidak bisa dibantah..

Tati berusaha mengatakan kepada diri Tati, bahwa junior Tati itu mungkin sedang panik sehingga sikapnya begitu.. Tati berusaha menghapus pikiran negatif tentang gesture tubuh junior Tati.. Astagafirullah.. astagafirullah.. astagafirullah..

Tati langsung meminta Venny menyiapkan surat permintaan sejumlah yang dikatakan A. Lalu setelahnya menghadap ke kepala kantor untuk minta tanda tangan beliau, sambil menjelaskan surat permintaan apa yang beliau tandatangani tersebut. Setelah itu, Venny langsung membawa surat itu kebagian yang berwenang mengeluarkan dana, untuk diproses lebih lanjut.

Lalu, Tati melanjutkan kegiatan Tati. Saat sedang di jalan, hp Tati kembali berbunyi, Tidit tidit tidit… Di layar kembali terlihat nama A. Tati lalu menjawab telepon tersebut.

Tati : Ya, halo.

A : Kak, ternyata selisihnya benar sebesar yang kakak bilang.

Tati : Terus bagaimana sekarang?

A : Kakak ulang saja lagi surat permintaan dananya, ganti surat yang sudah diantar ke bagian yang berwenang di bidang keuangan tersebut.

Tati : Gimana kalo kamu yang bikin?

A : Kok aku pula yang bkin? Itu kan kegiatan yang kakak kelola.

Tati : Betul itu kegiatan yang kakak kelola, tapi kakak kan sudah bilang dari tadi tapi kamu gak mau kasi kakak kesempatan bicara. Sekarang, masa kakak harus menghadap lagi ke kepala kantor? Apa yang mesti kakak katakan kepada beliau? Kok kesannya kakak bermain2, tidak serius dan tidak teliti dalam bekerja?

A : Ya sudah kalo gitu biar saja pakai angka yang kecil itu.

Tati : Angka yang kecil itu gak bisa dipakai, karena akan berbeda dengan laporan bulanan serta laporan akhir kegiatan kakak.

A : Kalo gitu, seluruh laporan kakak saja dirubah.

Tati : Mana bisa laporan itu dirubah lagi, itu sudah ditandatangani oleh pihak yang berwenang.

A : Ya, kakak suruh lah staff kakak merubah surat permintaan itu.

Astagafirullah….
Kesabaran Tati kembali lagi diuji hari ini.

Beberapa PELAJARAN PENTING dari peristiwa ini :
1. Harus bisa membedakan kapan harus diam karena harus bersabar dan kapan harus tetap bertahan untuk mengatakan sesuatu yang benar.
2. Tidak selamanya diam dan mengalah itu baik. Tapi cara menyampaikan kebenaran juga harus dilakukan dengan bijak dan santun..
3. Harus belajar untuk tidak menerima begitu saja ucapan orang lain yang mengatakan, “nanti aku yang tanggung jawab”.

Belajar, belajar dan belajar..
Sabar, sabar dan sabar..
Bertahan untuk kebenaran, bertahan untuk kebenaran dan bertahan untuk kebenaran..
Bijak & santun, bijak & santun serta bijak & santun….

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s