Berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan

Candi Gatot Kaca…

Hujan ternyata tak kunjung reda di daerah yang dingin ini…. Brrrrrrr…. Dingin  dan semakin dingin… Apalagi sebagian baju agak2 basah kena tempias hujan saat berlari-lari meninggalkan Kompleks Candi Arjuna.  Setelah menunggu dan menunggu…, dan dengan mempertimbangkan waktu yang tersisa, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.  Meski masih hujan…, dan dengan bekal pinjaman 2 buah payung  dari pak Saroji pemilik warung di kawasan parkiran Kompleks Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan…

Kemana……………?

Kami melanjutkan perjalanan dengan mobil ke Museum Kailasa…  Tapi sebelum menuju ke museum, kami melangkahkan kaki dulu ke Candi Gatot Kaca yang berada di seberang jalan di depan museum…

Candi Gatot Kaca berada di lahan yang lebih tinggi dari lokasi Candi Arjuna dan kawan2…  Ukurannya juga lebih besar dan lebih tinggi… Entah mengapa…?  Candi Gatot Kaca ini ditemani 2 tumpukan batu candi berbentuk umpak di 2 sisinya…

Candi Gatot Kaca dan setumpuk umpak di latar depan…

Dari Candi Gatot Koco ini terlihat Telaga Balekambang yang lokasinya gak jauh dari kompleks Candi Arjuna, serta pemandangan ke pemukiman dan kebun2 sayur di dataran tinggi Dieng… Suasananya begitu hening…, nyaman dan menyejukkan hati….

Kami tak cukup lama di candi ini…, hujan yang semakin menderas dan udara yang semakin dingin memaksa kaki untuk segera melangkah ke Museum Kailasa yang ada di seberang jalan..

@ Museum Kailasa..

Museum Kailasa ternyata terdiri dari 2 unit gedung.., museum lama dan museum baru… Di museum Kailasa yang lama dipamerkan batu2 bagian candi yang ditemukan di sekitar daerah Dieng…  Tapi penataannya just so so, gak memberikan impressi yang lebih…

Denah Gedung Baru Museum Kailasa

Bagaimana dengan Museum yang baru…? Museum baru yang diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, pada tanggal 28 Juni 2008 mempunyai bangunan berbentuk juring dengan lantainya berlapis-lapis, smembuat kita bisa menyusuri seluruh bagian dengan mengalir secara continiu.. Di bagian paling dalam terdapat teater yang memutar film tentang riwayat Dieng…  Film ini diputar dengan soundtrack karangan Sujiwo Tejo  yang berjudul Pada Suatu Ketika… Lagu yang indah dan menyentuh kalbu…

Untuk bisa menikmati pemutaran film tersebut, setiap pengunjung dipungut biaya Rp.2.000,-/orang dengan jumlah penonton minimal 10 orang.. Karena kami datang cuma bertiga, plus ada 2 orang pengunjung lagi, dan jumlah tersebut tidak mencukupi.., maka kami memutuskan untuk memborong.., alias membayar untuk 10 penonton, meski cuma berlima…  Dan kami memutuskan untuk menonton terlebih dahulu sebelum menyusuri museum tersebut…

Selesai nonton film yang berdurasi sekitar 10 – 15 menit, dan mendapatkan gambaran mengenai riwayat Dieng, kami mulai menyusuri museum Kaliasa yang baru..

Si Rambut Gimbal.. A Uniquely of Dieng…

Galeri di museum ini dibuat begitu mengalir dengan informasi awal mengenai riwayat terbentuknya dataran tinggi Dieng secara geologi…, kondisi lingkungan, sosial dan budaya Dieng.., termasuk adanya anak2 berambut gimbal… Baru dilanjutkan dengan informasAdd an Imagei tentang kekayaan peninggalan budaya berupa candi2…

A Syiwa Corner @ Museum Kailasa…

Informasi di museum ini ditampilkan dalam bentuk baner2 yang sangat eye catching dan informatif…  Satu informasi yang sangat berkesan, informasi yang memberikan KOMPARASI TENTANG SELURUH CANDI-CANDI YANG TERSEBAR DI PULAU JAWA….

Komparasi Candi…
Still Komparasi Candi…

Setelah melihat2 beberapa kali keliling, kami pun meninggalkan Museum Kailasa dan melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang…

Kawah…? Maksudnya bukaan gunung api yang mengeluarkan gas…? Iya…. Betul sekali…  Tapi kawah yang ini tidak seperti Kawah Bodas di Gunung Tangkuban Perahu yang membutuhkan perjuangan untuk sampai ke lokasi.  Aksesibilitas ke kawah ini begitu mudah…, ada jalan aspal.. hotmix pula… !! So, setelah menyusuri jalan dan sempat melintas di bawah pipa gas yang merupakan jaringan dari PLTG,  kami pun sampai ke area parkir Kawah Sikidang… Area parkir….???  Iya… Kawah Sikidang dilengkapi dengan area parkir plus beberapa fasum yang umumnya ada di obyek-obyek wisata yang dikelola dengan baik..  Selanjutnya dari area parkir,  kami tinggal jalan kaki beberapa puluh meter untuk sampai ke lahan dimana terdapat bukaan-bukaan yang menjadi jalan keluar gas bumi…..

di Kawah Sikidang…, dingin… bbbrrrrrrr….. dan bau..

Btw, begitu membuka pintu mobil, selain merasakan udara yang sejuk serta rinai gerimis yang memang selalu ada di daerah ini, kita juga akan mencium bau yang “keren abizzzz”,  hehehehe… Bau yang nyaris seperti bau k****t, yang merupakan bau gas sulfur…  Sebagai catatan, pengunjung tidak boleh terlalu dekat dengan kawah-kawah yang ada.., karena gas Sulfur itu bisa menjadi racun bila terhirup dalam konsentrasi tertentu…  Untuk mengingatkan pengunjung , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara meletakkan tanda peringatan yang dilengkapi dengan gambar tengkorak…

Menurut legenda yang ada di masyarakat Dieng, Kawah Sikidang adalah seorang pangeran yang ditimbun dalam sebuah sumur yang digalinya sendiri atas permintaan seorang putri cantik yang telah dilamarnya.  Karena si pangeran tak cukup tampan di matanya, sang putri berusaha menyingkirkan sang pangeran buruk rupa dengan menguburnya di dalam sumur..  Namun akibat kesaktiannya sang Pangeran mampu tetap meronta-ronta dalam bentuk golakan lahar di kawah Sikidang….

Menikmati Gorengan di Pasar Sikidang…

Setelah melihat cairan yang bergolak di bukaan2 yang ada di tanah tersebut dari balik kekabutan, kami kembali ke parkiran mobil…  Di sekitar parkiran itu tersedia beberapa bangunan yang difungsikan sebagai pasar lengkap dengan toilet yang cukup bersih…  Sebelum pulang kami menghampiri sebuah warung di pojokan pasar tersebut.., waung yang menjual goreng tempe, tahu, pisang serta lengkap dengan minuman berupah teh, kopi dan purwaceng, sejenis minuman khas dieng yang terbuat dari rempah2..  Dalam cuaca yang dingin…, tempe dan tahu goreng yg dicocol sambel kecap rasanya nikmatttttt bangetttzzzzzz……

Merasa enakan setelah menyantap beberapa potong gorengan dan minuman…, kami melanjutkan perjalanan… Kemana lagi….? Ke Telaga Warna…, tapi sebelumnya kami singgah di Candi Bima yang berada di perbukitan di pertigaan jalan ke Kawah Sikidang yang telah kami lewati saat datang…

Candi Bima.. D biggest and d location is d highest one…

Candi Bima, seperti tokoh Bima yang bertubuh paling besar di antara anggota Pandawa, merupakan candi terbesar.. Lokasinya juga paling tinggi dibanding dua lokasi candi sebelumnya…, sehingga untuk mencapainya kita harus melewati  beberapa puluh anak tangga.    Aku amat-amati, bagian belakang candi ini mengarah ke Kawah Sikidang…, sehingga dalam candaanku ke teman2 satu rombongan, aku bilang kalo “Bau yang keren abiz dari Kawah Sikidang itu adalah bau k****t Bima.. Hahahahaha….

Telaga Warna…

Dari Candi Bima kami meneruskan perjalanan ke Telaga Warna..  Setelah membeli karcis di  di loket yang ada di pintu gerbang, kami menyusuri jalan setapak menuju telaga… Daannnn…, subhanallah, telaga itu berwarna hijau pupus dan ada yang kemerahan di bagian ujung. Warna telaga nampaknya disebabkan oleh lumut yang ada di dasar telaga, yang mungkin disebabkan pengaruh lahan yang vulkanis.  Dikelilingi tetumbuhan, suasana yang sunyi dan rinai hujan, telaga itu tampaknya disebabkan oleh tampak indah tapi juga syahdu…  Ada keheningan yang begitu dalam….

Dari Telaga Warna kami kembali ke Yogya…, setelah singgah untuk mengembalikan payung pinjaman ke warung pak Saroji dan juga singgah untuk makan sore di sebuah rumah makan di Wonosobo…

Perjalanan ini begitu indah…, begitu memuaskan mata dan bathin..  Dataran yang tinggi dan selalu berkabut benar2 bagai Negeri di Atas Awan…

Dalam hati aku berharap bisa kembali ke sini untuk waktu yang lebih lama.. Sehingga bisa menginap dan menikmati setiap sisi Dieng….

Di dalam mobil yang menyusuri jalan berliku menuju Yogya, pikiranku yang liar dan terkadang ajaib berkata…, “Seandainya aku mendapatkan pasangan hidup yang orangtuanya menetap di Dieng, tentu aku punya alasan untuk kembali dan kembali berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan ini… Aku akan punya “rumah” di sini….” Hehehehehe….***

5 thoughts on “Berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan

  1. duuh…pic telaga warnanya uapiiik tenan….!🙂 mengingatkanku akan kenangan wkt berkunjung kesana…. ( oya, kripik jamur khas wonosobo nya ga ketinggalan untuk diicipi kan ? )

    1. @ Mechta : makasiyy atas pujiannya ya… tapi bukan karena skill saya, tapi memang karena obyeknya yang indah sekali… keripik jamur..? waahn gak sempat makan tuuhhhh.. aku sempatnya nyicipin keripik kentang, kentang goreng, kacang, carica dan purwaceng….
      Makasiyy udah berkunjung ke blog ku ya, Tan…

  2. hanya untuk bs kembali ke dieng,lalu berharap,kalau sj punya suami yg orang tuanya tingal di dieng. mengapa mbak ndak mencoba berpikir,kalau saja punya suami orang yogya,tentu bs pelesir ke dieng dan dng sepenuh kegembiraan menikmati segala keindahannya dng kebahagian bersama.
    hahahahahahahha…ini cuma saran,loh..!
    salam hangat selalu..

    1. @ Mentari Jiwa : kalau aku dapat mertua yang menetap di Dieng.., aku akan lebih sering ke Dieng.. dan kalau ada rezeki akan bisa punya rumah gunung yan cantik, seperti rumah kakeknya Heidy.. Hehehehe…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s