Berkunjung ke Kailasa, Negeri Indah di Atas Awan

Kailasa ? Dimana itu…? Kok rasanya nama itu gak pernah tercantum di peta.. Di Indonesia atau di negara lain ya…?

Kailasa itu di Indonesia… Beneran Indonesia.. Tepatnya di Dieng Plateu (Dataran Tinggi), di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.. Dieng karena keindahan dan ketentramannya diibaratkan sebagai Kailasa atau Khayangan, negeri para dewa, negeri yang indah di atas awan….

Ceritanya hari Sabtu 26 Maret 2011, aku pergi ke sana..


Menurut informasi di Museum yang diberi nama Kailasa, yang terdapat di Dieng, berdasarkan 22 buah prasasti berbahasa Jawa Kuna, Dieng yang berasal dari kata Dhi Hyang (tempat para roh), dahulu berfungsi sebagai pusat kegiatan religius, tempat para pendeta sekte Saiwa melakukan praktek asketik, dimana Dieng diibaratkan sebagai Kailasa artinya Kahyangan Siwa yang Suci, Pusat Dunia dan Tempat Para Arwah Bersemayam…

Ngapain ke Dieng…?
Aku pertama kali curious soal Dieng saat lebih dari 10 tahun yang lalu melihat video clip almarhum Chrisye yang disutradarai Jay Subyakto yang mengambil lokasi di candi2 di kawasan Dieng.. Rasanya eksotis banget ngeliat candi di antara kekabutan….
Sekitar tahun 1998 saat aku menginjakkan kaki di Yogya untuk suatu pendidikan selama 6 bulan, aku menyusuri jalan Prawirotaman, yang merupakan salah satunya wilayah beredar wisman di Yogya, aku melihat travel2 biro yang menyediakan paket perjalanan ke sana.  Tapi karena suatu dan lain hal maka keinginan tersebut terlupakan… , dan tetap terlupakan meski kemudian aku sempat menetap sekitar 2 tahun 5 bulan di yogyakarta untuk menyelesaikan studi pasca sarjanaku. Ini merupakan salah satu kebodohan besar buat aku…🙂
Dua minggu yang lalu, saat aku tahu akan ditugaskan menghadiri rapat di Yogyakarta, aku bertekad akan pergi ke Dieng…  Aku mulai mencari2 informasi travel yang menyediakan paket perjalanan ke sana.., tapi seorang teman baik meminjamkan kenderaan lengkap dengan driver untuk pergi ke sana…
Hari Sabtu, 26 Maret 2011 jam 06.30 pagi aku beserta 2 teman yang bernama sama, Ika dan Ika, diantar Mas Joko, si driver yang baik hati, memulai perjalanan ke Dieng..
Kami jalan ke arah Sleman… melalui daerah Kali Putih.., daerah yang mengalami bencana berupa lahar dingin yang membawa material pasir dengan volume yang subhanallah banyaknya.., yang menyebabkan banyak rumah hancur….

Setelah singgah untuk sarapan brongkos di Warung Ijo Bu Padmo di bawah jembatan yang menghubungkan desa Salam dan desa Tempel, kami menuju Wonosobo melalui jalan pintas, melalui desa-desa di perbukitan selama sekitar 2,5 jam.  Udara di Wonosobo sejuk…, dengan pemandangan warna hijau dimana-mana…

Dataran Tinggi Dieng..

Dari Wonosobo harus ditempuh 25 km lagi untuk bisa sampai ke Dieng.. Namun ini perjalanan yang menyenangkan…, karena menyusuri bukit-bukit dan pegunungan… Iya, Dieng berada diantara pegunungan karena Dieng diperkirakan dulunya merupakan danau bekas kawah gunung api yang sudah mati..

Mobil lalu diparkir di pelataran parkir, yang di ujungnya terdapat semacam pintu ke arah sebuah taman… Tapi karena hari hujan, kami terpaksa menunda masuk ke taman tersebut dan duduk di warung Pak Saroji…  Warung yang antik…  Kenapa..? Karena penjualnya menghidangkan dagangannya berupa manisan carica, kentang goreng, kripik kentang, kacang, minuman purwaceng tanpa menagih pada pengunjung yang menikmati di tempat.. Yang ditagih hanya yang kita beli untuk dibawa pulang.. What a service…!!!!

Sementara menunggu hujan reda, sambil menikmati makanan dan minuman hangat di Warung pak Saroji, kami juga sempat melakukan sholat di musholla yang berada tepat di belakang warung..  Saat berwudhlu…. Subhanallah….. bbbbrrrrr………………… airnya sejuk banget…… gigi aja bergemeretuk dan ngilu ketika kumur2….  Rasanya malah pengen bergelung dalam mukena.. hehehehe…

Rekonstruksi Dharmasala

Setelah hujan agak reda, dan dengan dibekali payung pinjaman dari isteri pak Saroji, kami berjalan menuju taman yang tersembunyi di balik rerimbunan bunga…  Melewati pintu gerbang, kami melihat selapis rerimbunan tanaman lagi di depan.. Sedangkan di sisi kanan terlihat umpak, yaitu tumpukan batu2 candi tersusun rapi…, yang ternyata Rekonstruksi Dharmasala…, tempat istirahat para penziarah dan juga tempat persiapan upacara keagamaan..

Cerita Dharmasala…

Lalu kami meneruskan langkah menuju taman yang ditutupi pagar tanaman… Subhanallah…, di balik tanaman2 tersebut terbentang jejeran 5  buah candi yang indah… Disempurnakan  dengan udara yang sejuk dan kekabutan serta perbukitan hijau  yang menjadi latarnya… Subhanallah…. Sungguh indah… Tak salah bila diungkapkan bagai negeri indah di atas awan…

5 Candi.. Kiri – Kanan : Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sumbadra, Candi Arjuna dan Candi Semar

Candi tersebut oleh masyarakat diberi nama mengikuti tohoh2 pewayangan..  Candi Arjuna, Candi Semar (di depan Arjuna), lalu Candi Sumbadra, Candi Puntadewa dan Candi Srikandi.

Candi Arjuna…
Candi Semar…
L – R : Candi Sumbadra, Candi Puntadewa dan Candi Srikandi..

Nama-nama candi ini membawa aku pada kenangan masa kecil, ketika almarhumah ibu membelikan aku 4 jilid buku cerita bergambar yang sangat tebal (untuk ukuran anak kelas 4 SD) karya RA. Kosasih yang berjudul Mahabrata, lalu 3 jilid buku Barata Yudha, serta beberapa jilid (aku gak ingat persis lagi) buku yang tak terlalu tebal berjudul Pandawa Seda.. Entah dimana buku2 itu sekarang.. Aku ingin membeli lagi, tapi tak pernah menemukannya di toko buku..

Buku2 itu membuat aku mengenal tokoh2 wayang beserta karakternya… Buku-buku yang mengajarkan pilihan-pilihan hidup yang bernama kebaikan dan keburukan, serta segala konsekuensinya…

Tapi menurut deskripsi yang belakangan aku baca di Museum Kailasa, tidak ada hubungan antara nama dan karakter tokoh wayang2 tersebut dengan apa yang diekspresikan pada dinding-dinding candi itu…

Kami lalu menyusuri candi-candi tersebut satu persatu… Mengelus dan merasakan pahatan-pahatannya..  Kalau sudah begini, sedih rasanya tidak punya ilmu arkeologi sehingga tak mampu membaca apa makna yang tersurat dan tersirat pada setiap bahagian candi-candi tersebut…

Candi Arjuna dan Candi Sumbadra di latar belakang..

Ada banyak tanya di dalam hati.. Generasi seperti apa yang mampu menetukan lokasi yang begini indah untuk menjadi tempat melakukan aktivitas asketiknya…? Berapa banyak orang yang terlibat membuat semua ini, berapa lama..? Dari mana mereka datang…? Dari mana mereka mendatangkan bahan-bahannya.. Bagaimana teknologi arsitektur dan pahat batu mereka sehingga mampu menghasilkan karya yang begitu indah…?  Dan satu hal lagi, lokasi ini, diperkirakan dengan teknologi saat ini, berada tepat di tengah Pulau Jawa.. Kok bisa generasi abad keenam dan ketujuh menentukannya..? Rasanya zaman itu pengetahuan pemetaan masih sangat sangat sangat terbatas..  Gak ada GPS atau apalah yang bisa membantu mengukur.. Coincidence….? Rasanya enggak yaa…  Kalau enggak, terus bagaimana…? Pakai teknologi apa…?

Belum puas berkeliling, mengamati dan duduk menikmati suasananya, kami harus bergegas pergi karena hujan mengguyur dengan derasnya… Payung tak mampu melindungi diri dari terpaan air hujan..  Udara jadi terasa semakin dingin menusuk tulang… tapi, candi dan lingkungannya jadi semakin indah dan eksotis…. Membuat semakin enggan meninggalkannya…

Ketika hujan semakin tak bersahabat, kami terpaksa berlari dan berlari untuk kembali ke warung pak Saroji untuk menghangatkan tubuh dengan teh hangat dan kentang goreng serta secangkir purwaceng…

Kelima candi yang berada dalam satu kompleks ini ternyata belum semua… Di Dieng ini masih ada 2 candi lagi, yaitu Candi Gatot Kaca dan Candi Bima..  Perjalanan ke 2 candi lagi dan Museum Kailasa harus dilakukan setelah hujan agak reda…  ***

7 thoughts on “Berkunjung ke Kailasa, Negeri Indah di Atas Awan

  1. Salah alamat itu.. Kailas itu berasal dari kata kalasan bahasa jawa. Diucap dg bahasa indi, yaitu tempat bersemayam siwa, sehingga dibangun griya siwa yg di peruntukan untuk siwa dan keluarganya. Kita lebih mengenal dg kata prambanan. Bisa cek artefaknya masih utuh cuma kebanyakan tidak tahu.

  2. setiap candi,dibangun ibarat buku yg dpt dibaca yg menyimpan makna pengetahuan metafisis agama. semisal borobudur,wujudnya menjelaskan kebenaran simbolik,kamadhatu,rupadhatu dan a rupadhatu. sebuah ajaran untuk mencapai ketiadaan (a rupadhatu). yg dlm semua agama merupakan tujuan akhir untuk bs memandang keutuhan-Nya.
    perjalanan kilas balik ketitik,nol. antara ada dan tiada. itulah kita..!
    sungguh luar biasa nenek moyang kita yg sdh sedemikian majunya.
    maka,sangatlah pantas disebut sebagai orang jawa (arif).
    sementara pd jmn itu amerika sndr msh primitif.
    salam hangat mbak,sondha..!

    1. @ Mechta : makasiyy atas apresiasinya thdp foto2ku… brongkos warung bu Padmo? uenak bangetsss… bumbunya manstapp, dagingnya empuk, dan tempatnya… unik… Di pasar di bawah jembatan… hehehe… Btw, makasiyy udah singgah di blog ku yaaa…

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s