Happy 73rd Birthday, Papa…

Hari ini, 24 May 2011, Papa ku genap bersia 73 tahun…

Our Beloved Papa : Arden Siregar, 30 December 2010

Sungguh bukan  perjalanan yang pendek.. , tapi kami, anak-anaknya berharap, masih ada kesempatan buat menyenangkan beliau, membahagiakan beliau.. Semoga masih ada kesempatan bagi beliau untuk menyaksikan cucu-cucnya tumbuh besar dan memperoleh cinta dari seorang Odang yang luar biasa..

Papa merupakan panutan yang luar biasa bagi kami…Sosok ayah yang membangun ikatan cinta yang luar biasa di antara anak-anaknya…  Sosok ayah yang bersama mama mendorong sayap-sayap kecil anaknya untuk mampu berkepak di langit kehidupan yang tak selamanya biru cerah bermandikan cahaya matahari… Sosok tempat berpaling dan bersandar ketika hidup sedang tak ramah bagi anak-anaknya..Sosok ayah yang mengagungkan pendidikan sebagai bekal anak-anaknya.. Sosok yang mengajarkan agungnya warisan budaya dan nilai-nilai keluarga… Sosok ayah yang mendorong anak-anaknya mencintai buku sebagai kemewahan hidup…

Selamat ulang tahun Papa, semoga selalu dalam lindungan Tuhan.. Tetap sehat dan bahagia bersama kami, anak cucu Papa…

in Korean Traditional Custom, March 2011

We love you so much…

Alloh Yang Menentukan…

Dua tahun terakhir Alloh memberi pelajaran indah untuk ku.. Pelajaran yg tidak diberikan dalam satu paket, tapi dalam beberapa paket… Paket2 yg istimewa… Pelajaran yang istimewa, sangat istimewa..

Paket pertama sampai padaku di suatu hari minggu di bulan Juli tahun 2009..

Sehari setelah pelaksanaan reuni dgn teman2 SD ku, SD Negeri Teladan Tahun 1974 – 1980, aku mengantarkan Yasmine Attailah, sahabatku saat SD.  Dia datang dari Banda Aceh khusus untuk menghadiri reuni.  Aku menemaninya menyusuri kota Pekanbaru. Mulai dari mengunjungi kompleks SD Negeri Teladan di Jl. Hang Tuah, mengunjungi tetua masyarakat Aceh di Pekanbaru, melihat dari kejauhan bekas rumahnya, melihat masjid Annur, dan terakhir mengunjungi Pasar Bawah utk membeli oleh2.

Saat keluar dari keramaian Pasar Bawah, setelah sekitar 1,5 jam di sana, aku baru menyadari kalau kedua hp ku yang disimpan dalam satu case tak lagi ada di dalam tas yang aku sandang. Innalillahi wa innailahi roji’un..  Alhamdulillah tidak ada rasa panik.. Dengan menggunakan hp Yasmin aku menelpon ke kedua nomor hp ku, utk beberapa saat ada nada panggil, tapi  kemudian, tak ada nada lagi.  kedua nomor itu sudah mati.  Ada rasa was-was, takut pihak yg tak berkepentingan menyalahgunakan nomor telpon keluarga dan temanku yg ada di phonebook yg ada di kedua hp tersebut. Mana nomor2 anggota keluarga dibuat jadi satu group pula..

Setelah mengantarkan Yasmin ke bandara SSQ II, aku langsung menuju ke kantor. Aku memang sudah janji dengan Andi, seorang junior di kantor untuk menyelesaikan laporan yang harus diantarkan hari senin pagi.  Begitu sampai di kantor, aku langsung membuka koneksi ke internet dan membuka FB. Lalu meninggalkan pesan di inbox adik ku David.. Memberi tahu kalo kedua hp ku hilang dan minta dia mengingatkan anggota keluarga agar tidak menanggapi kalau ada yg memberi kabar tak baik dari nomor-nomor tersebut. Alhamdulillah adik ku langsung merespon.

Begitu Andi sampai di kantor, aku menanyakan apa kah dia mau menemani ku ke mall Pekanbaru yang banyak toko hp nya.. Karena Andi gak keberatan, kami langsung pergi. Dan gak lama, kami kembali ke kantor dgn membawa 1 hp CDMA dan 1 hp GSM plus kartunya masing2. Kartu2 ini dipakai sementara, sampai aku bisa ke customer service perusahaan seluler untuk menerbitkan kartu pengganti dgn nomor yang lama.  Alhamdulillah, semua lancar.. Hari senin siang berikutnya kedua hp baru dgn nomor lama sudah berfungsi.. Tinggal aku mengumpulkan nomor telpon keluarga, teman dan jaringan kerja kembali… 🙂

Paket Kedua…  Paket ini datang padaku di awal Agustus Tahun 2010, jam 19:40 wib..

Rencananya sehari kemudian aku dengan Yuli, seorang teman kantor akan berangkat ke Batam untuk mengikuti rapat yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Sebelum jam kantor usai, bendaharawan kantor menyerahkan uang perjalanan dinasku dan menitipkan uang perjalanan dinas Yuli, karena Yuli hari itu ke Kabupaten Kampar dan gak sempat ke kantor untuk mengambil uamg tersebut.

Saat aku keluar dari kantor, aku bertemu dengan kak Indria, salah seorang senior di kantor. Kak Indria mengajak ku ke Pasar Buah, salah satu super market besar di Pekanbaru. Kami lalu pergi  menggunakan Sparky.  Sebelum ke Pasar Buah kami sempat singgah ke Penjahit Santa untuk mengambil jahitanku.  Di Pasar Buah aku membeli beberapa toiletories untuk dibawa ke Batam. Saat membayar di kasir aku melihat jejeran batere, mengingatkan aku pada remote mobil ku yg sudah tak nyala beberapa hari…  Tapi di super market itu tidak menjual batere untuk remote mobil.. Kak Indria bilang, nanti saat aku akan mengantarkannya pulang, sebaiknya kami singgah di toko jam yang ada di jalan menuju rumahnya…

Keluar dari Pasar Buah, aku meletakkan kantong belanjaan serta tas ku di jok belakang  Sparky.., lalu mengarahkan Sparky ke Jl. Tuanku Tambusai, melalui Jl. Jend Sudirman..  Kami berhenti di depan Toko Jam Abbas Baru, sekitar 100 meter dari jl Jend Sudirman,  dan di seberang terminal  Mayang Terurai.. Setelah memarkirkan mobil secara paralel di tepi jalan, aku turun dan mengambil tas ku dari jok belakang, mencantolkannya di bahu, lalu berhenti sejenak untuk memeriksa pintu mobil apa sudah terkunci atau belum…  Tiba2 tubuhku tertarik, terputar... Innalillahi wa innailahi roji’un...  Tas ku ditarik orang bermotor… Aku dirampok….

Suara ku menjeritkan kata “Rampooooooooooookkkk..!!!!!!!!!” tidak bermakna apa-apa… Tidak ada orang yang mengejar perampok yang menggunakan motor bebek itu….  Mereka hanya melihat…  Bahkan laporan ke aparat keamanan terdekat tak menghasilkan apa-apa kecuali selembar surat Laporan Kehilangan.. 🙂

Apa yang ikut raib bersama tas itu…?  Uang perjalanan dinas ku dan Yuli.. Masing2 sekitar 3,8 jeti..  Lalu ada uang pribadiku sekitar 2 jetian.., kamera, external hard disk yang menyimpan data pekerjaan  dan foto2 perjalananku selama 2 tahun terakhir, buku-buku tabungan, passport…, bahkan juga ada kalung dan liontin berlian kesayanganku..  Iya tas itu sudah ready untuk dibawa berangkat keesokan harinya…

Awalnya aku pikir dompet yang berisikan KTP, kartu2 ATM dan berbagai surat2 penting lainnya ikut hilang, juga tiket pesawat Pekanbaru – Batam pp atas  nama ku dan teman seperjalanan. Ternyata dompet terletak di dashboard di mobil setelah membayar uang parkir, dan lupa dimasukkan kembali dalam tas…  Sedangkan tiket ternyata entah mengapa saat menjelang pulang kantor, aku pindahkan dari tas ke dalam amplop coklat besar yang berisikan surat-surat untuk perjalanan dinas… Amplop coklat itu aku letakkan di jok belakang mobil saatkeluar dari kantor. Aku baru tahu kalau dompet dan tiket tidak hilang saat aku sampai di rumah sepulang dari kantor polisi njelang jam 01 pagi.. Jadi begitu kejadian aku sibuk menelpon customer service beberapa bank yg menerbitkan ATM yang aku miliki untuk meblokir rekeningku…

Apa rasanya kehilangan seperti itu… Rasanya blank…, kosong… Rasanya bagai manusia tanpa identitas.. Gak punya KTP dan surat2 yang menyatakan identitas diri… Gak punya uang, bahkan gak punya akses untuk mengambil uang milik kita yang ada di rekening bank…   It’s really so sad.. Tapi aku tidak menangis sama sekali… Saat itu sempat terpikir ini baru kehilangan materi dan akses, bagaimana kalau kehilangan yang lebih besar lagi…? Kehilangan orang-orang yang kita cintai dengan segenap hati, atau bahkan kehilangan jiwa kita sendiri…? Astagfirullah al adzim… Tapi itu akan terjadi.. akan terjadi pada setiap manusia…  Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi kehilangan-kehilangan itu….

Tangis ku baru pecah ketika adikku David yang ku kabari lewat sms, menelpon…  Rasa gamang yang aku simpan dalam hati jebol juga…. Tapi setelah bicara dengan David dan diberikan jalan keluarnya, bebanku rasanya terangkat… David  keesokan harinya mengirimkan sejumlah uang ke rekening Yuli yang melakukan perjalanan bersama aku..  Sehingga semua bisa running well sebagaimana yang direncanakan…Tak tahu lah apa jadinya kalau Alloh tidak mengirimkan David untuk selalu ada di sekitarku, meski sebenarnya secara fisik kami terpisah ribuan kilometer….

Peristiwa dirampok di pinggir jalan juga menimbulkan trauma bagi ku.. Untuk menghilangkan trauma, aku memaksa diriku menyetir sendirian melintasi jalan itu pada waktu yang hampir sama dengan kejadian perampokan itu…  Hasilnya bukannya trauma hilang, tapi tubuhku malah gemetar dan akhirnya aku nangis terhisak-hisak…  Aku merasa tidak lagi aman berada di kota ini.. Kota yang sejak aku kecil rasanya adalah “rumah” ku…  Bagaimana tidak, aku dibesarkan di kota ini sejak usia satu tahun, sejak kota ini belum seramai sekarang, sejak jalan-jalan masih lengang dan aku bisa bersepeda ria ke sana ke mari…  Tapi ternyata tidak lagi.. Kota ini bukan tempat yang aman lagi buat aku.. Kota ini sudah penuh kejahatan, yang salah satunya pun menyentuh aku… Astagfirullah al adzim..

Aku bahkan sempat kehilangan semangat kerja karena banyak surat2 yang harus diulang pembuatannya karena arsip digital ikut lenyap bersama external hard disk.. Aku bahkan memutuskan untuk pulang beberapa hari ke Medan menemui Papa dan Mama untuk memperoleh spirit ku kembali… Cinta dan restu orang tua sungguh obat mujarab dari segala rasa tak berdaya…

Paket ketiga tiba pada ku beberapa hari menjelang Idul Fitri sekitar September tahun 2010 yang lalu…

Setelah menghitung2 berapa uang yang aku terima sebagai hasil kerja ku selama setahun sejak lebaran sebelumnya, aku menelpon mba Puji, seorang teman di FKA Riau.. Kami untuk selang waktu yang lumayan sudah bekerja sama untuk suatu kegiatan sosial.  Aku ingin memberikan uang yang ku sisihkan dari pendapatan ku itu kepada pihak yang menerima rezeki yang kami sisihkan setiap bulan…, dengan harapan bisa menjadi modal usaha mereka kecil-kecilan…  Aku membuat janji dengan mba Puji agar bisa ke sana pada saat yang sama, dan waktu yang ditetapkan adalah beberapa hari menjelang Idul Fitri, ba’da Ashar…

Pada hari yang sudah kami tetapkan, aku datang ke rumah keluarga yang akan kami temui.. Rumah itu berada di kompleks masjid yang besar di Pekanbaru..  Setelah memarkirkan mobil ku di tepi jalan dekat salah satu pintu gerbang halaman masjid, aku memasukkan amplop putih yang berisikan uang yang baru saja aku ambil dari atm ke dalam tas ku…  Aku lalu berjalan dan masuk ke rumah yang mau ku kunjungi.., dan mba Puji sudah menunggu di sana…

Setelah ngobrol-ngobrol sejenak dan menyampaikan apa yang biasa kami sampaikan setiap bulan, aku pun bersiap untuk menyampaikan niat ku.. Tapi saat membuka tas untuk mengeluarkan amplop putih itu…, innalillahi wa innailahi roji’un… Amplop itu tak ada di dalam tas…  Aku langsung lari ke luar, ke tepi jalan ramai tempat aku memarkirkan mobil ku…

Allohu akbar….  Di tengah aspal hitam, di samping mobil ku yang di parkir, tergelak dengan manisnya amplop putih itu… , dengan posisi terbuka, menampakkan lembar-lembar uang berwarna biru…..

Jalan itu jalan yang ramai, di seberang rumah dinas petinggi negeri Melayu ini.., pada jam dimana orang mundar mandir menjelang buka puasa… Kok bisa tak seorang pun melihatnya…? Kok tak seorang pun memungutnya…?  Siapa yang menutup amplop putih di atas aspal hitam dari pandangan orang-orang yang lalu lalang di jalan itu….????  Subhanallah….  Aku benar-benar terdiam, terbungkam…

Uang di dalam amplop ini adalah hak orang miskin sejak aku meniatkannya…, dan Alloh menjaganya sehingga sampai ke tangan yang berhak, meski aku lalai dan ceroboh sehingga amplop itu terjatuh….  Alloh menentukan apa yang masih jadi hak seseorang apa yang tidak…  Kita harus berupaya menjaga segala milik kita, segala yang menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya…  Tapi ada Alloh yang Maha Penentu, apa kah yang kita jaga itu akan tetap bersama kita atau tidak..

Paket keempat… Paket keempat hadir saat aku sedang bergembira ria bersama teman-temanku di akhir Maret 2011 yang lalu…

Aku saat itu sedang travelling bersama dengan teman-teman mainku di Sumatera Barat.. Di hari kedua, setelah makan malam di daerah Jl. Ahmad Yani Bukit Tinggi, kami berjalan kaki menuju Jam Gadang dan berfoto-foto di sekitarnya.. Puas berfoto-ria kami berjalan kaki menuju hotel Bagindo yang berjarak gak sampai 1 km dari Jam Gadang…

Saat menjelang tidur, dan mau mencharge hp, aku tidak menemukan Nokia E71 ku di  dalam ransel..  Seluruh isi ransel ku tumpahkan ke atas tempat tidur, tapi E71 tetap tak nampak. Kesimpulannya E71 jatuh di jalan antara tempat makan, Jam Gadang sampai ke hotel Bagindo.., karena sambil berjalan kaki dari tempat makan menuju Jam Gadang, aku masih sempat menelpon Mama dengan menggunakan Nokia E71 kesayanganku itu….

Ya.., E71 yang telah berusia nyaris 2 tahun itu sangat aku sayang..Meski harganya sudah merosot jauh dari saat aku membelinyaa… :  Fitur-fitur nya sangat mendukung aku yang mobile.  Kapasitas phonebook nya luar biasa, selain jumlah yg disimpan bisa sangat banyak, data personal yang bisa dimuat juga banyak..Untuk  setiap contact, aku bisa menyimpan nomor teleponnya beberapa buah, alamat email, tanggal lahir, alamat rumah, dan lain-lain.. Bahkan aku menyimpan nomor rekening bank keluarga dan teman-teman arisan di situ.  E71 juga menyediakan akses untuk surfing di dunia maya, akses untuk email, Notes untuk membuat catatan-catatan penting, GPS dan Map.. Belum lagi fasilitas untuk musik dan lain-lain.. Pokoknya E71 ok banget buat ku..  Yang parahnya lagi, telepon ini menyimpan nomor telepon sejuta umat…, mulai dari nomor telepon keluarga, teman dan sahabat, sampai nomor telepon networking ku…. Hikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkssssssssssssssssssssss… 😥

Rasanya telpon itu harus dicari.. Aku harus menyusuri kembali jalan yang sudah kulalui sebelumnya…  Tapi hari sudah malam…, sangat malam.. Karena setelah sampai di hotel, sementara menunggu giliran mandi, Linda dan Veny yang menjadi teman sekamarku malam itu duluan, aku sempat ngobrol sama Yulisman dan Nana di teras kamar lebih dari 1 jam…

Aku lalu memandang Veny dan Linda.. Keduanya telah  tertidur dengan nyenyak.. Apalagi Linda yang malam sebelumnya tidak bisa tidur sama sekali…  Aku lalu berjuang untuk memasrahkan diri ku… Pasrah bahwa aku tidak boleh menggangu istirahat teman-temanku yang telah lelah.., pasrah bahwa kalau sudah sampai di akhir jodohku untuk bersama dengan si E71 kesayangan itu, tak ada yang bisa menghalangi.. Kalau masih ada jodoh, insya Alloh akan ada jalan yang mempertemukan ku kembali dengannya…  Alhamdulillah setelah gelisah beberapa menit, aku pun akhirnya tertidur nyenyak….

Saat bangun pagi, aku baru bercerita pada Veny tentang si E71 yang entah kemana..  Veny lalu mengajak aku menyusuri jalan yang telah kami lewati tadi malam…  Tapi tidak ketemu…. Hmmmmmm…, berarti sampai di situ lah jodoh ku dengan E71 itu…

Apa rasanya kehilangan kali ini….???? Sedih..? Pastilah…Yang menyedihkan itu adalah kehilangan data contacts ku….  Tapi saat aku melihat wajah teman-teman ku…, aku rasanya gak sanggup merebut kegembiraan mereka, kebahagiaan mereka, dengan kesedihan ku atas kehilangan E71...

Yaaa… , perjalanan ini adalah reunion travelling.. Sebuah perjalan bersama dari teman-teman main saat kuliah di Sosek IPB sektar  tahun 1987 sampai dengan 1992-an… Sebuah perjalanan yang telah dirancang sejak beberapa bulan sebelumnya…  Rasanya gak pantas dirusak oleh rasa  sedih karena kehilanganku.. Lagi pula ini ketentuan Alloh.., pasti yang terbaik..  Aku pun kembali bergabung bersama teman-teman ku dengan segenap keceriaan yang aku punya..  Menikmati kembali perjalanan yang sudah kami rencanakan ini…  Alhamdulillah.., rasa  sedih karena kehilangan itu menguap…   Bahkan tak tersisa… Aku bisa menikmati tawa canda bersama teman-teman, aku bisa menikmati Lembah Anai, nasi kapau, bahkan aku bisa menikmati semilir angin yang berhembus di Danau Singkarak…  Alhamdulillah…  Semua ternyata tergantung niat kita.. Niat baik menepis kesedihan agar teman-teman bisa menikmati perjalanan, alhamdulilah berbuah kebaikan bagi diriku sendiri…

Setelah kembali ke Pekanbaru, aku membeli hp pengganti dan mengurus ke provider untuk menerbitkan nomor ku kembali, sehingga jaringan ku bisa tetap menghubungi aku…  Alhamdulillah sejauh ini semua baik-baik saja… Aku kembali mengumpulkan satu persatu nomor contact ku, meski  masih jauh dari yang pernah ada, tapi tidak menghalangi kelancaran pekerjaan ku sejauh ini.. Sekali lagi, Alhamdulillah… ***

White Lie..

White Lie alias Kebohongan Putih…Kata ini mungkin tidak asing buat kita… Ya, kebohongan putih dimaknai sebagai kebohongan yang dilakukan untuk tujuan yang baik…

Apakah ini bisa dibenarkan menurut teman-teman…?  Bukan kah kebohongan adalah kebohongan, sesuatu yang tidak baik.., sesuatu yang tak dapat dibenarkan… Tidak ada yang bisa menyatakan bahwa berbohong itu benar… Bagaimana bila berbohong itu harus dilakukan untuk tujuan yang baik…? Hhhmmmm…. It’s grey zone, my dear friends…

Topik mengenai ini bahkan sudah dibahas sejak zaman Rasulullah SAW…  Dan ternyata Rasullah tidak menutup habis pintu untuk hal-hal yang seperti ini… Tapi dari yang aku dengar dan baca, Beliau tidak “langsung” melakukan kebohongan, melainkan membiarkan pihak lawan “terjebak” dengan pikiran-pikiran, asumsi-asumsinya sendiri…  Jadi lidah tetap tidak berdusta….

Beberapa hari yang lalu aku melakukan white lie… Tapi white lie ku benar2 ku lakukan.. Bukan seperti Rasulah.. Astagfirullah al adzim..

Ceritanya, seseorang yang pernah mengisi hari2 ku di masa lalu berhari jadi… Namun pertimbangan diri yang semakin tinggi usia, memutuskan untuk tidak meninggalkan ucapan apa pun di dinding-nya di jejaring sosial…, karena tidak mau siapa pun merasa terganggu…  Tapi ternyata oh ternyata, sebuah fasilitas di jejaring sosial bekerja dengan sangat baik, sehingga tanpa diperintahkan pun, secara otomatis menggalkan birthday wish di dinding si teman…

Aku tidak menyadari adanya kerja tersebut, sampai sebuah notification mengatakan bahwa si teman menigacungkan jempol atas ucapan tersebut…Aku yg baru nyadar akan kehadiran posting otomatis itu, berusaha menetralisir dgn mengatakan klo itu kerja mesin, lalu mengucapkan a simple birthday wish…  Tapi teman ku itu menganggap my belated wish itu gak apa-apa yang penting aku sudah berniat mengatakan birthday wish. 

Waaaahhhh ……,  aku justru gak mau ada yang merasa sebel karena menganggap aku berniat…  Dari pada nanti ada yg sebel.. Terpaksa kutuliskan di dindingnya, permohonan maaf, karena aku “sebenarnya” gak ingat dia berhari jadi… , padahal aku ingat, masih ingat.. Apakah ini tergolong sebagai white lie…? Entah lah… Yang jelas, rasanya tak ada yang dirugikan atas kebohongan ku ini.. Justru mungkin ada yang merasa lega…  Aku secara pribadi justru merasa sangat lega.. Padahal biasanya klo aku berbohong, jantung ku akan berdetak lebih kencang, jiwaku akan gelisah, meski sekecil apa pun kebohongan itu…  Mudah2an ini bisa tergolong white lie yaaa…**

Selamat Jalan Iban, Selamat Jalan Batak Keren, Selamat Jalan Robert Manurung…

Apa itu iban…? Iban adalah salah satu tutur (cara memanggil seseorang) dalam bahasa Batak. Iban atau lengkapnya  Pariban…

Robert Manurung 05.05.1964 - 05.05.2011

Buat seorang boru Batak, Iban artinya adalah anak saudara perempuan dari ayah alias anak namboru.. Sedangkan buat seorang lelaki Batak, pariban adalah boru alias anak perempuan dari saudara laki-laki  ibunya, alias boru tulang.  Menurut adat Batak, orang yang marpariban adalah pasangan hidup yang paling cocok.., namun di masa sekarang panggilan Iban bukan lagi semata2 seperti itu…

Seorang Robert Manurung yang menyebut dirinya sebagai “Raja Batak” di blognya yang bertajuk “Batak Keren” membahasakan aku sebagai ibannya..  Itu adalah panggilan panggilan menghormati, menghargai..  Padahal aku hanya seorang Boru Batak yang dia temukan di tengah belantara dunia maya.. Tak pernah bertemu muka, tak pernah berbicara melalui jaringan seluler kecuali pada pagi hari di ulang tahunnya yang terakhir, 05 May 2011, dua hari menjelang kepergiannya untuk selama-lamanya…

Siapa siyy Robert Manurung…? 

Deskrpisi tentang dirinya pernah dia tulis di blog Batak itu Keren sebagai berikut :

  1. Aku selalu diliputi perasaan heroik dan cinta yang mendalam terhadap negeri ini, setiap kali melihat Merah-Putih berkibar.
  2. Jiwa nasionalis tertanam dalam diriku selama bekerja sebagai wartawan di Harian Merdeka, yang waktu itu dipimpin oleh pendiri dan pemiliknya, BM Diah. Beliau ini salah satu tokoh pemuda dalam pergerakan kemerdekaan, sangat dekat dengan Bung Karno.
  3. Aku bersyukur dan bangga pernah bekerja di Harian Merdeka. Dinding kantor redaksi koran nasionalis ini dihiasi ratusan foto bernilai sejarah tinggi bagi Indonesia dan dunia, antara lain foto asli Proklamasi 17 Agustus 1945, foto Bung Karno dan BM Diah dengan tokoh-tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru, JF Kennedy dll.
  4. Merdeka adalah surat kabar terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Koran ini lahir hanya selang berapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya 1 Oktober 1945. Sampai akhir tahun 90-an, meskipun oplah kecil dan tak ada iklannya, Merdeka merupakan koran nomor satu.
  5. Sebagian besar wartawan hebat yang pernah lahir di negeri ini adalah “lulusan” Merdeka, sebutlah misalnya Rosihan Anwar, Harmoko dan generasi yang belakangan Goenawan Mohammad, Christianto Wibisono dan Fuad Hasan.
  6. Pada umur 30 tahun, aku merasa tujuan hidupku telah tercapai, yaitu keliling dunia. Memang belum semua tempat di dunia ini aku kunjungi satu per satu. Tapi dari segi kawasan, atau benua, telah aku kunjungi semua. Di antara semuanya, India paling mengesankan, karena belum digerus budaya artifisial barat.
  7. Karena merasa cita-citaku sudah tercapai, aku pernah berdoa agar Tuhan mencabut nyawaku. Tapi ternyata Tuhan punya kehendak lain, yang kuartikan bahwa aku masih diberikan tugas untuk mengabdi bagi keluargaku, teman-temanku dan masyarakat. Namun profesi wartawan kuanggap tak menarik lagi, karena pers Indonesia sudah benar-benar bobrok. Pemilik media mengisap darah wartawan, kemudian si wartawan melacurkan profesi, memeras dan mengemis.
  8. Aku mengundurkan diri dari profesi wartawan pada usia 34 tahun. Setelah itu aku sempat membantu petenis kelas dunia, Yayuk Basuki, meloncat ke peringkat 19 dunia dan lolos ke babak delapan besar turnamen akbar Wimbledon. Tapi secara bisnis, usaha itu kurang berhasil. Namun, aku tetap merasa berterima kasih pada Kang Wimar Witoelar, atas kesediaannya bekerjasama denganku mengurus manajemen Yayuk.
  9. Dalam banyak hal aku belajar secara otodidak. Aku kurang menghargai lembaga pendidikan formal, karena menurutku sistem pendidikan kita, dunia kerja, penghargaan masyarakat terhadap pendidikan, semuanya masih belum menghargai manusia sebagai mahluk yang cerdas, berkepribadian, dan independen.
  10. Aku menentang separatisme dan politik sektarian, serta diskriminasi dalam berbagai bentuk. Bagiku, setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana diatur oleh Undang Undang Dasar 1945.
  11. Aku bikin blog ini sebagai upaya kecil untuk menggugah kecintaan masyarakat Batak pada budaya dan kampung halaman. Ini sejalan dengan keyakinanku : untuk membangun Indonesia kita harus lebih dulu membangun suku-suku dan daerah. Sejak Kemerdekaan, Bangso Batak sudah menyumbang banyak pejuang, tentara, guru, penegak hukum, dokter, wartawan, dan ahli-ahli di berbagai bidang; demi kemajuan Indonesia.
  12. Fokus utama blog ini : seni budaya, sospol, lingkungan, info dan timbangan buku. Tentu tak terelakkan masalah agama pun akan kusorot di blog ini. Tapi, kepedulianku lebih pada kebebasan beragama, dan humanisme. Buatku, agama adalah urusan pribadi.
  13. Sastrawan favorit : Jean Paul Sartre, Kahlil Gibran, Chairil Anwar, Pablo Neruda, Yasunari Kawabata, Ahmad Tohari dan Multatuli.
  14. Novelis favorit : Sidney Seldon, Agatha Christi, Alistair McLean, Ashadi Siregar dan Mochtar Lubis.
  15. Tokoh idola : Bung Karno, Gandhi, JF Kennedy, Kahlil Gibran, Tan Malaka, Bunda Teresa.
  16. Pemain bola favorit : Christiano Ronaldo (MU), Penambucano (Lyon)
  17. Klub : Manchester United.
  18. Tim Nasional : Brazil & Perancis.
  19. Musisi/penyanyi favorit : Sebastian Bach, Vivaldi, Gordon Tobing, Joan Baez, Leo Kristi, Queen, Scorpion, The Beatles, ABBA, Bimbo, Santana, Tongam Sirait, Elvis Presley, Viky Sianipar, Los Morenos, GNR, Demis Roussos, Ann Murray, Rolling Stones, Von Groove, Ungu & Celine Dion.
  20. Makanan favorit : tongseng, sate padang, sangsang, naniura, sop konro, ikan rica-rica.

Iban Robert menemukan ku, lebih tepatnya lagi menemukan tulisan ku yang berjudul “Batak Berekor atau Berbelalai?” yang ku release di blog ku tanggal 23 Agustus 2007.. Tulisan tentang kenangan akan kebatakan ku, tentang beberapa pertanyaan yang ada di benak ku..  Lalu postingan  itu beliau reposting kembali  judul yang sama pada tanggal 15 Mei 2008 di blog punya beliau “Batak Itu Keren“…

Terus terang apresiasinya terhadap tuilisan ku itu mengagetkan ku.. Karena buat aku itu hanya tulisan remeh temeh dari seorang Sondha Siregar.., Boru Batak yang melayang-layang di Negeri Melayu…  Apresiasinya membuat aku melihat ke komunitas Batak yang digalangnya di dunia maya untuk membangkitkan rasa percaya diri orang Batak, agar mereka tidak lagi malu mengaku sebagai Orang Batak, karena sebenarnya Batak itu Keren, karena Batak itu punya warisan Budaya yang Luar Biasa, yang tak kalah dengan suku lainnya di negeri ini…

Lalu setelahnya kami beberapa kali ngobrol melalui Yahoo Messenger..

Kemudian Iban Robert mengkolaborasikan foto hasil jeprat jepret ku dengan tulisan yang sangat indah dari kak Halida Srikandini boru Pohan yang dirilis di “Batak Itu Keren” tanggal 29 September 2008 dengan judul “Lomang (Bukan Ketupat!), Makanan Khas Lebaran di Tapanuli Selatan“.  Foto itu merupakan foto yang ku buat saat pulang kampung di medio 2008 saat mengikuti pesta adat perkawinan iboto (adik laki2ku), David Siregar…

Apa yang Iban Robert lakukan terhadap karya2 kecilku itu kemudian menggelitik hati ku…, menggelitik darah Batak yang mengalir di tubuhku…  Kenapa  ?  Karena sampai saat itu, meski nama Siregar, yang merupakan stempel kebatakan, melekat erat pada diri ku sejak aku lahir, aku sebenarnya tidak merasakan ikatan yang kuat terhadap kebatakan ku itu..  Aku cinta keluarga ku, keluarga besar ku.. Aku punya buuuuaaaannnyyyaaakkk kenangan tentang Sipirok, Sibadoar dan Hanopan,yang merupakan tanah tumpah darah leluhurku…  Tapi apa aku merasakan ikatan yang kuat sebagai orang Batak…?  Enggak juga…  Aku merasa lebih terikat erat pada Kota Pekanbaru, Tanah Melayu yang menjadi tempat aku tumbuh besar…  Namun di satu sisi aku pun sadar bahwa masih ada orang di Negeri Melayu itu yang menganggap aku adalah si Batak pendatang…

Dalam beberapa kali percakapan di YM itu lah yang aku katakan pada Iban Robert..

Aku : “Iban, aku cinta sama keluarga ku.. Aku cinta sama Sipirok, Sibadoar dan Hanopan…  Ketiga kampung itu acap kali membuatku terindu-rindu.. Tapi aku tidak terlalu merasa sebagai orang Batak.. Rasanya setengah  dari diri ku mencintai Negeri Melayu, tempat ku tumbuh dan dibesarkan…

Iban Robert : “Gak ada yang salah sama itu semua Iban… Jadi lah kau Boru Batak Keren dari Pekanbaru…  Jadi lah kau orang Melayu berdarah Batak yang tak pernah kehilangan jati diri mu  sebagai Boru Batak...”

Lalu aku pun kembali tenggelam dalam kesibukan ku.. Sesekali ku lihat dari FB iban Robert  betapa dia sangat memikirkan Tanah Batak dan Tao Toba..  Sementara acap kali iban Robert men-tag ku untuk foto2nya mengenai Tanah Batak dan Tao Toba..

Di sekitar Oktober 2010, di sebuah thread di FB bertiga dengan Ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak , kami berdiskusi mengenai pariwisata yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk pengentasan kemiskinan bagi masyarakat Batak yang kaya akan budaya dan alam, terutama menghubungkan Sipirok ke jalur pariwisata Tao Toba yang sudah mendunia itu.   Iban Robert bilang, “Kapan iban ke Jakarta, kita ketemuan lah untuk berdiskusi tentang apa yang bisa kita lakukan untuk negeri leluhur kita itu

Lalu ku jawab “Iban, aku tak mau berbicara tanpa aku punya data mengenai potensi pariwisata yang ada di Sipirok.. Aku usahakan pun bisa pulang ke Sipirok untuk melihat2..”

Tapi sampai hari ini rencana melihat2 itu belum juga sempat ku lakukan… Pulang ke Medan berkali-kali dalam 6 bulan terakhir ini sepenuhnya  untuk menemui ibu ku yang memang memerlukan perhatian anak2nya..

Lalu, di awal April lalu…, aku melihat iban Robert mengupload foto dirinya yang disebutnya Narcis..  Foto diri setelah lebih dari 30 hari berhenti merokok dan sudah 8 malam tak bisa tidur..  Aku yang jail, masih berusaha ngeledek dengan bilang, “Tapi kalau siang, tidur kan, Iban..?”  Aku tidak memahami bahwa itu adalah awal dari perjalanan sakit selama 1 bulan lebih yang  membawa dia ke akhir hidupnya… Itu adalah awal cancer hadir nyata dalam hidupnya.. Bahkan di komentar2 foto itu pula ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak menyemangati Iban Robert agar cepat sembuh agar kami dapat mengadakan kumpul2 dengan kak Halida Srikandini, Eda Paulina Sirait dan kak Marini Sipayung, yang keduanya juga sangat dekat dengan Iban Robert..

Dua hari yang lalu, sekitar jam 7 pagi dalam perjalanan menuju ke kantor, aku menelpon Iban Robert.. Telpon ku yang pertama dan sekaligus terakhir..  Aku menelpon untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke 47, mendoakan agar dia tetap semangat dan berjuang untuk sembuh…  Masih bergema rasanya suara beliau di pendengaranku.. “Aku akan berjuang melawan penyakit ini Iban.. Aku tidak mau kemo.. Aku akan minum air daun sirsak itu untuk pengobatan..”

Tapi kenyataan berkata lain.. Hari ini Sabtu 07 May 2011 jam 06.10 wib Iban Robert pergi menghadap Sang Pemilik Semesta Alam….

Selamat jalan Iban.. Beristirahat lah dalam damai..

Terima kasih sudah hadir dalam hidup  ku, sudah mengingatkan ku agar berupaya menjadi Boru Batak yang Keren.. Boru Batak yang bisa berbuat banyak bagi masyarakat dimana pun berada tanpa kehilangan jati diri sebagai Boru Batak yang tidak pernah melupakan tanah leluhurnya…  ***

Guru Istimewa ku…

Ini postingan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, Hardiknas kata orang2 saat ini..  Telat yaa.., karena Hardiknas sudah lewat 2 hari yang lalu.. Gak apa-apa lah yaa..  Kerjaan yang seabrek2 membuat energi kadang tak bersisa untuk menulis…  Cari2alasan.modeon.  Hehehehe…

Guru…

Guru  bisa berati yang mengajar di sekolah formal mau pun yang mengajar ku di tempat-tempat les.. Atau bisa juga orang yang kita anggap sebagai guru bagi diri kita karena pengaruhnya yang sangat besar bagi jalan pikiran kita.., jalan hidup kita…

Guru yang mau aku bahas kali ini adalah sosok-sosok yang punya pengaruh besar terhadap aku, terhadap jalan hidupku.. Guru-guru Istimewa..  Mereka aku temukan semasa aku menjalani pendidikan di sekolah formal mulai dari tingkat dasar sampai saat aku kuliah..  Siapa aja mereka…???  Here they are…

Ibu Syaribah.. 

Beliau adalah guru ku di kelas 1 di sekolah dasar, SD Negeri Teladan Pekanbaru.  Beliau adalah guru yang paling ajaib.., menurut aku.. Kenapa…? Karena beliau mengenalkan aku pada huruf yang sebelumnya tak ku kenal.. Beliau mengenalkan ku pada angka yang sebelumnya pun tak terlalu ku kenal.. Secara pada awal tahun 1970-an, Taman Kanak-Kanak sepenuhnya merupakan tempat bermain.., tidak ada pelajaran membaca apalagi berhitung…  Yang ada menari, menyanyi, main ayunan, main prosotan, main jungkat jungkit daaaaaaannnnnn ikut karnaval dengan menjadi kelinci dan naik sepeda hias …  Hehehehehe...

Ibu Syaribah (kanan) bersama salah satu mantan muridnya, Yasmine Attaillah..

Bu Syaribah guru yang sangat mendidik menurut aku.. Kenapa..? Karena beliau memberikan nilai yang fair, dan aku pikir itu sangat baik untuk mendorong murid-muridnya.  Di catur wulan I, aku mendapatkan nilai a untuk membaca juga berhitung… Hueeebbbbaaaatttt….? Tunggu dulu, karena aku juga mendapat nilai d berwarna merah untuk pelajaran menulis… Huhuhuhuhu…

Menulis merupakan masalah besar buat ku di masa SD.. Motorik halus ku tidak cukup berkembang di saat itu.., sehingga aku tidak mampu menulis huruf  halus kasar.., bisanya huruf kasar semua.. Hehehe.. Iya semua tulisan ditulis dengan tekanan yang kuat, sehingga kalau ada salah dan harus dihapus, justru kertasnya yang robek..  :).  Belum lagi bentuk hurufnya yang enggak sempurna… Sehingga ibu (alm) menyebutnya tulisan cakar ayam… Bisa ngebayangin gimana bentuk goresan hasil cakaran ayam…? 😀

Ibu Syaribah juga tetap peduli dengan ku meski aku sudah bukan murid di kelas beliau lagi.. Beliau melibatkan aku di kelompok tari “Selamat Datang” yang keren banget rasanya di zaman itu…  Penari di kelompok ini berasal dari murid2 SD Negeri Teladan dari berbagai kelas yang berbeda.  Mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 5.  Kelompok ini biasa tampil di berbagai acara baik yang diadakan sekolah maupun yang diadakan Dinas P dan K (Diknas zaman 70-an). Seru rasanya menari beramai-ramai di berbagai acara…

Dan bu Syaribah bukan hanya menjadi guruku, tapi juga menjadi guru dari 3 orang anak kakak ku..

Guruku yang berikutnya…  Ibu Rustiaty…

Bu Rustiaty juga guruku di SD Negeri Teladan..  Beliau sebenarnya tidak pernah menjadi wali kelasku.. Sejak aku kelas 4 sampai dengan kelas 6, bu Rustiaty selalu jadi wali kelas untuk kelas B, sedangkan aku di kelas A.  Tapi bu Rustiaty mengajarkan pelajaran Matematika dan IPA di kelas A dan juga kelas B.

Menimbang aku sering gak masuk sekolah sejak kelas 1 karena mengikut dengan Ibu (alm) bila beliau keluar kota, maka diputuskan bahwa aku harus ikut les untuk mengejar ketinggalan dari teman-teman yang lain..  Jadi 3 hari dalam seminggu aku akan diantar untuk belajar di rumah guru yang diminta orang tuaku memberi pelajaran tambahan, Ibu Rustiaty..

Aku dan beberapa teman SD saat menemui Bu Rustiaty di sekolah tempat beliau mengajar, 01.08.2009

Selain membantu aku untuk mengejar ketinggalan pelajaran, Ibu Rustiaty sepertinya juga diberi amanah untuk membantu aku memperbaiki TULISAN KU YANG CAKAR AYAM itu.. Hehehehe…  Jadilah setiap hari les, 1 jam pertama diisi dengan latihan menulis halus kasar..  Entah berapa ribu kali, entah berapa ratus lembar kertas, entah berapa batang pinsil, entah berapa buah penghapus yang sudah ku gunakan untuk menuliskan kata-kata “pikir itu pelita hati, “biduk berlalu kiambang bertaut”, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian” dan lain-lain.. 😀  Hasilnya…………??? Bukan satu dua kali orang memuji tulisanku yang rapi jali… Hehehehe…  Dan bukan satu dua kali buku catatanku zaman SMP, SMA sampai dengan kuliah dipinjam teman2 karena kerapiannya.. Hahahaha.. :D.  Semua itu berkat Ibu Rustiaty… Hehehehe…

Selain melatih motorik ku untuk menulis…, ibu Rustiaty juga mengajar berbagai pelajaran lain, yaitu matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan seluruh pelajaran yang diajarkan di kelas..

Tapi   ada pelajaran lain yang sangat istimewa…  Apa itu…???  Ibu Rustiaty yang tahu dari cerita2ku, si anak SD yang bawel, cerewet dan suka ngoceh, bahwa aku saat itu punya banyak sekali buku yang sebagian besar merupakan oleh-oleh dari Ibu (alm) bila beliau keluar kota.  Di antara buku-buku tersebut terdapat buku serial pengetahuan dengan gambar2 yang cantik dan full color, sehingga menari buat anak2 seusiaku saat itu..  Bu Rustiaty memintaku untuk membawa beberapa buku tersebut pada saat aku les..  Untuk apa..??? Beliau memintaku mememilih salah satu buku, lalu membacanya dalam jangka waktu terbatas yang beliau pantau dengan jam tangannya.. Setelah waktunya habis, aku harus menandai batas bacaanku, lalu menuliskan apa pemahamanku atas apa yang sudah kubaca.. Setelahnya, Bu Rustiaty meminta aku menghitung berapa banyak kata yang sudah aku baca dalam selang waktu yang telah beliau berikan..  Yaaa.., beliau mengajarkan aku untuk membaca dengan cepat namun juga paham dengan apa yang aku baca….  Guru SD mana ya di zaman itu yang mengajarkan muridnya seperti ini…???

Guru yang memberi pelajaran istimewa berikutnya adalah… Pak Budi (alm)..

Pak Budi (alm) adalah guru menggambar geometri saat aku belajar di SMA Negeri 1 Pekanbaru.  Kenapa Pak Budi (alm) menjadi istimewa buat aku? Padahal mungkin mantan teman2 sekelas ku tidak banyak yang ingat kehadiran beliau..  Beliau bukan tipe guru killer yang akan diingat matan murid sepanjang masa.  Beliau sangat kalem, tak banyak bicara..  Selain itu beliau juga  sangat singkat hadir di antara kami..  Saat kami di semester 3 beliau berpulang menghadap Yang Maha Kuasa..

Apa istimewanya Pak Budi (alm)..?  Buat aku Pak Budi itu istimewa karena dia berani jujur menilai muridnya…  Beliau memberikan nilai 5 berwarna merah untuk pelajaranmenggambar geometri  di rapor semester 2 ku.  Sementara di halaman yang sama di  rapor itu tidak ada satu pun angka 6.  Angka 7 pun tak banyak.., yang dominan adalah angka 8 bahkan beberapa angka 9 juga hadir..

Sakit hati…? Subhanallah… Aku sama sekali tidak sakit hati..  Aku sangat menyadari, lagi-lagi motorik halus ku pada saat itu belum mampu menghasilkan kerja yang halus..  Aku belum bisa menggambar cantik dengan menggunakan jangka…  Aku belum bisa menggunakan cat air  untuk mewarnai gambar-gambar geometrik dengan rapi.  Hasil kerjaanku lebih sering beleber sana sini… :D.

Diberi nilai 5 berwarna merah justru memacu aku untuk berlatih dan berlatih…  Sehingga ketika Pak Manurung dan kemudian Bu Rita guru menggambar yang menggantikan beliau memberikan aku nilai 8, aku di dalam hati berbisik “Terima kasih Pak Budi.  Nilai 5 berwarna merah itu sungguh menjadi pecut bagi aku… Mendorong aku untuk belajar dan belajar.. Seandainya pada waktu itu beliau memberikan aku angka yang aman, mungkin aku tidak akan punya motivasi untuk melatih jari2ku agar mampu menggambar geometrik dengan rapi.”

Guru yang juga istimewa buat aku adalah Ibu Yayah Wagiono, dosen di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian IPB…

Mengapa beliau menjadi istimewa..? Kan aku hanya mengambil satu mata  kuliah dengan beliau, Tata Niaga Pertanian di tingkat 3…?  Beliau istimewa buat aku bukan sebagai dosen mata kuliah, meski beliau ngajarnya asyik dan mudah dicerna, tapi justru saat beliau bertugas menjadi Ketua Komisi Pendidikan di Jurusan Sosek saat itu…

Ceritanya di akhir semester 4 dari masa kuliah ku di IPB, indeks prestasi untuk semester 3 dan 4 ku hanya mencapai 1,98 alias satu koma oh la la.. (Aku pinjam istilahnya Gufron niyyy)..  Menurut peraturan di IPB saat itu aku harus mengulang seluruh mata kuliah di semester 3 dan 4 kecuali yang nilainya sudah B ke atas…  Bersama sekitar 40-an teman sekelas yang bernasib sama pada tahun itu, aku harus mengulang hampir seluruh mata kuliah kecuali 1 mata kuliah yang sudah B.., karena nilaiku adalah Rantai Carbon, alias sederetan nilai C dengan variasi 2 D dan hanya 1 B..

Membayangkan waktu yang terbuang karena harus mengulang setahun, serta membayangkan reaksi orang tua atas kegagalanku, membuat aku nekad menghadap Bu Yayah sebagai Ketua Komisi Pendidikan.  Aku minta diberikan kesempatan her buat satu mata kuliah saja..Karena bila ada 1 mata kuliah dengan 3 SKS yang nilainya bisa berubah dari D menjadi C, atau dari C menjadi B, indeks prestasi ku akan berubah menjadi dua koma oh la la..  Kalau sudah begitu  aku tidak perlu mengulang, dan aku tidak perlu mempertanggungjawabkan kegagalan ku pada keluarga….

Tapi Bu Yayah, tidak bergeming sedikit pun..  Dengan wajah yang biasa2 saja, tidak menunjukkan rasa simpati dan tidak pula menunjukkan sikap killer, beliau mengatakan pada ku… “Ingat baik-baik ucapan saya.. Pada saat ini kamu sangat ketakutan, kamu sangat sedih.. Tapi suatu saat nanti kamu akan bersyukur mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri dengan mengulang mengambil mata kuliah-mata kuliah tersebut.  Percaya pada saya.”

Jadilah semester5 dan 6 ku menjadi semester pengulangan…  Tapi alhamdulillah kedua semester ini bukan menjadi periode yang buruk, melainkan jadi masa yang menyenangkan…  Bersama 40-an  teman sekelas yang bernasib sama, kami menjadi kompak…  Menjalani masa-masa bergaul, runtang runtung ke sana ke mari… Have fun..  Di sisi lain, di periode itu aku belajar mengatur pola belajar yang efektif, yang juga belakangan aku terapkan saat aku menempuh kuliah pasca sarjanaku… Bener2 Study Hard Play Hard…

Di akhir semester 6 ku, indeks prestasiku berubah sangat jauh.. Bahkan melebihi ekspektasiku.. Dan nilai ini menyebabkan Indeks Prestasi Kumulatif  (IPK) ku jadi tidak memalukan.. Seandainya Bu Yayah mengabulkan permintaanku untuk memberikan her untuk satu mata kuliah, dan aku tidak mengulang seluruh mata kuliah yang nilai2nya hancur2an itu, aku akan lulus dengan IPK dua koma oh la la..  Dan itu akan tertulis seumur hidup ku.. Itu juga akan membuat kesempatan ku mengambil pasca sarjana menjadi kecil…

Bisa teman2 mengerti mengapa seorang Bu Yayah Wagiono menjadi istimewa buat aku…?  Karena beliau benar, aku sangat bersyukur sudah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.. Meski awalnya menyakitkan, menakutkan…

Terima kasih Bu Syaribah, Terima kasih Bu Rustiaty, Terima kasih Pak Budi (alm), Terima kasih Bu Yayah Wagiono…  Pelajaran yang telah kalian berikan benar-benar indah dan luar biasa, mewarnai dan membentuk diriku menjadi aku yang sekarang..  Terima kasih…

Sesungguhnya selain keempat guru ini, juga ada banyak sekali guru-guru istimewa di adalam perjalanan hidupku…, yang jasanya juga luar biasa dalam membantu membuka pintu ilmu pengetahan..  Yang bahkan nama2nya bisa saja telah  terlepas dari ingatan.. Untuk warna yang telah kalian goreskan di kertas kehidupanku…, terima kasih…  Semoga Alloh SWT melindungi guru-guruku…, membalas kebaikan yang telah mereka taburkan ke dalam kehidupan aku, muridnya…  ***