Last Day of Reunion Travelling

Hari Minggu, 03.04.2011 adalah hari terakhir jalan  bareng di Sumatera Barat sama teman2 zaman kuliah S1…  Hari ini kami habiskan di Padang…Kami sudah masuk kota Padang malam sebelumnya, dan menginap di Hotel Sriwijaya.. Bahkan  sebelum tidur kami sempat keliling kota melihat sisa2 gedung yang runtuh akibat gempa bulan Oktober 2009..

@ Iko Gantinyo1

rame2 @ Iko Gantinyo…

Kemana aja di Padang….?

Setelah sarapan di hotel, kami pergi nyari oleh2 khas Padang.. Apa lagi kalau bukan sejuta jenis keripik.. hehehe..  Beberapa teman merekomendasikan toko “Christine Hakim”, teman yang lain merekomendasikan toko “Shirley”..  Tapi karena pengemudi mobil paling depan membawa ke Christine Hakim, ya di sanalah kami belanja…  Keluar dari sana semua membawa kardus dengan isi berbagai macam keripik… hehehehe..

es durian “Iko Gantinyo”

Selanjutnya kami ke…., Iko Gantinyo, sebuah resto di Jl. Pulau Karam, dimana kita bisa menikmati es durian yang terkenal maknyus di Padang…  Daaaannn.., memang rasanya maknyus banget.. Klo enggak takut dengan dampak durian, bisa2 pengen gelas kedua… hahahaha…

By the way kenapa nama restonya “Iko Gantinyo” yaa…? Iko Gantinyo itu bahasa Minang yang berarti “Ini Gantinya”… Kalau resto ini adalah resto pengganti, resto yang asli mana yaa…? Bagaimana rasanya..? Apakah lebih maknyusssssszzzz? Hmmmmm…  Wondering…

Puas menikmati es durian, kami dibawa ke jembatan Siti Nurbaya…  Apa hubungannya ya antara jembatan ini dengan novel karangan Marah Rusli yang berjudul dan dengan nama tokoh utama yang sama…?  Apa yang membangun jembatan ini Datuk Maringgih sebagai wujud cinta pada Siti Nurbaya, sebagaimana Syah Jehan membangun Taj Mahal bagi sang permaisuri yang dia cintai…? Hehehehe…

@ Jembatan Siti Nurbaya2

@ jembatan Siti Nurbaya…

Pemandangan dari jembatan kebanggan masyarakat Padang ini di satu sisi sungai adalah pemukiman yang berbukit-bukit…  Kalau rumah2 yang ada di bukit2 itu dicat warna putih, pemandangannya bisa menyaingi pemandangan di Laut Tengah yang  jadi lokasi film-film Korea yang diputar di TV beberapa tahun yang lalu.. :).

Gedung Tua

old building @ d river bank..

Di sisi lain dari sungai, terdapat bangunan tua yang besar.. Sepertinya peninggalan dari zaman bahuela.. Seandainya bangunan  itu dijadikan museum atau bagunan fungsional lainnya yang dapat dinikmati public, termasuk wisatawan…, tentu akan lebih bermanfaat dan terawat…  Apalagi kalau lingkungan tepi sungainya ditata dan  sungainya juga dibersihkan… Pasti keren banget…

Pantai Caroline

pantai Caroline…

Dari jembatan Siti Nurbaya kami menuju kawasan Pantai… Mulanya kami ke Pantai Caroline, lalu dilanjutkan ke Pantai Air Manis, yang punya Hikayat Malin Kundang, si anak durhaka..  Sayang kami gak sempat main air atau berlama-lama… Waktu sangat terbatas..

Malin Kundang

Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis…

Dari kawasan pantai kami pergi ke rumah sahabat Veny sejak belia, Essi, yang mengundang kami untuk makan di rumahnya di kawasan Indarung..  Setelah makan siang dan sempat ngobrol2, kami bergerak menuju bandara.. Tapi sebelumnya kami sempat menikmati pemandangan indah ke arah laut dari kawasan Indarung menjelang senja…

pabrik semen Indarung dengan Samudera Indonesia di latar belakang..

Jam 19-an, Veny, Linda, Idien, Ati dan Aries kembali ke Jakarta…  Sementara aku, Gufron dan Nana melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi.  Gufron dan Nana akan stay di sana untuk beberapa waktu, sementara aku melanjutkan perjalanan pulang ke Pekanbaru.. Yulisman dan keluarga kembali ke Kinali di Pasaman Barat, sedangkan Vampire kembali ke Batu Sangkar..

@ Air Manis2

team reunion travelling bersama Yulisman & keluarga @ Pantai Air Manis..

Buat Yulisman dan Mawar terima kasih ya sudah menjadi tuan rumah buat kami… Semoga Alloh senantiasa melindungi, memberikan kebahagiaan bagi keluarga kalian yaaa… ***

Berkunjung ke Inacraft…

Inacraft…? Ya, Inacraft, pameran kerajinan terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini…

L – R : Ati, Linda & Sondha, We’re craft addict…!

Hari Rabu, 20.04.2011 pagi yang lalu, Veny, sahabat ku, menelpon ku begitu tahu aku positif akan ke Jakarta pada hari Rabu tersebut untuk menghadiri rapat pembahasan usulan anggaran 2012 pada hari Kamis, 21.04.2011..  Veny ngasi tahu kalo di Jakarta Convention Center (JCC) sedang ada Inacraft…, dan Linda, salah satu sahabat kami juga menjaga stand “Vanila” milik keluarganya.

So, hari Kamis 21.04.2011, setelah aku menyelesaikan tugas, aku pergi ke Assembly 2 JCC. Veny sudah menunggu di sana.

Begitu masuk, ya ampuuuunnnnn ! Ada begitu banyak stand dengan beraneka macam produk craft. Rasanya bagai ikan dimasukkan ke sungai berair deras dan banyak plankton.  Hehehehe. 🙂

craft

Aku adalah seorang pencinta craft. Di rumahku ada banyak craft. Mulai dari bingkai-bingkai foto dari kayu dan daun2 yg dikeringkan, standing-lamp berbentuk bunga mawar berwarna nerah, wall-lamp berbentuk kupu2, wadah2 dari kayu utuh yang aku bawa dari Samarinda, juga sepasang ukiran2 khas dayak berbentuk tameng, wadah2 kecil dari Lombok, juga pernak pernik perlengkapan makan dari berbagai bahan yang diangkut dari Yogya beberapa tahun yang lalu.  Juga ada bebek-bebekan dari kayu, akar kelapa dan binatang2 kecil dari metal.  Dulu sebelum menggunakan jilbab, aku juga senang sekali mengumpulkan kalung, gelang dan anting dari perak.  Bentuknya yang unik-unik, hasil kreasi yang luar biasa membuat aku mudah jatuh cinta pada craft.

Tapi di Inacraft ada banyak sekali jenis dan design craft. Ada furniturre, kelengkapan interior rumah dan kantor, jeweleries, barang2 fashion, berupa baju, tas, sepatu, tenun tradisional bahkan prental prentil untuk hadiah bagi undangan yg datang saat pesta perkawinan.   Bahkan ada  di antaranya yg sudah masuk dan diakui di pasar internasional, seperti tas yang satu ini.  Gak cukup deh waktu sehari untuk bisa melihat semua stand.  Hehehehehe.

vanilla…..

Tapi aku dan teman2 sempat ngubek2 di stand “Vanilla”, yang menjual blus dan baju muslim dengan merk tersebut.  Stand ini dikelola oleh Linda bersaudara.  Design blus yang unik, dengan bahan yang nyaman membuat hati tak bisa meninggalkan stand tersebut tanpa membawa produknya sepotong dua.  Hehehehe.  Bagi teman-teman yang berminat dengan produk Vanilla, bisa menghubungi NINA di 021-70717979,  081314505003.

Yang pasti, melihat barang2 di Inacraft menimbulkan rasa bangga akan karya anak bangsa yang bagus-bagus dan sangat kreatif. So kalau memang produk dalam negeri kita punya kualitas yang bagus, kenapa harus pakai produk luar yaaa? Apalagi produk yang harganya selangit hanya karena brand.  Bukan begitu teman2…? ***

Inacraft Award 2011

Denting….

Denting…

Denting yang berbunyi dari dinding kamarku
Sadarkan diriku dari lamunan panjang
‘Kan kurasa malam kini semakin larut
Ku masih terjaga

Sayang, kau di mana
Aku ingin bersama
‘Kan kuputus semua untuk tapiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama
Seperti dinginku di malam ini

Rintik gerimis mengundang
Kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku
Saat ini oh sayangku
Jika kau di sini
Aku tenang

by Melly G, soundtrack of Ada ApaDengan Cinta..

Reunion Travelling 3rd Day : Singkarak & Padang Panjang

Selesai menikmati nasi kapau dan belenje2 di Pasar Atas Bukit Tinggi, kami rencananya menuju Padang Panjang, menikmati sate Mak Syukur, lalu setelahnya menikmati Lembah Anai dalam perjalanan menuju ke Padang…  Mobil pertama dari rombongan yang terdiri dari 2 mobil, sudah bergerak duluan… Penumpangnya Yulisman beserta keluarga, Aries serta Vampire.  Sementara jam sudah menunjukkan jam 17-an…

Lake, Bridge N Railway

Lake, bridge and railway… a well known view of Singkarak so many years

Tiba-tiba Gufron bilang, “Masih cukup waktu kalau mau lihat Danau Singkarak..”

Aku menjawab, “Gak keburu magrib…?”

Gufron, “Enggak, ke sana hanya butuh waktu gak sampai  45 menit  dari Bukittinggi…”

So…, there we went….!!!

Perjalanan Bukittinggi – Danau Singkarak adalah perjalanan yang menyenangkan… Pemandangan persawahan dan perkampungan di sepanjang jalan begitu indah, udaranya sejuk dan ditingkahi pula oleh hujan yang tak gerimis namun tak pula lebat…. Ahhhhhh, sungguh nyaman dan mendatangkan rasa damai di hati…

Buat aku ini bukan perjalanan ke Danau Singkarak.. Sama dengan ke Bukittinggi…, entah berapa kali sudah…  Namun baru kali ini aku menyadari bahwa jaraknya teryata tak terlalu jauh…

Sekita30 menit berjalan dan menyempatkan diri membeli berapa buah kue bika khas Padang Panjang, kami mulai melihat danau dari balik pepohonan…, melatarbelakangi sawah…. Sungguh pemandangan yang sangat indah.. Gufron lalu mengarahkan mobil ke sebuah tempat dimana kami bisa duduk sejenak menikmati pemandangan Danau Singkarak..

@ Danau Singkarak6

L – R : Ati, Idien & Sondha, by d Singkarak Lake…

Riak danau ini cukup kuat diiringi angin dan rintik hujan serta sinar mentari yang redup di kalan senja… Subhanallah….  Rasanya ingin berlama2 di tempat ini…  Terima kasih ya On, sudah  “nekad” melarikan kami dari rencana perjalanana dan membawa kami ke Singkarak…

Setelah menikmati pemandangan dan udara yang segar, serta berhenti sejenak untuk membeli ikan kecil2 khas Danau Singkarak.., kami melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang, untuk bergabung dengan rombongan yang entah sudah menghabiskan porsi ke berapa sate  Mak Syukur… Secara mereka harus menunggu kami sekitar 1,5 jam…  Hehehe…

Selesai menikmati sate Mak Syukur, kami melanjutkan perjalanan ke Padang.., melintasi Lembah Anai yang tak bisa kami nikmati karen telah dibungkus kegelapan malam… ****

Rasa……..

Rasa…… ? Iya…, rasa…, perasaan… Bukan Ice Cream Rasa yang ada di Jl. Tamblong Bandung, yang dulu sering aku kunjungi dengan adikku David… He…

So, ada apa dengan rasa, ada apa dengan perasaan…??? Ada apa dengan rasa ku, dengan perasaanku..

Aku tahu ada beberapa orang terdekatku yang sering menjadi tempat aku bercerita, melepas marah, tangis dan kecewa, serta sedikit tawa yang amat jarang mengisi hidupku 12 tahun terakhir..  Tapi aku juga mengerti bahwa mereka pun mungkin tak mengenal rasa ku secara utuh.. Mereka tidak tahu isi hati ku…  Mereka tidak mengerti gejolak yang terjadi di hati ku, luka-luka di hati ku…

Perjalanan hidup yang penuh liku membuat aku cenderung memendam rasa…, dan tak membiarkan orang-orang di sekitarku menjenguk ke tempat penyimpanannya..: hati  Bahkan aku cenderung menutup pintu2 dan jendelanya rapat2, agar tak banyak yang tahu apa isi sesungguhnya…, sementara jiwa berusaha tetap tegar menjalani kehidupan…

Tapi hati memang ruang pribadi yang sangat pribadi, yang mungkin hanya bisa dibagi dan dimengerti oleh pasangan jiwa..

Demi penyembuhannya, aku selalu mencari dan mencari obat bagi hati ku… Beberapa mingu yang lalu, sebuah perjalanan menghantarku ke sebuah tempat yang  dapat membantu menunjukkan jalan menghidupkan kembali hati… Sebuah tempat yang memberikan kesadaran bahwa kita tak bisa merubah apapun, kecuali diri kita… Sebuah tempat yang memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang selarik kata yang telah berbelas tahun terekam dalam otak ku.. “This Life is Yours, Take the power to make you happy, no one else can do it for you…”.   Subhanallah…

Lalu di awal upaya menghidupkan  kembali rasa, aku secara tak sengaja alias kebetulan (apakah memang ada yang namanya kebetulan dalam peredaran jagat raya ini??)  menemukan Perahu Kertas, yang  kubeli di 02 Desember 2009, namun lalu terabaikan  di tumpukan buku2 yang menanti dibaca di sebuah sudut di kamar ku..  Kertasnya mulai menguning…., seakan mengekspresikan rasa kecewa karena aku mengabaikannya… Aku lalu memutuskan untuk membacanya… Daaaaannnn, sungguh sulit mengalihkan mata ku dari lembar2 menguning itu…

Membacanya membawa aku ke dunia yang lain, dunia dimana rasa, perasaan diberi ruang untuk bertahta… Karena semua tokoh utama dalam ceritanya menggunakan hati sebagai pembimbing langkah mereka.., penentu keputusan2 mereka…

Buku yang sekilas berkesan “just a young love story” ini justru menguatkan keyakinan, bahwa sudah waktunya aku kembali masuk ke dalam hatiku, lalu membuka pintu dan jendelanya lebar2 agar mentari kembali bisa menyapa, membantu menyembuhkan  luka2 yang selama ini dipendam, sehingga hati bisa menjadi penuntun arah langkahku..   (Thank you Dee…, buku kamu indah sekali…)***

Sebelum Cahaya….

Menjelang tidur malam ini tiba-tiba lagu Sebelum Cahaya yang dinyanyikan Noe Letto ini mengalun di benak ku… Liriknya yang mengatakan

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

Subhanallah… di keheningan malam, di kesendirian..  saat diri sepenuhnya berbincang dengan diri…, acap kali menyeruak kesepian….  Tapi, alhamdulillah ada keyakinan yang merebak dalam diri bahwa aku tidak sendiri, ada Sang Pencipta yang menemaniku…, begitu dekat dengan ku, bersama ku…  Tak perlu ada tangis kesedihan, tangis kesepian…,  tak perlu mucul rasa gelisah…

Yang harus dikuatkan adalah keyakinan bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik, karena Yang Memberikannya pada ku lebih tahu dari diriku…  Dia lah yang tahu apa yang terbaik bagi  setiap umatnya…

Yang harus dipertebal adalah keimanan.. agar bisa ikhlas menerima ketetapan2 Nya setelah berjuang dengan segenap daya…

Yang harus dilakukan adalah mencoba mengerti “yang terbaik” menurut Dia, bukan menurut keinginan kita…

Yang harus diingat adalah Embun Pagi Bersahaja Yang Menemani kita Sebelum Cahaya…,

Yang harus diingat adalah Angin Yang Berhembus Mesra Yang Kan Membelaimu Cinta…

SEBELUM CAHAYA…

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

kekuatan hati yang berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

Reunion Travelling 3rd Day : Around Bukittinggi..

Ke Bukittinggi…..???? Yesssss…. !! Kota dengan icon Jam Gadang ini merupakan salah satu kota yang aku senangi buat jalan2… Kenapa? Karena udaranya sejuk dan nyaman, banyak tempat yang bisa dikunjungi sambil berjalan kaki, juga banyak makanan enak… Hahahaha…

Icon Kota Bukittingi, Jam Gadang

Ya…, Sabtu pagi 02 April 2011 aku terbangun di sebuah hotel di Bukittinggi, dengan Linda dan Veny di 2 buah tempat tidur twins di kanan tempat tidurku…  Ahhh rasanya seperti kembali ke zaman di Bogor… :).  Btw Ati dan Idien dimana…? Mereka di kamar lain, secara kalau  sekamar berlima, bisa2 gak tidur2…. hehehehe…

Setelah beres dan sarapan kami segera memulai perjalanan di hari ketiga..  Kemana…?

Pertama2 kami ke Ngarai Sianok…  Buat beberapa teman, ini kali pertama mereka ke Bukittinggi… Jadi gak sah kalau enggak melihat Ngarai Sianok..

@ Ngarai Sianok7

@ Ngarai Sianok…

Buat aku…, hhhmmm  sudah tak ingat berapa kali sudah ke Ngarai ini…  Tapi ada kunjungan yang sangat mengesankan.. Yaitu ketika ke Ngarai Sianok dengan Vita, sahabatku di pertengahan tahun 1996.. Kenapa mengesankan…? Karenaaaaa, kami turun ke arah Ngarai, lalu menyusuri jembatan gantung tua yang menghubungkan kota Bukittingi dan desa Koto Gadang..  Jembatan itu posisinya persis di atas Ngarai.. So, kalau tidak waspada, alamat bye bye love…, jatuh ke jurang yang dalamnya beberapa puluh meter…   Lalu, diujung jembatan, bukan langsung Koto Gadang, tapi kita terlebih dahulu harus menyusuri tangga yang rasanya gak habis2… hehehehe…

Koto Gadang adalah kampung yang menarik untuk dikunjungi…, karena dari kampung ini berasal banyak pribadi-pribadi intelek yang kiprahnya sampai di tingkat nasional.., semisal H. Agus Salim, Sutan Syahrir, Rohanna Kudus, Emil Salim, dll.  Selain itu, di kampung ini terdapat banyak pengrajin perak yang berkarya langsung di rumah-rumah mereka… dan kita bisa mengunjungi dari rumah ke rumah yang memang dibuka untuk pengunjung…

Btw, lucu juga yaaa.., Koto Gadang di Sumatera Barat, Kota Gede di Yogyakarta, arti nama keduanya sama,  sama2 menjadi sentra kerajinan perak.. Ada teman2 yang tahu kaitan keduanya…??

Back to now… Begitu masuk ke taman tempat kita bisa memandang Ngarai Sianok, kami langsung menuju Japanesse  Tunnel alias lorong Jepang…  Ini adalah kali pertama buat aku… Biar entah sudah berapa kali ke Ngarai Sianok, aku gak pernah mau turun ke situ.. Sereeeemmmmm….  Tapi karena kali ini ramai2 dengan teman2, aku pun memutuskan untuk turun ke sana…

@ Lubang Jepang

di depan lorong Jepang..

Lubang ini dibangun Jepang pada masa kekuasaannya di Indonesia tahun 1942 – 1945.  Tidak ada penduduk Kota Bukittinggi pada waktu itu yang mengetahuinya.. Yang jadi pertanyaan…? Kemana dibuang tanah2 hasil galiannya…? Siapa yang dipekerjakan di situ…?  Apakah petani2 di sekitar Ngarai Sianok yang pada periode tersebut sering kali lenyap tak berbekas…? Apa tujuan pembangunan lorong itu…? Apakah untuk mengintai Koto Gadang yang berada persis di seberangnya…?

Untuk mencapai pintu lubang  ini, kita harus menuruni sekian anak tangga, dan selanjutnya untuk masuk ke lubang  ini kita akan menuruni 132 anak tangga lagi yang cukup curam… Hitungan ini kami lakukan saat kami akan meninggalkan lorong atas dorongan guide yang menemani ..  Lubang ini bentuknya seperti tapal kuda…  Melengkung di atas dan datar di bagian lantainya..  Menurut guide, lantai ini sebenarnya telah diperdalam oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan obyek wisata.  Tinggi yang sebenarnya lebih pendek, karena tentara Jepang saat itu pendek2…

@ Lubang Jepang13

in front of jail in d tunnel..

Di dalamnya, lubang  ini bercabang2… Sangat disarankan agar turun ke lorong ini dengan didampingi oleh guide yang sudah sangat paham dengan seluk beluk lubang yang bercabang2  ini, agar tidak tersesat… Amit2 deehhhh….  Dari yang kami susuri, di lubang ini terdapat antara lain ruang amunisi penjara, dapur, ruang pengintai, dan tempat pembuangan mayat… Astagfirullah aladzim…  Satu hal yang dipertanyakan teman2, ke guide…, dimana toiletnya…? Kemana berpuluh2 orang yang tinggal dalam waktu cukup lama di lorong2 ini buang hajat…? Karena lubang ini begitu tertutup.., kalau pun terbuka, bukaannya berada di tebing…

Puas dan capek menyusuri lubang Jepang dan cabang2nya… Kami kembali ke taman di atas dan menikmati pemandangan Ngarai Sianok dari sudut2 yang berbeda…

Harrau

Lembah Harau…

Selesai dari Ngarai Sianok, Gufron yang menyetir mobil, membawanya ke Payakumbuh, sebuah kota sekitar 45 km dari Bukittinggi.. Mau kemana? Ke Lembah Harau.., sebuah lembah yang terbentuk dari  patahan  dengan  tebing yang tinggi dan rata, yang menantang buat para wall climber..

Dari Lembah Harau, kami bergegas kembali ke Bukittingi… Paruik lah litak banaaa… (bahasa Minang : perut udah lapar banget…). Sempat siyy singgah di tempat jual pangan khas Payakumbuh..   Iya, kita memang menahan diri untuk tidak makan yang macam2 sebelum makan siang.. Karena kita pengen makan Nasi Kapau di Pasar Atas Bukittinggi…

Nasi kapau…? Apa itu…?

Nasi Kapau adalah nasi rames ala nagari Kapau.. Dihidangkan dengan berbagai aneka macam lauk pauk yang bisa kita pilih.  Ada gulai tambusu, yaitu usus sapi yng diisi telur dan tahu, gulai kikil, babat dan jeroan lainnya, juga ada gulai ikan, gulai dan goreng ayam.. Pokoknya beraneka deehh..  Dihidangkan lengkap dengan gulai cubadak (nangka muda) yang dicampur kacang panjang,  kol dan jariang alias jengkol… Huhuhu…, kalo yang terakhir ini ampun deehhh, aku gak makan… 🙂

si uni berdagang nasi kapau…

Nah di Pasar Atas Bukittinggi, ada suatu area yang memang disediakan untuk para penjual Nasi Kapau, yang semuanya perempuan alias uni (kakak)..  Yang uniknya, karena tempat lauknya besar2 dan jumlahnya banyak, waktu mengambil lauk pauk, para uni ini menggunakan sendok yang khas, yaitu dengan tangkai yang panjang  (sinduak panjang, dalam bahasa Minang).  Ke sanalah kami pergi untuk makan siang…

Jangan tanya betapa bersemangatnya kami… Biarpun selera asal kami sangat beragam..  Bahkan Neng Idien yang berdarah Banten pun makan dengan semangat…  Hehehehehe…

Pasar Atas4

@ Pasar Atas…

Penjual Pisang Kapik

Penjual Pisang Kapik…

Usai makan dan perut kenyang, kami melanjutkan dengan membeli oleh2 khas Sumatera Barat.. : kerupuk kulit mentah, ikan kering, baluik (belut) kering, dan juga mukena serta kerudung dengan sulaman tangan khas Bukittinggi.. Gak lupa juga kami membeli pisang kapik (pisang jepit), yaitu pisang batu dipanggang lalu dijepit pakai dua bilah papan sehingga gepeng.., lalu dihidangkan dengan kelapa yg sudah dimasak dengan gula aren.. Yang paling doyan dengan makanan ini, tentu saja Veny Sang Penggemar Pisang.. Hehehehe..

Lalu kemana lagi… Rencananya kami akan ke Padang Panjang untuk menikmati Sate Mak Syukur, lalu dilanjutkan ke Padang… Tapi ternyata Gufron yang nyetir mobil kami berkenan memberikan bonus… Bonus apa…? Just wait d next post… Hehehehe… 🙂 ***

Reunion Travelling 2nd Day : Danau Maninjau..

Di Tugu Khatulistiwa Simpang Empat...

Selesai makan siang di Pantai Sasak, dan sempat singgah di Simpang Empat menunggui anggota rombongan yang pria bersholat Jum’at, lalu sempat pula berfoto di tugu Khatulistiwa yang ada di Kota Simpang Empat, dan mengambil barang-barang di rumah Yulisman dan Mawar.., kami melanjutkan perjalanan dengan 2 mobil ke  Bukittinggi…

Jalur yang diambil, Lubuk Alung, Danau Maninjau dan Matur..

Dari Kinali ke Danau Maninjau butuh waktu sekitar 1 jam..  Tapi kami tidak singgah di tepi Danau Maninjau… Kami memburu waktu agar sebelum gelap sudah melewati “Long and Winding Road”, Kelok 44…  Jalur ini sangat berbahaya.., karena mobil harus melewati 44 buah tikungan yang patah dan bila terjadi kesalahan, bisa jatuh ke jurang… Naudzubillabinzalik…  Lagi pula pemandangan terindah dari Danau Maninjau bukan lah dari tepi danau, melainkan dari sekitar kelok 44 dan Puncak Lawang..

@ d end of Long and Winding Road.. Alhamdulillah..

Kami lalu membuat foto2 dari beberapa lokasi di Kelok 44 yang punya view indah dan aman bagi mobil untuk berhenti..

Danau Maninjau dari Kelok 44

still @ Kelok 44....

Puas berfotoria, kami melanjutkan perjalanan… Kemana…? Aku bercerita pada teman2 tentang paket wisata Puncak Lawang – Danau Maninjau yang penah ku ambil di tahun 1996, saat aku berkunjung ke Sumatera Barat dengan Avita.  Dalam paket itu, peserta diantar dengan kenderaan ke Puncak Lawang, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki alias tracking menyusuri hutan sampai ke pinggir Danau Maninjau..  Kalau gak salah ingat, butuh waktu sekitar 3 jam berjalan kaki dari Puncak Lawang, titik tertinggi yang ada di sekitar Danau Maninjau…  Aku bercerita tentang keindahan pemandangan dari Puncak Lawang..  Gufron yang aslinya Bukittinggi dan saat itu mengendarai mobil, lalu mengarahkan mobil ke Puncak Lawang setelah melewati daerah Matur..

di kekabutan di Puncak Lawang...

me @ Puncak Lawang... Senja 01042011

Puncak Lawang menjelang senja mempunyai pesona sendiri.. Kabut di sana sini, cahaya matahari yang mulai temaram…., membatasi jarak pandang..  Waktu yang tersedia untuk menikmati pemandangan Danau Maninjau menjadi  sangat terbatas…  Namun semuanya kami disyukuri saja…  Kata teman2, kok rasanya seperti lagi di Jepang yaa… Hehehehehe.. 🙂

Dari Puncak Lawang, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi.., menikmati makan malam di Jl. Ahmad Yani, yang merupakan tourist street di kota Bukittinggi, yang dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah Jam Gadang… Menikmati suasana kota Bukittinggi….

Perjalanan hari itu luar biasa indah.. What a perfect day….!! Alhamdulillah…

Reunion Travelling 2nd Day : Pantai Sasak

Jum’at pagi, 01 April 2011, setelah selesai beberes,  dengan 2 mobil rombongan kami dibawa oleh Tuan dan Nyonya rumah ke… Pantai Sasak…  Dimana itu…?

IMG-20110401-00084

Pantai Sasak, Pasaman Barat…

Pantai Sasak itu berada di Kabupaten Pasaman Barat, berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia…

Kalau dilihat dari pantainya, pantai ini gak jauh berbeda dengan pantai-pantai lainnya yang udah aku kunjungi…  Karena posisinya menghadap ke barat, mungkin sunset di pantai ini indah sekali…   Tapi kami tidak bisa menyaksikannya karena kami berkunjung ke sana sekitar jam 10 sampai saatnya makan siang…

Lalu apa istimewanya pantai ini….? Kulinernya….

@ Pantai Sasak3

L – R : Yulisman, Veny, Linda, Ati, Aries, Sondha, Idien, Nana dan Gufron

Setelah sempat berfoto dengan formasi nyaris lengkap (hanya Vampire yang gak ada), kami digiring (sapi kaleeeee….. hehehe 🙂 ) ke rumah makan Cahaya.. Rumah makan yang unik karena tempat makannya adalah kapal yang diangkat ke darat… Unik yaaaa…….

@ Resto Cahaya Pantai Sasak1

Rumah Makan Cahaya di Pantai Sasak…

Kuliner istimewa apa yang disediakan di rumah makan ini…? Ikan tenggiri bakar, udang, keripik kambang dan lain-lain..

Tenggiri Bakar

Ikan Tenggiri Bakar

Ikan tenggiri sebelum dibakar dibumbui dengan kunyit dan bumbu-bumbu lain, sehingga warnanya menjadi kuning…  Rasanya maknyuuussss.  Aku aja sampai ngejilatin jari jemari tangan kananku untuk menikmati sisa-sisa bumbu yang nempel di sana.. Hehehehe…  Gak mau rugi…

Keripik Kambang… 2 thumbs up…

Lalu bagaimana dengan keripik kambang…?

Hmmm aku awalnya mengira klo keripik kambang itu adalah kue kembang goyang.., yaitu kue tradisional yang terbuat dari adonan tepung beras diberi gula dan setelah cetakan yang berbentuk bunga dicelupkan di adonan, dan kemudian cetakan yang bertangkai itu dicelupkan di minyak panas…  Ternyata oh ternyata, keripik kambang itu rasanya tidak manis, melainkan gurih, karena diberi bumbu dan memakai ikan-ikan kecil dalam adonan tepung berasnya…

Secara keseluruhan, makanan di rumah makan Cahaya itu memang luar biasa, selain karena bumbunya yang manstap banget, juga karena bahannya yang segar…., langsung dari laut…  Enggak nyesel meski jarak yang ditempuh  cukup jauh…  Coba hitung, Pekanbaru – Padang 6 jam, Padang – Kinali (rumah Yulisman), 2 jam, Kinali – Pantai Sasak 30 menit.. Total 8,5 jam… Jauh banget kan… ???? 🙂 🙂 🙂 ***

Reunion Travelling…, part 2

Pada waktu yang telah direncanakan, Kamis 31 Maret 2011, jam 10.30 aku menuju Padang dengan menggunakan travel..  Sementara rombongan dari Jakarta yang terdiri dari Ati, Linda, Veny, Idien, Aries, Nana dan Gufron terbang dengan Lion.

Perjalanan ke Padang ini awalnya membuat aku merasa cemas dan  tidak nyaman…  Aku gak pernah ke Padang sendirian sebelumnya…  Aku juga gak tau kota Padang…  Mana aku gak pernah naik travel pula ke sana…  Tapi alhamdulillah ternyata travelnya menggunakan Kijang Innova, dan aku dapat tempat duduk di depan..Jadi nyaman…

Aku sampai di Padang jam 17.30 wib.  Hasil komunikasi dengan Yulisman, dia minta agar supir travel mengantarkan aku ke depan pos polisi di bawah jembatan layang ke bandara, dan dia beserta supirnya akan menjemput aku di situ..  Alhamdulillah setelah ditungguin sama travel  beberapa menit, aku akhirnya dijemput Yulisman..

Yulisman kaget saat bertemu dengan ku…  Kami sudah tidak bertemu sekitar 18 tahun…  Dia belum tahu kalau aku telah menggunakan kerudung.., dan itu sangat mengagetkan dia… Mungkin dalam pikirannya, “Mana lah mungkin si bandel Sondha pakai kerudung” hahahaha…  Dan dia juga kaget ketika tahu kalau aku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil..  Yulisman bilang, “Gue gak nyangka.. Jiwa lu terlalu merdeka untuk jadi PNS.” Gubbbrrraaaakkkksssss……………. Hahahaha…  Life is so full of surprised, my buddy….

@ Lamun Ombak

Setelah ketemu kami langsung menuju bandara, menunggu kedatangan teman2 yang kebetulan pesawatnya didelay sekitar 45 menit… Tak lama kami sampai di bandara, teman kami Firdaus “Vampire” datang… Hmmmmm… suasana reuni mulai terasa…  Setelah menunggu sekitar ½ jam…, rombongan dari Jakarta yang beranggotakan 7 orang muncul….  Huuuuhhhhhhh hebohnyaaaaaa…………

Ketemu Linda, Ati dan Veny di luar Jakarta dan Bogor udah pernah terjadi..  February  2010 mereka bertiga terbang dari Jakarta ke Sing, dan aku dari Pekanbaru ke Sing via Batam..  Tapi ketemu Idien di luar kota Bogor, adalah yang pertama kali dalam 25 tahun pertemanan kami…. hehehehe…

Setelah memasukkan barang2 kami ke mobil Yulisman dan Firdaus, kami dibawa menuju rumah makan Lamun Ombak.. Sambil makan di bagian belakang resto yang menyediakan tempat duduk lesehan, kami ngobrol menikmati pertemuan ini.. Pertemuan yang luar biasa…., tak disangka bisa terealisir, setelah sekitar 18 tahun yang lalu kami satu per satu meninggalkan kampus…

Tak lama setelah kami selesai makan, dan masih ngobrol…, Mawar,  istri Yulisman yang belum pernah ketemu sama kami datang…  Ternyata anak mereka yang paling tua juga sedang di Padang dalam rangka persiapan untuk menari dalam suatu misi Kebudayaan ke Kuala Lumpur.

Setelah Mawar, yang alhamdulillah luwes dan friendly banget (klo enggak, betapa canggungnya kami yang sudah biasa berbicara ceplas ceplos dengan Yulisman.. hehehehe), selesai makan, kami melanjutkan perjalanan… Kemana…? Ke rumah Yulisman di Kinali, Kabupaten Pasaman Barat., sebuah Kabupaten di pesisir barat Sumatera, sekaligus berbatasan dengan Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara.  Perjalanan ke Kinali butuh waktu sekitar 2 jam..   Setelah sempat singgah untuk membeli jagung bakar dan durian, kami melanjutkan perjalanan… Kami para ibu2 tertidur sampai di tujuan…

Kami sampai di Kinali sekitar jam 12 malam…  Setelah memasukkan barang2 kami ke kamar, kami sempat duduk2 ngobrol di ruang tamu serta menyantap duren… hahahaha…  Namun akhirnya mata tak mampu lagi melawan.. Jam 01.00 kami para perempuan memutuskan untuk masuk kamar, bergantian mandi dan tidur….  Udah gak kuat lagi…. ****

Reunion Travelling…, part 1

Hari  Rabu 30  Maret 2011 yang lalu, aku mengahadap ke atasanku.. Mohon izin untuk tidak masuk kantor tanggal 31 Maret dan 01 April…, karena mau travelling  ke Sumatera Barat  tanggal 31   Maret sampai dengan 3 April  2011.  Alhamdulillah atasanku mengizinkan…

Travelling…?  Sama siapa…?  Dalam rangka apa…?

Aku janjian travelling sama teman2 mainku saat kuliah di Bogor sekitar tahun 1986 – 1992…  They’ve been my friends for 25 years….

Ceritanya, aku, Veny, Linda dan Ati ingin travelling bareng lagi setelah kami travelling bareng ke Sing bulan Februari 2010..  Sebenarnya travelling ke Sumatera Barat sudah beberapa kali kami bicarakan pada saat kami ketemuan, yang selalu disempatkan kalau aku tugas ke Jakarta..  Topik ini semakin menguat ketika Venny, Linda dan Idien ketemu dengan Yulisman saat reunian Program Studi EPS beberapa bulan yang lalu…

Setelah itu Yulisman beberapa kali menelpon aku, menawarkan padaku dan teman2 untuk berlibur ke Sumatera Barat..

Siapa siyy Yulisman…?

Yulisman adalah teman gila ku di masa muda… Hehehehe…  Sama seperti aku, Linda, Veny, Ati dan Idien, Yulisman juga kuliah di Jurusan Sosek, kami kuliah bareng selama tingkat 2.  Tapi di tingkat 3, Linda, Veny, Idien dan Yulisman mengambil Program Studi EPS, sementara aku dan Ati megambil Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian.

Sondha & Yulisman

Sondha dan Yuli, 20 tahun yang lalu…

Tapi di luar perkuliahan, Yulisman, aku dan Avita adalah teman main sehari-hari… Kok bisa…? Ya, Vita yang kuliah di Jurusan Gi zi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga  seangkatan dengan Yulisman di Menwa IPB.  Secara aku sekost dan akhirnya bersahabat dengan Vita, aku pun terseret berteman dengan Yulisman…  Aku selalu mereka seret2 dalam berbagai kegiatan mereka.. Mendaki gunung, salah satunya…

Buat aku si anak rumahan yang sebelumnya gak pernah berurusan dengan dunia luar, mendaki gunung jauh dari semesta kehidupanku. Tapi preman yang dua ini menyeret2 aku.. Ketika aku  menangis karena kelelahan dan ingin meyerah karena rasanya gak mampu lagi berjalan, mereka tetap membujuk aku untuk meneruskan langkah mendaki gunung… Jadi ingat ucapan Vita di saat2 itu.. “Come on Sondha, no pain no gain…!!”

Bahkan dalam suatu  pendakian bertiga ke Gunung Gede yang iseng tanpa rencana dan persiapan, apa lagi izin dari pengelola kawasan, kami tersesat di gunung…  Ceritanya, karena tidak mengurus izin, kami yang memulai pendakian dari Gunung Putri, Cipanas, melambung (mengambil jalan yang bukan path pendakian) untuk menghindari Pos Jaga.  Ternyata kami melambung terlalu jauh…, dan setelah jalan berjam-jam tetap tidak menemukan kembali path yang seharusnya kami susuri untuk sampai ke puncak Gunung Gede..  Aku si nona manja, mulai menangis ketakutan…  Kami lalu memutuskan untuk berhenti.., membuka bekal seadanya, menyalakan kompor parafin dan membuat kopi dan teh untuk menghangatkan diri…  Sambil duduk dan dan mereguk minuman, kami hanya mampu memandang sinaran lampu2 dari kawasan Cipanas di kejauhan….  Yulisman lalu membujuk aku dan Vita untuk tidur dan dia tetap berjaga sampai pagi..  Dan setelah hari benar2 terang, kami kembali berjalan tapi tidak lagi mendaki, melainkan pulang…  Jangan tanya apa yang kami tempuh…  Hehehehe…

Sehari-hari, Avita dan Yulisman adalah temanku berjalan kaki menyusuri pojok2 Kota Bogor terutama di malam hari, saat sebagian besar angkot2 dan bemo sudah tidur..  Jalur favorite kami adalah menyusuri lingkar luar Kebun Raya…, mulai dari Jl. Raya pajajaran, masuk ke Jl. Jalak Harupat, lalu ke Jl. Jend. A. Yani, lalu ke Jl. Otista… Sebelum pulang, biasanya kami duduk-duduk bahkan bisa sampai berbaring leyeh-leyeh di pelataran Tugu Kujang di pertigaan Jl. Raya Pajajaran dan Jl. Otista…  Hehehehe…  Sambil berbaring jejeran, kami memandangi bintang-bintang di langit  dan bercerita tentang angan seperti apa kami 15 tahun kemudian… Hehehehe…  Bahkan untuk memberi kesan kita adalah 3 girls (not 2 girls and 1 boy), aku dan Vita memanggil Yulisman dengan Yuli.. Hahahaha…

Lalu saat jalan berempat dengan Ati, Linda dan Veny pertengahan Februari 2011 yang lalu.., ketika kami lagi di mobil muter2 Kebayaoran buat nyari tempat buat duduk,  Ibu2 yang 3 mendorong aku untuk menelpon si Yuli..

Dari hasil pembicaraan, Yulisman menawarkan kami untuk berlibur bareng di Sumatera Barat dan dia dengan senang hati akan menjadi tuan rumah….  Bahkan untuk membicarakan rencana lebih kongkrit, Yulisman akan ketemuan dengan teman2 yang di Jakarta beberapa hari setelah pembicaraan di telpon.

Hasil pembicaraan lebih lanjut, kami tidak hanya berempat ke Sumatera Barat, tapi Idien, sahabat kami yang menetap di Bogor juga akan ikut.  Juga Aries, d only man di kelompok arisan kami “Bersahabat Sampai Tua”.  Belakangan bergabung juga Gufron, teman sekelas kami yang berasal dari Sumatera Barat, tapi sekarang menetap di Jakarta, dan Nana teman main kami juga yang bahkan pada tahun 1988 ikut travelling bareng Linda, Ati, Idien dan Aries ke Yogya dan Bali.  Selanjutnya di Sumatera Barat akan bergabung teman kami Fidaus “Vampire” yang asli Sumbar dan saat ini menetap di Batu Sangkar…

Panen Jagung

Sosek 2, Tahun 1988 – 1989.  Sembilan orang yg ikut travelling ada di foto ini kecuali Veny..  Try 2 find us… Hehehehehe…

Ada satu kesamaan dari kami semua…  Kami semua pernah mengalami penundaan kenaikan kelas selama di IPB.  Bahkan kami semua, kecuali Veny merasakan 2 tahun di tingkat 2 Sosek pada tahun yaitu tahun 1987 – 1989.  Saat itu lebih dari 40 anak mengalami hal yang sama…, mengulang seluruh mata kuliah yang telah diambil pada tahun sebelumnya kecuali yang sudah dapat nilai B ke atas…  Perasaan senasib membuat kami  merasa kompak…  Kami belajar lebih serius dan sungguh-sungguh, tapi yang namanya main…, teteuuuuppp… Sehingga kata teman2, RCD membuat masa kuliah lebih fun…  Kata Aries “RCD Jaminan Kesuksesan dan Kesenangan…!!!”  Hahahaha… ***

Berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan

@ Candi Gatot Kaca2

Candi Gatot Kaca…

Hujan ternyata tak kunjung reda di daerah yang dingin ini…. Brrrrrrr…. Dingin  dan semakin dingin… Apalagi sebagian baju agak2 basah kena tempias hujan saat berlari-lari meninggalkan Kompleks Candi Arjuna.  Setelah menunggu dan menunggu…, dan dengan mempertimbangkan waktu yang tersisa, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.  Meski masih hujan…, dan dengan bekal pinjaman 2 buah payung  dari pak Saroji pemilik warung di kawasan parkiran Kompleks Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan…

Kemana……………?

Kami melanjutkan perjalanan dengan mobil ke Museum Kailasa…  Tapi sebelum menuju ke museum, kami melangkahkan kaki dulu ke Candi Gatot Kaca yang berada di seberang jalan di depan museum…

Candi Gatot Kaca berada di lahan yang lebih tinggi dari lokasi Candi Arjuna dan kawan2…  Ukurannya juga lebih besar dan lebih tinggi… Entah mengapa…?  Candi Gatot Kaca ini ditemani 2 tumpukan batu candi berbentuk umpak di 2 sisinya…

Dari Candi Gatot Koco ini terlihat Telaga Balekambang yang lokasinyagak jauh dari kompleks Candi Arjuna, serta pemandangan ke pemukiman dan kebun2 sayur di dataran tinggi Dieng… Suasananya begitu hening…, nyaman dan menyejukkan hati….

Kami tak cukup lama di candi ini…, hujan yang semakin menderas dan udara yang semakin dingin memaksa kaki untuk segera melangkah ke Museum Kailasa yang ada di seberang jalan..

Museum Kailasa ternyata terdiri dari 2 unit gedung.., museum lama dan museum baru… Di museum Kailasa yang lama dipamerkan batu2 bagian candi yang ditemukan di sekitar daerah Dieng…  Tapi penataannya just so so, gak memberikan impressi yang lebih…

Denah Gedung Baru Museum Kailasa

Bagaimana dengan Museum yang baru…? Museum baru yang diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, pada tanggal 28 Juni 2008 mempunyai bangunan berbentuk juring dengan lantainya berlapis-lapis, smembuat kita bisa menyusuri seluruh bagian dengan mengalir secara continiu.. Di bagian paling dalam terdapat teater yang memutar film tentang riwayat Dieng…  Film ini diputar dengan soundtrack karangan Sujiwo Tejo  yang berjudul Pada Suatu Ketika… Lagu yang indah dan menyentuh kalbu…

Untuk bisa menikmati pemutaran film tersebut, setiap pengunjung dipungut biaya Rp.2.000,-/orang dengan jumlah penonton minimal 10 orang.. Karena kami datang cuma bertiga, plus ada 2 orang pengunjung lagi, dan jumlah tersebut tidak mencukupi.., maka kami memutuskan untuk memborong.., alias membayar untuk 10 penonton, meski cuma berlima…  Dan kami memutuskan untuk menonton terlebih dahulu sebelum menyusuri museum tersebut…

Selesai nonton film yang berdurasi sekitar 10 – 15 menit, dan mendapatkan gambaran mengenai riwayat Dieng, kami mulai menyusuri museum Kaliasa yang baru..

Galeri di museum ini dibuat begitu mengalir dengan informasi awal mengenai riwayat terbentuknya dataran tinggi Dieng secara geologi…, kondisi lingkungan, sosial dan budaya Dieng.., termasuk adanya anak2 berambut gimbal… Baru dilanjutkan dengan informasAdd an Imagei tentang kekayaan peninggalan budaya berupa candi2…

A Syiwa Corner @ Museum Kailasa…

Informasi di museum ini ditampilkan dalam bentuk baner2 yang sangat eye catching dan informatif…  Satu informasi yang sangat berkesan, informasi yang memberikan KOMPARASI TENTANG SELURUH CANDI-CANDI YANG TERSEBAR DI PULAU JAWA….

Komparasi Candi…

Still Komparasi Candi…

Setelah melihat2 beberapa kali keliling, kami pun meninggalkan Museum Kailasa dan melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang…

Kawah…? Maksudnya bukaan gunung api yang mengeluarkan gas…? Iya…. Betul sekali…  Tapi kawah yang ini tidak seperti Kawah Bodas di Gunung Tangkuban Perahu yang membutuhkan perjuangan untuk sampai ke lokasi.  Aksesibilitas ke kawah ini begitu mudah…, ada jalan aspal.. hotmix pula… !! So, setelah menyusuri jalan dan sempat melintas di bawah pipa gas yang merupakan jaringan dari PLTG,  kami pun sampai ke area parkir Kawah Sikidang… Area parkir….???  Iya… Kawah Sikidang dilengkapi dengan area parkir plus beberapa fasum yang umumnya ada di obyek-obyek wisata yang dikelola dengan baik..  Selanjutnya dari area parkir,  kami tinggal jalan kaki beberapa puluh meter untuk sampai ke lahan dimana terdapat bukaan-bukaan yang menjadi jalan keluar gas bumi…..

di Kawah Sikidang…, dingin… bbbrrrrrrr….. dan bau..

Btw, begitu membuka pintu mobil, selain merasakan udara yang sejuk serta rinai gerimis yang memang selalu ada di daerah ini, kita juga akan mencium bau yang “keren abizzzz”,  hehehehe… Bau yang nyaris seperti bau k****t, yang merupakan bau gas sulfur…  Sebagai catatan, pengunjung tidak boleh terlalu dekat dengan kawah-kawah yang ada.., karena gas Sulfur itu bisa menjadi racun bila terhirup dalam konsentrasi tertentu…  Untuk mengingatkan pengunjung , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara meletakkan tanda peringatan yang dilengkapi dengan gambar tengkorak…

Menurut legenda yang ada di masyarakat Dieng, Kawah Sikidang adalah seorang pangeran yang ditimbun dalam sebuah sumur yang digalinya sendiri atas permintaan seorang putri cantik yang telah dilamarnya.  Karena si pangeran tak cukup tampan di matanya, sang putri berusaha menyingkirkan sang pangeran buruk rupa dengan menguburnya di dalam sumur..  Namun akibat kesaktiannya sang Pangeran mampu tetap meronta-ronta dalam bentuk golakan lahar di kawah Sikidang….

Menikmati Gorengan di Pasar Sikidang…

Setelah melihat cairan yang bergolak di bukaan2 yang ada di tanah tersebut dari balik kekabutan, kami kembali ke parkiran mobil…  Di sekitar parkiran itu tersedia beberapa bangunan yang difungsikan sebagai pasar lengkap dengan toilet yang cukup bersih…  Sebelum pulang kami menghampiri sebuah warung di pojokan pasar tersebut.., waung yang menjual goreng tempe, tahu, pisang serta lengkap dengan minuman berupah teh, kopi dan purwaceng, sejenis minuman khas dieng yang terbuat dari rempah2..  Dalam cuaca yang dingin…, tempe dan tahu goreng yg dicocol sambel kecap rasanya nikmatttttt bangetttzzzzzz……

Merasa enakan setelah menyantap beberapa potong gorengan dan minuman…, kami melanjutkan perjalanan… Kemana lagi….? Ke Telaga Warna…, tapi sebelumnya kami singgah di Candi Bima yang berada di perbukitan di pertigaan jalan ke Kawah Sikidang yang telah kami lewati saat datang…

Candi Bima.. D biggest and d location is d highest one…Candi Bima, seperti tokoh Bima yang bertubuh paling besar di antara anggota Pandawa, merupakan candi terbesar.. Lokasinya juga paling tinggi dibanding dua lokasi candi sebelumnya…, sehingga untuk mencapainya kita harus melewati  beberapa puluh anak tangga.    Aku amat-amati, bagian belakang candi ini mengarah ke Kawah Sikidang…, sehingga dalam candaanku ke teman2 satu rombongan, aku bilang kalo “Bau yang keren abiz dari Kawah Sikidang itu adalah bau k****t Bima.. Hahahahaha….

Telaga Warna…

Dari Candi Bima kami meneruskan perjalanan ke Telaga Warna..  Setelah membeli karcis di  di loket yang ada di pintu gerbang, kami menyusuri jalan setapak menuju telaga… Daannnn…, subhanallah, telaga itu berwarna hijau pupus dan ada yang kemerahan di bagian ujung. Warna telaga nampaknya disebabkan oleh lumut yang ada di dasar telaga, yang mungkin disebabkan pengaruh lahan yang vulkanis.  Dikelilingi tetumbuhan, suasana yang sunyi dan rinai hujan, telaga itu tampaknya disebabkan oleh tampak indah tapi juga syahdu…  Ada keheningan yang begitu dalam….

Dari Telaga Warna kami kembali ke Yogya…, setelah singgah untuk mengembalikan payung pinjaman ke warung pak Saroji dan juga singgah untuk makan sore di sebuah rumah makan di Wonosobo…

Perjalanan ini begitu indah…, begitu memuaskan mata dan bathin..  Dataran yang tinggi dan selalu berkabut benar2 bagai Negeri di Atas Awan…

Dalam hati aku berharap bisa kembali ke sini untuk waktu yang lebih lama.. Sehingga bisa menginap dan menikmati setiap sisi Dieng….

Di dalam mobil yang menyusuri jalan berliku menuju Yogya, pikiranku yang liar dan terkadang ajaib berkata…, “Seandainya aku mendapatkan pasangan hidup yang orangtuanya menetap di Dieng, tentu aku punya alasan untuk kembali dan kembali berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan ini… Aku akan punya “rumah” di sini….” Hehehehehe….***