Having Lunch di Siak

Secara waktu ikut acara ibu2 sekian puluh tahun yang lalu, Tati merasakan nikmatnya makan berbagai macam ikan di Siak.. So, ke Siak hari Sabtu 15 Desember yang lalu, kita juga berpikir tentang nikmatnya makan ikan di Siak…

Kebetulan kita sampai di Siak jam 11-an… cacing2 di perut udah mulai bernyanyi minta makan.. Kak Lintje yang baru2 ini ke Siak, mengajak kita Makan ke RM. Lancang Kuning yang berlokasi di pinggir kota, di jalan masuk sebelum jembatan Tuanku Sulthana Latifa.. RM Lancang Kuning ini lumayan asyik, karena suasananya terbuka, membuat kita bisa merasakan hembusan angin sepoi2…

Di RM ini, kita dihidangkan berbagai macam ikan sungai.. Ada yang dimasak asam pedas, ada yang digoreng ada yang digulai.. Yang digoreng rasanya garing, dengan tulang2 yang juga garing. Ikan yang dibakar dagingnya padat dan lembut.. Mana bumbu bakarnya pass pula… Semuanya yummyyy…. Alhamdulillah nikmat banget..

Tapi ada satu jenis makanan yang “ajaib”… Hehehe. Danial, teman Nanda, aja gitu ngeliat langsung bilang enggak berani nyoba.. Gellliiiii… Makanan apa siyyyyy?? Gulai siput…

Secara Tati saat berkunjung ke Batam udah beberapa kali makan siput2an dari jenis yang berbeda, yang disebut gonggong (kalo liat namanya jadi ingat doggie..!! Hehehe). Jadi Tati gak merasa jipper buat mencicipin siput jenis yang satu ini..

Siput yang ini, sebelum dimasak, bagian buntutnya udah dipotek sama si juru masak.. Makannya langsung diseruput di bagian depan. Srrrrrrrruuuuuuuuuuttttt. Sementara kalo gonggong kan mesti dicongkel pake bambu, baru masuk mulut. Rasanya siput lucu.. hampir2 kayak rasa gongong, tapi dagingnya lebih kecil dan gak sepadat gonggong. Ngeliat Tati makan dengan asyyiiikk, Ira, Nanda dan Danial akhirnya nyusul… Jadi deh kita balapan makan siput…

Buat minuman, Tati pesan minuman yang jarang ada di Pekanbaru. Apa itu? Juice Leichy.. Karena buah Leichy segar banyak terdapat di daerah Siak. Rasa juicenya segar dan nikmat… meski ada serat2 yang merupakan kulit bagian dalam buah leichy yang mirip rambutan…

Sebelum pulang.. Tati sengaja ngajak kak Lintje, kak Iye dan pasukan yang lain ke pasar Siak. Mau ngapain? Tati mau nyari manisan cermai.. Duluuuuuuuu, waktu Tati ke Siak, jembatan yang menghubungkan kedua sisi kota belum ada. Saat itu kenderaan hanya bisa sampai di daerah seberang istana, namanya daerah Benteng (karena dulunya ada benteng di situ). jadi kalo mau ke istana mesti nyebrang pake sampan. Nah di pinggir tempat sampan berlabuh, yaitu di daerah pasar, Tati menemukan toko orang kita Tionghoa yang menjual manisan cermai yang enak banget.. Tapi apa daya, sekarang gak ada lagi yang jual cermai.. Karena katanya setelah banyak makanan yang dirazia karena diduga mengandung formalin, yang biasanya bikin manisan cermai gak berani bikin lagi.. takut capek2 bikin, terus dirazia.. Boro2 untung, malah bisa2 buntung.. Ya, gak rezeki lagi menikmati makanan kenangan itu ya…

Tapi, pasar Siak memberi kesan sendiri.. Karena terdiri dari toko2 tua, khas daerah2 tua di pesisir timur pulau Sumatera.. Mana di cat warna kuning kombinasi merah da biru cerah pula.. Hmmmm… So exotic..

Sile tinggalkan komen, teman-teman...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s