Ketika Tangan Kaki Bicara…

KETIKA TANGAN DAN KAKI BICARA

Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lagi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba…

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
Sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu
Yang hina 

compose and sung by Chrisye, lyrics by Taufik Ismail

Note :

Semoga Allah berkenan memberi akhir yang baik bagi ku.. Bagi orang-orang yang ku cintai karena Allah..  Bagi orang-orang yang mencintaiku karena Allah…  Bagi mereka yang telah mewarnai kehidupanku…

Universitas Kehidupan

Larik-larik kata yang kuterima melalui BBM dari David, adik laki-laki ku satu-satunya dini hari tadi..

Larik-larik yang aku tahu dia kirimkan untuk menguatkan hati ku, kakaknya, dalam menjalani cobaan hidup, yang boleh dibilang tidak gampang, tapi juga tidak membuat sengsara bagi hamba Allah yang tahu bersyukur…

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS

Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR

Jika setiap do’a kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR

Seorang yang dekat dengan TUHAN, bukan berarti tidak ada air mata

Seorang yang TAAT pada TUHAN, bukan berarti tidak ada KEKURANGAN

Seorang yang TEKUN berdo’a, bukan berarti tidak ada masa masa SULIT

Biarlah TUHAN yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena TUHAN TAHU yang tepat untuk memberikan yang TERBAIK

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN

Ketika hatimu terluka sangat dalam……, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN

Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAH – HATIAN

Tetap semangat….

Tetap sabar….

Tetap tersenyum…..

Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN

TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”

Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.

MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA……

Ujian Syahadat…

Ujian syahadat…

Ujian syahadat adalah sebuah perjalanan hidup yang menguji apakah engkau sanggup untuk menerima kehendak Allah SWT atas dirimu..  Apakah kau sanggup untuk ikhlas… Sanggupkah engkau untuk percaya bahwa apa yang terjadi benar-benar yang terbaik bagi mu, bagi hidupmu, bagi hari akhirmu.. Sanggupkah engkau tetap bersyahadat di sisa usia, setelah rasa sakit yang tertoreh.. Sanggupkah engkau untuk tetap mengatakan “hidupku, matiku hanyalah untuk Allah”

Man Jadda Wajada….

Hidup ku begitu bergolak akhir-akhir ini….  Dari kehidupan yang beberapa tahun terakhir berada dalam satu jalur yang tidak banyak tikungan…  Jalur yang terkadang terasa monoton…  Jalur yang tak lagi diisi impian-impian indah yang memanggil-manggil jiwa untuk menari di antara bintang-bintang…

Lalu, seseorang memaksa masuk dalam hidupku…., membawa sekeranjang impian…  Aku terpesona akan impian yang ditawarkan…  Aku memutuskan untuk bersamanya melangkah…

Tapi impian yang ditawarkan  ternyata hanya impian…  Impian yang tak pernah diupayakan untuk diraih..  Meraih impian sepenuhnya diserahkan menjadi urusanku…

Namun, Allah punya rencana-Nya sendiri…

Sebuah kesempatan yang semula ku bentangkan agar si pembawa impian bisa mewujudkan impiannya, yang kemudian menjadi impian kami, ternyata menjadi kesempatan bagiku.. Karena si pembawa impian hanya bermimpi…., tak sungguh-sungguh berusaha meraih impiannya…  Bahkan kembali menyerahkan upaya meraih impian menjadi urusanku…

Kemaren sore, 01 April 2012… Menunggu saatnya untuk pergi ke bandara Soetta, mengikuti jadwal penerbangan untuk pulang…, adik iparku Nana menyarankan aku untuk pergi ke Gramedia Grand Indonesia.., toko buku favorite ku..  Ya, toko buku bagi ku sebuah surga di dunia…

Di sana, aku menyusuri  tumpukan buku-buku New Release…  Membaca ringkasan-ringkasan isi buku yang terdapat di sampul belakang buku-buku tersebut…

Tiba-tiba…, subhanallah… di pikiran ku hadir sosok diriku….  Ya, kemaren aku pergi ke Gramedia dengan memakai celana 7/8, dengan blouse cassual  L-size, sandal crocs dan tas rajut Dowa..  Pakaian yang “aku” banget..   Blouse cassual L-size adalah hal yang impossible bagi ku beberapa bulan yang lalu… Karena  ukuran bajuku beberapa tahun terakhir XXL…  Yaaaaa…., aku bisa merubah keadaan.. Aku bisa meraih mimpiku…, asal aku fokus, kerja keras, disiplin dan tak ragu untuk berkorban untuk pencapaian yang aku inginkan…

Pikiran ini diikuti oleh pikiran bahwa aku adalah Perempuan Istimewa Makhluk Allah yang istimewa…  Aku mempunyai keluarga yang begitu mencintaiku, keluarga yang bersedia dengan penuh kegembiraan melakukan apa pun untuk kemajuan ku, kebahagiaanku…  Aku di sepanjang usia mendapat kesempatan edukasi yang menjadi bekal bagi hidupku saat ini…  Aku punya pekerjaan yang baik, prospek karir yang cemerlang…, dan sekarang aku bahkan punya peluang bisnis yang sangat prospektif yang ingin ku manfaatkan untuk membangun passive income yang bisa menjadi bekal saat aku pensiun nanti….

Lalu…., bagaimana aku bisa mencapai impian-impianku dengan semua yang ada pada ku saat ini bila aku tidak fokus…?  Kapan bisa menari di antara bintang-bintang bila waktu dan tenaga ku habis untuk mengurusi si pembawa mimpi yang hanya bermimpi…

Hanya ada satu jalan meraih mimpi…, fokus… Fokus mengerahkan pikiran, tenaga untuk meraih impian… Melepaskan si pembawa mimpi yang tak pernah berupaya mewujudkan mimpi-mimpinya…

MAN JADDA WAJADA…  SIAPA YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH, AKAN BERHASIL…

 Malam ini aku mulai membaca buku  Merry Riana “Mimpi Sejuta Dolar”, salah satu buku yang aku bawa pulang dari Gramedia Grand Indonesia kemaren sore…  Di dalamnya ada larik-larik pusi yang begitu indah dan penuh makna…  Puisi yang menurut Merry  terdapat di dalam buku kecil, bekal dari ibunya saat dia akan berangkat sekolah ke Singapore…

 HIDUP adalah suatu…
Tantangan yang harus dihadapi,
Perjuangan yang harus dimenangkan,
Kesusahan yang harus diatasi,
Rahasia yang harus digali,
Tragedi yang harus dialami,
Kegembiraan yang harus disebarkan,
Cinta yang harus dinikmati,
Tugas yang harus dilaksanakan,
Romantika yang harus dirangkul,
Risiko yang harus diambil,
Lagu yang harus dinyanyikan,
Anugrah yang harus dipergunakan,
Impian yang harus diwujudkan,
Perjalanan yang harus diselesaikan,
Janji yang harus dipenuhi,
Keindahan yang harus dikagumi,
Pertanyaan yang harus dijawab,
Kesempatan yang harus dipakai,
Persoalan yang harus dipecahkan,
Kesulitan yang harus dikalahkan,
RAHMAT YANG HARUS DIPELIHARA DAN DICINTAI…

What a wonderful world….

Aku senang sekali dengan lagu ini… berharap kalau bisa mendengarkan alunannya di saat-saat istimewa…

What a wonderful world…
I see trees of green,
red roses too.
I see them bloom,
for me and you.
And I think to myself,
what a wonderful world.

I see skies of blue,
And clouds of white.
The bright blessed day,
The dark sacred night.
And I think to myself,
What a wonderful world.

The colors of the rainbow,
So pretty in the sky.
Are also on the faces,
Of people going by,
I see friends shaking hands.
Saying, “How do you do?”
They’re really saying,
“I love you”.

I hear babies cry,
I watch them grow,
They’ll learn much more,
Than I’ll ever know.
And I think to myself,
What a wonderful world.

Yes, I think to myself,
What a wonderful world.

Oh yeah.

Curhat Sebuah Hilir….

Mendadak rasanya ingin curhat…  Sama sekali bukan untuk pembenaran diri, tapi untuk melihatkan sisi pandang yang berbeda…  Karena memang beberapa tahun ini aku menjadi makhluk yang berbeda sisi pandangnya dengan banyak orang di komunitasku… Hmmmm, seandainya aku boleh memilih aku ingin lebih banyak berada di antara orang-orang yang punya visi hidup yang sama, sehingga lebih mudah untuk saling memahami, menserasikan gerak langkah… Tapi katanya juga, kalau tantangan hidup kita berat, insya Allah akan menunggu juga “upah” yang besar dari Allah SWT….  Semoga yaaa…

Kalau diibaratkan sebagai suatu aliran sungai…, posisiku saat ini bagaikan sebuah hilir, yang mengakomodir aliran-aliran air dari anak-anak dan hulu sungai…  Apa yang keluar dari anak-anak dan hulu sungai itulah yang sampai ke hilir…

Di sisi lain hilir adalah bagian terluar sebuah sungai… Bagian yang berinteraksi dengan laut dalam wujud muara…  Diharapkan sungai mengeluarkan air yang bersih, agar laut tak tercemar…, agar pantai tetap indah, agar terumbu karang tak rusak, agar ikan dan hewan laut yang hidup di muara bisa lestari dan beranak pinak untuk dipanen nelayan dan bisa dikonsumsi manusia…

Apa yang terjadi ketika anak-anak dan hulu sungai tak melepaskan air yang jernih…? Apa yang terjadi ketika air yang dilepaskan oleh anak-anak dan hulu sungai berisi lumpur dan sampah yang berserakan…? Haruskah kewajiban menghasilkan air jernih untuk dialirkan ke muara dan lautan sepenuhnya menjadi kewajiban hilir sungai….??

Hilir adalah hilir…, sebuah bagian dari  sungai yang punya batas kemampuan dan rentang waktu untuk berkerja mengolah apa yang sampai padanya…  Apakah wajar bila hilir harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kualitas air yang dilepas oleh sebuah sungai…??  Apakah salah ketika hilir menolak untuk bertanggung jawab dan dipersalahkan atas kualitas air yang dihasilkan sungai…???

Namun mungkin anak-anak dan hulu sungai tak sepenuhnya salah… Manusia yang semakin konsumtif dan tak perduli lingkungan lah yang menjadi akar masalah…  Sifat greedy yang akhir-akhir ini mendominasi jagat raya telah menyebabkan penebangan hutan secara liar dan besar-besaran... Akibatnya hutan menjadi gundul dan erosi membawa lumpur masuk ke anak-anak dan hulu sungai…  Belum lagi sampah yang dicampakkan manusia entah dimana-mana, masuk ke sistem drainase dan akhirnya ke sungai…

Apakah yang harus dilakukan hilir…  Posisinya sebagi hilir bukan lah pilihannya…, itu takdirnya..  Bisa kah dia menolak takdir…?  Bisa kah dia menentang kehendak dan aturan yang dibuat oleh sebuah kuasa…?  Ketika rasa apatis datang, rasanya hilir ingin larut dengan keadaan…, pasrah dan menyerah…. Tapi ketika dia ingat ada sebuah kekuasaan, kekuasaan milik Yang Maha Kuasa yang telah menetapkan takdirnya untuk bertugas sebagai hilir, dia kembali tersenyum…, berupaya untuk bangkit dan menjalankan fungsinya semampunya… Karena dia tahu bahwa menjadi hilir pada saat ini adalah jalan pengabdiannya kepada Sang Pemilik Alama Semesta… Karena dia berharap segala rasa sakit dan pedih ini akan mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta…

Duhai anak-anak dan hulu sungai, tak berkenan kah kalian meringankan beban si hilir…? Bukan kah dia saudara kalian juga…, sama-sama bahagian dari sebuah sistem yang bernama sungai….?***

Be grateful, please…

Beberapa waktu yang lalu, aku melihat di sebuah status seorang teman di FB tertulis “Janganlah kau bersedih, cause everything’s gonna be ok”.  Aku tahu itu adalah kutipan lirik dari lagu Bondan featuring Fade 2 Blade…

Status itu membawa pikiranku melayang… Melayang ke suatu waktu di rumah ku yang mungil…

Ketika itu di suatu pagi di akhir pekan  aku sedang duduk termangu-mangu di kamar tidur ku..  Aku sedang merasa betapa kehidupan ku jauh dari sempurna… : di usia ku yang lebih dari 4 dasa warsa, aku belum menikah, apalagi punya anak.., aku hidup sendirian, jauh dari keluarga yang menyayangi aku, aku bekerja di lingkungan yang relatif tidak bersahabat… Rasanya hidup begitu menyedihkan, begitu sepi, begitu hopeless…  Terlintas dalam pikiran ku siapa yang akan menemani aku saat tua nanti, siapa yang akan mengurus aku…  Terlintas lagi dalam pikiran ku sampai kapan aku harus menghadapi lingkungan yang tak cukup ramah…

Tiba-tiba terdengar sapaan Mak Uo (seorang ibu yang berusia 50 tahunan yang datang 3 kali seminggu untuk menyetrika di rumahku) yang sedang menyetrika di ruang di depan kamar ku… “Bu…, ibu mengapa…? Apa yang ibu pikirkan? Apa yang ibu sedihkan, sampai ibu termangu-mangu begitu…?”

Lalu Mak Uo melanjutkan, “Coba ibu lihat saya ini…  Saya seumur hidup kerja banting tulang…, mencuci, menyetrika dari rumah ke rumah untuk menyekolahkan anak, dengan harapan akan membuat keadaan keluarga akan lebih baik..  Tapi setelah anak lulus sekolah, dapat pekerjaan yang baik, tak lama dia sakit, lalu meninggal.  Mau bagaimana saya lagi.. Sudah saya usahakan semampu saya, tapi Allah berkehendak lain.  Apa lalu saya harus bersedih, apa saya lalu haris menjadi tidak taqwa…?  Coba ibu lihat diri ibu…  Ibu masih punya keluarga, ada orang tua yang sayang sama ibu, ada kakak dan adik yang peduli sama ibu, ibu punya rumah, ibu ada kendaraan yang memudahkan langkah ibu, ada pekerjaan yang baik, ada penghasilan yang membuat ibu masih bisa memilih mau makan apa hari ini.. Mengapa juga ibu harus bersedih? Soal jodoh, anak semua sudah ada garisnya.. Serahkan saja kepada Allah, bu..

Ucapan Mak Uo menarik ku dari pikiran yang nelongso… Astagfirullah…  Betapa pikiran negatif membawa aku menjauh dari kenyataan bahwa aku punya begitu banyak…, bahwa aku seharusnya bersyukur… bahwa apa yang belum ada tidak seharusnya membuat aku lupa akan apa yang telah ada, serta mensyukurinya…  I was forget to be grateful  …

Status seorang kenalan itu juga mengingatkan ku akan video clip ini.. Video yang dikirimkan Nana, adik ipar ku melalui bbm beberapa waktu yang lalu.. Clip yang akan menggugah kesadaran bagi orang-orang yang mau mendengarkan kata hatinya sehingga menimbulkan rasa syukur di dada….

Silahkan ditonton teman2… Semoga membawa kebaikan, terutama rasa syukur d hati kita, ya..***

Age is Not Just Lived, but Survived..

Beberapa bulan yang lalu, saat kami bertemu di Medan, adikku David menyuruh aku untuk melihat sebuah video clip di BB-nya… Aku gak bisa menahan air mataku menetes saat melihat clip tersebut.. Video clip apa…?  Tentang apa…

Itu video clip tentang harapan orang tua (Parent’s Wish) pada anak-anaknya di usia senja mereka..  Teman-teman bisa lihat video itu di sini…

 

A PARENT’S WISH FOR THEIR CHILDREN DURING THEIR OLD AGE

 To my dear child,
On the day when you see me old, weak and weary..
Have patience and try to understand me,
If I get dirty when eating,
If I can not dress on my own,
Please bear with me and remember the times I spent feeding you and dressing you up..
If, when I speak to you I repeat the same things over and over again,
Do not interupt me, Listen to me..
When you were small, I had to read to you the same story a thousand and one times until you went to sleep..
When I do not want to have shower, neither shame nor scold me…
Remember when I had to chase you with your thousand excuses to get you to shower?
When you see my ignorance on new technologies,  give me the necessary time and not look at me with your mocking smile..
I taught you how to do so many things,
To eat the right foods, to dress appropriately, to confront life..
When at some moment I lose the memory or the thread of our conversation,
Let me have the necessary time to remember..
And if I can not, do not become nervous..
As the most important thing is not our conversation,
But surely to be with you and to have you listening to me…
If Iever I do not feel like eating, do not force me..
I know well when I need to and when not to eat..
When my tired legs give way and do not allow me to walk without a cane,
Lend me your hand..,
The same way I did when you tried your first faltering steps..
And when someday I say to you that I do not want TO LIVE ANYMORE..,
THAT I WANT TO DIE…
Do not get angry.. Some day you will understand..
Try to understand my age is not just lived but survived..
Someday you will realize..
That despite my mistakes, I always wanted the best for you..
And I tried to prepare the way for you..
You must not feel sad, angry nor ashamed..
For having me near you..
Instead, try to understand me and help me.. like I did when you were young..
Help me to walk..
Help me to live the rest of my life with love and dignity…
I will pay you with a smile and by the immense love I have always had for you in my heart..
I LOVE YOU MY CHILD..
 –          Your Loving Parent –
 

Larik-larik kalimat di video itu so touching buat aku.., karena aku merasakannya beberapa tahun  terakhir ini…

Papa & Mama di Hillpark, Sibolangit, 02 September 2011

Setelah serangan stroke di pertengahan Juni tahun 2007, Mama menjadi begitu membutuhkan uluran tangan, perhatian dan pengertian serta dukungan dari anak-anaknya..  Beliau yang biasanya begitu sangat mandiri, gesit menjadi harus terikat dengan kursi rodanya..  Telapak tangan kanan menjadi sulit untuk dibuka, bahkan digerakkan.. Kaki kanan juga menjadi sulit untuk digerakkan..

Perubahan yang terjadi membuat psikologi Mama menjadi lebih sensitif, cenderung menuntut perhatian dan penerimaan atas keputusan-keputusan yang diambilnya.  Efeknya bahkan bisa membawa kesabaran anak-anaknya ke tepi jurang…  Tapi justru di saat-saat seperti itulah kami anak-anaknya mendapat kesempatan belajar melebarkan rentang kesabaran kami.., belajar untuk menepiskan pikiran tentang apa nanti pendapat orang, apa nanti penilaian orang..  Yang penting itu tidak melanggar norma agama, dan itu memberikan kenyamanan bagi ibu kami..

Kami belajar untuk menikmati saat-saat membahagiakan Mama dengan mendorong wheelchair nya ke tempat-tempat yang Mama mau..  Kami belajar untuk mengikuti kehendak beliau walau terkadang berkesan tak praktis bagi yang berusia lebih muda dan gerak tak terbatas…  Kami belajar untuk menikmati acara Driving Mrs. Ani, alias membawa Mama berjalan-jalan keliling kota Medan,  di saat kami pulang ke rumah, karena hanya itulah satu dari sedikit kesenangan hidup yang masih bisa beliau nikmati…

Melihat Mama berjuang untuk  masuk ke toilet agar bisa mandi sendiri, dan hanya minta dibantu untuk menggosokkan punggung dan kaki-kaki yang tak bisa dicapainya sendiri, menghadirkan rasa kagum yang luar biasa atas semangat, atas ketegaran menerima keterbatasan yang terjadi pada dirinya…  

Tapi satu kalimat yang sangat luar biasa dari clip itu buat aku adalah… age is not just lived but survived.   Usia yang panjang bukan hanya sekedar hidup tapi juga hasil dari kemampuan untuk survive menghadapi cobaan kehidupan, baik cobaan yang bersifat fisik maupun phisikis… Tekanan berupa perubahan kemampuan fisik sejauh ini dapat dihadapi Mama dengan mental yang kuat… She’s really extra ordinary woman… Kerap aku bertanya dalam hati, “Mampu kah aku setegar Mama bila keterbatasan itu menimpa ku… ?”  Sungguh aku berharap Allah memberikan yang terbaik bagi aku, bagi orang tua ku, bagi saudara-saudara ku, bagi sahabat-sahabat ku, bagi setiap manusia dan makhluk di muka bumi…

I love you so much, Mom…!!!

Alloh Yang Menentukan…

Dua tahun terakhir Alloh memberi pelajaran indah untuk ku.. Pelajaran yg tidak diberikan dalam satu paket, tapi dalam beberapa paket… Paket2 yg istimewa… Pelajaran yang istimewa, sangat istimewa..

Paket pertama sampai padaku di suatu hari minggu di bulan Juli tahun 2009..

Sehari setelah pelaksanaan reuni dgn teman2 SD ku, SD Negeri Teladan Tahun 1974 – 1980, aku mengantarkan Yasmine Attailah, sahabatku saat SD.  Dia datang dari Banda Aceh khusus untuk menghadiri reuni.  Aku menemaninya menyusuri kota Pekanbaru. Mulai dari mengunjungi kompleks SD Negeri Teladan di Jl. Hang Tuah, mengunjungi tetua masyarakat Aceh di Pekanbaru, melihat dari kejauhan bekas rumahnya, melihat masjid Annur, dan terakhir mengunjungi Pasar Bawah utk membeli oleh2.

Saat keluar dari keramaian Pasar Bawah, setelah sekitar 1,5 jam di sana, aku baru menyadari kalau kedua hp ku yang disimpan dalam satu case tak lagi ada di dalam tas yang aku sandang. Innalillahi wa innailahi roji’un..  Alhamdulillah tidak ada rasa panik.. Dengan menggunakan hp Yasmin aku menelpon ke kedua nomor hp ku, utk beberapa saat ada nada panggil, tapi  kemudian, tak ada nada lagi.  kedua nomor itu sudah mati.  Ada rasa was-was, takut pihak yg tak berkepentingan menyalahgunakan nomor telpon keluarga dan temanku yg ada di phonebook yg ada di kedua hp tersebut. Mana nomor2 anggota keluarga dibuat jadi satu group pula..

Setelah mengantarkan Yasmin ke bandara SSQ II, aku langsung menuju ke kantor. Aku memang sudah janji dengan Andi, seorang junior di kantor untuk menyelesaikan laporan yang harus diantarkan hari senin pagi.  Begitu sampai di kantor, aku langsung membuka koneksi ke internet dan membuka FB. Lalu meninggalkan pesan di inbox adik ku David.. Memberi tahu kalo kedua hp ku hilang dan minta dia mengingatkan anggota keluarga agar tidak menanggapi kalau ada yg memberi kabar tak baik dari nomor-nomor tersebut. Alhamdulillah adik ku langsung merespon.

Begitu Andi sampai di kantor, aku menanyakan apa kah dia mau menemani ku ke mall Pekanbaru yang banyak toko hp nya.. Karena Andi gak keberatan, kami langsung pergi. Dan gak lama, kami kembali ke kantor dgn membawa 1 hp CDMA dan 1 hp GSM plus kartunya masing2. Kartu2 ini dipakai sementara, sampai aku bisa ke customer service perusahaan seluler untuk menerbitkan kartu pengganti dgn nomor yang lama.  Alhamdulillah, semua lancar.. Hari senin siang berikutnya kedua hp baru dgn nomor lama sudah berfungsi.. Tinggal aku mengumpulkan nomor telpon keluarga, teman dan jaringan kerja kembali… 🙂

Paket Kedua…  Paket ini datang padaku di awal Agustus Tahun 2010, jam 19:40 wib..

Rencananya sehari kemudian aku dengan Yuli, seorang teman kantor akan berangkat ke Batam untuk mengikuti rapat yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Sebelum jam kantor usai, bendaharawan kantor menyerahkan uang perjalanan dinasku dan menitipkan uang perjalanan dinas Yuli, karena Yuli hari itu ke Kabupaten Kampar dan gak sempat ke kantor untuk mengambil uamg tersebut.

Saat aku keluar dari kantor, aku bertemu dengan kak Indria, salah seorang senior di kantor. Kak Indria mengajak ku ke Pasar Buah, salah satu super market besar di Pekanbaru. Kami lalu pergi  menggunakan Sparky.  Sebelum ke Pasar Buah kami sempat singgah ke Penjahit Santa untuk mengambil jahitanku.  Di Pasar Buah aku membeli beberapa toiletories untuk dibawa ke Batam. Saat membayar di kasir aku melihat jejeran batere, mengingatkan aku pada remote mobil ku yg sudah tak nyala beberapa hari…  Tapi di super market itu tidak menjual batere untuk remote mobil.. Kak Indria bilang, nanti saat aku akan mengantarkannya pulang, sebaiknya kami singgah di toko jam yang ada di jalan menuju rumahnya…

Keluar dari Pasar Buah, aku meletakkan kantong belanjaan serta tas ku di jok belakang  Sparky.., lalu mengarahkan Sparky ke Jl. Tuanku Tambusai, melalui Jl. Jend Sudirman..  Kami berhenti di depan Toko Jam Abbas Baru, sekitar 100 meter dari jl Jend Sudirman,  dan di seberang terminal  Mayang Terurai.. Setelah memarkirkan mobil secara paralel di tepi jalan, aku turun dan mengambil tas ku dari jok belakang, mencantolkannya di bahu, lalu berhenti sejenak untuk memeriksa pintu mobil apa sudah terkunci atau belum…  Tiba2 tubuhku tertarik, terputar... Innalillahi wa innailahi roji’un...  Tas ku ditarik orang bermotor… Aku dirampok….

Suara ku menjeritkan kata “Rampooooooooooookkkk..!!!!!!!!!” tidak bermakna apa-apa… Tidak ada orang yang mengejar perampok yang menggunakan motor bebek itu….  Mereka hanya melihat…  Bahkan laporan ke aparat keamanan terdekat tak menghasilkan apa-apa kecuali selembar surat Laporan Kehilangan.. 🙂

Apa yang ikut raib bersama tas itu…?  Uang perjalanan dinas ku dan Yuli.. Masing2 sekitar 3,8 jeti..  Lalu ada uang pribadiku sekitar 2 jetian.., kamera, external hard disk yang menyimpan data pekerjaan  dan foto2 perjalananku selama 2 tahun terakhir, buku-buku tabungan, passport…, bahkan juga ada kalung dan liontin berlian kesayanganku..  Iya tas itu sudah ready untuk dibawa berangkat keesokan harinya…

Awalnya aku pikir dompet yang berisikan KTP, kartu2 ATM dan berbagai surat2 penting lainnya ikut hilang, juga tiket pesawat Pekanbaru – Batam pp atas  nama ku dan teman seperjalanan. Ternyata dompet terletak di dashboard di mobil setelah membayar uang parkir, dan lupa dimasukkan kembali dalam tas…  Sedangkan tiket ternyata entah mengapa saat menjelang pulang kantor, aku pindahkan dari tas ke dalam amplop coklat besar yang berisikan surat-surat untuk perjalanan dinas… Amplop coklat itu aku letakkan di jok belakang mobil saatkeluar dari kantor. Aku baru tahu kalau dompet dan tiket tidak hilang saat aku sampai di rumah sepulang dari kantor polisi njelang jam 01 pagi.. Jadi begitu kejadian aku sibuk menelpon customer service beberapa bank yg menerbitkan ATM yang aku miliki untuk meblokir rekeningku…

Apa rasanya kehilangan seperti itu… Rasanya blank…, kosong… Rasanya bagai manusia tanpa identitas.. Gak punya KTP dan surat2 yang menyatakan identitas diri… Gak punya uang, bahkan gak punya akses untuk mengambil uang milik kita yang ada di rekening bank…   It’s really so sad.. Tapi aku tidak menangis sama sekali… Saat itu sempat terpikir ini baru kehilangan materi dan akses, bagaimana kalau kehilangan yang lebih besar lagi…? Kehilangan orang-orang yang kita cintai dengan segenap hati, atau bahkan kehilangan jiwa kita sendiri…? Astagfirullah al adzim… Tapi itu akan terjadi.. akan terjadi pada setiap manusia…  Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi kehilangan-kehilangan itu….

Tangis ku baru pecah ketika adikku David yang ku kabari lewat sms, menelpon…  Rasa gamang yang aku simpan dalam hati jebol juga…. Tapi setelah bicara dengan David dan diberikan jalan keluarnya, bebanku rasanya terangkat… David  keesokan harinya mengirimkan sejumlah uang ke rekening Yuli yang melakukan perjalanan bersama aku..  Sehingga semua bisa running well sebagaimana yang direncanakan…Tak tahu lah apa jadinya kalau Alloh tidak mengirimkan David untuk selalu ada di sekitarku, meski sebenarnya secara fisik kami terpisah ribuan kilometer….

Peristiwa dirampok di pinggir jalan juga menimbulkan trauma bagi ku.. Untuk menghilangkan trauma, aku memaksa diriku menyetir sendirian melintasi jalan itu pada waktu yang hampir sama dengan kejadian perampokan itu…  Hasilnya bukannya trauma hilang, tapi tubuhku malah gemetar dan akhirnya aku nangis terhisak-hisak…  Aku merasa tidak lagi aman berada di kota ini.. Kota yang sejak aku kecil rasanya adalah “rumah” ku…  Bagaimana tidak, aku dibesarkan di kota ini sejak usia satu tahun, sejak kota ini belum seramai sekarang, sejak jalan-jalan masih lengang dan aku bisa bersepeda ria ke sana ke mari…  Tapi ternyata tidak lagi.. Kota ini bukan tempat yang aman lagi buat aku.. Kota ini sudah penuh kejahatan, yang salah satunya pun menyentuh aku… Astagfirullah al adzim..

Aku bahkan sempat kehilangan semangat kerja karena banyak surat2 yang harus diulang pembuatannya karena arsip digital ikut lenyap bersama external hard disk.. Aku bahkan memutuskan untuk pulang beberapa hari ke Medan menemui Papa dan Mama untuk memperoleh spirit ku kembali… Cinta dan restu orang tua sungguh obat mujarab dari segala rasa tak berdaya…

Paket ketiga tiba pada ku beberapa hari menjelang Idul Fitri sekitar September tahun 2010 yang lalu…

Setelah menghitung2 berapa uang yang aku terima sebagai hasil kerja ku selama setahun sejak lebaran sebelumnya, aku menelpon mba Puji, seorang teman di FKA Riau.. Kami untuk selang waktu yang lumayan sudah bekerja sama untuk suatu kegiatan sosial.  Aku ingin memberikan uang yang ku sisihkan dari pendapatan ku itu kepada pihak yang menerima rezeki yang kami sisihkan setiap bulan…, dengan harapan bisa menjadi modal usaha mereka kecil-kecilan…  Aku membuat janji dengan mba Puji agar bisa ke sana pada saat yang sama, dan waktu yang ditetapkan adalah beberapa hari menjelang Idul Fitri, ba’da Ashar…

Pada hari yang sudah kami tetapkan, aku datang ke rumah keluarga yang akan kami temui.. Rumah itu berada di kompleks masjid yang besar di Pekanbaru..  Setelah memarkirkan mobil ku di tepi jalan dekat salah satu pintu gerbang halaman masjid, aku memasukkan amplop putih yang berisikan uang yang baru saja aku ambil dari atm ke dalam tas ku…  Aku lalu berjalan dan masuk ke rumah yang mau ku kunjungi.., dan mba Puji sudah menunggu di sana…

Setelah ngobrol-ngobrol sejenak dan menyampaikan apa yang biasa kami sampaikan setiap bulan, aku pun bersiap untuk menyampaikan niat ku.. Tapi saat membuka tas untuk mengeluarkan amplop putih itu…, innalillahi wa innailahi roji’un… Amplop itu tak ada di dalam tas…  Aku langsung lari ke luar, ke tepi jalan ramai tempat aku memarkirkan mobil ku…

Allohu akbar….  Di tengah aspal hitam, di samping mobil ku yang di parkir, tergelak dengan manisnya amplop putih itu… , dengan posisi terbuka, menampakkan lembar-lembar uang berwarna biru…..

Jalan itu jalan yang ramai, di seberang rumah dinas petinggi negeri Melayu ini.., pada jam dimana orang mundar mandir menjelang buka puasa… Kok bisa tak seorang pun melihatnya…? Kok tak seorang pun memungutnya…?  Siapa yang menutup amplop putih di atas aspal hitam dari pandangan orang-orang yang lalu lalang di jalan itu….????  Subhanallah….  Aku benar-benar terdiam, terbungkam…

Uang di dalam amplop ini adalah hak orang miskin sejak aku meniatkannya…, dan Alloh menjaganya sehingga sampai ke tangan yang berhak, meski aku lalai dan ceroboh sehingga amplop itu terjatuh….  Alloh menentukan apa yang masih jadi hak seseorang apa yang tidak…  Kita harus berupaya menjaga segala milik kita, segala yang menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya…  Tapi ada Alloh yang Maha Penentu, apa kah yang kita jaga itu akan tetap bersama kita atau tidak..

Paket keempat… Paket keempat hadir saat aku sedang bergembira ria bersama teman-temanku di akhir Maret 2011 yang lalu…

Aku saat itu sedang travelling bersama dengan teman-teman mainku di Sumatera Barat.. Di hari kedua, setelah makan malam di daerah Jl. Ahmad Yani Bukit Tinggi, kami berjalan kaki menuju Jam Gadang dan berfoto-foto di sekitarnya.. Puas berfoto-ria kami berjalan kaki menuju hotel Bagindo yang berjarak gak sampai 1 km dari Jam Gadang…

Saat menjelang tidur, dan mau mencharge hp, aku tidak menemukan Nokia E71 ku di  dalam ransel..  Seluruh isi ransel ku tumpahkan ke atas tempat tidur, tapi E71 tetap tak nampak. Kesimpulannya E71 jatuh di jalan antara tempat makan, Jam Gadang sampai ke hotel Bagindo.., karena sambil berjalan kaki dari tempat makan menuju Jam Gadang, aku masih sempat menelpon Mama dengan menggunakan Nokia E71 kesayanganku itu….

Ya.., E71 yang telah berusia nyaris 2 tahun itu sangat aku sayang..Meski harganya sudah merosot jauh dari saat aku membelinyaa… :  Fitur-fitur nya sangat mendukung aku yang mobile.  Kapasitas phonebook nya luar biasa, selain jumlah yg disimpan bisa sangat banyak, data personal yang bisa dimuat juga banyak..Untuk  setiap contact, aku bisa menyimpan nomor teleponnya beberapa buah, alamat email, tanggal lahir, alamat rumah, dan lain-lain.. Bahkan aku menyimpan nomor rekening bank keluarga dan teman-teman arisan di situ.  E71 juga menyediakan akses untuk surfing di dunia maya, akses untuk email, Notes untuk membuat catatan-catatan penting, GPS dan Map.. Belum lagi fasilitas untuk musik dan lain-lain.. Pokoknya E71 ok banget buat ku..  Yang parahnya lagi, telepon ini menyimpan nomor telepon sejuta umat…, mulai dari nomor telepon keluarga, teman dan sahabat, sampai nomor telepon networking ku…. Hikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkssssssssssssssssssssss… 😥

Rasanya telpon itu harus dicari.. Aku harus menyusuri kembali jalan yang sudah kulalui sebelumnya…  Tapi hari sudah malam…, sangat malam.. Karena setelah sampai di hotel, sementara menunggu giliran mandi, Linda dan Veny yang menjadi teman sekamarku malam itu duluan, aku sempat ngobrol sama Yulisman dan Nana di teras kamar lebih dari 1 jam…

Aku lalu memandang Veny dan Linda.. Keduanya telah  tertidur dengan nyenyak.. Apalagi Linda yang malam sebelumnya tidak bisa tidur sama sekali…  Aku lalu berjuang untuk memasrahkan diri ku… Pasrah bahwa aku tidak boleh menggangu istirahat teman-temanku yang telah lelah.., pasrah bahwa kalau sudah sampai di akhir jodohku untuk bersama dengan si E71 kesayangan itu, tak ada yang bisa menghalangi.. Kalau masih ada jodoh, insya Alloh akan ada jalan yang mempertemukan ku kembali dengannya…  Alhamdulillah setelah gelisah beberapa menit, aku pun akhirnya tertidur nyenyak….

Saat bangun pagi, aku baru bercerita pada Veny tentang si E71 yang entah kemana..  Veny lalu mengajak aku menyusuri jalan yang telah kami lewati tadi malam…  Tapi tidak ketemu…. Hmmmmmm…, berarti sampai di situ lah jodoh ku dengan E71 itu…

Apa rasanya kehilangan kali ini….???? Sedih..? Pastilah…Yang menyedihkan itu adalah kehilangan data contacts ku….  Tapi saat aku melihat wajah teman-teman ku…, aku rasanya gak sanggup merebut kegembiraan mereka, kebahagiaan mereka, dengan kesedihan ku atas kehilangan E71...

Yaaa… , perjalanan ini adalah reunion travelling.. Sebuah perjalan bersama dari teman-teman main saat kuliah di Sosek IPB sektar  tahun 1987 sampai dengan 1992-an… Sebuah perjalanan yang telah dirancang sejak beberapa bulan sebelumnya…  Rasanya gak pantas dirusak oleh rasa  sedih karena kehilanganku.. Lagi pula ini ketentuan Alloh.., pasti yang terbaik..  Aku pun kembali bergabung bersama teman-teman ku dengan segenap keceriaan yang aku punya..  Menikmati kembali perjalanan yang sudah kami rencanakan ini…  Alhamdulillah.., rasa  sedih karena kehilangan itu menguap…   Bahkan tak tersisa… Aku bisa menikmati tawa canda bersama teman-teman, aku bisa menikmati Lembah Anai, nasi kapau, bahkan aku bisa menikmati semilir angin yang berhembus di Danau Singkarak…  Alhamdulillah…  Semua ternyata tergantung niat kita.. Niat baik menepis kesedihan agar teman-teman bisa menikmati perjalanan, alhamdulilah berbuah kebaikan bagi diriku sendiri…

Setelah kembali ke Pekanbaru, aku membeli hp pengganti dan mengurus ke provider untuk menerbitkan nomor ku kembali, sehingga jaringan ku bisa tetap menghubungi aku…  Alhamdulillah sejauh ini semua baik-baik saja… Aku kembali mengumpulkan satu persatu nomor contact ku, meski  masih jauh dari yang pernah ada, tapi tidak menghalangi kelancaran pekerjaan ku sejauh ini.. Sekali lagi, Alhamdulillah… ***

White Lie..

White Lie alias Kebohongan Putih…Kata ini mungkin tidak asing buat kita… Ya, kebohongan putih dimaknai sebagai kebohongan yang dilakukan untuk tujuan yang baik…

Apakah ini bisa dibenarkan menurut teman-teman…?  Bukan kah kebohongan adalah kebohongan, sesuatu yang tidak baik.., sesuatu yang tak dapat dibenarkan… Tidak ada yang bisa menyatakan bahwa berbohong itu benar… Bagaimana bila berbohong itu harus dilakukan untuk tujuan yang baik…? Hhhmmmm…. It’s grey zone, my dear friends…

Topik mengenai ini bahkan sudah dibahas sejak zaman Rasulullah SAW…  Dan ternyata Rasullah tidak menutup habis pintu untuk hal-hal yang seperti ini… Tapi dari yang aku dengar dan baca, Beliau tidak “langsung” melakukan kebohongan, melainkan membiarkan pihak lawan “terjebak” dengan pikiran-pikiran, asumsi-asumsinya sendiri…  Jadi lidah tetap tidak berdusta….

Beberapa hari yang lalu aku melakukan white lie… Tapi white lie ku benar2 ku lakukan.. Bukan seperti Rasulah.. Astagfirullah al adzim..

Ceritanya, seseorang yang pernah mengisi hari2 ku di masa lalu berhari jadi… Namun pertimbangan diri yang semakin tinggi usia, memutuskan untuk tidak meninggalkan ucapan apa pun di dinding-nya di jejaring sosial…, karena tidak mau siapa pun merasa terganggu…  Tapi ternyata oh ternyata, sebuah fasilitas di jejaring sosial bekerja dengan sangat baik, sehingga tanpa diperintahkan pun, secara otomatis menggalkan birthday wish di dinding si teman…

Aku tidak menyadari adanya kerja tersebut, sampai sebuah notification mengatakan bahwa si teman menigacungkan jempol atas ucapan tersebut…Aku yg baru nyadar akan kehadiran posting otomatis itu, berusaha menetralisir dgn mengatakan klo itu kerja mesin, lalu mengucapkan a simple birthday wish…  Tapi teman ku itu menganggap my belated wish itu gak apa-apa yang penting aku sudah berniat mengatakan birthday wish. 

Waaaahhhh ……,  aku justru gak mau ada yang merasa sebel karena menganggap aku berniat…  Dari pada nanti ada yg sebel.. Terpaksa kutuliskan di dindingnya, permohonan maaf, karena aku “sebenarnya” gak ingat dia berhari jadi… , padahal aku ingat, masih ingat.. Apakah ini tergolong sebagai white lie…? Entah lah… Yang jelas, rasanya tak ada yang dirugikan atas kebohongan ku ini.. Justru mungkin ada yang merasa lega…  Aku secara pribadi justru merasa sangat lega.. Padahal biasanya klo aku berbohong, jantung ku akan berdetak lebih kencang, jiwaku akan gelisah, meski sekecil apa pun kebohongan itu…  Mudah2an ini bisa tergolong white lie yaaa…**

Selamat Jalan Iban, Selamat Jalan Batak Keren, Selamat Jalan Robert Manurung…

Apa itu iban…? Iban adalah salah satu tutur (cara memanggil seseorang) dalam bahasa Batak. Iban atau lengkapnya  Pariban…

Robert Manurung 05.05.1964 - 05.05.2011

Buat seorang boru Batak, Iban artinya adalah anak saudara perempuan dari ayah alias anak namboru.. Sedangkan buat seorang lelaki Batak, pariban adalah boru alias anak perempuan dari saudara laki-laki  ibunya, alias boru tulang.  Menurut adat Batak, orang yang marpariban adalah pasangan hidup yang paling cocok.., namun di masa sekarang panggilan Iban bukan lagi semata2 seperti itu…

Seorang Robert Manurung yang menyebut dirinya sebagai “Raja Batak” di blognya yang bertajuk “Batak Keren” membahasakan aku sebagai ibannya..  Itu adalah panggilan panggilan menghormati, menghargai..  Padahal aku hanya seorang Boru Batak yang dia temukan di tengah belantara dunia maya.. Tak pernah bertemu muka, tak pernah berbicara melalui jaringan seluler kecuali pada pagi hari di ulang tahunnya yang terakhir, 05 May 2011, dua hari menjelang kepergiannya untuk selama-lamanya…

Siapa siyy Robert Manurung…? 

Deskrpisi tentang dirinya pernah dia tulis di blog Batak itu Keren sebagai berikut :

  1. Aku selalu diliputi perasaan heroik dan cinta yang mendalam terhadap negeri ini, setiap kali melihat Merah-Putih berkibar.
  2. Jiwa nasionalis tertanam dalam diriku selama bekerja sebagai wartawan di Harian Merdeka, yang waktu itu dipimpin oleh pendiri dan pemiliknya, BM Diah. Beliau ini salah satu tokoh pemuda dalam pergerakan kemerdekaan, sangat dekat dengan Bung Karno.
  3. Aku bersyukur dan bangga pernah bekerja di Harian Merdeka. Dinding kantor redaksi koran nasionalis ini dihiasi ratusan foto bernilai sejarah tinggi bagi Indonesia dan dunia, antara lain foto asli Proklamasi 17 Agustus 1945, foto Bung Karno dan BM Diah dengan tokoh-tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru, JF Kennedy dll.
  4. Merdeka adalah surat kabar terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Koran ini lahir hanya selang berapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya 1 Oktober 1945. Sampai akhir tahun 90-an, meskipun oplah kecil dan tak ada iklannya, Merdeka merupakan koran nomor satu.
  5. Sebagian besar wartawan hebat yang pernah lahir di negeri ini adalah “lulusan” Merdeka, sebutlah misalnya Rosihan Anwar, Harmoko dan generasi yang belakangan Goenawan Mohammad, Christianto Wibisono dan Fuad Hasan.
  6. Pada umur 30 tahun, aku merasa tujuan hidupku telah tercapai, yaitu keliling dunia. Memang belum semua tempat di dunia ini aku kunjungi satu per satu. Tapi dari segi kawasan, atau benua, telah aku kunjungi semua. Di antara semuanya, India paling mengesankan, karena belum digerus budaya artifisial barat.
  7. Karena merasa cita-citaku sudah tercapai, aku pernah berdoa agar Tuhan mencabut nyawaku. Tapi ternyata Tuhan punya kehendak lain, yang kuartikan bahwa aku masih diberikan tugas untuk mengabdi bagi keluargaku, teman-temanku dan masyarakat. Namun profesi wartawan kuanggap tak menarik lagi, karena pers Indonesia sudah benar-benar bobrok. Pemilik media mengisap darah wartawan, kemudian si wartawan melacurkan profesi, memeras dan mengemis.
  8. Aku mengundurkan diri dari profesi wartawan pada usia 34 tahun. Setelah itu aku sempat membantu petenis kelas dunia, Yayuk Basuki, meloncat ke peringkat 19 dunia dan lolos ke babak delapan besar turnamen akbar Wimbledon. Tapi secara bisnis, usaha itu kurang berhasil. Namun, aku tetap merasa berterima kasih pada Kang Wimar Witoelar, atas kesediaannya bekerjasama denganku mengurus manajemen Yayuk.
  9. Dalam banyak hal aku belajar secara otodidak. Aku kurang menghargai lembaga pendidikan formal, karena menurutku sistem pendidikan kita, dunia kerja, penghargaan masyarakat terhadap pendidikan, semuanya masih belum menghargai manusia sebagai mahluk yang cerdas, berkepribadian, dan independen.
  10. Aku menentang separatisme dan politik sektarian, serta diskriminasi dalam berbagai bentuk. Bagiku, setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana diatur oleh Undang Undang Dasar 1945.
  11. Aku bikin blog ini sebagai upaya kecil untuk menggugah kecintaan masyarakat Batak pada budaya dan kampung halaman. Ini sejalan dengan keyakinanku : untuk membangun Indonesia kita harus lebih dulu membangun suku-suku dan daerah. Sejak Kemerdekaan, Bangso Batak sudah menyumbang banyak pejuang, tentara, guru, penegak hukum, dokter, wartawan, dan ahli-ahli di berbagai bidang; demi kemajuan Indonesia.
  12. Fokus utama blog ini : seni budaya, sospol, lingkungan, info dan timbangan buku. Tentu tak terelakkan masalah agama pun akan kusorot di blog ini. Tapi, kepedulianku lebih pada kebebasan beragama, dan humanisme. Buatku, agama adalah urusan pribadi.
  13. Sastrawan favorit : Jean Paul Sartre, Kahlil Gibran, Chairil Anwar, Pablo Neruda, Yasunari Kawabata, Ahmad Tohari dan Multatuli.
  14. Novelis favorit : Sidney Seldon, Agatha Christi, Alistair McLean, Ashadi Siregar dan Mochtar Lubis.
  15. Tokoh idola : Bung Karno, Gandhi, JF Kennedy, Kahlil Gibran, Tan Malaka, Bunda Teresa.
  16. Pemain bola favorit : Christiano Ronaldo (MU), Penambucano (Lyon)
  17. Klub : Manchester United.
  18. Tim Nasional : Brazil & Perancis.
  19. Musisi/penyanyi favorit : Sebastian Bach, Vivaldi, Gordon Tobing, Joan Baez, Leo Kristi, Queen, Scorpion, The Beatles, ABBA, Bimbo, Santana, Tongam Sirait, Elvis Presley, Viky Sianipar, Los Morenos, GNR, Demis Roussos, Ann Murray, Rolling Stones, Von Groove, Ungu & Celine Dion.
  20. Makanan favorit : tongseng, sate padang, sangsang, naniura, sop konro, ikan rica-rica.

Iban Robert menemukan ku, lebih tepatnya lagi menemukan tulisan ku yang berjudul “Batak Berekor atau Berbelalai?” yang ku release di blog ku tanggal 23 Agustus 2007.. Tulisan tentang kenangan akan kebatakan ku, tentang beberapa pertanyaan yang ada di benak ku..  Lalu postingan  itu beliau reposting kembali  judul yang sama pada tanggal 15 Mei 2008 di blog punya beliau “Batak Itu Keren“…

Terus terang apresiasinya terhadap tuilisan ku itu mengagetkan ku.. Karena buat aku itu hanya tulisan remeh temeh dari seorang Sondha Siregar.., Boru Batak yang melayang-layang di Negeri Melayu…  Apresiasinya membuat aku melihat ke komunitas Batak yang digalangnya di dunia maya untuk membangkitkan rasa percaya diri orang Batak, agar mereka tidak lagi malu mengaku sebagai Orang Batak, karena sebenarnya Batak itu Keren, karena Batak itu punya warisan Budaya yang Luar Biasa, yang tak kalah dengan suku lainnya di negeri ini…

Lalu setelahnya kami beberapa kali ngobrol melalui Yahoo Messenger..

Kemudian Iban Robert mengkolaborasikan foto hasil jeprat jepret ku dengan tulisan yang sangat indah dari kak Halida Srikandini boru Pohan yang dirilis di “Batak Itu Keren” tanggal 29 September 2008 dengan judul “Lomang (Bukan Ketupat!), Makanan Khas Lebaran di Tapanuli Selatan“.  Foto itu merupakan foto yang ku buat saat pulang kampung di medio 2008 saat mengikuti pesta adat perkawinan iboto (adik laki2ku), David Siregar…

Apa yang Iban Robert lakukan terhadap karya2 kecilku itu kemudian menggelitik hati ku…, menggelitik darah Batak yang mengalir di tubuhku…  Kenapa  ?  Karena sampai saat itu, meski nama Siregar, yang merupakan stempel kebatakan, melekat erat pada diri ku sejak aku lahir, aku sebenarnya tidak merasakan ikatan yang kuat terhadap kebatakan ku itu..  Aku cinta keluarga ku, keluarga besar ku.. Aku punya buuuuaaaannnyyyaaakkk kenangan tentang Sipirok, Sibadoar dan Hanopan,yang merupakan tanah tumpah darah leluhurku…  Tapi apa aku merasakan ikatan yang kuat sebagai orang Batak…?  Enggak juga…  Aku merasa lebih terikat erat pada Kota Pekanbaru, Tanah Melayu yang menjadi tempat aku tumbuh besar…  Namun di satu sisi aku pun sadar bahwa masih ada orang di Negeri Melayu itu yang menganggap aku adalah si Batak pendatang…

Dalam beberapa kali percakapan di YM itu lah yang aku katakan pada Iban Robert..

Aku : “Iban, aku cinta sama keluarga ku.. Aku cinta sama Sipirok, Sibadoar dan Hanopan…  Ketiga kampung itu acap kali membuatku terindu-rindu.. Tapi aku tidak terlalu merasa sebagai orang Batak.. Rasanya setengah  dari diri ku mencintai Negeri Melayu, tempat ku tumbuh dan dibesarkan…

Iban Robert : “Gak ada yang salah sama itu semua Iban… Jadi lah kau Boru Batak Keren dari Pekanbaru…  Jadi lah kau orang Melayu berdarah Batak yang tak pernah kehilangan jati diri mu  sebagai Boru Batak...”

Lalu aku pun kembali tenggelam dalam kesibukan ku.. Sesekali ku lihat dari FB iban Robert  betapa dia sangat memikirkan Tanah Batak dan Tao Toba..  Sementara acap kali iban Robert men-tag ku untuk foto2nya mengenai Tanah Batak dan Tao Toba..

Di sekitar Oktober 2010, di sebuah thread di FB bertiga dengan Ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak , kami berdiskusi mengenai pariwisata yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk pengentasan kemiskinan bagi masyarakat Batak yang kaya akan budaya dan alam, terutama menghubungkan Sipirok ke jalur pariwisata Tao Toba yang sudah mendunia itu.   Iban Robert bilang, “Kapan iban ke Jakarta, kita ketemuan lah untuk berdiskusi tentang apa yang bisa kita lakukan untuk negeri leluhur kita itu

Lalu ku jawab “Iban, aku tak mau berbicara tanpa aku punya data mengenai potensi pariwisata yang ada di Sipirok.. Aku usahakan pun bisa pulang ke Sipirok untuk melihat2..”

Tapi sampai hari ini rencana melihat2 itu belum juga sempat ku lakukan… Pulang ke Medan berkali-kali dalam 6 bulan terakhir ini sepenuhnya  untuk menemui ibu ku yang memang memerlukan perhatian anak2nya..

Lalu, di awal April lalu…, aku melihat iban Robert mengupload foto dirinya yang disebutnya Narcis..  Foto diri setelah lebih dari 30 hari berhenti merokok dan sudah 8 malam tak bisa tidur..  Aku yang jail, masih berusaha ngeledek dengan bilang, “Tapi kalau siang, tidur kan, Iban..?”  Aku tidak memahami bahwa itu adalah awal dari perjalanan sakit selama 1 bulan lebih yang  membawa dia ke akhir hidupnya… Itu adalah awal cancer hadir nyata dalam hidupnya.. Bahkan di komentar2 foto itu pula ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak menyemangati Iban Robert agar cepat sembuh agar kami dapat mengadakan kumpul2 dengan kak Halida Srikandini, Eda Paulina Sirait dan kak Marini Sipayung, yang keduanya juga sangat dekat dengan Iban Robert..

Dua hari yang lalu, sekitar jam 7 pagi dalam perjalanan menuju ke kantor, aku menelpon Iban Robert.. Telpon ku yang pertama dan sekaligus terakhir..  Aku menelpon untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke 47, mendoakan agar dia tetap semangat dan berjuang untuk sembuh…  Masih bergema rasanya suara beliau di pendengaranku.. “Aku akan berjuang melawan penyakit ini Iban.. Aku tidak mau kemo.. Aku akan minum air daun sirsak itu untuk pengobatan..”

Tapi kenyataan berkata lain.. Hari ini Sabtu 07 May 2011 jam 06.10 wib Iban Robert pergi menghadap Sang Pemilik Semesta Alam….

Selamat jalan Iban.. Beristirahat lah dalam damai..

Terima kasih sudah hadir dalam hidup  ku, sudah mengingatkan ku agar berupaya menjadi Boru Batak yang Keren.. Boru Batak yang bisa berbuat banyak bagi masyarakat dimana pun berada tanpa kehilangan jati diri sebagai Boru Batak yang tidak pernah melupakan tanah leluhurnya…  ***

Guru Istimewa ku…

Ini postingan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, Hardiknas kata orang2 saat ini..  Telat yaa.., karena Hardiknas sudah lewat 2 hari yang lalu.. Gak apa-apa lah yaa..  Kerjaan yang seabrek2 membuat energi kadang tak bersisa untuk menulis…  Cari2alasan.modeon.  Hehehehe…

Guru…

Guru  bisa berati yang mengajar di sekolah formal mau pun yang mengajar ku di tempat-tempat les.. Atau bisa juga orang yang kita anggap sebagai guru bagi diri kita karena pengaruhnya yang sangat besar bagi jalan pikiran kita.., jalan hidup kita…

Guru yang mau aku bahas kali ini adalah sosok-sosok yang punya pengaruh besar terhadap aku, terhadap jalan hidupku.. Guru-guru Istimewa..  Mereka aku temukan semasa aku menjalani pendidikan di sekolah formal mulai dari tingkat dasar sampai saat aku kuliah..  Siapa aja mereka…???  Here they are…

Ibu Syaribah.. 

Beliau adalah guru ku di kelas 1 di sekolah dasar, SD Negeri Teladan Pekanbaru.  Beliau adalah guru yang paling ajaib.., menurut aku.. Kenapa…? Karena beliau mengenalkan aku pada huruf yang sebelumnya tak ku kenal.. Beliau mengenalkan ku pada angka yang sebelumnya pun tak terlalu ku kenal.. Secara pada awal tahun 1970-an, Taman Kanak-Kanak sepenuhnya merupakan tempat bermain.., tidak ada pelajaran membaca apalagi berhitung…  Yang ada menari, menyanyi, main ayunan, main prosotan, main jungkat jungkit daaaaaaannnnnn ikut karnaval dengan menjadi kelinci dan naik sepeda hias …  Hehehehehe...

Ibu Syaribah (kanan) bersama salah satu mantan muridnya, Yasmine Attaillah..

Bu Syaribah guru yang sangat mendidik menurut aku.. Kenapa..? Karena beliau memberikan nilai yang fair, dan aku pikir itu sangat baik untuk mendorong murid-muridnya.  Di catur wulan I, aku mendapatkan nilai a untuk membaca juga berhitung… Hueeebbbbaaaatttt….? Tunggu dulu, karena aku juga mendapat nilai d berwarna merah untuk pelajaran menulis… Huhuhuhuhu…

Menulis merupakan masalah besar buat ku di masa SD.. Motorik halus ku tidak cukup berkembang di saat itu.., sehingga aku tidak mampu menulis huruf  halus kasar.., bisanya huruf kasar semua.. Hehehe.. Iya semua tulisan ditulis dengan tekanan yang kuat, sehingga kalau ada salah dan harus dihapus, justru kertasnya yang robek..  :).  Belum lagi bentuk hurufnya yang enggak sempurna… Sehingga ibu (alm) menyebutnya tulisan cakar ayam… Bisa ngebayangin gimana bentuk goresan hasil cakaran ayam…? 😀

Ibu Syaribah juga tetap peduli dengan ku meski aku sudah bukan murid di kelas beliau lagi.. Beliau melibatkan aku di kelompok tari “Selamat Datang” yang keren banget rasanya di zaman itu…  Penari di kelompok ini berasal dari murid2 SD Negeri Teladan dari berbagai kelas yang berbeda.  Mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 5.  Kelompok ini biasa tampil di berbagai acara baik yang diadakan sekolah maupun yang diadakan Dinas P dan K (Diknas zaman 70-an). Seru rasanya menari beramai-ramai di berbagai acara…

Dan bu Syaribah bukan hanya menjadi guruku, tapi juga menjadi guru dari 3 orang anak kakak ku..

Guruku yang berikutnya…  Ibu Rustiaty…

Bu Rustiaty juga guruku di SD Negeri Teladan..  Beliau sebenarnya tidak pernah menjadi wali kelasku.. Sejak aku kelas 4 sampai dengan kelas 6, bu Rustiaty selalu jadi wali kelas untuk kelas B, sedangkan aku di kelas A.  Tapi bu Rustiaty mengajarkan pelajaran Matematika dan IPA di kelas A dan juga kelas B.

Menimbang aku sering gak masuk sekolah sejak kelas 1 karena mengikut dengan Ibu (alm) bila beliau keluar kota, maka diputuskan bahwa aku harus ikut les untuk mengejar ketinggalan dari teman-teman yang lain..  Jadi 3 hari dalam seminggu aku akan diantar untuk belajar di rumah guru yang diminta orang tuaku memberi pelajaran tambahan, Ibu Rustiaty..

Aku dan beberapa teman SD saat menemui Bu Rustiaty di sekolah tempat beliau mengajar, 01.08.2009

Selain membantu aku untuk mengejar ketinggalan pelajaran, Ibu Rustiaty sepertinya juga diberi amanah untuk membantu aku memperbaiki TULISAN KU YANG CAKAR AYAM itu.. Hehehehe…  Jadilah setiap hari les, 1 jam pertama diisi dengan latihan menulis halus kasar..  Entah berapa ribu kali, entah berapa ratus lembar kertas, entah berapa batang pinsil, entah berapa buah penghapus yang sudah ku gunakan untuk menuliskan kata-kata “pikir itu pelita hati, “biduk berlalu kiambang bertaut”, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian” dan lain-lain.. 😀  Hasilnya…………??? Bukan satu dua kali orang memuji tulisanku yang rapi jali… Hehehehe…  Dan bukan satu dua kali buku catatanku zaman SMP, SMA sampai dengan kuliah dipinjam teman2 karena kerapiannya.. Hahahaha.. :D.  Semua itu berkat Ibu Rustiaty… Hehehehe…

Selain melatih motorik ku untuk menulis…, ibu Rustiaty juga mengajar berbagai pelajaran lain, yaitu matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan seluruh pelajaran yang diajarkan di kelas..

Tapi   ada pelajaran lain yang sangat istimewa…  Apa itu…???  Ibu Rustiaty yang tahu dari cerita2ku, si anak SD yang bawel, cerewet dan suka ngoceh, bahwa aku saat itu punya banyak sekali buku yang sebagian besar merupakan oleh-oleh dari Ibu (alm) bila beliau keluar kota.  Di antara buku-buku tersebut terdapat buku serial pengetahuan dengan gambar2 yang cantik dan full color, sehingga menari buat anak2 seusiaku saat itu..  Bu Rustiaty memintaku untuk membawa beberapa buku tersebut pada saat aku les..  Untuk apa..??? Beliau memintaku mememilih salah satu buku, lalu membacanya dalam jangka waktu terbatas yang beliau pantau dengan jam tangannya.. Setelah waktunya habis, aku harus menandai batas bacaanku, lalu menuliskan apa pemahamanku atas apa yang sudah kubaca.. Setelahnya, Bu Rustiaty meminta aku menghitung berapa banyak kata yang sudah aku baca dalam selang waktu yang telah beliau berikan..  Yaaa.., beliau mengajarkan aku untuk membaca dengan cepat namun juga paham dengan apa yang aku baca….  Guru SD mana ya di zaman itu yang mengajarkan muridnya seperti ini…???

Guru yang memberi pelajaran istimewa berikutnya adalah… Pak Budi (alm)..

Pak Budi (alm) adalah guru menggambar geometri saat aku belajar di SMA Negeri 1 Pekanbaru.  Kenapa Pak Budi (alm) menjadi istimewa buat aku? Padahal mungkin mantan teman2 sekelas ku tidak banyak yang ingat kehadiran beliau..  Beliau bukan tipe guru killer yang akan diingat matan murid sepanjang masa.  Beliau sangat kalem, tak banyak bicara..  Selain itu beliau juga  sangat singkat hadir di antara kami..  Saat kami di semester 3 beliau berpulang menghadap Yang Maha Kuasa..

Apa istimewanya Pak Budi (alm)..?  Buat aku Pak Budi itu istimewa karena dia berani jujur menilai muridnya…  Beliau memberikan nilai 5 berwarna merah untuk pelajaranmenggambar geometri  di rapor semester 2 ku.  Sementara di halaman yang sama di  rapor itu tidak ada satu pun angka 6.  Angka 7 pun tak banyak.., yang dominan adalah angka 8 bahkan beberapa angka 9 juga hadir..

Sakit hati…? Subhanallah… Aku sama sekali tidak sakit hati..  Aku sangat menyadari, lagi-lagi motorik halus ku pada saat itu belum mampu menghasilkan kerja yang halus..  Aku belum bisa menggambar cantik dengan menggunakan jangka…  Aku belum bisa menggunakan cat air  untuk mewarnai gambar-gambar geometrik dengan rapi.  Hasil kerjaanku lebih sering beleber sana sini… :D.

Diberi nilai 5 berwarna merah justru memacu aku untuk berlatih dan berlatih…  Sehingga ketika Pak Manurung dan kemudian Bu Rita guru menggambar yang menggantikan beliau memberikan aku nilai 8, aku di dalam hati berbisik “Terima kasih Pak Budi.  Nilai 5 berwarna merah itu sungguh menjadi pecut bagi aku… Mendorong aku untuk belajar dan belajar.. Seandainya pada waktu itu beliau memberikan aku angka yang aman, mungkin aku tidak akan punya motivasi untuk melatih jari2ku agar mampu menggambar geometrik dengan rapi.”

Guru yang juga istimewa buat aku adalah Ibu Yayah Wagiono, dosen di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian IPB…

Mengapa beliau menjadi istimewa..? Kan aku hanya mengambil satu mata  kuliah dengan beliau, Tata Niaga Pertanian di tingkat 3…?  Beliau istimewa buat aku bukan sebagai dosen mata kuliah, meski beliau ngajarnya asyik dan mudah dicerna, tapi justru saat beliau bertugas menjadi Ketua Komisi Pendidikan di Jurusan Sosek saat itu…

Ceritanya di akhir semester 4 dari masa kuliah ku di IPB, indeks prestasi untuk semester 3 dan 4 ku hanya mencapai 1,98 alias satu koma oh la la.. (Aku pinjam istilahnya Gufron niyyy)..  Menurut peraturan di IPB saat itu aku harus mengulang seluruh mata kuliah di semester 3 dan 4 kecuali yang nilainya sudah B ke atas…  Bersama sekitar 40-an teman sekelas yang bernasib sama pada tahun itu, aku harus mengulang hampir seluruh mata kuliah kecuali 1 mata kuliah yang sudah B.., karena nilaiku adalah Rantai Carbon, alias sederetan nilai C dengan variasi 2 D dan hanya 1 B..

Membayangkan waktu yang terbuang karena harus mengulang setahun, serta membayangkan reaksi orang tua atas kegagalanku, membuat aku nekad menghadap Bu Yayah sebagai Ketua Komisi Pendidikan.  Aku minta diberikan kesempatan her buat satu mata kuliah saja..Karena bila ada 1 mata kuliah dengan 3 SKS yang nilainya bisa berubah dari D menjadi C, atau dari C menjadi B, indeks prestasi ku akan berubah menjadi dua koma oh la la..  Kalau sudah begitu  aku tidak perlu mengulang, dan aku tidak perlu mempertanggungjawabkan kegagalan ku pada keluarga….

Tapi Bu Yayah, tidak bergeming sedikit pun..  Dengan wajah yang biasa2 saja, tidak menunjukkan rasa simpati dan tidak pula menunjukkan sikap killer, beliau mengatakan pada ku… “Ingat baik-baik ucapan saya.. Pada saat ini kamu sangat ketakutan, kamu sangat sedih.. Tapi suatu saat nanti kamu akan bersyukur mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri dengan mengulang mengambil mata kuliah-mata kuliah tersebut.  Percaya pada saya.”

Jadilah semester5 dan 6 ku menjadi semester pengulangan…  Tapi alhamdulillah kedua semester ini bukan menjadi periode yang buruk, melainkan jadi masa yang menyenangkan…  Bersama 40-an  teman sekelas yang bernasib sama, kami menjadi kompak…  Menjalani masa-masa bergaul, runtang runtung ke sana ke mari… Have fun..  Di sisi lain, di periode itu aku belajar mengatur pola belajar yang efektif, yang juga belakangan aku terapkan saat aku menempuh kuliah pasca sarjanaku… Bener2 Study Hard Play Hard…

Di akhir semester 6 ku, indeks prestasiku berubah sangat jauh.. Bahkan melebihi ekspektasiku.. Dan nilai ini menyebabkan Indeks Prestasi Kumulatif  (IPK) ku jadi tidak memalukan.. Seandainya Bu Yayah mengabulkan permintaanku untuk memberikan her untuk satu mata kuliah, dan aku tidak mengulang seluruh mata kuliah yang nilai2nya hancur2an itu, aku akan lulus dengan IPK dua koma oh la la..  Dan itu akan tertulis seumur hidup ku.. Itu juga akan membuat kesempatan ku mengambil pasca sarjana menjadi kecil…

Bisa teman2 mengerti mengapa seorang Bu Yayah Wagiono menjadi istimewa buat aku…?  Karena beliau benar, aku sangat bersyukur sudah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.. Meski awalnya menyakitkan, menakutkan…

Terima kasih Bu Syaribah, Terima kasih Bu Rustiaty, Terima kasih Pak Budi (alm), Terima kasih Bu Yayah Wagiono…  Pelajaran yang telah kalian berikan benar-benar indah dan luar biasa, mewarnai dan membentuk diriku menjadi aku yang sekarang..  Terima kasih…

Sesungguhnya selain keempat guru ini, juga ada banyak sekali guru-guru istimewa di adalam perjalanan hidupku…, yang jasanya juga luar biasa dalam membantu membuka pintu ilmu pengetahan..  Yang bahkan nama2nya bisa saja telah  terlepas dari ingatan.. Untuk warna yang telah kalian goreskan di kertas kehidupanku…, terima kasih…  Semoga Alloh SWT melindungi guru-guruku…, membalas kebaikan yang telah mereka taburkan ke dalam kehidupan aku, muridnya…  ***

Denting….

Denting…

Denting yang berbunyi dari dinding kamarku
Sadarkan diriku dari lamunan panjang
‘Kan kurasa malam kini semakin larut
Ku masih terjaga

Sayang, kau di mana
Aku ingin bersama
‘Kan kuputus semua untuk tapiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama
Seperti dinginku di malam ini

Rintik gerimis mengundang
Kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku
Saat ini oh sayangku
Jika kau di sini
Aku tenang

by Melly G, soundtrack of Ada ApaDengan Cinta..

Rasa……..

Rasa…… ? Iya…, rasa…, perasaan… Bukan Ice Cream Rasa yang ada di Jl. Tamblong Bandung, yang dulu sering aku kunjungi dengan adikku David… He…

So, ada apa dengan rasa, ada apa dengan perasaan…??? Ada apa dengan rasa ku, dengan perasaanku..

Aku tahu ada beberapa orang terdekatku yang sering menjadi tempat aku bercerita, melepas marah, tangis dan kecewa, serta sedikit tawa yang amat jarang mengisi hidupku 12 tahun terakhir..  Tapi aku juga mengerti bahwa mereka pun mungkin tak mengenal rasa ku secara utuh.. Mereka tidak tahu isi hati ku…  Mereka tidak mengerti gejolak yang terjadi di hati ku, luka-luka di hati ku…

Perjalanan hidup yang penuh liku membuat aku cenderung memendam rasa…, dan tak membiarkan orang-orang di sekitarku menjenguk ke tempat penyimpanannya..: hati  Bahkan aku cenderung menutup pintu2 dan jendelanya rapat2, agar tak banyak yang tahu apa isi sesungguhnya…, sementara jiwa berusaha tetap tegar menjalani kehidupan…

Tapi hati memang ruang pribadi yang sangat pribadi, yang mungkin hanya bisa dibagi dan dimengerti oleh pasangan jiwa..

Demi penyembuhannya, aku selalu mencari dan mencari obat bagi hati ku… Beberapa mingu yang lalu, sebuah perjalanan menghantarku ke sebuah tempat yang  dapat membantu menunjukkan jalan menghidupkan kembali hati… Sebuah tempat yang memberikan kesadaran bahwa kita tak bisa merubah apapun, kecuali diri kita… Sebuah tempat yang memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang selarik kata yang telah berbelas tahun terekam dalam otak ku.. “This Life is Yours, Take the power to make you happy, no one else can do it for you…”.   Subhanallah…

Lalu di awal upaya menghidupkan  kembali rasa, aku secara tak sengaja alias kebetulan (apakah memang ada yang namanya kebetulan dalam peredaran jagat raya ini??)  menemukan Perahu Kertas, yang  kubeli di 02 Desember 2009, namun lalu terabaikan  di tumpukan buku2 yang menanti dibaca di sebuah sudut di kamar ku..  Kertasnya mulai menguning…., seakan mengekspresikan rasa kecewa karena aku mengabaikannya… Aku lalu memutuskan untuk membacanya… Daaaaannnn, sungguh sulit mengalihkan mata ku dari lembar2 menguning itu…

Membacanya membawa aku ke dunia yang lain, dunia dimana rasa, perasaan diberi ruang untuk bertahta… Karena semua tokoh utama dalam ceritanya menggunakan hati sebagai pembimbing langkah mereka.., penentu keputusan2 mereka…

Buku yang sekilas berkesan “just a young love story” ini justru menguatkan keyakinan, bahwa sudah waktunya aku kembali masuk ke dalam hatiku, lalu membuka pintu dan jendelanya lebar2 agar mentari kembali bisa menyapa, membantu menyembuhkan  luka2 yang selama ini dipendam, sehingga hati bisa menjadi penuntun arah langkahku..   (Thank you Dee…, buku kamu indah sekali…)***

Sebelum Cahaya….

Menjelang tidur malam ini tiba-tiba lagu Sebelum Cahaya yang dinyanyikan Noe Letto ini mengalun di benak ku… Liriknya yang mengatakan

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

Subhanallah… di keheningan malam, di kesendirian..  saat diri sepenuhnya berbincang dengan diri…, acap kali menyeruak kesepian….  Tapi, alhamdulillah ada keyakinan yang merebak dalam diri bahwa aku tidak sendiri, ada Sang Pencipta yang menemaniku…, begitu dekat dengan ku, bersama ku…  Tak perlu ada tangis kesedihan, tangis kesepian…,  tak perlu mucul rasa gelisah…

Yang harus dikuatkan adalah keyakinan bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik, karena Yang Memberikannya pada ku lebih tahu dari diriku…  Dia lah yang tahu apa yang terbaik bagi  setiap umatnya…

Yang harus dipertebal adalah keimanan.. agar bisa ikhlas menerima ketetapan2 Nya setelah berjuang dengan segenap daya…

Yang harus dilakukan adalah mencoba mengerti “yang terbaik” menurut Dia, bukan menurut keinginan kita…

Yang harus diingat adalah Embun Pagi Bersahaja Yang Menemani kita Sebelum Cahaya…,

Yang harus diingat adalah Angin Yang Berhembus Mesra Yang Kan Membelaimu Cinta…

SEBELUM CAHAYA…

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

kekuatan hati yang berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

Only Time…

Hanya waktu yang akan menjawab segala pertanyaan yang hadir  di hati…

ONLY TIME

Who can say where the road goes,
Where the day flows, only time?
And who can say if your love grows,
As your hearth chose, only time?

Who can say why your heart sights,
As your life flies, only time?
And who can say why your heart cries
when your love lies, only time?

Who can say when the roads meet,
That love might be in your heart?
and who can say when the day sleeps,
and the night keeps all your heart?
Night keeps all your heart…..

Who can say if your love grows,
As your heart chose, only time?
And who can say where the road goes
Where the day flows, only time?

Who knows? Only time
Who knows? Only time

by Enya

Azaz Manfaat….

Azaz manfaat…? Kamsute’ opo iki…. (maksudnya apa ini…?)????  Maksudnya, seseorang dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingannya.. No sincerely.. Gak ada ketulusan… Lebih gamblangnya  suatu interaksi itu dilakukan karena ada unsur kepentingan…

Klo dulu, zaman kuda masihh gigit besi, kalau aku tahu seseorang itu berinteraksi dengan ku karena ada maksud tertentu, ada kepentingan tertentu, rasanya kok gak nyaman yaa.., ada rasa sakit di hati…

Hampir sepuluh tahun yang lalu…, ketika seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupku, seseorang yang pernah begitu mewarnai hidupku berkata dalam suatu percakapan yang sebenarnya coda alias penutup setelah seharian bersama-sama,  “Kalo menurut aku ‘Dha, kalau ada orang yang bisa dimanfaatkan, ya dimanfaatkan saja…”

Saat itu rasanya ditampar habis2an…  Ada pikiran yang muncul di hatiku bahwa aku pun bisa jadi adalah orang yang dia manfaatkan… Sakit rasanya, karena orang yang berkata demikian adalah orang yang kita sayangi dengan sepenuh hati…  Tak kuasa menahan air mata yang menitik namun malu untuk terlihat, serta harga diri yang tergores membuat aku hanya mampu memalingkan wajah seraya memintanya untuk pulang dan kembali besok saja.. Dengan harapan aku bisa berpikir jernih dan gak sensi berlebihan…

Tapi kekerasan hati dari pihak yang lainnya untuk memaksa minta penjelasan atas air mata justru meruntuhkan kebersamaan sampai berkeping2… Tidak ada lagi saling pengertian, tidak ada lagi rasa saling mengalah dan mencoba mengerti….  Tidak ada pihak yang saling mau mendengar jeritan hati masing2.. Yang tersisa, rasa kehilangan, rasa rindu, kepedihan…, kesedihan..

Lalu…, dalam kehidupan sehari2 bukan lah hal yang langka ketika seseorang yang sering menyakitkan hati kita tiba2 menjadi baik dan ramah.. Kemudian, selang beberapa waktu muncul lah satu dua permohonan, ada yang dengan kata atau cara lainnya..  Itu sudah menjadi hal yang biasa, jamak dalam kehidupan di masa sekarang ini..  Lalu ada lagi pihak2 yang menyesatkan kita dalam suatu situasi yang jauh dari sesungguhnya karena ada kepentingan…

Bagaimana kita menghadapi hal-hal seperti ini…?????

Di usia sekarang, alhamdulillah… Meski tak bisa dipungkiri ada hati yang tergores, tapi insya Alloh goresannya tidak dalam… Dan ada bagian di dalam hati yang berkata, “Alhamdulillah, kamu masih bisa bermanfaat buat orang lain.. Soal niat yang tak lurus, itu bukan urusan kita.. Biar lah itu menjadi urusan yang punya niat… Energi yang negative akan kembali kepada yang melepaskannya.., sebagaimana energi positive akan kembali kepada yang menebarkannya…”

So, kenapa harus takut kalau kita dimanfaatkan orang.. Tetap lah berbuat baik… Karena urusannya antara kita dan Sang Pemilik Diri kita…. Bukan begitu teman2…????

Kumpul keluarga…

L-R : Papa, David, Nanda, Mama, Sondha, Noy & Ivo...

Tahun 2011 baru saja menunjukkan hari ke 19 di bulan kedua…, tapi alhamdulillah aku sudah dapat kesempatan pulang ke tempat Papa & Mama di Medan 3 kali…  Kayaknya belum pernah dehhh kayak gini.. Biasanya setelah libur tahun baru, aku kembali lagi ke rumah sekitar bulan April atau May.., saat libur paskah atau great friday..

Tahun lalu, karena terbenam dengan kesibukan kerja, setelah libur tahun baru aku baru pulang lagi bulan Agustus… Mama waktu itu gak pernah complain atau mengeluh atas ketidakpulangan ku.. Tapi kata adik2 ku, sometimes Mama melamun dan bertanya pada Papa dan adik2ku  “Kok si kakak gak pulang2, ya…? Sibuk banget sama kerjaannya yaa…? “I’m sorry I made U sad, Mom…!!

Dari 3 kali pulang di awal tahun ini, yang paling meriah adalah pulang yang kedua, karena 5 dari 6 bersaudara kumpul…. Cuma adik ku Uli yang gak hadir.. Sayang juga siyyy…

Ngapain aja selama kumpul2…? Apalagi kalau bukan ngobrol-ngobrol…, becanda, ledek2an, bertukar pikiran, makan2… Seru aja pokoknya runtang runtung ramai2..  Apalagi kumpul nyaris komplit ini tidak mudah buat kami yang menetap di kota yang terpisah jauh….

Duduk2 sore di Merdeka Walk saat Imlek Day... L-R : Ivo, Sondha, Noy & Mama

Mudah-mudahan bisa segera kumpul2 lagi yaa…****

Hidup Tak Pernah Berjalan Mundur..

Masa lalu adalah sebuah kotak kenangan…

Isinya banyak yang indah.., yang mebuat hati menjadi riang, tawa mengalir…  Namun ada juga yang pahit, menyedihkan dan mungkin juga kelam, yang menimbulkan rasa perih ketika mengingatnya, membuat air mata mengalir ketika dia muncul di genangan pikiran…

Tapi Alloh SWT memberikan kita kekuasaan yang sangat besar untuk mengendalikan apa yang mau kita ingat,  apa yang mau kita lupakan atau apa yang mau kita abaikan saja di kotak itu….

Yang jelas, kita harus berupaya menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih taqwa…, karena hidup tak pernah berjalan mundur…. ***

Percakapan Indah di Sore Hari…

Hari Jum’at 21 Januari 2011 siang, Friska,  seorang junior di kantor menyapaku di FB chat…   Nona  cantik ini ceritanya ingin “membayar hutang”nya pada ku…

Hutang…?  Hehehehe.. Hutang nraktir ice cream…!!!  Iya  beberapa waktu yang lalu, lebih dari setahun deeh kayaknya, gara2 ngebahas ice cream  “one of the keys to turn my mood when I am sad”,  Friska janji kami akan menikmati ice cream bersama, dan dia yang akan bayar..  Tapi kesibukan pekerjaan masing2, kami gak sempat2 pergi bareng… By FB chat, kami berjanji untuk menikmati ice cream bersama sepulang kantor Jum’at sore itu…

So, sore itu menjelang magrib kami membawa mobil kami masing2 ke Free Day…, sebuah resto di kompleks Toko Bahan Bangunan “Global” di jl. T. Tambusai di kota kami…

Sambil menikmati  makanan dan ice cream yang kami inginkan, kami ngobrol.. Kami sudah lama juga tidak ngobrol… Terakhir saat sama-sama mengikuti training ESQ – Self Controlling & Strategic Collaboration (SC2) di Hotel Pangeran akhir Oktober 2010 yang lalu…

Kami berbagi cerita tentang apa yang terjadi dengan hidup kami masing2.. Friska mengingatkan ku agar lebih taktis dan bijak menghadapi masalah2 yang ada di lingkungan kerja kami…  Dia mengingatkan agar aku lebih bijak dalam menyampaikan protes2ku terhadap situasi yang buruk, karena bila tidak, justru akan memberikan kesan buruk tentang aku, yang dia mengerti menginginkan perubahan, menginginkan keadaan yang lebih baik..  She’s really a wise young girl… Punya visi dan ketetapan hati untuk mencapai visinya…

Lalu, Friska bertanya pada ku, “Kak Sondha, apa kah kakak gak terpikir untuk berkeluarga? Kalau kakak gak punya keluarga, siapa yang akan mendoakan kakak bila kakak telah berpulang nanti?”

Subhanallah….. Peringatan yang so touchy…. Tq so much, darling…

Aku lalu berbagi cerita tentang keinginan dan impian akan kehadiran sosok yang baik, yang bisa membimbing untuk menjadi makhluk Alloh SWT yang lebih taqwa… Sosok yang bisa menjadi tempat aku memperoleh dukungan dalam menjalani pasang surut kehidupan..

Friska yang jauh lebih muda dari aku mengingatkan bahwa aku harus berjuang meraih hal-hal baik dalam hidupku.., termasuk berjuang meraih sosok yang akan membawa kebaikan dalam hidupku.. Tq for d suggest, darling…

Friska lalu menanyakan apakah aku bisa melepaskan pekerjaanku saat ini? Karena kalau dilihat dari kacamata yang wajar tidak akan ada suami yang paham agama yang mau istrinya bekerja seperti yang aku lakukan saat ini…

Subhanallah…..

Aku mengerti, sangat mengerti, gak akan ada suami yang paham agama yang mengizinkan istrinya menghabiskan waktu dan energinya di luar rumah, dan pulang dalam keadaan lelah fisik dan psikologis… Gak akan ada suami yang mau istrinya pergi sendiri ke sana ke mari berhari-hari, berkali-kali dalam setahun… Gak akan ada suami yang paham agama yang mengizinkan istrinya menjalani kehidupan kerja yang acap kali berada di zona abu-abu…  Karena suami yang baik harus berjuang  membawa pasangannya ke jalan yang lurus…

Tapi sungguh aku tak bisa menjawab pertanyaan Friska dengan cepat dan spontan…  Aku terdiam…, aku termangu…

Friska kembali bertanya, untuk apa aku hidup…

Subhanallah…  Pertanyaan yang sudah berkali-kali dipertanyakan padaku, bahkan di ruang-ruang training ESQ…

Aku tahu hidupku adalah sesuatu yang sementara, sesuatu yang fana.., sesuatu yang akan segera menjadi tiada… Hidupku hanyalah suatu kesempatan untuk berbuat kebaikan sebagai hamba Alloh agar aku mendapat izin dari Nya untuk bertemu dengan Dia Sang Pemilik Diri ku…

Aku lalu menjawab “Friska, aku tidak pernah berpikir untuk menjadi wanita karir.. Ibu dan Mama, 2 sosok perempuan yang  hadir di awal kehidupan dan menjadi role model ku adalah ibu rumah tangga. Awalnya bagiku bekerja hanyalah sesuatu yang harus dilakukan setelah aku mendapat pendidikan…  Lalu pekerjaan menjadi bagian kehidupanku karena aku harus financing myself.”

Sungguh, tidak ada target karir.. Semuanya mengalir begitu saja…, melakukan yang terbaik yang bisa ku lakukan dalam tugas2 ku…  Apalagi ketika beberapa tahun yang lalu dibukakan kesadaran bahwa aku adalah satu bagian yang sangat sangat sangat kecil dari alam semesta yang harus bergerak untuk menjalankan tugasku, sebagaimana unsur alam semesta lainnya.. Aku menterjemahkan diriku harus menjalankan tugasku sebagaimana aku dalam pekerjaanku..

Perjalanan hidup dan pengalaman di masa lalu membuat aku tak terlalu memikirkan kodratku yang terlahir sebagai perempuan, meski kadang naluri sebagai perempuan itu acap hadir di sela-sela hari…  Bukan tak ada rasa perih di dada saat melihat adik2ku berinteraksi dengan anak2nya…  Bukan tak ada rasa perih di dada saat melihat Papa ku bercanda dengan Ananda, cucunya, karena rasanya secara logika aku tidak akan sempat menikmati hal yang sama…

Astaghfirullah al adzim… Penuhi dadaku dengan rasa syukur pada Mu ya Alloh atas hidup yang ada di tanganku, jangan biar kan yang tidak bisa ku gapai membuatku menjadi hamba yang tak bersyukur…

Lalu aku melanjutkan : “Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan pekerjaanku yang sudah ku jalani beberapa belas tahun ini…  Tapi kalau dipikir-pikir gak ada masalah juga kalau aku harus meninggalkannya, asal pasangan hidupku adalah sosok yang benar-benar komit memperjuangkan kesejahteraan hidup keluarganya.  Cuma sebagai makhluk yang telah mendapat kesempatan pendidikan, sudah biasa berkarya, aku pasti butuh wadah untuk berkarya agar aku tidak ke hilangan keseimbanganku..“

Friska : “Kenapa kakak tidak mencoba menjadi penulis.  Tulisan-tulisan kakak mudah dimengerti.”

Hmmmm….  Opini seperti bukan pertama kali aku dengar..  Mungkin sudah seharusnya aku lebih serius mengali bakatku yang ini…, agar pada waktunya nanti bisa menjadi wadah untuk keseimbangan diri,  dan mungkin juga jadi sumber rezeki…  Amin…

Friska lalu menyemangatiku untuk meraih makhluk baik yang beredar di semesta kehidupanku..  Friska bilang : “Laki-laki baik itu langka, kak Sondha.  Berjuang lah untuk mendapatkannya.  Itu tidak salah.. Agama kita membenarkannya.. Bahkan Bunda Khadijah (istri Rasulullah SAW) pun telah melakukannya…”

Subhanallah…. Terima kasih buat ice creamnya adiku.. Terima kasih buat waktunya.. Terima kasih buat percakapannya… Terima kasih atas nasihat2nya.. Terima kasih atas dorongan-dorongannya…  Semoga Alloh berkenan memudahkan jalanmu meraih lelaki terbaik yang akan membawamu ke surga yang dijanjikan Alloh bagi umat Nya yang taqwa…

Need a Hug…

Need a hug….